SALURAN MEDIA
I.6.5 Partisipasi masyarakat desa: swadaya
Berdasarkan Peraturan Menteri nomor 66 tahun 2007 tentang Perencanaan Pembangunan Desa, pembangunan desa merupakan pembangunan partisipatif yaitu suatu sistem pengelolaan pembangunan bersama-sama secara musyawarah, mufakat, dan gotong royong yang merupakan cara hidup masyarakat yang telah lama berakar budaya di wilayah Indonesia.
Kata partisipatif berasal dari partisipasi. Menurut Juliantara, (2004:84) partisipasi diartikan sebagai keterlibatan setiap warga negara, baik secara langsung maupun melalui institusi yang mewakili
commit to user
kepentingannya, dalam hal kebebasan berbicara dan berpartisipasi secara konstruktif.
Partisipasi menurut Paul (dalam Dilla dalam Muktiyo, 2011:221) memiliki empat tingkatan, yaitu:
1) Information sharing. Ini merupakan tingkatan terendah dari partisipasi, dimana para agen perubahan membagi informasi dan memberi pemahaman kepada orang lain.
2) Consultation. Di tingkatan ini, orang lain mempunyai peluang untuk berbagi, bertanya, dan menyimak agen perubahan.
3) Decision making. Di tingkatan ini, orang lain mempunyai peluang untuk berperan dalam menentukan desain dan implementasi dalam perubahan sosial.
4) Initiating action. Ini merupakan tingakatan tertinggi dari partisipasi, dimana orang lain telah mengambil inisiatif dan memutuskan proses perubahan yang diinginkan.
Koentjaraningrat (1994:79) mengatakan bahwa partisipasi rakyat terutama rakyat pedesaan dalam pembangunan menyangkut partisipasi dalam aktivitas-aktivitas bersama dalam proyek-proyek pembangunan yang khusus dan partisipasi sebagai individu diluar aktivitas-aktivitas bersama dalam pembangunan.
Dalam realitasnya, terutama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, istilah partisipasi ini sering dikaitkan dengan usaha di dalam mendukung program pembangunan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Tjokromidjojo (dalam Safi’i, 2007:104) partisipasi masyarakat dalam pembangunan dibagi atas tiga tahapan, yaitu:
a) Partisipasi atau keterlibatan dalam proses penentuan arah, strategi dan kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah;
commit to user
b) Keterlibatan dalam memikul beban dan tanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan; dan
c) Keterlibatan dalam memetik dan memanfaatkan pembangunan secara berkeadilan.
Berdasarkan uraian di atas, maka partisipasi tidak saja identik dengan keterlibatan secara fisik dalam pelaksanaan pembangunan saja tetapi juga menyangkut keterlibatan diri sehingga akan timbul tanggung jawab dan sumbangan yang besar dan penuh terhadap pembangunan.
Dalam hal partisipasi masyarakat di dalam pembangunan desa, Ndraha (1982:82) juga mengemukakan tentang bentuk-bentuk partisipasi yaitu sebagai berikut:
a) Partisipasi dalam bentuk swadaya murni dari masyarakat dalam hubungan dengan pemerintah desa, seperti jasa/tenaga, barang maupun uang;
b) Partisipasi dalam penerimaan/pemberian informasi; c) Partisipasi dalam bentuk pemberian gagasan;
d) Partisipasi dalam bentuk menilai pembangunan; dan
e) Partisipasi dalam bentuk pelaksanaan operasional pembangunan. Dari uraian di atas, jelaslah kiranya bahwa partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa sangat luas. Pembangunan yang dilakukan di pedesaan harus terpadu dengan mengembangkan swadaya gotong royong. Terpadu di sini dimaksudkan keterpaduan antar pemerintah dan masyarakat, antara sektor yang mempunyai program pedesaan dan antara anggota masyarakat sendiri.
Darjono (dalam Sastropoetro, 1988:19) mengatakan bahwa partisipasi masyarakat dilakukan dalam bentuk swadaya gotong royong yang merupakan modal utama dan potensi yang penting dalam pembangunan desa dan selanjutnya akan tumbuh dan berkembang menjadi
commit to user
dasar kelangsungan pembangunan nasional. Swadaya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kekuatan (tenaga) sendiri. Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Dan Otonomi Daerah Nomor 3 Tahun 2001 pasal 1 ayat 8, swadaya masyarakat adalah setiap upaya pengembangan yang dilakukan atas prakarsa, kepedulian dan keiklasan masyarakat baik perorangan maupun kelompok.
Sementara, menurut Bambang Ismawan dalam Jurnal Ekonomi Rakyat tahun 2003, keswadayaan adalah suatu kondisi yang memiliki sejumlah kemampuan untuk mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri, serta kemampuan untuk memperhitungkan kesempatan- kesempatan dan ancaman yang ada di lingkungan sekitar, maupun kemampuan untuk memilih berbagai alternatif yang tersedia agar dapat dipakai untuk melangsungkan kehidupan yang serasi dan berlanjut.
Keswadayaan bisa dipahami sebagai ”semangat” yakni upaya yang didasarkan pada kepercayaan kemampuan diri dan berdasarkan pada sumber daya yang dimiliki. Swadaya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa berdasarkan kemampuan dan potensi sumber daya alam melalui peningkatan kualitas hidup, keterampilan dan prakarsa masyarakat (Adisasmita, 2006:4).
Swadaya masyarakat merupakan semangat untuk membebaskan diri dari ketergantungan pada pihak luar atau kekuatan dari atas dengan memanfaatkan sumberdaya yang mereka miliki. Swadaya masyarakat juga dapat dipahami sebagai kemampuan untuk memanfaatkan dan
commit to user
mengembangkan fasilitas-fasililtas yang telah tersedia sebagai hasil pembangunan yang dilaksanakan pemerintah.
Tim Koordinasi Program Pengembangan Kecamatan dalam Petunjuk Teknik Operasional tahun 2007, mengemukakan swadaya adalah kemauan dan kemampuan masyarakat yang disumbangkan sebagai bagian dari rasa ikut memiliki. Swadaya masyarakat merupakan wujud partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan. Swadaya bisa diwujudkan dengan menyumbangkan tenaga, dana, maupun material pada saat perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan pembangunan.
Partisipasi warga masyarakat tidak akan tumbuh dan berkembang tanpa adanya dorongan dari pihak-pihak yang memiliki kelebihan, seperti para pemimpin formal atau pemimpin informal. Untuk menumbuhkan partisipasi diperlukan usaha semaksimal mungkin karena menyangkut proses perubahan sikap manusia. Sudah menjadi kodrat manusia mempunyai dorongan atau motivasi internal dalam mengembangkan diri untuk memenuhi kebutuhan baik kebutuhan rohaniah maupun jasmaniah. Dorongan tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang menimbulkan perubahan dan kemajuan. Di samping motivasi internal, juga diperlukan motivasi eksternal sehingga terjadi pembinaan kepada warga masyarakat untuk menumbuhkan partisipasi yang mandiri agar terwujud usaha swadaya yang dilaksanakan secara gotong royong.
commit to user
Membina swadaya dan gotong royong masyarakat berarti membina unsur-unsur yang membangkitkan swadaya dan gotong royong dalam suatu masyarakat yang dimaksud. Dalam rangka membina warga masyarakat agar berpatisipasi, pendekatan kemasyarakatan merupakan suatu cara yang efektif. Susanto (dalam Sopino, 1998:45) mengemukakan bahwa ada empat teknik kemasyarakatan dari sudut pandang komunikasi yang dapat digunakan sebagai salah satu teknik dalam menumbuhkan partisipasi, yaitu:
1) Teknik persuasi;
2) Teknik pengendalian situasi sedemikian rupa sehingga orang terpaksa secara tidak langsung mengubah;
3) Teknik pengulangan apa yang diharapkan akan masuk dalam bidang bawah sadar seseorang sehingga ia mengubah sikap diri sesuai dengan apa yang dikehendaki (perfation); dan
4) Memaksa secara langsung perubahan sikap (coersion) dengan adanya hukuman fisik maupun materi.
Dominannya kepala desa dalam perencanaan program-program pembangunan desa merupakan bentuk pengabaian aspirasi dan partisipasi masyarakat desa yang diwujudkan dalam bentuk swadaya masyarakat. Hal ini dapat menyebabkan matinya kemandirian pembangunan karena prinsip swadaya adalah pembangunan diselenggarakan bukan untuk masyarakat tetapi bersama masyarakat dan sedapat mungkin dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.