• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen Pendidikan Humanis

BAB II LANDASAN TEORI

5. Komponen Pendidikan Humanis

a. Guru

Kata pendidik (guru) secara fungsional menunjukkan kepada seseorang yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya. Istilah pendidik sering diwakili oleh istilah guru yang berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing.17

Menurut H.C Witherington “tugas utama seorang guru bukanlah menerangkan hal-hal yang terdapat dalam buku-buku, tetapi mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membimbing murid-murid dalam usaha mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.”18

Laura Zucca menyebutkan, “Teachers become key participants in the

learning process”.19 Sehingga jelaslah dipahami bahwa tugas para

pendidik tidaklah mudah, bahkan sangat kompleks. Guru bukan hanya sekedar mentransfer ilmu dan informasi belaka, namun lebih dari pada itu. Guru dikatakan sukses dalam mengajar apabila ia mampu menanam kedisiplinan terhadap anak namun anak tetap bergembira dalam belajar.

17

Abuddin Nata dan Fauzan (eds), Pendidikan dalam Perspektif Hadits, (Ciputat: UIN Jakarta Press, 2005), cet. I, h. 207.

18

H.C. Witherington, Psikologi Pendidikan, Terj. dari Educational Psychology oleh M. Buchori, (Jakarta: Aksara Baru, 1978), h. 77.

19

Laura Zucca-Scott, Know Thyself: The Importance of Humanism in Education, International Education, 2010, h. 34.

Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa, guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Dari perspektif humanistik, pendidik seharusnya memperhatikan pendidikan lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang (affective) siswa. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang berhubungan dengan emosi, perasaan, nilai, sikap, predisposisi, dan moral.20

Menurut Hamacheek dalam buku Psikologi Belajar karya Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, “guru-guru yang efektif tampaknya adalah guru-guru yang manusiawi. Mereka mempunyai rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis daripada autokratik, dan mereka mampu berhubungan dengan mudah dan wajar dengan para siswa, baik secara perorangan ataupun secara kelompok.”21

Guru-guru yang percaya bahwa setiap siswa itu mempunyai kemampuan untuk belajar akan mempunyai perilaku yang lebih positif terhadap siswa-siswa mereka. Menurut Combs dan kawan-kawan, ciri-ciri guru yang baik ialah sebagai berikut:

1) Guru yang mempunyai anggapan bahwa orang lain itu mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah mereka sendiri dengan baik.

2) Guru yang melihat bahwa orang lain mempunyai sifat ramah dan bersahabat dan bersifat ingin berkembang.

3) Guru yang cenderung melihat orang lain sebagai orang yang sepatutnya dihargai.

4) Guru yang melihat orang-orang dan perilaku mereka pada dasarnya berkembang dari dalam; jadi bukan merupakan produk yang dari peristiwa-peristiwa eksternal yang dibentuk dan yang digerakkan. Dia melihat orang-orang mempunyai kreativitas dan dinamika; jadi bukan orang yang pasif atau lamban.

5) Guru yang menganggap orang lain itu pada dasarnya dipercaya dan dapat diandalkan dalam pengertian dia akan berperilaku menurut aturan-aturan yang ada.

20

Sri Esti Wuryani Djiwandono, loc.cit, h. 181. 21

6) Guru yang melihat orang lain itu dapat memenuhi dan meningkatkan dirinya, bukan menghalangi, apalagi mengancam.22 Guru yang humanis bukanlah guru yang pemarah atau keras, guru yang pemarah akan menyebabkan anak didik takut. Ketakutan itu dapat bertumbuh atau berkembang menjadi benci. Karena takut itu menimbulkan derita atau ketegangan dalam hati anak. Jika ia sering menderita oleh seorang guru, maka guru tersebut akan dijauhinya agar dapat menghindari derita yang mungkin terjadi. Apabila anak didik benci kepada guru, maka ia tidak akan berhasil mendapat bimbingan dan pendidikan dari guru tersebut, selanjutnya ia akan menjadi bodoh walaupun kecerdasannya tinggi.23

Peranan guru dalam pendidikan humanis adalah secara terus menerus melakukan segala sesuatu untuk membantu siswa membangun self concept

mereka. Ini berarti bahwa guru melibatkan siswa di dalam proses belajar sehingga mereka memiliki pengalaman-pengalaman sukses, merasa diterima, disukai, dihormati, dikagumi, dan sebagainya. Ini berarti bahwa guru harus memperlakukan setiap orang sebagai individu dengan kebutuhan-kebutuhannya yang tertentu pula.24

Guru tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada siswa. Guru-guru harus sebagai narasumber, tetapi tidak bersikap otoriter yang memaksakan jawaban yang benar. Anak-anak harus bebas untuk membentuk pengertian mereka sendiri.

Sehingga menurut Zakiah Daradjat, “guru yang sukses adalah guru yang memilih bagi anak didiknya pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan tubuh dan mentalnya. Dalam proses mengajar, guru harus memperhatikan keadaan murid, tingkat pertumbuhan dan perbedaan perorangan yang terdapat di antara mereka.”25

Maka hal ini berimplikasi bahwa guru harus dapat memahami dan mengetahui perkembangan psikologis anak.

22

Ibid., h. 238. 23

Zakiah Daradjat, op.cit, h. 11. 24

Moh. Amin, dkk., op.cit, h. 9. 25

b. Siswa

Dalam bahasa Indonesia, makna siswa, murid, pelajar, dan peserta didik merupakan sinonim. Semuanya bermakna anak yang sedang berguru (belajar, bersekolah), anak yang sedang memperoleh pendidikan dasar dari suatu lembaga pendidikan. Dapat dikatakan juga bahwa anak didik merupakan semua orang yang belajar, baik pada lembaga pendidikan secara formal maupun lembaga pendidikan non formal.26 Peserta didik ditempatkan sebagai pusat (central) dalam aktifitas belajar. Peserta didik menjadi pelaku dalam memaknai pengalaman belajarnya sendiri. Dengan demikian, mereka diharapkan mampu menemukan potensinya dan mengembangkan potensi tersebut secara maksimal. Peserta didik bebas berekspresi cara-cara belajarnya sendiri. Mereka menjadi aktif dan tidak sekedar menerima informasi yang disampaikan oleh guru.

Tujuan pengajaran harus mempunyai arti penting bagi siswa. Tidak cukup jelasnya tujuan hanya dalam otak siswa, atau siswa mengetahui keberhasilannya dalam mencapai tujuan tersebut, akan tetapi hendaknya tujuan itu dirasakannya penting. Hal itu tidak akan tercapai, kecuali jika tujuan tersebut dihubungkan dengan kehidupan, lingkungan, dan keperluan siswa. Semakin dekat tujuan itu kepada keperluan dan kehidupannya, akan semakin besar dorongan siswa untuk mencapainya. Agar tujuan tersebut penting bagi siswa, hendaknya mereka yang menentukannya sendiri dengan memikirkannya.27

Di samping itu, siswa juga harus mempunyai substantial hand dalam mengarahkan diri mereka, memilih apa yang akan dipelajari, sampai tahap mana ia akan belajar, kapan dan bagaimana ia akan belajar. Hal tersebut dimaksudkan agar siswa memiliki self directed, self-motivated, dan bukan sebagai penerima informasi pasif.

c. Metode Pembelajaran

Dari segi bahasa, metode berasal dari dua kata, yaitu kata “metha” yang berarti melalui dan kata “hodos” yang berarti jalan, dengan demikian

26

Abuddin Nata dan Fauzan (eds), op.cit, h. 248-249. 27

metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Jalan mencapai tujuan ini bermakna ditempatkan pada posisi sebagai cara untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan ilmu atau tersistematisasikannya. Dengan pengertian tersebut berarti metode lebih memperlihatkan sebagai alat untuk mengolah dan mengemban suatu gagasan.28

Zakiah Daradjat menjelaskan, ”metode mengajar adalah sistem penggunaan teknik-teknik di dalam interaksi dan komunikasi antara guru dan murid dalam pelaksanaan program belajar-mengajar sebagai proses pendidikan.”29

Metode pembelajaran bersifat prosedural, artinya menggambarkan prosedur bagaimana mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, tepat bila dikatakan bahwa setiap metode pembelajaran mencakup kegiatan-kegiatan sebagai bagian atau komponen dari metode itu.

Adapun prinsip-prinsip dalam memilih metode mengajar menurut Engkoswara yaitu:

1) Asas maju berkelanjutan (continuous progress) yang artinya memberi kemungkinan kepada murid untuk mempelajari sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

2) Penekanan pada belajar sendiri, artinya anak-anak diberi kesempatan untuk mempelajari dan mencari sendiri bahan pelajaran lebih banyak lagi dari pada yang diberikan oleh guru. 3) Bekerja secara tim, dimana anak-anak dapat mengerjakan sesuatu

pekerjaan yang memungkinkan anak bekerja sama.

4) Multidisipliner, yaitu memungkinkan anak-anak untuk mempelajari sesuatu meninjau dari berbagai sudut.

5) Fleksibel, yaitu dapat dilakukan menurut keperluan dan keadaan.30 Pendekatan humanisme menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa. Untuk itu, metode pembelajaran humanistik mengarah pada upaya untuk mengasah nilai-nilai kemanusiaan siswa. Sehingga para pendidik

28

Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), cet. I, h. 91.

29

Zakiah Daradjat, op.cit, h. 41. 30

diharapkan dalam pembelajaran lebih menekankan nilai-nilai kerjasama, saling membantu, dan menguntungkan, kejujuran dan kreativitas untuk diaplikasikan dalam proses pembelajaran sehingga menghasilkan suatu proses pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tujuan dan hasil belajar yang dicapai siswa.

Kesesuaian antara materi pelajaran dan metode pengajaran merupakan faktor penting dalam keterbukaan dan kesediaan anak untuk belajar. Penggunaan kata-kata sukar dan samar dalam mengajar anak didik membaca dan menulis, atau menggunakan metode yang gersang dalam mengajar, akan memalingkan anak dari materi pelajaran, serta menimbulkan kebosanan dalam diri mereka.31

Menyusun materi pengajaran, kegiatan belajar, atau situasi belajar, jangan memandang kepada guru dari seginya sendiri, akan tetapi harus dipandang kepadanya dari segi murid yang ditujukan kepadanya proses belajar. Dengan demikian pengajaran akan mempunyai bekas yang kekal dalam diri anak didik.

Agar dapat para guru mencapai hal tersebut, perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut ini:

1) Tujuan harus jelas dalam pikiran anak didik

2) Materi pengajaran harus mempunyai arti bagi anak didik

3) Menyusun materi pengajaran, dan berbagai kegiatan pengajaran dalam bentuk satuan pelajaran dan sekitar masalah-masalah yang sesuai dengan anak-anak didik.

4) Pembagian kegiatan dan materi pengajaran secara baik

5) Pengikutsertaan anak didik dalam membuat langkah-langkah dan merangsang sebanyak mungkin kegiatan mereka.32

Dalam pada itu, metode-metode pembelajaran yang humanis antara lain adalah sebagai berikut:

31

Zakiah Daradjat, loc.cit, h. 18. 32

1) Guru menyediakan/memberikan sumber

Salah satu strategi mengajar yang disarankan Rogers adalah memberi siswa dengan berbagai macam sumber yang dapat mendukung dan membimbing pengalaman belajar mereka. Sumber-sumber tersebut dapat meliputi materi pengajaran yang biasa, seperti buku, bimbingan referensi, dan alat-alat bantuan listrik (misalnya kalkulator, komputer). Sumber dapat juga meliputi orang, seperti anggota masyarakat yang mempunyai satu bidang minat atau ahli yang bersedia mengungkapkan pengalaman-pengalamannya kepada siswa. Guru-guru dapat juga sebagai sumber dengan pengetahuan dan pengalaman keterampilan yang tersedia untuk siswa jika diperlukan.33 2) Simulasi

Simulasi berasal dari kata “simulate” yang memiliki arti pura-pura atau berbuat seolah-olah. Dan juga “simulation” yang berarti tiruan atau perbuatan yang hanya berpura-pura saja.

Simulasi sebagai jenis pengalaman belajar merupakan miniatur atau model yang mewakili situasi nyata. Penekanan dalam metode simulasi adalah pada kemampuan siswa untuk berimitasi sesuai dengan objek yang diperankan. Pada titik finalnya diharapkan siswa mampu untuk mendapatkan kecakapan bersikap dan bertindak sesuai dengan situasi sebenarnya.

Dalam simulasi apa yang didemonstrasikan harus memiliki pesan moral yang sesuai dengan tingkatan cara berfikir siswa, sehingga pemahaman mereka terhadap kejadian yang diperagakan tidak terhalang oleh apresiasi dan imajinasi mereka. Penekanan dalam simulasi (pendemonstrasian) harus disesuaikan dengan para pelakunya.34

Pembinaan kemampuan bekerja sama, komunikasi, dan interaksi merupakan bagian dari keterampilan yang akan dihasilkan melalui pembelajaran simulasi. Metode ini menuntut lebih banyak aktivitas

33

Carl Rogers, op. cit, h. 27. 34

Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 183.

siswa. Siswa terlibat dan merasa bahwa mereka belajar tentang situasi kehidupan nyata. Tanggung jawab untuk pelaksanaan simulasi di tangan para siswa setelah guru memperkenalkan itu. Metode ini dapat digunakan dalam pembelajaran berbasis kontekstual, bahan pembelajaran dapat diangkat dari kehidupan sosial, nilai-nilai sosial, maupun masalah-masalah sosial.

3) Menggunakan kontrak belajar

Learning contracts (kontrak belajar) merupakan metode

pembelajaran individual untuk mengembangkan tanggung jawab siswa. Kontrak belajar ialah metode yang menjadikan aturan sebagai suatu kontrak dalam belajar yang diciptakan sendiri atas dasar kesepakatan. Tentunya antara pihak pendidik dan pihak yang dididik. Siswa dilibatkan langsung ketika proses pembuatan kontrak belajar.

Metode ini memungkinkan percepatan individu sehingga siswa dapat belajar pada tingkat di mana mereka bisa menguasai suatu materi. Kontrak belajar dapat didesain sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar dengan materi atau bahan yang mengandung konsep dan pengetahuan yang cocok dengan kecakapan mereka dan pengalamannya. Metode ini memfokuskan pada individu, namun demikian kontrak belajar juga memberikan keuntungan bagi siswa untuk bekerja pada kelompok kecil.

Ketika siswa menggunakan kontrak belajar, guru terlebih dulu menjelaskan tujuan belajar yang harus dicapai oleh siswa. Saat siswa sudah terbiasa dengan metode ini, guru dapat memilih untuk melibatkan mereka pada penyusunan tujuan belajar.

Memusatkan pekerjaan anak didik pada mendengar saja, adalah perbuatan yang tidak akan membawa hasil. Guru harus mengetahui bahwa perbuatannya mengikutsertakan anak-anak didik dalam perencanaan dan pelaksanaan, sebenarnya melatih mereka untuk mendapatkan keterampilan yangdiperlukan dalam hidup, di samping membiasakan mereka aktif dalam tindakan-tindakannya, bukan pasif.35

35

Metode kontrak belajar dapat sangat memotivasi siswa, yaitu membuat siswa menjadi makin mandiri, belajar menggunakan sumber atau referensi untuk kepentingan mereka, bangga akan kemampuannya untuk mengajar diri mereka sendiri dan berbagi pembelajaran baru dengan yang lainnya.

4) Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban yang sudah pasti dari suatu masalah yang dipertanyakan.36

Metode inkuiri merupakan metode pembelajaran yang sifatnya partisipatif, mengedepankan proses pengalaman. Guru dalam pembelajaran inkuiri menimbulkan masalah dan berfungsi sebagai sumber daya bagi siswa dalam solusi mereka dari masalah. Siswa dengan demikian berfungsi sebagai ilmuwan.

Metode inkuiri memberikan keuntungan bagi siswa untuk mengalami dan menjalani proses di mana mereka dapat mengumpulkan informasi terkait lingkungan sekitar mereka. Hal tersebut memerlukan tingkat interaksi yang cukup tinggi antara siswa, guru, ketersediaan bahan, dan lingkungan belajar.

Dalam pembelajaran inkuiri siswa akan terlibat aktif pada proses pembelajaran di mana mereka dapat:

a) bertindak berdasarkan rasa ingin tahu dan ketertarikan b) mengembangkan pertanyaan-pertanyaan

c) memikirkan berbagai cara melalui kontroversi dan permasalahan-permasalahan

d) melihat masalah secara analitik

e) menemukan persepsi mereka dan apa yang mereka ingin segera ketahui

f) mengembangkan, mengklarifikasi, dan menguji hipotesis

36

Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008),h. 191.

g) menarik kesimpulan dan menggeneralisasikan pemecahan masalah yang memungkinkan.

Bertanya merupakan pokok pembelajaran inkuiri. Siswa harus mengajukan pertanyaan yang relevan dan mengembangkan cara untuk mencari jawaban dan menggeneralisasikan penjelasan. Menurut Sri Esti, ia mengutip pendapat Rogers, bahwa pembelajaran inkuiri yaitu pembelajaran dimana siswa mencari jawaban terhadap pertanyaan yang riil, membuat penemuan autonomous (bebas), dan menjadi pencetus dalam belajar atas inisiatifnya sendiri.37 Penekanannya yaitu pada proses berpikir sebagaimana penerapannya terhadap interaksi siswa dengan isu-isu, data, topik, konsep, bahan, dan masalah. Pada metode ini, diupayakan agar siswa berpikir divergen. Kemampuan berpikir tersebut diperlukan untuk melakukan elaborasi pada pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa.

Metode pendidikan yang konvensional membuat anak-anak kurang otonom, kurang terbuka, dan kurang empiris. Metode inkuiri membuat siswa berpikir independen dan terbuka, serta baru, pemahaman yang lebih dalam, dan lebih kekal.

5) Pembagian Kelompok

Metode pembelajaran dengan pembagian kelompok merupakan salah satu metode yang efektif. Dalam metode ini, para siswa bekerja secara kelompok dan mengurangi peran guru yang terkadang terlalu dominan dalam mengajar. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa yang ada dikelas, dengan cara ini diharapkan siswa dapat menjadi lebih kreatif dan aktif. Metode pembelajaran ini melibatkan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat atau memecahkan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka.

Pembelajaran menggunakan metode ini merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif. Metode pembelajaran dengan pembagian

37

kelompok dapat meningkatkan siswa dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah dan meningkatkan rasa kebersamaan diantara siswa. Metode ini sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang tidak diketahuinya.38

Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Karena dalam proses pembelajaran, penting bagi siswa untuk belajar bekerja sama, saling membantu, dan menerima sudut-sudut pandang yang berbeda.

6) Reinforcement (Imbalan dan Hukuman)

Masalah imbalan dan hukuman berhubungan dengan cara menimbulkan minat anak didik terhadap proses belajar. Banyak guru yang menggunakan hadiah atau hukuman sebagai cara untuk mendorong anak didik untuk belajar. Alasan mereka dalam hal itu adalah bahwa anak memerlukan rasa harga diri dan keberhasilan untuk melanjutkan kemajuannya. Hendaknya guru mengetahui bahwa keberhasilan anak didik dalam proses belajar itu sendiri, merupakan imbalan, karena anak didik merasa lega dan puas terhadap dirinya, hal itu akan membawa kepada kemajuan yang berkelanjutan.39

Jelaslah bahwa metode-metode belajar yang humanis tersebut gaya mengajarnya didasarkan pada hubungan-hubungan interpersonal yang ramah dan terbuka antara guru dengan para siswanya. Dengan metode pembelajaran yang humanis ini membuat para siswa terbuka kepada guru dalam belajar, siswa dapat mempercayai guru dan siswa akan dengan senang meminta nasehat-nasehat kepada gurunya tanpa rasa takut dan enggan.

38

Nina Herlina, Metode Pembelajaran Kelompok, 2013, (http://herlinanina22.blogspot.com /2013/02/metode-pembelajaran-kelompok.html).

39

Dokumen terkait