TPS TANPA KONTAINER
3.6 Komponen Sanitasi Lainnya 1 Penanganan Limbah Industr
Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara, khususnya BLH dalam upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan, khususnya yang diakibatkan karena pembuangan limbah cair industri, antara lain dengan :
1. Pengujian Limbah Air Sungai
2. Pengembangan Penataan Ruang Terbuka Hijau pada Lokasi Pemukiman, Industri, Pusat Perdagangan dan Padat Lalu Lintas
3. Pembinaan pada Pengusaha Industri untuk memiliki Dokumen Pengelolaan Pemantauan Lingkungan
Kondisi pencemaran limbah cair industri pada umumnya di Kabupaten Jepara masih dibawah ambang batas pencemaran. Walaupun begitu, dalam jangka panjang perlu adanya penataan industri di lokasi tertentu sehingga dengan mudah untuk meminimalkan terjadinya Pencemaran Limbah Cair Industri tersebut.
Permasalahan yang dihadapi dalam penanganan limbah industri yaitu : 1. Pelaku Industri belum seluruhnya mempunyai IPAL (Instalasi
Pengolahan Air Limbah)
2. Terbatasnya lahan untuk pembuatan IPAL Komunal bagi Sentra Industri dan Pemukiman (Limbah Rumah Tangga).
3.6.2 Penangangan Limbah Medis
Limbah medis adalah limbah yang biasanya bersumber dari limbah rumah sakit, baik limbah cair maupun limbah padat. Limbah medis dapat dikategorikan sebagai limbah infeksius dan masuk pada klasifikasi limbah bahan berbahaya dan beracun. Untuk mencegah terjadinya dampak negatif limbah medis tersebut terhadap masyarakat atau lingkungan, maka perlu dilakukan pengelolaan secara khusus.
Di Kabupaten Jepara sendiri, praktek pengolahan limbah medis oleh rumah sakit maupun puskesmas sudah dilakukan. Terlihat dari fakta bahwa selama ini baik puskesmas ataupun rumah sakit yang ada di wilayah Kabupaten Jepara sudah mempunyai incinerator (13 puskesmas), sedangkan Puskesmas yang belum mempunyai incinerator masih menyerahkan limbah medis,
khususnya limbah padat yang dihasilkannya untuk dibakar pada unit incinerator
yang dimiliki oleh RSUD Kartini atau pada Puskesmas terdekat.
Hingga tahun 2009 RSUD Kartini merupakan salah satu rumah sakit yang diketahui memiliki pengolahan limbah medis baik padat maupun cair walaupun secara kuantitas maupun kualitas pengolahan limbah masih kurang memadai. Secara detail penjelasan terkait limbah medis ditinjau dari sumber, jenis dan pengolahannya dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Sumber
Sumber timbulan sampah medis yang dihasilkan dari RSUD Kartini secara garis besar berasal dari unit obstetrik, unit emergency, unit laboratorium, kamar mayat, patologi dan otopsi, unit layanan medis, dan sebagainya adalah sebanyak 1.204 kg per bulan.
b. Jenis
Jenis limbah medis dapat berupa benda tajam, infeksius, jaringan tubuh, sitotoksis, farmasi, kimia, dan radio aktif. Jenis lain adalah sampah medis berupa; darah, jaringan, spuit, kapas, kasa, slang infus, jarum suntik, dan sampah lain yang terkontaminasi. Cakupan penanganan sampah medis di RSUD Kartini sudah mencakup 100% dari total timbulan sampah setiap harinya.
Tabel 3.15
Timbulan Limbah Medis & Non Medis RSUD Kartini Kabupaten Jepara Tahun 2009
No Bulan Timbulan Limbah
Medis (Kg) Timbulan Limbah Non Medis (Kg) 1 Januari 1.160 1.736 2 Pebruari 1.181 1.364 3 Maret 1.265 1.612 4 April 1.229 1.598 5 Mei 1.216 1.791 6 Juni 1.142 1.524 7 Juli 1.208 1.646 8 Agustus 1.204 1.846 9 September 1.150 1.866 10 Oktober 1.234 2.204 11 Nopember 1.218 2.298
No Bulan Timbulan Limbah Medis (Kg) Timbulan Limbah Non Medis (Kg) 12 Desember 1.236 2.136 Total 14.452 21.621 Rata-rata perbulan 1.204 1.801
Sumber : Instalasi Pemeliharaan Sarana da Prasarana RSUD Kartini Kabupaten Jepara, 2009. Dari tabel diatas menunjukkan bahwa volume sampah medis dan sampah non medis setiap bulan mengalami peningkatan.
c. Penanganan (pengelolaan)
Sampah dipisahkan menjadi dua yaitu sampah medis dan sampah non medis, kedua sampah tersebut diberi wadah dan kantong plastik yang berbeda. Untuk sampah medis dimasukkan ke dalam kantong plastik merah.
Sebelum dibuang ke pembuangan sementara, dilakukan desinfeksi dengan bahan kimia untuk membunuh bakteri patogen dan mikroorganisme lain yang bisa membayakan penjamah sampah.
Pemusnahan sampah medis dengan pembakaran (incenerator).
Untuk limbah cair diolah dalam suatu IPAL yang dikelola secara mandiri oleh RSUD Kartini. alur IPAL dituangkan pada gambar dibawah berikut ini.
d. Permasalahan
• Selama bulan Januari s/d Mei 2009 sisa/abu pembakaran sampah medis belum maksimal, karena konstruksi cerobong yang terlalu kecil sehingga tidak mampu membakar dengan suhu di atas 900 0C.
• Tempat Penampungan Sementara (TPS) setiap hari Minggu dan Senin sering terjadi penumpukan sampah, karena pada hari Minggu tidak ada pengangkutan dari pihak DPTRK.
Gambar 3.16
Alur IPAL RSUD Kartini Kabupaten Jepara
Sumber : RSUD Kartini Kabupaten Jepara
KM, Toilet, wc
Auto Rake Screen
FBBR
Bak Pengendapan
Bak Air Terolah
Up Flow Filter Bak Desinfektan Lift Station Bufer Basin Pretreatmen Laundry Dapur Limbah Padat Incenerator Dewatering Unit Cake Air Bersih Bak Penampungan Lumpur
Saluran Air Kota/ Sungai
3.6.3 Kampanye PHBS
Untuk Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara telah melakukan berbagai upaya agar masyarakat bisa mengetahui, memahami, mengerti dan akhirnya mau melakukan apa yang menjadi kewajiban sebagai warga masyarakat untuk turut serta membangun kesehatan baik individu, masyarakat dan lingkungan, agar kualitas kesehatan meningkat, sedangkan kegiatanya antara lain :
1. Pelatihan untuk petugas kesehatan.
2. Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Desa/Kelurahan. 3. Survei PHBS di 21 Puskesmas masing-masing 210 KK.
4. Melatih kader kesehatan di kelurahan-kelurahan.
5. Memasang spanduk-spanduk /poster-poster himbauan untuk PHBS. 6. Membentuk Forum Kesehatan Desa (FKD).
7. Lomba Lingkungan Sekolah Sehat (LLSS). 8. Kampanye Anti Rokok tahun 2008.
9. Kampanye Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), peserta 1000 orang anak-anak SD se Kabupaten Jepara.
10. Pelatihan dan praktek CLTS selama 2 hari, tahun 2010.
11. Pelatihan Higiene Sanitasi Sekolah, praktek CTPS, tahun 2010. 12. Survey Peningkatan Sanitasi Obyek Wisata Pantai Kartini (Survey IS).
Ruang lingkup Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dalam pelaksanaanya ada 5 tatanan yaitu :
1. Tatanan Rumah Tangga Sehat 2. Tatanan Sekolah Sehat
3. Tatanan Perkantoran Sehat
4. Tatanan Tempat-Tempat Umum Sehat 5. Tatanan Pondok Pesantren Sehat
PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Rumah tangga Sehat adalah rumah tangga yang melakukan 16 (enambelas) PHBS di rumah tangganya, urutan ke 16 PHBS dan urutan masalah dari Hasil Survei Pemetaan Rumah Tangga Sehat tatanan rumah tangga yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara pada tahun 2009 di 21
Puskesmas dengan jumlah desa yang di data ada 188 desa dan 4410 rumah tangga atau 210 rumah tangga setiap Puskesmas adalah sebagai berikut:
1. Tidak merokok sebesar 35,37%.
2. Jaminan pemeliharaan kesehatan (JPK) sebesar 42,49% 3. ASI Eksklusif sebesar 43,06%
4. Melakukan aktifitas fisik tiap hari sebesar 63,88% 5. Menggunakan lantai rumah kedap air sebesar 70,41% 6. Menggunakan jamban sehat sebesar 75,96%
7. Melakukan PSN minimal seminggu sekali sebesar 76,80% 8. Kepadatan hunian rumah per orang min.9 m2 sebesar 78,25 %
9. Mencuci tangan dengan sabun dengan air bersih yang mengalir sebesar 78,32 %
10. Menimbang bayi dan balita sebesar 78,91%
11. Persalinan di tolong oleh tenaga kesehatan sebesar 80,50 % 12. Membuang sampah pada tempatnya sebesar 82,83%
13. Makan dengan menu seimbang sebesar 89,64 % 14. Menggosok gigi min.2 kali sehari sebesar 93,20 % 15. Menggunakan air bersih sebesar 94,04 %
16. Tidak menyalahgunakan miras dan narkoba sebesar 96,76 %