• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Sediaan Lip Balm

2.6.3 Komponen Sediaan Lip Balm

Komponen utama lip balm seperti lilin, lemak, dan minyak dari ekstrak alami atau yang disintesis dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kekeringan dengan meningkatkan kelembaban bibir dan melindungi bibir dari pengaruh buruk lingkungan (Kwunsiriwong, 2016). Minyak memegang peranan penting pada pembuatan kosmetik pelembab karena dapat membentuk lapisan tipis pada permukaan kulit sehingga dapat mencegah terjadinya penguapan air dari permukaan kulit yang disebabkan oleh panas matahari. Penggunaan minyak tumbuhan pada lip balm lebih baik daripada minyak mineral karena lebih mudah bercampur dengan lemak kulit, lebih mudah menembus di antara sel-sel stratum korneum, dan memiliki daya adhesi yang lebih kuat. Khususnya, minyak yang memiliki kandungan asam lemak tak jenuh tinggi seperti asam oleat, linoleat, arakidonat yang berfungsi memberikan efek kelenturan dan membuat kulit lebih sehat. Selain asam lemak, minyak juga memiliki kandungan vitamin E. Vitamin E sangat bermanfaat untuk mengatasi kerusakan kulit. Vitamin E mengandung senyawa tokoferol yang memiliki aktivitas biologi yang tinggi sebagai antioksidan yaitu mampu menangkap radikal bebas yang berpotensi merusak serta menyebabkan kelainan pada kulit. vitamin E juga berperan menjaga kelembaban

kulit dengan cara mempertahankan ikatan air dalam kulit dan menjaga stabilitas jaringan ikat dalam sel (Sulastomo, 2013; Tranggono dan Latifah, 2007).

1. Minyak

Asam lemak dapat berupa asam lemak jenuh atau tidak jenuh yang menentukan stabilitas dari minyak. Minyak dengan asam lemak jenuh tingkat tinggi (laurat, miristat, palmitat, dan asam stearat) termasuk minyak kelapa, minyak biji kapas, dan minyak kelapa sawit. Minyak dengan tingkat asam lemak tak jenuh yang tinggi (asam oleat, arakidonat, dan linoleat) misalnya minyak canola, minyak zaitun, minyak jagung, minyak almond, minyak jarak, dan minyak alpukat. Minyak dengan asam lemak jenuh lebih stabil dan tidak menjadi anyir secepat minyak tak jenuh.

Namun, minyak dengan asam lemak tidak jenuh lebih halus, lebih mahal, kurang berminyak, dan mudah diserap oleh kulit (Kadu dkk., 2014).

2. Lilin

Lilin berfungsi memberikan bentuk sediaan stik yang perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis dan jumlahnya agar dihasilkan formula yang tepat. Beeswax (sinonim: cera alba atau malam putih) adalah lilin yang paling banyak digunakan karena tekstur, keseragaman, dan sifat menyusut yang baik selama pencetakan. Kecenderungan menyusut ini membuat beeswax menjadi lebih mudah untuk dikeluarkan dari cetakan setelah dingin. Beeswax merupakan lilin yang diperoleh dari sarang lebah pada saat pertama kali meleleh. Pada saat disaring, terjadi perubahan warna dari coklat menjadi kekuningan bercahaya. Sebagai bahan yang paling banyak diperlukan, lilin mentah ini selanjutnya dimurnikan dan diputihkan secara kimia atau menggunakan cahaya matahari. Beeswax tidak mudah tengik dan memiliki titik lebur 62-64°C (Ketaren, 1986).

3. Lemak

Oleum cacao atau lemak coklat merupakan lemak coklat padat yang diperoleh

dengan pemerasan panas biji Theobroma cacao L. yang telah dikupas dan dipanggang. Pemeriannya yaitu lemak padat, putih kekuningan, bau khas aromatik, rasa khas lemak, dan agak rapuh. Titik lebur yaitu 31-34°C (Ditjen POM, 1979).

Lemak coklat dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kosmetik antara lain sebagai krim pembersih, krim pelembab, dan minyak rambut. Mengandung asam lemak esensial yaitu asam linoleat (2%) dan vitamin E (tokoferol) sebesar 3- 13 mg/100 gram bahan (Ketaren, 1986).

Lemak coklat memiliki kelebihan yakni lunak, lebih mudah diserap, dapat memberikan aroma bau yang menyenangkan sehingga tidak perlu penambahan pengharum (Ketaren, 1986).

4. Gliserin

Pemeriannya yaitu cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna, rasa manis, hanya boleh berbau khas lemah (tajam atau tidak enak), higroskopis dan netral terhadap lakmus. Kelarutannya yaitu dapat bercampur dengan air dan etanol, praktis tidak larut dalam kloroform, eter, minyak lemak, dan minyak menguap (Ditjen POM, 1995).

Gliserin digunakan secara luas pada formulasi farmasetikal meliputi sediaan oral, telinga, mata, topikal, dan parenteral. Pada sediaan topikal dan kosmetik, gliserin digunakan sebagai humektan dan emolien (Rowe dkk., 2009).

5. Antioksidan

Butil hidroksitoluen (BHT) merupakan salah satu antioksidan yang paling banyak digunakan pada kosmetik, produk makanan, dan sediaan farmasi lain.

Tujuan penggunaannya adalah untuk mencegah kerusakan oksidatif dari lemak dan minyak agar tidak tengik serta mencegah hilangnya aktivitas vitamin yang terlarut dalam minyak (Rowe dkk., 2009).

Butil hidroksitoluen (BHT) memiliki pemerian yaitu hablur padat, putih, dan bau khas lemah. Kelarutannya yaitu tidak larut dalam air dan dalam propilenglikol, mudah larut dalam etanol, kloroform, dan eter (Kementerian Kesehatan RI, 2014).

6. Pengawet

Nipagin atau metil paraben memiliki pemerian yaitu hablur kecil, tidak berwarna, tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar.

Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air dan benzen, mudah larut dalam etanol dan eter, larut dalam minyak, propilen glikol, dan gliserol. Khasiatnya adalah sebagai zat tambahan (zat pengawet) (Ditjen POM, 1995).

Metil paraben digunakan sebagai pengawet dalam sediaan topikal dalam jumlah 0,02-0,3% (Rowe dkk., 2009).

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Penelitian meliputi formulasi sediaan, pemeriksaan mutu fisik sediaan seperti pemeriksaan organoleptis, pemeriksaan homogenitas, uji stabilitas selama 28 hari pada suhu kamar, pengujian titik lebur, uji pH, uji kekuatan sediaan, uji iritasi sediaan, uji efektivitas sediaan, serta uji kesukaan (hedonic test) terhadap variasi sediaan yang dibuat.

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: alat-alat gelas, batang pengaduk, cawan penguap, kaca objek, kertas perkamen, moisture checker (Aram), neraca analitik (Mottler Toledo), penangas air, penjepit tabung, pH meter (Hanna Instrument), pipet tetes, spatula, sudip, tisu dan wadah lip balm.

3.1.2 Bahan

Bahan - bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah beeswax, gliserin, BHT, nipagin, oleum cacao, dan minyak biji sawi (Thurgas Industries SDN. BHD.).

3.2 Penyiapan Sampel

Minyak biji sawi dibeli di Jalan Teuku Cik Ditiro No.129, Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara, 20151.

Analisis kandungan minyak biji sawi dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dengan alamat Jalan Brigjen Katamso No. 51, Kampung Baru, Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara, 20158.

3.3 Sukarelawan

Sukarelawan yang dijadikan panelis (subjek penelitian) adalah 15 orang mahasiswi Fakultas Farmasi USU yang telah dianalisa bibirnya memiliki kelembaban yang rendah dengan kriteria sebagai berikut:

1. Wanita berbadan sehat 2. Usia antara 20-30 tahun

3. Tidak ada riwayat penyakit yang berhubungan dengan alergi 4. Bersedia menjadi sukarelawan

(Ditjen POM, 1985).

3.4 Prosedur Kerja 3.4.1 Formula Dasar

Formula dasar yang dipilih pada pembuatan lip balm dalam penelitian ini dengan komposisi sebagai berikut:

R/ Gliserin 5

Cera Alba 10

Cera Flava 12

Nipagin 0,18

Nipasol 0,02

BHT 0,05

Oleum cacao ad 100 (Ratih dkk., 2014).

Berdasarkan formula di atas, dilakukan modifikasi formula dengan mengurangi jumlah beeswax dan hanya menggunakan pengawet berupa nipagin untuk mendapatkan basis sediaan lip balm yang baik dalam tekstur, konsistensi, dan kemampuan melembabkan bibir.

3.4.2 Modifikasi Formula

Setelah dilakukan modifikasi formula, maka formula yang digunakan dalam pembuatan sediaan lip balm pada penelitian ini adalah:

R/ Beeswax 9

Gliserin 5

Nipagin 0,2

BHT 0,05

Oleum cacao ad 100

Selanjutnya dilakukan pengembangan formulasi sediaan lip balm yang mengandung minyak biji sawi dengan berbagai konsentrasi. Berdasarkan hasil orientasi terhadap penggunaan minyak biji sawi pada sediaan lip balm diperoleh hasil bahwa konsentrasi 2,5% mampu memberikan kelembaban pada saat dioleskan. Orientasi dilanjutkan dengan menggunakan minyak biji sawi dengan konsentrasi 5%, 7,5% dan 10% karena memberikan kelembaban dan konsistensi warna yang cukup baik. Sediaan lip balm tanpa menggunakan minyak biji sawi dijadikan sebagai blanko. Modifikasi formula sediaan lip balm dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3. 1 Modifikasi formula sediaan lip balm menggunakan minyak biji sawi

Komposisi Konsentrasi (%)

F0: Sediaan tanpa konsentrasi minyak biji sawi (blanko) F1: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 2,5%

F2: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 5%

F3: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 7,5%

F4: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 10%

3.4.3 Prosedur Pembuatan Sediaan

Lemak coklat dilelehkan pada suhu sekitar 31-34°C. Lemak coklat dimasukkan ke dalam cawan penguap sambil diaduk sampai seluruh lemak coklat meleleh sempurna. Ditimbang beeswax lalu dilelehkan pada suhu sekitar 62-64°C, kemudian dimasukkan ke dalam lelehan lemak coklat. Ditimbang nipagin dan gliserin kemudian dimasukkan ke dalam campuran lelehan lemak coklat dan beeswax sambil diaduk. Ditimbang minyak biji sawi dan BHT kemudian dimasukkan terakhir sambil diaduk. Setelah itu dimasukkan ke dalam wadah lip balm lalu dibiarkan pada suhu ruangan sampai membeku (Ratih dkk., 2014).

3.5 Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan

Pemeriksaan mutu fisik sediaan dilakukan terhadap masing-masing sediaan lip balm. Pemeriksaan mutu fisik sediaan meliputi: pemeriksaan organoleptis yang

mencakup pengamatan terhadap perubahan bentuk, warna, dan bau dari sediaan, pemeriksaan homogenitas, pengujian titik lebur, uji pH, uji stabilitas sediaan, uji iritasi, dan uji efektivitas sediaan terhadap kulit dengan menggunakan alat moisture checker serta uji kesukaan sediaan (Ratih dkk., 2014).

3.5.1 Pemeriksaan Homogenitas Sediaan

Masing-masing sediaan diperiksa homogenitasnya dengan cara mengoleskan sejumlah tertentu sediaan pada kaca yang transparan. Sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butir-butir kasar (Ditjen POM, 1979).

3.5.2 Uji pH Sediaan

Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter. Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan larutan dapar standar netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat menunjukkan angka tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan aquadest, lalu dikeringkan dengan tisu. Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 1 g sediaan dan dicukupkan dengan 100 ml aquadest, lalu dipanaskan agar sampel dapat larut dalam aquadest. Kemudian elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan. Pengukuran pH dilakukan sebanyak 3 kali lalu diambil nilai rata- ratanya (Bentley dan Rawlins, 2002).

3.5.3 Uji Stabilitas Sediaan

Sediaan lip balm yang telah jadi, dievaluasi selama 28 hari yang meliputi pengamatan organoleptis (warna, bau, dan bentuk) apakah terjadi perubahan selama penyimpanan pada suhu kamar (Ratih dkk., 2014).

3.5.4 Pengujian Titik Lebur Sediaan

Pengujian titik lebur menggunakan metode pipa kapiler. Leburan lilin dihisap ke dalam pipa kapiler kemudian disimpan dalam lemari es pada suhu 4-10⁰C selama 16 jam. Pipa kapiler diikatkan pada termometer dan dimasukkan ke dalam gelas beker 500 ml yang berisi air setengah bagian. Gelas beker dipanaskan. Pada saat lilin dalam pipa kapiler bergerak pertama kali, angka yang terlihat pada termometer dicatat sebagai titik lebur lilin (Association of Official Analytical Chemist, 1984).

3.5.5 Pemeriksaan Kekuatan Sediaan

Pengamatan dilakukan terhadap kekuatan lip balm dengan cara lip balm diletakkan horizontal. Pada jarak kira-kira ½ inci dari tepi lip balm, digantungkan beban yang berfungsi sebagai penekan. Tiap 30 detik berat penekan ditambah (10 gram). Penambahan berat sebagai penekanan dilakukan terus menerus sampai lip balm patah, pada saat lip balm patah merupakan nilai kekuatan lip balm

(Vishwakarma dkk., 2011).

3.6 Uji Iritasi, Uji Efektivitas, dan Uji Kesukaan Sediaan 3.6.1 Uji Iritasi Sediaan

Uji iritasi sediaan dilakukan dengan menggunakan metode uji tempel terbuka (open patch) pada bagian lengan bawah bagian dalam terhadap 10 panelis yang bersedia dan menulis surat pernyataan. Uji tempel terbuka dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan pada lokasi lekatan dengan luas tertentu (2,5 x 2,5 cm), dibiarkan terbuka dan diamati apa yang akan terjadi. Uji ini dilakukan sebanyak 3 kali sehari selama dua hari berturut-turut (Tranggono dan Latifah, 2007).

Reaksi yang diamati adalah terjadinya eritema, papula, vesikula, atau edema.

Menurut Ditjen POM (1985), tanda-tanda untuk mencatat reaksi uji tempel adalah 1. Tidak ada reaksi -

2. Eritema +

3. Eritema dan papula ++

4. Eritema, papula dan vesikula +++

5. Edema dan vesikula ++++

3.6.2 Uji Efektivitas Sediaan

Pengujian efektivitas kelembaban dilakukan terhadap 15 orang panelis.

Pengujian dilakukan pada daerah bibir. Pengelompokkan dibagi menjadi:

a. Kelompok I : 3 orang panelis menggunakan formula blanko.

b. Kelompok II : 3 orang panelis menggunakan formula 2,5%.

c. Kelompok III : 3 orang panelis menggunakan formula 5%.

d. Kelompok IV : 3 orang panelis menggunakan formula 7,5%.

e. Kelompok V : 3 orang panelis menggunakan formula 10%

Pengujian dengan membandingkan keadaan bibir sebelum dan sesudah pemakaian sediaan dengan nilai parameter kelembaban (moisture). Semua panelis diukur terlebih dahulu kondisi kelembaban bibir awal/sebelum perlakuan dengan menggunakan alat moisture checker.

Sediaan lip balm dioleskan pada bibir panelis lalu dibiarkan hingga 20 menit.

Dilakukan kembali pengecekan kondisi kelembaban bibir setelah pemakaian lip balm. Pengukuran kondisi bibir dilakukan setiap minggu selama empat minggu

dengan pemberian sediaan lip balm setiap hari secara rutin pagi dan malam hari.

3.6.3 Uji Kesukaan (Hedonic Test) Sediaan

Uji kesukaan dilakukan secara visual terhadap 30 orang panelis. Setiap panelis diminta untuk mengoleskan formula sediaan yang dibuat pada bibir panelis.

Kemudian, panelis memilih formula yang paling disukai. Panelis menuliskan 1 bila sangat tidak suka, 2 bila tidak suka, 3 bila netral, 4 bila suka dan 5 bila sangat suka.

Parameter pengamatan pada uji kesukaan adalah kemudahan pengolesan, aroma, homogenitas dan kelembaban yang dirasakan pada bibir. Kemudian dihitung persentase kesukaan terhadap masing–masing sediaan (Hutami dkk., 2014).

3.7 Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) 25. Langkah pertama data dianalisis dengan

menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov untuk menentukan homogenitas dan normalitasnya. Kemudian jika data normal, dilanjutkan dengan dianalisis menggunakan metode One Way Anova untuk menentukan perbedaan rata-rata diantara kelompok. Jika terdapat perbedaan, dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey HSD untuk melihat perbedaannya antar perlakuan. Sedangkan jika data tidak

normal, dilanjutkan dengan dianalisis menggunakan metode Kruskal Wallis untuk menentukan perbedaan rata-rata di antara kelompok. Jika terdapat perbedaan, dilanjutkan dengan uji Post Mann-Whitney untuk melihat perbedaannya antar perlakuan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Formulasi Sediaan

Variasi konsentrasi minyak biji sawi pada pembuatan lip balm menghasilkan perbedaan tekstur pada sediaan lip balm. Lip balm dengan konsentrasi minyak biji sawi 2,5% dan 5% memiliki tekstur sedikit keras, konsentrasi 7,5% memiliki tekstur lembut dan konsentrasi 10% memiliki tekstur yang sangat lembut. Aroma lip balm yang dihasilkan adalah aroma khas oleum cacao dan berwarna kuning.

4.2 Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan 4.2.1 Hasil Homogenitas Sediaan

Hasil pemeriksaan homogenitas sediaan menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat memiliki susunan yang homogen. Hal ini ditandai dengan tidak adanya butir- butir kasar pada saat sediaan dioleskan pada kaca transparan (Ditjen POM, 1979).

4.2.2 Uji pH Sediaan

Hasil pengukuran pH menunjukkan bahwa sediaan lip balm minyak biji sawi berkisar antara 5,6-6,3. Hasil pengukuran pH sediaan lip balm minyak biji sawi dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4. 1 Data hasil uji pH sediaan lip balm minyak biji sawi

Sediaan pH

F0: Sediaan tanpa minyak biji sawi (blanko)

F1: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 2,5%

F2: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 5%

F3: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 7,5%

F4: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 10%

Perbedaan pH sediaan disebabkan oleh perbedaan konsentrasi minyak biji sawi yang digunakan. Semakin tinggi konsentrasi minyak biji sawi, maka pH sediaan lip balm semakin rendah. Nilai pH lip balm yang dihasilkan telah memenuhi

persyaratan pH sediaan kosmetika yakni berada pada rentang pH fisiologis kulit 4,5 - 6,5 (Tranggono dan Latifah, 2007).

4.2.3 Uji Stabilitas Sediaan

Hasil uji stabilitas fisik sediaan lip balm yang telah dibuat tetap stabil dalam penyimpanan pada suhu kamar yang dilakukan selama 28 hari. Parameter yang diamati dalam uji kestabilan fisik ini meliputi perubahan bentuk, warna, dan bau sediaan. Berdasarkan hasil pengamatan bentuk, diketahui bahwa seluruh sediaan lip balm yang dibuat memiliki bentuk dan konsistensi yang baik yaitu tidak meleleh

pada penyimpanan suhu kamar. Warna dan bau lip balm juga stabil dalam penyimpanan selama 28 hari pengamatan pada suhu kamar. Hasil pengamatan stabilitas sediaan lip balm minyak biji sawi dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4. 2 Data hasil pengamatan uji stabilitas fisik sediaan lip balm minyak biji sawi

- : Tidak terjadi perubahan + : Terjadi perubahan b : Bau

B : Bentuk W : Warna

F0: Sediaan tanpa minyak biji sawi (blanko)

F1: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 2,5%

F2: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 5%

F3: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 7,5%

F4: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 10%

4.2.4 Hasil Pengujian Titik Lebur Sediaan

Hasil pengujian titik lebur lip balm menunjukkan bahwa sediaan lip balm minyak biji sawi berkisar antara 58-60oC. Hal tersebut menunjukkan bahwa sediaan lip balm dengan konsentrasi minyak biji sawi telah memenuhi persyaratan titik

lebur. Perbedaan titik lebur sediaan disebabkan oleh perbedaan konsentrasi minyak biji sawi yang digunakan. Semakin tinggi konsentrasi minyak biji sawi yang digunakan pada sediaan lip balm, maka titik lebur sediaan semakin rendah. Hal ini dikarenakan semakin berkurangnya basis yang digunakan pada sediaan dan minyak yang terdapat pada sediaan akan memberikan pengaruh terhadap sediaan yang dibuat.

Titik lebur lip balm yang ideal sesungguhnya diatur hingga suhu yang mendekati suhu bibir, bervariasi antara 36-38°C. Tetapi karena harus memperhatikan faktor ketahanan terhadap suhu cuaca sekelilingnya, terutama suhu daerah tropis, titik lebur lip balm dibuat lebih tinggi, yaitu berkisar 55-75°C agar tidak meleleh apabila disimpan pada suhu ruang dan mempertahankan bentuknya selama proses distribusi, penyimpanan, dan pemakaian (Fernandes dkk., 2013).

Hasil pemeriksaan titik lebur sediaan lip balm minyak biji sawi dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4. 3 Data hasil pemeriksaan titik lebur sediaan lip balm minyak biji sawi

F0: Sediaan tanpa minyak biji sawi (blanko)

F1: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 2,5%

F2: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 5%

F3: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 7,5%

F4: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 10%

4.2.5 Uji Kekuatan Sediaan

Uji kekuatan sediaan dengan menggunakan anak timbangan seberat 10 gram.

Tiap 30 detik berat penekan ditambah (10 gram). Penambahan berat sebagai penekanan dilakukan terus menerus sampai lip balm patah. Dari hasil pemeriksaan kekuatan lip balm menunjukkan adanya perbedaan kemampuan sediaan lip balm menahan beban. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan konsentrasi minyak biji sawi yang digunakan, semakin tinggi konsentrasi minyak biji sawi dalam sediaan lip balm, maka kekuatan yang dihasilkan lip balm semakin rendah karena lilin yang

digunakan akan semakin sedikit. Hal ini menyebabkan lip balm dengan minyak biji sawi 10% lebih mudah patah dibandingkan sediaan lip balm yang menggunakan minyak biji sawi dengan konsentrasi yang lebih rendah.

Hasil pemeriksaan kekuatan lip balm menunjukkan bahwa sediaan lip balm patah pada penekanan dengan penambahan berat 160-230 gram. Hasil pemeriksaan kekuatan sediaan lip balm minyak biji sawi dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4. 4 Data hasil uji kekuatan sediaan lip balm minyak biji sawi Sediaan Kekuatan (gram) Berat Alat

(gram)

F0: Sediaan tanpa minyak biji sawi (blanko)

F1: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 2,5%

F2: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 5%

F3: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 7,5%

F4: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 10%

4.3 Hasil Uji Iritasi, Uji Efektivitas, dan Uji Kesukaan Sediaan 4.3.1 Uji Iritasi Sediaan

Berdasarkan hasil uji iritasi yang telah dilakukan pada 10 orang panelis yang dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan lip balm pada bagian lengan bawah bagian dalam selama 2 hari berturut-turut, menunjukkan bahwa semua panelis tidak menunjukkan reaksi terhadap parameter reaksi iritasi yang diamati yaitu adanya eritema, papula, ataupun adanya vesikula (Tranggono dan Latifah, 2007).

Dari hasil uji iritasi tersebut dapat disimpulkan bahwa sediaan lip balm yang dibuat aman untuk digunakan (Tranggono dan Latifah, 2007). Hasil uji iritasi sediaan lip balm minyak biji sawi dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut ini.

Tabel 4. 5 Data hasil uji iritasi sediaan lip balm minyak biji sawi

+++ : Eritema, papula, dan vesikula ++++ : Edema dan vesikula

4.3.2 Uji Efektivitas Sediaan

Pengujian efektivitas kelembaban dilakukan terhadap 15 orang panelis.

Pengujian dilakukan dengan membandingkan keadaan bibir sebelum dan sesudah pemakaian lip balm dengan nilai parameter kelembaban (moisture). Semua panelis diukur terlebih dahulu kondisi bibir awal/sebelum perlakuan dengan menggunakan alat moisture checker. Data yang diperoleh pada hasil kelembaban bibir akan dianalisis dengan menggunakan program statistik dengan metode Kruskal-Wallis test. Selanjutnya untuk menganalisis pengaruh formula terhadap kondisi kulit

selama empat minggu perawatan digunakan Mann-Whitney Test.

Data pada uji efektivitas sediaan menunjukkan selama empat minggu perawatan dengan pemberian sediaan lip balm setiap hari pada pagi dan malam hari sebelum tidur secara rutin, kelembaban pada bibir panelis mengalami peningkatan terutama pada F4 dengan rata-rata persen pemulihan sebesar 59,75%. F0 mengalami peningkatan sebesar 12,20%.

Data hasil pengukuran kelembaban (moisture) sediaan lip balm minyak biji sawi pada bibir panelis dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut ini.

Tabel 4. 6 Data hasil pengukuran kelembaban (moisture) sediaan lip balm minyak biji sawi pada bibir panelis

Formula Kondisi

Dehidrasi 0-29; Normal 30-50; Hidrasi 51-100 (Aramo, 2012).

F0: Sediaan tanpa minyak biji sawi (blanko)

F1: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 2,5%

F2: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 5%

F3: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 7,5%

F4: Sediaan dengan konsentrasi minyak biji sawi 10%

Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik Kruskal Wallis untuk mengetahui efektivitas formula terhadap kelembaban kulit bibir panelis dan diperoleh nilai p < 0,05 pada penggunaan minggu ke-1, ke-2, ke- 3 dan ke-4 yang menunjukkan bahwa perubahan kelembaban pada kulit bibir signifikan.

Untuk mengetahui perbedaan tiap konsentrasi formula mempengaruhi peningkatan kelembaban pada kulit maka dilakukan uji Mann-Whitney. Dari hasil uji Mann- Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kelembaban kulit yang signifikan antara F0 dengan F1, F2, F3 dan F4, F1 dengan F2, F3 dan F4, F2 dengan F3 dan F4, F3 dengan F4 (nilai p < 0,05).

Grafik pengaruh pemakaian lip balm dari minyak biji sawi terhadap kelembaban bibir panelis selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4. 1 Grafik Pengaruh Perbedaan Formula terhadap Kelembaban

Gambar 4. 1 Grafik Pengaruh Perbedaan Formula terhadap Kelembaban

Dokumen terkait