• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

3.7. Analisis Data

Semua data yang ada selanjutnya dianalisis secara kualitatif untuk melihat dan memaparkan makna subliminal yang dibentuk oleh struktur teks iklan. Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah analisis dengan sistem pertandaan bertingkat yang dikenal dengan signifikasi dua tahap dari Roland Barthes.

Dalam proses analisis akan dipilih beberapa frame dari story line yang menggunakan berbagai tanda yang berkaitan dengan posisi gender perempuan dalam iklan, selanjutnya analisis dibuat dengan meminjam model analisis Barthes. Seperti dikutip Alex Sobur dari Cobley dan Jansz yang mengatakan :

“Barthes menganalisis iklan berdasarkan pesan yang dibawanya, yaitu (1) Pesan linguistik berupa semua kata dan kalimat di dalam iklan; (2) pesan ikonik yang

terkodekan berupa konotasi yang muncul dalam foto iklan, yang dapat berfungsi jika dikaitkan dengan sistem tanda yang lebih luas dalam masyarakat dan (3) pesan ikonik tak terkodekan yaitu denotasidalam foto iklan”.23)

Setelah memilah ketiga jenis muatan pesan iklan, selanjutnya masing-masing pesan diurai menjadi penanda dan petanda dalam signifikasi dua tahap Barthes.

Dalam praktik analisis semiotikanya, Roland Barthes mengemukakan tentang dua tahap signifikasi, yaitu :

Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal, yang disebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda, konotasi digunakannya untuk menjelaskan signifikasi tahap kedua, yaitu interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai kebudayaan yang dianutnya”.24) Bila pada signifikasi tahap pertama akan ditemukan makna denotasi atau makna lugas, makna kamus, makna sebenarnya, maka pada signifikasi tahap dua ditemukan makna konotasi atau makna kiasan, makna tidak sebenarnya. Kedua cara pemaknaan tanda ini kerap digunakan kreator iklan dalam menyusun pesan-pesannya.

First order Second order

Reality Signs Culture

Denotation

Connotation

Myth Signifier

Signified

Form

Content

Gambar 3.1 Signifikasi dua tahap Barthes, mengutip dari John Fiske

Sumber Alex Sobur, Analisis Teks Media,hal 128, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004

23)Alex Sobur, Loc.cit, hal 119

24)Alex Sobur, Analisis Teks Media,(bandung : Pt. Remaja Rosda Karya, 2004), hal. 128

Kris Budiman dalam buku Semiotika Visual menjelaskan bahwa :

“Bahasa membutuhkan kondisi tertentu untuk dapat menjadi mitos, yaitu yang secara semiotis dicirikan oleh hadirnya sebuah tataran signifikasi yang disebut dengan semiologis tingkat kedua (the second order semiological system). Maksudnya pada tataran bahasa atau sistem semiologis tingkat pertama (the first order semiological system), penanda-penanda berhubungan dengan petanda-petanda sedemikian sehingga menghasilkan tanda”.25)

“Tanda-tanda yang terdapat pada signifikasi pertama berhubungan dengan tanda-tanda yang didapati pada signifikasi tahap kedua, dan pada tataran signifikasi tahap kedua inilah mitos bercokol”.26)

Aspek material mitos yaitu penanda-penanda dalam the second order semiological system dapat disebut sebagai retorik atau konotator-konotator, yang tersusun dari tanda-tanda pada sistem pertama; sementara petanda-petandanya sendiri dapat dinamakan sebagai fragmen”.27)

1. Dalam tataran bahasa (language), yaitu sistem semiologis lapis pertama, PENANDA-PENANDA berhubungan dengan PETANDA-PETANDA sedemikian sehingga menghasilkan tanda.

2. Selanjutnya, di dalam tataran mitos, yaitu semiologis lapis kedua, tanda-tanda pada tataran pertama tadi menjadi PENANDA-PENANDA yang berhubungan dengan PETANDA-PETANDA.28)

1. signifier (penanda)

2. signified (petanda)

3. Denotative sign (tanda denotatif)

4. CONNOTATIVE SIGNIFIER (PENANDA KONOTATIF)

5. CONNOTATIVE SIGNIFIED (PETANDA KONOTATIF)

6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)

25)Budiman, Op.Cit, hal.63

Gambar 3.2 Peta Tanda Roland Barthes, mengutip dari Paul Cobley & Litza Jansz

Sumber Alex Sobur, Semiotika Komunikasi ,hal 69 (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya,2004)

Pada gambar 3.2 yang menggambarkan peta tanda Roland Barthes dapat dilihat bahwa “tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi pada saat bersamaan tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4), dengan kata lain hal tersebut merupakan unsur material”.29) Misalnya bila seseorang mengenal tanda

“Ibu”,makakonotasitentang pengorbanan,kasih sayang,kesabaran,ketulusan dan berbagai konotasi yang berkaitan dengan sosok ibu yang dikenal menjadi mungkin.

“Setiap tipe tuturan , entah berupa sesuatu yang tertulis atau sekadar representasi, verbal atau visual secara potensial dapat menjadi mitos, artinya tidak hanya wacana tertulis yang dapat dibaca sebagai mitos, melainkan juga fotografi, film, pertunjukkan, bahkan olah raga dan makanan”. 30) Dengan demikian iklan sebagai salah satu bentuk pesan komunikasi baik cetak maupun elektronik pun potensial menghadirkan mitos-mitos. Perang kreativitas antara kreator iklan sebenarnya adalah perang penciptaan mitos seputar produk dan jasa yang diiklankan.

“Iklan mengambil bentuk sistem mitis karena iklan menggunakan sistem tanda tingkat pertama (gambar, musik, kata-kata, gerak-gerik) sebagai landasan untuk pembentukan sistem tingkat dua”. 31) “Untuk itu iklan akan menggunakan sistem tanda tingkat pertama dari hal-hal yang sudah akrab betul dengan sasaran iklan, sehingga ia dapat menjadi landasan yang kokoh dan menarik bagi proses naturalisasi konsep yang diajukan oleh pembuat iklan”.32)

Tanda berikut makna yang dibawa oleh sebuah iklan pun dapat ditelaah guna melihat ideologi si pengiklan. Sebagai contoh adalah iklan Benetton yang kerap menampilkan model yang berasal dari berbagai jenis ras dan warna kulit terkesan kontroversial hingga menarik perhatian, di balik upayanya membawa nama Benetton,

29)Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya,2004), hal 69

30)Budiman Op.Cit, 67

31)ST. Sunardi, Semiotika Negativa (Yogyakarta : Penerbit Buku Baik, 2004), hal. 112

32)Ibid, hal. 116

perusahaan ini mengangkat ideologi pluralisme. Perbedaan dilihat sebagai sesuatu yang indah sesuai dengan warna-warna khas Benetton. Apabila dicermati lebih dalam selain ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap isu pluralisme tersembunyi ideologi kapitalis yang masih membujuk khalayak sasarannya untuk memakai produknya. Ada berbagai ideologi dalam pesan iklan sebagai sebuah konstruksi pesan yang dipengaruhi berbagai kondisi sosial budaya di sekitar kreator iklan.

Dalam buku Semiotika Negativa, St. Sunardi menjelaskan beberapa konsep ideologi, antara lain :

”Marx mengartikan ideologi sebagai pengelabuan, Gramsci sebagai “pandangan tentang dunia”, dan Althusser mengatakan “ideology interpellatest the subjects”, sementara Barthes lebih tertarik pada analisis tentang cara keberadaan ideologi di dalam suatu masyarakat dan cara ideologi itu dihasilkan atau dikonsumsi atau, singkatnya analisis sistim mitis sebagai signifying system yang dapat dipakai sebagai sign vehicle bagi ideologi”. Ia memusatkan analisisnya tentang bentuk-bentuk bahasa (lebih tepat speech) yang siap dipakai menjadi idelogi, di mana bentuk-bentuk itu sendiri bukan mitos tetapi menjadimitosketikadipakai.”33)

Dengan perangkat teori signifikasi dua tahap dari Roland Barthes, ketiga versi iklan televisi (TVC) Softex pada tahap awal akan diuraikan menjadi petanda dan penanda penting hingga didapatkan tanda-tanda yang bersifat denotatif, selanjutnya pada signifikasi tahap dua tanda yang didapat pada tahap ditelaah lebih mendalam hingga ditemukan makna konotatif dari tanda-tanda tersebut yang mengasilkan mitos tertentu dari produk yang diiklankan, selanjutnya analisis ditujukan untuk mengungkap ideologi pengiklan yang dibawa oleh tanda-tanda dalam iklan tersebut.

33)Ibid

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil penelitian

Penelitian dengan tiga versi iklan televisi Softex sebagai objek kajian ini bertujuan untuk membongkar makna di balik sistem tanda yang berhubungan dengan posisi gender perempuan dalam iklan. Tiga versi iklan televisi Softex masing-masing adalah iklan Softex versi Andra Asmasoebrata (formula race driver), Esther J. Jusuf (sail plane pilot), dan Irene K. Sukandar (the youngest international master of chess).

Perangkat teori yang digunakan dalam proses pembongkaran makna di balik berbagai tanda yang digunakan PT. Softex Indonesia adalah sistem pertandaan bertingkat dari Roland Barthes. Melalui signifikasi dua tahap akan didapatkan makna denotatif tanda dalam analisis level pertama serta makna konotasi tanda dalam analisis level kedua yang berkaitan erat dengan mitos dan ideologi yang dibawa pengiklan.

Dalam proses analisis dibuat gambaran story line iklan, selanjutnya analisis dibuat dengan meminjam model analisis iklan Barthes. Tiga jenis muatan pesan dalam tiap iklan diuraikan berikut makna yang dihasilkan. Pesan linguistik berkaitan dengan kata dan kalimat dalam iklan berikut maknanya, pesan ikonik terkodekan berupa konotasi yang muncul melalui visualisasi dan dapat berfungsi bila dikaitkan dengan sistem tanda di masyarakat, dan pesan ikonik tak terkodekan berupa denotasi dari visualisasi iklan. Hasil analisis dari ketiga iklan adalah sebagai berikut :

4.1.1. Analisis iklan Softex versi Andra Asmasoebrata

4.1.1.1.Story line iklan Softex versi Andra Asmasoebrata (dur:30”)

CU perempuan mengenakan helmnya. transisi dissolve

Musik ilustrasi bertempo medium, menjelang klimaks musik

LS pintu terbuka ditandai efek cahaya, mobil siap menuju suatu tempat, transisi dissolve Subtitle : We are proud to be a part of your achievement

Musik ilustrasi bertempo medium, klimaks musik

CU animasi logo 30 tahun PT. Softex Indonesia Subtitle : You have come a long way

Musik ilustrasi : tempo medium, jingle khusus 30 tahun SI, efek musik mengiringi visualisasi cahaya pada animasi.

CU tangan membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk, transisi dissolve

Subtitle : Started with a dream

SFX : Bunyi menghentak pada awal adegan Musik ilustrasi bertempo medium

CU tangan meletakkan mobil-mobilan di atas lantai, transisi dissolve

Subtitle : Started with a dream Musik ilustrasi bertempo medium

Pann camera mobil-mobilan ditarik dengan seutas tali oleh seseorang yang hanya tampak kakinya sedang melangkah, transisi dissolve Subtitle : Now you can be

Musik ilustrasi : bertempo medium

LS seseorang berambut panjang berpakaian putih berjalan menuju mobil formula sambil menarik mobil-mobilan, transisi dissolve Subtitle : What you want to be Musik ilustrasi bertempo medium

LS orang berambut panjang duduk di samping mobil fromula, transisi dissolve

Subtitle : Andra Asmasoebrata, Formula race driver

Musik ilustrasi bertempo medium

CU perempuan duduk sambil tersenyum di atas mobil fromula, transisi dissolve

Subtitle : Andra Asmasoebrata, Formula race driver

Musik ilustrasi bertempo medium

CU animasi logo 30 tahun PT. Softex Indonesia Tagline : Karena wanita ingin dimengerti Musik ilustrasi : tempo medium, klimaks jingle khusus 30 tahun SI, efek musik mengiringi visualisasi cahaya pada animasi

Melalui gambaran story line iklan Softex versi Andra, alur cerita iklan dapat diurai menjadi rangkaian adegan sebagai berikut :

1. Adegan 1 (scene 1), tangan seseorang membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk dan meletakkannya di lantai (diawali sound effect berupa bunyi menghentak), yang terdiri dari shot-shot :

a. close up (CU) tangan yang membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk.

b. close up (CU) tangan meletakkan mobil-mobilan kulit jeruk di atas lantai lalu muncul sub title Started with a dream’.

2. Adegan 2 (scene 2), orang dalam adegan pertama yang hanya nampak sebatas kaki bercelana panjang dan bersepatu tengah menarik mobil-mobilan yang dibuat menuju tempat dimana sebuah mobil formula berwarna putih kuning yang terparkir, yang terdiri dari shot-shot:

a. Pann camera mobil-mobilan dari kulit jeruk ditarik pembuatnya yang hanya tampak langkah kakinya yang bercelana panjang dan bersepatu tengah melangkah menuju suatu tempat,lalu munculsub title‘Now you can be’. b. Long shot (LS) orang yang membuat dan menarik mobil-mobilan kulit jeruk

sampai pada tempat yang ditujunya dimana terdapat sebuah mobil formula yang berwarna putih dan kuning pada beberapa bagian badan mobil.

c. Long shot (LS) orang tersebut duduk di samping mobil formula berwarna putih dan kuning tersebut lalu munculsub title‘whatyou wantto be”.

d. Close up (CU) wajah orang tersebut dari dekat yang sedang tersenyum, lalu muncul sub title ‘Andra Asmasoebrata, Formula race driver’.

3. Adegan 3 (scene 3), orang yang duduk di atas mobil tersebut bersiap menuju suatu tempat yang terdiri dari shot-shot:

a. Close up (CU) perempuan tersebut menutup kaca pelindung helm dengan dua tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit.

b. Long shot (LS) pintu terbuka dan mobil yang dinaiki perempuan tersebut mulai menyala mesinnya, lalu muncul sub title We are proud to be a part of your achievement’.

4. Closing scene, animasi 30 tahun Softex dengan tulisan You have come a long way, lalu muncul logo Softex berikut tag linenya yang berbunyi‘Karenawanita ingin dimengerti’.

Latar belakang visualisasi yang digunakan berupa ruang kosong berwarna hitam. Semua pergantian gambar menggunakan transisi disolve. Semua sub title sepanjang alur cerita berwarna putih, sedangkan tulisan pada animasi 30 tahun Softex serta tag linenya berwarna hitam. Sound effect yang digunakan hanya muncul di awal iklan (opening scene) berupa suara sedikit menghentak. Musik ilustrasi yang digunakan ada dua, pertama musik bertempo medium sepanjang cerita, dan kedua musik khusus semacan jingle yang muncul bersamaan dengan animasi 30 tahun Softex serta logo, dimana di dalamnya digunakan pula sound effect yang mengiringi visualisasi kilauan cahaya di bagian akhir animasi tersebut.

4.1.1.2. Interpretasi iklan Softex versi Andra Asmasoebrata

Sesuai dengan model analisa iklan Roland Barthes, seluruh tanda dalam iklan termasuk tanda-tanda yang berhubungan dengan posisi gender perempuan dalam iklan dipilah menjadi pesan linguistik, pesan ikonik terkodekan dan pesan ikonik tak

terkodekan dan diurai hingga didapat petanda dan penanda di dalamnya, hasilnya adalah sebagai berikut :

Adegan 1(Sequence 1) Shot 1

Close up (CU) tangan tengah membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk, lalu muncul sub title

Started with a dream’.

Shot 2

Close up (CU) tangan meletakkan mobil-mobilan di atas lantai dengan sub title ‘Started with a dream’.

Pesan Linguistik :

Signifier Signified

Sub title Started with a dream’ Tulisan ‘Started with a dream’, yang berarti ‘Berawal dari sebuah mimpi’, dalam adegan ini berfungsi sebagai anchoring yang menjelaskan visualisasi tangan yang membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk. Tulisan tersebut ingin menjelaskan bahwa kisah yang ingin disampaikan tokoh dalam iklan yang belum muncul sosoknya tersebut berawal dari mimpinya. Mimpi si tokoh berhubungan dengan mobil-mobilan yang dibuat. Mobil mainan yang identik dengan masa kanak-kanak menyiratkan bahwa mimpi yang dimaksud adalah mimpi masa kecil atau cita-citanya. Pemilihan tulisan dalam bahasa Inggris untuk sub title yang digunakan dalam iklan merujuk pada kalangan terdidik atau yang familiar dengan bahasa Inggris.

Pesan Ikonik Terkodekan :

Signifier Signified

Sound effect (SFX), berupa bunyi hentakan

Menggambarkan suara yang menyerupai pelat pintu terbuka yang menjadi aba-aba atau tanda sebuah benda akan

Close up (CU) tangan dengan jemari halus dan kuku agak panjang dan terawat.

Close up (CU) Mobil-mobilan dari kulit jeruk

dilepaskan, atau melintas melalui pintu tersebut. Sound effect tersebut juga berkaitan dengan mobil-mobilan yang dibuat tokoh dalam adegan ini, dan menjadi something to go with bagi penonton menuju cerita yang utuh (sesuatu yang mengajak penonton mengikuti cerita selanjutnya).

Tangan tersebut merujuk pada tangan perempuan muda apabila dilihat dari struktur tangan, kuku dan kulitnya. Ukuran shot close up (CU) menggambarkan bahwa shot ini penting dan menjadi kunci dalam cerita selanjutnya. Menurut Mascelli

close up memungkinkan detail obyek yang membawa penonton ke dalam scene, menghilangkan yang tidak penting untuk sesaat dan mengisolasi apapun kejadian signifikan yang harus mendapatkan tekanan dalam penuturan”.1) Dengan shot ini penonton dipancing keingintahuannya tentang orang yang membuat mobil-mobilan yang belum muncul wajahnya, terlebih dengan adanya kontradiksi dimana tangan tersebut adalah tangan perempuan muda namun tengah membuat mobil-mobilan yang identik dengan mainan anak laki-laki yang ditegaskan subtitle sebagai mimpi masa kecilnya.

Tangan dan aktivitasnya membuat mobil-mobilan tersebut menjadi kode hermeneutik (hermeneutic code) yang menghadirkan teka-teki (enigma) bagi penonton.

Mobil-mobilan kulit jeruk identik dengan masa anak-anak, khususnya anak laki-laki. Mainan yang murah dan mudah dibuat oleh anak-anak, bahannya berupa kulit jeruk, umumnya kulit jeruk bali yang cukup tebal tetapi lunak untuk ditusuk dengan lidi. Dalam iklan tersebut potongan kulit jeruk menggambarkan bagian-bagian dari sebuah mobil pada umumnya (potongan elips terbesar dengan cekung bagian tengah = badan mobil yang biasa ditumpangi; potongan

1)Mascelli, Op.cit hal 357-358

Lantai tempat meletakkan mobil-mobilan

Warna putih pada sub title

‘Started with a dream’

Latar belakang hitam

Musik ilustrasi adegan

Transisi gambar dissolve

bundar yang diletakkan di bawah potongan elips = chasis/rangka mobil ; dua lingkaran dengan ukuran berbeda yang ditusukkan ke potongan bundar dengan lidi = roda dan gir mobil). Warna kulit jeruk identik dengan cat mobil tokoh dalam iklan, mobil mainan ini menjadi semacam analogon mobil formula.Ukuran shot close up (CU), menandakan bahwa mobil-mobilan darikulitjeruk inipenting dan ‘dekat’ dengan pembuatnya, dapat disimpulkan bahwa mobil-mobilan tersebut mewakili mimpi atau cita-cita masa kecil si tokoh.

Lantai tempat meletakkan mobil-mobilan bagi anak-anak diangap jalan untuk memacu mobil-mobilan dengan cara menariknya dengan seutas tali, identik dengan jalan raya dimana seorang pengemudi memacu kendaraannya.

Selain untuk menonjolkan pesan dari adegan, menurut Jacci H. Bear warna putih yang termasuk warna netral dapat berarti kemurnian, bersih, polos (purity, cleanliness, innocence)

Mengesankan ruang tanpa batas dan menonjolkan obyek dan jalan cerita, sesuai dengan karakteristik warna hitam yang membantu mempertegas warna lain yang dipadukan dengannya.

Musik bertempo medium, menggambarkan ketegangan sekaligus kemegahan sebuah kompetisi. Irama musik yang semakin dinamis (menuju klimaks) menggambarkan perjalanan menuju pencapaian mimpi tokoh dalam iklan.

Menggambarkan sebuah proses, atau perubahan waktu dalam perjalanan Andra meraih mimpinya. Menurut Mascelli

dissolve digunakan untuk menanggulangi terjadinya penghilangan waktu (time lapse) atau perpindahan tempat atau melunakkan pergantian adegan agar tidak terasa mengejutkan”.2)

2)Ibid, hal 275

Tata cahaya high key Menonjolkan obyek atau jalan cerita, memperjelas ekspresi kegembiraan, keindahan, sesuatu yang menyenangkan.3) Adegan 2 (Sequence 2)

Shot 1

Pann camera mobil-mobilan kulit jeruk ditarik seseorang yang hanya tampak langkah kakinya, bercelana panjang dan bersepatu lalu muncul sub title‘Now you can be’.

Shot 2

(LS) orang yang membuat dan menarik mobil-mobilan kulit jeruk sampai pada tempat dimana terdapat sebuah mobil formula berwarna putih dan kuning terparkir. Muncul sub title what you wantto be”.

Shot 3

Long shot (LS) orang tersebut duduk di samping mobil formula berwarna putih dan kuning

Shot 4

Close up (CU) wajah orang tersebut dari dekat yang sedang tersenyum, muncul sub title ‘Andra Asmasoebrata, Formula race driver’.

Pesan Linguistik :

Signifier Signified

Sub title ‘Now you can be’ ‘Now you can be’ berarti ‘sekarang kamu dapat menjadi’, berfungsi sebagai anchoring yang menjelaskan visualisasi kaki tokoh yang melangkah mengerjar mimpi masa kecilnya, dimana mimpi atau cita-cita masa kecilnya berkaitan dengan mobil-mobilan yang dibuat. Dalam perjalanan waktu ia mampu merealisasikan mimpi masa kecilnya dengan menjadi

3)Darmanto, Dasar-dasar Lighting, Training Produksi Program Video/TV, SAV Puskat, Yogyakarta, 1999, hal 7

Sub title‘Whatyou wantto be’ berfungsi sebagai anchoring yang menjelaskan visualisasi tokoh yang sampai pada tempat dimana mobil formula terparkir, dengan menegaskan bahwa apa yang diinginkan tokoh di masa kecil yang dilambangkan dengan mobil-mobilan mampu diraihnya di masa kini. Cita-ctanya menjadi pembalap dapat direalisasikannya.

‘Andra Asmasoebrata Formula Race Driver’ berfungsi sebagai anchoring yang menjelaskan visualisasi, bahwa tokoh yang mempunyai mimpi atau cita-cita masa kecil sebagai seorang pembalap tersebut adalah perempuan muda yang bernama Andra Asmasoebrata. Ia berhasil menjadi seorang pembalap mobil formula. Seperti banyak diketahui bahwa Andra adalah pembalap formula perempuan termuda pertama yang mewakili Indonesia di kancah internasional.

Pemilihan tulisan dalam bahasa Inggris untuk sub title yang digunakan dalam iklan merujuk pada kalangan terdidik atau yang familiar dengan bahasa Inggris.

Pesan Ikonik Terkodekan :

Signifier Signified

Pann camera Kaki bercelana panjang dan bersepatu tengah melangkah

Celana panjang dan sepatu yang dikenakan menyerupai pakaian untuk aktivitas khusus, seperti banyak dikenakan pembalap mobil, dapat disimpulkan demikian karena dikuatkan dengan adanya mobil-mobilan kulit jeruk yang sejak awal adegan menjadi tanda kunci selain sound effect hentakan yang menyerupai tanda bersiap dalam sebuah pacuan mobil. Gerak kaki melangkah sambil menarik mobil-mobilan yang diikuti dengan pan camera menggambarkan perjalanan. Dapat berarti perjalanan menuju suatu tempat,

Mobil-mobilan kulit jeruk yang ditarik

Long shot (LS) Orang yang menarik mobil-mobilan,

atau perjalanan mewujudkan mimpi masa kecil. Gerak langkah yang perlahan tapi pasti menggambarkan proses dan kemantapan tokoh dalam mengejar impiannya.

Menggambarkan bahwa mimpi atau cita-cita masa kecil senantiasa memotivasi si tokoh untuk meraih mimpinya.

Rambut panjang, postur tubuh (proporsi pinggang dan pinggul) dan gerakan orang tersebut menunjukkan bahwa tokoh yang mempunyai mimpi atau cita-cita masa kecil dalam iklan ini adalah perempuan. Sementara helm dan pakaian yang dikenakan adalah pakaian pembalap, berupa terusan

Rambut panjang, postur tubuh (proporsi pinggang dan pinggul) dan gerakan orang tersebut menunjukkan bahwa tokoh yang mempunyai mimpi atau cita-cita masa kecil dalam iklan ini adalah perempuan. Sementara helm dan pakaian yang dikenakan adalah pakaian pembalap, berupa terusan