• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tim Pokja

2.3. Wilayah Pembinaan CCDP-IFAD 1. Kecamatan Sekotong

Kecamatan Sekotong adalah salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Lombok Barat yang terkenal dengan panorama alam yang indah dengan dikelilingi bukit-bukit yang terjal dan memiliki beberapa gili yang memiliki potensi sumber daya laut yang tinggi. Diantara pulau-pulau tersebut yang cukup menarik perhatian para wisatawan adalah Gili nanggu, gili tangkong, gili sudak, gili poh, gili rengit, gili gede dan salah satu pulau terluar yaitu gili sepatang atau gili sophialoiusa serta beberapa gili lainnya yang tidak kalah menarik. Potensi sumberdaya alam wilayah pesisir dan Pulau-pulau kecil Kecamatan Sekotong yang cukup besar memberikan harapan yang sangat besar bagi penguatan ekonomi daerah dan masyarakat di Kabupaten Lombok Barat. Hal ini dapat terwujud apabila pengelolaannya

II - 11

Tim Pokja

dapat dilaksanakan secara terintegrasi, optimal dengan memperhatikan kaidah-kaidah pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Salah satu potensi ekonomi pesisir dan pulau-pulau kecil yang sudah menampakkan potensi perkembangannya di Kecamatan Sekotong adalah kegiatan budidaya laut, penangkapan ikan, pengolahan hasil perikanan dan pengembangan potensi jasa-jasa lingkungan seperti wisata bahari dan pemanfaatan gelombang laut bagi pembangkit energi listrik.

Guna menjangkau wilayah Kecamatan Sekotong dapat dilalui dengan jalur darat dan laut. Dari Ibukota Propinsi yang ada di Mataram untuk menuju ke Sekotong memakan waktu sekitar 2 (dua) jam perjalanan darat dan dari Ibukota Kabupaten yang berkedudukan di Gerung dapat ditempuh dengan 1,5 (satu setengah) jam perjalan darat. Sedangkan dari Bandara Internasional Lombok Praya untuk menuju sekotong dapat memakan waktu sekitar 3 (tiga) jam perjalanan darat. Namun apabila rute perjalanan yang dipilih adalah melalui jalur laut maka penumpang dapat memilih perjalanan melalui jalur Pelabuhan Lembar untuk dapat mengelilingi wilayah potensial Pulau-pulau kecil yang ada di Kecamatan Sekotong dengan waktu jarak tempuh yang lebih singkat dibanding jalur darat.

Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Sekotong meliputi :

 Sebelah Utara : Kecamatan Lembar

II - 12

Tim Pokja

 Sebelah Selatan : Lautan Indonesia

 Sebelah Barat : Selat Lombok

Luas wilayah Kecamatan Sekotong mencapai 280,45 km2 terdiri dari 6

(enam) desa dan 1 (satu) desa Persiapan Cendi Manik. Untuk lebih jelasnya, data tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Luas Wilayah Kecamatan Sekotong Menurut Desa

No. Desa Luas Wilayah (Km2) Rasio (%)

1. Sekotong Barat 46,19 16,47 2. Pelangan 23,28 8,30 3. Sekotong Tengah 103,86 37,03 4. Buwun Mas 51,93 18,52 5. Kedaro 7,06 2,52 6. Batu Putih 48,13 17,16

7. Pseriapan Cendi Manik 0,00 0,00

Jumlah 280,45 100,00

Sumber : Kabupaten Lombok Barat Dalam Angka, 2013

Menurut penggunaan lahan diketahui bahwa lahan/tanah di wilayah Kecamatan Sekotong digunakan dalam bentuk perkebunan yang mencapai 3.150 Ha, pekarangan 1.000 Ha, tambak 4.500 Ha dan fasilitas umum 2.000 Ha.

II - 13

Tim Pokja

Kependudukan

Penduduk merupakan obyek pelaksana pembangunan, dan demi pembangunan pula diperlukan sumberdaya manusia (SDM) yang handal dan berkualitas, serta jujur, amanah, pintar, dan mampu menyampaikan. Sehingga pembangunan yang baik akan menghasilkan penduduk yang baik. Maka konsep “Pembangunan demi penduduk, dan penduduk demi pembangunan” perlu diterapkan secara baik, benar, dan sinambung.

Penduduk Kecamatan Sekotong berpopulasi 52.271 jiwa, yang terdiri dari 25.664 jiwa laki - laki dan 26.607 jiwa perempuan. Penduduk paling banyak bermukim di Desa Sekotong Tengah yaitu 14.076 jiwa, dengan

kepadatan 135,53 jiwa/km2. Wilayah berpenduduk paling padat adalah

Desa Kedaro (716,15 jiwa/km2), dan paling renggang adalah Desa Batu

Putih (126,72 jiwa/km2). Adapun rata-rata kepadatan penduduk Kecamatan

Sekotong yaitu 186,38 jiwa/km2.

Tabel 2.5. Populasi Penduduk Kecamatan Sekotong Menurut Desa

No. Desa (KmLuas 2)

Penduduk (Jiwa) Sex

Rasio (L/P) Kepadat an (Jiwwa/ Km2) Laki -

Laki Perempuan Jumlah

1. Sekotong Barat 46,19 4.031 3.996 8.027 1,009 173,78 2. Pelangan 23,28 3.860 4.002 7.862 0,965 337,71 3. Sekotong Tengah 103,86 6.843 7.233 14.076 0,946 135,53 4. Buwun Mas 51,93 5.453 5.698 11.151 0,957 214,73 5. Kedaro 7,06 2.362 2.694 5.056 0,877 716,15 6. Batu Putih 48,13 3.115 2.984 6.099 1,044 126,72

7. Pseriapan Cendi Manik - - - - - -

Jumlah (Ha) 280,45 25.664 26.607 52.271 0,965 186,38

II - 14

Tim Pokja

Populasi penduduk tersebut tergabung dalam 16.707 rumah tangga penduduk (RTP) yang bermukim di pesisir, hingga perbukitan. Jumlahnya setiap desa berkisar antara 1.705 RTP hingga 4.467 RTP. Kepadatan RTP desa antara 2,97 - 3,46 jiwa/RTP, sedangkan Kecamatan Sekotong sebesar 3,13 jiwa/RTP. Sementara itu, kepadatan RTP per satuan luas wilayah

adalah lebih dari 59,57 RTP/Km2.

Tabel 2.6. Populasi dan Rumah Tangga Penduduk Kecamatan Sekotong

No. Desa (KmLuas 2) Penduduk Rumah Tangga (Jiwa/RTP) Kepadatan

Kepadata n (RTP/Km 2) 1. Sekotong Barat 46,19 8.027 2.521 3,18 54,58 2. Pelangan 23,28 7.862 2.522 3,12 108,33 3. Sekotong Tengah 103,86 14.076 4.467 3,15 43,01 4. Buwun Mas 51,93 11.151 3.727 2,99 71,77 5. Kedaro 7,06 5.056 1.705 2,97 241,50 6. Batu Putih 48,13 6.099 1.765 3,46 36,67

7. Pseriapan Cendi Manik - - - - -

Jumlah (Ha) 280,45 52.271 16.707 3,13 59,57

Sumber : Kecamatan Dalam Angka 2.3.1.1. Profil Desa Buwun Mas

Desa Buwun Mas merupakan salah satu desa dari 6 (enam) Desa yang ada di Kecamatan Sekotong, merupakan desa dengan luas 12.568,55 Ha yang terdiri dari 5 (lima) Dusun. Menurut sejarahnya Desa Buwun Mas telah ada sejak tahun 1990, dengan cikal bakal berdirinya adalah LALU DARYADI bersama tokoh - tokoh masyarakat pada masa itu. Desa Buwun

II - 15

Tim Pokja

Mas sebelum menjadi desa di Kecamatan Sekotong adalah merupakan Desa Sekotong Tengah, yang karena pemekaran wilayah desa Sekotong Tengah menjadi 2 (dua) desa, maka setelah desa Buwun mas menjadi desa yang difinitif sekitar pada tahun 1993 Desa Buwun mas menjadi bagian wilayah Kecamatan Sekotong bagian selatan. Nama Buwun mas diambil dari bahasa Sasak yang berasal dari kata “BUWUN“ yang berarti “ SUMUR/SUMBER “ dan “MAS” adalah jenis logam mulia yang memiliki harga tinggi sehingga konon katanya masyarakat Buwun Mas di wilayah tersebut ada wilayah yang memiliki kandungan Mas yang tinggi namun sampai saat ini belum di temukan oleh masyarakat. Sejak terbentuknya, Desa Buwun mas yang terdiri dari 5 (lima) dusun Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah pada tahun 2001 Desa Buwun mas melaksanakan pemekaran Dusun di desa Buwun Mas menjadi Dusun Buwun Mas Timur sehingga wilayah Desa Buwun mas bertambah menjadi 11 dusun, yaitu ; 1) Dusun Lemer 2) Dusun Kombang 3) Dusun Sepi 4) Dusun Sap 5) Dusun Bengkang 6) Dusun Eyat Bau

II - 16

Tim Pokja

7) Dusun Pengantap 8) Dusun Selodong 9) Dusun Tangin-angin 10) Dusun Sauh 11) Dusun Blongas

Aksesibiliti dan Geografi Desa

Jarak Desa Buwun Mas dari Ibu Kota Kecamatan sejauh ± 11 km, jika di tempuh dengan kendaraan maka lama tempuhnya ± 0,5 jam. Sedangkan jarak ke ibu kota kabupaten sejauh ± 50 km, dengan lama tempuh kurang lebih ± 1 jam. Kendaraan umum yang tersedia untuk menuju ke ibu kota kecamatan dan ibu kota kabupaten yakni angkutan pedesaan.

Desa Buwun Mas secara geografis memiliki bentang wilayah datar dan berbukit. Iklim Desa Buwun mas, sebagaimana desa-desa lain di wilayah Indonesia mempunyai Iklim Kemarau dan Penghujan, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di Desa Buwun mas Kecamatan Sekotong. Jumlah bulan hujan sebanyak 2-4 bulan di sepanjang tahun, dengan curah hujan 164 mm/th dengan suhu rata-rata 31ºC.

Desa Buwun mas berdasarkan fakta geografis merupakan Desa dengan potensi Pertanian dan nelayan sebagian juga merupakan kawasan wisata akan tetapi yang perlu diketahui bahwa sebagian besar pemilik lahan

II - 17

Tim Pokja

pariwisata di Desa Buwun mas merupakan hak milik/dikuasai oleh warga yang berasal dari luar wilayah Desa Buwun mas.

Demografi Desa

Secara keseluruhan jumlah Penduduk Desa Buwun Mas 9.284 jiwa dengan 2.348 Kepala keluarga, yang terdiri 4.626 jiwa penduduk laki - laki

dan 4.658 jiwa penduduk perempuan. Jumlah penduduk miskin sebanyak 8.122 jiwa dengan 1.992 KK (dokumen RPJMDesa Buwun Mas, 2010).

Gambar. 2.1. Tingkat Pendidikan Masyarakat (Sumber: Profil Desa Buwun Mas 2010)

Penduduk Desa sebagian besar tingkat pendidikan pernah sekolah SD tetapi tidak tamat sebanyak 4.271 orang dan tamat SD/sederajat 3.963

II - 18

Tim Pokja

orang. Usia 7 – 45 tahun yang tidak pernah sekolah sebanyak 145 orang, sebagian lagi setingkat SLTP/sederajat 270 orang. Jika dihitung jumlah pendudukan desa Buwun yang pernah sekolah SD tetapi tidak tamat dan tamatan SD keseluruhan mencapai 89% dari jumlah penduduknya.

Mata pencaharian utama penduduk adalah petani, sedangkan yang mata pencaharian lainya buruh tani, buruh lepas, peternak, nelayan, pedagang/pengusaha dan usaha lainnya.

Gambar 2.2. Mata Pencaharian Penduduk (Sumber : Profil Desa Buwun Mas 2010)

Pola penggunaan Tanah di Desa Buwun Mas sebagian besar diperuntukan untuk tanah pertanian sawah. Selaras dengan jenis mata pencaharian penduduk yang dominan sebagai petani baik pemilik maupun

II - 19

Tim Pokja

buruh tani. Desa Buwun Mas memiliki potensi lahan tanah sawah seluas 1.920 ha dengan sistem pengairan sawah tadah hujan seluas 1.805 ha dan sawah irigasi 115 ha. Sedangkan tanah kering berupa tegal/ladang seluas 2.536 ha dan perkebunan rakyat seluas 65 ha serta tanah rawa seluas 75 ha.

Sumber penghidupan utama masyarakat Buwun Mas umumnya sangat bergantung pada sumber daya alam khususnya pertanian. Menurut data profil desa yang tersedia di desa bahwa yang bermata pencaharian sebagai petani 3.856 orang dan buruh tani mencapai 1.187 orang sementara yang bermata pencaharian sebagai nelayan hanya 264 orang saja. Lahan sawah seluas 1.920 ha dengan sistem pengairan sawah tadah hujan seluas 1.805 ha dan sawah irigasi 115 ha. Sedangkan tanah kering berupa tegal/ladang seluas 2.536 ha dan perkebunan rakyat seluas 65 ha serta tanah rawa seluas 75 ha. Terdapat kelompok budidaya rumput laut di dusun Pengantap sebanyak 60 kelompok.

Mata pencaharian nelayan Buwun Mas adalah sebagai nelayan tangkap seperti memancing, jarring, menyelam dan krakat (pukat pantai). Hanya kegiatan bertani/berkebun yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan, sedangkan kegiatan melaut hanya dilakukan oleh laki-laki saja kecuali dalam hal menjual ikannya yang dilakukan oleh perempuan.

II - 20

Tim Pokja

Keadaan Sosial

Masyarakat desa Buwun Mas sebagian besar pemeluk agama Islam, sarana ibadah berupa masjid 19 buah dan musholla 13 buah. Sarana pendidikan dari mulai TK/PAUD hingga SMP/Tsanawiyah, sedangkan SMA/ Aliyah tidak ada di desa. Untuk menempuh jenjang pendidikan SMA/sederajat maka masyarakat harus keluar dari desa. Sarana kesehatan yang ada berupa Polindes/Poskesdes sebanyak 1 buah. Sarana prasarana yang mendukung kegiatan ekonomi ada 1 buah pasar desa, pelabuhan nelayan dan pondok pertemuan P3A (Perkumpulan Petani Pengelola Air).

Grafik 2.3. Sarana Prasarana Umum Desa Buwun Mas (Sumber : profil desa Buwun Mas 2010)

II - 21

Tim Pokja

Dalam menjamin rasa nyaman dan aman di desa Buwun Mas memiliki kelembagaan keamanan desa yang dilengkapi dengan 6 unit pos kamling dan jumlah personil Hansip/Linmas sebanyak 13 orang. Sarana dan prasarana penunjang penyelenggaraan administrasi desa cukup lengkap dari gedung kantor desa, aula desa, gedung BPD dan rumah jaga masing-masing 1 unit dengan kondisi masih baik. Adapun peralatan penunjang seperti komputer 3 buah, meja kerja 8 buah, kursi rapat sebanyak 150 buah, kursi tamu 1 set, almari arsip 4 buah dan rak buku 3 buah juga masih dalam kondisi baik.

Keadaan Ekonomi

Jumlah keluarga miskin yakni sebanyak 1.992 KK (85%) dari 2.348 KK di desa Buwun Mas. Jumlah penduduk miskin sebanyak 8.122 jiwa atau 87 % orang dari 9.284 orang total jumlah penduduk di desa Buwun Mas (dokumen RPJMDesa Buwun Mas, 2010). Jika dilihat pada grafik tingkat pendidikan masyarakat dominan mereka yang tidak pernah sekolah, pernah sekolah SD tetapi tidak tamat dan tamat SD yakni sebesar 8.379 jiwa. Mayoritas mata pencaharian penduduk adalah petani, buruh tani, Nelayan dan buruh Nelayan. hal ini disebabkan karena sudah turun temurun sejak dulu bahwa masyarakat adalah petani dan Nelayan dan juga minimnya tingkat pendidikan menyebabkan masyarakat tidak punya keahlian lain dan

II - 22

Tim Pokja

akhirnya tidak punya pilihan lain selain menjadi buruh tani dan buruh Nelayan.

Gambar 2.4. Sketsa Desa Buwun Mas

Batas wilayah Desa Buwun Mas, di sebelah Utara adala Desa Taman Sari, sebelah Barat adalah Desa Kedaro, sebelah Timur adalah Kab.Lombok Tengah dan sebelah Selatan adalah Laut/Samudera Indonesia.

Desa Buwun Mas merupakan desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lombok Tengah, sedangkan sebelah Selatan berhadapan langsung dengan samudra Indonesia. Di sebelah Utara desa merupakan deretan pegunungan yang diperbatasan desanya merupakan lokasi peternakan masyarakat. Dan di sebelah Barat merupakan lokasi

II - 23

Tim Pokja

pertambangan emas yang dilakukan oleh masyarakat. Dermaga nelayan di Desa Buwun Mas berada di sepanjang pantai Teluk Sepi. Dari 11 dusun yang ada di desa Buwun Mas, terdapat 9 dusun yang berada dipesisir antara lain dusun Panggang, Sauh, Selodong, Belongas, Kombang, Sepi, Bengkang, Pengantap dan Pangsing. Lahan pertanian banyak terdapat di dusun Sauh dan Selodong.

Sarana prasarana umum yang ada di desa Buwun Mas, antara lain sarana pendidikan SD dan SMP/ sederajat hampir di semua dusun namun untuk SMP Negeri hanya terdapat di Kombang dan Cat Bau (SD dan SMP Terpadu). Sarana Polindes (Poliklinik Desa) terdapat di Dusun Sauh, Belongas, Bengkang. Perhotelan berada di dusun Panggang terdapat 2 gedung hotel, dan di dusun Pangsing terdapat 3 hotel. Pada bulan tertentu (Januari atau Februari) menjadi bulan kunjungan wisata karena pada bulan

tersebut ada pesta rakyat Bau Nyale1 yang dipusatkan di dusun Pangsing.

Ada 2 sumber mata air yang terdapat di dusun Kombang dan dusun Sepi, yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Sehari-hari masyarakat di desa Buwun Mas memenuhi kebutuhan air bersihnya dari sumur gali yang ada di masing-masing rumah penduduk. 2.3.1.2. Profil Desa Sekotong Barat

Desa Sekotong Barat adalah salah satu desa pesisir yang berada di Kecamatan Sekotong. Jumlah penduduk desa saat ini sebanyak 8.123 jiwa

II - 24

Tim Pokja

atau (±2.749 KK) yang tersebar di 11 dusun yakni dusun Medang, Gunung Ketapang, Batu Kijuk, Tawun, Batu Leong, Pandanan, Pengawisan, Gili Genting, Gawah Pudak, Tembowong dan Prs. Labuan Petung. Mayoritas mata pencaharian penduduk desa Sekotong Barat adalah nelayan, buruh tani, petani, peternak dan lainnya (Profil Desa Sekotong Barat, 2011).

Adapun batas wilayah desa Sekotong Barat adalah :

 Sebelah Utara berbatasan dengan Laut yakni perairan Selat Lombok  Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sekotong Tengah.

 Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kedaro.  Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Pelangan.

Lahan persawahan di desa Sekotong Barat seluas 1123 Ha, masih menggunakan sistem pengairan tadah hujan. Dimana musim tanam produktif padi hanya setahun sekali selebihnya tanaman palawija yang juga hanya sekali. Posisi lahan sawah ini sebagian besar ada di 4 dusun yakni Pandanan, Batukijuk, Labuan Petung, Gunung Katapang. Menurut sumber informasi yang diperoleh bahwa tidak banyak masyarakat desa Sekotong Barat yang melakukan migrasi ke luar negeri untuk menjadi tenaga kerja.

Kalaupun ke luar desa selalu berkaitan dengan keseharian mereka sebagai nelayan, yang kemampuan ke lautnya terkadang melebihi wilayah teritorialnya, misalnya sampai ke Lombok Timur bahkan sampai ke laut Jawa. Enam Dusun (Medang, Gunung Ketapang, Batu Kijuk, Tawun, Batu

II - 25

Tim Pokja

Leong, Pandanan) memiliki perbandingan jumlah penduduk perempuan lebih banyak. Di Dusun Pandanan jumlah perempuan jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki, selisih 221 jiwa. Hal ini bisa dimaklumi karena sebagian besar kelompok laki-laki pergi ke luar desa. Berikut gambaran populasi penduduk Desa Sekotong Barat menurut mata pencahariannya adalah :

Gambar 2.5. Mata Pencaharian Desa Sekotong Barat (Profil Desa Sekotong Barat, (2011).

Mata pencaharian utama masyarakat Sekotong Barat yakni bertani baik petani tambak maupun petani padi-palawija. Di lihat dari grafik di atas, bahwa penduduk yang bermata pencaharian petani sebanyak 682 jiwa

II - 26

Tim Pokja

dan buruh tani2 sebanyak 789 jiwa. Jumlah nelayan sebanyak 789 jiwa

laki-laki, sedangkan buruh tani sebanyak 789 jiwa dengan perbandingan laki-laki sebanyak 659 jiwa dan perempuan 130 jiwa.

Untuk nelayan ada dua pola yakni nelayan yang benar-benar melaut dan nelayan pemilik sampan yang kapal/sampan digunakan untuk disewakan sebagai alat transportasi pariwisata menuju gili/pulau-pulau kecil.

Sarana dan Prasarana

Kondisi sarana dan prasarana umum yang ada di Desa Sekotong Barat secara umum dapat dilihat pada tabel 2.7 berikut:

Tabel 2.7. Saran dan Prasarana Umum di Desa Sekotong Barat

No. Sarana/prasarana Jumlah Satuan Kondisi

1. Jalan Desa (Jalan Sirtu) 7 Km Rusak 7 Km

2. Jalan antar Desa (jalan aspal 3 Km Rusak 3 Km

3. Jalan Provinsi yang melewati desa 14 Km Rusak 1 Km

4. Jalan negara (jala aspal) 17 Km Rusak 1 Km

5. Angkutan per-Desa 2 Unit Baik

6. Cidomo 5 Unit Baik

7. Perahu motor 30 Unit Baik

8. Tangki air bersih 3 Unit Baik

II - 27

Tim Pokja

9. MCK umum 5 Unit

10. Gedung kantor Desa/BPD 1 Unit Baik

11. Masjid 15 Unit

12. Musholla 10 Unit

13. Pura 4 Unit

14. PUSTU 1 Unit

15. Posyandu 15 Unit

16. Rumah bersalin 1 Unit

17. Gedung SMP 2 Buah

18. Gedung SD 6 Buah

19. Gedung TK 1 Buah

20. Lembaga Pendidikan Agama 2 Buah

21. Perpustakaan Desa 1 Buah

22. Tempat wisata 1 Unit

Kondisi sarana prasarana jalan negara dan jalan propinsi yang melintasi desa Sekotong Barat, sebagian besar baik artinya bisa dilalui oleh sarana transportasi dengan baik, hanya ada 1 km yang kondisinya rusak akibat abrasi. Jalan propinsi yang melintas di desa tersebut sebagian terletak di pinggir pantai.

Keadaan Ekonomi

Keadaan ekonomi masyarakat Sekotong Barat yang sebagian besar nelayan dan petani sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Pada kondisi cuaca tertentu, permukaan air laut naik sampai di kantor desa bahkan

II - 28

Tim Pokja

masuk ke pemukiman penduduk. Jika musim kemarau cukup panjang maka masyarakat kesulitan air bersih/konsumsi dan kesulitan mencari pakan ternak, karena hijauan di wilayah tersebut habis. Selama ini belum ada perkembangan tehnologi bercocok tanam diluar musim atau lainnya, sehingga sepenuhnya bergantung pada turunnya musim hujan. Untuk menjaga ekonomi keluarganya, biasanya kelompok perempuan yang melakukan aktivitas sebagai pencari nafkah, misalnya menjadi pembantu atau tukang cuci pakaian, berdagang keliling, mencari kayu.

Kondisi ekonomi desa tumbuh sejak mereka berbondong menambang emas, akan tetapi kondisi ini sudah mulai surut tahun 2011 karena resiko keselamatan juga tinggi. Artinya masyarakat sudah mulai mengalami kesulitan, dari berpindahnya mata pencaharian nelayan dan bertani menjadi buruh tambang emas yang resiko keselamatan jiwanya juga besar. Saat ini masyarakat mulai mengembangkan pariwisata di kawasan setempat. Sehingga pada musim-musim paceklik bertani dan melaut, mereka mengantarkan turis lokal dan mancanegara untuk wisata di kawasan tersebut. Menurut masyarakat berharap, pariwisata ini akan dapat menjadi sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat kelak.

II - 29

Tim Pokja