BAB X BELANJA KONSUMSI RAPAT
C. KELENGKAPAN TAGIHAN
Biaya konsumsi rapat dapat dibayarkan dengan memenuhi kelengkapan sebagai berikut:
1. Memo/undangan rapat;
2. Daftar hadir peserta rapat; dan 3. Bukti pembayaran/kuitansi:
a. Jika belanja kurang dari Rp5.000.000:
Kelengkapan:
a. Kuitansi/Bon/Nota/Struk * b. Stempel toko
c. Nama jelas dan tanda tangan PPK b. Jika belanja lebih dari Rp5.000.000:
Kelengkapan:
a. Kuitansi/Bon/Nota/Struk * b. Materai 10.000
c. Stempel toko
d. Nama jelas dan tanda tangan PPK Catatan:
* Terdapat Identitas Toko (nama, alamat, nomor telepon) dan Tanggal Transaksi
- 99 -
SIMULASI 6 1. Pertanyaan:
Pada tanggal x Januari 2021, Biro Perencanaan dan Keuangan melaksanakan rapat koordinasi dengan mengundang peserta dari unit kerja lain (eselon II lainnya) sebanyak 20 orang. Konsumsi snack sudah disediakan sesuai dengan jumlah undangan. Bagaimana teknis pertanggungjawaban pada kuitansi?
Jawaban:
Kelengkapan tagihan:
✓ Memo/surat undangan kegiatan rapat;
✓ Daftar hadir peserta rapat;
✓ Notulensi/hasil rapat/laporan naratif kegiatan;
✓ Bukti pembayaran/kuitansi/nota/struk yang dicap dan ditandatangani oleh Pejabat Penerima Barang/Jasa telah diterima (di belakang kuitansi); dan
✓ SPBy.
2. Pertanyaan:
Dalam Standar Biaya Masukan (SBM) untuk snack maksimal
@Rp22.000 dan makan maksimal @Rp48.000. Dalam Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) yang telah disahkan terdapat belanja konsumsi makan 1 kali @Rp48.000 dan snack 1 kali Rp22.000.
Apakah diperbolehkan pada saat pengajuan pembayaran makan 1 kali
@Rp44.000 dan snack @Rp24.000, secara total biaya konsumsi masih di bawah SBM?
Jawaban:
Jika belanja kategori satuan, yang dapat dibayarkan hanya belanja atas pembelian makan sebesar @Rp44.000. untuk snack tidak dapat dibayarkan karena melebihi batas maksimal berdasarkan PMK Nomor 119/PMK.02/2020 tentang Standar Biaya Masukan Tahun 2021, satuan biaya konsumsi rapat terdapat dalam Lampiran II dan tidak boleh melakukan subsidi silang karena masing-masing merupakan
- 100 -
item tersendiri. Namun, jika belanja konsumsi rapat tersebut dalam kategori paket, maka transaksi belanja tersebut diperbolehkan sepanjang didalam POK tidak dirinci antara makan dan snack.
3. Pertanyaan:
Jika pembelian konsumsi rapat dilakukan di warung makan dengan nominal diatas Rp1.000.000, bagaimana perhitungan pajaknya? dan bagaimana perlakuan jika warung tersebut tidak mempunyai NPWP?
Jawaban:
Atas kegiatan pengadaan konsumsi (makanan dan minuman) oleh BP/BPP melalui pembelian langsung ke warung/rumah makan terutang PPh Pasal 22 (nilai pengadaan diatas Rp1.000.000) sehingga bendahara wajib memungut dan menyetorkan PPh Pasal 22 dengan tarif pajak 1,5 % x nilai pembelian makanan atau minuman, apabila rekanan tidak memiliki NPWP maka tarif PPh Pasal 22 sebesar 3% x nilai pembelian makanan atau minuman.
4. Pertanyaan:
Jika pembelian konsumsi rapat dilakukan oleh jasa katering atau jasa boga di atas Rp2.000.000, bagaimana perhitungan pajaknya dan rekanan tersebut tidak mempunyai NPWP?
Jawaban:
Atas kegiatan pengadaan konsumsi (makanan dan minuman) oleh Bendahara Pemerintah melalui penyedia jasa katering atau jasa boga terutang PPh Pasal 23 sehingga bendahara wajib memotong dan menyetorkan PPh Pasal 23 dengan tarif 2% x Jumlah jasa katering atau jasa boga, apabila rekanan tidak memiliki NPWP maka tarif PPh Pasal 23 sebesar 4% x Jumlah Jasa Katering atau Jasa Boga.
Catatan:
• Atas kegiatan pengadaan konsumsi (makanan dan minuman) oleh Bendahara Pemerintah melalui pembelian langsung ke warung /
- 101 -
rumah makan maupun ke penyedia jasa katering tidak terutang PPN sehingga tidak ada kewajiban pemungutan PPN.
• Berdasarkan pasal 4 huruf A ayat (3) huruf (q) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang PPN dan disebutkan bahwa jasa katering atau jasa boga adalah termasuk dalam jasa tertentu yang tidak dikenakan PPN.
• Berdasarkan Pasal 1 ayat 2 huruf (aa) Peraturan Menteri Keuangan No. 244/PMK.3/2008 disebutkan bahwa jasa katering atau jasa boga adalah termasuk dalam jenis jasa lain yang kenakan PPh Pasal 23.
5. Pertanyaan:
Apabila ada kegiatan rapat di kantor yang dilaksanakan pada jam kerja apakah bisa dibayarkan biaya konsumsi rapatnya?
Jawaban:
Sesuai dengan PMK Nomor 119/PMK.02/2020 tentang SBM TA 2021, mengenai konsumsi rapat diatur sebagai berikut :
Satuan biaya konsumsi rapat merupakan satuan biaya yang digunakan untuk perencanaan kebutuhan biaya pengadaan makan dan kudapan termasuk minuman untuk rapat/pertemuan baik untuk rapat koordinasi tingkat menteri/eselon I/setara maupun untuk rapat biasa yang pesertanya melibatkan Eselon II lainnya/Eselon I lainnya/Kementerian Negara/Lembaga Lainnya/ Instansi Pemerintah/Masyarakat, dilaksanakan secara langsung (offline) dan dilaksanakan minimal selama 2 (dua) jam.
6. Pertanyaan:
Apabila mengadakan rapat internal pada saat bulan puasa apakah diperbolehkan menganggarkan biaya konsumsi rapat?
Jawaban:
Dapat diberikan sepanjang memenuhi kriteria yang dapat diberikan konsumsi rapat.
- 102 -
7. Pertanyaan:
Apakah konsumsi rapat dapat diberikan untuk peserta yang tidak hadir secara fisik di ruang rapat?
Jawaban:
Dalam hal satker menyelenggarakan kegiatan rapat secara langsung (offline) dimana peserta rapat statusnya Work from Office (WFO), namun yang hadir di ruang rapat hanyalah penyelenggara saja dan peserta lainnya hanya hadir di ruang meeting online (tidak hadir secara fisik di ruang rapat), maka sesuai Surat Direktur Jenderal Anggaran kepada para Setjen dan Sekretaris Jenderal di seluruh K/L Nomor S-1200/AG/2020, konsumsi rapat dapat diberikan sepanjang memenuhi syarat dan ketentuan dalam PMK SBM, undangan kegiatan rapat tersebut dilaksanakan secara langsung (offline) dan konsumsi hanya diberkan untuk peserta yang hadir di kantor/satker penyelenggara di ruang rapat.
8. Pertanyaan:
Akun apa yang digunakan untuk membeli konsumsi pelatihan yang terpisah untuk kegiatan Paket Meeting Dalam Kota?
Jawaban:
Untuk membeli konsumsi pelatihan dimaksud dapat menggunakan akun Belanja Bahan (521211), yang menunjuk Kepdirjen Perbendaharaan Nomor Kep-211/PB/2018 tentang Kodefikasi Segmen Akun Pada Bagan Akun Standar, digunakan untuk mencatat pengakuan beban atas biaya bahan pendukung kegiatan (yang habis dipakai) seperti :
• Konsumsi/bahan makanan;
• Dokumentasi;
• Spanduk; dan
• Biaya fotokopi.
- 103 -
yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan non operasional seperti pameran, seminar, sosialisasi, rapat, diseminasi dan lain-lain yang terkait langsung dengan output suatu kegiatan dan tidak menghasilkan barang persediaan.
9. Pertanyaan:
Apakah diperbolehkan memberikan makanan dan minuman sehari-hari untuk pegawai?
Jawaban:
Tidak dapat diberikan, karena pegawai pada dasarnya telah mendapatkan tunjangan uang makan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum selama berada di tempat kerja dihitung berdasarkan hari kerja. Adapun untuk meningkatkan daya tahan tubuh pegawai yang diberi tugas melaksanakan pekerjaan tugas dan fungsi kantor dapat diberikan makanan penambah daya tahan tubuh sebagaimana satuan biayanya diatur dalam peraturan terkait SBM dan anggarannya telah dialokasikan dalam RKA-KL DIPA.
- 104 -
BAB XI
BELANJA HONORARIUM
- 105 -
BAB XI
BELANJA HONORARIUM
A. PENGERTIAN
Honorarium merupakan pembayaran atas jasa yang diberikan pada suatu kegiatan tertentu.
B. DASAR HUKUM
Peraturan yang terkait pencairan honorarium antara lain:
1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 178/PMK.05/2018 tentang Perubahan atas PMK 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan APBN.
2. Peraturan Menteri Keuangan tentang Standar Biaya Masukan tahun berkenaan.
C. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup honorarium meliputi:
1. Honorariun Narasumber/Pembahas/Moderator/Pembawa Acara/
Panitia;
2. Honorarium Tim Pelaksana Kegiatan;
3. Honorarium Penyelenggaraan Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat); dan
4. Honorarium Tenaga Ahli/Konsultan.
- 106 -
D. KELENGKAPAN DOKUMEN
Dokumen terkait pencairan honorarium yang diajukan kepada PPK, sesuai tabel berikut: 521213 522151 522131 522151 522131 511121
1 Surat Perintah
Bayar (SPBy) √ √ √ √ √ √
2 Daftar Nominatif
Penerima Honor √ √ √ √ √ √
- 107 -
E. KETENTUAN KHUSUS
1. Honorarium Tim Pelaksana Kegiatan dan Sekretariat Tim Pelaksana Kegiatan
a. Honorarium Tim Pelaksana Kegiatan
Honorarium yang diberikan kepada seseorang yang berdasarkan Surat Keputusan Presiden/ Menteri/ Pejabat Setingkat Menteri/ Sekretaris Jenderal/ KPA diangkat dalam suatu tim pelaksana kegiatan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu. Ketentuan pembentukan tim yang dapat diberikan honorarium adalah sebagai berikut:
1) Mempunyai keluaran;
2) Bersifat koordinatif yang mengharuskan untuk mengikutsertakan Eselon I/ Kementerian Lembaga/
Lembaga/ Instansi Pemerintah lainnya;
3) Bersifat temporer, pelaksanaannya perlu di prioritaskan;
4) Merupakan perangkat fungsi atau tugas tertentu kepada pejabat Negara/pegawai Aparatur Sipil Negara disamping tugas pokoknya sehari-hari; dan
5) Dilaksanakan secara selektif, efektif, dan efisien.
b. Honorarium Sekretariat Tim Pelaksana Kegiatan
Honorarium yang diberikan kepada seseorang yang diberi tugas melaksanakan kegiatan administratif untuk menunjang kegiatan tim pelaksana kegiatan. Sekretariat Tim Pelaksana Kegiatan merupakan bagian tidak terpisahkan dari tim pelaksana kegiatan. Sekretariat Tim pelaksanan kegiatan hanya dapat dibentuk untuk menunjang tim pelaksana kegiatan yang ditetapkan oleh Presiden/Menteri. Jumlah sekretariat tim pelaksana kegiatan diatur sebagai berikut:
1) Paling banyak 10 (sepuluh) orang untuk tim pelaksana kegiatan yang ditetapkan oleh Presiden; atau
- 108 -
2) Paling banyak 7 (tujuh) orang untuk tim pelaksana kegiatan yang ditetapkan oleh Menteri/Pejabat Setingkat Menteri.
Dalam hal pemberian honorarium panitia, dapat diberikan honorarium maksimal 10% dari jumlah peserta dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas. Dalam hal jumlah peserta kurang dari 40 (empat puluh) orang, jumlah panitia yang dapat diberikan honor paling banyak 4 (empat) orang.
Catatan :
1) Dalam hal tim pelaksana kegiatan telah terbentuk selama 3 (tiga) tahun berturut-turut, Kementerian Negara/Lembaga melakukan evaluasi terhadap urgensi dan efektifitas keberadaan tim dimaksud untuk dipertimbangkan menjadi tugas dan fungsi suatu unit organisasi.
2) Kementerian Negara/Lembaga dalam hal melaksanakan ketentuan Standar Biaya Masukan agar melakukan langkah-langkah efisiensi anggaran dengan melakukan pembatasan dan pengendalian pemberian honorarium tim pelaksana kegiatan, dengan ketentuan sebagai berikut:
NO JABATAN KLASIFIKASI
I II III
1
Pejabat Negara, Sekretaris Jenderal, Pejabat Eselon II, Pejabat Eselon III, Pejabat Eselon IV, pelaksana, dan pejabat fungsional
1 2 4
Sumber: Peraturan Menteri Keuangan Nomor 119/PMK.02/2020 tentang Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2021
- 109 -
Keterangan Klasifikasi:
a) Klasifikasi I
Kementerian Negara/Lembaga yang telah menerima tunjangan kinerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang tunjangan kinerja pada kelas jabatan tertingginya lebih besar atau sama dengan Rp40.000.000.
b) Klasifikasi II
Kementerian Negara/ Lembaga yang telah menerima tunjangan kinerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang tunjangan kinerja pada kelas jabatan tertingginya lebih besar atau sama dengan Rp25.000.000 dan kurang dari Rp40.000.000.
c) Klasifikasi III
Kementerian Negara/Lembaga yang telah menerima tunjangan kinerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang tunjangan kinerja pada kelas jabatan tertingginya kurang dari Rp25.000.000 atau belum menerima tunjangan kinerja.
3) Untuk tim yang keanggotaannya berasal dari lintas eselon I dalam 1 (satu) Kementerian Negara/Lembaga, jumlah orang dalam tim tersebut dibatasi maksimal sebanyak 25 (dua puluh lima) orang, sedangkan untuk tim yang keanggotaannya berasal dari lintas Kementerian Negara/Lembaga dapat lebih dari 25 (dua puluh lima) orang dengan tetap mempertimbangkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan negara yaitu akuntabilitas,
- 110 -
efektif, dan efisien dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
2. Honorarium Narasumber/Moderator /Pembawa Acara /Panitia a. Honorarium Narasumber/Pakar/Praktisi/Profesional
Satuan biaya honorarium narasumber pakar/praktisi/
profesional merupakan satuan biaya yang digunakan untuk perencanaan kebutuhan honorarium narasumber/
pakar/praktisi/profesional dari luar lingkup Kementerian Negara/Lembaga penyelenggara yang mempunyai keahlian/profesionalisme dalam ilmu/bidang tertentu dalam kegiatan seminar/rapat/sosialisasi/diseminasi/workshop/
sarasehan/simposium/lokakarya/Focus Group Discussion/
kegiatan sejenis yang diselenggarakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang dilaksanakan secara langsung (offline) maupun daring (online) melalui aplikasi secara live dan bukan rekaman/hasil tapping.
Catatan:
1) Satuan jam yang digunakan dalam pemberian honorarium narasumber adalah 60 (enam puluh) menit baik dilakukan secara panel maupun individual.
2) Honorarium narasumber dapat diberikan sepanjang berasal dari luar unit Kementerian Negara/Lembaga penyelenggara.
b. Honorarium Moderator
Honorarium yang diberikan kepada Pegawai Aparatur Sipil Negara/Anggota Polri/TNI yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan tugas sebagai moderator
pada kegiatan
Seminar/Rapat/Sosialisasi/Diseminasi/Bimbingan
- 111 -
Teknis/Workshop/Sarasehan/Simposium/Lokakarya/Focus Group Discussion/Kegiatan Sejenis yang dilaksanakan secara langsung (offline) maupun daring (online) melalui aplikasi secara live dan bukan rekaman/hasil tapping baik di dalam negeri maupun di luar negeri, tidak termasuk untuk kegiatan diklat/pelatihan.
Catatan:
Honorarium moderator dapat diberikan sepanjang berasal dari luar unit Kementerian Negara/Lembaga penyelenggara.
c. Honorarium Pembawa Acara
Honorarium yang diberikan kepada Pegawai Aparatur Sipil Negara/TNI/Polri yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan tugas memandu acara dalam kegiatan Seminar/Rapat
Koordinasi/Sosialisasi/Simposium/Lokakarya /Focus Group Discussion/Kegiatan Sejenis yang dihadiri oleh Menteri/Pejabat setingkat dengan peserta kegiatan minimal 300 orang dan dihadiri lintas unit eselon I/Kementerian Negara/Lembaga Lainnya/masyarakat, baik dilaksanakan secara langsung (Offline) maupun secara daring (Online), melalui aplikasi secara live dan bukan rekaman ataupun hasil tapping.
d. Honorarium Panitia
Honorarium yang diberikan kepada Pegawai Aparatur Sipil Negara/Anggota Polri/TNI yang diberi tugas oleh pejabat yang berwenang sebagi panitia atas pelaksanaan kegiatan Seminar/ Rapat Koordinasi/ Sosialisasi/ Diseminasi/
BimbinganTeknis/ Workshop/ Rapat Kerja/ Sarasehan/
Simposium /Lokakarya /Fokus Group Discussion/ Kegiatan Sejenis sepanjang peserta yang menjadi sasaran utama
- 112 -
kegiatan berasal dari luar lingkup unit eselon I penyelenggara /Kementerian Negara/Lembaga Lainnya/ masyarakat serta dilaksanakan secara langsung (offline).
Dalam hal pelaksanaan kegiatan Seminar/ Rapat Koordinasi/ Sosialisasi/ Diseminasi/ Bimbingan Teknis/
Workshop / Rapat Kerja/ Sarasehan/ Simposium/ Lokakarya /Fokus Group Discussion/ Kegiatan sejenis memerlukan tambahan panitia yang berasal dari Non Pegawai Aparatur Sipil Negara harus dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan urgensi, dengan besaran honorarium mengacu pada besaran honorarium untuk anggota panitia.
Jumlah panitia yang dapat diberikan honorarium maksimal 10% (sepuluh persen) dari jumlah peserta dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas. Dalam hal jumlah peserta kurang dari 40 (empat puluh) orang, jumlah panitia yang dapat diberikan honorarium paling banyak 4 (empat) orang.
3. Honorarium Penyelenggaraan Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
a. Honorarium Penceramah
Honorarium penceramah dapat diberikan kepada Pejabat Negara/Pegawai Aparatur Sipil Negara/Anggota Polri/TNI memeberikan wawasan pengetahuan dan/atau sharing experience sesuai dengan keahliannya kepada peserta diklat pada kegiatan pendidikan dan pelatihan baik yang dilaksanakan secara langsung (offline) maupun maupun daring (online) melalui aplikasi secara live dan bukan rekaman/hasil tapping dengan ketentuan sebagai berikut:
1) berasal dari luar unit kementerian negara/lembaga penyelenggara; dan
- 113 -
2) khusus untuk Pegawai Aparatur Sipil Negara/Anggota Polri/TNI, honorarium tersebut digunakan untuk kegiatan pengajaran diklat Pejabat Eselon II ke atas/setara.
b. Honorarium Pengajar yang berasal dari luar satuan kerja penyelenggara
Honorarium dapat diberikan kepada pengajar yang berasal dari luar satuan kerja penyelenggara sepanjang kebutuhan pengajar tidak terpenuhi dari satuan kerja penyelenggara baik yang dilaksanakan secara langsung (offline) maupun daring (online) melalui aplikasi secara live dan bukan rekaman/hasil tapping.
c. Honorarium pengajar yang berasal dari dalam satuan kerja penyelenggara
Honorarium dapat diberikan kepada pengajar yang berasal dari dalam satuan kerja penyelenggara baik widyaiswara maupun pegawai lainnya baik yang dilaksanakan secara langsung (offline) maupun maupun daring (online) melalui aplikasi secara live dan bukan rekaman/hasil tapping. Bagi widyaiswara, honorarium diberikan atas kelebihan jumlah minimal jam tatap muka.
Ketentuan jumlah minimal tatap muka mengacu pada ketentuan yang berlaku.
d. Honorarium Penyusunan Modul Diklat
Honorarium penyusunan Modul Diklat dapat diberikan kepada Pegawai Aparatur Sipil Negara/Anggota Polri/TNI yang diberi tugas untuk menyusun modul untuk pelaksanaan diklat berdasarkan surat keputusan pejabat yang berwenang. Pemberian honorarium dimaksud berpedoman pada ketentuan sebagai berikut:
- 114 -
1) Bagi widyaiswara, honorarium dimaksud diberikan atas kelebihan beban kerja wajib widyaiswara sesuai ketentuan yang berlaku; dan
2) Satuan biaya ini diperuntukan bagi penyusunan modul diklat baru atau penyempurnaan modul diklat lama dengan persentase penyempurnaan substansi modul diklat paling sedikit 20% (dua puluh persen).
e. Honorarium Panitia Penyelenggara Kegiatan Diklat
Honoraium dapat diberikan kepada panitia penyelenggara diklat yang melaksanakan fungsi tata usaha diklat, evaluator, dan fasilitator kunjungan serta hal-hal lain yang menunjang penyelenggaraan diklat berjalan dengan baik dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Merupakan tugas tambahan/perangkapan fungsi bagi yang bersangkutan;
2) Dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan urgensinya; dan
3) Jumlah panitia yang dapat diberikan honorarium maksimal 10% (sepuluh persen) dari jumlah peserta dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan. Dalam hal jumlah peserta kurang dari 40 (empat puluh) orang, maka jumlah yang dapat diberikan honorarium paling banyak 4 (empat) orang.
Catatan:
a) Jam pelajaran yang digunakan untuk kegiatan penyelenggaraan diklat adalah 45 (empat puluh lima) menit.
b) Honorarium Panitia Penyelenggara Kegiatan Diklat hanya dapat diberikan untuk kegiatan yang dilaksanakan secara langsung (offline).
- 115 -
SIMULASI 7 1. Pertanyaan:
Satker melaksanakan kegiatan Unit Pelaksana Teknis Pengadaan Barang dan Jasa (UPTPBJ) sejak bulan Februari, Maret, dan April tahun 2019 dengan ditetapkan dan diterbitkannya SK Kepala Balai/Kepala UPTPBJ dari Menteri, kemudian SK Kasubag TU/Sekretaris UPTPBJ terbit bulan Maret dari Eselon I Kementerian, dan SK Tim Penelitian dan Tim Pendukung UPTPBJ pada bulan April dari Kepala Balai/Kepala Satker.
DIPA satker baru terbit pada tanggal 29 Mei 2019, dan pada akun Honor Output Kegiatan (521213) diberikan volume OB/10 bulan yang berarti honor tersebut bersifat rutin bulanan. Apakah satker boleh mengajukan pembayaran/tagihan honor output kegiatan (521213) dimaksud sejak bulan Februari s.d Mei 2019?
Jawaban:
Atas kejadian tersebut, perlakuan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Penandatanganan Surat Keputusan sebagai dasar pencairan honor seharusnya dilakukan setelah DIPA disahkan dan berlaku efektif;
b. Apabila pengaturan dalam SK Tim dinyatakan bahwa honorarium dibayarkan (berlaku surut) mulai dari bulan Februari 2019, maka honorarium atas SK Tim dimaksud dapat dibayarkan mulai bulan Februari 2019;
c. Penilaian atas kewajaran dan kelayakan pembayaran honor tim merupakan menjadi kewenangan KPA, dan KPA dapat mempertanggungjawabkan bahwa Tim dimaksud telah bekerja dari bulan Februari 2019 berdasarkan laporan dari tim tersebut serta telah dialokasikan anggarannya dalam DIPA. KPA bertanggungjawab secara penuh terhadap SK yang diterbitkan/ditandatangani; dan
- 116 -
d. Selanjutnya, pemberian honor tim agar dilakukan secara selektif, efisien serta memperhatikan ketersediaan dana.
2. Pertanyaan:
Suatu Satker mengadakan FGD dimana moderator berasal dari internal Satker tersebut, apakah moderator tersebut dapat diberikan Honor dan akun apa yang dapat digunakan?
Jawaban:
Honorarium Moderator yang berasal dari internal Satker tidak dapat diberikan honor. Honorarium moderator dapat diberikan sepanjang berasal dari luar unit Kementerian Negara/Lembaga penyelenggara, dilaksanakan secara langsung (offline) maupun daring (online) melalui aplikasi secara live dan bukan rekaman/hasil tapping baik di dalam negeri maupun di luar negeri, tidak termasuk untuk kegiatan diklat/pelatihan.
Untuk akun honor Moderator menggunakan akun yang sama untuk honor Narasumber 522151 (Belanja Jasa Profesi) dapat dibayarkan sepanjang telah dianggarkan dalam DIPA dan besaran honor yang dapat diberikan sesuai dengan PMK tentang SBM yang mengatur pada tahun anggaran berjalan.
3. Pertanyaan:
Pegawai merangkap 3 tugas sebagai Atasan Pengelola PNBP, PPSPM dan Penanggungjawab SAI dan BMN. Terkait pembayaran honornya, apakah dibayar salah satu atau berhak atas ketiga honor tersebut?
Jawaban:
Honorarium diberikan berdasarkan kinerja. Apabila terdapat pegawai yang merangkap tugas dalam pelaksanaannya dapat diberikan honor atas ketiga tugas dimaksud sepanjang alokasi dana tersedia dan dasar pemberian setiap honorarium adalah Surat Keputusan sesuai
- 117 -
ketentuan dalam PMK 178/PMK.05/2018 tentang Tata Cara Pembayaran dalam rangka Pelaksanaan APBN.
4. Pertanyaan:
Akun apa yang digunakan untuk pembayaran Honor Jasa Motivator dan Juri Lomba?
Jawaban:
Menunjuk Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor KEP-211/PB/2018 tentang Kodefikasi Segmen Akun Pada Bagan Akun Standar, untuk jasa motivator yang dihadirkan dalam suatu event kegiatan kantor yang diperuntukkan memperkuat pelaksanaan tugas fungsi dan dalam rangka transfer knowledge kepada pegawai maka honorarium jasa motivator dapat dibebankan menggunakan akun 522151 (Belanja Jasa Profesi). Sedangkan untuk pembayaran kepada juri lomba, perlu kiranya terlebih dahulu diperhatikan apakah kegiatan lomba dimaksud dilaksanakan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi serta pencapaian target kinerja suatu entitas.
Dalam hal kegiatan lomba merupakan penyelenggaraan tugas dan fungsi serta dimaksudkan untuk pencapaian target kinerja satker, maka untuk pembayaran honorarium juri lomba dapat menggunakan akun 521213 (Belanja Honor Output Kegiatan). Honor Output Kegiatan merupakan honor yang dibayarkan atas pelaksanaan kegiatan yang insidentil dan dapat dibayarkan tidak terus menerus dalam satu tahun. Pembayaran honor output kegiatan dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan pejabat yang berwenang/Kuasa Pengguna Anggaran Satker.
- 118 -
BAB XII
MEKANISME PENGELOLAAN HIBAH
- 119 -
BAB XII
MEKANISME PENGELOLAAN HIBAH
A. UMUM
1. Hibah adalah pendapatan Pemerintah Pusat yang berasal dari badan/lembaga dalam negeri atau perorangan, dan untuk badan/lembaga asing, badan/lembaga pemerintah negara asing, badan/lembaga asing internasional baik dalam bentuk devisa, rupiah maupun barang dan/atau jasa, termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar/diterima kembali, yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus.
2. Pendapatan Hibah merupakan penerimaan Negara dalam bentuk devisa, devisa yang dirupiahkan, rupiah, barang, jasa dan/atau surat berharga yang diperoleh dari pemberi hibah yang tidak perlu dibayar kembali, yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri yang atas pendapatan hibah tersebut, pemerintah mendapat manfaat secara langsung yang digunakan untuk mendukung tugas dan fungsi Kementerian Negara/Lembaga, atau diteruskan kepada Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah.
3. Executing Agency, selanjutnya disingkat EA, adalah Kementerian Negara/Lembaga yang menjadi penanggung jawab secara keseluruhan atas pelaksanaan kegiatan.
4. Beneficiary atau penerima manfaat adalah Kementerian Negara/Lembaga yang menerima penghasilan dari properti yang digunakan sebagai jaminan saat menandatangani perjanjian.
5. Pemberi Hibah atau Donor adalah pihak yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri yang memberikan hibah kepada Pemerintah Pusat.
6. Ombudsman RI dapat bertindak sebagai EA maupun Beneficiary.
6. Ombudsman RI dapat bertindak sebagai EA maupun Beneficiary.