Anemia adalah suatu kondisi dimana terdapat kekurangan sel darah merah atau hemoglobin. Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh yang kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun dalam masa nifas. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena ibu hamil mengalami hemodilusi
(pengenceran) dengan peningkatan volume 30% sampai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu (Manuaba, 2010).
53
Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat Sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan Sahli dapat digolongkan sebagai berikut.
Hb 11 g% Tidak Anemia
Hb 9-10g% Anemia Ringan
Hb 7-8 g% Anemia Sedang
Hb <7 g% Anemia Berat
Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan, yaitu pada trimester I dan trimester III. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami anemia, maka di lakukan pemberian Fe sebanyak 90 tablet pada ibu hamil (Manuaba, 2010).
Anemia ringan terjadi karena jumlah sel darah merah yang rendah menyebabkan berkurangnya pengiriman oksigen ke setiap jaringan dalam tubuh, anemia dapat menyebabkan berbagai tanda dan gejala. Hal ini juga bisa membuat buruk hampir semua kondisi medis lainnya yang mendasari.Jika anemia ringan, biasanya tidak menimbulkan gejala apapun.Jika anemia secara perlahan terus-menerus (kronis) (Proverawati, 2011).
2.7.2 Macam- Macam Anemia
1. Anemia defisiensi vitamin B12
Anemia difesiensi vitamin B12 adalah jumlah sel darah merah yang rendah yang disebabkan karena kekurangan vitamin B12.Tubuh membutuhkan vitamin B12 untuk membuat sel-sel
54
darah merah, tubuh harus makan cukup makanan yang mengandung vitamin B12 yang dapat diperoleh dari bahan makanan seperti daging, unggas, kerang, telur, dan produk susu (Proverawati, 2011).
2. Anemia Defisiensi Folat.
Anemia defisiensi folat adalah penurunan jumlah sel-sel darah merah (anemia) karena kekurangan folat. Asam folat yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah dan pertumbuhan. Asam folat dapat diperoleh dengan mengkonsumsi sayuran berdaun hijau dan hati (Proverawati, 2011).
3. Anemia Defesiensi Besi.
Penurunan jumlah sel darah merah dalam darah yang disebakan oleh zat besi yang terlalu sedikit. Besi merupakan salah satu komponen dari heme, bagian dari hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang ngikat oksigen dan memungkinkan sel darah merah untuk mengangkut oksigen keseluruh tubuh. Jika simpanan besi habis, maka akan kekurangan sel darah merah yang dibuat dan hemoglobin di dalamnya akan berkurang mengakibatkan anemia. Pencegahannya makan – makanan yang mencakup zat besi yang cukup.Daging merah, hati dan kuning telur merupakan sumber penting zat besi.Tepung, roti dan beberapa sereal yang di perkaya dengan besi baik untuk pencegahan.Jika tidak mendapatkan cukup zat besi dalam diet, maka dapat dilakukan suplementasi zat besi. (Proverawati, 2011).
55 4. Anemia Penyakit Kronis.
Gangguan darah yang dihasilkan dari sebuah kondisi (kronis) jangka panjang medis yang mempengaruhi produksi dan umur sel darah merah. Jika kondisi anemia ringan tidak memerlukan pengobatan. Bila kondisi menjadi beratmembutuhkan transfusi darah dan supplement zat besi. (Proverawati, 2011).
5. Anemia Hemolitik.
Suatu kondisi di mana tidak ada cakupan sel darah merah dalam darah, karena kerusakan dini sel-sel darah merah (Proverawati, 2011).
2.7.3 Patofisiologi Anemia pada kehamilan
Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh perubahan sirkulasi yang semakin meningkat terhadap plasenta dan pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada TM II kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke-9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterm serta kembali normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasma, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron (Rukiyah, 2010). 2.7.4 Etiologi Anemi pada Kehamilan
Anemia sering terjadi selama kehamilan, dikarenakan terjadi peningkatan kadar cairan plasma selama kehamilan mengencerkan darah (hemodilusi). Tubuh mengalami perubahan yang signifikan saat hamil. Jumlah darah dalam tubuh meningkat sekitar 20-30%,
56
sehingga memerlukan peningkatan kebutuhan pasokan zat besi dan vitamin untuk membuat hemoglobin. Ketika hamil tubuh membuat lebih banyak darah untuk berbagi dengan bayinya. Tubuh mungkin memerlukan darah hingga 30% lebih banyak dari pada ketika tidak hamil. Jika tubuh tidak memiliki cukup zat besi, tubuh tidak dapat membuat sel-sel darah merah yang di butuhkan untuk membuat darah ekstra. Banyak wanita mengalami defesiensi besi pada TM II dan TM III (Proverawati, 2011)
2.7.5 Faktor resiko pada ibu hamil anemia 1. Faktor resiko pada kehamilan
Dapat terjadi abortus, persalinan prematuritas, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi, mola hidatidosa, hiperemesis gravidarum, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD) (Manuaba, 2010)
2. Faktor Risiko pada Persalinan
Gangguan His (kekuatan mengejan), kala I dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar, kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan, kala III dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan postpartum karena atonia uteri, kala IV dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri (Manuaba, 2010).
57 3. Fakto Resiko pada saat Nifas
Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan postpartum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang, anemia kala nifas, mudah terjadi infeksi mamae (Manuaba, 2010). 4. Faktor Risiko pada Janin
Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengn anemi dapat mengurangi kemampuan metabolise tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat anemia dapat terjadi gangguan dalam bentuk : abortus, kematian intrauterine, persalinan prematuritas tinggi, berat badan lahir rendah, kelahiran dengan anemia, dapat terjadi cacat bawaan, bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal (Manuaba, 2010).
2.7.6 Kebutuhan Zat Besi pada Wanita Hamil Menurut(Manuaba, 2010) yaitu :
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehamilan zat besi besar untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis.
Jika persediaan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulakn anemia pada kehamilan berikutnya. Pada kehamilan relative terjadi
58
anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodilusi (pengenceran) dengan peningkatan volume 30% - 40% yang puncaknya pada kehamilan 32 – 34 minggu. Jumlah peningkatan sel darh 18 – 30%, dan hemoglobin sekitar 19%. Dilusi akan mengakibatkan anemia hamil fisiologis, dan Hb ibu akan menjadi 9,5 – 10 g%.
2.7.7 Tanda dan Gejala pada ibu hamil anemia Menurut (Manuaba, 2010) yaitu : 1. Cepat lelah
2. Sering pusing
3. Mata berkunang-kunang
4. Mual-muntah lebih hebat pada hamil muda. 2.7.8 Penanganan Anemia dalam Kehamilan
Dalam mengatasi masalah anemia pada ibu hamil, program suplementasi tablet zat besi yang biasa didapatkan di Puskesmas. Tablet zat besi dapat menghindari anemia besi dan anemia asam folat (Manuaba, 2010). Untuk mengatasi kejadian anemia pada ibu hamil diperlukan suatu upaya pencegahan yang dapat dilakukan dengan memberi suplementasi Fe, yang mana biasanya diberikan secara rutin pada wanita hamil untuk mencegah penipisan simpanan besi tubuh untuk mencegah anemia (Proverawati, 2011)
Menurut Fadlun 2011, pencegahan dan terapi anemia sebagaiberikut :
59
1. Meningkatkan konsumsi makanan bergizi
Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur ) dan bahan makanan nabati ( sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe). Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C ( daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, dan jeruk ) sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat dalam usus.
2. Menambah pemasukan zat besi ke dalam tubuh dengan minum Tablet Tambah Darah (TTD). Minumlah satu tablet tambah darah setiap hari paling sedikit selama 90 hari masa kehamilan dan 40 hari setelah melahirkan.
3. Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia, seperti : kecacingan, malaria dan penyakit TBC.
2.7.9 Konsep SOAP pada Ibu hamil dengan anemia ringan S (Data Subjektif) :
Ibu memeriksakan kehamilan dan mengeluh pusing, cepat lelah, mata berkunang-kunang apalagi ketika bangun dari duduk dan nafsu makan berkurang (Rukiyah, 2010).
O (Data Objektif) :
Keadaan umum : ibu terlihat pucat (Rukyah, 2010). Keasadaran : composmentis (Rukyah, 2010). TTV : TD : 110/70-130/90 mmHg
60
N : 60 – 90 x/ menit S : 36,50C-37,5 0C
Pemeriksaan penunjang lab Hb : Hb 8-11 gr% (Rukiyah, 2010) Leopold I :Untuk menentukan TFU dan bagian apa
yangteraba pada fundus
Leopold II : Untuk menentukan kanan dan kiri perut ibu. Leopod III :Untuk menentukan bagian bawah janin dan
memastikan sudah masuk PAP atau masih bisa digoyangkan.
Leopold IV : Untuk menentukan bagian terbawah janin sudahseberapa jauh masuk PAP.
Tafsiran berat janin (TBJ) : 2500-4000 gram. Denyut jantung janin : 120-160/menit A (Analisa)
G…P…A…hamil…minggu dengan Anemia Ringan. Janin Tunggal Hidup
P (penatalaksanaan)
1. Menjelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan dan kondisinya saat ini, Ibu sudah diberitahu mengenai hasil pemeriksaan dan ibu mengerti
2. Memberikan motivasi pada ibu untuk banyak memakan makanan yang mengandung zat besi seperti telur, susu, hati, ikan, daging, kacanga-kacangan (seperti telur, susu, hati, ikan, daging, kacanga-kacangan (tempe, tahu, oncom,
61
kedelai, kacang hijau), sayuran berwarna hijau tua (kangkung, bayam, daun katuk) dan buah-buahan (jeruk, jambu biji, pisang) dan perhatikan pola makan teratur 3 x sehari.
3. Menganjurkan ibu untuk sering beristirahat yaitu tidur pada malam hari kurang lebih 7-8 jam dan siang selama kurang lebih1-2 jam juga hindari istirahat yang berlebihan dan bekerja terlalu berat.
4. Memberitahu ibu tablet fe dengan dosis 1x1 diminum dengan air putih satu gelas dan sebaiknya diminum menjelang tidur pada malam hari agar mengurangi efek sampingnya mual. 5. Memberitahu ibu tentang tanda-tanda bahaya pada kehamilan
seperti perdarahan, sakit kepala lebih dari biasanya, dan menetap, pandangan kabur, nyeri ulu hati dan lainnya.
6. Mengingatkan Ibu untuk kontrol ulang 2 minggu lagi atau bila ada keluhan, untuk memantau perkembangan kondisi ibu dan janinnya, Ibu mengerti dan bersedia untuk memeriksakan kembali kehamilannya 2 minggu yang akan datang atau jika ada keluhan (Rukiyah, 2010)
93 BAB III
ASUHAN KEBIDANAN