BAB II: KAFA’AH DAN KEHARMONISAN KELUARGA
A. Konsep Kafa‟ah
Kafa‟ah berasal dari kata (ءيفك) di artikan sebagai setara. Menurut
bahasa dapat diartikan sebagai “setaraf, seimbang atau
keserasian/kesesuaian, serupa sedrajad atau sebanding. Menurut istilah
hukum islam, kafa’ah atau kufu’ dalam perkawinan diartikan sebagai
keseimbangan dan keserasihan antara calon istri dan suami sehingga masing-masing calon tidak merasa berat untuk melangsungkan pernikahan (Ghozali, 2006:96).
Ketika dihubungkan dengan nikah, kafa‟ah diartikan dengan
keseimbangan antara calon suami dan istri, dari segi kedudukan (hasab),
agama(din), keturunan (nasab) dan semacamnya. Sedangkan dalam istilah
fuqaha‟, kafa‟ah didefinisikan dengan kesamaan di dalam hal-hal kemasyarakatan, yang dengan itu diharapkan akan tercipta kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga kelak, dan akan mampu menyingkirkan kesusahan (Nasution, 2013:225). Para ulama dan cendekiawan menekankan perlunya kesetaraan dalam membina rumah tangga. Hanya
saja mereka berbeda pendapat tentang aspek – aspek kesetaraan itu.
Dahulu banyak ulama menekankan perlunya kesetaraan dalam garis keturunan disamping dalam tingkat sosial, ekonomi, akhlak, dan tentu
22
saja dalam agama (M Quraish, 2010:347). Kufu diukur ketika berlangsungnya akad nikah. Jika selesai akad nikah terjadi kekurangan-kekurangan, maka hal itu tidaklah menganggu dan tidak pula membatalkan apa yang sudah terjadi itu sedikitpun, serta tidak mempengeruhi hukum akad nikahnya (Sayyid, 1981:51).
Perkawinan atau pernikahan merupakan jalan untuk membentuk rumah tangga. James H.S. Bossard menghubungkan perkawinan itu dengan status orang yang melakukannya. Menurutnya ada berbagai tujuan sehingga orang melakukan pernikahan untuk membentuk rumah tangga. Tujuan pertama menurut beliau ialah bahwa pernikahan itu menghasilkan satu status yang lebih besar dan tinggi dalam keluarga. Sedangkan didalam masyarakat, pernikahan meningkatkan status di tengah kelompok dan masyarakat (Simanjuntak, 2013:3-4)
Jadi Kafa‟ah adalah keseimbangan, dalam perkawinan kafa’ah
dapat diartikan sebagai seimbangnya antara calon suami dan istri meliputi keyakinan atau agama, keislaman atau tingkat kepahaman dalam islam, nasab atau keturunan, tingkat pendidikan, pekerjaan atau tingkat ekonomi.
Kafa’ah sendiri dianggap mempengaruhi keharmonisan dalam Rumah
tangga.
2. Sejarah Kafa’ah
Menurut Coulson dan Farhat J. Zideh. sebagaimana yang dikutip olah Khoiruddin N (2013:226-227) Mereka mengatakan konsep ini berawal dari Irak, khususnya Kufah, konsep ini pertama kali di temukan
23
di kitab mazhab Maliki yaitu al-Mudawwanah. Didalam kitab tersebut
sangat sedikit sekali menyinggung pembahasan ini. Menurut teori ini
konsep Kafa‟ah muncul karena kosmopolitan dan kompleksitas masalah
masyarakat yang hidup di Irak ketika itu. Kompleksitas masyarakat muncul sebagai akibat urbanisasi yang menjadikan munculnya percampuran sejumlah etnik seperti percampuran Orang Arab dengan Non Arab yang baru masuk Islam. Untuk menghindari terjadinya salah
pilih pasangan dalam pernikahan, teori kafa‟ah menjadi ada. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa Kafa‟ah muncul karena perbedaan sosial yang
kemudian menjadi persoalan hukum. Sama halnya yang terjadi di masyarakat yang memandang perlunya kesepadanan dalam pernikahan karena di masyarakat sendiri menjadikan laki-laki menjadi tolok ukur dalam memilih pasangan. Karena Nantinya dalam Masyarakat Laki-lakilah yang akan mengankat derajat seorang istri bukan sebaliknya.
3. TujuanKafa’ah
Kafa‟ah dianjurkan oleh Islam dalam memilih calon suami/istri,
tetapi tidak menentukan sah atau tidaknya perkawinan. Kafa‟ah hanyalah
hak bagi wanita atau walinya. Karena suatu perkawinan yang tidak seimbang, serasi/sesuai akan menimbulkan problema berkrlanjutan, dan besar kemungkinan menyebabkan terjadinya perceraian, oleh karena itu,
boleh dibatalkan (Gozali, 2012: 97). Beberapa tujuan Kafa‟ah dalam
Pernikahan
24
terciptanya kebahagiaan suami istri, dan lebih menjamin keselamatan perempuan dari kegagalan atau kegoncangan rumah tangga (Sayyid, 1981:36)
b. Kafa‟ah merupakan wujud keadilan dan konsep kesetaraan yang ditawarkan Islam dalampernikahan. Islam telah memberikan hak talak kepada pihak laki-laki secara mutlak. Namun oleh sebagian laki-laki yang kurang bertanggungjawab, hak talak yang dimilikinya dieksploitir dan disalah gunakan sedemikian rupa untuk berbuat seenaknya terhadap perempuan. Sebagai solusi untuk mengantisipasi hal tersebut, jauh sebelum proses pernikahan berjalan, Islam telah
memberikan hak kafa‟ah terhadap perempuan. Hal ini dimaksudkan
agar pihak perempuan bisa berusaha seselektif mungkin dalam memilih calon suaminya Target paling minimal adalah, perempuan bisa memilih calon suami yang benar-benar paham akan konsep talak, dan bertanggung jawab atas kepemilikan hak talak yang ada di tangannya.
c. Dalam Islam, suami memiliki fungsi sebagai imam dalam rumah
tangga dan perempuan sebagai makmumnya. Konsekuensi dari relasi imam-makmum ini sangat menuntut kesadaran ketaatan dan kepatuhan dari pihak perempuan terhadap suaminya. Hal ini hanya akan berjalan normal dan wajar apabila sang suami berada satu level di atas istrinya, atau sekurang-kurangnya sejajar. Seorang istri bisa saja tidak kehilangan totalitas ketaatan kepada suaminya, meski
25
(secara pendidikan dan kekayaan misalnya) dia lebih tinggi dari suaminya.
d. Naik atau turunnya derajat seorang istri, sangat ditentukan oleh
derajat suaminya.Seorang perempuan biasaakan terangkat derajatnya ketika dinikahi oleh seorang laki-laki yang memiliki status sosial yang tinggi, pendidikan yang mapan, dan derajat keagamaan yang lebih. Sebaliknya, citra negatif suami akan menjadi kredit kurang bagi nama, status sosial, dan kehidupan keagamaan seorang istri.
4. Pendapat Ulama tentang Kafa’ah dalam Perkawinan
Ibnu Hazm dalam buku Sayyid Sabiq (1981:36) berpendapat bahwa semua orang Islam asal tidak berzina, berhak kawin dengan wanita Muslimah asal tidak tergolong perempuan lacur.
Dalam Undang-undang perkawinan No. Tahun. 1974 Pasal 2 ayat (1) menyebutkan bahwa Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu. Dalam Kompilasi hukum Islam pada Bab X Pasal 61 menerangkan bahwa Tidak
sekufu kecuali perbedaan agama atau ikhtilaafu ad dien tidak dapat
menjadi alasan untuk mencegah perkawinan. Dalam Pasal 2 ayat (1) menyebutkan bahwa Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu. Sayyid Sabiq (1981:41-42) dalam bukunya Fikih Sunnah yang di terjemahkan oleh Thalib berpendapat bahwa dalam hal perkawinan tidak hanya sebatas pada sikap jujur dan budi luhur, diluar sikap jujur dan budi luhur, wajib
26
dipertimbangkan.
Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa kafa‟ah selain dalam hal
agama tidak menyebabkan sah atau tidaknya suatu perkawinan, namun
kafa’ah dimaksudkan sebagai upaya untuk menghindari ketimpangan dan
ketidak cocokan serta untuk mencapai keserasihan dan keharmonisan dalam rumah tangga.
5. Kriteria atau batasan Kafa’ah menurut Ulama’ dan Sudut Pandang Islam
Dalam Islam mengenal istilah kafa‟ah atau kufu dalam menentukan
pendamping bagi ananknya. (Ghazali, 2012:97-98) berpendapat Masalah
kafa‟ah yang perlu diperhatikan dan menjadi ukuran adalah sikap hidup yang lurus dan sopan, bukan karena keturunan, pekerjaan, kekayaan dan
lain sebagainya. Sentara itu para ulama’ memiliki kriteria atau batasan
-batasan dalam kafa’ah. Dalam urian Al-Jaziry yang dikutip oleh Amir Syarifuddin (2014:142) Menurut Ulama Hanafiyah, Ulama Malikiyah,
Ulama Syafi’iyah, Ulama Hanabilah yang menjadi dasar kafa‟ah sebagai berikut:
a. Menurut Ulama Hanafiyah yang menjadi dasar kafa‟ah adalah:
1) Nasab, yaitu keturunan atau kebangsaan
2) Islam, Yaitu dalam silsilah kerabatnya banyak yang beragama
Islam
3) Hirfah, Yaitu profesi dalam kehidupan.
27
5) Diyanah, atau tingkat kualitas keberagamaannya dalam Islam
6) Kekayaan.
b. Menurut Ulama Malikiyah yang menjadi kriteria kafa‟ah hanyalah
kualitas keberagamaan dan bebas dari cacat fisik.
c. Menurut Ulama Syafi’iyah yag menjadi kriteria kafa‟ah itu adalah
1) Kebangsawanan atau nasab
2) Kualitas keberagamaannya
3) Kemerdekaan diri dan
4) Usaha atau profesi.
d. Menurut Ulama Hanabilah yang menjadi kriteria kafa‟ah itu adalah
1) Kualitas Keberagamaan
2) Usaha atau profesi
3) Kekayaan
4) Kemerdekaan diri dan
5) Kebangsawanan.
Dalam kompilasi hukum Islam hanya sekilas disinggung yaitu pada
pasal 61 “ Tidak sekufu tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah
perkawinan, kecuali tidak sekufu karena perbedaan agama atau ikhtilafu
al dien. Sementara dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 Th 1974 hanya menerapkan perinsip kehati-hatian yang tertuang dalam BAB III pencegahan perkawinan.
Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa ulama bersilang
28
dalam hal agama dan akhlaq. Dan bahwa akhlaq adalah cerminan
pemahaman Agama. Undang-undang perkawinan membatasi kufu sebatas
agama selain itu tidak dapat menjadi penghalang dilaksanakannya pernikahan.
6. Kafa’ah persepektif undang-undang
Pada dasarnya kafa‟ah dalam Hukum islam hanya bertujuan sebagai
salah satu upaya untuk mencegah terjadinya perkawinan bukan menjadi syarat sahnya sebuah perkawinan (Sayyid, 1981:36). Sama, hanya Pada undang-undang Perkawinan no 1 tahun 1974 memang tidak secara
terang-terangan menyebutkan kafa‟ah namun nilai kehati-hatian para pihak
memperlihatkan bahwa unsur kesamaan (kafa‟ah) amat diperlukan.
Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa dalam hukum Islam dan Undang-undang perkawinan menerapkan perinsip kehati-hatian sama
dengan Kafa‟ah. Sebagai tujuan pernikahan agar harmonis dan tidak
29