DAFTAR PUSTAKA
LESI VASKULAR
1.3.2 POSTERIOR CORD SYNDROME Definisi dan Epidemiologi4 5,6
Posterior cord syndrome terjadi pada bagian belakang spinal cord. Posterior cord syndrome disebut juga sebagai contusio servikalis posterior. Posterior cord syndrome sangat jarang ditemukan pada tipe incomplete Spinal Cord Injury (LMS).
Posterior cord syndrome terjadi bila sebuah objek ditekan ke bagian
belakang spinal cord. Posterior cord syndrome juga dihubungkan dengan cedera hiperekstensi servikal. Gambar berikut menunjukkan cedera hiperekstensi.
Gambar 1.3.2.2 Cedera hiperekstensi7
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA KEGAWAT DAKURATAN TULANG BELAKANG
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA KEGAWAT DARURATAN TULANG BELAKANG
Hiperekstensi jarang terjadi pada daerah torakolumbal tetapi sering ditemukan pada leher; pukulan pada muka atau dahi akan memaksa kepala ke belakang dan tidak ada yang menyangga oksiput hingga kepala membentur bagian atas punggung. Ligamen longitudinal anterior dan diskus dapat rusak. Riwayat memar pada muka atau laserasi sering menunjukkan mekanisme cedera. Pemeriksaan sinar- X tidak memperlihatkan fraktur tetapi film yang luas memperlihatkan celah di antara bagian depan kedua korpus vertebrae. Cedera ini stabil pada posisi netral dimana cedera ini harus dipertahankan dengan ban leher selama 6 minggu.
Disebutkan bahwa posterior cord syndrome terjadi karena kompresi atau kerusakan pada arteri spinalis posterior. Sesuai dengan asas-asas umum vaskularisasi susunan saraf pusat, arteri spinalis posterior yang merupakan suatu arteri terminal (end a/tery) dalam arti fungsional; yang berarti penyumbatan pembuluh darah tersebut dapat menimbulkan degenerasi jaringan saraf yang dilayaninya (dalam hal ini bagian posterior medula spinalis), oleh karena tidak dapat terjadi pertumbuhan dan perkembangan suatu peredaran darah kolateral secara efektif dan efisien. Arteri spinalis posterior merupakan cabang langsung dari arteria
vertebrales yang hanya terlihat jelas pada segmen servikal bagian kranial
atau langsung memperkuat plexus pialis setempat. Gambar berikut menunjukkan vaskularisasi medula spinalis.
aspectus ventralis aspectus dorsalis
ANATOMI OAN KLASIFIKASI LESI MEDULA SPINALIS
Secara klinis pasien memiliki fungsi spinotalamikus yang masih utuh tetapi kehilangan fungsi traktus kortikospinalis dan posterior column. Pada posterior column terdapat fasciculus dorsalis. Fasciculus dorsalis terdiri atas fasciculus gracilis (Goll) dan fasciculus cuneatus (Burdach). Fasikulus ini berfungsi menghantarkan impuls raba spesifik diskriminatif, proprioseptif dan kinestetik ke talamus dan akhirnya mencapai korteks serebri. Reseptor rasa raba spesifik terdapat pada korpusculum Meissner. Impuls-impuls proprioseptif timbul akibat rangsangan pada reseptor di dalam otot lurik, tendo, sendi, atau capsula articularis. Impuls ini selain berfungsi propriosepsi (tanpa disadari) juga memberikan keterangan-keterangan kepada individu yang bersangkutan tentang-posisi dan pergerakan berbagai bagian tubuh (kinestesi). Serat yang menyusun
fasciculus dorsalis merupakai akson dari sel neuron besar unipolar
berselubung myelin yang tebal Serat ini mengalami bifurcatio (percabangan); satu cabang utama yan; panjang berjalan ke arah kranial, dan satu cabang lainnya berakhir dalan substansiagrisea setempat. Cabang-cabang yang panjang ini berkumpu membentuk fasiculus gracilis dan fasciculus cuneatus. Gambar beriku menunjukkan pembentukan dan perjalanan fasciculus dorsalis.
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA KEGAWAT DARURATAN TULANG BELAKANG
Gambar 1.3.2.4. Pembentukan dan perjalanan fasciculus dorsalis3
I
ANATOMI DAN KLASIFIKASI LESI MEDULA SPINALISGambar 1.3.2.5. Gaya berjalan tabes
dorsalis12 Gejala Klinis4,5-7,8
Pasien biasanya tetap memiliki kekuatan otot yang masih utuh dan sensasi suhu dan nyeri, tetapi kesulitan dalam mengkoordinasikan alat gerak. Tidak ada sensasi getaran atau sensasi posisi. Propriosepsi menghilang oleh karena kerusakan pada dorsal column.
Berjalan sangat sulit oleh karena kehilangan sensasi getaran. Pada situasi ini pasien harus melihat ke kakinya untuk memastikan bahwa kakinya berada pada posisi yang tepat sehingga pasien tidak .ikan jatuh, sumber lain menyebutkan bahwa posterior cord syndrome dapat menimbulkan gejala nyeri dan parestesia (sering bersifat membakar) pada leher, lengan atas, dan dada, dan timbulnya gejala .itaksia berat. Prognosis6,10,11,12
Prognosis posterior cord syndrome secara umum bersifat baik tetapi prognosis ambulasi bersifat buruk, dimana banyak pasien mengalami kesulitan berjalan karena kehilangan propriosepsi, dimana hal ini bermanifestasi sebagai slapping gait (gaya berjalan pemungut puntung rokok) seperti pada tabes dorsalis.
Dalam gaya jalan ini terlihat bahwa penderita selalu memperhatikan kakinya. Matanya selalu melirik ke kakinya. Jalannya •igak mengangkang dan serta kakinya diangkat terlalu tinggi dan dijatuhkan terlalu keras ke lantai. Pada penderita itu tes Romberg idalah positif.
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA | .^ KEGAWAT DARURATAN TULANG BELAKANG I'■•••
ANATOMI DAN KLASIFIKASI LESI MEDULA SPINALIS
DAFTAR PUSTAKA
1. Sukardi E. Neuroanatomia Medica. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (Ul-Press), 1984.
2. Gondim, F de AA, Thomas FR Spinal Cord, Topographical, and Functional Anatomy. Available in: www.emedicine.com/neuro/
topic657.htm Last updated : January I 1, 2007. (Accessed : January 28, 2008).
3. Marion DW, Przybylski GJ. Injury to the Vertebrae and Spinal Cord. In: Trauma. Mattox KL, Feliciano DV, Moore EE (eds). New York: McGraw-Hill Companies, Inc., 2000.
4. Anonim. Spinal Cord Injury. Availabe in: 550/p5/Surgery_%20p5/ 5spinal% 20cord%20injury.ppt (Accessed : January 28, 2008). 5. Anonim. Clinical Manifestations of Acute Spinal Cord Injury.
Availablein:www.spineuniverse.com/pdf/aans/p7 I 2aans
chapter.pdffAccessed : January 28, 2008).
6. Grissom S. Social, Occupational, and Medical Aspects of Spinal Cord Injury. Available in: www.agrabilityproject.org/events/
workshop2006/documents/ AgrAbility I .ppt (Accessed: January 28, 2008).
7. Anonim. Spinal Cord Injuries. Available in: www.occc.edu
health/PPT/ SpinalCordlnjuries.ppt (Accessed: January 28 2008). 8. Anonim. Spinal Trauma. Available in: www.emergencymed.co.
za/powerpoin/5 7 06spinalinj.ppt (Accessed: January 28, 2008). 9. Apley, AG, Solomon L, Mankin HJ. Cedera Spina. In: Buku Ajar
Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta: Widya Medika, 1995. 10. Vaccaro AR, Zlotolow DA. Frakturs and Dislocations of the Lower
Servikal Spine. In: Rockwood and Green’s Frakturs in Adults (2 Volume Set) 5th ed. Rockwood CA, Bucholz RW, Heckman JD, Green DP (Eds). Lippincott Williams & Wilkins, 2001.
11. Ngoerah IGNG. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf. Surabaya: Penerbit Universitas Airlangga (Airlangga University Press), 1991.
12. Adnyana MO. Slide Kuliah Neurologi Semester VI FK Universitas Udayana: Koordinasi. Denpasar: Bagian/SMF Ilmu Penyakit Saraf FK Universitas Udayana/RSUP Sanglah, 2005.
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA | .^ KEGAWAT DARURATAN TULANG BELAKANG I'■•••
1.3.3
BROWN SEQUARD SYNDROME
Definisi
Sindrom Brown Sequard didefinisikan sebagai lesi inkomplit medula spinalis dengan gambaran paralisis UMN dan hilangnya propriosepsi ipsilateral lesi disertai hilangnya sensasi raba dan suhu kontralateral lesi. Daerah yang memiliki kelemahan LMN dan analgesia segmental ipsilateral dapat 'ditemukan. Hilangnya fungsi ptonomik ipsilateral dapat berakibat pada timbulnya sidrom Horner. Gambaran klinis sindrom Brown Sequard bervariasi dari gangguan
f --- *%
neurologis ringan sampai berat. Sindrom Brown Sequand-plu£>adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan variasi sindrom yang kurang murni. 1
Etiopatogenesis dan Gambaran Klinis
Patofisio logi sindrom Brown Sequard adalah rusaknya atau hilangnya traktus medula spinalis baik ascenden atau descenden pada satu sisi medula spinalis. Anatomi medula spinalis berperan penting pada gambaran klinis. Perubahan struktural dan ultrastruktural yang terjadi pada medula spinalis telah dipelajari pada binatang dan subyek manusia post mortem. Perdarahan petechiae yang tersebar terbentuk pada substansiagrisea dan membesar lalu menyatu dalam waktu satu |am setelah cedera. Selanjutnya terjadi nekrosis hemoragik dalam 24-36 jam. Substansia alba menunjukkan perdarahan petechiae dalam 3,- 4 jam. Serabut bermyelin dan traktus panjang menunjukkan kerusakan struktural yang luas. 1
Sindrom Brown Sequard murni yang menggambarkan hemiseksi medula spinalis jarang ditemukan. Gambaran klinis berupa bagian dari sindrom atau sindrom hemiseksi disertai keluhan dan gejala tambahan lebih sering ditemukan.4
Pemeriksaan fisik pada pasien dengan sindrom Brown Sequard dapat ditemukan sindrom parsial atau murni. Sindrom Brown Sequard parsial memiliki gambaran berupa paresis asimetris dengan hipalgesia yang lebih bermakna pada sisi yang kurang paresis. Gambaran klinis
. 36 i
sindrom Brown Sequard murni berhubungan dengan keadaai berikut: l 2'4-5 Gangguan pada traktus kortikospinalis lateralis, menyebabkan paralisis spastik ipsilateral dibawah tingkat lesi, refleks babinsk positif pada sisi ipsilateral terhadap lesi, namun refleks tersebut dan refleks abnormal lain mungkin tidak ditemukan pada cedera akut.
Gangguan pada kolumna^fba posterior, menyebabkan hilangnya kemampuan membedakan sensasi taktil, getaran, posisi tubuh, posisi sendi, dan diskriminasi 2 titik ipsilateral pada tingkat djBawah lesi.
Gangguan pada traktus spinothalamikus lateralis, menyebabkan hilangnya sensasi nyeri, raba kasar dan suhu pada sisi kontralateral terhadap lesi. Hal ini biasanya timbul 2-3 segmen dibawah tipgkat lesi
Gangguan pada LMN pada tingkat lesi menyebabkan paralisis LMN ipsilateral pada tingkat lesi.
Gangguan pada serabut aferen yang memasuki medula spinalis pada tingkat lesi dan belum menyilang menyebabkan timbulnya daerah anesthesia pada kulit pada sisi ipsilateral
Gambar 1.3.3.1. Gambaran klinis sindrom Brown Sequard murni
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA KEGAWAT DARURATAN TULANG BELAKANG
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA KEGAWAT DARURATAN TULANG BELAKANG Gambar 1.3.3.2 Osteofit pada
spondilosis dapat menekan sistem anastomosis arterial anterior (A)
atau a.radikulares (B)
Penyebab sindrom Brown Sequard dapat dibedakan menjadi penyebab trauma atau non trauma. Trauma merupakan penyebab tersering sindrom ini, antara lain trauma tajam seperti tusukan benda tajam, luka tembakan, fraktur unilateraf facet, dan dislokasi akibat jatuh atau kecelakaan, selain itu dapat pula disebabkan oleh trauma tumpul, contusio tekanan dan manipulasi chiropraktik. Penyebab non trauma antara lain tumor medula spinalis, baik intrinsik ataupun ekstrinsik, penyakit degenerasi seperti herniasi diskus atau spondilosis servikalis, iskemia, perdarahan spinal subdural atau epidural atau hematomyelia, infeksi atau peradangan seperti meningitis, empyema, herpes zoster, herpes simpleks, myelitis, tuberkulosis, sifilis, multipel sklerosis.1 AJA
Lesi spinovaskuler paling sering dijumpai berupa paraplegia yang selalu disertai gangguan miksi dan defekasi, sebagian kecil berupa sindrom Brown Sequard. Lesi spinovaskuler lebih sering disebabkan oleh proses kompresi terhadap arteri spinalisdari luar daripada proses oklusi di lumen, lebih jarang lagi disebabkan oleh gangguan tekanan perfusi yang menurun akibat menurunnya tekanan darah sistemik. Tumor di dalam kanalis vertebralis, HNR pakimeningitis, fraktur kolumna vertebralis akibat trauma dan osteofit tulang belakang dapat menekan arteri yang memperdarahi medula spinalis. Tergantung pada lokasi proses penyebab kompresi, dapat terjadi lesi yang menentukan gambaran klinis. Aliran darah yang tersumbat ialah lairan salah satu cabang intramedular sistem anastomosis arterial anterior.3
ANATOMI DAN KLASIFIKASI LESI MEDULA SPINALIS
Baik paraplegia maupun sindrom Brown Sequard akibat lesi vaskular dapat dibedakan dari paraplegia/sindrom Brown Sequard akibat lesi nonvaskular dengan menyelidiki tanda - tanda LMN. Oleh karena kebanyakan* lesi vaskuler di medula spinalis hampir selalu merusak 2/3 bagian bawah segmen medula spinalis sepanjang bagian torakal bawah sampai sakral atau torakal Tengah sampai lumbal bawah, tergantung pada variasi topografik arteria radikularis magna Adamkiewicz, maka tanda - tanda LMN akan ditemukan walaupun batas defisit sensorik jelas pada tingkat tinggi, yang lebih sesuai untuk dikorelasikan dengan tanda-tanda UMN. Jadi paraplegiaflaksid yang menetap dengan batas sensorik pada tingkat torakal tengah atau J bawah merupakan ciri khas untuk lesi vaskuler akibat penyumbatan sistem anastomosis arterial anterior 3
Diagnosis
Diagnosis sindrom Brown Sequard ditegakkan berdasarkar anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis seringkah menggambarkan penyebab sindrom ini. Onset keluhan bisa akut atau progresif Keluhan berhubungan dengan hemiparesis atau hemiparalisis, dan perubahan sensoris, paresthesia, atau dysesthesia pada tungkai kontralateral. Kelemahan atau perubahan sensoris tunggal dapat ditemui.1
Temuan pada pemeriksaan fisik menentukan diagnosis sindrom Brown Sequard. Dalam praktek klinis, sindrom murni klasik jarang ditemukan. Pemeriksaan tenaga menunjukkan kelemahan spastik atai paralisis dengan tandalesi UMN yaitu tonus meningkat, hiperrefleksia, klonus, dan tanda Hoffman pada satu sisi tubuh. Kekuatan otot yang diatur oleh radix spinalis servikal dan lumbar harus dinilai dalam skala 0-5. Pasien dites dengan posisi yang terpengaruh gravitasi atau menghilangkan pengaruh gravitasi. Pemeriksaan sensoris dilakukan sesuai dermatom dari C2-S4/5 untuk menemukan kehilangan, berkurangnya atau normalitas sensasi raba halus, nyeri, dan suhu. 1
Temuan tersebut selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan standar American Spinal Injury Association (ASIA) pada klasifikasi LMS (Lesi medula spinalis). Tingkat neurologis didefinisikan sebagai
ANATOMI DAN KLASIFIKASI LESI MEDULA SPINALIS ASIA IMPAIRMENT SCALE
□ A = Complet: No motor or sensory
function is preserved in the sacral segments S 4-S5.
□ B = Incomplet: Sensory but not motor function is preserved below the neurological level and Includes the sacral segment S4-SS.
□ C = Incomplete: Motor function is
preserved below the neurological level, and more than half of key muscle below the neurological level have a muscle grade less than 3.
□ D= Incomplet: Motor function is
preserved below neurological level, and at least half of key muscle grade of 3 or more.
□ E = Normal: Motor and sensory function are normal. CLINICAL SYNDROMES □ Central cord □ Brown- Sequard □ Anterior Cord □ Conus Medullaris □ Cauda Equina
segman paling kaudal dengan fungsi normal. Penilaian komplit atau inkomplit didasarkan atas fungsi sensoris atau motoris pada segmen S4/5. Skala gangguan ASIA menggambarkan derajat cedera inkomplit berdasarkan fungsi sensoris dan motoris dibawah tingkat neurologis.1
Tabel 1.3.3.1. Skala Gangguan ASIA
Pemeriksaan laboratorium kurang penting untuk menilai kedaan -asien namun dapat membantu untuk mengikuti perjalanan klinis pasien. Pemeriksaan laboratorium dapat Bergurta pada sindrom drown Sequard /ang penyebabnya nontrauma, setain itu tidak banyak berguna pada proses diagnosis. '°'6
Foto polos posisi antero-posterior dan lateral pada daerah yang diperkirakan mengalami trauma akan memperlihatkan adanya fraktur ian mungkin disertai dengan dislokasi. Pada ruang gawat darurat, foto lateral daerah vertebra yang diperkirakan mendapat trauma
; Vl . 1 ANATOMI DAN KLASIFIKASI LESI •••••■ 1MEDULA SPINALIS
harus dikerjakan segera, meskipun penderita telah membawa fotc dari rumah sakit sebelumnya (khususnya pada trauma di daerah servikal). Tujuan tindakan ini adalah untuk memastikan tidak terjac perubahan jajaran vertebra (alignment) sewaktu diangkat atau dipindahkan. Pada trauma daerah servikal fgto dengan posisi mulu terbuka dapat membantu ialarn memeriksa adanya kemungkinai fraktur vertebra Cl -C2/MRI digunakan untuk menentukan luasny cedera medula spinalis 'dari berguna saat membedakan etiolog nontrauma. CT myelografi dapat digunakan saat MRI merupakan kontraindikasi atau tidak tersedia, frlyelografi tidak diindikasikan pada cedera akut, namun dianjurkan pada penderita yang telah sembuh dari trauma pada daerah lumbal, sebab sering terjadi herniasi diskus intervertebralis.'’'6-7-8'9'10
DAFTAR PUSTAKA
1. Albanese.C.V Brown Sequard Syndrome. Available at: http://
www.emedicine.com/pmr/TOPIC 17.HTM. (Last update December 2006). Accesed: November I 1,2007
2. Waxman, S.G. 2000. Correlative Neuroanatomy, 24‘ ed.McGraw-Hill USA
3. Mardjono,M;Sidharta,R 2004. Neurologi Klinis Dasar, cetakar kesepuluh. Dian Rakyat Jakarta.
4. Beeson,M.S. Brown Sequard Sybdrome. Available at: http://
www.emedicine.com/emerg/topic70.htm (last update February, 2007). Acceseed: November I 1, 2007.
5. McCarron.M.A.et al. Traumatic Brown-plus Sequard Syndrome Available at :http://archneur.ama-assn.org/cgi/reprint/58/9/147(
(last update :200l) Acesed : November I 1,2007
6. Hadinoto.S. 2003. "Trauma Medula Spinalis” dalam : Kapita Selekta Neurologi. 2003 Harsono (ed) Gadjah Mada University press. Yogyakarta.
7. GleaveJ.R.G; Taylor,R.G. 1957. Incomplete Lesi medula spinalis
• 40 ,
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA KEGAWAT DARURATAN TULANG BELAKANG
ibjs.org.uk/cgi/reprint/39-B/3/438 (last update: August 1957). Accesed : November I 1,2007
B Upper,M.H et al. Brown Sequard Syndrome of the Servikal Spinal Cord after Chiropractic Manipulation. Available at :
http://www.ajnr.org/cgi/reprint/19/7/1349 (last update : August 1998) Accessed : November I 1,2007
9. De Jong. W.;Sjamsuhidajat,R.. Buku Ajar Ilmu Bedah ed.2. EGC. Jakarta, (ed) 2003
10. Apley, A.G; Solomon, L. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley ed 7. Widya Medika, Jakarta. 1995.
1.3.4.
CENTRAL CORD SYNDROME
(CCS)CCS merupakan salah satu tipe dari Lesi medula spinalis (LMS). I MS dapat terjadi akibat berbagai proses patologis termasuk trauma. Apapun penyebabnya, LMS dapat menimbulkan kelainan motorik, sensorik maupun autonom yang signifikan.
Central Cord Syndrome (CCS) adalah suatu kumpulan gejala akibat adanya cedera pada segmen servikal medula spinalis. Sindroma ini ditandai oleh adanya kelemahan pada ekstremitas atas dan bawah disertai oleh gangguan sensori dan berkemih. CCS sering terjadi pada orang tua, namun dapat juga terjadi pada golongan usia dewasa muda. Seperti tipe-tipe LMS yang lain, sebagian besar kasus CS terjadi akibat trauma. Meskipun beberapa fungsi tubuh yang terganggu pada CCS dapat kembali normal setelah beberapa waktu, namun penanganan dan pengobatan yang tepat sangat dibutuhkan untuk mencegah kecacatan menetap pada pasien. Dengan demikian, •.clain pilihan terapi medika mentosa dan pembedahan, fisioterapi adalah modalitas terapi yang juga penting dalam penanganan CCS.
j
CCS adalah salah satu tipe acute servikal lesi medula sfjinalis (LMS) yang terjadi akibat injuri inkomplit pada medula spinalis segmen servikal dan ditandai oleh kelemahan motorik yang lebih parah pada ekstremita atas dibandingkan pada ekstremias bawah, disfungsi kandung kemih dar gangguan sensori yang bervariasi di bawah level lesi.
; Vl . 1 ANATOMI DAN KLASIFIKASI LESI •••••■ 1MEDULA SPINALIS
Meskipun lebih sering terjadi pada orang tua dengan servika spbndylosis yang mengalami injuri hiperekstensi, kelainan ini dapa' terjadi pada berbagai usia dan secara umum memiliki distribus bimodal, yaitu insiden yang tinggi pada dewasa muda akibat traum dan insiden yang tinggi pada usia tua akibat spondylosis.1'2 3,4 5'6
Patofisiologi
1 ,2,3,7,8CCS terjadi akibat injuri inkomplit pada bagian sentral segmer servikal medula spinalis, paling sering pada segmen sevikal bagian tengah hingga bagian bawah. Kasus CCS di masyarakat sering terjadi melalui mekanisme injuri hiperekstensi pada penderita spndylosis servikal. Injuri tersebut terjadi akibat trauma yang mengakibatkan pendesakan ligamentum flavum (ligamen kuat yang saling menghubungkan lamina vertebrae, yang berfungsi untuk melindung' saraf dan medula spinalis dan menstabilisasi spina sehingga tidak terjadi pergerakan yang berlebihan pada vertebrae) yang akhirnya menjepit medula spinalis dari posterior dan/atau akibat kompres oleh osteofit dari anterior.
Pendapat lain menyebutkan bahwa kerusakan medula spinalis kemungkinan terjadi akibat kontusio pada medula spinalis. Kontusio ini terjadi karena medula spinalis terapung dalam CSF, jika terjadi goncangan misalnya akibat terjatuh maka akan terjadi osilasi yang jika tidak teratur dapat mengakibatkan benturan medula spinalis ke vertebrae. Akibatnya terjadi stasis aliran aksoplasma, sehingga lebih cenderung terjadi injuri yang edematous daripada hematomyelia destruktif.
Penelitian yang lebih mutakhir menemukan bahwa CCS mungkin terjadi akibat perdarahan ke bagian sentral medula spinalis. Selain itu, CCS juga kemungkinan terjadi akibat disrupsi akson di kornu latera: pada level injuri namun tidak mengakibatkan kerusakan signifikar pada gray
ANATOMI DAN KLASIFIKASI LESI MEDULA SPINALIS
CCS juga dapat terladi akibat fraktur dislokasi dan fraktur kompresi, khususnya pada individu yangtelah mengalami penyempitan kanalis spinalis secara kongenital. Tekanan kompresi yang arahnya anteroposterior ini mengakibatkan kerusakan yang lebih parah di daerah sentral.
Mekanisme injuri di atas mengakibatkan kerusakan yang paling parah pada bagian sentral medula spinalis dan kerusakan yang lebih i mgan pada bagian perifer dari medula spinalis. Injuri pada area ini mengakibatkan krusakan pada traktus spinothalamic lateralis dan traktus kortikospinalis. Gangguan motorik maupun sensorik pada CCS terjadi akibat pola laminasi traktus corticospinal dan traktus spinothalamic yang khas pada medula spinalis. Traktus spinothalamic lateralis memiliki susunan laminasi dengan pola somatotopik, dimana serat-serat yang berasal dari segmen sakral terletak paling dorsolateral selanjutnya disusul oleh serat dari segmen lumbal dan torakal dan terakhir serat pada segmen servikal terletak paling ventromedial. Karena CCS
■ 43 >
Gambar 1.3.4.1. Injuri hiperekstensi pada segmen servikal medula spinalis
disebabkan oleh injuri pada bagian sentral, maka serat-serat dari bagian servikal yang mengalami injuri parah sedangkan serat-serat dari bagian sakral tidak mengalami injuri. Kerusakan inkomplit pada traktus ini mengakibatkan hilangnya kemampuan sensorik hingga batas-batas tertentu dalam hal pengantaran impuls rasa nyeri dan suhu. Selain itu, kerusakan pada traktus ini dapat mengakibatkan hilangnya kemampuan motorik yang berhubungan dengan rasa penuh pada kandung kemih, keinginan untuk miksi, rasa nyeri pada kandung kemih, urethra dan ureter, sehingga pada CCS terjadi ^isfungsi kandung kemih.
Kerusakan traktus kortikospinalis dapat mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk mengadakan pergerakan di bawah kemauan terutama pada bagian distal ekstremitas baik atas maupun bawah. Karena tipe laminasi traktus corticospinal dimana serat-serat yang melayani tangan terletak lebih medial daripada serat-serat yang melayani kaki, maka injuri inkomplit di sentral segmen servikal medula spinalis akan mengakibatkan kelemahan pada ekstremitas atas yang lebih parah daripada ekstremitas bawah. Sendi-sendi yang terletak di sebelah proksimal maupun gerakan-gerakan yang bersifat kasar bisanya tidak terlalu terpengaruh. Jika terjadi injuri yang mengakibatkan perdarahan atau trombosis (seperti pada CCS) yang mengenai traktus ini, maka pada awalnya akan tampak hilangnya tonus pada otot-otot yang bersangkutan. Setelah beberapa hari atau minggu, tonus pada otot akan kembali secara berangsur-angsur hingga pada akhirnya justru dapat terjadi spastisitas. Jika kerusakan serat upper motor neuron yang melayani ekstremitas bawah cukup berat, refleks babinsky akan positif.