Tim Pokja Kondisi Topografi dan Iklim Di Desa
5. Motto : CERDAS, MANDIRI, BERMARTABAT bermakna ;
2.3.1.5. Profil Desa Gili Gede Indah
Desa Gili Gede Indah pada awalnya merupakan bagian dari Desa Pelangan. Desa Pelangan sebelumnya dimekarkan menjadi 3 desa, yatu Desa Persiapan Batu Putih, dan Desa Persiapan Gili Gede Indah, dan Desa Pelangan itu sendiri, Sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Lombok Barat Nomor:1527/81/BPMD/2010 tentang Pemekaran Desa Gili Gede Indah Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat tertanggal 15 Desember 2010.
Desa GIli Gede Indah menjadi satu kesatuan wilayah tersendiri setelah melalui Pemekaran sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Lombok Barat Nomor : 1527/81/BPMD/2010 Tanggal 15 Desember 2010 tentang
II - 48
Tim Pokja
Pembentukan Desa persiapan Gili Gede Indah dan Keputusan Bupati Nomor: 1542/82/BPMD/2010 Tanggal 21 Desember 2010 tentang Pengangkatan Pejabat Kepala Desa Persiapan Gili Gede Indah. Pejabat Kepala Desa Persiapan sampai menjadi Desa Definitif Tahun 2010 sampai sekarang adalah Nursalim yang beralamatkan di Gerung.
Berdasarkan data RPJMDES 2011-2015, yang dimaksudkan dengan Desa Gili Gede Indah adalah sebuah pulau yang luasnya ± 317 Ha, termasuk 3 pulau kecil yakni Gili Layar, Gili Rengit dan Gili Anyaran. Desa ini berbatasan langsung dengan:
Sebelah Utara : Selat Lombok
Sebelah Timur : Laut Desa Gili Gede Indah
Sebelah Barat : Laut Desa Batu Putih
Sebelah Selatan : Laut Desa Pelangan
Desa ini merupakan dataran dengan ketinggian tanah 150 meter di atas permukaan laut, curah hujan rata-rata mencapai 2.000 mm/tahun. Topografinya termasuk dalam dataran rendah, sedangkan suhu udara rata-ratanya mencapai 25º–32º C.
Adapun orbitasi (jarak dari pusat pemerintahan) Desa Gili Gede Indah sebagai berikut:
Jarak dari pusat pemerintahan Kecamatan : 25 KM
II - 49
Tim Pokja
Jarak dari Pusat Pemerintahan Kabupaten : 50 KM
Jarak dari Ibu Kota Provinsi : 65 KM
Jarak dari Ibu Kota Negara : - KM
Sementara jarak tempuh dengan menggunakan kapal kecil/boat dari daratan utama (Desa Pelangan) dan ke desa ini memakan waktu tempuh ± 20 menit, dan dilanjutkan lagi dengan jalan kaki atau naik kuda jika ingin berkeliling ke dusun-dusun. Secara administrasi, Desa ini dibagi dalam 5 Dusun, yakni : Gili Gede, Orong Bukal, Tanjungan, Gedang Siang, dan Labuhan Cenik. Penduduk desa ini, mayoritas (+ 99 % ) adalah pemeluk agama Islam. Sedangkan proporsi jumlah penduduk perempuan dan laki-laki dapat dilihat dalam Grafik dibawah ini :
II - 50
Tim Pokja
Dari seluruh jumlah penduduk Desa, sebesar 1.372 jiwa yang termasuk dalam 424 KK untuk seluruh wilayah desa (5 dusun). Prosentase laki-laki adalah 48% dari 1.372 jiwa penduduk Desa, dimana sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Jumlah perempuan yang berada dalam desa lebih banyak (52%) dibandingkan laki-laki. Hampir seluruh perempuan desa memiliki keahlian membuat pindang ikan, kemudian melakukan aktifitas perdagangan di rumah masing-masing.
II - 51
Tim Pokja
Desa Gili Gede Indah merupakan desa wisata yang terdiri dari gili Layar, Rangit, Anyaran dan Gili Gede sendiri. Gili Rangit merupakan gili yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Secara keseluruhan, terdapat 7 hotel milik warganegara asing (6 di Gili Gede dan 1 di Gili Rangit) yang menyerap tenaga lokal sebanyak ± 45 orang.
Desa Gili Gede Indah memiliki potensi persawahan seluas 66 Ha. Lahan persawahan yang terhampar di perbatasan dusun Gili Gede dengan dusun Orong Bukal mencapai seluas 5 Ha. Lahan sawah tersebut juga terletak diantara dusun labuhan Cenik dengan dusun Tanjungan seluas 6 Ha, sedangkan sisanya ada di Gili Layar seluas 55 Ha. Sistem pengairan sawah menggunakan sistem tadah hujan, oleh karena itu semua lahan sawah hanya dapat ditanami pada saat musim penghujan tiba. Artinya sistem bercocok tanam masyarakat desa masih mengantungkan sepenuhnya pada iklim, terutama pada musim hujan.
Lahan tambak ikan berada di 4 dusun dengan luas keseluruhan ±124 Ha dengan perincian sebagai berikut : (1) Dusun Gili Gede 20 Ha; (2) Dusun Orong Bukal 12 Ha; (3) Dusun Gedang Siang 80 Ha; (4) Dusun Labuhan Cenik 12 Ha. Hampir seluruh lahan tambak ini tidak dapat di kelola lagi, karena sebagian sudah terjual ke investor (warga negara asing) perhotelan yang masuk ke Desa ini. Diperkirakan pada tahun 2000-an sebagian besar tambak ikan di Desa Gili Gede Indah di jual atau dialihkan kepemilikannya
II - 52
Tim Pokja
ke orang asing (dari berbagai macam negara). Saat ini hanya tersisa 2 are (200 m²) yang merupakan lahan milik warga asli, dan hanya tidak tergarap secara optimal.
Pendirian hotel dimulai tahun 2003 dengan nama Secret Island sebagai hotel pertama di Desa Gili Gede Indah. Perizinan dengan cepat diberikan oleh pihak Pemerintah Daerah Lombok Barat, sebagai salah satu bentuk realisasi program “Desa Wisata”. Untuk mendukutn program tersebut, masyarakat mulai mengembangkan program “plastik” yang dimulai tahun 2011. Kegiatan uutama pada program ini adalah membersihkan sampah plastik, baik di wilayah pesisir maupun di perkampungan. Awiq-awiq (kearifan lokal berupa aturan-aturan adat berdasarkan kebiasaan) desa telah dipersiapkan terkait keamanan dan keramahan. Tetapi, karena pariwisata di Desa Gili Gede Indah sangat bergantung pada pantai dan laut, perhatian terhadap abrasi juga harus terus ditingkatkan.
Abrasi pantai terjadi sepanjang tahun di 5 titik, dengan tingkat destruktif (kerusakan/dayarusak) tertinggi di wilayah dusun Orong Bukal. Posisi pantai Dusun Orong Bukal berhadapan langsung dengan Selat Lombok sehinga mendapakan ‘hantaman’ angin dan gelombang dari arah Utara.
II - 53
Tim Pokja
Pada tahun 2010 terjadi bencana angin puting beliung yang disertai dengan ombak besar. Bencana ini menghancurkan beberapa rumah warga di Dusun Orong Bukal yang berhadapan langsung dengan laut lepas. Beberapa bencana lain yang terjadi disebabkan oleh cuaca yang terjadi di bulan Januari-Februari, saat pergantian musim (pancaroba/angin utara). Angin utara mengakibatkan masyarakat mengalami kesulitan untuk menyebrang ke kecamatan.
Kondisi lain yang dirasakan sulit adalah ketersediaan air bersih (minum). Air sumur (hamper seluruhnya) yang ada di desa terasa payau. Untuk memenuhi kebutuhan air minum, masyarakat harus mengeluarkan biaya yang mahal. Karena harus menyebrang ke daratan besar (Desa Pelangan). Pada tahun 2010, UNICEF melaksanakan program pemenuhan kebutuhan air bersih dengan pengadaan PAH (Penampung Air Hujan) sebanyak 200 buah. Walaupun demikian, pemenuhan akan kebutuhan air bersih masih sulit direalisasikan. Bahkan, saat ini tidak diketahui apakah PAH ini masih dapat berfungsi. Terdapat beberapa program yang akan direncanakan terealisasi pada tahun 2013, salah satunya adalah proyek penyulingan air laut yang juga merupakan proyek nasional.
Secara sosial masyarakat telah mengorganisir diri dengan membentuk kelompok-kelompok antara lain kelompok nelayan (kelompok: maju teratur, anteh pengasih, polak pancer, gedang siang bersatu, angin mamiri, mandiri)
II - 54
Tim Pokja
dan kelompok perempuan bakulan (kelompok: tunjung biru, labu, kembang kuning, dan maju teratur). Pembentukan kelompok dilakukan sejak adanya program PNPM. Namun, kelompok-kelompok ini dirasa tidak mampu untuk berkembang, karena tidak didampingi secara intensif oleh pemerintah (desa dan kabupaten) atau stakeholder terkait.
Potret Permasalahan Berdasarkan Aspek Sarana Prasarana, Pendidikan, Ekonomi, Pertanian dan Peternakan serta Sosial dan Budaya. Tabel 2.8. Potret Permasalahan di Desa Gili Gede Indah
NO POTENSI MASALAH
I. SARANA PRASARANA
1 Jalan Dusun Sarana Jalan masih kurang memadai
2 Jalan Lingkungan Desa Beberapa masih berupa jalan tanah
3 Material batu,Pasir dan Tenaga
Kerja tersedia swadaya
Prasarana jalan kurang Memadai Seperti gorong-gorong Pentaludan, Deuker di Desa Gili Gede Indah,
4 Lahan tersedia , Gotong royong,
Tenaga kerja Tersedia
- Sarana dan Prasarana Terbatas
- Belum memiliki gedung / Balai seba guna
/ balai Pertemuan yang memadai
5
Lokasi/ lahan ,Tersedia Tenaga kerja tersedia
- Belum ada Gedung TK
- Belum memiliki Persediaan air bersih
untuk kebutuhan masyarakat dan jika musim kemarau
- Saluran Pembuangan Air limbah (SPAL)
belum memadai di masing-masing Dusun
6 Tenaga kerja tersedia, material
batu, pasir tersedia
Sarana Prasarana Pengairan belum memadai (seperti talud, gorong-gorong, saluran kurang besar dan panjang) dan pemeliharaan belum dilakukan
II - 55
Tim Pokja
7 Tersedia tenaga yang dapat
mengoperasionalkan
Belum ada listrik di desa Gili Gede Indah, masyarakat masih menggunakan genset dan lampu templok.
II. PENDIDIKAN
1 Banyaknya siswa dari keluarga
Miskin
- Belum adanya Beasiswa bagi Siswa yang bersal dari keluarga yang tidak mampu
2 Tersedia Guru PAUD
- Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (
PAUD ) terkendala dengan prasarana belajar
- Keterbatasan kemampuan dan keterampilan
Guru PAUD
- Menejmen pengelolan PAUD terbatas
- Belum adanya Insentif bagi Guru PAUD
- Sumber Pendanaan Terbatas
3 Lokasi (lahan) tersedia - Terbatasnya sarana Baca dan Perpustakaan
, Taman bacaan Perpustakaan desa
4 - Peluang Kerja untuk
Pariwisata
- Adanya Sarjana Lulusan
Bahasa Asing
- Keterampilan berbahasa terbatas untuk
Bahasa Asing
- Banyaknya Drop Out SLTP-SLTA
III. BIDANG. KESEHATAN
1 - Terdapat 4 Kelompok
Posyandu
- Adanya Puskesdes
- Adanya kader Posyandu
- Sarana dan prasarana Posyandu terbatas
di semua Kelompok posyandu
- Tingginya Penyakit Demam Berdarah
- Tingginya pengidap penyakit TBC
- Perilaku hidup sehat masih rendah
- Masyarakat tidak ber-KB (Keluarga
Berencana) sehingga terjadi ledakan jumlah penduduk.
- Fasilitas Poskesdes masih kurang
- Minimnya Insentif kader Posyandu
- Kurangnya Penyuluhan Kesehatan
II - 56
Tim Pokja
- Tenaga medis terbatas (bidan desa tidak
tinggal di desa)
- Belum memiliki ruang bersalin yang
memadai
- Kurangnya Pengetahuan Tata Cara
Penggunaan Jamkesda
IV. BIDANG EKONOMI
1 - Telah berdiri BUMDES
- Sudah terdapat Pasar
- Lahan tersedia
- Tersedia personil / pengurus
- Tersedia lahan untuk
mengembangkan usaha
- Ada modal awal untuk
memulai usaha
- Adanya Program SPP1 dari
PNPM-MP
- Tingkat pendapatan rata-rata masyarakat
rendah (dibawah Rp.700.000,- per bulan)
- Modal usaha terbatas
- Lembaga keuangan Desa modal terbatas
- Belum adanya pasar yang dikelola oleh
Desa
- Keterampilan Usaha Masyarakat masih
rendah
- Sarana dan Prasarana masih kurang
- Belum memiliki BUMDES (Badan Usaha
Desa)
- Kurangnya modal untuk mengelola usaha
yang lebih besar
V. BIDANG PERTANIAN DAN PETERNAKAN
1. - Adanya Fasilitator Pendamping
- Jumlah lahan luas
- Jumlah Penelayan,petani dan
buruh tani banyak
- Adanya lahan untuk
pembangunan balai pertemuan
- Adanya organisai untuk petani
dan Nelayan dan peternak yang akan menjebatani untuk
berhubungan dengan pihak pemerintah dan swasta
- Belum seluruh tanah milik Masyarakat mampu di sertifikat kepemilikan, karena biaya pengurusannya mahal
- Kurangnya penyuluhan Petani ternak,dan Perikanan
- Perlu Pekerjaan lain selain Nelayan sebagai alternatif usaha.
II - 57
Tim Pokja
- Adanya Program FMA (Farmer
Managed Extension Activities)
- Adanya Gapoktan
- Adanya P3A (Pemberdayaan
Perkumpulan Petani Pemakai Air)
- Belum memiliki keterampilan dalam
membuat dan menerapkan pupuk organik - Sebagian masyarakat sebagai nelayan
tradisional yang alat tangkapnya
sederhana, sehingga tidak mampu melaut jauh dari gili.
VI. BIDANG SOSIAL BUDAYA
1 - P3NTR/ penghulu desa
- Adanya kelompok kerja
P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak))
- Adanya Lembaga Desa
Pendukung
- Kelompok Sadar Wisata dan
Pokmaswas
- Pernikahan Dini (menikah diusia anak-anak/ dibawah usia 18 tahun)
- Pengembangan Pariwisata masih terbatas, artinya desa ditetapkan sebagai desa wisata akan tetapi pembinaan dari intansi terkait tidak ada.
- Banyaknya Masyarakat yang belum memiliki Akta Nikah
- Banyaknya TKI dan TKW bermasalah - Banyaknya terjadi kasus tindak kekerasan
dalam rumah tangga
Sumber : Pemerintah Desa Gili Gede Indah, 2012