BAB II KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN MOTIVASI BELAJAR
6. Komunikasi Interpersonal Guru Pendidikan Agama Katolik
Kompri (2015: 30-31) mengutip pandangan Nawawi mengenai pengertian guru sebagai orang dewasa yang berkewajiban untuk melakukan kegiatan pendidikan maka guru juga disebut sebagai tenaga pendidik di sekolah. Moh. Uzer (1991: 4) berpendapat bahwa guru memiliki tugas: mendidik yaitu meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, mengajar yang berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, dan melatih yang berarti mengembangkan keterampilan yang dimiliki siswa. Selain tugas utamanya untuk mendidik siswa guru juga memiliki peranan menjadi orang tua bagi siswa di sekolah.
Guru sebagai orang tua bagi siswanya berarti bahwa guru bertanggung jawab pada siswanya untuk menjadi teladan dan panutan. Hal itu senada dengan pandangan Ki Hajar Dewantara yang menjelaskan bahwa guru memberikan teladan dan panutan bagi siswa dan masyarakat dengan semboyan “ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang berarti peran guru di depan memberikan teladan, di tengah-tengah untuk membangun, dan di belakang untuk memberikan dorongan dan motivasi bagi siswanya.
Guru adalah tenaga pendidik di sekolah yang memiliki tugas mendidik, mengajar, dan melatih siswanya. Guru juga berperan sebagai orang tua bagi siswa ketika di sekolah. Guru juga harus berkepribadian mantab, setia pada panggilannya, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Guru Pendidikan Agama Katolik
Mintara (2009: xix-xxi) mengutip pandangan Parker J. Palmer yang menjelaskan sosok guru sebagai orang yang mengajarkan mengenai dirinya sendiri, mengenai hidupnya sendiri. Guru memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, kebaikan, kebenaran, nilai-nilai, dan kerohanian yang dimilikinya. Mintara kemudian menjelaskan bahwa guru Kristiani memiliki tugas mencerdaskan siswa serta bertugas untuk membimbing siswa dalam meneladan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Guru Sejati.
Jayusdi dalam buku Belajar dari Muridku (Bimas Katolik DIY Kementrian Agama RI, 2014: 77) mengatakan bahwa “satu teladan lebih berharga daripada seribu teori. Hanya dengan membangun diri secara utuh, seorang guru akan dapat benar-benar digugu dan ditiru.” Guru yang mampu bersikap baik akan menjadi inspirasi bagi siswa untuk bersikap baik pula, karena bagi siswa akan lebih mudah mengingat salah satu keteladanan yang ditunjukkan oleh guru dibandingkan dengan seribu teori yang diajarkannya.
Yulia Sri Prihartini (2013b: 12-14) menjelaskan bahwa menjadi guru adalah cara mulia untuk merealisasikan iman dan pengabdian hidup bagi masa depan siswa yang lebih baik. Tugas guru adalah menjala hati siswanya untuk menghayati
dan memperjuangkan nilai keutamaan hidup agar hidup setiap siswa memiliki kelimpahan berkat dan dapat meraih kebahagiaan. Guru haruslah memiliki komitmen untuk belajar bersama-sama dengan siswa dalam menghayati nilai-nilai keutamaan hidup.
Guru Pendidikan Agama Katolik adalah orang yang beriman Kristiani, yang mengkomunikasikan kepada para siswanya mengenai pengetahuan iman, hidupnya sendiri, kebaikan, kebenaran, dan kerohanian yang diteladaninya berlandaskan pada Yesus Kristus. Guru Pendidikan Agama Katolik memiliki tanggung jawab untuk membimbing siswa menjadi semakin mengenal dan semakin beriman pada Yesus Kristus untuk menuju pada kepenuhan iman.
Ajaran dan pedoman Gereja tentang Pendidikan Agama Katolik (KWI, 1991: 73) mengatakan bahwa:
Pendidikan agama harus diarahkan menuju pengudusan pribadi maupun kerasulan karena itu merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam panggilan Kristen. Pendidikan untuk tugas kerasulan berarti pendidikan manusia tertentu secara bulat, yang disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan kodrati setiap pribadi.
Sesuai dengan Ajaran Gereja tentang Pendidikan Agama Katolik maka tugas seorang guru Pendidikan Agama Katolik adalah membantu siswa menjadi pribadi yang semakin beriman kepada Yesus Kristus dan mengarahkan siswa untuk menjadi pewarta Kabar Gembira bagi dunia. Maka, guru Pendidikan Agama Katolik Pendidikan Agama Katolik dalam mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik hendaknya dapat menyesuaikan pewartaannya dengan kemampuan dan keterbatasan siswanya.
c. Komunikasi Interpersonal Guru Pendidikan Agama Katolik
Samana (1994: 31) mengungkapkan bahwa dasar seluruh kecakapan keguruan adalah kecakapan komunikasi secara pribadi atau secara personal antara guru dengan siswa. Inilah yang disebut sebagai komunikasi interpersonal antara guru dengan siswa, karena komunikasi interpersonal menurut Suranto (2011: 3-4) diartikan sebagai komunikasi antarpribadi secara tatap muka yang memungkinkan setiap penerima pesan mendapat reaksi langsung orang lain secara verbal maupun secara non verbal.
Kecakapan yang harus dimiliki oleh Guru Pendidikan Agama Katolik adalah kecakapan untuk melakukan komunikasi interpersonal atau komunikasi antara pribadi guru dengan siswa. Peran guru Pendidikan Agama Katolik adalah menjadi pewarta iman bagi siswanya, maka guru haruslah memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik sehingga segala yang diwartakannya dapat dipahami dan diterima oleh siswanya dan dapat membawa siswanya semakin mengenal dan beriman pada Yesus Kristus.
Luk 9: 48 menjadi dasar dan inspirasi bagi guru Pendidikan Agama Katolik dalam menjalin komunikasi interpersonal dengan siswanya yaitu: “barang siapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, dan barang siapa menyambut Dia yang menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.” Guru Pendidikan Agama Katolik dalam melakukan komunikasi interpersonal dengan siswanya berlandaskan Luk 9: 48 yang menunjukkan bahwa sikap dasar guru Pendidikan Agama Katolik dalam menyambut siswa hendaknya sama seperti menyambut Yesus Kristus sendiri. Guru menerima siswa sebagai anugerah dari
Tuhan yang harus dihargai dan dikasihi yang didasari dengan sikap terbuka. Guru Pendidikan Agama Katolik dalam melakukan komunikasi interpersonal dipandang sebagai sebuah pelayanan kepada siswa untuk memberikan perhatian dan kasih.
Yulia Sri Prihartini (2013b: 50) mengemukakan pendapatnya mengenai guru dalam membangun relasi yang baik dengan siswanya diawali dengan kesediaan untuk membuka hati terhadap orang lain. Maka, guru Pendidikan Agama Katolik dalam melakukan komunikasi antarpribadi yang baik dengan siswa diawali dengan kesediaan membuka hati untuk menerima siswanya sebagai subjek yang harus dihargai dan dikasihi sehingga guru dapat membagikan pengalaman hidupnya berdasarkan Sang Inspirasi yaitu Yesus Kristus.
Widi Nugraha (2013: 71) mengutip pandangan Mintara mengungkapkan bahwa “mengajar pada dasarnya adalah membagikan dari kedalaman hati apa pun yang menjadi pengalaman dan nilai-nilai keutamaan yang dihayati.” Maka, guru dalam mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik diwujudkan dengan cara mengkomunikasikan secara terbuka dan dari hati yang terdalam mengenai pengalaman hidupnya yang berdasarkan pada keutamaan nilai-nilai Kristiani untuk membantu siswa dalam memaknai hidup yang bersumber pada kasih Allah untuk sampai pada keutuhan pribadi. Guru Pendidikan Agama Katolik dalam melakukan komunikasi antarpribadi diwarnai cinta kasih, kesabaran, dan kebijaksanaan.
Komunikasi interpersonal yang dilakukan guru Pendidikan Agama Katolik apabila menggunakan pendekatan dialogis maka akan terjadi dialog antara guru dengan siswa. Rouel Howe (1962: 105-106) menjelaskan pendekatan dialogis
membuat komunikasi yang terjalin akan membawa kebenaran dan cinta kasih yang diawali dengan memberikan respon secara jujur. Bahkan Rouel menjelaskan jika komunikasi antarpribadi manusia tidak akan bisa terjadi tanpa adanya komunikasi dengan Tuhan. Jadi, untuk dapat melakukan komunikasi interpersonal dengan siswanya, seorang guru Pendidikan Agama Katolik juga harus mencintai Tuhan terlebih dahulu supaya dapat benar-benar mencintai dan mengenal siswanya sehingga komunikasi interpersonal yang terjadi antara guru dengan siswa sebagai komunikasi untuk dapat semakin mengenal kasih Allah.