Tim Pokja IV. HASIL PELAKSANAAN
4.1. Kondisi Sumberdaya Pesisir dan Laut Desa Sekotong Barat
Berdasarkan hasil Inventarisasi kondisi biogeofisik, ekonomi, sosial budaya dan kelembagaan di lokasi sasaran program CCDP-IFAD menggambarkan kondisi berikut :
Kondisi Eksisting Desa Sekotong Barat
Desa Sekotong Barat merupakan salah satu Desa Pesisir yang termasuk sasaran program CCDP-IFAD T.A 2014, terletak di Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat. Desa tersebut berada pada batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan Laut yakni perairan Selat Lombok Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sekotong Tengah.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kedaro. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Pelangan.
Penduduk Desa Sekotong Barat mayoritas adalah suku sasak dan umumnya beragama islam. Pekerjaan utama masyarakat sebagai nelayan dan bertani. Menurut hasil wawancara kami dengan beberapa stakeholders
IV - 2
Tim Pokja
menunjukkan bahwa kondisi sumberdaya alam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil mengalami penurunan kualitas, hal ini diindikasikan oleh semakin menurunnya jumlah tangkapan masyarakat nelayan sehingga berdampak pada semakin menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidup seperti biaya pendidikan dan kesehatan. Di samping itu, kondisi ekosistem perairan laut Desa Sekotong Barat juga terancam akibat aktivitas pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak ramah lingkungan seperti pelepasan jangkar perahu pada sejumlah gili yang berpotensi merusak terumbu karang, aktivitas penggunaan potassium dalam penangkapan ikan hias serta aktivitas snorkling yang berpotensi menginjak hamparan karang-karang yang dilewatinya. Adapun deskripsi umum kondisi ekosistem di Desa Sekotong Barat dengan berbagai karakteristik ekosistem laut seperti terumbu karang, hutan bakau, padang lamun, paparan dangkal intertidal, pertambakan, muara sungai, endapan sedimen, pantai berpasir dan pantai berbatu dapat ditemukan di sekitar kawasan Teluk Sekotong Barat (Tawun). Keragaman ekosistem tersebut menunjukkan indikasi keanekaragaman mahluk yang hidup di dalamnya.
Berbagai kepentingan pemanfaatan kawasan perairan sekotong barat berdampak pada penataan ruang wilayah pesisir dan laut yang terpadu sesuai dengan kapasitas yang masih mampu dibebankan pada kawasan tersebut. Berbagai kepentingan pemanfaatan tersebut adalah kawasan
IV - 3
Tim Pokja
budidaya pertambakan, budidaya mutiara, balai benih, dan budidaya keramba jaring apung..
Pengawasan lingkungan laut masih bertumpu pada aparat keamanan, sementara hal ini tidaklah efisien bila tidak dilibatkan masyarakat setempat. Para pembudidaya rumput laut, keramba jaring apung dan pengelola pariwisata berperan penuh terhadap pemantauan pengrusakan ekosistem. Hingga survei ini berlangsung baru satu kelompok pengawas masyarakat di sekitar Sekotong Barat yang sudah ada yaitu Pokwasmas Bay Watch. Padahal aktivitas kegiatan wisata bahari di wilayah ini cukup tinggi terutama di wilayah kepulauan gili tangkong, gili nanggu dan gili sudak. Sehingga peran semua pihak dalam menjaga kelestarian ekosistem diwilayah perairan Sekotong Barat secara terpadu dan berkelanjutan sangat diperlukan.
Potensi Pengembangan Pariwisata Bahari Berbasis Lingkungan
Sebagaimana diuraikan diatas bahwa salah satu potensi wisata yang ada di Desa Sekotong Barat adalah Gili Nanggu, Gili Tangkong, Gili Sudak serta beberapa gili-gili lainnya adalah merupakan aset pengembangan kawasan pariwisata yang berbasis pada wisata alam (Eco-tourism). Mengingat kawasan ini cukup kaya dengan berbagai biota yang didukung dengan kondisi perairan yang tenang.
IV - 4
Tim Pokja
Berbagai keunggulan di Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak dan sekitarnya merupakan pulau yang masih alami dengan keragaman hayati yang cukup tinggi, mempunyai privasitas yang cukup baik dan berpotensi dikembangkan sebagai kawasan destinasi wisata karena ke depan begitu banyak wisatawan yang menginginkan suasana yang tenang dan alami.
Berbagai sarana dan prasarana untuk pengembangan pariwisata di kawasan Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak ditunjang dari kawasan Sekotong yang merupakan kesatuan interaksi yang sinergis. Berbagai sarana dan prasarana tersebut antara lain; tersedianya infrastruktur berupa jalan yang menghubungkan daerah Sekotong dengan Ibu kota propinsi dan wilayah lainnya di pulau Lombok, sehingga aksesibilitas ke Gili akan menjadi lebih mudah, telah tersedianya alat transportasi laut berupa Boat ke Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak dan sekitarnya, saat ini jumlah boat yang beroperasi dari Tawun ke Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak adalah sebanyak 29 buah Boat dengan kapasitas mesin 15 – 45 PK. Disamping itu telah tersedianya beberapa sarana akomodasi baik di Gili Nanggu maupun di kawasan Sekotong Barat. Jumlah penginapan yang telah beroperasi di Gili Nanggu ada 1 buah dengan 12 unit bungalow, dan tercatat 5 lainnya berada di daratan Sekotong Barat. Tersedianya sarana akomodasi di daerah Sekotong setidaknya akan meningkatkan mobilitas
IV - 5
Tim Pokja
wisatawan ke daerah ini, yang juga akan berdampak pada intensitas kunjungan ke Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak dan sekitarnya. Di wilayah Sekotong Barat khususnya di Tawun juga sudah mulai berkembang sarana wisata seperti Dive Centre, dan Snorkling Rental. Tercatat ada 2 perusahaan dive centre yang beroperasi di kawasan ini.
Dilihat dari kondisi dan keragaman hayati lautnya, Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak merupakan gili yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan marine tourisme, kondisi terumbu karang dan ikan serta profil rataan terumbu yang ada dikawasan ini cukup ideal untuk kegiatan snorkling, hal ini juga didukung dengan kondisi arus dan gelombang yang tenang. Setidaknya ada lima ground point yang cocok untuk kegiatan snorkling di Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak yaitu di sebelah barat laut dan timur masing-masing 3 gili. Pengembangan pariwisata bahari di kawasan Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak dan sekitarnya juga potensial untuk kegiatan penyelaman ataupun kegiatan penelitian.
Dari hasil wawancara dengan masyarakat setempat, untuk menunjang kegiatan kepariwisataan di Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak dan sekitarnya pada khususnya dan di Sekotong pada umumnya, perlu adanya tourist information yang bisa diakses oleh para wistawan yang
IV - 6
Tim Pokja
berkunjung. Tourist information tersebut berfungsi untuk sarana promosi dan pusat informasi bagi kegiatan pariwisata di Sekotong Barat.
Pada intinya pengembangan pariwisata di kawasan ini harus sebesar-besarnya memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat sekitar tanpa merusak sistem ekologis di kawasan ini, sehingga diperlukan suatu pengaturan yang bersifat lokal untuk mengarahkan pengambangan pariwisata yang ramah lingkungan.
Pengembangan Kawasan Konservasi Perairan
Hasil pengamatan dan analisa terhadap Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak, menunjukkan bahwa ketiga gili tersebut disamping memiliki potensi untuk kegiatan pariwasata bahari, juga memiliki ideal value untuk kegiatan perikanan, khususnya budidaya laut. Namun keberlanjutan pemanfaatan kawasan tersebut menjadi terancam kalau dilihat dari gejala lingkungan ekologi bawah laut dimana terdapat karang yang mati dan mengalami keputihan (bleaching). Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan 3 gili tersebut pernah menjadi tempat yang ideal bagi pemburu ikan hias dengan menggunakan potasium. Oleh karena itu, guna menjaga eksistensi kondisi lingkungan tiga gili agar berfungsi secara berkelanjutan baik sebagai media pengembangan kegiatan wisata bahari maupun budidaya perikanan, maka perlu dipertimbangkan sistem dan pola pemanfaatan potensi 3 gili tersebut secara terintegrasi dan terkendali melalui Konsep Kawasan
IV - 7
Tim Pokja
Konservasi Perairan /Suaka Perikanan. Karena melalui kegiatan ini upaya pemanfaatan bukan ditiadakan namun lebih pada pengendalian yang memungkinkan alam mengalami metabolisme dari tekanan eksploitasi manusia.
Pada awalnya, istilah Kawasan Konservasi Laut (KKL) merupakan terjemahan dari MPA (Marine Protected Area) yang belum mempunyai definisi yang jelas di Indonesia, dan baru pada tahun 2003, Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut (DKTNL), Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil memperkenalkan istilah Kawasan Konservasi Laut (KKL) dan secara resmi menerbitkan nomenklatur tentang KKL dalam sebuah buku “Pedoman Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah”. Dalam buku pedoman tersebut, KKL didefinisikan sebagai kawasan pesisir, pulau-pulau kecil dan/atau laut dengan ciri khas tertentu yang dikelola untuk memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman hayati dan nilainya dengan tetap mempertimbangkan aspek pemanfaatan yang berkelanjutan. Nomenklatur Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) dalam buku pedoman tersebut dibagi menjadi 6 (enam) katagori, yaitu : (1) Cagar Laut/Bahari, (2) Suaka Laut/Bahari, (3) Taman Laut/Bahari, (4) Taman Wisata Laut/Bahari, (5) Daerah Perlindungan Laut, dan (6) Suaka Perikanan.
IV - 8
Tim Pokja
Dalam penetapan kawasan konservasi, tentunya keunikan, fungsi dan sejarah ekologis misalnya habitat asli tempat kawin/memijah populasi ikan, tempat pembesaran benih/Nursery ground harus menjadi dasar pertimbangan. Kawasan perairan Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak merupakan kawasan perairan yang secara tradisional telah menjadi kawasan pemanfaatan nelayan sekitar dan luar kawasan. Bila dibiarkan, maka kawasan ini akan mengalami keterbatasan kapasitas untuk menjalankan perannya menyediakan sumber protein hewani bagi masyarakat sekitar. Penting untuk memberikan kawasan tersebut ruang dan waktu guna mengasimilasi tekanan yang telah dilakukan masyarakat karena akan mengembalikan kemampuan dan meningkatkan produktivitas perairan tersebut.
Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak memiliki kelengkapan komponen interaktif penunjang produktivitas sumberdaya ikan seperti karang dan padang lamun, keberadaan atribut lingkungan perairan laut ini sangat penting artinya bagi produktivitas perairan karena telah dikenal merupakan tempat mencari makan, berlindung, kawin dan interaksi ekologis lainnya.
Pemanfaatan ketiga Gili untuk kegiatan Konservasi diyakini dapat menjembatani kepentingan pariwisata dan perikanan. Konservasi umumnya membatasi penangkapan biota air pada batas geografik perairan dengan
IV - 9
Tim Pokja
ukuran tertentu, namun masih memungkinkan upaya budidaya terbatas, misalnya kegiatan budidaya rumput laut atau kerang – kerangan dengan metode dasar. Selanjutnya rumpun rumput laut akan menarik gerombolan ikan untuk mendekat sehingga akan meningkatkan estetika perairan. Penambahan terumbu Karang Buatan,transplantasi karang dan sea reanching pada perairan suaka tersebut, akan pula menduplikasi efek positif kawasan Konservasi sebagai buffer penyedia stok ikan bagi kawasan perairan sekitarnya sekaligus pula meningkatkan estetikanya.
Pengembangan konservasi disekitar perairan 3 (tiga) Gili tersebut akan koheren dengan apa yang telah mulai dirintisnya kegiatan penangkaran Penyu Hijau (Chelonia mydas) oleh perusahaan yang mengelola resort wisata di Gili Nanggu. Sumber benih merupakan hasil tangkapan nelayan di sekitar perariran gili. Tercatat lebih dari 100 ekor anakan penyu dengan umur sekitar 3 (tiga) bulan telah ditangkar di dalam tanki semen yang dilengkapi atap. Rencana pihak pengelola akan menggunakan ini untuk pengembangan penangkaran lebih lanjut dan sebagian dikembalikan ke alam. Upaya ini dilakukan, disamping untuk tujuan konservasi sekaligus membangun pencitraan bagi perusahaan. Upaya – upaya seperti ini mendapatkan respon yang cukup baik oleh para pelancong asing sehingga diharapkan nantinya akan meningkatkan jumlah pengunjung pada resort wisata tersebut.
IV - 10
Tim Pokja
Kendala pengelolaan kawasan konservasi mungkin perlu
dipertimbangkan dalam memilih opsi ini, namun dengan keseriusan banyak pihak diyakini ini dapat dilaksanakan. keyakinan ini lebih besar lagi mengingat besarnya perhatian pihak pelancong dan pemerintah pusat dalam pengembangan konservasi dan meningkatnya jumlah penduduk Sekotong di sekitar kawasan Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak yang bergantung pada pariwisata, disamping itu pula sudah saatnya masyarakat nelayan di Kabupaten Lombok Barat diperkenalkan pada konsep pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam yang berbasis pada Konservasi Lingkungan.
Persepsi dan Harapan Masyarakat terhadap Kawasan Konservasi
Kawasan konservasi perairan, seperti sudah sering diungkapkan, ialah wilayah di laut (dengan batas-batas yang jelas), dilindungi untuk mencapai tujuan tertentu – perlindungan keanekaragaman hayati, perikanan tangkap atau perlindungan lokasi penting untuk pariwisata. Karakteristik paling mendasar dari suatu Kawasan Konservasi Perairan ialah adanya suatu wilayah dengan status sebagai Wilayah Larang-Ambil (WLA) atau sering disebut No-Take Zone (NTZ). Pada wilayah WLA berlaku aturan untuk melarang seluruh aktifitas yang bersifat ekstraktif, seperti pengambilan atau penangkapan ikan. Dengan demikian, KKP bisa saja
IV - 11
Tim Pokja
terdiri dari beberapa wilayah untuk peruntukan yang berbeda, namun ciri yang paling penting ialah keberadaan wilayah larang-ambil.
Penangkapan ikan berdampak negatif pada sumberdaya ikan dan habitat tempat ikan untuk melakukan pemijahan, wilayah asuhan dan tempat mencari makan. Pengambilan ikan target secara berlebihan bisa mempengaruhi struktur populasi dan rakitan spesies yang pada akhirnya mempengaruhi kesehatan habitat ikan. Operasi alat tangkap atau metode yang tidak ramah lingkungan secara langsung bisa mempengaruhi kondisi habitat. Jika habitat termasuk jenis yang sensitif, tingkat eksploitasi pada skala rendah sekalipun bisa berdampak pada kerusakan habitat ikan. Pencadangan sebagian wilayah penangkapan sebagai wilayah larang-ambil memberikan kesempatan untuk perbaikan habitat, terutama yang ada di dalam wilayah larang-ambil.
Dari hasil wawancara non formal dengan sejumlah nelayan tentang persepsi mereka terhadap menurunnya kualitas perairan ketiga gili dan sekitarnya menunjukkan bahwa pada umumnya masyarakat nelayan tersebut sering kali menuding kelompok nelayan lain atau nelayan dari luar daerah (Ampenan, Bali dan sebagian nelayan jawa) yang menyebabkan kerusakan perikanan di dalam wilayahnya. Selain itu, nelayan mempunyai persepsi kuat pada rejim sumber daya milik umum (open access). Artinya, setiap orang, secara bebas bisa menangkap ikan dimana saja di wilayah
IV - 12
Tim Pokja
perairan Indonesia. Pada kondisi ini selalu berlaku ketentuan siapa cepat dia dapat. Jika secara individu, seorang nelayan harus taat membatasi daerah penangkapannya, nelayan lain belum tentu melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, daripada diambil atau dihabiskan oleh nelayan lain, dia ingin mendapatkan peluang lebih terdepan untuk mengambil sumber daya ikan di laut. Prinsip ini tertanam pada hampir semua nelayan pada umumnya. Membalik persepsi ini relatif sulit dan memerlukan waktu lama. Oleh karena itu, peran penyuluh lapang atau pendamping masyarakat harus bisa menumbuhkan kepercayaan pada tingkat nelayan bahwa pemanfaatan sumber daya ikan harus diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi peristiwa penangkapan berlebih (over-fishing). Pendamping masyarakat juga harus bisa membangun kepercayaan bahwa pengelola akan menerapkan aturan pengelolaan secara konsisten. Hal ini tentu saja harus diikuti oleh langkah-langkah nyata dalam dari pihak pengelola kawasan.
Konsep rencana penetapan Kawasan Konservasi Perairan khususnya di Gili Nanggu, Gili Sudak dan Gili Tangkong dan sekitarnya yaitu dengan mengurangi 35% daerah penangkapan menjadi wilayah larang-ambil mungkin akan merugikan beberapa komponen nelayan. Oleh karena itu, pemerintah daerah Kabupaten Lombok Barat telah melakukan survei persepsi masyarakat akan manfaat kawasan konservasi pada mereka.
IV - 13
Tim Pokja
Survei dilakukan di desa Sekotong Barat dengan menggunakan bantuan media kuesioner. Pertanyaan kunci yang diajukan kepada nelayan ialah “apakah ketersediaan populasi biota perikanan sekarang (a) lebih banyak, (b) menurun, atau (c) semakin punah.
Dari hasil pendalaman tim enumerator melalui wawancara terarah dengan beberapa tokoh kunci (Kepala Desa, Pengusaha, Pokmaswas, Kepala Lingkungan dan tokoh nelayan) terungkap bahwa sebagian besar masyarakat nelayan yang selama ini terbiasa dengan menangkap ikan di sekitar kawasan 3 (tiga) tersebut tidak mendapatkan hasil tangkapan ikan yang banyak. Lain halnya kondisi perairan di tahun 1980 – 1990 yang masih dalam kategori alami sehingga hasil tangkapan yang di dapat juga cukup besar. Hasil survei juga mendapatkan gambaran bahwa sebagian besar masyarakat dan pengusaha hotel dan pariwisata menghendaki bahwa kawasan Gili Nanggu, Gili Sudak dan Gili Tangkong sekitarnya perlu dipertimbangkan sebagai kawasan konservasi perairan di Kabupaten Lombok Barat. Hal ini mengingat bahwa aktivitas pariwisata pada ketiga gili tersebut terus mengalami perkembangan dan peningkatan minat kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Hasil survei persepsi masyarakat, termasuk yang dilakukan pada beberapa lingkungan masyarakat di Desa Sekotong Barat menunjukkan dukungan yang kuat pada ide untuk mencadangkan sebagian daerah di laut
IV - 14
Tim Pokja
pada kawasan Gili Nanggu, Gili Sudak dan Gili Tangkong dan sekitarnya sebagai wilayah larang-ambil. Dukungan tersebut baru berada pada tingkat
kesadaran dan wacana. Ketika pencadangan kawasan mulai
disosialisasikan dan disusun pada tahap perancangan serta perencanaan, maka potensi penolakan masyarakat akan selalu ada dan bahkan mungkin bisa lebih kuat dibandingkan dengan hasil survey persepsi yang dilakukan saat ini. Karena kita menyadari bahwa sebagian masyarakat kita ternyata sangat persuasif dalam tatanan ide, namun sangat sulit ketika implementasi mulai diterapkan di lapangan. Oleh karena itu, perlu kesiapan yang baik sehingga dalam proses penentuan dan pencangan kawasan ketiga gili tersebut secara definitive sebagai lokasi kawasan konservasi perairan dapat diterima oleh semua pihak.
Kawasan Ekosisitim Manggrove dan Padang Lamun
Kawasan eskosistim mangrove dan padang lamun merupakan kawasan yang tidak bias terpisahkan dari suatu perairan disebabkan fungsi ekosistim tersebut sangat fital dalam suatu kawasan.
Berkembangnya aktivitas perilaku masyarakat yang tidak ramah lingkungan menunjukkan kekurangcermatan atau ketidakakuratan dalam merencanakan dan melaksanakan sistem pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan. Padahal kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap menurunnya kualitas lingkungan dan
IV - 15
Tim Pokja
mahluk hidup di dalamnya (termasuk masyarakat lokal) yang memiliki ketergantungan secara langsung terhadap ekosistem tersebut, dan jika kondisi ini tetap dipertahankan, maka laju degradasi akan semakin cepat terjadi dan ancaman dampak lingkungan seperti abrasi akan terus menghantui ketenangan masyarakat pesisir di Kabupaten Lombok Barat dalam arti luas.
Beberapa jenis ekosistem vital di wilayah pesisir Kabupaten Lombok Barat adalah ekosistem mangrove, padang lamun dan ekosistem terumbu karang yang memiliki peran strategis baik secara ekologi, sosial, ekonomi
dan lingkungan dalam menunjang kehidupan biota di dalam dan lingkungan
sekitarnya.
Dari hasil pengamatan kawasan mangrove yang ada di Desa Sekotong Barat berada di Dusun Medang dan Dusun Ketapang dengan luasan yang masi ada sekitar 6,24 Ha di Dusun Medang sedangkan di Dusun Ketapang memiliki luas 7,35 Ha yang keberadaannya berada pada posisi S; 08044’55,3” E : 116002’24,2” dan S; 08044’24,2” E : 116001’36”
Berikut adalah deskripsi keragaan kondisi potensi sumberdaya ekosistem mangrove dan lamun di Desa Sekotong Barat sebagaimana terlihat pada tabel 4.1 dan 4.2 di bawah ini :
IV - 16
Tim Pokja
Tabel 4.1. Keragaan Kondisi Potensi Sumber Daya Ekosistem Mangrove di Desa Sekotong Barat
No Lokasi Jenis Mangrove Keragaan Distribusi Jenis Ekosistem Mangrove Kr (%) (%) Dr (%) Fr INP (%) 1. Sekotong Barat (Medang) Rhizophora sp Avicennia alba Bruguiera gymnorhiza 25,28 12,06 0,87 24,75 15,18 1,23 21,12 11,73 3,00 71,15 38,97 5,1 2. Desa Sekotong Barat (Dusun Ketapang) Rhizophora sp Avicennia alba Bruguiera gymnorhiza 42,12 33,19 3,21 15,27 12,25 2,51 13,21 17,39 6,23 70,6 62,83 11,95 Keterangan : Kr = Kerapatan Relatif
Dr = Dominansi Relatif Fr = Frekuensi Relatif INP = Indeks Nilai Penting
Tabel 4.2. Ekosistem Padang Lamun di Desa Sekotong Barat.
No Lokasi Jenis Lamun Keragaan Distribusi Jenis Ekosistem Padang Lamun Kr
(%) (%) Dr (%) Fr INP (%)
3. Sekotong Barat
(Medang) Enhalus acaroides
Halophila ovalis 33,21 12,38 23,12 10,11 18,21 13,08 74,54 35,57 Keterangan : Kr = Kerapatan Relatif
Dr = Dominansi Relatif Fr = Frekuensi Relatif INP = Indeks Nilai Penting
Deskripsi kegiatan penangkapan ikan nelayan Desa Sekotong Barat Aktivitas penangkapan ikan oleh masyarakat nelayan desa sekotong barat sebagian besar hanya dilakukan disekitar perairan yang terdapat banyak taked dan gili-gili sehingga biota laut yang dominan didapat oleh nelayan adalah ikan ekonomis tinggi dan beberapa jenis ikan pelagis kecil.
IV - 17
Tim Pokja
Gambaran tentang siklus musim penangkapan ikan atau biota laut lainnya sepanjang tahun di Desa Sekotong Barat Kecamatana Sekotong sebagaimana terlihat dalam tabel berikut :
Tabel 4.3. Kalender Musim Penangkapan Ikan di Desa Sekotong Barat Biota Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Tongkol - - - ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ + Ikan Baronang + + + + ++ ++ ++ ++ + Ikan Teribang - - - ++ - - - - Banyar - + + + + - - - - Tongkol - - + - + - + + - + + + Gurita - - - + + + + + + + + - Tengiri - - - + + + + + + + + - Cumi - - - + + + + + + + + - Bronang + - + - - + + + + + + - Langoan + - + - - + + + + + + - Banyar - + + + + - - - - Keterangan :
++ = Kondisi musim biota laut sedang banyak -+ = Kondisi musim biota laut sedang sepi tapi ada + = Kondisi musim biota laut sedang sedikit
- = Kondisi musim biota laut tidak ada sama sekali