• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Dinas Perikanan dan kelautan Provinsi Maluku Utara bahwa hasil tangkapan pukat cincin (mini purse seine) adalah ikan-ikan pelagis kecil. Jenis-jenis ikan yang tertangkap oleh pukat cincin di perairan Maluku Utara meliputi, Ikan tongkol (Euthvnnus aviinis), ikan layang (Decapterus spp .) ika n kembung

(Rastrelliger sp p,) dan ikan selar (Selaroides spp ) ) (Gambar 13). Dari data

Tabel 6 Komposisi hasil tangkapann pukat cincin (mini purse seine) di perairan Maluku Utara

Jenis ikan

Tahun Tongkol Layang Kembung Selar Jumlah

1995 3.652,70 3.135,30 3.236,40 2.819,40 12.843,80 1996 3.693,30 3.177,30 3.281,50 2.961,10 13.113,20 1997 3.733,00 3.206,40 3.413,70 3.086,00 13.439,10 1998 4.029,60 33.35,00 3.642,40 3.276,60 14.283,60 1999 4.289,20 3.446,10 3.572,80 3.282,00 14.590,10 2000 4.687,50 3.628,60 3.785,60 3.321,00 15.422,70 2001 4.724,70 3.912,80 4.085,10 35.29,00 16.251,60 2002 4.807,00 3.921,80 4.294,70 3.731,00 16.754,50 2003 5.161,26 4.478,80 4.601,00 3.912,00 18.153,06 2004 5.267,33 4.966,31 4.861,10 3.582,32 18.677,06 jumlah (ton) 44.045,59 37.208,41 38.774,30 33.500,42 153.528,72 Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku Utara 2005

Gambar 13 Hasil tangkapan pukat cincin (mini purse seine) di Maluku Utara

5 .7 Analisis Fakor Teknis Produksi

Aspek teknis merupakan aspek yang bertujuan untuk mengetahui input-input (faktor teknis produksi) penangkapan ikan dengan menggunakan pukat cincin yang berpengaruh terhadap output (hasil tangkapan yang diperoleh dari kegiatan produksi). Menganalisis aspek teknis pukat cincin (mini purse seine) di Provinsi Maluku Utara dapat direpresentasikan dengan persamaan Y = bo + b1X1 + b2X2 + ... + bnXn. Faktor teknis pr oduksi yang digunakan meliputi: jumlah

tenaga kerja (XI) dengan satuan orang, jumlah bahan bakar (X2) dengan satuan liter/tahun, panjang pukat cincin (mini purse seine) (X3) dengan satuan meter,

tinggi pukat cincin (mini purse seine) (X4) dengan satuan meter, jumlah hari penangkapan/jumlah trip pe nangkapan (X5) dengan satuan hari dan ukuran kapal (X6) dengan satuan GT, serta jumlah hasil tangkapan ikan (Y) yang dinyatakan dalam (ton/tahun) (Lampiran 2 ).

Hasil analisis regresi berganda pada lampiran 3, didapatkan hubungan antara faktor-faktor teknis dengan hasil tangkapan pukat cincin (purse seine) dengan persamaan sebagai berikut :

(Y) = - 117 + 5.01 (X1) + 0.00131 (X2) + 0.0627 (X3) + 0.709 (X4) + 0.537 (X5) + 1.62 (X6)

Berdasarkan hasil analisis korelasi antar variabel bebas menunjukkan bahwa te rdapat hubungan yang erat antar faktor teknis produksi (X2) yaitu jumlah bahan bakar dan (X5) yaitu jumlah hari penangkapan ikan dengan nilai koefisien korelasi 0,826 (mendekati satu) (Lampiran 3) , sehingga faktor teknis produksi jumlah bahan bakar (X2) tidak di gunakan dalam model persamaan. Di pilihnya faktor teknis jumlah bahan bakar (X2) untuk tidak dimasukkan dalam model persamaan karena dari hasil uji lanjut t-student diperoleh nilai uji t untuk faktor teknis jumlah bahan bakar (X2) lebih kecil dibandingkan dengan nilai uji t pada faktor teknis jumlah hari tangkapan (X5). Hasil uji t tersebut menunjukkan bahwa pengaruh penggunaan bahan bakar dalam operasi penangkapan terhadap hasil tangkapan lebih kecil dibandingkan dengan penagaruh jumlah hari penangkapan terhadap hasil tangkapan. Dengan demikian diperoleh persamaan hubungan antara faktor -faktor teknis dengan hasil tangkapan pukat cincin (mini purse sein e) dengan persamaan sebagai berikut :

(Y) = - 105 + 5.34 (X1) + 0.0661 (X3) + 0.653 (X4) + 0.742 (X5) + 0.75 (X6) Hasil analisa menggunakan uji statistik dengan uji F diperoleh nilai Fhitung

> Ftabel (70,30 > 2,43), hal ini berarti bahwa secara keseluruhan faktor -faktor teknis produksi yang digunakan meliputi jumlah tenaga kerja (X1), jumlah bahan bakar (X2), panjang pukat cincin (X3), tinggi pukat cincin (X4), jumlah hari penangkapan (X5) dan ukuran kapal (X6) berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan pada tingkat kepercayaan 95% (Lampiran 3). Berdasarkan hasil uji F menunjukkan bahwa faktor-faktor teknis tersebut dapat digunakan sebagai parameter untuk menjelaskan persamaan regresi tersebut. Keterkaitan hubungan ini dapat dilihat dari besarnya nilai koefisien determinasi (R2) yaitu 88,9 % yang

berarti model penduga yang diperoleh dapat menjelaskan model sesungguhnya sebesar 88,9 %

Nilai intersep sebesar -105 pada persamaan regresi linear berganda menunjukkan nilai konstanta, yaitu nilai produksi pada saat faktor -faktor teknis yandigunakan sama dengan nol. Tanda negatif pada intersep menunjukkan bahwa titik potong tersebut terletak pada sumbu Y yang negatif.

Uji statistik dengan uji t untuk mengetahui hubungan masing-masing faktor teknis produksi dengan hasil tangkapan. Berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor teknis yang berpengaruh nyata terhadap ha sil tangkapan (Y) adalah jumlah tenaga kerja (X1), panjang pukat cincin (mini purse seine) (X3), tinggi pukat cincin (mini purse seine) (X4), jumlah hari pena ngkapan (X5) pada tingkat kepercayaan 95%, sedangkan ukuran kapal (X6) tidak berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan pada tingkat kepercayaan 95% (Lampiran 3 ). Hubungan antara masing-masing faktor teknis produksi yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil tangkapan dapat dilihat pada Gambar 14-17.

Koefisien regresi faktor teknis jumlah tena ga kerja (X1) sebesar 5,34 yang berarti searah dengan peningkatan jumlah hasil tangkapan, bahwa setiap penambahan satu satuan tenaga kerja (orang) akan meningkatkan hasil tangkapan sebesar satu satuan 5,34 dalam keadaan c a teris peribus. Berdasarkan perhitungan dengan uji t, faktor teknis jumlah tenaga kerja berbeda nyata terhadap hasil tangkapan. Hal ini disebabkan karena proses penurunan (setting) maupun penarikan (hauling) pukat cincin (mini purse seine) pada saat pengoperasian tidak me nggunakan alat bantu namun mengandalkan tenaga manusia. Tenaga manusia bukan hanya digunakan pada saat menurunkan dan menarik jaring saja, tetapi setelah proses setting dan hauling pukat cincin selesai dilakukan, tenaga mereka juga digunakan untuk menaikkan atau mengangkat hasil tangkapan untuk diletakan pada kapal jhonson (slep) .

Koefisien regresi faktor teknis panjang pukat cincin (mini purse seine) (X3) sebesar 0.0661 yang berarti searah dengan peningkatan jumlah hasil tangkapan, bahwa setiap penambahan satu satuan panjang pukat cincin akan meningkatkan hasil tangkapan sebesar satu satuan 0,066 dalam keadaan cateris

pukat cincin berbeda nyata terhadap hasil tangkapan. Faktor panjang pukat cincin dilaporkan juga signifikan untuk produksi ikan yang ditangkap dengan pukat cincin di Pekalongan (Sudibyo, 1998) dan di Pengabengan Kabupaten Jembrana Bali (Sugiarta, 1992). Hal ini diduga jika semakin panjang pukat cincin yang digunakan maka semakin besar pula garis tengah lingkaran pukat cincin yang terbentuk. Hal ini menyebabkan semakin besar peluang gerombolan ikan yang tidak terusik perhatiannya karena jarak antara gerombolan ikan dengan dinding pukat cincin dapat semakin besar, sehingga gerombolan ikan tersebut semakin besar peluangnya untuk tertangkap.

Koefisien regresi faktor teknis tinggi pukat cincin (mini purse seine) (X4) sebesar 0,653 yang berarti searah dengan peningkatan jumlah hasil tangkapan, bahwa setiap penambahan satu satuan tinggi pukat cincin akan meningkatkan hasil tangkapan sebesar satu satuan 0,653 dalam keadaan cateris peribus. Berdasarkan perhitungan dengan uji t faktor teknis tinggi pukat cincin berbeda nyata dengan hasil tangkapan. Menurut Inoue (1961) diacu dalam Sugiarta (1992) menyatakan bahwa perbandingan yang baik antara tinggi jaring dengan panjang jaring berada pada selang 0,14-0,20. Untuk tinggi pukat cincin yang dioperasikan di Maluku Utara mempunyai perbandingan antara tinggi jaring dengan panjang jaring berada pada selang 0,10-0,30 dengan rata-rata perbandingannya sebesar 0,20. Dengan demikian perbandingan tinggi jaring dengan panjang pukat cincin di daerah penelitian telah memenuhi dari selang perbandingan yang disarankan. Dengan demikian tidak perlu lagi untuk di lakukan penambahan tinggi pukat cincin yang dioperasika n di Maluku utara, karena pena mbahan tinggi pukat cincin lagi tidak akan meningkatkan hasil tangkapan namun berpengaruh pada kecepatan penarikan jaring, maka hal ini akan mengakibatkan gerombolan ikan yang telah terkurung akan berpeluang untuk meloloskan diri .

Koefisien regresi faktor teknis jumlah hari penangapan ikan (X5) sebesar 0,742 yang berarti searah dengan peningkatan jumlah hasil tangkapan, bahwa setiap penambahan satu satuan hari penangkapa n akan meningkatkan hasil tangkapan sebesar satu satuan 0.742 dalam keadaan c a teris peribus. Berdasarkan perhitungan dengan uji t, faktor teknis jumlah hari tangkapan ikan berbeda nyata terhadap hasil tangkapan. Hal ini disebabkan karena semakin banyak ju mlah hari

penangkapan maka peluang untuk mendapatkan jumlah hasil tangkapan yang lebih banyak

Koefisien regresi faktor teknis ukuran kapal (X6) sebesar 0,75 yang berarti searah dengan peningkatan jumlah hasil tangkapan, bahwa setiap penambahan satu satuan ukuran kapal akan meningkatkan hasil tangkapan sebesar satu satuan 0,75 dalam keadaan cateris peribus. Berdasarkan perhitungan dengan uji t, faktor teknis ukuran kapal tidak berbeda nyata terhadap hasil tangkapan. Hal ini diduga ukuran kapal akan mempengaruhi daerah penangkapan ikan (fishing

ground), sedangkan daerah penangkapan ikan yang menjadi target dari pukat

cincin pada umumnya tidak terlalu jauh dari pantai (Fishing base) dengan rata-rata waktu yang dibutuhkan menuju fishing ground yaitu 1 hingga 2 jam.

Persamaan produksi yang diperoleh menunjukkan pengaruh antara faktor teknis produksi terhadap hasil tangkapan. Semua koefisien regresi dalam persamaan tersebut bernilai positif. Korelasi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan nilai-nilai setiap faktor produksi menyebabkan peningkatan hasil tangkapan, namun peningkatan setiap faktor produksi tidak selalu harus berdampak pada peningkatan produksi. Hal ini mengingat ada pembatas untuk setiap faktor teknis produksi. Misalnya, faktor teknis jumlah bahan bakar: jumlah bahan bakar yang dapat dibawa oleh unit penangkapan ikan dibatasi oleh kapasitas tanki atau wadah bahan bakar. Kapasitas tersebut sangat ditentukan oleh ketersedian ruang di kapal.

Faktor teknis panjang dan tinggi pukat dibatasi oleh kapasitas atau ruang tersedia kapal utama. Kapasitas atau ruang akan berhubungan dengan ukuran kapal yang digunakan. Daerah penangkapan ikan juga menjadi pembatas. Jauh dekat daerah penagkapan ikan ditentukan dari ukuran pukat cincin (mini purse

seine) yang diguna kan pada saat operasi penangkapan, baik untuk panjang

maupun tinggi pukat cincin.

Faktor teknis jumlah tenaga kerja dibatasi oleh tingkat efisiensi kegiatan penangkapan ikan. Ukuran pukat cincin yang digunakan lebih besar, maka akan membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak pula untuk proses penarikan pukat cincin, namun penambahan jumlah terlalu banyak juga akan mengakibatkan kurang efisiennya proses penangkapan. Faktor teknis ukuran kapal juga dibatasi

0 50 100 150 200 250 18 19 20 21 22 23 ABK (orang)

Hasil Tangkapan (ton)

0 50 100 150 200 250 100 200 300 400 500 600 700

Panjang Jaring (meter)

Hasil Tangkapan (ton)

oleh daerah penangkapan ikan (fishing ground) yang menjadi tujuan nelayan pukat cincin. Semakin besar ukuran kapal, daerah penangkapan juga akan semakin jauh. Dengan demikian persamaan produksi pukat cincin yang diperoleh dibatasi untuk faktorfaktor teknis produksi yang digunakan di Maluku Utara.

Gambar 14 Hubungan antara jumlah anak buah kapal (ABK) dengan hasil tangkapan (ton) .

Gambar 15 Hubungan antara panjang jaring (meter) dengan hasil tangkapan (ton) .

0 50 100 150 200 250 35 40 45 50 55 60 65

Tinggi Jaring (meter)

Hasil Tangkapan (ton)

0 50 100 150 200 250 60 80 100 120 140 160 180

Hari Penangkapan (hari)

Hasil Tangkapan (ton)

Gambar 16 Hubungan antara tinggi jaring (meter) dengan hasil tangkapan (ton) .

Gambar 17 Hubungan antara hari penangkapan dengan hasil tangkapan (ton) .

5 .8 Aspek Biologi Pengelolaan Sumberdaya Ikan Pelagis Kecil

Salah satu aspek biologi dalam pengelolaan sumberdaya ikan pelagis kecil adalah ketersediaan ikan pelagis kecil itu sendiri. Jika sumberdaya ikan masih tersedia maka usaha penangkapan ikan pelagis kecil dengan pukat cincin (mini

purse seine) akan dapat menguntungkan. Pada aspek biologi yang akan dibahas

mengenai hasil tangkapan dan tingkat upaya penangkapan, serta fungsi produksi lestari ikan pelagis kecil.

8000000 10000000 12000000 14000000 16000000 18000000 20000000 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 Tahun Produksi (kg)

5.8 .1 Hasil tangkapan pukat cincin (mini purse seine) dan tingkat upayapenangkapan

Hasil tangkapan pukat cincin (mini purse seine) merupakan jenis ikan-ikan pelagis yang membentuk gerombolan (schoaling). Jenis ikan yang tert angkap oleh pukat cincin (mini purse seine) di perairan Maluku Utara meliputi ikan layang (Decapterus spp), Ikan tongkol (Euthvnnus afiinis), ikan kembung (Rastrelliger

spp ) dan ikan selar (Selaroides spp).

Untuk hasil tangkapan dan tingkat upaya penangkapan ikan pelagis kecil pada tahun 1995 terjadi effort terendah dengan produksi terendah sedangkan

CPUE terendah terjadi pada tahun 1997. CPUE tertinggi dicapai pada tahun

2003, sementara produksi tertinggi terjadi pada tahun 2004 dengan effort 24240 trip per tahun. Secara rinci perkembangan produksi, effort dan CPUE Hasil tangkapan pukat cincin (mini purse seine) dari tahun 1995-2004 berfluktuasi. Secara rinci perkembangan produksi dapat dilihat pada gambar 18 effort pada gambar 19 dan CPUE pada Gambar 18.

Gambar 18 Grafik perkembangan produksi penangkapan ikan pelagis kecil dengan pukat cincin (mini purse seine) tahun 1995-2004 di Maluku Utara.

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 Tahun Effort (trip/thn) 0.000 200.000 400.000 600.000 800.000 1000.000 1200.000 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 Tahun CPUE (kg/thn)

Gambar 19 Grafik perkembangan effort penangkapan ikan pela gis kecil dengan pukat cincin (mini purse seine) tahun 1995-2004 di Maluku Utara.

Gambar 20 Grafik perkembangan CPUE penangkapan ikan pelagis kecil dengan pukat cincin (mini purse seine) tahun 1995-2004 di Maluku Utara.

Produksi hasil tangkapan pukat cincin (mini purse seine) yang terendah terjadi pada tahun 1995 yakni sebesar 12.834.800 kg, sedangkan produksi hasil tangkapan tertinggi terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 18.677.060 kg. Peningkatan dan penurunan produksi hasil tangkapan ikan pelagis kecil sangat

mempengaruhi pendapatan nelayan pukat cincin (mini purse seine) di Maluku Utara, karena kehidupan nelayan khususnya nelayan pukat cincin (mini purse

seine) sangat bergantung pada hasil tangkapan ters ebut.

Upaya penangkapan (effort) yang dilakukan untuk menangkap ikan pelagis kecil tahun 1995-2004 juga berfluktuasi. Berdasarkan Gambar 19 upaya penangkapan terendah terjadi pada tahun 1995 sebesar 17760 trip, sedangkan upaya penangkapan tertinggi terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 24240 trip. Jika terjadi peningkatan effort sampai batas tertentu, maka tidak lagi menyebabkan naiknya produksi dan bahkan mengalami penurunan.

Hasil tangkapan per upaya penangkapan atau catch per unit penangkapan

(CPUE) yang dilakukan untuk menangkap ikan pelagis kecil dengan pukat cincin

(mini purse seine) tahun 1995-2004 berfluktuasi karena jumlah effort dan hasil tangkapan ikan pelagis juga berfluktuasi dari tahun ke tahun. Nilai CPUE ini mencerminkan produktivitas alat tangkap pukat cincin (mini purse seine) yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil di Maluku Utara.

Nilai CPUE dengan upaya penangkapan (effort) perlu diketahui korelasinya sehingga dapat diketahui kecenderungan produktivitas alat tangkap ikan pelagis kecil dengan pukat cincin (mini purse seine) yang dicerminkan oleh

CPUE. Pada Gambar 21, korelasi antara CPUE dengan effort menunjukkan

hubungan yang negatif, yaitu semakin tinggi effort semakin rendah nilai CPUE. Korelasi negatif antara CPUE dengan effort mengindikasikan bahwa produktivitas alat tangkap ikan pelagis kecil dengan pukat cincin (mini purse seine) akan menurun apabila effort mengalami peningkatan. Dengan demikian CPUE ikan pelagis kecil di Maluku Utara dapat digambarkan sebagai berikut

CPUE=976,17-0.0112E, ini menunjukkan bahwa setiap penambahan effort sebesar satuan E maka

0.000 200.000 400.000 600.000 800.000 1000.000 1200.000 15000 17000 19000 21000 23000 25000 Effort (trip per tahun)

CPUE (kg per tahun)

Gambar 21 Grafik hubungan CPUE dengan upaya penangkapan (Effort) pada alat tangkap pukat cincin (mini purse seine) tahun 1995-2004 di Maluku Utara.

5.8.2 Produksi lestari ikan pelagis kecil

Berdasarkan perhitungan hubungan antara CPUE dan effort pukat cincin (mini purse seine) d alam pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil mempunyai nilai intersep (a ) sebesar 976,17 dan koefisien independent (b) sebesar -0,0112 (Lampiran 5), sehingga secara matematis hubungan antara CPUE dengan effort pukat cincin (mini purse seine) dapat dinyatakan sebagai berikut CPUE=976,17 E-0,0112 E2. Hubungan antara hasil dengan effort yang lebih dikenal sebagai fungsi produksi lestari dapat dinyatakan sebagai berikut h =976,1 7E -0,0112 E2.

Selanjutnya dengan menggunakan program MAPLE VIII, maka dapat diketahui effort pada tingkat produksi lestari maksimum (Emsy) pukat cincin (mini purse seine) sebesar 43579 trip per tahun (Lampiran 5).

Perhitungan matematis hasil tangkapan pada kondisi MSY di peroleh sebesar 21.270.264,92 kg per tahun. Nilai hmsy menunjukkan tingkat produksi maksimum lestari yaitu hasil tangkapan ikan pelagis kecil tertinggi yang dapat ditangkap tanpa mengancam kelestarian sumberdaya perikanan yang terdapat di perairan Maluku Utara. Hubungan kuadratik antara upaya penangkapan pukat

cincin (mini purse seine) dengan hasil tangkapan ikan pelagis kecil di perairan Maluku Utara dapat dilihat pada Gambar 22.

Berdasarkan Gambar 22 terlihat bahwa hubungan antara upaya penangkaan pukat cincin (mini purse seine) dan hasil tangkapan ikan pelagis kecil di perairan Maluku Utara berbentuk parabola (fungsi kuadratik ), artinya setiap penambahan tingkat upaya penangkapan (E) maka akan meningkatkan hasil tangkapan (h) sampai mencapai titik maksimum, kemudian akan terjadi penurunan hasil tangkapan untuk tiap peningkatan intensitas pengusahaan sumberdaya.

Gambar 22 Hubungan antara hasil lestari ikan pelagis kecil dengan upaya penangkapan pukat cincin (mini purse seine ) model Schaefer di perairan Maluku Utara.

5.9 Aspek Ekonomi Sumbedaya Ikan Pelagis kecil

Dokumen terkait