• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tim Pokja IV. HASIL PELAKSANAAN

4.3. Kondisi Sumberdaya Pesisir dan Laut Desa Batu Putih

Desa Batu Putih secara fisik termasuk wilayah pesisir yang merupakan daerah yang potensial bagi pengembangan usaha dibidang perikanan. Namun karena pengetahuan dan tingat kesadaran masyarakat yang relatif kurang merupakan faktor penyebab pemanfatan kawasan ini belum dikelola secara optimal.

Ditinjau dari ketersediaan lahan yang potensial untuk pengembangan budidaya khususnya KJA, serta merupakan pengolahan hasil kerajinan kerang dan memiliki kawasan mangrove, namun saat ini justru kalah oleh penambangan liar (mencari emas) sehingga lokasi ini kurang diliat lagi oleh masyarakat karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomi walaupun potensinya cukup besar untuk pengembangan budidaya.

Desa Batu Putih berdiri pada tahun 2003, pemekaran dari Desa Pelangan. Luas Desa Batu Putih ± 12.225 Ha. Desa Batu Putih trdiri dari 7

IV - 32

Tim Pokja

Dusun dan mata pencharian penduduknya rata – rata sebagai Petani dan nelayan. Secara administrasi Desa Batu Putih merupakan bagian dari Kecamatan Sekotong yang terletak berbatasan dengan :

Sebelah Utara : Samudra Indonesia

Sebelah selatan : Samudra Indonesia

Sebelah Timur : Desa Pelangan

Sebelah Barat : Selat Lombok

Desa Batu Putih merupakan salah satu Wilayah yang ada di Kecamatan sekotong dan terletak paling jauh dari kecamatan sekotong. Sebagian masyarakat mengembangkan Kerajinan untuk menambah Penghasilan sehari – hari.

Dalam satu dekade belakangan ini, laju pemanfaatan sumber daya di wilayah pesisir mulai intensif untuk memenuhi kebutuhan penduduk dan kebutuhan lahan untuk pemukiman masyarakat. Salah satu potensi wilayah pesisir yang telah dimanfaatkan manusia sejak dahulu adalah sebagai tempat tinggal dengan alasan yang bervariasi seperti transportasi, tingginya aktivitas perdagangan dan lain sebagainya. Kecenderungan yang terjadi hampir di seluruh wilayah pesisir selatan Lombok Barat saat ini adalah pemanfaatan areal kawasan sempadan pantai bagi pembangunan sarana penunjang pariwisata bahari seperti ; hotel, villa dan sejumlah café dan rumah makan. Mengingat wilayah pesisir yang umumnya sebagai

IV - 33

Tim Pokja

tempat hidup dan berkembangnya sejumlah habitat ekosistem vital, maka aspek pemanfaatan sumberdaya alam pesisir harus dilakukan secara bijaksana dan berbasis pada pelestarian lingkungan. Sehingga fungsi keberlanjutan ekosistem pesisir sebagai penyedia sumberdaya alam dan daya dukung lingkungan bagi kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah di masa mendatang akan terus berkembang seiring dengan kebutuhan.

Ekosistim Mangrove

Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik. Masing-masing elmen dalam ekosistem memiliki peran dan fungsi yang saling mendukung. Kerusakan salah satu komponen ekosistem dari salah satunya (daratan dan lautan)

secara langsung berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem

keseluruhan. Hutan mangrove merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemaran.

Ekosistem mangrove, baik secara sendiri maupun secara bersama dengan ekosistem padang lamun dan terumbu karang berperan penting dalam stabilisasi suatu ekosistem pesisir, baik secara fisik maupun secara biologis. Selain itu, ekosistem mangrove juga merupakan sumber plasma nutfah yang cukup tinggi (di Indonesia terdiri atas 157 jenis tumbuhan

IV - 34

Tim Pokja

tingkat tinggi dan rendah, 118 jenis fauna laut dan berbagai jenis fauna darat.

Desa Batu Putih merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki hutan mangrove yang berada di 2 (dua) Dusun yakni Labuan Poh dan Dusun Bangko – Bangko. Kawasan mangrove ini yang memiliki luas 15,71

Ha di Dusun Labuan Poh dengan posisi kordinat S : 08o45’59,3” S :

115o53’03,1” sedangakn di Dusun Bangko – Bangko memiliki luas 50,28 Ha

yang berada pada posisi S : 08o43’39,2” S : 115o51’24,6”. Untuk lebih

jelasnya jenis dan sebaran mangrove di Desa batu Putih dapat dilihat pada table 4.10 sebagai berikut.

Tabel 4.10. Keragaan Kondisi Potensi Sumber Daya Ekosistem Mangrove di Desa

Batu Putih

No Lokasi Jenis Mangrove

Keragaan Distribusi Jenis Ekosistem Mangrove Kr (%) Dr (%) Fr (%) INP (%) 1. Desa Batu Putih

(Labuan Poh)  Rhizophora sp  Bruguiera gymnorhiza 13,23 0,81 8,22 0,93 7,51 1,35 28,96 3,09 2. Desa Batu Putih

(Bangko-bangko)  Rhizophora sp  Bruguiera gymnorhiza 42,11 11,21 23,14 9,23 17,37 8,23 82,62 28,67 Keterangan : Kr = Kerapatan Relatif Dr = Dominansi Relatif Fr = Frekuensi Relatif INP = Indeks Nilai Penting

IV - 35

Tim Pokja

Berdasarkan tabel 4.10. tersebut di atas, terlihat bahwa Indeks Nilai Penting (INP) ekosistem mangrove yang ada di dua Dusun yakni Labuan Poh dan Dusun Bangko - Bangko berkisar antara 3,09% - 28,67% untuk jenis Bruguiera gymnorhiza sedangkan untuk jenis Rhizophora sp 28,96% - 82,62%. Untuk Kerapan relatifnya sendiri berkisara natara 0,81% - 11,21% untuk jenis Bruguiera gymnorhiza sedangkan untuk jenis Rhizophora sp 13,23% - 4,11%.

Ekosistim Padang Lamun

Lamun merupakan satu kelompok tumbuhan berbunga, berbuah dan menghasilkan biji yang terdapat di lingkungan laut, mempunyai tunas, berdaun tegak dan rizoma merayap yang efektif untuk berbiak, mempunyai akar dan sistem internal untuk mengikat gas dan zat-zat hara.

Dari hasil pengamatan Desa Batu Putih memiliki kawasan ekosistim padang lamun dengan nilai indeks nilai penting (INP) ekosistem padang lamun yang ada di Gili Asahan dari jenis Enhalus acaroides (60,04%) dengan tingkat kerapatan relatifnya mencapai 23,12%. Sedangkan unjuk jenis Halodule uninervis memiliki INP sebesar 21,62% dengan kerapatan relatifnya 8,39%.

IV - 36

Tim Pokja

Tabel 4.11. Ekosistem Padang Lamun di Desa Buwun Mas

No Lokasi Jenis Lamun

Keragaan Distribusi Jenis Ekosistem Padang Lamun

Kr

(%) (%) Dr (%) Fr INP (%) 1. Batu Putih (Gili

Asahan)  Enhalus acaroides  Halodule uninervis 23,12 8,39 18,32 6,11 19,6 7,12 61,04 21,62 Keterangan : Kr = Kerapatan Relatif Dr = Dominansi Relatif Fr = Frekuensi Relatif INP = Indeks Nilai Penting Kalender Penangkapan Ikan

Masyarakat pesisir Desa Batu Putih memiliki aktifitas sama dengan masyarakat pesisir pada umumnya yakni nelayan/menangkap ikan. Secara teknis masyarakat memiliki hari atau musim dimana merka akan melakukan penangkapan ikan, terlebih seketika masuk musim ikan – ikan tertentu yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat pesisir Desa Batu Putih selama ini berdasarkan kebiasaan yang telah diwarisi secara turun temurun baik alat tangkap serta cara menangkap ikan semuanya masih dilakukan secara tradisional.

Hasil tangkapan ikan oleh masyarakat nelayan Desa Batu Putih cukup bervariasi mulai dari jenis ikan – ikan yang kurang ekonomis sampai dengan jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi seperti Kerapu, Kakap udang dll. Dari table 4.12 dapat dilihat kalender musim penagkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan Desa Batu Putih tidak setiap saat

IV - 37

Tim Pokja

bias melakukan aktivitas penangkapan ikan hal ini pengaruhi oleh musim maupun cuaca. Hal ini bias dilihat pada bulan maret sampai dengan Desember untuk jenis ikan Tongkol, ikan Ucul hanya ada pada bulan Maret dan April saja untuk bulan lain tidak ada, ikan Kerapu ada pada bulan Maret sampai Desember kendatipun dalam bulan – bulan tersebut hasil tangkapan kurang.

Table 4.12. Kalender Musim Penangkapan di Desa Batu Putih

Keterangan :

+++ = Kondisi musim biota laut Banyak Sekali ++ = Kondisi musim biota laut sedang Banyak + = Kondisi musim biota laut sedang sedikit

- = Kondisi musim biota laut tidak ada sama sekali

Biota Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kakap Merah - - + ++ ++ +++ + + + + + + Tongkol - - ++ ++ ++ ++ +++ +++ +++ +++ + + Kucing + + ++ ++ + - - - - ++ ++ ++ Cumi ++ +++ + + - - - + ++ Tamban - - ++ ++ +++ + + + + + + + Languan + ++ ++ +++ + + + + + + + + Kerapu - - + ++ ++ +++ + + + + + + Tribang ++ ++ +++ + + + + - - - - - Layur - - +++ +++ - - - - Cotek - - +++ +++ - - - - Udang - - +++ +++ - - - - Banyar - - +++ +++ - - - - Ucul - - ++ ++ - - - - Kacangan - ++ +++ +++ - - - - Ladel + + +++ +++ - - - - Tengkurung + + + +++ - - - - Ekor Kuning + ++ +++ +++ - - - - Blanak + ++ +++ +++ - - - -

IV - 38

Tim Pokja

Identifikasi Issu dan Masalah

Program CCDP – IFAD merupakan program yang berbasis pembenahan masyarakat pesisir oleh karna itu sebelum melakukan pembenahan baik pada manusia maupun lingkungannya terlebih dahulu dilakukan kajian/identifikasi baik karakter masyarakatnya, ekologis, social, ekonomi serta lingkungan, sehingga hak tersebut bermanfaat untuk melakukan pembenahan sekaligus mengurangi resiko permasalahan atau konflik dikemudian hari.

Berdasarkan wawancara/diskusi baik secara formal maupun non formal beberapa permasalahan yang didapat dikaji antara lain :

1. Tidak adanya tempat pelelangan ikan 2. Posyandu

3. Belum adanya MCK/WC

4. Masih Kurangnya sarana dan prasarana penangkapan ikan 5. Belum adanya POSKO informasi

6. Masih belum memadainya sarana dan prasarana budidaya ikan 7. Terjadinya abrasi pantai

8. Rusaknya jalan setapak

9. Perlunya pelatihan – pelatihan dibidang pengolahan ikan 10. Belum adanya wisata kuliner

IV - 39

Tim Pokja

Dari permasalahan tersebut tersimpan sebuah harapan besar dari masyarakat Desa Batu Putih pada program CCDP – IFAD terhadap perubahan dalam pemberdayaan masyarakat pesisir melalui optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam local yang tersedia di Desa Batu Putih sehingga peningkatan taraf hidup serta adanya perubahan perilaku masyarakat.

Usulan Kegiatan dan Rencana Perioritas

Hasil wawancara usulan kegiatan serta rencana perioritas untuk pembangunan masyarakat pesisir dapat dilihat pada tabel 4.13 dan 4.14. Tabel 4.13. Usulan Kegiatan Desa Batu Putih.

No. Usulan Kegiatan Lokasi

1. Budidaya laut dan pembibitan

Alat penangkapan Labuan Poh

KJA Lobster

Kerajinan Kulit Kerang 2. Alat penangkapan

MCK/WC Nusa sari

Drainase

Jalan Setapak 2.000 meter 3. Jalan Setapak

Modal Usaha

MCK/WC Ketapang

IV - 40

Tim Pokja