• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP JAMAAH TABLIGH TERHADAP KONFLIK AMBON

Terobsesi oleh tujuan yang lebih besar, dalam berdakwah, JT tidak merubah metode dan tema pembicaraan, baik pada saat damai maupun konflik. Dakwah dilaksanakan sebagaimana biasanya, yaitu dengan memfokuskan pembicaraan tentang KA. Tidak menyinggung sedikit pun tentang persoalan konflik.

80Ibnu Burdah, Bishwa Ijtema dan Pesona Jamaah Tabligh, dalam, “detiknews”, Kamis 18 Januari 2018

81Empat hal utama yang harus diperbanyak dalam pembicaraan dakwah JT adalah: 1. Mengajak untuk taat kepada Allah (Dakwah ilā Allah)

2. Belajar dan mengajar (Ta’līm wa ta’lūm) 3. Zikir dan ibadah (Dzikir wa al-ibādah)

4. Saling melayani (Khidmah). Selengkapnya, lihat: An Nadhr M. Ishaq Shahab, Khuruj Fi Sabilillah Sarana Tarbiyah Ummat Untuk Membentuk Sifat Imaniyyah (Bandung: Al-Ishlah Pers, 1432 H.), 101-142

82 Empat hal yang tidak boleh disentuh, adalah: 1. Politik dalam negeri maupun luar negeri

2. Khilāfiyyah (perbedaan pendapat masāil al-fiqhiyyah) 3. Membicarakan aib seseorang maupun masyarakat

4. Meminta sumbangan dan membicarakan status sosial seseorang. Lihat: An Nadhr, Khuruj, 101-142

83Pada tahun 2003 satu jemaah dari Malaysia yang di utus ke india, berjumpa dengan satu jemaah dari Israel. Pada kesempatan itu, terjadi dialog yang menarik. Dalam dialog itu sempat Jamaah Malaysia melontarkan pertanyaan mengenai bagaimanakah usaha dakwah dan tabligh bisa berlangsung di negara Israel secara terbuka, bahkan sampai berhasil membentuk empat markas dakwah di sana, sedangkan orang Arab di Palestina sedang diancam dan disiksa dengan keras oleh orang Israel? “Orang Yahudi juga Perlu Hidayah,” Jawab mereka, ”Orang Yahudi adalah pakar dalam soal kitab samawi termasuk Al-Quran dan Al-Hadits Nabi. Mereka tahu yang mana benar dan yang mana salah dan mereka tahu usaha Agama yang mana mendapat bantuan Allah SWT dan yang tidak memperolehinya. Maka mereka tidak berani mengganggu orang-orang yang membuat usaha dakwah dan tabligh. Mengganggu orang-orang ini bermakna menarik azab Allah SWT dan bala-Nya ke atas mereka sendiri. Sebab itulah mereka dibiarkan bebas. Sedangkan pergerakan lain yang radikal diberantas dan disiksa habis-habisan. Orang Yahudi tahu bahwa cara mereka salah dan tiada bantuan Allah SWT bersama mereka itu”. Lihat, https://imanyakin.wordpress.com/ 2014/02/13/kebenaran-usaha-dakwah-dan-tabligh-diakui-zionis-israel/. Lihat juga, https: //salafytobat. wordpress. com/tag/jamaah-tabligh-ditakuti-israel-dengan-menyebutnya-the-monster-of-islam/. Lihat juga, http: //ahbab-indonesia.blogspot.com/2014/04/bagaimana-usaha-dakwah-tabligh.html

Ketidakterlibatan mereka secara langsung dengan konflik berdasarkan pada cara pandang mereka tentang KA dan KUI. Menurut mereka, konflik Ambon bukan konflik agama. Ia sepenuhnya dapat dilihat sebagai konflik kepentingan antara pihak Muslim dan Kristen. Hasil wawancara tokoh-tokoh kedua agama yang dihimpun oleh Husen Assagaf pun menyatakan demikian. Mereka bahkan berpandangan bahwa agama telah dijadikan sebagai alat untuk memparah situasi. Ketua Majelis Ulama (MUI) Maluku, Idris Toekan, berkata:

“Dari berbagai diskusi-diskusi yang di bangun MUI Maluku bahwa konflik di Ambon-Maluku bukan konflik agama, tetapi agama dijadikan sebagai isu provokasi umat dalam berkonflik. Mereka mengetahui masyarakat Islam dan Kristen di Ambon-Maluku sangat ta’at atau fanatik terhadap agamanya, sehingga isu agama dimasukkan dalam areal konflik supaya semakin kuat dan luas wilayah konfliknya. Kita mengetahui bahwa jihad dalam pandangan Islam bukan saja perang tapi bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan. Kita sadar bahwa lembaga-lembaga agama seperti MUI Maluku tidak memiliki peranan yang kuat dalam pembimbingan umat dalam pemahaman terhadap doktrin agama dalam membangun peradaban bersama antar umat beragama di Ambon.84

Sejalan dengan apa yang dikatakan ketua MUI Maluku di atas, Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pdt John Ruhulessin pun berkata demikian, sebagai berikut:

“Konflik di Ambon-Maluku bukan konflik agama apalagi dikaitkan dengan Perang Salib (crusade). Konsep Perang Salib ini hanya dikenal dalam perdebatan teologi Kristen dan memang diakui sebagai suatu peristiwa dalam sejarah Kristen dan tidak ada kaitannya dengan konflik di Ambon. Tetapi konflik di Ambon memang diakui adanya mobilisasi atas nama agama. Oleh karena itu, perlu ada pemahaman kembali terhadap doktrin dan idiologi agama sebab doktrin agama sangat mempengaruhi prilaku umat dalam menjalankan ajaran agamanya bisa saja keluar dari ajaran kitab sucinya. Misalnya dalam Mathius ayat 8 yakni Panggilan Agung dalam misionaris Kristen dan Kristenisasi perlu diterjamahkan kembali dan GPM dalam 10-20 tahun terakhir merubah pola pemikirannya dalam dialog-dilaog terbuka antar saudara-saudara kita yang Muslim untuk membangun kebersamaan dan toleransi di Ambon-Maluku.”85

Selama berkecamuk konflik, JT mengambil sikap defensive di tempat tinggal masing-masing. Bila ada penyerangan dari pihak Kristen, barulah JT mengambil tindakan sekedar membela diri. Masalah menjadi sangat serius ketika pada bulan April tahun 2000 Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah (LJAWJ) Salafi Wahabi tiba di Ambon. Sikap JT yang demikian itu dianggap oleh mereka sebagai tindakan tidak mau peduli terhadap negeri sendiri. Pada saat yang bersamaan JT tetap konsisten dengan metode dakwah mereka yaitu mengajak orang Islam untuk khurūj (keluar), baik dalam kawasan Pulau Ambon maupun keluar dari Ambon. Sementara saat itu. LJAWJ dengan sungguh-sungguh sedang mengajak orang-orang Islam dari

84Husen Assagaf, “Toleransi Kehidupan Umat Beragama,” 4. 85Husen Assagaf, “Toleransi Kehidupan Umat Beragama,” 5.

berbagai daerah di Indonesia datang ke Ambon untuk berjihad. Dua metode dakwah yang benar-benar berseberangan. Perbedaan metode dakwah itu benar-benar dimanfaatkan untuk memprovokasi masyarakat supaya tidak menerima dakwah JT. Pertengkaran pun tak terhindarkan. Hanya saja JT bersikap lebih banyak mengalah, sehingga masalah tidak berkembang menjadi besar.

Dengan memanfaatkan dukungan umat Islam, kelompok LJAWJ menghasut umat agar bersama-sama menentang gerakan JT. Walaupun umat Islam tidak termakan hasutan, tetapi paling kurang sebagian besar masjid di kota Ambon dapat diblokir mereka. Akibatnya, gerakan JT menjadi sangat terbatas. Memang aneh sekali, bukannya bagaimana menjaga perasaan sesama umat Islam untuk menghadapi musuh bersama, mereka malah menciptakan musuh dari dalam umat Islam sendiri. Tetapi, akhirnya, keadaan pun menjadi membaik. Pada bulan Oktober 2002 LJAWJ dibubarkan. Pada Selasa, 22 Oktober 2002 mereka ditarik dari Ambon untuk dipulangkan ke Jawa.86

Dalam pada itu eskalasi konflik mulai menurun, keadaan pun semakin kondusif. Masjid-masjid yang tadinya diblokir, satu demi satu membuka pintu untuk menerima kembali kehadiran JT. Dalam suasana yang demikian itu JT mulai melakukan beberapa perkumpulan besar berskala regional. Rombongan-rombongan

86 Harian Umum Suara Merdeka, Perekat Komunitas Jawa Tengah, tanggal 22 Oktober 2002, dengan judul berita “Kedatangan Laskar Jihad Aman”, memberitakan, sebagai berikut: Kedatangan ratusan anggota Laskar Jihad di Pelabuhan Tanjung Perak terlihat aman-aman saja. Itu berbeda dari saat keberangkatan mereka pada dua tahun lalu.

Berita kedatangan sebagian anggota Laskar Jihad asal Jatim, Jateng, dan Yogyakarta memang tidak banyak diketahui pengunjung Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Selain itu tidak ada penyambutan khusus. Yang ada hanya para koordinator daerah asal anggota Laskar Jihad tersebut.

Hanya sebagian kecil anggota keluarga yang menjemput mereka di pelabuhan. Tak ada kesedihan di wajah mereka. Yang ada justru tawa ceria. Salah satu keluarga asal Manukian Surabaya, Soetomo dan istrinya yang akan menjemput anaknya Deni (21) banyak mengumbar senyum.

Para kamerawan dilarang mengambil gambar anggota laskar Jihad, sekalipun gambar bus yang akan membawa mereka pulang ke kampung halamannya. Dalam kesempatan lain, Yoyok Wahyu Nugroho mengatakan, dirinya yang lulusan SMA 8 Surabaya tahun 1989 adalah mantan Komandan Kompi Laskar Jihad Sektor STAIN Ambon yang membawahkan 200 anggota selama periode Mei 2000-Januari 2001.

Dia menambahkan, di Jatim ada empat korban dari laskar yang meninggalkan istri, satu di antaranya asal Surabaya. Namun, lagi-lagi Yoyok keberatan menyebutkan alamatnya. Para janda dan korban cacat itu, kata dia, menjadi tanggung jawab rekan-rekannya di Surabaya. Janda tiga anak asal Surabaya itu misalnya, kini dibuatkan rumah di sebuah pondok pesantren di Jatim. Dengan cara itu kehidupan dan kebutuhan pendidikan mereka dipenuhi. Lebih dari itu, dia bisa terus mengikuti taklim (pengajian) yang kami kembangkan. Rombongan Laskar Jihad diangkut Kapal Dorolondo yang tiba di pelabuhan pada pukul 12.30 WIB. Ratusan polisi dan keamanan pelabuhan disiagakan. Polisi dipimpin Kapolres Tanjung Perak AKBP Endro Wardoyo memeriksa barang-barang bawaan mereka. Hasilnya, dari kardus dan tas mereka, polisi cuma menemukan pakaian dan bahan makanan, seperti gula dan beras. Tak satu pun senjata tajam atau bahan berbahaya ditemukan.

Kapolda Jatim Irjen Pol Drs Sutanto menyambut baik kepulangan Laskar Jihad. Kata Sutanto, masyarakat tak perlu mencurigai mereka macam-macam. (jo-69e)

dakwah dikeluarkan secara teratur dan berjumlah besar. Beberapa lembaga pemerintah seperti STAIN Ambon dan Lanud Pattimura, memberikan kepercayaan untuk membina mahasiswa dan anggota-anggotanya. Kini JT sudah membangun sebuah masjid sebagai sentral kegiatan dakwah yang berlokasi di Air Kuning Desa Batumerah Kecamatan Sirimau-Kota Ambon. Dari situ, pengiriman maupun penerimaan jamaah ke dan dari berbagai tempat, lokal, nasional dan manca negara, dapat diatur dengan baik. Masjid yang menjadi markaz JT itu diberi nama Al-Istikhlash.

Sikap tidak mau melibatkan diri secara aktif ke dalam peperangan, bukan karena JT bersikap membuka diri kepada non-muslim. Bagi JT, mereka tetap orang kafir. Hanya saja kekafiran mereka sama sekali bukanlah sebuah alasan untuk dilakukannya penyerangan terhadap mereka. Alasan untuk tidak dilaksanakan penyerangan adalah karena sampai dengan saat ini umat Islam belum begitu bersungguh-sungguh melakukan komunikasi (dakwah) dengan mereka secara langsung. “Bagaimana kita akan memerangi mereka, sementara kita sendiri belum pernah mendakwahi mereka. Merupakan suatu kesalahan adalah memerangi orang yang belum pernah didakwahi.” Mereka juga berkata,”Tujuan utama dakwah kita adalah untuk orang Islam, belum kepada orang kafir. Apalah artinya kita mengajak orang kafir masuk Islam, sementara orang Islam sendiri banyak yang belum mengamalkan agamanya. ”

Setelah melewati masa-masa konflik, terjadi segregasi pemukiman penduduk antara komunitas muslim dan kristiani. Kebanyakan wilayah pemukiman menjadi terpisah. Hal itu menyebabkan komunikasi hari-hari antar kedua komunitas tersebut menjadi terputus. Komunikasi baru berjalan kembali hanya ketika ada hubungan bisnis (muamalah), baik di kantor maupun di pasar. Dalam kondisi yang demikian, JT lebih memantapkan sikap mereka hanya kepada kaum muslimin saja.

BAB VI PENUTUP A. KESIMPULAN

Kajian perdamaian dari berbagai kelompok kepentingan (disertasi ini memunculkan tiga kelompok, yaitu modernis Islam, fundamentalis Islam dan Jamaah Tabligh) menemukan sejumlah kenyataan menarik, sebagai berikut:

1. Perdamaian berdasar pada suatu absolutisme. Kelompok modernis Islam, melalui paham pluralisme agama, menyatakan bahwa semua kebenaran bersifat relatif. Maksud dari pernyataan itu ialah supaya tidak boleh ada satu orang pun yang merasa benar sendiri atau melakukan klaim kebenaran (truth claim) dengan agamanya. Pikir mereka, klaim kebenaran (truth claim) yang bersumber dari suatu absolutisme, akan berujung pada tindakan-tindakan radikalisme, seperti menyalahkan atau bahkan menyerang pihak lain yang berbeda keyakinan. Untuk menghilangkan radikalisme, maka absolutisme dulu yang perlu dihilangkan, baru perdamaian bisa terwujud. Mereka lupa bahwa dengan menyatakan “Semua kebenaran adalah relatif” sebenarnya mereka sedang melakukan tindakan mengabsolutkan relatifisme sebagai kebenaran universal. Jadi, mereka justru sedang memunculkan absolutisme baru, yang dengan itu, memang bisa menyatukan internal kelompok mereka dalam suatu perdamaian yang terbatas. Tetapi, dengan kelompok lain yang berbeda keyakinan, justru berbalik menyalahkan dan menyerang. Tampak, pernyataan “Semua kebenaran adalah relatif” adalah suatu pernyataan perang kepada semua kelompok selain mereka. Melalui analisa teologis, terungkap juga bahwa dibalik absolutisme yang mereka anut itu, terkandung upaya teologi untuk menegaskan eksistensi kelompok dan kepentingan mereka semata.

Begitu pun dengan kelompok fundamentalis Islam. Melalui tindakan mengabsolutkan Islam sebagai satu-satunya kebenaran, mereka berharap dapat menyatukan semua orang Islam dalam sebuah perdamaian. Persoalannya, absolutisme Islam yang mana. Ada banyak varian absolutisme Islam sesuai dengan banyaknya varian kelompok fundamentalis dalam Islam. Masing-masing kelompok mengklaim telah mengusung absolutisme Islam yang sebenarnya. Padahal, semua absolutisme dari para fundamentalis Islam juga merupakan upaya masing-masing kelompok untuk menegaskan eksistensi kelompok dan kepentingannya saja. Alih-alih menciptakan perdamaian, sesama mereka sendiri sulit untuk berdamai.

2. Kedua kelompok, baik modernis maupun fundamentalis, gagal. Kecuali, bila salah satu dari mereka dapat mencapai level universal. Jalan untuk mencapai level tersebut adalah dengan tindakan radikalisme, menyingkirkan segala bentuk absolutisme yang lain, supaya yang eksis hanya absolutisme kelompoknya saja. Kelompok modernis Islam mengambil bentuk radikalisme lembut, dan kelompok fundamentalis Islam mengambil radikalisme keras.

2. Jamaah Tabligh sebagai suatu gerakan dakwah transnasional pun sedang melakukan upaya, yang secara tak langsung, berimplikasi pada perdamaian. Upaya sebenarnya adalah menegaskan ketuhanan Allah dan mewujudkan kepentingan-Nya dalam kehidupan kaum muslimin. Sebagaimana halnya kelompok fundamentalis Islam, JT juga berdasar pada absolutisme Islam. Tetapi, berbeda dengan kelompok tersebut yang secara subyektif menegaskan absolutisme berdasarkan pada kepentingan kelompoknya, Jamaah Tabligh mempertahankan absolutisme Islam berdasar pada makna obyektif ayat Al-Qur’an dan hadis. Dengan pendekatan obyektif, terungkap bahwa ternyata ayat Al-Qur’an dan hadis tiada lain merupakan pernyataan Allah tentang ketuhanan-Nya dan kepentingan abadi-Nya. Dengan kata lain, penjelasan Allah dalam Kitab Suci tentang ketuhanan dan kepentingan Abadi-Nya, bila dipahami secara obyektif memiliki makna dengan tingkat kebenaran absolut. Absolutisme universal ini dijadikan sebagai dasar dalam membangun perdamaian universal, yang wujud konkritnya berupa masyarakat universal. 3. Dalam upayanya membangun perdamaian, pertama-tama JT membedakan

antara kepentingan Allah (KA) dengan kepentingan umat Islam (KUI). Secara institusi JT menyatakan diri untuk tidak terlibat ke dalam persoalan KUI. Fokus perhatiannya adalah KA, yaitu bagaiman mentranformasikan KA menjadi kepercayaan. Melalui program khurūj fi sabīl li Allāh proses transformasi itu dilaksanakan. Dengan meluaskan gerakan khurūj ke wilayah-wilayah terjauh JT saat ini telah dapat membangun masyarakat dalam skala universal.

Terobsesi oleh keinginan untuk mewujudkan teologi perdamaian universal, JT di Ambon terabaikan dari peran-peran perdamaian dalam masyarakat. Selama konflik Ambon, JT memang tidak melibatkan diri dalam penyerangan-penyerangan. Tetapi juga tidak ikut aktif dalam upaya-upaya perdamaian yang sedang dilakukan oleh masyarakat Ambon.