E. Manfaat Penelitian
3. Konflik dan Manajemen Konflik
Konflik secara etimologi berasal dari bahasa latin yaitu Configere yang artinya saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menghancurkan pihak lain dengan cara menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Menurut Simanjuntak (2002: 175) konflik adalah suatu tindakan salah satu pihak yang berakibat menghalangi, menghambat, atau mengganggu pihak lain dimana hal ini dapat terjadi antar kelompok masyarakat ataupun dalam hubungan antar pribadi.
Dalam pendapat lain, Morton Deutsch mengatakan konflik adalah suatu interaksi sosial antar individu atau kelompok yang lebih dipengaruhi oleh perbedaan daripada oleh persamaan (Maftuh, 2005: 47).
Robbins (1996: 217) dalam “Organization Behavior” menjelaskan bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat baik itu pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Sedangkan menurut Luthans (1981: 155),
46 konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentangan, dimana kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia. Istilah konflik kerap diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu seperti perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan.
Dalam pengertian lain konflik diartikan sebagai suatu perjuangan yang dilakukan secara sadar dan langsung antara individu dan atau kelompok untuk tujuan yang sama, mengalahkan saingan sepertinya merupakan cara yang penting untuk mencapai tujuan (Theodorson, 1979: 71). Sedangkan menurut Killman & Thomas (Dalam Wirawan, 2010: 96) yang dimaksud dengan konflik adalah suatu kondisi ketidak cocokan objektif antara nilai-nilai atau tujuan-tujuan, seperti perilaku yang secara sengaja mengganggu upaya pencapaian tujuan, dan secara emosional mengandung suasana permusuhan. Soerjono Soekanto menyebutkan bahwa konflik sebagai pertentangan atau pertikaian, yaitu suatu proses individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan, disertai dengan ancaman dan atau kekerasan.
Dari beberapa definisi mengenai konflik diatas, dapat ditarik kesimpulan secara umum bahwa konflik adalah suatu bentuk pertentangan, oposisi dan perselisihan paham sebagai hasil perbedaan antara dua atau lebih individu atau kelompok, yang biasanya terjadi karena sejumlah hal seperti kompetisi, oposisi, ketidakcocokan, sesuatu yang tidak dapat didamaikan, kepincangan atau kejanggalan, perselisihan, perkelahian, pertengkaran dan lain sebagainya (Lattif, 2002: 36). Konflik tersebut dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, dan sering kali tidak dapat dihindari, sehingga yang
47 diperlukan adalah bagaimana mengelola konflik dengan baik dan secara efektif agar tidak menimbulkan dampak negatif.
Konflik menurut jenisnya terbagi dalam beberapa kategori, dimana masing-masing jenis mempunyai pengklasifikasian tertentu. Jenis konflik menurut Robins jika dilihat dari fungsi dapat dibagi dalam 2 (dua) macam, yaitu:
1. Konflik fungsional, yaitu konflik atau pertentangan antar kelompok yang mempertinggi atau yang menguntungkan prestasi organisasi.
Tanpa jenis konflik ini dalam organisasi, akan terdapat sedikit komitmen untuk perubahan dan sebagian kelompok mungkin akan mengalami kemandekan. Jadi, konflik fungsional dapat dianggap sebagai suatu jenis
“ketegangan yang sukses” atau menimbulkan keuntungan, sedangkan.
2. Konflik disfungsional, yaitu pertentangan atau interaksi antara kelompok yang mengganggu organisasi atau merintangi upaya pencapaian tujuan organisasi.
Konflik yang bermanfaat dapat berubah menjadi konflik yang merugikan. Dalam kasusnya, titik dimana konflik fungsional menjadi konflik disfungsional tidak mungkin diketahui dengan pasti. Konflik ini menimbulkan kerugian bagi individu-individu atau organisasi-organisasi yang terlibat di dalamnya.
Jenis konflik berdasarkan posisi pelaku konflik yang berkonflik menurut Wirawan (2010: 116) dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Konflik vertical, yaitu konflik yang terjadi antara elite dan massa (rakyat).
Elite yang dimaksud adalah aparat militer, pusat pemerintah ataupun
48 kelompok bisnis. Hal yang menonjol dalam konflik vertical adalah terjadinya kekerasan yang biasa dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyat.
2. Konflik Horizontal, yaitu konflik yang terjadi dikalangan massa (rakyat) sendiri, antara individu ataupun kelompok yang memiliki kedudukan yang relatif sama. Artinya, konflik tersebut terjadi antara individu ataupun kelompok yang memiliki kedudukan relatif sederajat, tidak ada yang lebih tinggi dan rendah.
James A.F. Stoner & Charles Wankel membagi jenis konflik berdasar sumber konfliknya menjadi 5 (lima), yaitu:
1. Konflik dalam diri individu (Konflik Intrapersonal), yaitu konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi apabila dalam waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
Konflik intrapersonal terbagi lagi dalam beberapa bentuk, yakni:
a. Konflik pendekatan-pendekatan, yakni seseorang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menarik.
b. Konflik pendekatan-penghindaran, yakni seseorang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menyulitkan.
c. Konflik penghindaran, yakni seseorang yang dihadapkan pada satu hal yang mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus.
2. Konflik antar individu (Konflik Interpersonal), yaitu pertentangan antara seseorang dengan orang lain karena pertentangan kepentingan atau keinginan.
49 Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang sangat penting dalam perilaku organisasi, karena konflik seperti ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempengaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut. Konflik ini juga termasuk dari konflik yang dihindari.
3. Konflik antar individu dengan kelompok (Konflik Intragroup), hal ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka. Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat dihukum oleh kelompok kerjanya, karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktifitas kelompok dimana ia berada, sehingga dikucilkan dari pergaulan kelompoknya. Perasaan dikucilkan, tidak dihargai, tidak dihormati seperti individu yang lain menimbulkan konflik individu yang dapat mengganggu integritas dan keseimbangan hubungan antar individu, sehingga dapat merugikan organisasisecara keseluruhan.
4. Konflik antar kelompok (Konflik Intergroup), yaitu konflik yang terjadi akibat perbedaan kepentingan dan tujuan antar kelompok satu sama lain dan tidak ada yang mau saling mengalah. Hal ini dapat menyebabkan upaya koordinasi dan integrasi menjadi sulit dilaksanakan, jenis konflik ini merupakan konflik yang paling sering terjadi. Dalam setiap kasus, hubungan-hubungan antar kelompok perlu di manage dengan tepat, guna
50 memelihara kerjasama dan untuk mencapai hasil-hasil dan mencegah timbulnya hasil-hasil destruktif yang dapat timbul akibat adanya konflik.
5. Konflik antar organisasi (Konflik Inter Organization), yaitu konflik yang terjadi antar organiasi yang berbeda kerena adanya persaingan dalam sistem perekonomian. Kesalahpahaman antar individu dalam organisasi saja dapat mengakibatkan eskalasi masalah menjadi luas sehingga melibatkan masing-masing organisasi. Dari sisi bisnis contohnya; perang harga, perebuatan pangsa pasar, pengembangan produk,dan kemajuan teknologi dapat menimbulkan konflik sesama organisasi.
Jika dilihat dari tema penelitian yang berjudul “Dinamika Rivalitas Antar Fans Klub Sepakbola (Studi pada hubungan rivalitas fans klub ICI Moratti Yogyakarta dengan JCI Chapter Yogyakarta)”, konflik ini termasuk kedalam jenis konflik antar kelompok (Konflik Intergroup). Konflik yang melibatkan antar dua fans klub sepakbola yang berbeda dan masing-masing memiliki perbedaan kepentingan dan tujuan yang berbeda serta ideologi yang berbeda pula.
Konflik antar kelompok terjadi pada semua tingkat di dalam organisasi sosial.
Faktor-faktor yang menyebabkan konflik antar kelompok tersebut menurut Rattles &
Eagle (dalam Brahmana, 2009: 22) adalah sebagai berikut:
1. Persaingan
Persaingan terjadi karena pada dasarnya kelompok akan lebih suka
”mempunyai” dari pada “tidak mempunyai” , dan kerena itu mereka mengambil rencana perencanaan dalam mencapai dua hasil, yakni mencapai
51 tujuan yang diinginkan dan mencegah kelompok lain mendapatkan tujuannya.
2. Pengelompokan sosial
Dalam belajar mereka memahami lingkungan sosialnya dan menggolongkan objek yang hidup dan tak hidup. Tajfel mengusulkan bahwa “hanya permasalahan pribadi untuk dua kelompok yang nyata hanya itu, pengelompokan sosial cukup diskriminasi antar kelompok”. Dua dasar dari kategori sosial adalah: (1) Anggota kelompok, dan (2) Anggota kelompok lain
3. Penyerangan antar kelompok
Dari beberapa tindakan negatif atau buruk dalam kenyataannya merupakan ancaman bagi kelompok untuk mencapai pertengkaran, tindakan tersebut biasanya berawal dari penghinaan kepada kelompok lain, memasuki wilayah kekuasaan kelompok lain tanpa izin atau pencarian properti kelompok lain, Gannon (dalam Rusmana, 2008: 11)
Konsekuensi konflik antar kelompok secara umum dapat dibagi menjadi 2 (dua) hal (Rusmana, 2008: 12), yaitu:
1. Konsekuensi positif, perubahan didalam kelompok sendiri menciptakan kekompakan, loyalitas dan rasa solidaritas yang tinggi, penolakan terhadap kelompok lain, dan diferensiasi kelompok yang semakin hebat.
2. Konsekuensi negatif, perubahan diantara kelompok yang berkonflik dapat menciptakan salah sangka atas motif dan kualitas anggota kelompok lain,
52 distorsi persepsi, stereotip negatif kepada kelompok lain, dan penurunan komunikasi.
Manajemen konflik antar kelompok merupakan upaya untuk mengurangi atau mencegah konflik yang terjadi antar kelompok. Upaya-upaya tersebut antara lain, Sheriff (dalam Rusmana, 2008: 13):
1. Hubungan Intergroup
Sheriff mempertimbangkan untuk membawa anggota antar dua kelompok yang berseteru kedalam beberapa aktifitas kelompok yang menyenangkan dengan harapan akan menghasilkan ikatan intergroup. Suksesnya hubungan ini sebagai alat untuk mengurangi konflik intergroup akan tergantung pada apa yang terjadi sepanjang hubungannya sendiri.
2. Kerjasama antar kelompok
Sheriff membiarkan keleluasaan kepada kelompok-kelompok untuk saling berhubungan dengan caranya masing-masing. Karena survey membuktikan bahwa hasil yang lebih tinggi akan dicapai oleh kelompok-kelompok yang bekerjasama dan membentuk sebagai regu. Setiap kelompok yang berselisih harus dapat bersama-sama mencari jalan keluar yang bersifat mutualisme, supaya bisa bersama-sama mencapai hasil yang memuaskan dan tentu saja yang memang menjadi harapan bagi kelompok-kelompok tersebut. Sheriff berpendapat sebuah kelompok harus dapat menciptakan kepercayaan diantara kelompok-kelompok tersebut. Membangun kepercayaan ini adalah salah satu langka dalam sistem pengurangan konflik antar kelompok (Rusmana, 2008: 13).
53 4. Fanatisme antar Fans Klub Sepakbola
Sebuah literatur mengenai suatu fans olahraga telah menjawab kemungkinan alasan tentang mengapa seorang individu menemukan olahraga menjadi aktivitas menyenangkan. Alasan-alasan ini terkait dengan harga diri, pelarian dari kehidupan sehari-hari, hiburan, kebutuhan keluarga, faktor ekonomi, dan kebutuhan estetik atau seni. Selain itu, seorang fans biasanya memilih satu tim tertentu untuk digemari.
Menurut Jones (1997: 68), mengatakan bahwa fans adalah individu atau kelompok yang memiliki intensitas lebih dan akan mencurahkan sebagian harinya untuk satu tim olahraga yang digemarinya, sementara ia menganggap spectator sebagai individu atau sekumpulan individu yang hanya menonton dan mengamati pertandingan olahraga kemudian melupakannya.
Dalam pengertian yang lain, Madrigal (1995: 172) mengatakan bahwa fans mewakili sebuah asosiasi yang melibatkan individu dengan banyak makna emosional dan nilai. Sedangkan, menurut Anderson (1979: 50) beranggapan bahwa fans berasal dari kata “fanatik”, sehingga dapat didefinisikan sebagai penggemar fanatik olahraga atau sebagai individu yang memiliki rasa antusiasme berlebihan pada olahraga atau tim olahraga tertentu. Seorang pengamat persepakbolaan yang bernama Giulianotti (2000:
5) mengatakan bahwa ada 4 (empat) tipe dari spectator atau penonton, yaitu: (1).
Supporter atau pendukung, (2). Follower atau pengikut, (3). Fans atau penggemar, dan (4). Flaneur. Giulianotti mengkategorikan spectator dengan menggunakan dua konsep, yaitu:
1. Konsep hot-cool, yang menetapkan sejauh mana identitas individu ditentukan dan dipengaruhi oleh daya tarik sebuah tim. Istilah “hot” dipakai
54 untuk mereka yang memiliki rasa loyalitas dan solidaritas yang tinggi, sedangkan istilah “cool” merupakan kebalikannya.
2. Konsep traditional-consumer, yang menentukan dimana letak jati diri individu yang di dorong oleh kekuatan pasar. Giulianotti mengganggap bahwa penonton tradisional lebih memiliki identitas budaya, identitas lokal, dan popular jika dibandingkan penonton konsumen yang hanya memiliki hubungan atas dasar pasar kepada klub.
Kefanatikan dari suatu fans turut mempengaruhi pengembangan individu dengan membantu orang belajar untuk mengatasi emosi dan perasaan kecewa. Fans klub olahraga dapat bersatu dan memberikan perasaan memiliki yang bermanfaat bagi individu sehingga bisa terbawa ke tempat dimana mereka tinggal, Jacobson (dalam Zillmann, 2003: 15). Zillmann (2003: 18) juga mengatakan bahwa manfaat lain dari kefanatikan dari suatu fans yakni dapat mengembangkan beragam kepentingan dan meningkatkan rasa partisipasi tanpa harus membayar harga mahal. Kefanatikan itu tidak mengenal usia, baik yang tua maupun yang muda atau yang dalam kondisi sakit -sakitan, suatu fans akan berusaha untuk berpartisipasi. Selain itu, kefanatikan menawarkan manfaat sosial seperti perasaan persabahatan, solidaritas dan kebanggaan yang bisa meningkatkan harga diri (Jacobson, 2003: 119).
Ada 2 (dua) faktor yang dapat menimbulkan kefanatikan terhadap olahraga atau tim olahraga, yaitu:
1. Level Interpersonal, yakni suatu pengaruh dari teman atau anggota keluarga yang dapat membentuk identitas dan lingkungan. Fans umumnya adalah laki-laki dan sudah dikenalkan dengan suatu olahraga atau tim olahraga
55 sejak kecil, baik itu melalui keluarga khususnya orang tua, anggota masyarakat, teman sebaya, ataupun model yang dijadikan contoh (Chorbajian, 1978: 221). Selain melalui sosialisasi, suatu individu dapat menjadi fans dengan menjadi bagian dari sebuah kelompok dan menjadi bagian dari unit kolektif. Perilaku kolektif dapat didefinisikan sebagai perilaku dari dua atau lebih individu yang bertindak secara kolektif, dimana satu sama lain saling mempengaruhi tindakan mereka masing-masing (Blumer, 1969: 124). Perilaku kolektif dapat menimbulkan rasa memiliki dalam suatu kelompok, memperkuat, memberikan pengaruh, dan menghambat tindakan yang diambil secara individu. Fans menganggap dirinya menjadi bagian dari suatu tim dan berbagi dalam rasa penderitaan ketika timnya mengalami kegagalan.
2. Level Simbolik, yaitu faktor yang menimbukan kefanatikan terhadap suatu olahraga atau tim olahraga berdasarkan faktor pemain, nama tim, logo, warna dan yel-yel dari sebuah klub.
Fanatisme secara umum memang diperlukan, namun yang tidak dikehendaki dari fanatisme adalah timbulnya fanatisme sempit dari suatu fans itu sendiri. Fanatisme sempit biasanya menganggap bahwa kelompoknya lah yang paling benar, paling balik, dan kelompok lain harus dimusuhi. Gejala dari fanatisme sempit dapat menimbukan dampak yang negatif. Kecintaan pada kub sepakbola baik dan dibenarkan, namun kecintaan yang berlebihan terhadap kelompoknya sendiri dan memusuhi kelompok lain terutama bagi kelompok yang memiliki hubungan rivalitas dengan kelompok lain juga
56 tidak bisa dibenarkan. Aksi anarkisme, sterotip negatif dan tindakan-tindakan mengejek/menghina antar kelompok merupakan ciri dari fanatisme sempit itu sendiri.