BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
3. Kondisi Baseline 2 (
a) Kemampuan Berhitung Permulaan Kondisi Baseline 2 ( )
Kondisi baseline 2 ( ) merupakan kondisi terakhir yang akan di teliti pada penelitian single subject research dengan desain A-B-A.
kondisi ini dilakukan setelah intervensi diberikan dan dilakukan dengan prosedur yang sama dengan kondisi baseline 1. Sama seperti kondisi-kondisi sebelumnya, pada kondisi baseline 2 ( ) ini akan diadakan 3 sesi menggunakan materi dari indikator dalam instrument kemampuan berhitung permulaan. Indikator mengenal angka 1-15 dan berhitung menggunakan jari tangan untuk sesi 1, indikator menghubungkan simbol angka dengan benda dan menghitung benda sekitar pada sesi 2, dan indikator mengelompokkan benda dan mengetahui konsep banyak dan sedikit untuk sesi 3. Berikut ini adalah data presentase subjek yang didapatkan pada kondisi baseline 2 ( ):
Tabel 4.3
Skor Kemampuan Berhitung Permulaan Pada Kondisi Baseline 2 ( )
S 2 Menghubungkan simbol angka dengan
benda
3 29,1 3 25
Menghitung benda sekitar 4 3
3 Mengelompokkan benda 4 33,3 4 29,1
Mengetahui konsep banyak dan sedikit 4 3 Keterangan:
%: Presentase Skor Subjek
Berdasarkan Tabel 4.3 diatas terlihat ada kenaikan presentse untuk data milik AZF dan AAD di kondisi terakhir yaitu kondisi baseline 2 ( ).
Jika melihat kepada tabel klasifikasi interpretasi analisis deskriptif AZF memiliki kemampuan yang cukup dengan rata-rata presentase 69,3% dan AAD memiliki kemampuan yang kurang dengan rata-rata presentase 59,7%. Berikut pembahasan kemampuan berhitung permulaan kondisi baseline 2 ( ):
a. Pembahasan Kemampuan Berhitung Permulaan Kondisi Baseline 2 ( ) Sesi 1
Pada kondisi baseline 2 ( ) sesi 1 digunakan materi dari indikator mengenal angka 1-15 dan berhitung menggunakan jari tangan. Indikator mengenal angka 1-15 dapat diukur dengan kemampuan anak dalam menghitung angka 1-15 secara berurutan, dapat mengenali bentuknya dan dapat menuliskan angkanya. Sedangkan untuk indikator berhitung menggunakan jari tangan dapat diukur dari kemampuan anak dalam berhitung menggunakan jari tangan, dapat mengetahui bentuk jari
tangan dari jumlah yang disebutkan, dan dapat menghubungkan jumlah benda dengan bentuk jari tangan.
Gambar 4.11 Kemampuan Berhitung Permulaan AZF dan AAD Kondisi Baseline 2 ( ) Sesi 1
Pada sesi ini baik AZF dan AAD memperlihatkan kemampuan yang cukup baik. AZF sudah dapat berhitung hingga angka 15, mengetahui bentuk angkanya dan dapat menuliskan angka lebih dari 10 tidak lagi terbalik, dimana sebelumnya AZF suka terlihat bingung dan menuliskan angka 12 menjadi 21. Untuk berhitung menggunakan jari, AZF terhenti di angka 8 keatas. AZF terlihat bingung, akan tetapi ketika di minta membentuk angka 4 dan 5 AZF tahu bahwa itu membentuk angka 9. AZF juga sudah dapat menghubungkan jumlah benda dengan jari tangan dengan menghitung jumlah benda lalu membentuk jumlah tersebut dengan jari tangannya dengan baik.
Sedangkan untuk AAD pada sesi ini juga sudah dapat berhitung hingga angka 15. Akan tetapi pada angka 13 dan 14 masih sering tertukar. Namun AAD dapat dengan baik mengetahui bentuk dari angka 1-15 yang membuktikan AAD paham bahwa formasi angka 13 adalah angka 1 dan 3 dan seterusnya. AAD juga dapat menuliskan angka akan tetapi harus diingatkan seperti ketika diminta menulis angka 14 setelah diingatkan bahwa itu angka 1 dan 4, AAD baru dapat menulis angka 14.
Untuk berhitung menggunakan jari AAD terhenti diangka 7. Untuk mencapai angka 7 pun AAD harus diberitahu dahulu bahwa formasi jarinya adalah 5 dan 2.
b. Pembahasan Kemampuan Berhitung Permulaan Kondisi Baseline 2 ( ) Sesi 2
Pada sesi ini indikator yang digunakan adalah menghubungkan simbol angka dengan benda dan menghitung benda sekitar. Indikator menghubungkan simbol benda dengan benda sekitar dapat diukur dari kemampuan anak dalam menyusun benda sesuai dengan jumlah yang diminta, dapat menghubungkan simbol angka dengan jumlah benda, serta dapat menghitung jumlah benda dalam susunan bentuk yang dibuat.
Sedangkan indikator menghitung benda sekitar dapat diukur dari kemampuan anak dalam menghitung jumlah benda yang disediakan diatas angka 15 dan mengetahui bentuk angkanya.
Gambar 4.12 Kemampuan Berhitung Permulaan AZF dan AAD Kondisi Baseline 2 ( ) Sesi 2
Pada sesi ini terlihat AZF dapat mengikuti perintah yang diminta dengan baik. Karna sudah bisa berhitung lebih dari 15, ketika disediakan jumlah 20 AZF tetap dapat menghitungnya dengan baik. Akan tetapi AZF masih terlihat kurang mengerti menyimpulkan untuk menghubungkan simbol angka dengan jumlah angka. Contohnya ketika berhitung hingga 7 dan menyimpulkan bahwa ini 7 buah jeruk, AZF belum memahaminya.
Sedangkan untuk AAD tidak berbeda jauh dengan AZF. Meskipun hanya dapat menghitung benda hingga 15 itu pun masih terbalik antara 13 dan 14, AAD tetap mengerti perintah yang diminta dengan baik. Sama seperti AZF, AAD juga belum dapat menghubungkan simbol angka dengan jumlah angka dalam artian belum dapat menyimpulkan hubungan dari keduanya.
c. Pembahasan Kemampuan Berhitung Permulaan Kondisi Baseline 2 ( ) Sesi 3
Materi yang digunakan untuk sesi terakhir ini adalah indikator mengelompokkan benda dan mengetahui konsep banyak dan sedikit.
Indikator mengelompokkan benda dapat diukur melalui kemampuan anak dalam mengelompokkan benda sesuai kiretaria, menghitung dan menuliskan jumlah pada masing-masing kiretaria. Sedangkan untuk indikator mengetahui konsep banyak dan sedikit dapat diukur dengan melihat kemampuan anak dalam menentukan jumlah yang lebih banyak dan lebih sedikit, dan dapat menambah dan mengurangi jumlah benda sesuai dengan jumlah yang diminta.
Gambar 4.13 Kemampaun Berhitung Permulaan AZF Kondisi Baseline 2 ( ) Sesi 3
Pada sesi ini AZF memperlihatkan kemampuan yang cukup baik.
AZF dapat mengelompokkan benda sesuai warna yang diminta dengan baik bahkan dengan cepat menghitung dan menuliskan angkanya. Namun ketika diperlihatkan jumlah yang terlihat sama padahal jumlahnya berbeda AZF memilih bentuk yang terlihat lebih besar untuk jumlah yang lebih banyak dan yang terlihat lebih kecil untuk jumlah yang lebih sedikit alhasil jawabannya kurang tepat. AZF dapat dikatakan sudah mampu untuk
menjumlahkan dan mengurangi meskipun masih dibawah 10, itu pun masih harus dibantu akan tetapi untuk jumlah dibawah 10 AZF bisa langsung menjawab bahkan tanpa menghitung satu persatu terlebih dahulu.
Sedangkan untuk mengurangi AZF telah menguasai bahkan diatas 10.
Misalnya ketika ada jumlah permen 12 lalu dimakan 4 AZF langsung bisa menjawab bahwa sisanya 8 dan mencoret 4 permen.
Gambar 4.14 Kemampuan Berhitung Permulaan AAD Kondisi Baseline 2 ( ) Sesi 3
Pada sesi ini AAD memperlihatkan kemampuan yang cukup baik.
Sama dengan AZF, AAD terlihat sangat mengerti untuk mengelompokkan suatu benda sesuai kiretaria yang diminta yaitu warna dan dengan baik dapat menghitung dan menuliskan jumlahnya. Ketika dihadapkan dengan gambar yang jumlahnya terlihat sama namun nyatanya berbeda dan ditanya yang mana lebih banyak dan sedikit, berbeda dengan AZF, AAD menjawab dengan benar. Namun AAD kesulitan memahami perintah untuk menjumlahkan dan mengurangi benda. Padahal di kondisi intervensi AAD terlihat sangat mengerti. Setelah dibimbing untuk memahami caranya, AAD baru dapat menjumlahkan. Sedangkan untuk mengurangi, AAD langsung memahami perintah yang diberikan dan dengan perlahan menghitung satu persatu secara berulang AAD mengetahui jawabannya.
b) Hasil Pengamatan Subjek Kondisi Baseline 2 ( )
Hasil pengamatan subjek pertama yaitu AZF adalah AZF terlihat memiliki kemampuan yang meningkat di setiap kondisi. AZF dapat berhitung 1-15 dengan lancar dan tidak lagi bingung untuk menuliskan angkanya. AZF juga lebih memahami perintah-perintah yang diberikan karna perintahnya kurang lebih sama dengan kondisi
lainnya dengan tujuan agar terulang-ulang dan subjek dapat belajar dari kesalahan sebelumnya.
Sedangkan hasil pengamatan subjek kedua yaitu AAD juga sama, yaitu terlihat meningkat. AAD yang pada awalnya hanya dapat berhitung hingga 10 dan belum memahami konsep berhitung seutuhnya. Dengan perintah yang diulang-ulang dan mengikuti AZF juga AAD perlahan dapat memahami bahwa angka 11 adalah angka 10 ditambah 1 dan seterusnya meskipun untuk menulis angkanya masih perlu dibimbing. AAD terlihat unggul dalam penjumlahan dan pengurangan meskipun menjawab perlahan dengan menghitung satu persatu angkanya.
4. Rekapitulasi Perolehan Data
Rekapitulasi perolehan data presentase kemampuan berhitung permulaan dari masing-masing subjek dari kondisi baseline 1, kondisi intervensi, dan kondisi baseline 2 memperlihatkan bahwa dari setiap sesi baik AZF ataupun AAD sama-sama memiliki rata-rata yang terus meningkat di setiap kondisinya. Berikut rekapitulasi perolehan data dari kedua subjek:
Tabel 4.4
Rekapitulasi Skor Kemampuan Berhitung Permulaan AZF dan AAD Dalam Kondisi Baseline 1 ( ), Kondisi Intervensi, dan Kondisi Baseline 2 ( )
S 2 Menghubungkan simbol angka dengan
benda
3 25 2 12,5
Menghitung benda sekitar 3 1
3 Mengelompokkan benda 3 29,1 3 29,1
Mengetahui konsep banyak dan sedikit 4 4
4 Menghubungkan simbol angka dengan benda
4 29,1 2 16,6
Menghitung benda sekitar 3 2
5 Mengelompokkan benda 4 25 4 33,3
Mengetahui konsep banyak dan sedikit 2 4
6 Mengenal angka 1-15 4 29,1 2 16,6
Berhitung menggunakan jari tangan 3 2
7 Mengenal angka 1-15 4 29,1 3 25
Berhitung menggunakan jari tangan 3 3 8 Menghubungkan simbol angka dengan
benda
3 29,1 3 25
Menghitung benda sekitar 4 3
9 Mengelompokkan benda 4 33,3 4 29,1
Mengetahui konsep banyak dan sedikit 4 3
Secara visual presentase skor kemampuan berhitung permulaan di setiap kondisi pada subjek AZF dan AAD disajikan pada grafik berikut ini:
Grafik 4.1
Rekapitulasi Presetase Data Keseluruhan Kondisi ( -B- ) Kemampuan Berhitung Permulaan subjek AZF
Baseline 1 (𝑨 ) Intervensi (B) Baseline 2 (𝑨 )
Grafik 4.2
Rekapitulasi Presetase Data Keseluruhan Kondisi ( -B- ) Kemampuan Berhitung Permulaan subjek AAD
B. Analisis Dalam Kondisi
Penelitian single subject design dengan desain A-B-A memiliki tiga kondisi yaitu kondisi Baseline 1 ( ), kondisi intervensi, dan kondisi Baseline 2 ( ). Analisis akan dilakukan pada kondisi-kondisi tersebut dengan komponen-komponen berikut ini:
1. Panjang Kondisi
Panjang kondisi menggambarkan berapa banyak sesi yang dilakukan pada setiap kondisi. Didalam penelitian ini digunakan 3 sesi untuk setiap kondisinya. berikut ini data panjang kondisi yang disajikan dalam tabel 4.5:
Tabel 4.5 Data Panjang Kondisi
Kondisi B
Panjang Kondisi 3 3 3
2. Kecenderungan Arah
Estimasi kecenderungan arah akan menunjukkan perubahan dari setiap kondisi. Penentuan kecenderungan arah didalam penelitian ini
Baseline 1 (𝑨 ) Intervensi (B) Baseline 2 (𝑨 )
menggunakan metode belah tangan (split middle) dengan langkah-lengkah sebagai berikut:
a. Membagi data pada kondisi baseline dan data intervensi menjadi dua bagian (red line)
b. Membagi data dikanan dan dikiri menjadi dua bagian (yellow line) c. Menentukan posisi median dari masing-masing bagian
d. Menarik garis sejajar dengan absis yang menghubungkan antara titik temu median dan data bagian kanan dan kiri
Kecenderungan arah data kemampuan berhitung permulaan AZF digambarkan melalui grafik dibawah ini:
Grafik 4.3
Kecenderungan Arah Data Kemampuan Berhitung Permulaan AZF
Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat bahwa kecenderungan arah data kemampuan berhitung permulaan AZF pada kondisi Baseline 1 ( ), kondisi intervensi (B), dan kondisi Baseline 2 ( ) adalah mendatar.
Selanjutnya, kecenderungan arah data kemampuan berhitung permulaan AAD yang akan digambarkan pada grafik dibawah ini:
Baseline 2 (𝑨 ) Intervensi (B)
Baseline 1 (𝑨 )
Grafik 4.4
Kecenderungan Arah Data Kemampuan Berhitung Permulaan AAD
Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat bahwa kecenderungan arah data kemampuan berhitung permulaan AAD pada kondisi Baseline 1( ), kondisi intervensi (B), dan kondisi Baseline 2 ( ) adalah mendatar.
Adapun kecenderungan arah setiap kondisi dari masing-masing subjek disajikan dalam Tabel 4.6 sebagai berikut:
Tabel 4.6
Estimasi Kecenderungan Arah Subjek
Subjek Baseline 1 ( )
Intervensi (B)
Baseline 2 ( ) AZF
(Menaik)
(Mendatar) (Menaik) AAD
(Menaik)
(Mendatar) (Menaik)
Baseline 1 (𝑨 ) Intervensi (B) Baseline 2 (𝑨 )
3. Kecenderungan Stabilitas
Kecenderungan stabilitas dalam masing-masing kondisi berdasarkan perhitungan pada lampiran disajikan pada Tabel 4.7 berikut ini:
Tabel 4.7
Analisis Kecenderungan Stabilitas
Ketika kondisi baseline 1 stabil, mengidentifikasikan bahwa intervensi dapat diberikan. Setelah kondisi intervensi stabil, maka pemberian intervensi akan dihentikan dan diberikan pengulangan kondisi baseline yaitu kondisi baseline 2.
4. Jejak Data
Jejak data merupakan perubahan dari satu data ke data yang lain dalam satu kondisi. Cara menentukan kecenderungan jejak data sama dengan menentukan kecenderungan arah. Adapun jejak data dalam penelitian ini akan disajikan pada table 4.8 dibawah ini:
Subjek Baseline 1 ( ) Intervensi Baseline 2 ( )
AZF Stabil
(100%)
Stabil (100%)
Stabil (100%)
AAD Stabil
(100%)
Stabil (100%)
Stabil (100%)
Tabel 4.8
Jejak Data Kemampuan Berhitung Permulaan Arika dan Azam
5. Level Stabilitas dan Rentang
Level stabilitas dan rentag dalam penelitian dapat ditentukan dengan cara memasukkan data yang paling rendanh dan tinggi dari masing-masing kondisi dan menyertakan stabilitasnya. Level stabilitas dan rentang dalam penilitian ini dapat dilihat dalam Tabel 4.9 dibawah ini:
Tabel 4.9
Level Stabilitas dan Rentang Subjek AZF dan AAD
Subjek Baseline 1
6. Perubahan Level (Level Change)
Perubahan level dalam suatu kondisi merupakan selisih antara data pertama dengan data terakhir. Perubahan level dapat diketahui dengan cara menghitung selisih antara kedua data kemudian menentukan arah datanya meningkat (+), menurun (-), atau mendatar (=). Perubahan level dalam penelitian ini disajikan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 4.10
Perubahan Level Subjek AZF dan AAD
Berikut ini merupakan rangkuman dari hasil analisis visual dalam kondisi kemampuan berhitung permulaan masing-masing subjek penelitian:
Tabel 4.11
Rangkuman Hasil Analisis Visual Dalam Kondisi Kemampuan Berhitung Permulaan pada AZF
Kondisi Baseline 1 Intervensi Baseline 2
Panjang Kondisi 3 3 3
Mendatar) mendatar)
Rangkuman Hasil Analisis Visual Dalam Kondisi Kemampuan Berhitung Permulaan pada AAD
Kondisi Baseline 1 Intervensi Baseline 2
Panjang Kondisi 3 3 3
C. Analisis antar Kondisi
Komponen-komponen utama yang terdapat dalam analisis antar kondisi yaitu jumlah variable yang diubah, perubahan kecenderungan dan efeknya, perubahan stabilitas, perubahan level dan tumpeng tindih data. Berikut ini merupakan uraian dari masing-masing komponen pada analisis antar kondisi dalam penelitian ini.
1. Variabel yang akan diubah
Variabel yang akan diubah dalam penelitian ini berjumlah satu yaitu kemampuan berhitung permulaan yang akan disajikan dalam tabel data jumlah variabel yang akan diubah berikut ini.
Tabel 4.13
Data Jumlah Variabel yang Diubah
2. Perubahan Kecenderungan Arah dan Efeknya
Perubahan kecenderungan dalam penelitian ini diuraikan didalam tabel berikut ini:
Tabel 4.14
Data Perubahan Kecenderungan Arah dan Efeknya
Subjek B/ /B
AZF
(=) (+) (+) (=) AAD
(=) (+) (+) (=) Perbandingan Kondisi B/ (2:1) /B (3:2)
Jumlah Variabel 1 1
3. Perubahan Kecenderungan Stabilitas
Perubahan kecenderungan stabilitas dimaksudkan untuk melihat stabilitas kemampuan subjek masing-masing kondisi. Berikut ini merupakan tabel perubahan kecenderungan stabilitas untuk masing-masing subjek:
Tabel 4.15
Data Perubahan Kecenderungan Stabilitas
Subjek B/ /B
AZF Stabil ke Stabil Stabil ke Stabil AAD Stabil ke Stabil Stabil ke Stabil
4. Perubahan Level Data
Perubahan level data yang diperoleh dari kondisi baseline 1 dan intervensi ditentukan dengan cara menghitung selisih data sesi terakhir pada kondisi baseline 1 dan sesi pertama pada kondisi intervensi.
Sedangkan perubahan level data dari kondisi intervensi ke kondisi baseline 2 ditentukan dengan menghitung selisih data terakhir pada kondisi intervensi dan sesi pertama pada kondisi baseline 2. Berikut ini tabel perubahan level data masing-masing subjek:
Tabel 4.16 Perubahan Level Data
Subjek B/ /B
AZF 29,1%-29,1% = 0% 29,1%-29,1% = 0%
AAD 29,1%-16,6% = 21,4,9% 16,6%-25% = 8,4%
5. Data yang Tumpang Tindih (Overlap)
Overlap dapat diartikan sebagai kesamaan kondisi baseline (A) dan kondisi intervensi (B). Semakin kecil data overlap yang diperoleh maka semakin baik pengaruh intervensi terhadap target behaviour, sebaliknya jika lebih dari 90% data pada kondisi baseline tumpang tindih dengan data
kondisi intervensi maka pengaruh intervensi kepada target behaviour tidak dapat diyakini. Untuk menentukan adanya data overlap pada kondisi baseline dan intervensi menggunakan cara: a) melihat kembali batas atas dan batas bawah pada kondisi baseline, b) hitung ada berapa data point pada kondisi intervensi yang masuk kedalam garis batas atas dan bawah atau rentang kondisi baseline, c) perolehan dalam langkah (b) dibagi banyaknya data point dari kondisi baseline ke kondisi intervensi kemudian dikalikan 100. Berikut ini adalah uraian untuk menentukan data overlap pada masing-masing subjek:
- Overlap Data pada Subjek AZF
Berikut ini adalah grafik yang menunjukkan data overlap kondisi baseline 1 ke intervensi didalam data milik AZF:
Grafik 4.5
Data Overlap Kondisi Baseline 1 (𝑨 ) ke Intervensi (B) Subjek AZF
Berdasarkan data diatas, dapat terlihat bahwa data pada kondisi intervensi (B) memasuki garis batas atas dan batas bawah baseline 1 ( . Data point kondisi intervensi (B) yang berada dalam rentang kondisi baseline 1 ( berjumlah 3 data poin. Banyaknya data poin didalam kondisi yaitu 5 poin sehingga uraian menghitung data overlap ini adalah sebagai berikut:
x 100 = 60%
Baseline 1 (𝑨 ) Intervensi (B) Baseline 2 (𝑨 )
Jadi, dapat disimpulkan bahwa presentase data overlap dalam kondisi baseline 1 ( ke kondisi intervensi (B) untuk subjek AZF yaitu sebesar 60%.
Selanjutnya, berikut ini grafik yang akan menunjukkan data overlap kondisi intervensi (B) ke kondisi baseline 2 ( ) subjek AZF:
Grafik 4.5
Data Overlap kondisi intervensi (B) ke kondisi Baseline 2 (𝑨 ) Subjek AZF
Berdasarkan data diatas, dapat terlihat bahwa data pada kondisi intervensi (B) memasuki garis batas atas dan batas bawah baseline 2( . Data point kondisi intervensi (B) yang berada dalam rentang kondisi baseline 2 ( berjumlah 1 data poin. Banyaknya data poin didalam kondisi yaitu 3 poin sehingga uraian menghitung data overlap ini adalah sebagai berikut:
x 100 = 33,3%
Jadi, dapat disimpulkan bahwa presentase data overlap dalam kondisi kondisi intervensi (B) ke baseline 2 ( untuk subjek AZF yaitu sebesar 33,3%.
- Overlap Data Subjek AAD
Berikut ini adalah grafik yang menunjukkan data overlap dari kondisi baseline 1 ke kondisi intervensi pada data milik AAD:
Baseline 1 (𝑨 ) Intervensi (B) Baseline 2 (𝑨)
Grafik 4.7
Data Overlap Kondisi Baseline 1 (𝑨 ) ke Intervensi (B) Subjek AAD
Berdasarkan data diatas, dapat terlihat bahwa data pada kondisi intervensi (B) memasuki garis batas atas dan batas bawah baseline 1 ( . Data point kondisi intervensi (B) yang berada dalam rentang kondisi baseline 1 ( berjumlah 3 data poin. Banyaknya data poin didalam kondisi yaitu 14 poin sehingga uraian menghitung data overlap ini adalah sebagai berikut:
x 100 = 21,4%
Jadi, dapat disimpulkan bahwa presentase data overlap dalam kondisi baseline 1 ( ke kondisi intervensi (B) untuk subjek AZF yaitu sebesar 21,4%.
Selanjutnya, berikut ini adalah grafik yang menunjukkan data overlap dari kondisi intervensi ke kondisi baseline 2 didalam data milik AAD:
Baseline 1 (𝑨) Intervensi (B) Baseline 2 (𝑨 )
Grafik 4.7
Data Overlap kondisi intervensi (B) ke kondisi Baseline 2 (𝑨 ) Subjek AAD
Berdasarkan data diatas, dapat terlihat bahwa data pada kondisi intervensi (B) memasuki garis batas atas dan batas bawah baseline 2( . Data point kondisi intervensi (B) yang berada dalam rentang kondisi baseline 2 ( berjumlah 3 data poin. Banyaknya data poin didalam kondisi yaitu 5 poin sehingga uraian menghitung data overlap ini adalah sebagai berikut:
x 100 = 60%
Jadi, dapat disimpulkan bahwa presentase data overlap dalam kondisi kondisi intervensi (B) ke baseline 2 ( untuk subjek AZF yaitu sebesar 60%.
Rangkuman data overlap dari seluruh kondisi milik masing-masing subjek akan disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.17 Data Presentase Overlap
Subjek B/ /B
AZF 60% 33,3%
AAD 21,4% 60%
Baseline 1 (𝑨 ) Intervensi (B) Baseline 2 (𝑨 )
Berikut ini adalah rangkuman hasil analisis visual antar kondisi kemampuan berhitung permulaan pada masing-masing subjek penelitian:
Tabel 4.18
Rangkuman Hasil Analisis Visual antar Kondisi Kemampuan Berhitung Permulaan Subjek AZF
Stabilitas Stabil ke Stabil Stabil ke Stabil Perubahan Level Data 29,1%-29,1% = 0% 29,1%-29,1% = 0%
Overlap Data 60% 33,3%
Tabel 4.19
Rangkuman Hasil Analisis Visual antar Kondisi Kemampuan Berhitung Permulaan Subjek AAD
Stabilitas Stabil ke Stabil Stabil ke Stabil Perubahan Level Data 29,1%-16,6% = 21,4,9% 16,6%-25% = 8,4%
Overlap Data 21,4% 60%
Sebagai pendukung untuk analisis dalam kondisi dan antar kondisi dalam penelitian ini, peneliti menggunakan deskripsi dari pendapat Gast dan Ledford
yang mengemukakan bahwa efektivitas suatu intervensi dalam research single subject dapat dilihat dari perbedaan yang terdapat didalam dua kondisi yang berdampingan. Maksudnya adalah suatu intervensi dapat dikatakan efektif jika terdapat perbedaan dari data poin kondisi baseline dan intervensi.
Secara keseluruhan, subjek pertama yaitu AZF pada kondisi baseline 1 ( ) memiliki presentase rata-rata sebesar 59,7% dengan kategori nilai kurang, lalu pada kondisi intervensi (B) memiliki presentase rata-rata sebesar 63,8% dengan kategori nilai cukup, dan pada kondisi baseline 2 ( memiliki presentase rata-rata sebesar 69,3% dengan kategori nilai yang sama dengan kondisi intervensi yaitu cukup. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kategori antara kondisi baseline 1 ( dengan intervensi (B) yang mana menurut pendapat Gast dan Ledford dapat disimpulkan bahwa untuk subjek pertama yaitu AZF pemberian permainan pembangunan terstruktur efektif dalam meningkatkan kemampuan berhitung permulaan meskipun rentangnya tidak terlalu jauh.
Selanjutnya, secara keseluruhan subjek kedua yaitu AAD pada kondisi baseline ( memiliki presentase rata-rata sebesar 34,7% dengan kategori nilai berada di tahap sangat kurang, lalu pada kondisi intervensi (B) memiliki presentase rata-rata sebesar 44,3% dengan kategori nilai masih di sangat kurang, dan pada kondisi baeline 2 ( memiliki presentase rata-rata sebesar 59,7% yang berada di kategori kurang. Hal ini menujukkan bahwa terdapat perbedaan data poin di setiap kondisi yang mana menurut pendapat Gast dan Ledford dapat disimpulkan bahwa untuk subjek kedua yaitu AAD pemberian permainan pembangunan terstruktur efektif dalam meningkatkan kemampuan berhitung permulaan.
Berdasarkan hasil efektivitas kedua subjek yang diuraikan diatas, keduanya mengalami hasil efektif dalam pemberian permainan pembangunan terstruktur terhadap kemampuan berfikir mereka. Sehingga, secara keseluruhan, hasil dalam penelitian ini dapat dikatakan bahwa pemberian permainan pembangunan terstruktur efektif terhadap kemampuan berhitung permulaan anak usia 5-6 tahun.
D. Pembahasan
Secara keseluruhan, temuan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa kemampuan berhitung permulaan dengan presentase tertinggi untuk kedua subjek yaitu AZF dan AAD berada selama di kondisi baseline 2 ( . Temuan tersebut memiliki makna bahwa permainan pembangunan terstruktur yang diberikan memiliki pengaruh untuk kemampuan berhitung permulaan yang dimiliki kedua subjek.
Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil penelitian dari Lukiyana Alfianti seorang Sarjana dari jurusan pendidikan islam anak usia dini di Insitut Agama Islam Salatiga yang meneliti bagaimana kemampuan berhitung seorang anak dapat berkembang lewat permainan balok yang termasuk dalam permainan pembangunan terstruktur. Dari hasil penelitiannya, dijelaskan balok merupakan alat permainan edukatif yang memiliki penyampaian yang efektif dan menarik untuk anak sehingga memudahkan seorang anak dalam mempelajari angka dan berhitung permulaan55.
Dikarenakan kedua subjek adalah anak usia dini, peneliti tidak dapat mewawancarai subjek tentang apa yang mereka rasakan selama pemberian intervensi. Akan tetapi untuk memperkuat data yang sudah diambil, peneliti juga mengobservasi kemampuan anak diluar instrument yang diberikan.
Observasi yang dilakukan tersebut, membantu peneliti mengetahui sejauh mana kemampuan kedua subjek pada setiap kondisi. Dan dari sini diketahui bahwa meskipun keduanya telah bersekolah, akan tetapi dapat dikatakan
Observasi yang dilakukan tersebut, membantu peneliti mengetahui sejauh mana kemampuan kedua subjek pada setiap kondisi. Dan dari sini diketahui bahwa meskipun keduanya telah bersekolah, akan tetapi dapat dikatakan