SALURAN MEDIA
I.6.3 Komunikasi kepala desa a Komunikasi pembangunan
Komunikasi dan pembangunan merupakan dua hal yang saling berhubungan erat. Kedudukan komunikasi dalam konteks pembangunan seperti bagian integral dari pembangunan. Muktiyo (2011:37) mengatakan bahwa pembangunan sendiri pada hakekatnya merupakan suatu perubahan terencana yang dinamis, artinya perubahan tersebut menuntut dinamika masyarakat untuk mengantisipasi keadaan di masa mendatang.
Dalam penyelenggaraan pembangunan, diperlukan suatu komunikasi agar terjalin komunikasi efektif dan memiliki makna yang
commit to user
mampu mengarahkan pencapaian tujuan pembangunan. Hal itu perlu sekali dilakukan karena proses pembangunan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Seperti yang dikemukakan McAnany dalam jurnalnya bahwa komunikasi yang baik dapat membantu perubahan sosial ke arah yang baik pula (McAnany, 2010:8). McAnany juga berpendapat bahwa ruang lingkup komunikasi pembangunan sangat luas meliputi segenap institusi pembangunan yang ada dalam masyarakat (McAnany, 2010:15).
Komunikasi pembangunan diarahkan untuk mempengaruhi masyarakat agar mau menerima dan mampu mengembangkan nilai-nilai yang diperlukan bagi perbaikan kesejahteraan masyarakat dan setiap individu yang ada di dalamnya. Komunikasi pembangunan ini harus mengedepankan sikap aspiratif, konsultatif dan relationship karena pembangunan tidak akan berjalan dengan optimal tanpa adanya hubungan yang sinergis antara pelaku dan obyek pembangunan. Apalagi proses pembangunan ke depan cenderung akan semakin mengurangi peran pemerintah, seiring semakin besarnya peran masyarakat.
Berikut ini adalah beberapa definisi komunikasi pembangunan, sebagai berikut:
1) Komunikasi yang dirancang khusus untuk mendukung suatu program pembangunan (Erskine Childers dalam Effendy, 1990:83);
2) Unsur pendukung dalam pembangunan sebagai penggerak dinamika masyarakat dalam pembangunan (Pratikto, 1987:84);
commit to user
3) Dorongan psikologis yang memotivasi suatu masyarakat untuk mencapai kemajuan (McClelland dalam Nasution, 2004:112-113); 4) Sarana informasi penyebarluasan pembangunan demi memunculkan
partisipasi dan keaktifan masyarakat dalam pembangunan (Schramm dalam Nasution, 2004:116-120); dan
5) Kegiatan mendidik dan memotivasi masyarakat yang dimaksudkan untuk secara sadar meningkatkan pembangunan manusiawi demi perubahan sosial yang berencana (Quebral dan Gomez dalam Nasution, 2004:142-143).
6) Proses interaksi seluruh warga masyarakat untuk tumbuhnya kesadaran, kemauan, dan kemampuan menggerakkan dan mengembangkan partisipasi masyarakat dalam proses perubahan terencana demi perbaikan mutu hidup segenap warga masyarakat secara berkesinambungan (Totok Mardikanto dalam Muktiyo, 2011:35-36).
Berdasarkan berbagai pandangan di atas, komunikasi pembangunan dapat dirangkum ke dalam dua perspektif pengertian, yaitu dalam arti luas dan dalam arti terbatas. Dalam arti luas, komunikasi pembangunan meliputi peran dan fungsi komunikasi sebagai suatu aktivitas pertukaran pesan secara timbal balik di antara masyarakat dengan pemerintah, dimulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembangunan. Sementara dalam arti terbatas, komunikasi pembangunan merupakan segala upaya dan cara serta teknik penyampaian gagasan dan ketrampilan pembangunan yang berasal dari pihak yang memprakarsai
commit to user
pembangunan dan diwujudkan pada masyarakat yang menjadi sasaran agar dapat memahami, menerima dan berpartisipasi dalam pembangunan (Nasution, 2004:106).
Schramm (dalam Nasution, 2004:101-103) merumuskan tugas komunikasi dalam suatu perubahan sosial dalam rangka pembangunan, yaitu:
1) Menyampaikan informasi tentang pembangunan kepada masyarakat agar mereka fokus pada kebutuhan akan perubahan, cara mengadakan perubahan, sarana perubahan, dan cara membangkitkan aspirasi nasional;
2) Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengambil bagian secara aktif dalam proses pembuatan keputusan, memberi kesempatan kepada para pemimpin masyarakat untuk memimpin dan mendengarkan pendapat rakyat, dan menciptakan arus informasi yang berjalan lancar dari bawah ke atas; dan
3) Mendidik tenaga kerja yang diperlukan pembangunan dengan keterampilan-keterampilan teknis.
Berdasarkan pendapat Schramm di atas, dapat dikatakan bahwa komunikasi merupakan dasar dari perubahan sosial. Perubahan yang dikehendaki dalam pembangunan tentunya perubahan ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, peranan komunikasi dalam pembangunan harus dikaitkan dengan arah perubahan tersebut. Artinya, kegiatan komunikasi harus mampu mengantisipasi gerak pembangunan.
Jika dilihat dari segi ilmu komunikasi yang juga mempelajari masalah proses, yaitu proses penyampaian pesan seseorang kepada orang lain untuk merubah sikap, pendapat dan perilakunya, pembangunan pada dasarnya melibatkan minimal tiga komponen, yakni komunikator pembangunan, bisa aparat pemerintah ataupun masyarakat, pesan
commit to user
pembangunan yang berisi ide-ide atau program-program pembangunan, dan komunikan pembangunan, yaitu masyarakat luas, baik penduduk desa atau kota yang menjadi sasaran pembangunan.
Dalam pembangunan, komunikasi tetap dianggap sebagai perpanjangan tangan para perencana pemerintah dan fungsi utamanya adalah untuk mendapatkan dukungan masyarakat dan partisipasi mereka dalam pelaksanaan rencana-rencana pembangunan. Dalam komunikasi pembangunan yang diutamakan adalah kegiatan mendidik dan memotivasi masyarakat. Tujuannya untuk menanamkan gagasan-gagasan, sikap mental, dan mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan serta mengubah sikap, pendapat, dan perilaku.
b. Relevansi komunikasi pembangunan dengan teori komunikasi
Totok Mardikanto (dalam Muktiyo, 2011:35-36) merumuskan komunikasi pembangunan sebagai proses interaksi seluruh warga masyarakat untuk tumbuhnya kesadaran, kemauan, dan kemampuan menggerakkan dan mengembangkan partisipasi masyarakat dalam proses perubahan terencana demi perbaikan mutu hidup segenap warga masyarakat secara berkesinambungan dengan menggunakan teknoogi atau inovasi yang terpilih. Warga masyarakat yang dimaksud adalah semua
stakeholder pembangunan, meliputi aparat pemerintah, tokoh masyarakat, pekerja sosial, kelompok/organisasi sosial, aktivis LSM, dan lain-lain.
commit to user
Mencermati pengertian komunikasi pembangunan ini terlihat bahwa interaksi yang terbangun sangat kompleks. Untuk memahami kedalaman dan kompleksitas dinamikanya digunakan perspektif sibernetik dari tradisi sibernetik. Dalam tradisi ini, komunikasi dipahami sebagai bagian yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain, membentuk serta mengontrol sistem, dan menerima keseimbangan dan perubahan.
Selain itu, tradisi sibernetik dalam pola hubungan komunikasi merupakan proses interaksi seluruh warga masyarakat yang menunjukkan hubungan yang beragam, seperti misal pada interaksi yang terjadi saat menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan warga masyarakat dalam menggerakkan dan mengembangkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.
Dalam proses pembangunan, komunikasi diarahkan untuk mempengaruhi masyarakat agar mau menerima dan mengembangkan nilai-nilai bagi perbaikan kesejahteraan masyarakat. Laswell seperti yang dikutip Muktiyo (2011:189) menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut tidak hanya menyangkut perubahan pada aspek kognitif dan psikomotorik, tetapi juga perubahan afektif. Oleh sebab itulah, komunikasi pembangunan biasanya diartikan sebagai penerapan strategi dan prinsip-prinsip komunikasi dalam pembangunan. Komunikasi pembangunan tidak lagi diartikan sebagai penyampaian informasi, tetapi sebagai proses yang memungkinkan partisipan menciptakan dan berbagai informasi dengan
commit to user
yang lainnya untuk mewujudkan pemahaman bersama (Rogers dalam Muktiyo, 2011:190).
Arti komunikasi pembangunan saat ini sesuai dengan pendekatan pemberdayaan yang partisipatoris karena unsur-unsur yang terlibat dalam proses komunikasi (komunikator dan komunikan) memiliki kesetaraan peran dan posisi. Asumsi pendekatan partisipatif memandang masyarakat sebagai penerima informasi yang memiliki kemampuan untuk membangun dirinya dan lingkungannya dengan segala potensi yang ada (Muktiyo, 2011:220).
Pembangunan yang dimaksud merupakan perubahan terencana. Dalam melakukan perubahan terencana perlu upaya pemberdayaan agar masyarakat mau dan mampu mengadakan perubahan. Dalam melakukan pemberdayaan tersebut, seseorang pasti akan melakukan komunikasi dengan orang lain (human relation). Pengertian human relation dalam arti sempit adalah komunikasi persuasif yang dilakukan seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan dengan tujuan untuk meningkatkan semangat bekerja yang produktif. Sementara, human relation dalam arti luas adalah komunikasi persuasif yang dilakukan seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan sehingga menimbulkan kebahagiaan di hati kedua belah pihak (Muktiyo, 2011:292- 293).
commit to user I.6.4 Motivator
Istilah motivator berkembang dari istilah motif dan motivasi sehingga sebelum menjelaskan konsep motivator ada baiknya memahami tentang motif dan motivasi. Menurut Soewarno Handayaningrat (1986:81), motif adalah suatu pernyataan batin yang berwujud daya kekuatan untuk bertindak atau bergerak secara langsung atau melalui saluran perilaku yang mengarah terhadap sasaran.
Definisi motif sebagai keadaan kejiwaan yang mendorong, mengaktifkan, menggerakkan, mengarahkan, dan menyalurkan perilaku seseorang dalam pencapaian tujuan (Siagian, 2000:102).
Masih menurut Siagian, dari segi taksonomi, motivasi berasal dari kata “movere” dalam bahasa Latin yang mempunyai arti bergerak. Berbagai hal yang biasanya terkandung dalam berbagai definisi tentang motivasi antara lain adalah kebutuhan, dorongan dan tujuan. Motivasi menurut arti katanya adalah bergerak, dimana “bergerak” tersebut ditimbulkan oleh suatu keadaan atau suasana yang mendorong manusia untuk bergerak.
Sementara, motivasi adalah pengertian umum dalam bentuk dorongan, kehendak, kebutuhan, keinginan dan daya kekuatan lain (Handayaningrat, 1986:82). Koontz mengemukakan pengertian motivasi yang dikutip oleh Hasibuan (1996:95) bahwa motivasi mengacu pada dorongan dan usaha untuk kebutuhan atau untuk mencapai suatu tujuan.
commit to user
Menurut Effendi (1993:69) motivasi adalah kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki. Lebih lanjut, Terry mengemukakan pengertian motivasi yang dikutip oleh Moekijat (1984:10) sebagai keinginan di dalam diri seorang individu yang mendorong dia untuk bertindak. Sementara, dari penelitian istilah Manajemen Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (dalam Moekijat, 1994:10) memberikan pendapat bahwa motivasi adalah proses atau faktor yang mendorong orang untuk bertindak atau berperilaku dengan cara tertentu.
Berdasarkan berbagai pendapat tentang motivasi di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi atau dorongan adalah suatu kekuatan atau pengaruh yang timbul dalam diri seseorang untuk bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sementara, seseorang disebut sebagai motivator apabila ia mampu mempengaruhi orang lain sehingga menimbulkan kekuatan pada orang lain yang dipengaruhinya dan selanjutnya akan menimbulkan suatu tindakan atau perilaku yang lebih baik demi tercapainya tujuan yang diinginkan.
Berkaitan dengan pemimpin, Wijaya (1986:12) mengaitkannya dengan memberikan batasan mengenai motivasi dalam pemerintahan yaitu bahwa motivasi adalah kekuatan seorang pemimpin baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
commit to user
Atau dengan perkataan lain motivasi dapat diartikan sebagai dorongan mental yang datangnya dari pemimpin suatu pemerintahan terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota kelompok dalam menggapai sesuatu tujuan dalam masyarakat.
Motivasi sebagai suatu hal yang penting sehingga sangat perlu untuk dilakukan oleh setiap pimpinan, terutama dalam melaksanakan suatu kebijaksanaan atau kegiatan yang memerlukan adanya dukungan dari bawahan maupun masyarakatnya secara aktif. Hal tersebut memerlukan kemampuan yang matang dari seorang pemimpin terutama dengan mengetahui prinsip-prinsip motivasi.
Prinsip motivasi merupakan suatu pedoman pokok yang hendaknya diketahui oleh seseorang pimpinan sebelum melakukan pemberian motivasi agar tujuan pemberian motivasi dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Prinsip-prinsip motivasi seperti yang dikemukakan oleh Hasibuan (1980:185) adalah sebagai berikut :
1. Prinsip Mengikutsertakan
Artinya para bawahan diberikan kesempatan untuk ikut serta berpartisipasi dalam keputusan-keputusan sehingga mereka merasa ikut bertanggung jawab atas tercapainya tujuan.
2. Prinsip Komunikasi
Artinya motivasi akan cenderung meningkat jika bawahan diberi tahu mengenai apa saja hal-hal yang berpengaruh terhadap sebuah tujuan. Pada dasarnya, semakin banyak seorang bawahan mengetahui hal-hal
commit to user
tersebut, semakin banyak pula minat dan perhatiannya terhadap pencapaian tujuan.
3. Prinsip Pengakuan
Artinya motivasi akan cenderung meningkat jika bawahan diberi pengakuan atas peran sertanya terhadap hasil-hasil yang dicapai. 4. Prinsip Wewenang yang Didelegasikan
Artinya motivasi akan cenderung meningkat jika bawahan diberikan wewenang dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan-keputusan sendiri.
5. Prinsip Perhatian Timbal Balik
Artinya motivasi akan cenderung meningkat jika seorang pemimpin mengetahui kebutuhan dan keinginan bawahan.
Dalam melaksanakan pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan desa khususnya, faktor motivasi merupakan unsur yang penting sebab motivasi merupakan dorongan yang kuat dalam rangka membina mental pembangunan masyarakat untuk kemajuan desa itu sendiri. Dengan memberi motivasi yang tepat, tujuan mencapai masyarakat adil dan makmur tidak mustahil akan terwujud.
Demikian halnya dalam pemerintahan, dimana kepala desa pemegang jabatan tertinggi di tingkat desa, harus mampu melaksanakan pembangunan di tingkat desa tersebut. Untuk itulah, kepada desa sebagai pemimpin harus mampu memberikan dorongan atau motivasi kepada masyarakat untuk ikut aktif dalam pembangunan.
commit to user
Peran aktif masyarakat merupakan partisipasi yang menurut S.P. Siagian (2000:33) ada 2 bentuk yaitu: (1) Partisipasi yang berbentuk pasif, artinya partisipasi masyarakat yang ditunjukkan dalam bentuk sikap perilaku dan tindakan yang tidak melakukan hal-hal yang dapat menghalangi kelancaran jalannya roda pemerintahan dan pembangunan; dan (2) Partisipasi aktif dalam berbagai bentuk diantaranya kerelaan melakukan pengorbanan yang dituntut oleh pembangunan dengan memberikan sumbangsih demi kepentingan bersama yang lebih luas dan lebih penting.
Agar terlaksananya partisipasi aktif seperti tersebut di atas dengan baik maka diperlukan motivasi kepala desa. Motivasi kepala desa merupakan kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki.
Keikutsertaan masyarakat secara terpadu akan mendorong masyarakat untuk lebih aktif melaksanakan pembangunan karena masyarakat merasa ikut memiliki hasil-hasil pembangunan. Dalam hal ini, kepala desa sebagai motivator atau orang yang memberikan dorongan kepada masyarakat agar bersedia berpartisipasi dalam pembangunan.
Di dalam suatu organisasi masyarakat yang sedang melaksanakan pembangunan, seorang pemimpin dalam hal ini kepala desa, sebagai motivator harus dapat memegang teguh pelaksanaan motivasi bagi masyarakatnya sesuai dengan proses dan tujuan motivasi. Pelaksanaan proses motivasi meliputi:
a) Perlu menetapkan terlebih dahulu tujuan dari pembangunan tersebut;
b) Penting mengetahui keinginan masyarakat yang tidak hanya dilihat dari sudut pandang pimpinan dan pembangunan saja; c) Harus dilakukan komunikasi yang baik antara pimpinan
commit to user
d) Sebagai pemimpin, penting bagi kepala desa untuk memberikan bantuan kepada masyarakatnya dalam pembangunan; dan
e) Pemimpin harus membentuk team work yang sanggup mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Hasibuan, 1980:188).
Sementara, tujuan motivasi dalam pembangunan adalah: (a) Untuk meningkatkan gairah kerja masyarakat; (b) Untuk meningkatkan rasa tanggung jawab masyarakat terhadap kewajibannya dalam pembangunan; dan (c) Untuk memperbesar partisipasi masyarakat dalam pembangunan (Effendy, 1990: 85-88). Berdasarkan uraian tersebut di atas, jelas bahwa dalam pelaksanaan proses dan tujuan motivasi harus dijalankan secara harmonis, baik bagi pemimpin maupun masyarakat atau bawahannya untuk mencapai keseluruhan tujuan.