Gambar 1.11: Jenis-jenis tower New Capital
KONSEP Muncul saat proses
sintesa
Analisis Sintesis
DESAIN MASALAH
Pemecahan masalah menjadi khusus
TEMA
Selalu mengikuti tahap dari awal sampai akhir Gambar 3.1: Skema proses pengembangan tema dan kosnsep
Tema utama kasus proyek adalah “Urban Heritage Tourism”. Menurut Martana (2007), “Urban Heritage Tourism” merupakan suatu konsep pariwisata6 yang sebenarnya
sederhana dengan memanfaatkan citra dari lingkungan binaan ataupun alam yang memiliki nilai historis yang telah terukir di kota tersebut. Dengan mentransformasikan modal budaya berupa warisan dan pusaka budaya (cultural capital) menjadi modal ekonomi (economic capital). Umumnya para pengunjung diajak untuk mengapresiasi dan menginterpretasi objek warisan, baik yang bisa diamati ataupun tidak. Dengan menggunakan panca indera yang dimiliki manusia untuk menikmati objek tersebut.
Objek yang diamati dapat berupa benda (mati atau hidup), suasana dan perasaan maupun aktivitas yang ada di dalamnya. Selain berfungsi sebagai sarana pendidikan dan rekreasi, konsep ini juga sebagai upaya untuk mensejahterakan dan melestarikan warisan budaya yang dimiliki kota itu sendiri. Dikombinasikan dengan arsitektur muka sungai “Riverfront Architecture”, dimana pembangunan wajah bangunan yang terjadi berorientasi ke arah sungai, dalam konteks ini yaitu Sungai Deli.
Warisan budaya (heritage) 7 merupakan bukti sejarah yang menjadi salah satu
aspek penting bagi bangsa, generasi selanjutnya dan modal bagi pengembangan pariwisata. Kota Medan terkenal dengan multikultur yang menjadikan kota ini unik dari kota lain. Ragam budaya yang dimiliki mewarnai latar belakang kehidupan dan memberikan nuansa berbeda bagi sejarah perkembangan Kota Medan, sehingga membuat heritage patut untuk dilestarikan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Julukan ‘Parijs Van Sumatra’ yang pernah dimiliki juga merupakan suatu kebanggaan yang
6Organisasi pariwisata sedunia (WTO) mendefinisikan pariwisata (tourism) sebagai “activities of person traveling to and staying in places outside their usual environment for not more than one consecutive year for leisure, business and other purposes”.
7 John Nurick (2006) mengartikan heritage sebagai segala sesuatu yang diwariskan dari masa lalu,
khususnya: Kebudayaan asli dan materi alam; lingkungan binaan; sumber-sumber arkeologi; warisan yang tidak dapat diraba dan kita lihat secara kasat mata (berupa norma-norma dan peraturan tidak tertulis dalam masyarakat); sumber daya alam; dimana heritage merupakan warisan budaya kita sebagai masyarakat multicultural, memiliki kualitas atau makna, sehingga membuat heritage patut untuk dilestarikan.
mampu mendongkrak “Urban Heritage Tourism” sebagai tema utama dalam perencanaan perancangan kawasan proyek sebagai tempat pariwisata di Kota Medan.
Pada konteks proyek ini, lokasi tapak pembangunan fungsi – fungsi baru yaitu hotel butik dan apartemen terletak pada salah satu situs bersejarah Kota Medan yaitu Istana Maimun8 dan dilintasi oleh Sungai Deli9 yang merupakan salah satu pemandangan
menarik dan sangat dibanggakan pada masa dahulu. Istana Maimun merupakan salah satu bangunan bersejarah yang sampai saat ini masih berfungsi dan menjadi salah satu tempat pariwisata Kota Medan. Sejarah dan campuran beberapa kebudayaan Eropa, Arab dan Melayu, estetika arsitektural, kekayaan nilai kultur dan budaya yang dimiliki bangunan bersejarah ini menjadi magnet yang menarik perhatian pengunjung untuk mencari tahu dan mempelajarinya.
Penulis mengambil julukan ‘Parijs Van Sumatra’ sebagai dasar pemikiran untuk pengembangan tema dan konsep sesuai konteks kasus proyek. Julukan ‘Parijs Van Sumatra’ yang pernah melekat pada Kota Medan sangat menarik perhatian penulis. Saat di mana Kota Medan menjadi inspirasi dan dikenal sampai ke penjuru dunia sebagai kota terindah di pulau Sumatera dengan keindahan dan tata kota teratur seperti Kota Paris di Perancis. Namun kondisi Kota Medan saat ini sangat bertolak belakang dengan sejarah tersebut. Proses modernisasi10 yang mengubah pemikiran masyarakat terutama
pemerintah menyebabkan warisan bersejarah yang menjadi identitas Kota Medan perlahan – lahan menghilang. Rancangan yang mengutamakan fungsi daripada acuan penanda identitas yang tersedia, menyebabkan bangunan – bangunan Kota Medan saat ini
8 Istana Maimun adalah istana kebesaran Kesultanan Deli dengan warna kuningnya (kuning
sebagai warna kerajaan Melayu) dan khas gaya seni bina Melayu di pesisir timur. Ia merupakan salah satu mercu tanda (icon) yang terkenal di Kota Medan, Sumatera Utara.
9 Sungai Deli merupakan salah satu dari delapan sungai yang ada di Kota Medan. Sungai ini
merupakan urat nadi perdagangan pada masa kerajaan Deli.
10 Schoorl (1991:1) mengemukakan bahwa modernisasi adalah suatu transformasi perubahan
masyarakat dalam segenap aspeknya. Sehingga menurut Schoorl modernisasi masyarakat itu secara umum boleh jadi dapat dirumuskan sebagai penerapan pengetahuan ilmiah yang ada ke dalam semua aktivitas, semua bidang kehidupan atau kepada semua aspek-aspek masyarakat.
tidak jelas identitasnya. Spesifikasi yang berbasis bangunan bersejarah justru mengalami pengabaian sehingga mengancam warisan budaya dan menghambat pengembangan pariwisata Kota Medan.
Padahal potensi Kota Medan sebagai kota pariwisata sangatlah besar karena bangunan – bangunan bersejarah yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda berfungsi sebagai penanda kawasan dan menjadi basis kawasan pariwisata untuk Kota Medan. Pelestarian bangunan – bangunan bersejarah dan benda budaya lain berpotensial dikembangkan sebagai modal pariwisata budaya. Seharusnya pemerintah dan masyarakat sama – sama bekerja membela pelestarian warisan budaya, bukan dengan mengorbankan warisan budaya yang dimiliki dan menghancurkan serta membangun fungsi baru ataupun mengalih fungsikan bangunan bersejarah namun tidak dirawat. Mungkin pada masa ini terdapat masyarakat Kota Medan yang tidak mengetahui sejarah yang membanggakan itu atau bahkan tertawa dengan julukan yang bisa juga dikatakan mustahil melihat kondisi Kota Medan saat ini.
Gambar 3.2: Kondisi Gedung kerapatan Kesultanan Deli pada masa pemerintahan kolonial Belanda
Oleh karena itu, penulis berupaya untuk memunculkan kembali sebutan ‘Parijs Van Sumatra’ dimulai dari skala mikro melalui perencanaan perancangan proyek ini. Menggunakan warisan budaya sebagai acuan dalam perancangan bangunan dengan fungsi baru untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan generasi masa depan, sehingga rancangan baru tidak meninggalkan identitas kawasan yang telah terukir pada masa dahulu. Maka tema untuk perencanaan perancangan dalam konteks kasus proyek ini adalah “Inheritance for the Future” (lihat gambar 3.4).
INHERITANCE FOR THE FUTURE
Gambar 3.3: Kondisi Gedung kerapatan Kesultanan Deli saat ini
Sumber: Dokumentasi pribadi
SUNGAI DELI ISTANA MAIMUN PARIJS VAN SUMATRA IDENTITAS KONTEKSTUAL AKTIVITAS/ TRADISI ROH/ JIWA OBJEK-OBJEK Gambar 3.4: Skema perencanaan perancangan berdasarkan penjabaran tema
Konsep membangkitkan kembali identitas kawasan dengan mempertahankan keberadaan bangunan bersejarah yaitu Istana Maimun dan Sungai Deli (dalam kasus proyek ini, Sungai Deli dianggap bersih) sebagai pertimbangan dan acuan dalam perancangan fungsi – fungsi baru yang telah ditetapkan, sehingga mampu menciptakan keharmonisasian arsitektur pada lingkungan tersebut. Menyediakan ruang publik (public space)11 dan Ruang Terbuka Hijau (RTH)12 sebagai generator aktivitas13 dan area rekreasi
seperti magnet untuk menarik pengunjung melakukan aktivitas disana.
Menciptakan suasana dan pengalaman (experience) yang berbeda “Distinction sense of place” dengan estetika arsitektural yang menunjukkan identitas kawasan tersebut. Penerapan elemen –elemen serta roh “spirit” dan inti “essence” yang merupakan nilai kultur dan budaya untuk memunculkan suasana dan pengalaman berbeda pada keseluruhan lingkungan Istana Maimun.
Contoh spirit dan essence yaitu makna bangunan kolonial megah bercat putih masa peninggalan pemerintahan kolonial Belanda yang melambangkan semangat keras bangsa kulit putih yang berhasil dan pantas dikagumi. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan Ahmad Yani dulunya merupakan bangunan yang memiliki arcade yang banyak dilewati oleh pejalan kaki. Bangunan peninggalan masa pemerintahan kolonial Belanda yang megah seperti gedung bekas kantor Depnaker (sekarang menjadi AMPI), rumah-rumah bergaya khas Eropa, Melayu dan China dapat menjadi magnet bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas.
11 (Ching, 1992). Public merupakan sekumpulan orang-orang tak terbatas siapa saja, dan space
atau ruang merupakan suatu bentukan tiga dimensi yang terjadi akibat adanya unsur-unsur yang membatasinya.
12 Berdasarkan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, “Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang/ jalur dan/ atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam”.
13 Schoorl (1991:1) mengemukakan bahwa modernisasi adalah suatu transformasi perubahan
masyarakat dalam segenap aspeknya. Sehingga menurut Schoorl modernisasi masyarakat itu secara umum boleh jadi dapat dirumuskan sebagai penerapan pengetahuan ilmiah yang ada ke dalam semua aktivitas, semua bidang kehidupan atau kepada semua aspek-aspek masyarakat.
Pendekatan arsitektur kontekstual yang tanggap terhadap iklim, lingkungan sekitar bantaran sungai, kontur tanah, titik banjir sungai, material, proporsi bangunan, langgam dan simbol, serta kondisi lingkungan sekitar juga dapat memperkuat identitas kawasan. Penulis mempertimbangkan penerapan gaya arsitektur Melayu Kolonial dalam bangunan hotel butik dan apartemen dengan menjaga skala antara bangunan baru dengan bangunan Istana Maimun, tower, menyesuaikan bangunan dengan iklim yaitu menyediakan ventilasi, dan lainnya. Sehingga rancangan bangunan dengan fungsi baru
Gambar 3.5: Kesawan di masa 1920-an (repro koleksi Dr. Phil Ichwan Azhari)
Sumber : Website Badan Warisan Sumatera
Gambar 3.6: Gapura Cina di Kesawan selama perayaan ulang tahun pemerintahan Ratu Wilhelmina
mampu menciptakan lingkungan Istana Maimun yang memiliki keindahan, keselarasan, tata bangunan yang teratur, akses sirkulasi yang jelas dan nyaman, serta adanya ruang terbuka hijau dan generator aktivitas yang memunculkan kembali julukan ‘Parijs Van Sumatra’ walaupun dalam skala mikro.
BAB IV