• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS

A. Kemampuan Berhitung Permulaan

7. Pembelajaran Matematika untuk Anak Usia Dini

Setelah mengetahui tahapan-tahapan yang akan dilalui anak ketika mempelajari matematika, maka pendidik harus mengetahui bagaimana cara memberikan pembelajaran matematika kepada anak sesuai kemampuan yang dimiliki anak. Scwhartz memberikan petunjuk atau cara-cara memberikan pelajaran matematika kepada anak yaitu:

1) Anak dimulai dari mempelajari hal konkrit menuju representational dan pada akhirnya menuju abstrak.

2) Pemahaman awal anak pada konsep matematika tumbuh dari pengalaman-pengalamannya terhadap objek konkrit.

3) Kemajuan awal anak dimulai dari yang sudah diketahui sebelumnya menuju yang belum diketahui.

4) Anak mempelajari matematika dimulai dari pembelajarn sederhana menuju pembelajaran yang lebih kompleks.

Sedangkan Pound mengatakan ada beberapa cara agar lebih mudah mengajarkan matematika kepada anak yaitu:

1) Mengajari matematika kepada anak sejak usia dini.

2) Belajar menggunakan lagu-lagu atau irama ataupun puisi yang menarik.

3) Membuat pembelajaran seperti nyata atau selalu dikaitkan dengan kegiatan sehari-hari.

4) Mengemas pembelajaran matematika didalam permainan yang menarik seperti membedakan berbagai objek visual, membuat hubungan antara objek visual dengan suara-suara, kegiatan untuk dapat membedakan bentuk dua dimensi seperti segitiga, persegi, dan yang lainnya.

5) Menunjukkan pemecahan masalah sederhana dengan menarik.

6) Mengkategorikan benda-benda sekitar dan menganalisis sebab akibat suatu kejadian.

7) Mencari atau menemukan suatu pola22.

Selain itu, Putri mengatakan bahwa pembelajaran matematika pada anak haruslah menggunakan cara yang sederhana dan tepat karna berhitung merupakan suatu kegiatan melakukan, menambah kurangi bilangan, hingga memanipulasi bilangan dan lambang matematika23.

Dari cara-cara tersebut dapat disimpulkan bahwa anak akan diajarkan menggunakan cara yang sederhana serta diberikan secara konkrit terlebih dahulu setelah itu akan perlahan-lahan mempelajari hal abstrak yang akan menuntunnya kepada pembelajaran-pembelajaran lain di tingkat selanjutnya.

8. Standar Matematika Berdasarkan NCTM (National Countcil of Teachers of Mathematics)

Kemampuan berhitung permulaan didasari oleh kemampuan matematika yang dimiliki anak. Terdapat penentuan untuk pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan yang harus diperoleh dari anak usia dini hingga kelas menengah. Penentuan tersebut ada didalam konten standar. Konten standar merupakan deskripsi tentang pembelajaran matematika seperti apa yang harus diketahui dan dipelajari oleh anak.

Terdapat konten standar matematika untuk anak usia dini menurut NCTM (National Countcil of Teachers of Mathematics) yaitu angka dan pengoprasiannya, aljabar, geometri, pengukuran dan analisa data24 yang akan dijabarkan sebagai berikut:

1) Angka dan Pengoprasiannya

Penalaran dan representasi matematis awal yang dilakukan oleh anak usia dini biasanya adalah tentang angka. Seiiring berlanjutnya pendidikan anak dari usia dini hingga kelas menengah mereka harus memahami angka terlebih dahulu. Apa itu angka, Bagaimana

22 Analisa Fitria, “Mengenalkan Dan Membelajarkan Matematika Pada Anak Usia Dini,”

jurnal Studi Gender dan Anak 1, no. 2 (2013): 51.

23 Himmatul Farihah, “Mengembangkan Kemampuan Berhitung Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Bermain Stick Angka,” Jurnal Teladan 2, no. 1 (2017).

24 The National Countil of Teacher of Mathematics, Principles and Standards for School Mathematics (Library of Congress Cataloguing, 2000).

angka yang diwakilkan objek, urutan angka, bagaimana mereka berhubungan dari satu angka dengan angka lainnya, dan bagaimana cara menggunakan angka atau pengoprasiannya dalam memecahkan suatu masalah25.

Kemampuan angka dan pengoprasiannya merupakan kemampuan anak untuk konsep bilangan dan juga pemahaman angka. Sedangkan pengoprasian angka ditandai dengan kemampuan menambah dan mengurangi. Kegiatan yang dilakukan seperti mengajak dua orang anak untuk sama-sama menumpuk balok kayu sebanyak-banyaknya, ketika selesai guru bertanya

“Punya siapa yang lebih tinggi?”, anak akan menjawab

“Punyaku!”. Setelah itu ajak anak bersama-sama menghitung jumlah balok kayu yang ditumpuk agar mengetahui jawabannya26. 2) Aljabar

Aljabar merupakan kemampuan bermatematika anak yang digunakan dalam sistematika angka yang mempunyai pola yang natural dan terstruktur. Kegiatan yang dilakukan yaitu mengajak anak untuk membangun pikiran atau ide dari pola yang diberikan misalnya mengurutkan permen bertangkai dan tidak bertangkai, menyusun balok warna sesuai dengan masing-masing warnanya, dan mengajak anak untuk membuat rantai kertas dari warna biru-putih, putih-biru, dan biru-biru27.

Dalam pemahaman awal anak pada aljabar, anak dapat melakukan kegiatan mengklasifikasikan dan mengurutkan objek dan mempelajari pola. Contohnya dengan bantuan guru, anak akan mengerti bahwa ketika ada pola berwarna merah-biru-merah-biru maka pola tersebut akan dilanjutkan dengan pola merah-biru kembali. Mereka akan memahami bahwa setelah warna merah itu

25 Ibid, h. 8-9

26 Fitria, “Mengenalkan Dan Membelajarkan Matematika Pada Anak Usia Dini.”

27 Ibid, h. 52-54

biru dan setelah warna biru akan kembali ke merah dan seterusnya28.

3) Geometri

Secara alami, anak usia dini akan mulai memperhatikan bentuk dari benda-benda disekitarnya. Ketika anak-anak mengetahui benda-benda disekitarnya, anak juga perlu mengetahui bagaimana hubungan benda tersebut dengan bentuknya. Misalnya anak akan memahami bahwa benda yang berbentuk lingkaran akan lebih mudah menggelinding dari bentuk lainnya. Anak dapat mempelajari geometri menggunakan media yang dapat dilihat, dipegang, dan dimainkan29.

Kemampuan geometri merupakan kemampuan anak untuk mengenal bentuk-bentuk geometri (segiempat, lingkaran, segitiga dan lainnya) dan juga konsep ruang. Konsep ruang disini meliputi letak atau posisi (diatas, dibawah, didalam, dan diluar) dan juga tentang jarak (jauh, dan dekat). Kegiatan yang dapat menghubungkan keduanya dapat dilakukan dengan mengajak anak bermain diluar ruangan. Anak akan mengamati benda-benda disekitarnya.

Ketika guru mengatakan “bola berbentuk lingkaran” lalu mengatakan “bentuk jeruk ini menyerupai bola” maka anak akan mengerti bahwa bentuk jeruk adalah lingkaran. Pembelajaran ruang dapat dilakukan ketika melihat buah-buahan yang berada diatas dan dibawah meja30.

4) Pengukuran

Pengukuran merupakan penggunaan nilai numerik kepada sebuah benda misalnya panjang dari sebuah penggaris. Ciri benda yang dapat digunakan untuk pengukuran adalah benda yang bisa diukur. Dapat mengetahui ciri benda yang dapat diukur merupakan

28 Mathematics, Principles and Standards for School Mathematics.

29 Ibid, h.150

30 Fitria, “Mengenalkan Dan Membelajarkan Matematika Pada Anak Usia Dini.”

langkah awal untuk mempelajari pengukuran. Anak usia dini hinggan sekolah dasar akan memulai pembelajaran dengan membandingkan dan mengurutkan benda seperti benda mana yang lebih panjang dan pendek. Selain itu, pelajaran tentang berat, waktu, dan area harus dipelajari juga31.

Pengukuran merupakan kemampuan matematika anak yang melibatkan angka untuk mengukur suatu benda. Angka hasil ukur tersebut dapat dibandingkan dengan benda yang sejenis. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah menghitung jumlah cangkir berisi pasir yang diperlukan untuk mengisi satu ember kecil pasir, mengukur luas permukaan meja belajar menggunakan pita, mengukur permukaan rak mainan dengan balok persegi panjang dan menghitung jumlah balok yang diperlukan misalnya jadi lebarnya rak mainan adalah lima buah balok persegi panjang32. 5) Analisa Data dan Kemungkinannya

Anak usia dini seringkali ingin mengetahui hal apapun yang ditemukan. Mereka akan melontarkan berbagai pertanyaan. Anak usia dini akan membuat pertanyaan berddasarkan hal-hal yang mereka alami seperti ada berapa orang dikeluarganya? Apa makanan kesukaan teman-temannya?. Dan anak usia dini akan mengumpulkan data kecil untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut33.

Kemampuan ber matematika ini digunakan anak untuk menganalisis data dan dituangakn dalam grafik. Grafik disini yaitu pengelompokkan dan memilih. Kegiatan yang dapat dilakukan yaitu mengajak anak untuk mengambil daun-daun disekitarnya, setelah itu mengelompokkan daun sesuai jenisnya, lalu anak

31 Mathematics, Principles and Standards for School Mathematics.

32 Fitria, “Mengenalkan Dan Membelajarkan Matematika Pada Anak Usia Dini.”

33 Mathematics, Principles and Standards for School Mathematics.

diminta untuk menghitung jumlah daun di masing-masing jenis dan mencatatnya34.

Dapat dilihat dari standar matematika untuk anak usia dini menurut NCTM (National Countcil of Teachers of Mathematics) disimpulkan bahwa pembelajaran berhitung permulaan anak usia dini bukanlah hanya dapat mengerti setelah satu adalah dua, setelah dua adalah tiga dan seterusnya melainkan terdapat konsep berhitung yang dapat diperoleh dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan yang membuat anak tidak menyadari jika dirinya sedang belajar berhitung akan tetapi kemampuan dan konsep berhitung pada dirinya tetap berkembang.

B. Permainan Pembangunan 1. Teori Bermain

Bermain merupakan dunianya anak usia dini. Anak usia dini belum bisa membedakan antara pekerjaan dan bermain. Karena menurutnya, semua yang dilakukannya adalah hal yang sama. Anak cenderung sangat menyukai kegiatan bermain dan akan melakukannya setiap kali ada kesempatan. Metode bermain sering digunakan dalam pembelajaran bagi anak usia dini dikarnakan metode bermain mampu membuat pembelajaran lebih efektif dan menyenangkan sehingga anak tidak mudah bosan untuk belajar. Putri mengungkapkan bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang terjadi langsung dan spontan yang didalamnya terdapat interaksi anatara manusia dengan manusia lainnya ataupun benda sekitar yang dikemas didalam kegiatan yang menyenangkan lalu diikuti inisiatif tersendiri dalam daya khayal ataupun penggunaan panca indra bahkan seluruh anggota tubuh35.

34 Analisa Fitria, “Mengenalkan Dan Membelajarkan Matematika Pada Anak Usia Dini,”

jurnal Studi Gender dan Anak 1, no. 2 (2013): 52–54.

35 Arofah Minasari, “Perkenalan Dunia Internasional Sebagai Pendidikan Multikultural Pada Anak Usia Dini Melalui Metode Bermain Puzzle,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 5, no. 2 (2021).

Piaget dalam Mayesty mengatakan bahwa kegiatan bermain merupakan kegiatan yang akan dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan kepuasan atau kesenangan bagi diri seseorang.

Menurut Parten dalam Dockeet dan Fleer kegiatan bermain merupakan kegiatan untuk bersosialisasi. Dari kegiatan bermain diharapkan dapat memberi kesempatan anak untuk bereksplorasi, berkereasi, berekspresi, dan belajar dengan cara yang menyenangkan.

Sedangkan Dockett dan Fleer mengemukakan bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak karena dari bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang akan membantu perkembangannya36. Sejalan dengan yang dikemukakan Plato dan Aristoteles bahwa bermain merupakan sebuah kegiatan yang memiliki nilai praktis. Mereka beranggapan bahwa permainan merupakan media untuk membantu meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak37.

Aktifitas bermain memerlukan permainan yang dapat ikut membantu meningkatkan tumbuh kembang anak. Permainan yang biasanya digunakan untuk mendukung pendidikan adalah permainan edukatif yang dapat mengembangkan suatu kemampuan yang dibutuhkan anak.

Untuk merancang permainan edukatif ini diperlukan alat-alat permainan yang dapat membantu berjalannya permainan yang biasa disebut dengan APE (Alat Permainan Edukatif).

Menurut Tedjasaputra alat permainan edukatif merupakan permainan yang telah dirancang khusus untuk kepentingan pendidikan. Sedangkan Guslinda dan Kurnia beranggapan bahwa alat permainan edukatif merupakan segala macam benda yang digunakan untuk bermain dimana benda yang digunakan tersebut dapat menstimulus kemampuan anak.

36 Yuliani N. Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta Barat: PT.

Indeks, 2012).

37 Oman Farhurohman, “Hakikat Bermain Dan Permainan Anak Usia Dini Di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 2, no. 1 (2017): 28–30.

Alat permainan edukasi juga dirancang untuk memudahkan pendidik dalam menyampaikan materi dengan cara yang menyenangkan38.

Terlihat dari teori-teori diatas bahwa bermain bukan hanya sebuah kegiatan yang memakan waktu dan melelahkan melainkan suatu kegiatan yang secara alami akan dilakukan anak usia dini dikesehariannya dan sangat berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Bermain dianggap penting karna dapat membantu menstimulus aspek-aspek yang dimiliki anak seperti aspek kognitif, aspek motorik, aspek sosial, dan yang lainnya. Pada dasarnya satu permainan lebih baik dapat mengembangkan semua aspek yang dimiliki anak. Permainan yang biasa dilakukan untuk menigkatkan akademik anak yaitu permainan kognitif yang memiliki tahapan perkembangan sesuai umur dan jenis permainannya.

2. Teori Permainan

Menurut Karl Groos, seorang Sarjana dari Jerman yang pendapatnya diikuti oleh Maria Motessori, bahwa permainan memiliki tugas biologis untuk anak, yaitu melatih macam-macam fungsi jasmani dan juga rohani. Waktu-waktu yang dipakai untuk bermain merupakan kesempatan bagi anak untuk melakukan penyesuaian diri terhadap ruang lingkup kehidupannya sendiri. Secara psikologis, permainan merupakan penampilan dari dorongan-dorongan yang tidak disadari pada anak-anak ataupun orang dewasa. Alder mengemukakan bahwa permainan akan memberikan kepuasan atau kompensasi terhadap perasaan diri dan melalui permainan, dapat disalurkan perasaan-perasaan yang lemah dan rasa rendah hati.

Selain itu, menurut seorang Sarjana Inggris bernama Herbert Spencer, permainan dilakukan karna adanya proses pengeluaran energi, yaitu tenaga yang berlum terpakai hingga menumpuk pada diri seorang anak yang menuntut untuk dimanfaatkan dan dipekerjakan. Selanjutnya,

38 N baik Astini, Nurhasanah, and Hayatun Nufus, “Alat Permainan Edukatif Berbasis Lingkungan Untuk Pembelajaran Saintifik Tema Lingkungan Bagi Guru PAUD Korban Gempa,”

Jurnal Pendidikan Anak 8, no. 1 (2019): 2.

Professor Kohnstamn yang merupakan pengembang teori fenomologis menyatakan bahwa permainan merupakan suatu fenomena atau gejala nyata yang didalamnya mengandung unsur permainan. Menurutnya, ketika bermain, anak akan fokus untuk menghayati proses permainan tersebut tanpa memiliki tujuan dalam mencapai perestasi-prestasi tertentu39.

Aktifitas bermain memerlukan permainan yang dapat ikut membantu meningkatkan tumbuh kembang anak. Permainan yang biasanya digunakan untuk mendukung pendidikan adalah permainan edukatif yang dapat mengembangkan suatu kemampuan yang dibutuhkan anak.

Untuk merancang permainan edukatif ini diperlukan alat-alat permainan yang dapat membantu berjalannya permainan yang biasa disebut dengan APE (Alat Permainan Edukatif).

Menurut Tedjasaputra alat permainan edukatif merupakan permainan yang telah dirancang khusus untuk kepentingan pendidikan. Sedangkan Guslinda dan Kurnia beranggapan bahwa alat permainan edukatif merupakan segala macam benda yang digunakan untuk bermain dimana benda yang digunakan tersebut dapat menstimulus kemampuan anak.

Alat permainan edukasi juga dirancang untuk memudahkan pendidik dalam menyampaikan materi dengan cara yang menyenangkan40.

Berdasarkan teori-teori tersebut dapat disimpulkan bahwa permainan adalah sebuah kegiatan yang memberikan anak kesempatan dalam menyesuaikan diri di ruang lingkup dirinya, dimana anak akan memperoleh kepuasan dan anak akan hanya menikmati proses berjalannya permainan tanpa memiliki tujuan untuk mencapai prestasi-prestasi tertentu.

39 Farhurohman, “Hakikat Bermain Dan Permainan Anak Usia Dini Di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).”

40 Astini, Nurhasanah, and Nufus, “Alat Permainan Edukatif Berbasis Lingkungan Untuk Pembelajaran Saintifik Tema Lingkungan Bagi Guru PAUD Korban Gempa.”

3. Jenis Permainan

Permainan sejatinya sangat bermanfaat dalam membantu mengoptimalkan seluruh tumbuh kembang anak. Terdapat beberapa jenis permainan yang dikemukaan Mutiah, Syafitri, dkk yaitu sebagai berikut:

1. Permainan sensorimotor, merupakan perilaku yang diperlihatkan seorang bayi untuk memperoleh kenikmatan dari melatih perkembangan sensorimotor mereka.

2. Permainan praktis, yaitu permainan yang melibatkan pengulangan perilaku dari keterampilan-keterampilan baru yang sedang dipelajari. Permainan ini akan tejadi sepanjang hayat seorang anak.

3. Permainan pura-pura (simbolis), permainan yang terjadi ketika anak mentransformasikan lingkungan fisiknya kedalam suatu simbol.

4. Permainan sosial, merupakan permainan yang kegiatannya melibatkan interaksi sosial dengan teman sebaya.

5. Permainan fungsional, yaitu permainan pertama yang akan dilakukan pada masa awal anak-anak, dimana anak akan mengulangi satu kegiatan sederhana dan menemukan kesenangan dalam bermain dengan lingkungannya. Permainan ini sangat berguna dalam meningkatkan kemampuan motorik anak.

6. Permainan konstruktif, merupakan seuatu permainan yang terjadi ketika anak akan melibatkan dirinya didalam suatu kreasi ataupun konstruksi suatu produk atau pemecahan masalah pada suatu ciptaan sendiri.

7. Game, yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan yang melibatkan suatu aturan dan seringkali bersifat kompetensi41.

41 Desi Ardila Sari, “Meningkatkan Kemampuan Koginiti Anak Usia 4-5 Tahun Dalam Berfikir Simbolik Melalui Permainan Pohon Hitung Di TK An-Nahl Kota Jambi” (Universitas Jambi, 2020).

Melihat macam-macam jenis permainan tersebut dapat disimpulkan bahwa permainan memiliki banyak jenis yang kegiatannya bisa saja dilakukan dengan melibatkan beberapa jenis permainan dalam satu waktu, ataupun fokus di satu jenis permainan tertentu.

4. Permainan Pembangunan

Anak selalu mendapat pelajaran dari kegiatan bermain yang dilakukan. Permainan pun harus memiliki kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk menstimulus tumbuh kembang anak usia dini.

Terdapat salah satu jenis permainan yang dapat membantu menstimulus kemampuan berhitung pada anak yaitu permainan pembangunan. Kegiatan yang dilakukan dalam permainan ini tidak hanya menghitung angka, akan tetapi kegiatan didalam permainan pembangunan ini dapat menstimulus otak anak dalam meningkatkan pemahaman konsep matematika dan juga berhitung.

Tedjasaputra mengemukakan bahwa permainan pembangunan adalah kegiatan yang menggunakan berbagai benda untuk menciptakan suatu hasil karya tertentu42. Sejalan dengan pendapat Latif, dkk yang mengatakan bahwa permainan pembangunan merupakan permainan yang dilakukan untuk mempresentasikan ide anak melalui media.

Selanjutnya Montolalu mengatakan bahwa permainan pembangunan merupakan bentuk permainan aktif dimana anak membangun sesuatu dengan menggunakan bahan dan alat permainan yang sudah ada. Pada awalnya kegiatan ini bersifat reproduktif, artinya anak hanya membuat sesuai objek yang dia lihat atau sesuatu yang dia contoh. Namun seiring berkembangnya imajinasi anak, anak akan mulai menjiplak suatu bentuk dan membuat sesuai dengan kreativitasnya sendiri43.

42 Pratiwi, “Permainan Pembangunan Meningkatkan Kemampuan Mengenal Ukuran,”

Jurnal Pendidikan Anak 2, no. 2 (2016).

43 Susanti, “Bermain Pembangunan Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Anak 4, no. 1 (2018).

Anak usia dini yang berada di umur yang menjadikan mereka belum memiliki pengalaman dengan bahan-bahan permainan pembangunan, akan memulai dengan melakukan kegiatan sensorimotor. Contohnya mereka akan menggerakan tangannya ke bahan-bahan yang ada di sekitarnya seperti pasir, air, dan lainnya untuk merasakan berbagai bahan tersebut. Mereka akan memegang dan membawa bahan tersebut untuk dimainkan ataupun dikreasikan sesuai dengan keinginan mereka.

Dari teori-teori diatas dapat disimpulkan bahwa permainan pembangunan adalah suatu bentuk permainan aktif yang dapat menambah pengetahuan yang diperlukan anak dimana anak menggunakan berbagai benda, bahan dan alat yang sudah ada untuk membangun sesuatu dan menciptakan suatu karya.

5. Macam-macam Media dalam Permainan Pembangunan

Permainan pembangunan merupakan permainan yang dilakukan menggunakan alat dan bahan tertentu. Pendidik memerlukan media untuk melakukan permainan ini. Ada dua macam media dalam permainan pembangunan menurut Latif yaitu sebagai berikut:

1. Media yang bersifat cair.

Media ini merupakan media yang bagaimana bentuk dan penggunannya dilakukan oleh anak sendiri, seperti: tanah liat, cat, spidol, crayon, playdough, dan air.

2. Media yang bersifat terstruktur.

Media ini mempunyai bentuk yang telah ditetapkan sebelumnya dan permainan ini mengarahkan anak untuk bagaimana meletakkan bahan-bahan tersebut secara bersamaan menjadi sebuah karya, seperti: balok, puzzle, dan lego.

Selanjutnya, Mutiah menjelaskan lebih lengkap macam-macam media dan contoh kegiatan yang dilakukan sepeti yang tertera dibawah ini:

1. Bahan atau media yang bersifat cair.

Penggunaan media dan bagaimana bentuk hasilnya ditentukan oleh anak. Adapun media nya yaitu: air, pasir, tanah liat, tepung, lumpur, pensil, pulpen, playdough, crayon, arang, pensil warna, spidol, cat minyak, kapur dan cat air dengan kuas. Adapun kegiatan yang dapat dilakukan seperti: finger painting, menulis diatas tepung, membentuk playdough dan lainnya.

2. Bahan atau media yang bersifat terstruktur.

Penggunaan media ini ditentukan oleh bentuk dari media.

Adapun medianya adalah puzzle dua dimensi, puzzle tiga dimensi, balok unit, hollow balok, balok berongga, lego TM, lincoin logs TM, bristle blocks TM, tinker toys, balok berwarna, macam-macam barang bekas seperti kardus bekas, botol plastik, stik es dan lainnya.

Adapun contoh kegiatan yang dapat dilakukan seperti menyusun puzzle, membuat rumah-rumahan dari susunan balok atau lego, dan lainnya44.

6. Prinsip-Prinsip Permainan Berhitung

Setelah mengetahui macam-macam permainan pembangunan, tentunya sebagai pendidik harus mengetahui bagaimana permainan tersebut harus diberikan dan bagimana caranya permainan tersebut dapat efektif dalam meningkatkan kemampuan yang ingin dikembangkan. Sarahaswati, L mengemukakan terdapat enam prinsip-prinsip permainan berhitung yang akan dijabarkan dibawah ini:

1. Permainan berhitung harus dilakukan secara bertahap. Dapat diawali dengan menghitung benda-benda sekitar anak, ataupun hanya mengamati benda-benda konkrit yang ada di lingkungan anak.

44 Tri Susanti, “Bermain Pembangunan Untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia 5-6 Tahun Di PAUD Murni Asih Terbanggi Besar Tahun Ajaran 2016/2017” (Universitas Lampung Bandar Lampung, 2017).

2. Permainan harus memilki tingkat kesukaran. Misalnya dari kongkrit ke abstrak, mudah ke sulit, dan dari hal-hal abstrak ke lebih kompleks.

3. Permainan dapat efektif dan berhasil jika selama prosesnya anak diberikan kesempatan dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.

4. Permainan berhitung merupakan permainan yang menimbulkan suasana yang menyenangkan dan aman bagi anak. Oleh karna itu, media yang digunakan haruslah aman, berwarna-warni, menarik, mudah digunakan, dan tidak membahayakan.

5. Bahasa yang digunakan untuk mempelajari konsep berhitung dalam permainan sebaiknya menggunakan bahasa yang sederhana serta mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari.

6. Dalam mengevaluasi hasil perkembangan anak dari permainan, harus diteliti dari awal hingga akhir kegiatan45.

Dari prinsip-prinsip diatas disimpulkan bahwa prinsip dalam permainan berhitung haruslah secara perlahan dan bertahap dimana anak dapat menyeselesaikan masalahnya sendiri dan harus menggunakan bahasa dan cara yang mudah selalu dikaitkan dengan lingkungan sekitar dan kegiatan sehari-hari.

45 Komang Ayu Febiola, “Peningkatan Kemampuan Berhitung Permulaan Anak Usia Dini

45 Komang Ayu Febiola, “Peningkatan Kemampuan Berhitung Permulaan Anak Usia Dini