• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

4. Konsep Dasar Keharmonisan Keluarga

Keharmonisan keluarga adalah keluarga dimana anggota didalamnya bisa berhubungan secara serasi dan seimbang, saling memuaskan kebutuhan anggota lainnya serta memperoleh pemuasan atas segala kebutuhannya ( Zainun, 2006). Teori Maslow (dalam Sukmana, 2002) yang membahas tentang beragam

kebutuhan manusia telah menyusun suatu hierarki kebutuhan yang harus dipenuhi oleh individu sebagai pribadi dan sebagai anggota keluarga secara selaras dan seimbang, yaitu:

1) Kebutuhan biologik-faali (kebutuhan-kebutuhan dasar) seperti makan, minum, pakaian, dan lain-lain

commit to user

2) Kebutuhan akan rasa aman (bebas dari bahaya dan ancaman baik fisik maupun psikis).

3) Kebutuhan akan kasih sayang (afeksi) dan rasa kebersamaan, rasa memiliki dan dimiliki, merasa dirinya bagian integral dari keluarga (belonging).

4) Kebutuhan akan penghargaan dan prestasi (self esteem). 5) Kebutuhan akan perwujudan diri (aktualisasi diri).

Kebutuhan-kebutuhan ini membentuk suatu sistem, dimana sebelum kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah terpenuhi sampai derajat tertentu maka individu atau kelompok belum akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhan yang berada pada tingkat yang lebih tinggi.

Sebuah keluarga terdiri atas bermacam-macam orang dengan banyak keinginan. Dalam satu rumah ada ayah, ibu dan anak, bahkan mungkin ada pembantu rumah tangga. Daftar penghuni rumah masih bisa ditambah, misalnya paman, bibi, kakek dan nenek. Beragam orang tersebut niscaya terangkum sebuah keluarga yang harmonis, tidak banyak ditandai pertikaian, bahkan sanggup berperan sebagai ajang kehidupan bersama yang menguatkan setiap anggotanya. Keluarga harmonis ditandai oleh adanya relasi yang sehat antar anggotanya sehingga dapat menjadi sumber hiburan, inspirasi, dorongan yang menguatkan dan perlindungan bagi setiap anggotanya (Sukmana, 2002).

commit to user

Dalam keluarga yang harmonis, setiap anggota keluarga harus menyadari dan mengakui hak dan kewajiban masing-masing. Menurut Zainun (2006) hal ini berlaku bagi:

1) Hubungan Suami Istri yang Harmonis

Keluarga harmonis merupaka taggungjawab suami istri, bukan kewajiban salah satu, melainkan keluarga bisa harmonis apabila suami istri dapat rukun jika masing-masing mensyukuri apa yang ada pada pasangannya.

Hubungan suami-istri yang serasi antara lain: a) Adanya penyesuaian diri antara keluarga b) Adanya saling pengertian

c) Saling tenggang rasa d) Saling penghargaan e) Saling tanggung jawab

f) Saling gotong royong, bantu membantu

g) Adanya pengakuan dari kedua pihak bahwa masing-masing berhak atas perwujudan diri pribadi.

2) Hubungan Orangtua Anak yang Harmonis

Selama ini sebagian orangtua ingin agar anaknya bersikap, bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan dan diinginkan oleh orang tua, harapan masyarakat dan lingkungan sekitar. Padahal kenyataanya apa yang menjadi kebutuhan anak dan kebutuhan orangtua berbeda.

Ketidakseimbangan kebutuhan dan keinginan inilah yang menjadi sumber dari tidak efektifnya komunikasi antara orang tua dengan anak. Tanpa orang tua sadari jadilah orang tua seperti mesin perintah yang selalu memaksa

commit to user

anak untuk melakukan apa yang dikehendakinya, menjadi orang tua yang suka melarang.

Beberapa hal yang menjadi indikasi serasinya hubungan antara orang tua – anak, antara lain:

a) Adanya pengetahuan dan wawasan orangtua-anak tentang pentingnya hubungan yang setara dalam keluarga.

b) Tumbuhnya rasa cinta dan kasih sayang antara orang tua - anak dan sebaliknya.

c) Munculnya rasa hormat dan menghargai satu sama lainnya.

d) Adanya sikap dan perilaku orangtua yang rasional dan bertanggungjawab terhadap proses tumbuh kembang anak.

Adanya kemampuan orang tua untuk mendeteksi gejala yang memungkinkan timbulnya permasalahan anak.

3) Hubungan Antar Anak yang Harmonis

Interaksi antar saudara didalam keluarga tentunya tidak terlepas dari peran orang tua sejak awal di dalam pengasuhan. Bagimana orang tua menanamkan nilai-nilai kekeluargaan diantara kakak beradik serta bagaimana menciptakan persaingan yang sehat diantara kakak-adik didalam satu keluarga akan menjadi bekal bagi anak didalam berhubungan satu sama lain.

Hubungan antar saudara yang harmonis menunjukkan:

a) Adanya perasaan saling menyayangi dan saling mengasihi antar anak. b) Adanya keinginan dan kebutuhan untuk saling melindungi diantara anak.

commit to user

c) Munculnya perasaan saling menghormati dan menghargai kewajiban dan hak antar saudara.

d) Saling membantu satu sama lain yang diwujudkan melalui pemberian bimbingan dari kakak kepada adik dan sebaiknya adik menghargai.

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan indikasi keluarga harmonis adalah sebagai berikut:

1) Saling tenggang rasa dan menghargai antar keluarga. 2) Dapat menjalankan tanggung jawabnya masing-masing. 3) Saling gotong-royong dan bantu membantu.

4) Saling menghormati dan menghargai kewajiban dan hak antar anggota keluarga.

5) Tumbuhnya rasa cinta dan kasih sayang antar anggota keluarga.

6) Adanya sikap dan perilaku orang tua yang rasional dan bertanggungjawab. 7) Adanya keinginan dan kebutuhan untuk saling melindungi antar anggota

keluarga.

8) Suasana keluarga nyaman dan damai. d.Membangun Keluarga Harmonis

Beberapa faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam membangun keharmonisan keluarga menurut Sukmana (2002) adalah:

1) Peran masing-masing anggota keluarga

Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing sesuai dengan status yang disandangnya.

commit to user

Suami istri saling menghargai keberadaan masing-masing sehingga terjadi saling pengertian dan tumbuh cinta kasih yang berkesinambungan.

3) Pengalaman hidup

Semakin luas pengalaman hidup suami istri, maka akan semakin matang dalam menghadapi masalah yang akan timbul.

4) Adat istiadat

Perbedaan adat istiadat suami istri yang dilatarbelakangi oleh keluarganya masing-masing, seyogyanya saling menghargai dan menghormati.

5) Tujuan Keluarga

Tujuan keluarga hendaknya ditetapkan dengan tegas dan jelas, apa yang harus dilakukan dan yang harus dihindari.

6) Anggaran pendapatan dan belanja keluarga (APBK)

Dalam sebuah keluarga seharusnya disusun APBK, penghasilan ekonomi dapat mencukupi sehingga tercapai kebahagiaan keluarga.

7) Hubungan (komunikasi)

Dalam keluarga harus tercipta komunikasi yang harmonis sehingga akan terhindar dari salah tafsir dalam menanggapi suatu pesan yang disampaikan.

5.Konsep Pola Asuh Orang Tua

Dokumen terkait