• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.10 Konsep Dana Talangan

Dana talangan bagi petani tebu adalah sejumlah dana yang “dipinjamkan”

kepada petani, senyampang mereka menunggu hasil produksi tebu menjadi gula putih yang diolah ke PG tertentu, sebelum dilelang nantinya (Wibowo, 2012). Dana talangan merupakan salah satu jaminan harga bagi petani. Konsep dana talangan pertama kali diterbitkan berdasarkan SK no. 643 tahun 2002, yang intinya mewajibkan importir terdaftar menyangga harga gula petani.

Gambar 8 Proses dana talangan Sumber: KPPU, 2010

Proses dana talangan seperti pada Gambar 8, mengenai pembentukan harga awal gula adalah pada saaat lelang. Gula milik petani yang digilingkan di PG dijual dengan sistem lelang dan terbentuklah harga sesuai dengan kesepakatan antara petani dengan penyandang dana (investor). Jika harga lelang lebih besar daripada harga dasar gula, maka terdapat margin positif. Selisih antara harga lelang dan harga dasar gula talangan (HDG) merupakan sharing antara petani dengan penyandang dana. Penyandang dana mendapatkan 40% dari selisih antara harga lelang-harga dasar talangan. Petani mendapatkan 60% dari selisih antara harga lelang dan harga dasar talangan. Dana talangan jika mendapat margin negatif maka merupakan kewajiban investor untuk menanggung selisih antara harga lelang dengan harga dasar talangan gula.

Pola kerjasama antara petani dengan investor (dana talangan) merupakan kerjasama yang memberikan jaminan harga bagi petani, terutama disaat harga gula jatuh (Rohman, 2004). Dana talangan merupakan alat untuk menahan turunnya harga gula ditingkat petani pada saat panen raya sehingga petani masih mendapat keuntungan.

2. 11 Sistem Dinamik

Sistem adalah keseluruhan interaksi antar unsur dari sebuah obyek dalam batas lingkungan tertentu yang bekerja mencapai tujuan (Muhammadi et al, 2001). Metodologi sistem dinamik telah dan sedang berkembang sejak diperkenalkan pertama kali oleh Jay W. Forrester pada dekade lima puluhan, dan berpusat di MIT Amerika. Penggunaan metodologi ini lebih ditekankan kepada tujuan-tujuan peningkatan pengertian kita tentang bagaimana tingkah laku sistem muncul dari struktur kebijakan dalam sistem itu. Pengertian ini sangat efektif dalam perancangan kebijaksanaan yang efektif (Tasrif, 2006). Definisi sistem dinamik menurut Coyle (1979) dalam Coyle ( 1996) adalah metode menganalisis masalah di mana waktu merupakan faktor penting, dan melibatkan studi tentang bagaimana sistem dapat dipertahankan terhadap, atau dibuat untuk mendapatkan keuntungan dari, guncangan yang berasal dunia luar. Definisi lain, merupakan cabang ilmu manajemen yang berkaitan dengan masalah pengendalian.

Sebuah dinamika perilaku sistem sangat ditentukan oleh struktur lingkar umpan balik (feedback loops). Pada suatu sistem tertutup terlihat adanya ciri-ciri dinamis dari suatu sistem. Oleh karena itu dalam metode sistem dinamik arah perhatian lebih ditujukan pada sistem yang tertutup atau sistem umpan balik. Sistem umpan balik ini merupakan blok pembentuk model yang diungkapkan melalui lingkaran tertutup atau sistem umpan balik. Lingkar umpan balik tersebut menyatakan hubungan sebab akibat dari variabel-variabel yang melingkar, bukan menyatakan hubungan karena adanya korelasi statistika.

Terdapat dua macam hubungan kausal, yaitu hubungan kausal positif dan hubungan kausal negatif. Struktur umpan balik positif menghasilkan perilaku pertumbuhan atau percepatan (J-Curve), sedangkan struktur umpan balik negatif menghasilkan perilaku menuju sasaran(r- Curve) ( Coyle, 1996; dan Muhammadi et al, 2001).

Menurut Tasrif (2006), langkah-langkah pemodelan dengan metode sistem dinamik:

-Pola Referinsi

Dalam langkah ini diidentifikasi pola historis atau pola hipotesis yang menggambarkan perilaku persoalan (problem behavior). Pola historis atau pola hipotesis ini merupakan pola referensi yang diwakili oleh pola perilaku suatu kumpulan variable-variabel yang mencakup beberapa aspek yang berhubungan dengan perilaku persoalan. Pola-pola tersebut diintegrasikan ke dalam suatu susunan (fabrikasi) sedemikian rupa sehingga dapat merepresentasikan tendensi- tendensi internal yang ada di dalam system. Penggambaran pola referensi tersebut sebagai tendensi internal system adalah sangat penting, karena tendensi itu ditimbulkan oleh suatu kumpulan struktur umpan balik yang terbentuk di dalam system dan mempunyai implikasi-implikasi terpenting untuk analisis kebijaksanaan.

-Hipotesis Dinamik

Setelah pola referensi dapat didefinisikan, suatu hipotesis awal tentang interaksi- interaksi perilaku yang mendasari pola referensi perlu diajukan. Pada langkah ini, hipotesis dinamik yang diajukan mungkin belum tepat sekali. Beberapa iterasi dari formulasi, perbandingan dengan bukti-bukti empiris, dan reformulasi akan ditempuh untuk sampai kepada suatu hipotesis logis dan shahih secara empiris.

-Batas Model

Dalam langkah ini batas model akan didefinisikan terlebih dahulu dengan jelas sebelum suatu model dibentuk. Batas model ini memisahkan proses-proses yang menyebabkan adanya tendensi internal yang diungkapkan dalam pola referensi dari proses-proses yang merepresentasikan pengaruh-pengaruh eksogenus. Batas model ini akan menggambarkan cakupan analisis dan akan berdasarkan kepada isu-isu yang ditujukan oleh analisis tersebut dan akan meliputi semua interaksi sebab-akibat yang berhubungan dengan isu itu.

2. Membentuk suatu model computer -Struktur Umpan Balik Model

Setelah batas model dapat didefinisikan, suatu struktur lingkar-lingkar umpan balik (feedback loops) yang berinteraksi akan dibentuk. Struktur umpan balik ini merupakan blok pembentuk model yang diungkapkan melalui lingkar-lingkar tertutup. Lingkar umpan balik tersebut menyatakan hubungan sebab akibat variable-variabel yang melingkar, bukan menyatakan hubungan karena adanya korelasi statistik.

-Level dan Rate

Level menyatakan kondisi system pada setiap saat. Level merupakan hasil akumulasi di dalam sistem, sedangkan rate menyatakan aktivitas sistem. Persamaan suatu variable rate merupakan suatu struktur kebijaksanaan yang menjelaskan mengapa dan bagaimana suatu keputusan dibuat berdasarkan kepada informasi yang tersedia di dalam system. Rate inilah satu-satunya variable dalam model yang dapat mempengaruhi level.

3. Pengujian model dan analisis kebijakan

Tahap ini dilakukan terhadap model untuk menegakkan keyakinan terhadap kesahihan model dan sekaligus pula mendapatkan pemahaman terhadap tendensi-tendensi internal sistem. Hal ini diperlukan untuk membandingkannya dengan pola referensi dan secara terus menerus memodifikasi dan memperbaiki struktur model. Sensitivitas model terhadap perubahan nilai parameter-parameter perlu dilakukan pula dalam langkah ini. Bila suatu korespondensi antara model

mental sistem, model eksplisitnya, dan pengetahuan empirik tentang sistem telah diperoleh; model yang dibuat dapat diterima sebagai suatu representasi persoalan yang sahih dan dapat digunakan untuk analisis kebijaksanaan.

Sejalan dengan pernyataan Sterman (2000), langkah-langkah dalam proses pemodelan; (1) mendefinisikan masalah (2) merumuskan hipotesis dinamis (3)perumusan model simulasi (4) pengujian (5) desain kebijakan dan melakukan evaluasi.

Menurut Coyle (1996) ada 5 (lima) pendekatan dalam menganalisis sistem dinamik, yaitu (1) mengenali masalah dan mengetahui mengapa orang yang peduli tentang hal itu, (2) membuat causal loop diagram (3) analisa mengacu pada ide-ide cemerlang dan pet teory (pandangan orang yang berpengalaman dalam sistem) (4) tahapan jika analisis kualitatif tidak menghasilkan wawasan yang cukup untuk memecahkan masalah, maka proses bekerja hasil pada stadium 4, kontraksi pada simulasi model (5) analisis berdasarkan analisis kuantitatif.

Sterman (2000) menyebutkan bahwa pola umum perilaku dasar dinamika system adalah exponential growth, goal seeking dan oscillation. Masing-masing bentuk tersebut berasal dari struktur umpan balik yang sederhana, di mana growth diperoleh dari umpan balik yang positif, goal seeking dari umpan balik negatif, dan oscillation dari umpan balik negatif dengan delay waktu. Bentuk umum tersebut seperti pada Gambar 9.

Gambar 9 Pola umum perilaku dinamika sistem Sumber: Sterman 2000

Sterman (2000) menyebutkan bahwa alam dan manusia memiliki tingkat kompleksitas dinamis. Dinamika muncul dari interaksi antara agen dari waktu ke waktu.Sistem yang kompleks berada dalam ketidakseimbangan dan berkembang. Banyak tindakan yang dilakukan menghasilkan konsekuensi yang tidak dapat diubah. Keberadaan masa lalu tidak bisa dibandingkan dengan baik untuk keadaan sekarang. Dinamika system adalah metode untuk mendapatkan informasi yang berguna dalam kompleksitas dinamis dan kebijakan yang resisten. Kompleksitas dinamis timbul karena sistem adalah:

1. Dynamics: perubahan seringkali terjadi dalam skala waktu dan perbedaan skala seringkali berinteraksi.

2. Tightly coupled: pelaku-pelaku dalam sistem berinteraksi dengan kuat satu sama lain begitu juga dengan lingkungannya.

3. Governed by feed back: adanya interaksi yang kuat antar pelaku-pelakudalam sistem, tindakan yang dilakukan memberikan umpan balik kepada mereka sendiri.

4. Non linear: dampak jarang sebanding dengan penyebabnya, dan apa yang terjadi secara lokal pada sistem (dekat titik operasi saat ini) sering tidak berlaku di daerah yang jauh (negara-negara lain dari sistem).

5. History-dependent:hanya mengambil satu jalan sering menghalangi orang lain dalam mengambil dan menentukan di mana anda berakhir (analisis jalur). 6. Self-organizing:dinamika sistem muncul secara spontan dari struktur

internalnya. Seringkali, kecil, gangguan acak diperkuat dan dibentuk oleh struktur umpan balik, menghasilkan pola dalam ruang dan waktu dan menciptakan analisis jalur.

7. Adaptive: kemampuan dan aturan-aturan keputusan dalam system yang kompleks berubah dari waktu-ke waktu.

8. Counterintuitive: pada sistem yang kompleks, sebab dan akibat jauh dalam ruang dan waktu, namun kita cenderung berusaha menjelaskannya dengan mencari penyebab yang mungkin.

9. Policy resistant: dalam system yang kompleks kita memiliki kemampuan untuk memahaminya, banyak solusi yang tampaknya jelas untuk memecahkan masalah gagal atau justru memperburuk situasi.

10.Characterized by trade-offs: waktu delay dalam jalur umpan balik berarti respon jangka panjang dari sistem untuk intervensi sering berbeda dari respon jangka pendeknya. Kebijakan leverage yang tinggi sering menyebabkan hal buruk-sebelum-menjadi lebih baik, sementara kebijakan leverage yang rendah sering menimbulkan perbaikan sementara sebelum masalah menjadi semakin buruk.