• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Sosial dan Budaya

II. POTENSI DAN PERMASALAHAN

2.1 Potensi

2.1.3 Kondisi Sosial dan Budaya

2.1.3 Kondisi Sosial dan Budaya

a. Kependudukan

Analisis kependudukan dilakukan dengan teknik statistik deskriptif. Data kependudukan merupakan data sekunder yang diperoleh dari publikasi Badan Pusat Statistik. Data yang diperoleh akan dikumpulkan dan digolongkan kemudian data disajikan dalam bentuk tabel atau grafik untuk dideskripsikan. Berikut adalah hasil analisis kependudukan di kawasan SAP Kubu Raya dan Kayong Utara.

Kawasan ini mencakup 5 kecamatan di Kabupaten Kayong Utara dan 1 kecamatan di Kubu Raya yaitu Kecamatan Batu Ampar. Sehingga pengelolaan SAP Kubu Raya dan Kayong Utara akan melibatkan penduduk di kedua kabupaten tersebut. Kecamatan Simpah Hilir merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu sejumlah 117.402 jiwa. Namun kecamatan dengan kepadatan tertinggi adalah Kecamatan Teluk Batang dengan kepadatan 102,77 jiwa/ km2.

Tabel 15. Jumlah penduduk berdasarkan kecamatan di Kabupaten Kayong Utara

No. Kecamatan Jumlah Penduduk

(jiwa) Kepadatan (jiwa/km

2) 1 Pulau Maya 15.343 13,88 2 Teluk Batang 21.974 102,77 3 Seponti 11.718 28,05 4 Simpah Hilir 33.166 16,33 5 Kepulauan Karimata 3.597 12,71 6 Batu Ampar 36.844 18

Sumber: Badan Pusat Statistik (2019)

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 56 tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian membagi klasifikasi tingkat kepadatan penduduk pada suatu daerah kedalam 4 kategori, yaitu:

1) Tidak padat (1-50 jiwa/km2) 2) Kurang padat (51-250 jiwa/km2) 3) Cukup padat (251-400 jiwa/km2) 4) Sangat padat (>400 jiwa/km2)

Berdasarkan klasifikasi tersebut, 83,3% kecamatan di sekitar kawasan SAP Kubu Raya dan Kayong Utara tergolong tidak padat dengan rata-rata kepadatan penduduk 17,8 jiwa/km2. Kecamatan dengan kategori kepadatan tidak padat adalah Kecamatan Pulau Maya, Kecamatan Seponti, Kecamatan Simpah Hilir, Kecamatan Kepulauan Karimata, dan Kecamatan Batu Ampar. Sedangkan sisanya 16,7% merupakan kecamatan dengan kategori kurang padat yaitu Kecamatan Teluk Batang. Tingkat kepadatan ini menujukkan bahwa di sekitar kawasan SAP Kubu Raya dan

26

Kayong Utara masih bisa dilakukan pembangunan untuk mempermudah pengelolaan kawasan tersebut.

b. Ketenagakerjaan

Analisis ketenagakerjaan dilakukan dengan teknik statistik deskriptif. Analisis yang dilakukan pada aspek ketenagakerjaan adalah tingkat partisipasi angkatan kerja dari penduduk di Kabupaten Kayong Utara. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) merupakan suatu indikator ketenagakerjaan yang memberikan gambaran tentang penduduk yang terlibat aktif secara ekonomi dalam kegiatan sehari-hari merujuk pada suatu waktu (Mala et al., 2017).

Tabel 16.Jumlah angkatan kerja dan bukan angkatan kerja Kabupaten Kayong Utara Tahun

Angkatan Kerja

Bukan Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran Jumlah

2014 47.869 2.038 49.898 21.113

2015 49.278 1.927 51.205 21.497

2017 42.986 2.262 45.248 30.551

2018 48.743 1.993 50.736 26.557

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2019

Data tersebut kemudian diolah dengan menggunakan rumus TPAK yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik, yaitu:

Keterangan:

TPAK : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja 𝑎 : Jumlah angkatan kerja

𝑏 : Jumlah penduduk berusia >15 tahun

Hasil analisis menunjukan bahwa pada tahun 2018 Kabupaten Kayong Utara memiliki nilai TPAK sebesar 65,6%. Artinya, 65,6% penduduk usia kerja di Kabupaten Kayong Utara aktif secara ekonomi berupa ketersediaan pasokan tenaga kerja untuk memproduksi barang dan jasa di Kabupaten Kayong Utara. Nilai ini sedikit lebih rendah dari TPAK Provinsi Kalimantan Barat tahun 2018 yaitu sebesar 68,65 yang artinya 68,65% penduduk usia kerja di Provinsi Kalimantan Barat aktif secara ekonomi.

𝑇𝑃𝐴𝐾 =𝑎

27 Tabel 17.TPAK Kabupaten Kayong Utara

Tahun Angkatan Kerja Bukan Angkatan Kerja Jumlah TPAK

2014 49.898 21.113 71.011 70,3

2015 51.205 21.497 72.702 70,4

2017 45.248 30.551 75.799 59,7

2018 50.736 26.557 77.293 65,6

c. Pendidikan

Analisis pendidikan dilakukan dengan teknik analisis deskriptif. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara wawancara 39 orang responden di sekitar SAP Kubu Raya dan Kayong Utara yang dipilih secara acak (simple random sampling). Sedangkan data sekunder merupakan data jumlah angkatan kerja menurut tingkat pendidikan di Kabupaten Kayong Utara yang diperoleh dari publikasi Badan Pusat Statistik. Data yang diperoleh akan dikumpulkan dan digolongkan kemudian data disajikan dalam bentuk tabel atau grafik untuk dideskripsikan. Berikut adalah hasil analisis pendidikan di kawasan SAP Kubu Raya dan Kayong Utara.

Gambar 13.Tingkat pendidikan angkatan kerja Kabupaten Kubu Raya tahun 2018 (BPS, 2019)

Hasil analisis data menunjukkan bahwa mayoritas angkatan kerja di Kayong Utara memiliki latar belakang pendidikan di tingkat SD/kebawah dengan persentase 35%. Sedangkan sisanya memiliki latar belakang di tingkat SMP sederajat sebanyak 6%, SMA sederajat 23%, diploma 13%, dan sarjana 23%.

SD kebawah 35% SMP sederajat 6% SMA sederajat 23% Diploma 13% Sarjana 23%

28

Gambar 14.Tingkat pendidikan Responden (Hasil Survei Tim RPZ Kalimantan Barat)

Masyarakat di sekitar kawasan SAP Kubu Raya dan Kayong Utara mayoritas hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar yaitu sebesar 77%. Jika mengacu pada program wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, capaian ini masih kurang. Ditambah lagi masih ada 10% masyarakat yang tidak sekolah. Kondisi ini tentu akan mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya pesisir dan laut yang ada di Kabupaten Kayong Utara.

d. Pemahaman Konservasi

Analisis pemahaman konservasi dilakukan dengan menggunakan teknik satistik deskriptif. Data yang dianalisis adalah data hasil wawancara 39 orang responden yang dipilih secara acak (simple random sampling). Data yang digunakan merupakan data primer yang diperoleh dari kuesioner yang telah diisi oleh seluruh responden. Data tersebut terdiri dari tingkat pendidikan, pemahaman konservasi dan partisipasi dalam edukasi konservasi.

Gambar 15.Pemahaman konservasi responden (Hasil Survei Tim RPZ Kalimantan Barat)

SD/sederajat 77% SMP/sederajat 8% SMA/sederajat 5% Tidak Sekolah 10% Tahu 15% Tidak Tahu 85%

29 Hasil survei menunjukkan sebanyak sebanyak 85% responden tidak mengetahui mengenai kawasan perairan yang dilindungi maupun yang dilindungi maupun dikelola dengan sistem zonasi. Hanya 15% memiliki pengetahuan mengenai kawasan konservasi yang berada di area daratan meliputi hutan lindung dan perlindungan lahan gambut seperti kawasan mangrove. Tidak ada responden yang secara spesifik mengetahui mengenai konservasi kawasan perairan. Hanya beberapa responden yang mengetahui jenis-jenis ikan dilindungi seperti pesut dan hiu.

Gambar 16.Partisipasi edukasi konservasi responden (Hasil Survei Tim RPZ Kalimantan Barat)

Kurangnya pemahaman konservasi tersebut disebabkan oleh rendahnya keterlibatan masyarakat dalam edukasi kawasan konservasi. Sebagian besar masyarakat tidak pernah mendapatkan edukasi ataupun sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah, NGO, ataupun kelompok masyarakat dengan persentase 95%. Masyarakat yang pernah mendapatkan edukasi mengenai Konservasi hanya sejumlah 5% dengan intensitas 1-2 kali. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan edukasi atau sosialisasi mengenai konsep konservasi dan pengelolaannya perlu untuk segera dilakukan.

e. Dukungan Masyarakat

Analisis dukungan masyarakat dilakukan dengan menggunakan teknik satistik deskriptif. Metode pengambilan data yang dilakukan adalah wawancara dengan 39 orang responden yang dipilih secara acak (simple random sampling). Data yang digunakan merupakan data primer yang diperoleh dari kuesioner yang telah diisi oleh seluruh responden. Data tersebut terdiri dari dukungan terhadap kawasan konservasi dan keinginan untuk terlibat.

1-2 Kali 5%

Tidak Pernah 95%

30

Gambar 17.Dukungan responden terhadap kawasan konservasi

(Hasil Survei Tim RPZ Kalimantan Barat)

Hasil analisis dukungan masyarakat menunjukkan bahwa 74% responden sangat setuju dengan adanya kawasan konservasi. Menurut mereka kawasan konservasi mampu memberikan pengaruh positif terhadap penghasilan penduduk sekitar yang bekerja sebagai nelayan karena kelestarian lingkungan akan terjaga dan dapat mendukung habitat ikan untuk berkembang biak. Beberapa responden yang setuju menyampaikan syarat berupa penentuan kawasan konservasi tidak mengganggu hasil tangkapan nelayan serta pemberlakukan aturan konservasi secara adil dan merata. Sedangkan sisanya 26% tidak setuju dengan adanya kawasan konservasi. Karena mereka menganggap bahwa kawasan konservasi akan mengurangi hasil tangkapan ikan karena semakin berkurangnya area tangkapan. Persepsi ini muncul karena belum meratanya pemahaman mengenai kawasan konservasi dengan prinsip pengelolaan berkelanjutan.

Gambar 18.Bentuk keterlibatan responden dalam pengelolaan kawasan konservasi

(Hasil Survei Tim RPZ Kalimantan Barat)

Sangat Setuju 74% Tidak Setuju 26% Ikut dalam Pengawasan 3% Terlibat dalam Organisasi 54% Tidak ingin terlibat 2% Terlibat dalam Waktu Pendek 13% Sebagai Peserta Sosialisasi 28%

31 Analisis selanjutnya adalah keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan SAP Kubu Raya dan Kayong Utara. Analisis ini menunjukkan bentuk keterlibatan yang diinginkan oleh masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa masyarakat cukup antusias dengan kegiatan konservasi. Antusiasme tersebut terdiri dari ketertarikan untuk ikut dalam sosialisasi sebanyak 28%, kemauan untuk ikut dalam beberapa kegiatan dalam waktu pendek sebanyak 13%, kemauan untuk ikut dalam kegiatan pengawasan sebanyak 3%, dan kemauan untuk terlibat aktif dalam organisasi masyarakat yang bergerak dalam bidang konservasi sebanyak 54%. Hanya 2% responden yang tidak ingin terlibat dalam kegiatan konservasi. Semakin banyak penduduk yang ingin terlibat maka semakin besar peluang keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi.

f. Kelembagaan

Belum terdapat lembaga mandiri atau kelompok masyarakat yang bergerak di bidang konservasi perairan. Namun di Kecamatan Simpang Hilir terdapat organisasi masyarakat yang bergerak di konservasi darat yaitu Kelompok Masyarakat Peduli Gambut yang memiliki tugas untuk memberikan edukasi terhadap sesama masyarakat mengenai pentingnya lahan gambut serta tata kelola lahan gambut. Tujuan kelompok masyarakat ini adalah mengurangi intensitas terjadinya kebakaran hutan gambut di kecamatan tersebut.

Dokumen terkait