• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONDISI PATOLOGIS YANG MENYERTAI

Dalam dokumen SURAT PENCATATAN CIPTAAN (Halaman 101-106)

Lateral leg web of great toe

KONDISI PATOLOGIS YANG MENYERTAI

FRAKTUR LIMBUS VERTEBRA

Herniasi diskus disertai fraktur kartilago dan tulang kortikal, lebih sering usia muda (20an sampai 40an), terdapat 4 tipe fraktur; Tipe I fraktur sampai tulang kortikal sentral menyeberang dasar kanal spinal yang dapat menekan sakus tekalis dan kauda ekuina sindrom. Tipe II fraktur square chip, juga menimbulkan kauda ekuina sindrom karena muncul di bawah sakus tekaJis. Tipe III fraktur limbus lateral chip lebih sering menekan radik saraf lateral, foramina! atau far lateral. Tipe IV fraktur limbus mengenai seluruh kortek posterior korpus vertebra lebih sering menimbulkan kauda ekuina sindrom.

Bila fraktur limbus foraminal atau far lateral menyertai hernias diskus ini maka facetektomi penuh diperlukan untuk adekuatnya eksposur dan dekompresi radik bersangkutan.

STENOSIS DAN SPONDYLOSIS

Stenosis lumbal, kongenital atau dapatan, membatasi ruangan di daerah far lateral dan lebih sering memerlukan full facetectomy untuk aman membuang diskus far lateral. Pedikel yang pendek dan lamina tebal vertikal mempefsulit teknik ini dan diperlukan full facetectomy, pasien dengan herniasi far lateral dan stenosis pnemerlukan dekompesi lebih luas.

DEGENERATIF SPONDYLOLISTHESIS

Grade I sering dijumpai pada L4-5 diikuti L3-4, L2-3 dan L5-SI, pergeseran sampai seperempat korpus dan sendi facet yang arthrosis menguncinya. Herniasi sering mengikuti slip 4,3 - 20% yang terletak far lateral dan laminektomi dekompresi, full facetectomy unilateral dan instrumentasi untuk mencegah instabilitas lebih jauh, outcome yang baik sekitar 80%.

SPONDYLOLISTHESIS WITH LYSIS

Radik saraf yang keluar di superior pada kasus ini tertekan ketika radik bergeser di bawah pedikel saat menuju foramina, lamina yang

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA KEGAWAT DARURATAN TULANG BELAKANG

lepas dan daerah fibrosis lisis harus dibuang untuk dekompresi radik dan diikuti instrumentasi bila terdapat instabilitas. Outcomenya baik sampai baik sekali dari 76->80%.

DEGENERATIF SKOLIOSIS

Pasien tua dengan skoliosis Degeneratif biasanya terdapat kelainan far lateral area yang menunjukkan rotasi facet dan foramen yang muncul di daerah konkaf dimana pedikel melebar yang menyempitkan foramen.

OUTCOME

Angka kesuksesan untuk berbagai teknik antara 70-100% PITFALLS Termasuk operasi pada level yang salah dan salah- sisi serta diagnosis yang salah, pada kasus yang sulit digunakan Penfield elevator di ruang interspace untuk memastikan level diikuti full facetectomi.

PROGNOSIS

Sebagian besar pasien akan membaik dalam 6 minggu dengan terapi konservatif. Sebagian kecil akan berkembang menjadi kronik meskipun sudah diterapi. Pada pasien yang dioperasi 90% akan membaik terutama nyeri tungkai, tetapi kemungkinan terjadinya kekambuhan adalah 6% jdan bisa pada level diskus yang sama atau berbeda.

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA B. QY KEGAWAT DARURATAN TULANG BELAKANG 1

DAFTAR PUSTAKA

1. Bigos, Stanley J.et al for the Agency for Health Care Policy and Research. Acute Low Back Pain Problems in adult: Clinica Practice Guidelines. Rockville Maryland: AHCPR; 1994.

2. Bigos SJ, Muller G. Primary Care Approach to Acute and Chronic Back Problems: Definition and Care. In: Loeser JD. et all (Eds) Bonica’s Management of Pain, 3rd ed. Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia, 2001: 1509-1526.

3. Block JDC. Surgery and Herniated Nucleaus Pulposus, 2001. 4. Budiarto G. Manajemen Low Back Pain bagi dokter umum. PKB II

Nyeri: Diagnosis dan Penatalaksanaannya. Surabaya, 1997: 59-78. 5. Budiarto G. Pemeriksaan pada penderita dengan Nyeri Pinggang

Bawah. Simposium Nyeri Pinggang Bawah. Surabaya, 1980: 8-16. 6. Chandra B. Nyeri Pinggang. Simposium Nyeri Pinggang Bawah

Surabaya, 1980:1-7.

7. De Jong R. The Neurologic Examinatio, 3rd ed. Harper Row. New York, 1970: 809-812.

8. Deyo RA, Rainvielle J, Kent DL. What can the history and physical examination tell us about low back pain? JAMA 1992; 268-760-765. 9. Foster MR. Herniated Nucleus Pulposus. Med Journal 2002; 3:3 10. Available at http:/www.emedicine.com/orthoped/topic 138. htm. 11. Hilmy CR. Low Back Pain ditinjau dari segi Orthopedik. Simposium

Low Back Pain. KONAS PERDOSSI III Palembang, 1996: 1-8.

12. Hogan GH. Back Pain and Radiculopathy. In: Abraham SE. HaddoxJD (eds) Pain Clinic Manual, 2nd ed. Lippincott Williams and Wilins, Philadephia, 2000 : 157-166.

13. Humphreys SC, EckJC. Clinical Evaluation and Treatment options for Herniated Disc Am Acad Fam. Physician. 1999 : 1-9.

14. Jehrich JR. Management of Low Back Pain. J Contemp Neurol 1996: 7:2-4.

15. Nasution AR. Nyeri Pinggang Bawah. Simposium Low Back Pain. KONAS PERDOSSI III Palembang, 1996: 1-8.

16. Noerjanto. Nyeri pinggang sebagai bentuk gangguan Neuromuskuloskeletal pada usia lanjut. Dalam: Soedomo H, Noerjanto, Soetedjo. Neurogeriatri. Badan Penerbit Universitas

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA KEGAWAT DARURATAN TULANG BELAKANG Diponegoro Semarang. 1993:63-82.

17. Rumawas RT. Nyeri Pinggang Bawah. Simposium Low Back Pain. KONAS PERDOSSI III Palembang 1996:7-12.

18. Sadeli H.A. Nyeri Punggung Bawah. Dalam Meliala L, Suryamiharja A, Purba JS (Eds) Nyeri Neuropatik: Patofisiologi dan Penatalsakanaanya, Kelompok Studi Nyeri. Perdossi 2001: p 149-151.

19. The Royal College of General Practioners Guidelines. National Low Back Pain Clinica Guidelines, London, England: RCGP; 1996. 20. Wagner JH, Jr. Neurologic disorder of Ambulatory Patients,

Diagnosis and Management. Philladelphia: Lea & Febiger, 1989: ' I 18-130.

21. Widjaja D. Patofisiologi dan Tatalsakana Nyeri Pinggang Bawah. Simposium Nyeri Pinggang Bawah, Surabaya, 1980: 17-49.

22. Wirawan. Nyeri Pinggang. Dalam Soedomo, Setiawan, Soetedjo eds. Nyeri, Pengenalan dan tatalaksana. Semarang 1991:93-99.

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA

HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP) LUMBAL

PENDAHULUAN

* Spondilo berasal dari bahasa Yunani yang berarti tulang belakang. Spondilosis lumbalis dapat diartikan perubahan pada sejidi tulang belakang dengan ciri khas bertambahnya degenerasi diskus interyertebralis yang diikuti perubahan pada tulang dan jaringan lunak, atau dapat berari pertumbuhan berlebihan dari tulang (osteofit), yang terutama terletak di aspek anterior, lateral, dan kadang-kadang posterior dari tepi superior dan inferior vertebra centralis (korpus). 1,2

Spondilosis lumbalis muncul pada 27-37% dari populasi yang asimtomatis.Di Amerika Serikat, lebih dari 80% individu yang berusia lebih dari 40 tahun mengalami spondilosis lumbalis, meningkat dari 3% pada individu berusia 20-29 tahun. Di dunia, spondilosis lumbal dapat mulai berkembang pada usia 20 tahun. Hal ini meningkat, dan mungkin tidak dapat dihindari, bersamaan dengan usia. Kira-kira pria dan 74% wanita mempunyai osteofit vertebralis, yang sering terjadi setinggi T9-10. Kira-kira 30% pria dan 28% wanita berusia 55-64 tahun mempunyai osteofit lumbalis. Kira-kira 20% pria dan 22% wanita berusia 45-64 tahun mengalami osteofit lumbalis.2

Rasio jenis kelamin pada keadaan ini bervariasi, namun hampir sama secara bermakna. Spondilosis lumbalis ini sendiri muncul sebagai fenomena penuaan yang tidak spesifik. Kebanyakan penelitian menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara spondilosis dengan gaya hidup, berat badan, tinggi badan, massa tubuh, aktivitas fisik, merokok dan konsumsi alkohol, atau riwayat reproduksi.2

Spondilosis lumbalis sering bersifat asimtomatis, sehingga kita sebagai dokter sangat perlu untuk mengetahui patogenesis, gejala klinis yang sering tampak serta pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang untuk dapat menegakkan diagnosa dan memberikan penanganan yang tepat.

ANATOMI

Kolumnavertebralis merupakan poros tulang rangka tubuh yang memungkinkan untuk bergerak. Terdapat 33 kolumna vertebralis, meliputi 7 kolumna vertebra servikal, 12 kolumna vertebra thoracal, 5 kolumna vertebra lumbal, 5 kolumna vertebra sacral dan 4 kolumna vertebra coccygeal. Vertebra sacral dan cocygeal menyatu menjadi sacrum-coccyx pada umur 20 sampai 25 tahun. Kolumna vertebrales |uga membentuk saluran untuk spinal cord. Spinal cord merupakan struktur yang Sangat sensitif dan penting karena menghubungkan otak dan sistem saraf perifer.3 '10

Kanalis spinalis dibentuk di bagian anterior oleh diskus intervertebralis atau korpus vertebra, di lateral oleh pediculus, di posterolateral oleh facet joint dan di posterior oleh lamina atau ligament kuning. Kanalis spinalis mempunyai dua bagian yang terbuka di lateral di tiap segmen, yaitu foramina intervertebralis.2

Recessus lateralis adalah bagian lateral dari kanalis spinalis. Dimulai di pinggir processus articularis superior dari vertebra inferior, yang rperupakan bagian dari facet joint. Di bagian recessus inilah yang merupakan bagian tersempit. Setelah melengkung secara lateral mengelilingi pediculus, lalu berakhir di kaudal di bagian terbuka yang lebih lebar dari kanalis spinalis di lateral, yaitu foramen intervertebralis. Dinding anterior dari recessus lateralis dibatasi oleh diskus intervertebralis di bagian superior, dan korpus verterbralis di bagian

I

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA

Dalam dokumen SURAT PENCATATAN CIPTAAN (Halaman 101-106)