BAB II KAJIAN TEORITIS
B. Permainan Pembangunan
6. Prinsip-prinsip Permainan Berhitung
Setelah mengetahui macam-macam permainan pembangunan, tentunya sebagai pendidik harus mengetahui bagaimana permainan tersebut harus diberikan dan bagimana caranya permainan tersebut dapat efektif dalam meningkatkan kemampuan yang ingin dikembangkan. Sarahaswati, L mengemukakan terdapat enam prinsip-prinsip permainan berhitung yang akan dijabarkan dibawah ini:
1. Permainan berhitung harus dilakukan secara bertahap. Dapat diawali dengan menghitung benda-benda sekitar anak, ataupun hanya mengamati benda-benda konkrit yang ada di lingkungan anak.
44 Tri Susanti, “Bermain Pembangunan Untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia 5-6 Tahun Di PAUD Murni Asih Terbanggi Besar Tahun Ajaran 2016/2017” (Universitas Lampung Bandar Lampung, 2017).
2. Permainan harus memilki tingkat kesukaran. Misalnya dari kongkrit ke abstrak, mudah ke sulit, dan dari hal-hal abstrak ke lebih kompleks.
3. Permainan dapat efektif dan berhasil jika selama prosesnya anak diberikan kesempatan dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
4. Permainan berhitung merupakan permainan yang menimbulkan suasana yang menyenangkan dan aman bagi anak. Oleh karna itu, media yang digunakan haruslah aman, berwarna-warni, menarik, mudah digunakan, dan tidak membahayakan.
5. Bahasa yang digunakan untuk mempelajari konsep berhitung dalam permainan sebaiknya menggunakan bahasa yang sederhana serta mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari.
6. Dalam mengevaluasi hasil perkembangan anak dari permainan, harus diteliti dari awal hingga akhir kegiatan45.
Dari prinsip-prinsip diatas disimpulkan bahwa prinsip dalam permainan berhitung haruslah secara perlahan dan bertahap dimana anak dapat menyeselesaikan masalahnya sendiri dan harus menggunakan bahasa dan cara yang mudah selalu dikaitkan dengan lingkungan sekitar dan kegiatan sehari-hari.
45 Komang Ayu Febiola, “Peningkatan Kemampuan Berhitung Permulaan Anak Usia Dini Melalui Media Pengajaran Pohon Angka,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Profesi Guru 3, no. 2 (2020).
28
Penelitian ini akan dilaksanakan di kediaman peneliti yang beralamat di Jalan Singosari Raya no.16 RT.001/RW.21 Kelurahan Bencongan, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2020/2021. Lebih tepatnya dimulai dari bulan Juli 2020 hingga bulan Januari 2021 yang tergambar pada table dibawah ini:
Tabel 3.1 Waktu Penelitian
Kegiatan Juli Agust Sept Nov Okt Des Jan Observasi
Penyusunan Proposal Skripsi dan Perbaikan Seminar Proposal dan Perbaikan
Penelitian ke Lapangan Analisis Data
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan didalam penelitian ini adalah penelitian desain subjek tunggal (Single Subject Research). Desain penelitian eksperimen dibedakan menjadi dua kelompok yaitu desain kelompok (group design) dan desain subjek tunggal (single subject design). Menurut Juang mengatakan bahwa variabel merupakan ciri-ciri dari sesuatu yang sedang diamati peneliti didalam penelitian dan berbentuk benda atau suatu kejadian
yang dapat diukur46. Pada desain kelompok data akan diambil dari skor rata-rata (mean) antar kelompok dari variabel terikat yan diteliti sedangkan dalam desain subjek tunggal pengukuran variabel terikat atau target behavior dilakukan berulang-ulang didalam periode waktu tertentu seperti perminggu, perjam, ataupun perhari. Didalam desain penelitian eksperimen yang lebih utama adalah skor individu dibanding skor mean atau rata-rata kelompok47. Metode penelitian Single Subject Research berlandaskan teori modifikasi prilaku yang dikembangkan oleh Jung Sunanto, Koji Taekuchi, dan Hideo Nakata dimana perbandingan didalam metode ini tidak dilakukan antara individu ataupun kelompok melainkan dibandingkan dengan subjek yang sama tetapi berada didalam kondisi yang berbeda. Kondisi yang dimaksud disini adalah kondisi baseline dan kondisi intervensi atau eksperimen.
Kondisi baseline merupakan pengukuran target behavior berada dalam keadaan natural atau belum diberikan intervensi sama sekali. Sedangkan kondisi intervensi merupakan kondisi saat intervensi telah dilakukan dan target behavior diukur dalam kondisi tersebut48.
Metode penelitian Single Subject Research termasuk dalam kategori penelitian kuantitatif dimana target behavior akan diukur secara kuantitaif dan data kuantitatif tersebut akan disajikan dan dirangkum dalam bentuk grafik dan kemudian grafik tersebut akan dianalisis49.
C. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah anak usia dini berumur 5-6 tahun.
Responden yang dijadikan subjek penelitian berjumlah dua orang. Adapun data-datanya sebagai berikut:
1. Identitas Anak 1
Nama : AZF
Jenis Kelamin : Perempuan
46 Okma Viosri Julita, “Efektivitas Metode VAKT Untuk Meningkatkan Hafalan Surah Al-Kautsar Bagi Anak Tunga Rungu,” Jurnal Penelitian Pendidikan Khusus 4, no. 3 (2015).
47 Juang Sunanto, Koji Takeuchi, and Hideo Nakata, Pengantar Penelitian Dengan Subjek Tunggal (Tokyo: CRICED University of Tsukuba, 2005).
48 Ibid, h.4-6
49 Ibid, h. 7-8
Tempat Tanggal Lahir : Tangerang, 19 Juli 2015
Usia : 6 Tahun
2. Identitas Anak 2
Nama : AAD
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Tempat Tanggal Lahir : Tangerang, 17 Mei 2016
Usia : 5 Tahun
D. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain reversal A-B-A. Desain A-B-A ini merupakan salah satu dari pengembangan desain reversal dasar A-B. Pada dasarnya prosedur yang dilakukan tidak berbeda dari desain reversal A-B hanya saja pada desain reversal A-B-A terjadi pengulangan pada kondisi baseline.
Pada awalnya targer behavior akan diukur pada kondisi baseline ( ) secara berkelanjutan dengan waktu yang ditentukan setelah itu akan berlanjut ke kondisi intervensi (B). Perbedaan desain A-B-A dengan desain dasar A-B adalah setelah dilakukan intervensi (B) pengukuran target behavior dilakukan kembali dengan kondisi baseline yang kedua ( ). Penambahan kondisi baseline yang kedua ini bertujuan untuk mengkontrol kondisi intervensi sehingga dapat menarik kesimpulan adanya hubungan anatara variabel bebas dengan variabel terikat50. Struktur dasar desain A-B-A digambarkan pada grafik dibawah ini:
Gambar 3.1
Struktur Dasar Desain A-B-A
50 Ibid, h. 59
Pada kondisi baseline anak akan diberikan instrument kemampuan berhitung permulaan sebanyak 3-5 kali dengan waktu yang ditentukan hingga hasil data stabil. Setelah itu pada kondisi intervensi akan diberikan permainan pembangunan terlebih dahulu baru diberikan instrument kemampuan berhitung permulaan. Setelah data kemampuan berhitung pada kondisi intervensi anak stabil, pemberian permainan pembangunan dihentikan untuk beberapa waktu dan kemudian diberikan kembali instrument kemampuan berhitung sebanyak 3-5 kali. Setelah itu, maka akan diperoleh kesimpulan apakah pemberian permainan pembangunan efektif untuk meningkatkan kemampuan berhitung anak.
E. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data skor dari kemampuan berhitung permulaan anak. Data tersebut didapatkan melalui pemberian tes kemampuan berhitung permulaan yang diberikan sebelum, selama, dan sesudah anak diberikan permainan pembangunan berstruktur.
Dibawah ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam teknik pengumpulan data:
1. Variabel Penelitian
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan berhitung permulaan sedangkan variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian permainan pembangunan terstruktur.
2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah dua anak usia dini berumur 5 dan 6 tahun dengan kategori anak yang belum memahami konsep berhitung dan kurang dalam mengenal angka.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah instrumen pengamatan untuk mengukur kemampuan berhitung permulaan pada anak yang akan diberikan melalui instrument pengamatan kemampuan berhitung anak yang akan dikerjakan anak melalui kegiatan bermain.
Pembuatan instrumen penelitian ini akan didasari oleh kegiatan yang diambil
dan dirangkum dari standar pendidikan matematika untuk anak usia dini menurut NCTM (National Countcil of Teachers of Mathematics) dan juga diambil dari tahapan berhitung menurut kurikulum Montessori.
Adapun kisi-kisi instrumen tes kemampuan berhitung pada anak dapat dilihat didalam tabel dibawah ini:
Tabel 3.2 1.2 Berhitung menggunakan jari
tangan
Adapun pembuatan instrument pengamatan kemampuan berhitung permulaan dibuat dengan penyesuaian kisi-kisi instrumen yang telah dibuat. Untuk memperoleh data kemampuan berhitung permulaan anak maka diperlukan kriteria penilaian kemampuan berhitung permulaan yang akan dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 3.3
Kriteria Penilaian Kemampuan Berhitung Permulaan
Indikator Deskriptor Skala Penilaian
1. Mengenal jumlah benda yang digunakan untuk membuat suatu bentuk
4. Menghtiung benda sekitar
a) Anak mampu menghitung jumlah benda yang disediakan b) Anak mampu menghitung jumlah benda yang diberikan dengan angka diatas 15 atau mengurangi jumlah benda sesuai angka yang diminta untuk mengukur bagaimana kemampuan berhitung permulaan anak berkembang di kondisi baseline dan intervensi sehingga dapat menghasilkan data skor yang dibutuhkan.
G. Teknik Analisis Data
Data kemampuan berhitung permulaan didapatkan melalui skor pada masing-masing instrumen berdasarkan kriteria penilaian yang telah dibuat.
Kemudian skor yang diperoleh akan diubah menjadi bentuk presentase dengan rumus sebagai berikut:
Adapun pada penelitian eksperimen subjek tunggal ini akan menggunakan teknik statistik deskriptif sederhana dengan metode analisis visual untuk melakukan analisis data51. Interpretasi skor analisi deskriptif yang digunakan adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4
Klasifikasi Interpretasi Analisis Deskriptif
Nilai (%) Keterangan
80-100 Sangat Baik
70-79 Baik
60-69 Cukup
50-59 Kurang
<50 Sangat Kurang
Analisis visual dalam penelitian desain subjek tunggal dibagi menjadi dua yaitu analisis visual dalam kondisi dan analisis visual antar kondisi. Analisis visual dalam kondisi maksudnya adalah menganalisis perubahan data dalam satu kondisi saja, yaitu hanya dalam kondisi baseline atau hanya kondisi intervensi. Sedangkan yang dimaksud analisis visual antar kondisi adalah menganalisis perubahan data pada dua kondisi52.
51 Ibid, h. 93
52 Ibid, h. 93-96
Adapun dalam melakukan analisis visual dalam kondisi terdapat enam komponen yang harus diperhatikan peneliti yaitu sebagai berikut53:
1. Panjang kondisi
Panjangnya kondisi didalam analisis visual dapat dilihat dari banyaknya skor didalam setiap kondisi. Banyaknya data yang harus ada tergantung pada masalah penelitian dan intervensi yang diberikan.
Secara umum, kondisi baseline menggunakan tiga sampai lima data skor. Meskipun demikian, didalam pengukuran tidak terfokus pada banyaknya data skor melainkan lebih terfokus kepada kestabilan data dan level yang ingin dicapai.
Sedangkan dalam kondisi intervensi, panjangnya kondisi ditentukan oleh jenis intervensi yang diberikan. Dampak intervensi kepada subjek juga berpengaruh pada panjangnya kondisi intervensi dikarnakan ketika intervensi memiliki dampak buruk pada subjek maka diperlukan kondisi intervensi yang lebih panjang. Tidak ada ketentuan untuk menentukan panjang pendeknya kondisi. Meskipun demikian, penetapannya harus dipertimbangkan secara teoritis dan juga praktis.
2. Estimasi kecendrungan arah
Data kecendrungan arah pada suatu grafik sangat diperlukan untuk melihat gambaran perubahan perilaku subjek yang sedang diteliti.
Terdapat tiga macam kecendrungan arah grafik (trend) yaitu meningkat, mendatar dan menurun yang masing-masing memilki makna sesuai dengan tujuan intervensinya.
Terdapat dua cara untuk menentukan kecendrungan arah grafik (trend) yaitu metode freehand dan metode split-middle. Metode freehand yaitu mengamati data skor secara langsung dalam suatu kondisi dan menarik garis lurus sehingga data skor terbagi menjadi dua bagian. Sedangkan metode split-middle adalah menentukan kecendrungan arah grafik berdasarkan median data skor nilai
53 Ibid, h. 96-98
ordinatnya. Metode split-middle ini dinilai lebih reliable sehingga lebih disarankan untuk digunakan.
3. Kecendrungan stabilitas
Dalam menentukan kecendrungan tingkat stabilitas biasanya digunakan presentase penyimpangan dari mean (sebanyak 5,10,12, dan 15%). Presentase penyimpangan mean yang digunakan untuk menghitung tingkat stabilitas yaitu menggunakan presentase kecil 10%
jika data yang mengelompok ada dibagian atas dan menggunakan presentase besar dan menggunakan presentase 15% jika data yang mengelompok berada di tengah ataupun dibawah. Berikut ini adalah contoh cara menentukan kecendrungan stabilitas dengan menggunakan presentas 15%:
1) Menentukan rentang stabilitas dengan mengalihkan skor tinggi dan kriteria stabilitas.
2) Menghitung mean level (jumlah data dibagi banyaknya data).
3) Menentukan batas atas dengan cara: mean level + setengah dari rentang stabilitas.
4) Menghitung presentase stabilitas data skor pada kondisi baseline (A) dalam rentang stabilitas dengan cara membagi banyaknya data skor dalam rentang dengan data skor. Jika presentase stabilitasnya sebesar 85%-90% maka data dapat dikatakan stabil. Sedangkan jika presentase stabilitasnya dibawah 85% maka dapat dikatakan tidak stabil.
4. Jejak data
Jejak data ditentukan sama dengan kecendrungan arah yang telah dibuat sebelumnya akan tetapi lebih detail perincian waktunya seperti waktu terjadinya peningkatan, penurunan ataupun terjadinya keadaan mendatar.
5. Level stabilitas dan rentang
Level stabilitas dapat dikatakan stabil atau tidak stabil ketika sesuai dengan perhitungan kecendrungan stabilitas yang telah dilakukan sebelumnya. Sedangkan rentang dapat ditentukan dari banyaknya data terendah dan data tertinggi.
6. Level perubahan
Level perubahan akan menunjukkan seberapa besar terjadinya perubahan data dari setiap kondisi. Cara menentukan level perubahan yaitu dengan menghitung selisih antara data hari pertama dengan data dari hari terakhir dari masing-masing kondisi kemudian tentukan levelnya menaik atau menurun dan berikan tanda plus (+) jika membaik, tanda minus (-) jika memburuk dan tanda sama dengan (=) jika tidak terjadi perubahan.
Adapun untuk analisis visual antar kondisi memiliki lima komponen yang harus diperhatikan oleh peneliti yang akan dijabarkan sebagai berikut54:
1. Jumlah variabel yang diubah
Pada analisis visual antar kondisi ini hal pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi jumlah variabel yang akan diubah dalam penelitian. Misalnya dalam penelitian ini jumlah variabel yang diubah adalah satu yaitu kemampuan berhitung permulaan pada anak.
2. Perubahan kecenderungan dan efeknya
Setiap kecenderungan yang sebelumnya telah dibuat dari masing-masing kondisi (baseline dan intervensi) di bandingkan hasilnya dan diidentifikasi bagaimana efeknya.
3. Perubahan stabilitas
54 Ibid, h. 100-104
Sama seperti perubahan kecendrungan, stabilitas dari masing-masing kondisi yang sebelumnya telah didapatkan dibandingkan hasilnya.
4. Perubahan level
Dalam melakukan perubahan level terdapat tiga langkah yang harus dilakukan yaitu:
1) Menentukan berapa besar skor pertama dan terakhir dalam satu kondisi.
2) Mengurangi data yang berjumlah besar dengan data yang berjumlah kecil.
3) Menentukan kearah mana selisih berjalan. Apakah selisih menujukkan kea rah yang baik atau buruk sesuai dengan tujuan dari intervensi dan pengajarannya.
5. Data overlap
Dalam menentukan adanya data overlap dalam kondisi baseline dan intervensi juga memerlukan tiga langkah yang dijabarkan seperti dibawah ini:
1) Melihat dengan seksama data atas dan data bawah pada kondisi baseline.
2) Menghitung berapa banyak data skor dari intervensi (B) yang berada didalam rentang kondisi baseline (A).
3) Banyak data yang didapat dari langkah nomor 2 dibagi dengan banyaknya data skor dalam kondisi intervensi (B) lalu dikalikan 100. Hasilnya akan menentukan bagaimana pengaruh intervensi kepada target behavior. Semakin kecil presentase dari data overlap maka semakin baik pengaruh intervensi untuk target behavior.
40
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Penelitian ini dilakukan secara tatap muka dan dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2020 sampai dengan 1 Januari 2021 dengan subjek penelitian yaitu dua orang anak usia dini berumur 5 dan 6 tahun yang belum memiliki kemampuan yang maksimal dalam mengenal angka dan berhitung permulaan serta belum mendapatkan pembelajaran konsep matematika yang tepat sebelumnya. Pelaksanaan penelitian ini terdiri atas tiga kondisi yaitu kondisi baseline 1 ( ), intervensi (B), dan baseline 2 ( ). Adapun pelaksanaan penelitian secara keseluruhan dibagi menjadi 9 sesi. Pada kondisi baseline 1 dan 2 dan juga kondisi intervensi akan dilakukan pembagian 3 sesi.
Data dari penelitian ini adalah presentase skor dari instrument kemampuan berhitung permulaan yang akan diberikan kepada subjek penelitian di setiap sesi. Indikator kemampuan yang akan digunakan pada penelitian ini ada 6 indikator, yaitu mengenal angka 1-10, berhitung menggunakan jari tangan, menghubungkan simbol angka dengan benda, menghitung benda sekitar, mengetahui konsep banyak dan sedikit, dan mengelompokkan benda. Didalam setiap kondisi, masing-masing sesi akan mewakili setiap indikator tersebut.
Adapun indikator-indikator tersebut disesuaikan dengan instrument kemampuan berhitung permulaan yang telah dibuat. Berikut ini adalah data hasil dari penelitian pada setiap kondisi:
1. Kondisi Baseline 1 ( )
a) Kemampuan Berhitung Permulaan Pada Kondisi Baseline 1 Kondisi baseline 1 ( ) merupakan tahap paling awal dalam pengambilan data. Dalam kondisi ini anak akan berada dalam keadaan natural yang berfungsi untuk mengidentifikasi presentase kemampuan berhitung yang dimiliki anak sebelum diberikan permainan pembangunan. Pada kondisi ini terdapat 3 sesi. Materi yang akan diberikan adalah materi-materi yang telah disesuaikan dengan instrument kemampuan berhitung permulaan yang telah dibuat dengan
indikator mengenal angka 1-15 dan berhitung menggunakan jari tangan untuk sesi 1, indikator menghubungkan simbol angka dengan benda dan menghitung benda sekitar pada sesi 2, dan indikator mengelompokkan benda dan mengetahui konsep banyak dan sedikit untuk sesi 3. Data presentase yang telah diambil dari subjek yaitu AZF dan AAD pada kondisi baseline 1 ( ) akan disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 4.1
Skor Kemampuan Berhitung Permulaan Pada Kondisi Baseline 1 ( )
S 2 Menghubungkan simbol angka dengan
benda
3 25 2 12,5
Menghitung benda sekitar 3 1
3 Mengelompokkan benda 3 29,1 3 29,1
Mengetahui konsep banyak dan sedikit 4 4 Keterangan:
%: Presentase Skor Subjek
Berdasarkan Tabel 4.1 diatas merupakan hasil dari tes kemampuan berhitung permulaan menunjukkan bahwa subjek mempunyai rata-rata presentase masing-masing 59,7% dan 34,7%. Dapat dilihat berdasarkan klasifikasi interpretasi yang ada pada Tabel 3.4, bahwa presentase yang dimiliki AZF tergolong kurang sedangkan untuk AAD presentasenya termasuk golongan sangat kurang. Berikut ini pembahasan kemampuan berhitung permulaan anak dalam kondisi baseline 1 ( ):
a. Pembahasan Kemampuan Berhitung Permulaan Kondisi Baseline 1 ( ) Sesi 1
Indikator yang digunakan adalah mengenal angka 1-15 dan berhitung menggunakan jari tangan. Indikator mengenal angka 1-15 dapat diukur dengan melihat kemampuan anak dalam mampu berhitung 1-15 secara berurutan, dapat mengenali bentuk angka 1-15, dan mampu menulis simbol angka. Sedangkan untuk indikator berhitung menggunakan jari tangan dapat diukur dengan melihat kemampuan anak dalam hal berhitung menggunakan jari tangan, mengetahui bentuk jari tangan dari jumlah yang disebutkan, dan dapat menghubungkan bentuk jari tangan dengan simbol angka.
Gambar 4.1 Kemampuan Berhitung Permulaan AZF Kondisi Baseline 1 ( ) Sesi 1
Pada kondisi baseline 1 ( ) sesi 1 ini AZF memperlihatkan kemampuan yang cukup bagus. AZF dapat berhitung 1-15 dengan lancar dan tahu bentuk angkanya, AZF juga terlihat dapat menulis angka 1-15 akan tetapi ketika diperhatikan, melebih angka 12 Arika menulis dengan cara terbalik sehingga terlihat menjadi angka 21 begitu seterusnya hingga ke melebihi angka 15. AZF juga tahu bagaimana berhitung menggunakan jari dari 1-10 dan mengulang berhitung dengan lima jarinya agar mencapai angka 15. Namun AZF terlihat kebingungan untuk menghubungkan bentuk jari dan simbol angkanya. Dari sini terlihat AZF seperti menghafal urutannya saja tapi kurang memahami cara menghitungnya.
Gambar 4.2 Kemampuan Berhitung Permulaan AAD Kondisi Baseline 1 ( ) Sesi 1
Pada kondisi baseline 1 ( ) sesi 1 ini, meskipun beberapa kali terlihat bingung, AAD perlahan dapat mengikuti dan memperlihatkan sejauh mana kemampuannya. AAD dapat berhitung hanya sampai 10.
AAD terlihat belum memahami bagaimana cara membaca dan menulis angka 10 keatas, tetapi dapat menulis angka 1-9 dengan benar. Tapi AAD mengetahui bentuk angka diatas 10 bahkan hingga 20 karna melihat angka yang ia kenali. AAD juga terlihat hanya memahami berhitung 1-5 menggunakan jari tangan. AAD belum memahami bagaimana menggunakan 10 jari ntuk berhitung lebih dari 5, tentunya mengakibatkan AAD belum dapat menghubungkan bentuk jari dan simbol angka lebih dari 5.
b. Pembahasan Kemampuan Berhitung Permulaan Kondisi Baseline 1 ( ) Sesi 2
Indikator yang digunakan pada sesi 2 ini adalah menghubungkan simbol angka dengan benda dan menghitung benda sekitar.
Menghubungkan simbol angka dengan benda sekitar dapat diukur dengan melihat kemampuan anak dalam menyusun benda sesuai dengan jumlah yang diminta, dapat menghubungkan simbol angka dengan jumlah benda, dan dapat mengelompokkan benda sesuai jumlah yang ditentukan.
Sedangkan untuk menghitung benda sekitar dapat diukur dengan kemampuan anak dalam menghitung jumlah benda yang disediakan, menghitung jumlah benda diatas 1-15, mengetahui bentuk angka dari jumlah yang disebutkan.
Gambar 4.3 Kemampuan Berhitung Permulaan AZF dan AAD Kondisi Baseline 1 ( ) Sesi 2
Pada sesi ini, AZFdapat langsung mengerti ketika diminta untuk membuat gambar suatu benda dengan jumlah yang diminta sedangkan AAD terlihat kebingungan dan tidak mengerti perintah yang diberikan, akan tetapi tetap dapat membuat gambar suatu benda dengan jumlah yang diminta. Akan tetapi Arika terlihat kebingungan ketika diminta menghubungkan jumlah benda dengan simbol angka. Dalam artian, AZF memahami bahwa ini adalah angka 5 tetapi AZF belum memahami untuk mengartikan ini 5 buah bola begitu pun dengan AAD. AZF dapat menghitung jumlah benda hingga 20 dan dapat menuliskan angkanya meskipun ada yang terbalik penempatannya, sedangkan AAD terhenti ketika melihat jumlah benda yang lebih dari 10 dan belum paham untuk menuliskan angkanya.
c. Pembahasan Kemampuan Berhitung Permulaan Kondisi Baseline 1 ( ) Sesi 3
Indikator yang digunakan pada sesi ini adalah mengelompokan benda dan mengetahui konsep banyak dan sedikit. Mengelompokkan benda dapat diukur dengan melihat kemampuan anak dalam mengelompokkan benda sesuai kiretaria yang diminta, dapat menghitung dan menuliskan jumlah masing-masing kiretaria. Sedangkan untuk mengetahui konsep banyak dan sedikit dapat diukur dari kemampuan anak dalam menentukan jumlah benda yang lebih banyak dan sedikit dan dapat menambah atau mengurangi menyesuaikan jumlah yang diminta.
Gambar 4.4 Kemampuan Berhitung Permulaan AZF Kondisi Baseline 1 ( ) Sesi 3
Pada sesi ini Arika memperlihatkan kemampuan yang cukup baik.
Namun, AZF kesulitan membedakan dan mengelompokkan dua gambar yang berbeda dan mengerti setelah diberitahu setelah itu AZF dapat menghitung serta menulis jumlah dari masing-masing gambar. AZF dapat menentukan gambar mana yang jumlahnya lebih banyak dan yang mana lebih sedikit. AZF memahami ketika ada 4 gambar daun ketika ditutup dua gambarnya maka sisanya ada dua gambar daun dan mengerti ketika ingin menggambar 5 bola namun baru tergambar 4 bola maka harus ditambah 1.
AZF dapat dikatakan telah mengerti konsep tambah kurang meskipun belum sampai angka 10.
Gambar 4.5 Kemampuan Berhitung Permulaan AAD Kondisi Baseline 1 ( ) Sesi 3
Dalam sesi ini AAD juga menunjukkan kemampuan yang baik.
Dalam sesi ini AAD juga menunjukkan kemampuan yang baik.