• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terdapat enam lokasi di Desa Lubuk Kembang Bunga (LKB) yang didatangi gajah pada Tahun 2007 - 2008. Lokasi-lokasi tersebut yaitu AM Tengah, Kampung Baru, Perbekalan, Simpang Jengkol, Jalan RAPP/Elang Mas dan Jalan Pemda. Keenam lokasi merupakan jalur pergerakan wilayah jelajah yang tersebar di bagian Selatan Hutan Tesso Nilo sehingga setiap tahunnya lokasi- lokasi ini akan di datangi gajah. Terdapat tujuh lokasi kedatangan gajah pada Tahun 2005 - 2006 dan 6 lokasi di antaranya merupakan lokasi yang sama pada Tahun 2007 - 2008 (Tabel 14).

Tabel 14 Lokasi kedatangan gajah di Desa Lubuk Kembang Bunga Tahun 2005 - 2008

No. Lokasi Kedatangan Gajah

Tahun 2005 2006 2007 2008 1. AM Tengah 9 9 9 9 2. Kampung Baru 9 9 9 9 3. Perbekalan 9 9 9 9 4. Simpang Jengkol 9 9 9 -

5. Jalan RAPP/Elang Mas 9 9 9 -

6. Jalan Pemda 9 9 9 9

7. Jalan PU 9 9 - -

Kawasan di Jalan PU tidak di datangi gajah sejak Tahun 2007 hingga sekarang karena kawasan Jalan PU telah dikelilingi lahan perkebunan masyarakat dan HTI milik PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Kondisi seperti ini mengakibatkan jarak hutan dengan kawasan Jalan PU lebih jauh dan gajah akan terusir terlebih dahulu oleh masyarakat yang lahannya lebih dekat dengan hutan.

Pintu keluar gajah di LKB yaitu Sungai Tapa, AM Tengah, Sungai Perbekalan dan Elang Mas. Gajah yang keluar dari S. Tapa dan AM Tengah memasuki kawasan Perbekalan, Kampung Baru dan Simpang Jengkol. Gajah yang keluar dari S. Perbekalan memasuki kawasan Perbekalan, Kampung Baru, Jalan Pemda dan Air Hitam. Gajah yang keluar dari Elang Mas memasuki kawasan Elang Mas/Jalan RAPP dan Jalan PU.

Enam lokasi di LKB yang didatangi gajah keculi AM Tengah terdapat lahan pertanian milik masyarakat (lahan kelapa sawit dan karet). Lahan pertanian ini sering didatangi gajah karena letaknya berdekatan dengan hutan (TNTN), pintu keluar gajah dan sungai serta komoditas yang ditanam merupakan jenis tanaman yang disukai gajah. Masuknya gajah ke lahan pertanian masyarakat menimbulkan kerusakan pada komoditas pertanian dan fasilitas lahan pertanian. Hasil pengamatan lapangan didapatkan luas lahan pertanian terganggu Tahun 2007 - 2008 seluas 58,5 hektar yang terdiri dari 50 hektar kelapa sawit dan 8,5 hektar karet (Gambar 6). 6 5 4 20 2.5 0 0 0 15 6 0 5 10 15 20 25

Kampung Baru Perbekalan Simpang Jengkol Jalan RAPP/Elang Mas Jalan Pemda Lokasi L u as ( h a) Kelapa sawit Karet

Gambar 6 Luas lahan pertanian terganggu berdasarkan lokasi di Desa Lubuk Kembang Bunga Tahun 2007 - 2008.

5.3.2. Waktu Gangguan

Gajah memasuki lahan pertanian masyarakat pada waktu malam hari yaitu pada waktu aktif untuk mecari makan. Waktu aktif makan Gajah sumatera terjadi pada pagi hari (pukul 4.10 - 11.55 WIB) dan sore hari (pukul 15.00 - 2.00 WIB) (Abdullah 2008). Keberadaan gajah di lahan pertanian umumnya terjadi pada sore hari (pukul 17.00 WIB) hingga pagi hari (02.00 - 04.00 WIB). Lamanya keberadaan gajah di lahan pertanian dipengaruhi oleh ketersediaan sumberdaya pakan (jenis dan jumlah) serta kondisi lingkungan (suhu dan gangguan). Gajah lebih menyukai umbut sawit daripada karet dan menyukai kondisi lingkungan yang sejuk dan sunyi. Gajah cenderung akan menghindar dari kondisi lingkungan yang ramai/bising.

Kedatangan gajah meningkat pada musim penghujan yaitu bulan November - April (Gambar 7). Hal ini berhubungan dengan strategi penggunaan sumberdaya dan faktor habitat oleh gajah yang meliputi strategi penggunaan ruang dan waktu (musim hujan - kemarau). Pada waktu musim hujan secara naluriah gajah akan berpindah ke hutan primer karena keadaan pakan di hutan primer saat musim hujan mencukupi keperluan gajah. Peningkatan kedatangan gajah pada musim penghujan ke Desa Lubuk Kembang Bunga diperkirakan disebabkan oleh perjalanan gajah untuk berpindah ke dalam hutan primer atau terbatasnya pakan yang tersedia di hutan pada saat musim penghujan.

0 1 2 3 4 5 6 7

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Bulan F r e kue nsi 2007 2008

Sumber: Laporan patroli Tim Flying Squad

Gambar 7 Grafik intensitas kedatangan gajah di Desa Lubuk Kembang Bunga Tahun 2007 - 2008.

5.3.3. Tingkat Gangguan

Tingkat gangguan gajah dapat dilihat berdasarkan lokasi lahan pertanian masyarakat (Gambar 8). Lokasi lahan pertanian yang berdekatan dengan hutan, pintu keluar gajah dan sungai memiliki tingkat gangguan yang lebih tinggi. Kawasan Perbekalan menjadi lokasi yang sering didatangi gajah karena lokasi ini merupakan daerah yang dilalui untuk menuju wilayah lain dan terdapat akses jalan yang memudahkan pergerakan gajah serta terdapat ruang yang digunakan gajah untuk memenuhi kebutuhannya.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 AM Tengah Kampung Baru Perbekalan Simpang Jengkol RAPP Jalan Pemda Lokasi Fr ek u e n si 2007 2008

Sumber: Laporan patroli Tim Flying Squad

Gambar 8 Diagram intensitas kedatangan gajah berdasarkan lokasi di Desa Lubuk Kembang Bunga tahun 2007 - 2008.

5.3.4. Jenis dan Jumlah Kerusakan 5.3.4.1. Jenis Kerusakan

Keberadaan gajah di dalam lahan pertanian menimbulkan kerusakan tanaman dan fasilitas lahan pertanian berupa pondok jaga, pancing/strom gajah dan parit. Kerusakan tanaman yang ditimbulkan oleh gajah dikategorikan menjadi dua kategori, yaitu kerusakan tanaman yang terjadi karena gajah kebetulan menemukan lahan pertanian yang berada di dalam atau berdekatan dengan daerah jelajahnya (opportunistic raiding) dan kerusakan tanaman yang terjadi karena gajah keluar dari habitatnya (obligate raiding). Kerusakan pada tanaman umumnya karena dimakan oleh gajah. Jenis tanaman yang dimakan oleh gajah yaitu kelapa sawit, karet, ubi kayu dan pisang. Bagian tanaman yang dimakan yaitu pelepah, umbut, akar, kulit kayu, batang, buah dan daun. Kerusakan tanaman

juga diakibatkan oleh terinjaknya atau terenggutnya tanaman ketika gajah melakukan pergerakan dan memakan tanaman utamanya.

Banyak bagian tanaman yang direnggut oleh gajah tidak ikut dimasukkan ke mulut tetapi hanya ditebarkan ke tempat lain atau ditaburkan ke punggungnya sendiri. Oleh karena itu, daerah tempat makan cenderung mengalami kerusakan habitat (Gambar 9).

(a) (b)

(c)

Gambar 9 Kerusakan akibat dimakan (a), direnggut (b) dan diinjak (c) gajah. Kerusakan pondok jaga diakibatkan oleh gajah yang mendorong hingga rubuh atau rusak pada beberapa bagian. Faktor-faktor yang mempengaruhi gajah merusak pondok jaga antara lain pondok jaga menghalangi pergerakan gajah, atap pondok jaga berupa pelepah sawit serta tersedianya pakan kesukaan gajah seperti garam dan padi di dalam pondok jaga. Kerusakan pondok jaga dapat diklasifikasikan kedalam tiga kategori, yaitu rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan (Gambar 10).

(a) (b)

(c)

Gambar 10 Pondok jaga rusak berat (a), rusak sedang (b) dan rusak ringan (c). Kerusakan pada sarana pencegahan konfilk diakibatkan karena gajah berusaha masuk ke lahan pertanian. Perusakan parit dilakukan gajah dengan menggemburkan dinding parit sehingga menjadi dangkal. Perusakan pancing/strom gajah dilakukan dengan merobohkan kayu yang menjadi tiang kawat listrik sehingga gajah dapat melewatinya.

5.3.4.2. Jumlah Kerusakan

Luas lahan pertanian (kelapa sawit dan karet) terganggu yang dimiliki 14 KK berkonflik Tahun 2007 - 2008 adalah 58,5 hektar dengan luas kerusakan 3,24 hektar. Jumlah kerusakan akibat konflik Tahun 2007 - 2008 terdii atas 1.245 batang tanaman perkebunan (858 batang kelapa sawit dan 387 karet), 18 batang tanaman pangan (8 batang pisang dan 10 batang ubi kayu) dan 9 unit pondok jaga. Fakto-faktor yang mempegaruhi jumlah kerusakan, yaitu :

1) Jumlah gajah.

2) Kondisi lahan (jarak dengan hutan, kebersihan lahan dan jumlah lahan masyarakat yang berada disekitarnya).

3) Upaya pengendalian yang dilakukan oleh pemilik lahan. Foto: Roji (2003)

5.3.5. Pola Usahatani Terhadap Gangguan Gajah

Berdirinya perkebunan kelapa sawit PT. Inti Indosawit Subur dan PT. Musi Mas Tahun 1987 - 1998 mengakibatkan berubahnyan mata pencaharian masyarakat dari petani karet dan pencari ikan menjadi petani kelapa sawit. Sistem KKPA (Koperasi Kredit Primer Anggota) yang berinduk pada PT. Inti Indosawit Subur meningkatkan perluasan lahan kelapa sawit yang dilakukan oleh perusahaan. Kondisi ini memicu terjadinya gangguan gajah pada areal perkebunan kelapa sawit milik perusahaan.

Tahun 1993 HPHTI PT. RAPP Sektor Ukui dibangun dan mengakibatkan berpindahnya pemukiman masyarakat LKB ke kanan dan kiri jalan poros RAPP. Pada masa ini masyarakat mulai membudidayakan kelapa sawit dan membuka kawasan hutan untuk dijadikan lahan kelapa sawit. Masyarakat juga mengganti jenis komoditas tanaman pertanian menjadi kelapa sawit yang pada awalnya berupa tanaman pangan dan karet. Kondisi ini menyebabkan gangguan gajah semakin terbuka dan memasuki areal pertanian dan pemukiman masyarakat.

Pada Tahun 2003 ketika pemegang konsesi HPH menelantarkan areal konsesinya, aktivitas perambahan meningkat dan masyarakat melakukan kegiatan perladangan berpindah. Perladangan berpindah dilakukan masyarakat untuk menanam tanaman pangan yang mereka butuhkan seperti padi dan ubi kayu. Penetapan sebagian dari kawasan Hutan Tesso Nilo sebagai taman nasional menghentikan aktivitas perladangan berpindah dan masyarakat mulai bertani secara menetap dengan komoditas utamanya kelapa sawit.

Perubahan pola usahatani masyarakat merupakan salah satu pemicu terjadinya konflik manusia dan gajah di Lubuk Kembang Bunga. Masyarakat yang memiliki lahan pertanian dekat dengan hutan dan menempati jalur pergerakan wilayah jelajah gajah menderita kerugian akibat keberadaan gajah di lahan pertaniannya (Tabel 15).

Tabel 15 Kerugian masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga akibat konflik dengan gajah Tahun 1997 - 2006

Periode (Tahun) Kerugian Masyarakat (Rp)

1997 - 2000 95.730.000

2000 - Juli 2003 657.400.000

Januari 2005 - Juli 2005 32.770.000

Juli 2005 - Juli 2006 80.000.000

5.3.6. Respon Masyarakat Terhadap Gangguan Gajah

Terdapat dua respon yang terjadi di masyarakat dalam menghadapi konflik manusia dan gajah (KMG). Pertama, masyarakat yang menganggap gangguan gajah merupakan persoalan yang biasa mereka hadapi dari tahun ke tahun. Sebagian besar masyarakat yang seperti ini merupakan masyarakat asli yang sudah lama hidup berdampingan dengan gajah. Masyarakat melakukan penanggulangan secara berkelompok, melakukan patroli malam, membuat api unggun dan apabila gajah datang mereka melakukan pengusiran secara bersama dengan membuat bunyi-bunyian dan membawa obor. Kedua, masyarakat yang reaktif terhadap gangguan gajah. Respon masyarakat pada kelompok ini yaitu gajah harus disingkirkan dengan cara apapun sehingga menyebabkan terjadinya kematian gajah baik disengaja atau tidak. Masyarakat memagari tanaman dengan kawat berduri dan melapisinya dengan racun sehingga dapat mengancam kehidupan gajah (Gambar 11).

(a) (b)

Gambar 11 Tanaman kelapa sawit dipagari kawat berduri (a) dan diolesi racun (b). Konflik manusia dan gajah di Provinsi Riau telah mengakibatkan penurunan populasi gajah di habitatnya. Gajah yang tidak dapat ditangani akan di tangkap dan dipindahkan ke lokasi lain seperti PLG (Pusat Latihan Gajah).

Tabel 16 Jumlah kematian manusia dan gajah akibat konflik manusia dan gajah di Provinsi Riau Tahun 2000 - 2009

Tahun Kematian Manusia Kematian Gajah Gajah Ditangkap

2000 - 2001 2 1 27 2002 4 19 49 2003 4 2 38 2004 2 15 23 2005 4 6 49 2006 6 24 28 2007 3 4 7 2008 4 7 10 2009 8 1 - Jumlah 30 86 231

Sumber : WWF Indoensia-Program Riau (2009).

Foto : Syamsuardi Foto : Syamsuardi

Dokumen terkait