• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penentuan Indikator Keberhasilan

Dalam dokumen Halaman Judul Dalam Bahasa Indonesia (Halaman 123-0)

Indikator kinerja merupakan alat ukur yang paling penting dalam operasional manajemen risiko yang berguna untuk memfasilitasi pemantauan dan pengendalian risiko dengan demikian indikator kinerja dapat digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan pengelolaan risiko operasional dan proses. Indikator ditetapkan untuk melihat sejauh mana tujuan prosedur berhasil tercapai.

Tabel 4. 10 Data indikator Keberhasilan SOP Penyiapan Kebutuhan, monitor pekerjaan, identifikasi hazard, dan tanggap darurat

NO Objektives Indikator Arah

Perspektif Financial

1

Meningkatkan Efektifitas Biaya Pemeliharaan

1. Biaya pemeliharaan turun 2. Kecelakaan kerja turun

1. SB

1. kecepatan menangani masalah/problem

2. jumlah komplain berkurang

1.LB 2.SB

Perspektif : Proses Bisnis Internal 3 Meningkatkan

Manajemen Sisi K3

- Meningkatkan produktifitas LB Perspektif : Learning and Growth

4

Meningkatkan Perbaikan kualitas

& kuantitas K3

Jumlah Pelatiahan K3/ pelatihan

pertahun NB

1. Penurunan kecelakaan dan penyakit 2. terdapat cara penanganan dan

tindakan

1. SB 2. NB

Mengurangi

kecelakaan kerja Seluruh SDM mengerti mengenai K3 LB

Pada tebel 4.10 indikator keberhasilan dari SOP penyiapan kebutuhan, monitor pekerjaan, identifikasi hazard dan tanggap darurat di jadikan menjadi satu karena kurang lebih indikator keberhasilan yang akan dihasilkan sama. Pada SOP ini seluruh perspektif dan objective dapat menghasilkan indikator keberhasilan dan setiap indikator keberhasil mempunyai arah yang akan dituju antara lain small is better (SB), large is better (LB) dan nominali is best (NB) atau terbatas.

Tabel 4. 11 Data indikator Keberhasilan SOP Pemenuhan Standar dan Safety Audit

NO Objektives Indikator

Perspektif Financial

1 -

Perspektif : Customer

2 -

Perspektif : Proses Bisnis Internal

3 Meningkatkan Manajemen Sisi K3

1. Melakukan jadwal audit secara berkala dan tepat waktu

2. Implementasi perbaikan terhadap proses management sesuai ketentuan dan kebijakan Perusahaan

Perspektif : Learning and Growth

4 -

Tabel 4.11 menunjukan bahwa pada proses safety audit dan pemenuhan standar indikator keberhasilan hanya dapat terjadi pada perspektif proses bisnis internal.

Tindak lanjut dari hasil pemeriksaan ini akan dilaksanakan oleh perusahaan khususnya berupa tindakan terhadap kecelakaan kerja yang diperlukan dalam rangka pengobatan. Kemudian rujukan ke spesialis yang bersangkutan dengan penyakit tertentu. Kemudian perusahaan juga harus

meningkatkan safety terhadap ketaatan untuk menggunakan APD kepada seluruh SDM yang berada di plant entah itu karyawan atau tamu yang memasuki kawasan plant untuk selalu menjaga keselamatan SDM dan yang terahir adalah sertifikasi kecakapan kerja dan pelatihan terhadap manajemen K3 dan kepentingan K3 lainnya.

“Halaman ini sengaja dikosongkan”

111 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisa yang dilakukan , tugas akhir ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari hasil proses bisnis yang dilakukan menggunakan IDEF diperoleh bahwa manajemen plant harus memiliki SOP mengenai : proses penyiapan, proses monitor pekerjaan, identifikasi hazard, tanggap darurat, pemenuhan standar dan safety audit.

Pembuatan SOP usulan disesuaikan dengan ISO 10013:2001.

2. Berdasarkan SOP yang telah ada, dari 9 SOP K3 yang dimiliki oleh pihak plant hanya 3 SOP yang memenuhi standar manajemen OHSAS 18001:1999.

3. Indikator keberhasilan dapat ditentukan dari SOP usulan dengan menggunakan perspektif balance scorecard.

5.2 Saran

Perubahan situasi organisai untuk dapat mempengaruhi target dari kinerja K3, menjaga agar manajemen K3 beserta SOP K3 disarankan untuk tetap berjalan dan berkembang di kemudian hari PT CNG Plant Cepu dapat melakukan pengembangan berikut:

1. Melengkapi lebih lanjut lagi mengenai kebutuhan dari manajemen K3 yang telah diterapkan oleh standar.

2. Pihak plantdapat melengkapi APD yang diperlukan dalam pekerjaan, serta perlengkapan K3 lainnya, serta adanya training mengenai K3 dan manajemen K3 bagi pekerja untuk menyadari pentingnya K3 untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja.

3. Pihak perusahaan sebaikanya membuat SOP K3 Beradasarkan manajemen K3/SMK3/OHSAS 18001:1999untuk kelancaran bisnis di plant dan dapat mencegah kecelakaan di plant.

113 Daftar Pustaka

Anggraeni, Olivia. (2013). Tutorial Pembuatan SOP.

blog.ub.ac.id/oliviadia/2013/12/12/sop-pembuatan-e-ktp-kecamatan-beji/

ANUPINDI, R. C. (2006). Managing Business Process Flows Principles of Operatiions management.

UpperSaddle River: Pearson, Prentice Hall.

Biro Administrasi Akademik. 2008. Standar Operating Prosedur (SOP). Universitas Santa Dharma Yogyakarta.

Hartono, J. (2001). Analisa dan Desain Sistem Informasi:

Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. Yogyakarta : Andi.

Harington,J. (1991). Businnes Process improvement. April 1, America

Information, DF (1993,December) Integration Definition For Function Modeling (IDEF 0)

ISO 10013.2001. Panduan Untuk Dokumentasi Sistem Manajemen Mutu. PSJMN. Batan

Kaplan, R. & Norton, D. (1996). The balanced scorecard.

Harvard Business Process.

Kementrian Perhubungan RI. 2013. Pedoman Pembuatan Standar Operating Procedurs.

Kim dan Jang, (2002). Designing Performance Analysis and IDEF0. Garduated School Of Management Korea Advanced Institud Of Science and Technology. 22 Septmber

Lawalata, Victor. (2010) INTEGRASI IDEF 0 DAN IDEF 1 DALAM CIMOSA. Universitas Patimura. Ambon Lawrence, Devonport. (1993). Business Process Management

Consulting. South Africa.

National Institute Of Standars an Technology. (1993).

Integrated Definition for Fuction Modelling (IDEF

0), Draf Federal Information Processing Standards Publication.

OHSAS 18001.1999. Occupational Health & Safety Management System Specification.USA.

Peraturan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.Per.02.1980. Pemeriksaan Kesehatan dan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.

Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Jakarta Rumapea, S.A. (2010). Analisa Proses Bisnis Pada

Distributor XYZ Menggunakan Tools Pemodelan IDEF0, Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi. Retrieved September 13, 2001.

Rummler & Brache (1995), Improving Performance: How to manage the white space on the organizational chart, Jossey-Bass, San Francisco

Simon, A. R. (2005). Real-time, Mission-Critical Business Intelligence: Lessons from the Military and Intelligence Community. In CIO Wisdom II.

Prentice Hall.

Thomas Davenport (1993). Process Innovation: Reengineering work through information technology. Harvard Business School Press, Boston

Weske, Mathias (1999). Busines Process Management

117

Table L1. Kriteria pada tingkat penerapan manajemen OHSAS 18001:1999

No Element Tingkat Transisi Ket 1 Pembang

1. Sesuai dengan sifat dan skala dari risiko organisasi

2. Mencakup komitmen untuk penyempurnaan berkelanjutan 3. Mencakup komitmen sedikitnya

mematuhi perundang-undangan K3 yang digunakan saat ini dan peraturan K3 lainnya yang diikuti oleh organisasi

4. Terdokumentasi, terpelihara dan diterapkan

5. Dikomunikasikan kepada seluruh karyawan dengan maksud agar karyawan tersebut peduli terhadap kewajiban K3.

6. Dikaji ulang secara berkala memstikan bahwa kebijakan tersebut masih elevan dan sesuai

A. Rencana strategi K3

1. Terdapat prosedur

terdokumentasi untuk identifikasi potensi bahaya penilaian, dan pengendalian risiko K3

2. Identifikas potensial bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko k3 sebagai rencana strategi K3 dilakukan oleh petugas yang berkompeten

3. Rencana strategi K3 sekurang-kurangnya berdasarkan tinjauan

-

118

awal, identifikasi potensial bahaya, penilaian, pengendalian risiko dan peraturan perundangan serta informasi K3 lainnya baik dari dalam maupun dari luar perusahaan.

4. Rencana strategi k3 yang telah ditetapkan digunakan untuk mengendalikan risiko K3 dengan menetapkan tujuan dan sasaran yang dapat diukur menjadi prioritas serta menyediakan sumberdaya

B. Pengendalian Perancangan

1. Prosedur yang terdokumentasi mempertimbangkan identifikasi potensi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko yang dilakukan pada tahap perancangan dan modifikasi, 2. Petugas yang berkompeten

melakukan verifikasi bahwa perancangan dan modifikasi memenuhi persyaratan K3 yang ditetapkan sebelum penggunaan hasil rancangan.

3. Prosedur, instruksi kerja dalam produk, pengoprasian mesin dan peralatan atau proses lainnya yang berkaitan dengan K3 telah

dikembangkan selama

perancangan dan modifikasi 4. Semua perubahan dan modifikasi

perancangan yang mempunyai implikasi terhadap k3

-

-

119

diidentifikasi, didokumentasi, ditinjau ulang dan disetujui oleh petugas yang berwenang sebelum pelaksanaan.

C. Peraturan perundang-undangan dan persyaratan lain di bidang K3 1. Terdapat prosedur yang

terdokumentasi untuk mengidentifikasi, memperoleh, memelihara dan memahami standar, pedoman teknis, dan informasii baru mengenai peraturan perundangan, standar, pedoman teknis dan persyaratan lain telah ditetapkan.

3. Perubahan pada peraturan, perundang-undangan, standar, pedoman teknis dan persyaratan lain yang relevan dibidang K3 digunakan untuk peninjauan prosedur-prosedur dan petunjuk-petunjuk kerja

D. Informasi K3

1. Informasi yang dibutuhkan mengenai K3 disebarluaskan secara sistematis kepada seluruh tenaga kerja secara sistimatis kepada seluruh tenaga kerja, tamu, kontrakor, pelanggan dan

-

-

120 pemasok.

E. Manual SMK3

1. Manual SMK3 meliputi kebijakan, tujuan rencana, prosedur K3, instruksi kerja, formulir, catatan dan tanggung jawab serta wewenang tanggung jawab K3 untuk semua tingkat

untuk mengambil tindakan dan melaporkan tindakan dan melaporkan kepada semua pihak yang terkait dalam perushaan di bidang K3 telah ditetapkan,

diinformasikan dan

didokumentasikan.

2. Penunjukan penanggung jawab K3 harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

3. Pimpinan unit kerja dalam suatu perusahaan bertanggung jawab atas kinerja K3 pada unit kerjanya.

4. Pengusaha atau pengurus bertanggung jawab secara penuh untuk menjamin pelaksanaan SMK3

5. Perusahaan mendapatkan saran-saran dari para ahli di bidang K3 yang berasal dari dalam dan luar

121

A. Strategi Pelatihan

1. Rencana pelatihan K3 bagi semua tingkat telah disusun.

2. Pelatihan dilakukan oleh orang-orang atau badan yang berkompeten dan berwewenang sesuai peraturan perundang-undangan.

3. Terdapat fasilitas dan sumberdaya untuk pelaksanaan pelatihan yang efektif

4. Mendokumentasi dan menyimpan kegiatan pelatihan

B. Pelatihan bagi manajemen

1. Anggota manajemen eksekutif dan pengurus berperan serta dalam pelatihan yang mencakup penjelasan tentang kewajiban hukum dan prinsip-prinsip serta pelaksanaan K3

2. Pelatihan yang sesuai dengan peran dan tanggung jawab.

C. Pelatihan bagi tenaga kerja

1. Pelatihan diberikan kepada semua tenaga kerja baru dan yang dipindahkan dan terdapat perubahan sarana produksi/ proses agar dapat melaksanakan tugas D. Pelatihan keahlihan khusu

1. Perusahaan mempunyai system yang menjamin kepatuhan terhadap persyaratan lisensi atau

-

122

kualifikasi sesuai dengan peraturan perundangan untuk melaksanakan tugas khusus, melaksanakan pekerjaan/ mengoprasikan peralatan.

5 Pengendal ian Dokumen

A. Persetujuan, pengeluaran dan pengendalian dokumen

1. Dokumen K3 mempunyai identifikasi status, wewenang, tanggal pengeluaran dan tanggal modifikasi.

2. Penerimaan distribusi dokumen tercantum dalam dikumen tersebut

B. Perubahan dan modifikasi dokumen

1. Terdapat sistem untuk membuat, menyetujui perubahan terhadap dokumen K3

C. Tinjauan dan evaluasi

1. Tinjauan terhadap penerapan SMK3 meliputi kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi telah dilakukan dan dicatat, dan didokumentasikan

2. Pengurus harus meninjau ulang pelaksanaan SMK3 secara berkala untukk menilai kesesuaian dan efektifitas SMK3

-

A. Spesifikasi pembelian barang dan jasa

1. Terdapat prosedur yang terdokumentasi yang menjamin -

123

produk bahwa spesifikasi teknik dan informasi lain yang relevan dengan K3 telah diperiksa sebelum memutuskan untuk membeli.

2. Persetujuan untuk pembelian atau pemindahan bahan kimia, material atau zat-zat berbahaya.

3. Sistem verivikasi barang dan jasa yang telah dibeli megidentifikasi bahaya, menili dan mengendalikan risiko yang timbul dari suatu proses kerja.

2. Apabila upaya pengendalian risiko diperlukan, maka upaya tersebut ditetapkan mulai tingkat pengendalian.

3. Terdapat prosedur atau petunjuk kerja yang terdokumentasi untuk mengendalika risiko yang teridentifikasi dan dibuat ats dasar masukan dari personil yang kompeten serta tenaga kerja yang terkait dan disahkan oleh orang yang berwenang di perusahaan.

4. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, standar serta pedoman teknis yang relevan dipertahankan pada saat mengembangkan atau melakukan modifikasi atau petunjuk kerja 5. Trdapat sistem Izin kerja untukk

tugas yang berisiko tinggi

6. Alat pelindung diri disediakan

124

sesuai kebutuhan dan digunkan secara benar, serta selalu dipelihara dalam kondisi layak pakai

7. Alat pelindung diri yang digunakan selalu dipastikan layak pakai sesuai standar dan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

B. Pengawasan

1. Dilakukan pengawasan untuk menjamin bahwa setiap pekerjaan dilaksanakan dengan aman dan mengikuti prosedur dan petunjuk kerja yang telah ditentukan.

2. Setiap orang diawasi sesuai dengan tingkat kemampuan dan tingkat risiko tugas

3. Pengawasa ikut serta dalam identifikasi bahaya dan membuat upaya pengendalian

4. Pengawas diikutsertakan dalam melakukan penyelidikan dan pembuatan laporan terhadap kejadian kecelakaan dan penyakit akibat serta wajin menyerahkan laporan dan saran-saran kepada pengurus.

5. Pegawai ikut serta dalam proses konsultasi

C. Seleksi dan penempatan personil 1. Persyartan tugas tertentu termasuk

persyaratan kesehatan diidentifikasi dan dipakai untuk menyeleksi dan menempatkan tenaga kerja.

125

2. Petugas bekerja harus berdasarkan kemampuan dan keterampilan serta kewenangan yang dimiliki

D. Area Terbatas

1. Melakukan penilaian risikp lingkungan kerja untuk mengetahui dareah-dareah yang memerlukan pembatas risiko izin masuk

2. Terdapat pengendalian atas daerah/tempat dengan pembatas izin masuk

3. Tersedinya fasilitas dan layanan di tempat kerja sesuai dengan standar dan pedoman teknis

4. Rambu-rambu k3 harus dipasang sesaui dengan standar pedoman teknis

E. Pemeliharaan, perbaikan, dan perubahan sarana produksi

1. Penjadulan pemeriksaan dan pemeliharaan sarana produksi serta peralatan mencakup verifikasi alat-alat pengaman serta persyaratan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan, standar, dan pedoman teknis yang relevan 2. Semua catatan yang memuat data

secara rinci dari kegiatan pemeriksaan, pemeliharaan, perbaiakn danperubahan yang dilakukan atas saran dan peralatan produksi harus disimpan dan dipelihara.

126

memiliki sertifikat yang masih berlaku sesuai dengan persyaratan perundang-undangan

4. Pemeriksaan, pemeliharaan, perawatan, perbaikan dan setiap perubahan harus dilakukan petugas yang kompeten dan berwenang.

5. Terdapat prosedur untuk menjamin bahwa jika ada perubahan terhadap sarana dan peralatan produksi, perubahan tersebut harus sesuai persyaratan prundang-undangan, standar dan pedoman teknis yang relevan.

6. Terdapat prosedur permintaan pemeliharaan sarana dan peralatan produksi dengan kondisi K3 yang

8. Apabila diperlukan dilakukan penerapan sistem penguncian pengoprasian untuk mencegah agar sarana produksi tidak dihidupkan sebelum saatnya

9. Terdapat prosedur yang dapat menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja atau orang lain yang berada didekat peralatan produksi pada saat pemeriksaan, pemeliharaan dan perbaiakn.

10. Terdapat penanggung jawab untuk menyetujui bahwa sarana dan

127

peralatan produksi setelah aman digunakan setelah proses pemeliharaan, perawatan, perbaiakan atau perubahan.

F. Kesiapan Untuk menangani keadaan darurat

1. Keadaan darurat yang potensial didlam dan/ayau diluar tempat kerja telah diidentifikasi dan prosedur keadaan darurat teah

didokumentasikan dan

diinformasikan

2. Penyediaan alat/sarana dan prosedur keadaan darurat berdasarkan hasil identifikasi dan diuji serta ditinjau secara rutin oleh petugas yang berkompeten dan berwenang

3. Tenaga kerja mendapat instruksi dan pelatihan mengenai prosedur keadaan darurat yang sesuai dengan tingkat risiko

4. Petugas penanganan keadaan darurat ditetapkan dan diberikan pelatihan khusus serta diinformasikan kepada seluruh tega kerja

5. Instruksi/prosedur keadaan darurat dan hubungan keadaan darurat diperlihatkan secara jelas

6. Peralatan dan system tanda bahaya keadaan darurat disediakan diperiksa, diuji dan dipelihara secara berkala dengan peraturan perundang-undanganm standar dan

128 pedoman teknis

7. Jenis, jumlah, penempatan dan kemudahan untuk mendapatkan alat keadaan darurat telah sesua dengan peraturan.

G. Pertolongan pertama pada kecelakaan

1. Perusahaan telah mengevaluasi alat P3K dan menjamin bahwa system P3K yang ada memenuhi peraturan perundang-udangan, standar dan pedoman teknis

2. Petugas P3K telah dilatih ditunjukan sesai dengan peraturan perundangan

A. Pemeriksaan Bahaya

1. Pemeriksaan terhadap tempat kerja dailakukan secara teratur

2. Pemeriksaan/inspeksi dilakukan oleh petugas yang berkompeten dan berwenang yang telah memperoleh pelatihan mengenai identifikasi bahaya

3. Pemeriksaan/inspeksi mencari masukan dari tenaga kerja yang melakukan tugas

4. Daftar periksa tempat kerja telah disusun untuk digunakan saat inspeksi

5. Tindakan perbaiakan dan hasil laporan pemeriksaaan/inspeksi dipantau untuk menentukan efektifitas

129

B. Pemantauan/pengukuran Lingkungan Kerja 1. Pemantauan/pengukuran

lingkungan kerja dilaksanakan secara teratur dan hasilnya didokumentasikan/dipelihara dan digunakan untuk penilaian dan pengendalian risiko

2. Pemantauan/pengukuran

lingkungan kerja meliputi faktor fisk, kimia, biologi, ergonimick, dan psikologi

3. Pemantauan/pengukuran

lingkungan kerja dilakukan oleh petugas atau pihak yang berkompeten dan berwenang dari dalam dan/luar perusahaan

C. Pemantauan Kesehatan dan keselamatan kerja

1. Dilakuakn pemantauan kesehatan dan keselamatan kerja yang bekerja pada tempat kerja yang mengandung potensial bahaya tinggi sesuai perundnag-undangan.

2. Perusahaan menyediakan pelayanan kesehatan kerja sesaui perundangan

A. Pelaporan Bahaya

1. Terdapat prosedur pelaporan bahaya yang berhubungan dengan K3 dan prosedur ini diketahui tenaga kerja

B. Pelaporan Kecelakaan

1. Terdapat prosuder terdokumentasi

130

yang menjamin bahwa semua kecelakaan kerja, kenbakaran atau peledakan serta kejadian bahaya lainnya di tempat kerja dicatat dan dilaporkan sesuai dengan peraturan perundag-undangan

C. Pemeriksaan dan pengajian kecelakaan

1. Tempat kerja/perusahaan mempunyai prosedur pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

2. Pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan kerja dilakukan oleh petugas ahli K3 yang ditunjukan sesuai peraturan perundang-undangan atau pihak lain yang mengidentifikasi potensi bahaya dan menilai risiko yang berhubungan dengan penanganan secara manual dan mekanis

2. Identifikasi bahaya dan penilaian risiko dilaksanakan oleh petugas yang berkompeten dan berwenang 3. Pengusaha atau pengurus

menerapkan dan meninjau cara pengendalian risiko dengan penanganan secara manual

B. Sistem pengangkutan, -

-

131

penyimpanan dan pembuangan (BKB)

1. Terdapat prosedur yang menjamin bahwa bahan disimpan dan dipindahkan dengan cara yang aman sesuai dengan peraturan perundnag- undangan.

C. Pengendalian bahan kimia berbahaya

1. Perusahaan telah

mendokumentasikan dan menerapkan prosedur mengenai penyimapanan, penanganan, dan pemindahan BKB sesuai dengan persyaratan peraturan perundang-undangan, standar dan pedoman teknis yang relevan.

2. Terdapat system untuk mengidentifikasi dan pemberian label secara jelas pada bahan kimia berbahaya.

3. Terdapat system untuk mengidentifikasi dan pemberian label secara jelas pada bahan kimia berbahaya

4. Rambu peringatan bahaya terpasang sesuai dengan persyaratn peraturan perundang-undangan dan/atau standar yang relevan.

5. Penanganan BKB dilakukan oleh petugas yang berkompeten dan berwenang.

Table kriteria pada tingkat penerapan SMK3 diatas bertujuan untuk mengaudit penerapan pada PT. CNGt Plant

132

Cepu. Sistem audit terdapat 3 katagori tingkat, yaitu tingkat awal, tingkat transisi dan tingkat lanjut. Dalam peraturan pemerintah disebutkan jika karyawan melebihi 100 orang atau beerpotensi bahaya yang besar seperti pertambangan dan minyak bumi perlu adanya penerapan SMK3. Karena PT.

CNG Plant Cepu hanya 48 orang tetapi berpotensi bahaya kecelakaan tinggi juga maka dikatagorikan tingkat transisi.

Penilaian tingkat transisi yaitu penilaian penerapakan SMK3 terhadap 122 kriteria sebagaimana tercantum dalam table diatas. Tingkat penialain penerapan SMk3 ditetapkan sebagai berikut :

a. Untuk tingkat pencapaian penerapan 0-59%

termasuk tingkat penilaian penerapan kurang b. Untuk tingkat pencapaian penerapan 60-84%

termasuk tingkat penilaian penerapan baik c. Untuk tingkat pencapaian penerapan 85-100%

termasuk tingkat penilaian penerapan memuaskan Selain penilaian terhadap tingkat pencapaian penerapan SMK3, juga dilakukan penilaian terhadap perusahaan berdasarkan kriteria yang menrut sifat dibagi menjadi 3 katagori, yaitu :

1. Kriteria kritikal

Temuan yang menyebabkan fatlity/kematian.

2. Katagori mayor

a. Tidak memenuhi ketentuan peraturan perundangan-undangan

b. Tidak melakukan beberapa prinsip SMK3 c. Terdapat temuan minor untuk salah satu

kriteria audit di beberapa dokumen, 3. Katagori minor

a. Ketidak konsistenan dalam pembuatan prosedur

b. Ketidak konsistenan dalam pemenuhan persyaratan peraturan, perundang-undangan, standar, pedoman dan acuan lain

133

c. Beberapa tindakan yang harus memiliki prosedur tidak disediakan prosedur.

134

Maksud dari peraturan safety ini adalah untuk memberikan proteksi terhadap personel yang melakukan pekerjaan dengan memakai PPE/APD untuk menghindari anggota tubuh kontak langsung dengan material atau energy yang dapat membahayakan.

II. Lingkup

1. Peraturan safety ini berlaku bagi semua karyawan, kontraktor, tamu, supplier dan siapa saja yang masuk ke dalam fasilitas PT. Titis Sampurna CNG Operation Semanggi baik Mother Station maupun Daughter Station.

2. Bahaya yang ada di dalam fasilitas antara lain : gas bertekanan tinggi, oli panas, bahaya mekanik dan listrik.

3. Lalai dalam melaksanakan peraturan ini bisa dikenakan peraturan bertahap, mulai dari teguran, peringatan tertulis tingkat I, II dan III yang berujung keluarnya rekomendasi dari Area manager untuk me-nonaktifkan yang bersangkutan tidak diizinkan masuk ke lapangan sampai yang bersangkutan menyadari dan dapat menjalankan peraturan ini atau pemberhentian karyawan secara permanen.

4. PPE/APD dalam fasilitas PT. Titis Sampurna CNG Operation Semanggi dibagi menjadi 2 klasifikasi, yaitu Red Zone dan Green Zone. Klasifikasi ini dibuat berdasarkan tingkat bahaya di masing-masing area kerjanya

III. Klasifikasi Berdasarkan Pekerjaan Plant Tidak Shut Down

a) Red Zone (Daerah berbahaya) meliputi : Area Proses, PT. CNG Plant Cepu

135

Area Loading, Area Utility

b) Green Zone (daerah aman) meliputi area : Area Office, Area Pos Security, Area Parkir (Assamble Point), Area Merokok

IV. ZONA PPE Berdasarkan Penilaian Risiko

Red Zone – Untuk kompleksitas bahaya seperti : Bekerja di area berbahaya, dimana probabilitas kontak dengan sumber bahaya adalah sangat mungkin. Minimum PPE saat bekerja

Tutup telinga (kalau compressor dalam kondisi operasi

Sarung tangan ID card

CATATAN :

Saat melintas area : Kacamata & Sarung Tangan boleh tidak dipakai

Green Zone– Untuk kompleksitas bahaya di area aman, dimana probabilitas kontak dengan bahaya mungkin terjadi.

Minimum PPE saat bekerja adalah : Pakaian seragam kerja Sepatu safety

ID Card

CATATAN :

Saat melintas area : Kacamata & Sarung Tangan boleh tidak dipakai.

PT. CNG Plant Cepu

136 Standar Operasional Prosedur

Alat Pelindung Diri (APD)

Dok No : SOP-HSE-001 Revisi : 0

Halaman : 3 of 3 V. Instruksi

1. Kewajuban pemakaian PPE/APD yang dimaksud adalah untuk pekerjaan normal (on ground), bila bekerja di atas tana lebih dari 2 (dua) meter tingginya maka alat pelindung diri lainnya akan ditambah sebagai proteksi seperti misalnya pemakaian safety harness, safety net dan lain sebagainya

2. SHEP akan selalu mengevaluasi minimum PPE/APD yang harus dipakai disesuaikan dengan kondisi dan situasi bahaya yang mungkin berkembang.

3. Semua karyawan PT. Titis Sampurna CNG Operation wajib menjaga dan memelihara PPE/APD yang telah diberikan oleh manajemen PT. Titis Sampurna CNG Operation

4. Kelalaian dalam menjaga PPE/APD yang telah diberikan oleh Manajemen PT. Titis Sampurna CNG Operation akan dikenakan sangsi berupa teguran yang berujung pada rekomendasi dikeluarkannya peringatan tertulis tingkat I, II dan III.

VI. Evaluasi

Prosedur safety ini berlaku tetap sampai ada perubahan yang akan dibahas terlebih dahulu oleh Manajemen PT. Titis Sampurna CNG Operation.

PT. CNG Plant Cepu

137 Standar Operasional

137 Standar Operasional

Dalam dokumen Halaman Judul Dalam Bahasa Indonesia (Halaman 123-0)

Dokumen terkait