• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Humanis dalam Pandangan Beberapa Tokoh

BAB II LANDASAN TEORI

6. Pendidikan Humanis dalam Pandangan Beberapa Tokoh

a. Arthur W. Combs

Teori belajar Arthur W. Combs dikenal dengan meaning (makna atau arti). Menurutnya, belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu, guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan siswa. Sehingga siswa belajar sesuai dengan apa yang diinginkan tanpa adanya paksaan sedikit pun. Anak yang tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.40

Combs berpendapat bahwa seorang guru harus lebih memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa diri siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Menurut Combs, dalam prakteknya teori humanistik cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Pembelajaran berdasarkan teori humanistik cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah,

40

Dadang, Teori Belajar Humanisme Arthur W. Combs Meaning; Makalah Ilmu Pendidikan dan Perpustakaan, 2011, 2013, (http://makalahilmupendidikandanperpustakaan.blogspot.com/ 2011/07/teori-belajar-humanisme-arthur-w-combs.html).

berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.

b. Carl Rogers

Rogers adalah seorang psikolog humanis yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran. Tujuan pendidikan adalah dan haruslah dapat membuat siswa berkembang terhadap seluruh kemampuan yang dimilikinya. Karena dengan kemampuan itulah siswa dapat hidup dan bertahan dalam kehidupannya—dalam dunia yang cepat berubah, yang ditandai dengan ketegangan antara ras, bangsa dan kelompok lain. Orang yang benar-benar berguna adalah orang yang dapat dengan mudah beradaptasi dan memahami bagaimana caranya memahami segala sesuatu.41

Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran. Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah :

1) Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.

2) Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.

3) Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya. 4) Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan

dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.

5) Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.

41

6) Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.

7) Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.

8) Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.

9) Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.

10)Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.

c. Abdul Munir Mulkhan

Konsep pendidikan humanis Abdul Munir Mulkhan mencakup tiga pembahasan, yaitu hakikat manusia, hakikat pendidikan humanis, dan ranah pendidikan humanis. Dalam pandangan Mulkhan, manusia merupakan makhluk yang unik, keunikan manusia terletak di dalam kemampuannya memproduksi kebudayaan. Hakikat pendidikan humanis dimaknai sebagai proses peneguhan keunikan manusia, proses akumulasi pengalaman dan proses penyadaran, karenanya praktik pendidikan harus didasari konsep kebermaknaan manusia secara unik. Ranah pendidikan humanis menurut Mulkhan mencakup aspek kebijakan dan strategi pendidikan, otonomi pendidikan, peran dan orientasi pendidikan, fungsi sekolah dan lingkungan, tugas dan tanggung jawab pendidik, dan metode pembelajaran garden learning dan natural learning.

d. Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologisnya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, rasa dan karsa. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan

semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dari titik pandang sosio-antropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya.

Ki Hajar Dewantara membedakan antara sistem pengajaran dan pendidikan. Mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia (humanisasi), yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Pendidikan adalah segala pemeliharaan lahir dan batin terhadap anak-anak untuk dapat memajukan kehidupan lahir atau jasmani dan batin atau rohani. Di dalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Ajaran kepemimpinan Ki Hajar Dewantara yang sangat popular di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

e. Abraham Maslow

Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hierarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya. Satu konsep yang diperkenalkan Maslow adalah perbedaan antara deficiency needs dan growth needs. Deficiency needs

(rasa aman, cinta dan harga diri) adalah menyangkut fisik dan psikis. Kebutuhan ini harus dipuaskan, tetapi sekali dipuaskan, motivasi seseorang untuk kebutuhan ini hilang. Sebaliknya, growth needs seperti kebutuhan untuk ingin tahu dan mengerti, kebutuhan untuk keindahan dan kebutuhan aktualisasi diri tidak pernah dipuaskan seluruhnya.42

42

Self actualization menurut istilah Maslow ialah pemenuhan dirinya sendiri dan realisasi dari potensi pribadi. Aktualisasi diri (self

actualization) didefinisikan sebagai keinginan untuk menjadi apapun yang

ingin dia lakukan. Maslow menempatkan self actualization paling atas dari hierarki kebutuhan manusia.

Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Di sekolah, deficiency needs yang paling penting adalah kebutuhan siswa untuk dicintai dan dihargai. Jika siswa merasa tidak dicintai dan dihargai dan dianggap tidak mampu, mereka tidak mempunyai motivasi kuat untuk mencapai tujuan growth needs, seperti ingin mencari pengetahuan lebih lanjut untuk dirinya sendiri, atau kreatif dan terbuka untuk ide-ide baru dari orang lain. Seorang guru yang dapat membuat siswa merasa senang, merasa diterima, dihargai sebagai individu dan dicintai, mungkin akan membuat mereka ingin belajar dan kreatif terhadap ide-ide baru.43

Dokumen terkait