• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: UPACARA NURUN PADA MASYARAKAT KARO

3.1 Cawir metua

3.1.2 Komponen upacara

Adapun benda peralatan upacara yang digunakan dalam upacara tersebut adalah sebagai berikut.

1. Amak mentar (tikar putih). Ada beberapa fungsi dari amak mentar tersebut yaitu:

(1) Amak kehamaten man kalimbubu, tempat duduk orang yang dihormati seperti kalimbubu.

(2) Amak runggu, tempat duduk ketika sedang bermusyawarah tentang kegiatan-kegiatan dalam upacara.

2. Pinggan batu (piring batu berwarna putih). Memiliki fungsi sebagai

kehamaten. Pinggan kehamaten, piring kehormatan kepada kalimbubu,

yang digunakan pada saat penyerahan eradaten, man kalimbubu, pinggan sukut, gamet, kalimbubu, anak beru, kepala desa, iserahken ras perakan. Isi perakan naka mentar

3. Beras piher, ditempatkan dalam sebuah perakan disaat pihak anak beru melakukan musyawarah terkait utang adat yang disebut dengan maneh-maneh. Beras piher ini sering dijadikan simbol sebagai sebuah kekuatan agar tendi atau roh manusia diberi kekuatan sama seperti kata piher yang berarti keras atau kuat. Selanjutnya beras piher ini akan diserahkan kepada pihak kalimbubu untuh menuangkan beras tersebut di kepala masing-masing anak beru dengan tujuan agar setiap yang menerima beras piher tersebut mendapat berkat seperti kesehatan dan rejeki.

4. Beka buluh, kain ini diberikan kepada kalimbubu sebagai sebuah amanah dari seorang yang telah meninggal dunia agar pada saat seseorang rindu dan larut dalam kesedihan begitu mengingat keluarga yang sudah meninggal dunia kain tersebut dapat digunakan sebagai pengusap air mata.

Namun, apabila yang meninggal dunia adalah seorang wanita, maka kain yang dipergunakan disini adalah uis kapal Rangginteneng

5. Sen (uang) dalam sebuah upacara adat pada masyarakat Karo uang tersebut disebut batu si malem. Jumlahnya ada bermacam-macam 216.000, 196.000, 56.000. Angka 6 merupakan angka yang dianggap rejeki pada orang Karo sehingga dalam utang adat berupa uang sering disertakan dalam nilai uang yang diberikan.

6. Gupak, adapun gupak ini berupa parang yang biasa dipergunakan oleh anak beru saat bekerja di dapur. Gupak tersebut diberikan oleh pihak anak kalimbubu langsung kepada anak beru tua. Fungsinya sebagai perkakas dapur untuk memotong daging juga sebagai simbol agar setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh kalimbubu pihak anak beru dapat lebih giat lagi 7. Colok (Korek api), diterima oleh anak beru mentri. Korek api ini

merupakan simbol setiap saat apabila kalimbubu butuh makan, maka anak beru sigap dan mampu menghidangkan makanan.

8. Ose/Uis merupakan pakaian yang dipergunakan sehari-hari dan salah satu perangkat penting dalam setiap upacara adat masyarakat Karo. Ose/Uis (rose/ruis) adalah merupakan seperangkat pakaian lengkap dalam peradatan Karo. Dalam hal upacara pemakaman pada masyarakat karo penggunaan ose ini menjelaskan menjelaskan kondisi sosial sesorang pada saat meninggal dunia.

9. Uis dagangen/kain kafan merupakan kain bersih berwarna putih yang berfungsi sebagai penutup jenazah.

10. Musik Pengiring.

Terdapat 3 jenis gendang dalam upacara kematian. Pemakaian salah satu jenis ini biasanya dilakukan berdasarkan jenis kematian. Adapaun jenis gendang tersebut adalah sebagai berikut:

a. Gendang Mentas.

Gendang dilaksanakan hanya pada siang hari, yaitu pada hari saat dilangsungkannya upacara adat penguburan. Gendang ini biasanya mulai dimainkan bersamaan dengan dimulainya upacara adat sekitar jam 09.00 pagi dan selesai pada sore hari.

b. Nangkih Gendang.

Gendang ini dimainkan mulai dari malam hari disebut dengan

gendang erjaga-jaga agar yang menjaga jenazah tidak tertidur dimulai 1 hari sebelum dilangsungkannya upacara adat penguburan sampai dengan diakhirinya upacara adat tersebut.

c. Erkata Gendang

Gendang ini hanya dilaksanakan pada saat upacara adat penguburan sampai dengan diakhirinya upacara adat tersebut.

Adapun instrument musik yang digunakan dalam upacara ini adalah

Keyboard, alat musik ini disewa dan digunakan sebagai musik pengiring pada saat acara landek (menari) dan juga sebagai musik pengiring pada saat berlangsungnya acara ibadah yang dalam hal ini dilaksanakan dalam agama Kristen. Tidak diketahui secara pasti kapan alat musik ini masuk ke daerah yang penulis teliti dan dipakai sebagai ganti daripada gendang lima sendalanen, namun alat musik ini dipakai

karena pada saat sekarang ini keyboard dianggap lebih simple dari pada alat musik tradisional karo yang penulis sebutkan diatas.

Gambar 3.1 Instrumen Gendang Keyboard/Kibot (KN 2600)21

3.1.2.2 Peserta Upacara

Perserta yang hadir dalam upacara nurun bisa dibagi kedalam 3 kelompok berdasarkan status dalam upacara adat

1. Kalimbubu

Kalimbubu sebagai kelompok/ pihak pemberi wanita dalam sistem kekerabatan masyarakat Karo menjadi kelompok yang sangat dihormati dan dianggap sebagai pemberi berkat oleh masyarakat Karo. Maka dari itu kelompok kalimbubu

juga sering disebut dengan istilah Dibata Ni Idah (Tuhan yang dapat dilihat) sehingga kehadiran kalimbubu dalam berbagai upacara adat menjadi perhatian yang sangat penting. Situasi ini menjadikannya sebagai kelompok harus dilayani sebaik mungkin oleh pihak anakberu, yang dalam hal ini adalah penyelenggara pesta.

2. Sembuyak/Senina

21

Senina adalah pertalian saudara semerga atau mereka yang bersaudara karena mempunyai merga/ submerga yang sama. Menurut Prints senina adalah orang-orang yang satu kata dalam permusyawaratan adat. Se berarti satu, nina berarti kata atau pendapat; atau senina juga dapat dikatakan orang yang bersaudara (Prints, 2008:46). Dalam sebuah acara adat senina dan seluruh

keluarganya akan ikut serta dan mendukung acara tersebut, senina juga akan mewakili pihak sukut/ sembuyak sebagai penyambung lidah dan sebagai penengah. Mereka bertanggungjawab terhadap setiap upacara adat yang diadakan oleh

sembuyak-sembuyaknya.

Secara umum hubungan senina ini dapat disebabkan karena adanya hubungan pertalian darah, sesubklen (semerga/ seberu), memiliki ibu yang bersaudara (sepemeren), memiliki istri yang bersaudara (siparibanen), memiliki istri dari beru

(sesubklen) yang sama, dan memiliki suami yang bersaudara (kandung atau seklen) (Brahmana, 2003:13). Masyarakat Karo mengenal dua macam bentuk senina, yaitu

senina si seh ku sukut (seninalangsung) dan senina erkelang ku sukut.

3. Anak Beru

Kelompok anak beru juga dikenal sebagai kelompok pengambil anak dara. Dalam semua acara/ pesta adat, anak beru lah yang bertanggung jawab atas sukses atau tidaknya pesta tersebut. Tugas daripada anakberu adalah sebagai pekerja, pemegang tanggung jawab dan pembawa acara pada sebuah acara/ upacara adat atau acara musyawarah lainnya. Begitu pentingnya peranan anak beru, sehingga kelompok

anak beru ini disebut juga kelompok yang perlu itami-tami (disayangi) oleh

dari anak beru, sedangkan anak beru menteri dan anak beru singikuri bertugas sebagai pelaksana acara. Anak beru Singerana (anak beru yang berbicara) bertugas sebagai protokol. Anak beru cekuh baka tutup, beserta anak beru iangkip/iampu/darah bertugas mengatur pembagian tugas.

4. Teman meriah

Diluar dari 3 kelompok kerabat yang telah dijelaskan diatas teman meriah

juga memiliki peranan dalam upacara nurun. Adapun teman meriah ini adalah teman semasa hidup seorang yang meninggal dunia, baik itu teman sekerja, teman satu lingkungan tempat tinggal, teman satu perkumpulan organisasi baik itu organisasi sosial maupun organisasi keagamaan. Selain teman meriah dari yang meninggal dunia, teman meriah dari anak maupun menantu turut hadir menjadi bahagian dari upacara adat nurun tersebut.

Kehadiran teman meriah dalam upacara ini adalah memberikan kata penghiburan, pesan-pesan agar keluarga yang ditinggalkan tidak larut dalam kesedihan. Selain kata penghiburan tak jarang para tamu ini memberikan sumbangan baik itu uang maupun barang seperti beras kepada keluarga yang ditinggalkan sebagai bentuk belasungkawa.

3.1.2.3 Pemimpin upacara

Pelaksanaan upacara tersebut dipimpin oleh seorang pembawa acara yang berasala dari pihak anak beru baik itu anak beru pihak laki-laki maupun anak beru dari pihak perempuan. Adapun anak beru yang terpilih sebagai pembawa atau pemimpin upacara adat ini disebut dengan anak beru singerana atau biasa juga

disebut dengan istilah protokol. Anak beru singerana ini adalah orang yang cukup mengerti tentang tata upacara nurun agar nantinya tidak terjadi kesalahan selama upacara berlangsung namun tetap melakukan komunikasi dengan kalimbubu pada saat berlangsungnya upacara.

3.1.2.4 Tempat

Secara umum pelaksanaan upacara ini membutuhkan tempat yang luas dan mampu menampung ratusan orang peserta yang hadir. Balai desa adalah tempat yang paling umum dijadikan sebagai lokasi upacara, namun ada beberapa kampung yang tidak memiliki balai desa atau memiliki balai desa namun ukurannya dianggap terlalu kecil, biasanya pihak keluarga memanfaatkan halaman rumahnya dan halaman rumah tetangga sebagai tempat dilaksanakannya nurun tersebut. Untuk tulisan ini upacara nurun dilaksanakan di losd (balai desa) Sarilaba Jahe Kecamatan Sibiru-biru Kabupaten Deli Serdang.

3.1.2.5 Waktu

Pemilihan hari pelaksanaan upacara adat biasanya merupakan hasil dari kesepakatan yang didapat pada saat runggu. Ada beberapa pertimbangan yang biasanya menjadi acuan pengambilan hari pelaksanaan upacara adat antara lain status sosial seorang yang meninggal dunia, usianya saat meninggal dunia, keberadaan anggota keluarga. Waktu pelaksanaan upacara itu sendiri dimulai pada pagi hari biasanya seusai para peserta sarapan pagi atau sekitar jam 9 pagi dan biasanya berakhir pada sore hari.

Gambar 3.2. Pakaian adat dalam upacara nurun

(Dokumentasi gambar oleh Maharani Tarigan)

Uis beka buluh Tudung/uis kapal jongkit

Kampuh/abit Uis nipes/langge-langge Kebaya hitam

Gambar 3.3. Pakaian yang dikenakan oleh almarhum

(Dokumentasi gambar oleh Maharani Tarigan)

Dokumen terkait