• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONFLIK, PERDAMAIAN DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK

Penjelasan pada level manusia memperlihatkan bahwa bentuk sebuah perdamaian tidak terlepaskan dari bentuk konkritnya, yaitu kelompok. Perdamaian pada level manusia itu sendiri, di dalam proses reifikasinya menjadi kelompok, tak bisa dilepaskan dari pemahaman kelompok itu mengenai konflik.6 Akan tampak bahwa keduanya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pembentukan kelompok.7 Ibarat sekeping mata uang, konflik dan perdamaian merupakan kedua belah sisi dari sebuah kelompok. Itu berarti, kelompok tanpa konflik atau sebaliknya, tanpa perdamaian adalah tak mungkin. Sementara, konflik dan

5Novri Susan, Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), 125-126.

6Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, konflik berarti percekcokan; perselisihan; pertentangan; ketegangan atau pertentangan di dalam cerita rekaan atau drama (pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh, pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya); secara batiniah, konflik muncul dalam bentuk pertentangan antara dua gagasan atau lebih atau antar keinginan untuk menguasai diri sehingga mempengaruhi tingkah laku; dalam kebudayaan, konflik dimaknai sebagai persaingan antara dua masyarakat sosial yang mempunyai kebudayaan hampir sama; dalam bidang sosial konflik muncul dalam bentuk pertentangan antar anggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan. https://kbbi.web.id/konflik. Dikutip pada tanggal 11 Agustus 2018.

7Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik terjadi oleh karena perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi sosial. Perbedaan-perbedaan tersebut di antaranya berkaitan dengan perbedaan ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik menjadi suatu situasi yang wajar dalam setiap masyarakat. Suatu fakta yang tak terbantahkan bahwa masyarakat manapun di dunia ini pernah mengalami konflik. Sehingga, sesungguhnya konflik tidak akan bisa dihilangkan kecuali dengan cara menghilangkan masyarakat. https://id.wikipedia.org/wiki/ Konflik. Dikutip pada tanggal 11 Agustus.

perdamaian tak bisa terlaksana kecuali di dalam kelompok. Konflik, perdamaian dan kelompok merupakan tiga kesatuan yang tak terpisahkan.

Sosiolog muslim dari periode klasik, Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami atau yang biasa dipanggil dengan Ibn Khaldun (1332-1406), mendapati bahwa dalam diri manusia terdapat semacam sifat animal power. Sifat ini menjadikan manusia cenderung kepada penggunaan kekerasan sebagai cara dalam memenuhi kepentingan hidupnya. Sedangkan Charles Darwin (1809-1882) melihat bahwa di alam terdapat suatu jenis hukum yang dinamakannya survival of the fittest. Hukum ini bekerja untuk melakukan seleksi secara alamiah terhadap segala bentuk kehidupan makhluk hidup. Yang lolos dalam seleksi akan tetap eksis dan hidup, sementara yang tidak lolos seleksi akan punah dengan sendirinya.8

Filsuf lain lagi yang agak sistematis menguraikan fikirannya adalah Thomas Hobbes (1588-1679). Dalam fikirnya manusia itu layak disebut sebagai homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi yang lain). Dinamakannya demikian, karena manusia cenderung menggunakan kekerasan terhadap orang lain setiap kali ia berusaha untuk memenuhi tuntutan kepentingannya. Tetapi dia sadar, jika kekerasan digunakan secara terus-menerus justru dia sendiri yang akan punah. Olehnya itu harus dibuat kesepakatan dengan orang lain. Dari hasil kesepakatan itu ditetapkanlah aturan-aturan yang akan menjamin terselenggaranya pengelolaan persaingan dan konflik. Tetapi penyelenggaraan dan pengelolaan membutuhkan pembentukan sebuah lembaga yang akan diberi wewenang penuh untuk menjaga dan melaksanakan aturan-aturan itu. Lembaga itulah yang disebut dengan negara.

Di dalam negara kekerasan tidak serta merta hilang. Hanya saja negara mempunyai wewenang penuh untuk mengelola persaingan dan konflik sehingga perdamaian dapat terwujud. Itu berarti, menurut Hobbes, kekerasan adalah raison d’etre bagi terbentuknya negara, yang mana di dalamnya perdamaian dikelola.9

Dapat dipahami bahwa negara adalah hasil akhir dari upaya manusia untuk mempertahankan eksistensinya dan pemenuhan kepentingannya.

Secara sangat mengesankan sejarah pembentukan masyarakat Islam pun memperlihatkan kenyataan yang sama. Penjelasan mengenai upaya diri atau kelompok untuk mempertegaskan eksistensi dan kepentingannya dapat membantu ketika membaca kembali sejarah Islam klasik. Ketika kekuasaan umat Islam semakin berkembang dan meluas ke wilayah-wilayah baru, bertemulah mereka dengan kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki beragam budaya dan kepercayaan. Pertemuan itu rupanya memunculkan sejumlah persoalan baru yang belum pernah ditemukan pada masa-masa sebelumnya. Dari segi teologi, di antara yang menjadi persoalan krusial saat itu, adalah yang ditimbulkan dari sekte-sekte dan budaya-budaya lama. Mereka mempersoalkan tentang kepercayaan Islam mengenai transendensi Tuhan. Sebagai diketahui, demikian Hassan Hanafi, Islam adalah suatu kekuatan sosial-politik baru yang memperoleh sukses besar dalam berbagai pertempuran tetapi mendapat serangan dari belakang dari segi doktrin dan sistem kepercayaan. Untuk menghadapi serangan-serangan tersebut segera saja

8 Novri Susan, Pengantar Sosiologi Konflik, 115 9 Novri Susan, Pengantar Sosiologi Konflik, 115-116.

sebuah kerangka konseptual disusun berdasar atas keadaan-keadaan, bahasa dan kategori-kategori pada saat itu. Pertentangan dengan kepercayaan-kepercayaa lama, memang dilihat sebagai suatu bentuk dialektika kata-kata. Akan tetapi, dialektika tersebut sekaligus menyingkap dialektika yang sebenarnya dari pertentangan antara Islam, sebagai suatu kekuatan sosial dan politik baru yang sedang bangkit dan membesar, berhadapan dengan kekuatan-kekuatan sosial dan politik lama, seperti Persia, Romawi dan Yahudi. Kerangka konseptual yang di susun kembali berdasarkan situasi saat itu, di samping berhasil mempertahankan doktrin transendensi Tuhan Islam, juga berhasil mempertahankan kelanjutan kekuasaan politik umatnya sebagai suatu kekuatan sosial-politik baru, menggantikan kekuasaan lama yang perlahan-perlahan sedang menuju kepada kehancurannya.10

Memasuki masa moderen keadaan menjadi berbalik. Invasi militer Barat terhadap dunia Islam berdampak pada kejatuhan mereka ke dalam jurang penjajahan. Situasi itu menuntut supaya segera disusun kembali suatu kerangka konseptual dalam rangka, bukan untuk mendapatkan kehidupan abadi, tetapi bagaimana agar Islam bangkit lagi dan meraih kemerdekaan dan kejayaannya yang hilang.11

Invasi militer Barat berlanjut kepada bukan hanya penjajahan fisik. Barat datang dengan membawa serta ideologi-ideologi totaliter mereka, seperti demokrasi, sosialisme, komunisme, dan sebagainya, dan membenturkannya dengan Islam. Benturan itu, berakibat pada timbul perasaan inferior dalam diri umat Islam. Jalan untuk keluar dari situasi itu adalah memerdekakan diri dan mendirikan sebuah negara. Bagi kelompok fundamentalis Islam, negara yang mau dibentuk itu haruslah sebuah negara Islam. Apalagi, menurut mereka, Islam bukan hanya sekedar agama, seperti halnya agama-agama Kristen, Hindu, Budha, dan lain sebagainya, yang mengandung aspek ibadah saja. Islam meliputi setiap aspek kehidupan, ibadah, budaya, ekonomi, sosial, politik dan pemerintahan. Jadi, negara Islam merupakan hasil rumusan ulang kerangka konseptual kepercayaan untuk diperhadapkan dengan ideologi-ideologi totaliter Barat di atas.12 Yang menarik, kemerdekaan memang

10Hassan Hanafi, From Dogma to Revolution dalam “Islam in the Modern World, Volume II: Tradition, Revolution and Culture” (Cairo: Dar Kebaa Bookshop, 2000), 124.

11 Hassan Hanafi, From Dogma…, 124

12 Nurcholish Madjid berpendapat bahwa ditinjau dari proses sejarah dan perkembangan pemikiran, timbulnya gagasan negara Islam adalah bersumber dari sikap apologetis umat Islam. Ada dua hal yang menjadi alasan munculnya sikap apologetis. Pertama, ideologi-ideologi Barat yang cenderung bersifat menyeluruh terhadap setiap aspek kehidupan manusia seperti ekonomi, politik, sosial dan budaya, menjadi pemicu bagi bangiktnya ideologi politik umat Islam dan dengan demikian membawa kepada gagasan negara Islam. Dalam pandangan para penggagas negara Islam, Islam bukan sekedar agama, seperti halnya agama-agama lain. Islam adalah al-din, yang cakupan ajarannya meliputi semua aspek kehidupan manusia, seperti halnya ideologi-ideologi totaliter Barat itu.

Kedua, apologi umat Islam juga dipicu oleh faktor legalisme Islam. Faktor legalisme

dalam Islam merupakan kelanjutan dari fiqihisme. Fiqih adalah kodifikasi hukum yang dibuat oleh ulama abad kedua dan ketiga hijriyah untuk memenuhi kebutuhan umat akan sistem dan pemerintahan negara. Karena dengan sering disebut juga sebagai syari’at Umat Islam mau menunjukkan bahwa Islam memiliki atura-aturan dan hukum-hukum yang

berhasil diraih dan negara Islam juga bisa ditegakkan ‒walaupun tidak semua negeri muslim demikian. Tetapi setelah itu umat Islam sudah berada pada situasi yang tidak mungkin lagi bisa dipersatukan. Kepentingan nasional yang berbeda-beda mengakibatkan terpecahnya umat Islam ke dalam sekian negara bangsa. Agaknya, para penggagas negara Islam tidak sempat menyadari bahwa kepercayaan kelompok yang mendasari pendirian negara Islam berakibat pada perpecahan masyarakat Islam universal kepada sekian negara bangsa. Itu artinya, telah terjadi pergeseran paradigma perdamaian dari berskala universal kepada skala lokal-nasional. Dapat dikatakan bahwa perdamaian nasional memang nampak, tetapi pada setiap negara tersimpan potensi konflik yang sewaktu-waktu bisa muncul dalam bentuk perang antar sesama negara Islam.

Negara-negara Islam yang ada saat ini dapat dilihat sebagai satuan-satuan terpisah. Di dalamnya konflik dan perdamaian dikelola dalam rangka mempertegas eksistensi kelompok umat Islam dan kepentingan pernegara nasional saja. Dengan kata lain, institusi negara yang bersifat nasionalis, menjalankan roda pemerintahan demi pemenuhan kepentingan nasional semata.