C. Konsep Fieldtrip 1. Pengertian fieldtrip
Beberapa pengertian metode fieldtrip yang diungkapkan para ahli. Karyawisata (fieldtrip) ialah pesiar (ekskursi) yang dilakukan oleh para peserta didik untuk melengkapi pengalaman belajar tertentu dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah36 . Dengan karyawisata sebagai metode belajar mengajar, anak didik di bawah bimbingan guru mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan maksud untuk belajar. Berbeda halnya dengan tamasya dimana manusia terutama pergi untuk mencari liburan, dengan karya-wisata manusia diikat oleh tujuan dan tugas belajar.
Metode fieldtrip ialah “suatu cara penguasaan bahan pelajaran oleh para anak didik dengan jalan membawa mereka langsung ke obyek yang terdapat di luar kelas atau di lingkungan kehidupan nyata, agar mereka dapat mengamati atau mengalami secara langsung”37
.
36
Syaiful Sagala. Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 214
37
Senada dengan pendapat para ahli di atas Sriyono, dkk. Seperti dikutip Mulyasa, “mengungkapkan metode fieldtrip memungkinkan anak mengenal realita kehidupan masyarakat, mampu mengamati, meneliti, dan memelajari suatu obyek di luar sekolah”.38 Fieldtrip tidak sama dengan tamasya, sebab mengandung tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh siswa. Misalnya anak diajak ke pabrik kecap, pabrik jenang, percetakan, kebun jeruk, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa
fieldtrip adalah sebuah metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran yang menghendaki adanya pengamatan dan pengalaman secara langsung. Inti dari metode fieldtrip ialah pembelajaran yang dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman pada peserta didik dengan cara langsung membawa peserta didik pada obyek atau kehidupan nyata dalam lingkungan.
2. Kelebihan Metode FieldTrip
Metode karyawisata atau fieldtrip mempunyai beberapa kelebihan antara lain :
a. Fieldtrip memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
b. Membuat apa yang dipelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan masyarakat.
c. Pengajaran serupa ini dapat lebih merangsang kreativitas siswa. d. Informasi sebagai bahan pelajaran lebih luas dan aktual.39
Menurut Syaiful Sagala mengemukakan bahwa kelebihan metode fieldtrip adalah :
a. Anak didik dapat mengamati kanyataan-kenyataan yang beraneka ragamdari dekat.
38
Mulyasa E, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 112
39
b. Anak didik dapat menghayati pengalaman-pengalaman baru dengan mencoba turut serta di dalam suatu kegiatan.
c. Anak didik dapat menjawab masalah-masalah atau pernyataan pernyataan dengan melihat, mendengar, mencoba, dan membuktikan secara langsung.
d. Anak didik dapat memperoleh informasi dengan jalan mengadakan wawancara atau mendengar ceramah yang diberikan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
e. Anak didik dapat mempelajari sesuatu secara intensif dan komprehensif.40
Sedangkan menurut Roestiyah menyatakan kelebihan metode karyawisata atau fieldtrip yaitu:
a. Siswa memperoleh pengalaman belajar yang tidak didapatkan di sekolah, sehingga kesempatan tersebut dapat mengembangkan bakat khusus atau keterampilan siswa.
b. Siswa dapat melihat berbagai kegiatan di lingkungan luar sehingga dapat memperdalam dan memperluas pengalaman siswa.
c. Dengan obyek yang ditinjau langsung, siswa dapat memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi dan tidak terpisah-pisah dan terpadu.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode fieldtrip mempunyai beberapa kelebihan, yaitu:
a. Siswa dapat mengamati kenyataan yang bermacam-macam dari tempat bekunjung siswa.
b. Siswa dapat menghayati pengalaman-pengalaman baru.
c. Siswa dapat memperoleh informasi langsung yang berasal dari pengamatan siswa itu sendiri.
d. Siswa dapat mempelajari suatu materi secara integral dan terpadu. 41
40
Sagala. Op.Cit, h. 215
41
3. Kekurangan Metode FieldTrip
Menurut Syaiful Bahri Djamarah mengemukakan bahwa metode fieldTrip mempunyai kekurangan, yaitu :
a. Fasilitas yang diperlukan dan biaya yang dipergunakan sulit untuk disediakan oleh siswa atau sekolah.
b. Sangat memerlukan persiapan atau perencanaan yang matang.
c. Memerlukan koordinasi dengan guru agar tidak terjadi tumpang tindih waktu selama kegiatan karyawisata.
d. Dalam fieldTrip sering unsur rekreasi lebih prioritas, sedang unsur studinya menjadi terabaikan.
e. Sulit mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan dan sulit mengarahkan mereka pada kegiatan yang menjadi permasalahan. 42
Sedangkan menurut Syaiful Sagala mengemukakan bahwa metode fieldtrip mempunyai kekurangan, yaitu :
a. Memerlukan persiapan oleh banyak pihak.
b. Jika karyawisata sering dilakukan akan mengganggu kelancaran pelaksanaan pembelajaran, apalagi jika tempat-tempat yang dikunjungi jauh dari sekolah.
c. Kadang-kadang terjadi kesulitan dalam pengangkutan.
d. Jika tempat yang dikunjungi itu sukar untuk diamati, akibatnya siswa menjadi bingung dan tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan. e. Memerlukan pengawasan yang tepat.
f. Memerlukan biaya yang relatif tinggi. 43
Dari kedua pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa metode fieldtrip mempunyai kekurangan-kekurangan, yaitu :
a. Biaya yang dipakai dalam proses karyawisata relatif mahal. b. Kadang terjadi kesulitan dalam mengkondisikan siswa.
c. Sering tujuan pembelajaran tidak tersampaikan karena tujuan untuk rekreasi lebih diprioritaskan.
42
Djamarah, Op.Cit, h. 94
43
d. Memerlukan persiapan yang matang agar tidak terjadi gangguan selama dalam proses karyawisata berlangsung.
4. Langkah – langkah pembelajaran FieldTrip
Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran fieldtrip menurut sri anita adalah sebagai berikut
1. Menetapkan kompetensi yang akan dicapai siswa 2. Merencanakan tujuan
3. Merumuskan kegiatan yang akan dilakukan 4. Melaksanakan kegiatan
5. Menilai kegiatan
6. Melaporkan hasil kegiatan44
D. Hasil Penelitian Yang Relevan 1. Anisya Kurniawati, 2013.
Dalam skripsinya yang berjudul “Penerapan Metode FieldTrip Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Untuk meningkatkan Kemampuan Mengungkapkan Pikiran Secara tertulis dalam Puisi Bebas Pada Siswa Kelas V SDN 2 Langensari Kab. Bandung Barat.”
mengemukakan bahwa :
Berdasarkan hasil penelitian dengan menerapkan metode fieldtrip dapat meningkatkan aktivitas siswa saat pembelajaran dan hasil belajar yang diperoleh siswa terbukti nilai rata-rata pada siklus I sebesar 61,6 dan pencapaian KKM55,56%. Nilai rata-rata pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 74,25 dan pencapaian KKM 75%. Nilai rata-rata pada siklus III mengalami peningkatan menjadi 78,38 dan pencapaian KKM 79,17%. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil penerapan metode fieldtrip dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi menulis puisi bebas. Berdasarkan hasil penelitian di atas
44
Anitah, Sri.. Model-model Belajar dan Rumpun Model Mengajar. (Jakarta: Depdiknas) 2007.h.167
ada beberapa saran yg ingin disampaikan antara lain hendaknya guru untuk mencoba mengkaji prinsip-prinsip dalam metode fieldtrip dan mencoba untuk melaksanakan penerapan metode fieldtrip untuk materi yang lain dalam Bahasa Indonesia. Bagi kepala sekolah agar menyediakan media, alat atau sarana penunjangpenerapan metode ini memotivasi guru agar memilih metode yang sesuai dengan Bahasa Indonesia salah satunya adalah metode fieldtrip.45
2. Bagus Cahya Mahardika, 2013
“Pemanfaatan lingkungan sekitar untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS kelas III SDN I Sanggrahan Kabupaten Tulungagung” adalah skripsi Bagus Cahya Mahardika pada tahun 2013, S1 Program Studi PGSD, Universitas Negeri Malang, Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) aktivitas belajar siswa meningkat pada siklus I siswa yang mendapat kriteria A mencapai 14 siswa dan pada siklus II sebanyak 28 siswa. (2) Ketuntasan hasil belajar siswa meningkat dari pratindakan, siklus I dan siklus II yaitu dari nilai rata-rata kelas pratindakan 69,31 dengan ketuntasan 56% meningkat menjadi 76,8 dan ketuntasan belajar 72% pada siklus I dan pada siklus II rata-rata meningkat menjadi 87,48 dengan ketuntasan klasikal 91%.
Berdasarkan hasil penelitian Bagus Cahya Mahardika menyimpulkan bahwa pemanfaatan lingkungan sekitar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS kelas III SDN I Sanggrahan Kabupaten Tulungagung. Disarankan agar guru dapat memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dan menciptakan variasi sumber belajar lain agar siswa tidak jenuh dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran karena hal ini terbukti mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. 46
45
http://repository.upi.edu/1423/2/S_PGSD_0902882_Abstract.pdf
46
3. Yuswari Desy Tri 2012
“Keefektifan metode field trip dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan deskripsi siswa kelas IV SDN Pengasih I dan SD Sendangsari Pengasih Kulon Progo”, Thesis, di Universitas Negeri Yogyakarta.
Hasil penelitian berdasarkan analisis nilai post test dengan menggunakan uji t kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh bahwa t hitung 2,583 dengan taraf signifikasi atau P sebesar 0,014 di mana P < 5% (0,05) artinya terdapat perbedaan nilai hasil belajar yang signifikan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Di mana nilai hasil belajar kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompok kontrol. Maka dapat disimpulkan metode field trip efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan deskripsi siswa kelas IV SD N Pengasih I dan SD N Sendangsari, Pengasih, Kulon Progo.