5. Efek (effect), yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut, misalnya dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu,
2.1.2 Komunikasi Massa
Komunikasi massa merupakan salah satu topik pembahasan yang termasuk dalam lingkup ilmu komunikasi. Komunikasi massa dapat dilihat dari tingkatan organisasi sosial yang besar, di mana tempat terjadinya komunikasi tersebut, dengan menggunakan jaringan-jaringan berupa teknologi komunikasi sebagai alat distribusinya. Komunikasi massa menghubungkan banyak penerima informasi dari suatu satu sumber (McQuail, 2011:18).
Komunikasi Massa mulai dikenal pertama kali secara luas pada awal abad-20 sebagaimana munculnya keberadaan ‘media massa’ seperti surat kabar, majalah, radio dan televisi yang berkembang pesat pada zaman itu. Media massa tersebut menjadi alat berkomunikasi yang terorganisir dalam jarak jauh dan disiarkan kepada orang banyak dalam satu waktu (one-to-many).
Komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media cetak (surat kabar, majalah) maupun media elektronik (radio, televisi), berbiaya relatif mahal, dikelola oleh suatu lembaga, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim, serta heterogen (Mulyana 2007: 83).
Sedangkan menurut Stanley J. Baran, komunikasi massa merupakan sebuah proses penciptaan makna bersama antara media massa dan khalayaknya (Baran, 2008:7).
Adapun ciri-ciri komunikasi massa yang dikemukakan oleh Nurudin (2007: 19-32) yaitu:
1. Komunikator dalam komunikasi massa merupakan suatu lembaga
Dalam komunikasi massa, komunikator atau pengirim pesan biasanya merupakan suatu lembaga yang terdiri dari sekelompok orang ataupun organisasi terorganisir dan memiliki sistem. Sistem yang dibentuk organisasi tersebut melakukan kegiatan pengolahan, ide, gagasan, simbol, menjadi sebuah pesan dalam membuat keputusan untuk mencapai kesepakatan untuk mengolah pesan itu menjadi informasi.
2. Komunikan memiliki sifat heterogen
Komunikan atau penerima pesan dalam komunikasi merupakan kelompok masyarakat yang memiliki keberagaman. Maksudnya adalah, komunikan dalam komunikasi massa terdiri dari individu dengan latar belakang yang berbeda-beda mulai dari tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin, status ekonomi, ideologi, serta kepercayaan yang berbeda-beda.
3. Pesannya bersifat umum
Karena komunikan dalam komunikasi massa memiliki sifat heterogen, maka pesan ataupun informasi yang disampaikan oleh komunikasi massa tidak menyasar pada individu maupun kelompok tertentu saja. Pesan-pesan yang disampaikan tidak bersifat khusus karena ditujukan pada khalayak banyak sehingga harus dapat dimengerti secara umum.
4. Komunikasinya berlangsung satu arah
Dalam komunikasi massa tradisional, komunikasi hanya berlangsung dalam satu arah, maksudnya adalah komunikator hanya mengirim pesan kepada komunikan tanpa adanya umpan balik dari penerima pesan.
5. Komunikasi massa menimbulkan keserempakan
Keserempakan yang dimaksud adalah kesamaan waktu dalam proses penyampaian dan penerimaan pesan. Khalayak penerima pesan mendapat dan menikmati pesan dari media massa dalam waktu yang relatif sama.
6. Mengandalkan peralatan teknis
Komunikasi massa membutuhkan saluran berupa perangkat-perangkat keras maupun elektronik seperti mesin cetak, pemancar, satelit, dan barang-barang elektronik penerima sinyal seperti radio ataupun televisi untuk menyampaikan dan menerima pesan.
7. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper
Gatekeeper merupakan penapis informasi/palang pintu/penjaga gawang dalam penyebaran informasi. Gatekeeper itu berfungsi sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah
dipahami. Gatekeeper ini juga berfungsi untuk menginterpretasikan pesan, menganalisis, menambah data dan mengurangi pesan-pesannya.
Semakin kompleks sistem media yang dimiliki, semakin banyak pula gatekeeping (pemalang pintu atau penapisan informasi) yang dilakukan.
Bahkan bisa dikatakan, gatekeeper sangat menentukan berkualitas tidaknya informasi yang akan disebarkan (Nurudin, 2007:19-32).
2.1.2.1 Proses Komunikasi Massa
Proses komunikasi massa secara sederhana dapat dilihat dari ciri-ciri dari komunikasi massa itu sendiri. Ciri yang paling khas dari komunikasi massa adalah dengan menggunakan media massa yang dirancang untuk menjangkau orang banyak. Pesan dari komunikasi massa biasanya merupakan hasil yang terstandarisasi (produk massal) dan digunakan secara berulang-ulang dalam bentuk yang identik. Alirannya bersifat satu arah dan konten atau pesan yang dimuat biasanya telah kehilangan keunikan dan keasliannya karena telah direproduksi dan penggunaan yang berlebihan. Menurut McQuail proses komunikasi massa memiliki ciri-ciri teoritis yaitu:
a) Distribusi dan penerimaan konten dalam skala besar b) Aliran satu arah
c) Hubungan yang asimetris antara pengirim dan penerima d) Hubungan yang tidak personal dan anonim dengan khalayak
e) Hubungan dengan khalayak yang bersifat jual-beli atau diperhitungkan f) Terdapat standarisasi dan komodifikasi konten.
Untuk lebih memahami proses komunikasi massa secara sederhana, biasanya juga dapat dipahami dengan menggunakan formula Lasswell yaitu: Siapa (Who), Berkata Apa (Says What), Melalui Saluran Apa (In Which Channel), Kepada Siapa (To Whom), dan Dengan Efek Apa (What Effect). Formula Lasswell ini dapat digunakan untuk menggambarkan proses komunikasi massa dengan lebih sederhana dan telah digunakan dalam berbagai jenis penelitian komunikasi.
Adapun formula Lasswell ini dapat diterapkan di komunikasi massa pada tabel berikut:
WHO SAYS
Komunikator Pesan Media Penerima Efek
Control
Selain itu, adapun menurut Dominick (Ardianto, 2017:14-17) fungsi dari komunikasi massa bagi masyarakat adalah sebagai berikut:
1) Surveillance (Pengawasan)
Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama:
a. Warning or beware surveillance (pengawasan peringatan)
Fungsi pengawasan peringatan terjadi ketika media massa menginformasikan tentang ancaman dari angin topan, meletusnya gunung merapi, kondisi efek yang memprihatinkan, tayangan inflasi atau adanya serangan militer. Peringatan ini dengan serta merta dapat menjadi ancaman. Sebuah stasiun televisi mengelola program untuk menayangkan sebuah peringatan atau menayangkannya.
b. Instrumental surveillance (pengawasan instrumental)
Fungsi pengawasan instrumental adalah penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari. Berita tentang film apa yang sedang dimainkan di bioskop, bagaimana hargaharga saham di bursa efek, produk-produk baru, ide-ide tentang mode, resep masakan dan sebagainya, adalah contoh-contoh pengawasan instrumental.
2) Interpretation (Penafsiran)
Fungsi penafsiran hamper mirip dengan fungsi pengawasan. Media massa tidak hanya memasok fakta dan data, tetapi juga memberikan penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Organisasi atau industri media memilih dan memutuskan peristiwa-peristiwa yang dimuat atau ditayangkan.
3) Linkage (pertalian)
Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam, sehingga membentuk linkage (pertalian) berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu.
4) Transmission of values (penyebaran nilai-nilai)
Fungsi penyebaran nilai tidak kentara.Fungsi ini juga disebut sebagai socialization (sosialisasi). Sosialisasi mengacu kepada cara, di mana individu mengadopsi perilaku dan nilai kelompok. Media massa yang mewakili gambaran masyarakat itu di tonton, didengar dan dibaca. Media massa memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka bertindak dan apa yang diharapkan mereka. Dengan perkataan lain, media mewakili kita dengan model peran yang kita amati dan harapan untuk menirunya.
5) Entertaiment (Hiburan)
Fungsi dari media massa sebagai fungsi menghibur tiada lain tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak, karena dengan membaca berita ringan atau menayangkan hiburan di televisi dapat membuat pikiran khalayak segar kembali.