• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

D. Konsep Pembentukan Karakter Peduli Lingkungan

dikolaborasikan antara satu pendekatan dengan pendekatan lainnya sehingga pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat berjalan dengan efektif.

D. Konsep Pembentukan Karakter Peduli Lingkungan Melalui Pendidikan Agama Islam

Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan. Kemudian nilai-nilai tersebut dapat terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.45

Diantara inovasi pendidikan dalam pembentukan karakter peduli lingkungan adalah dengan mengintegrasikan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Hal ini dikarenakan Islam sebagai agama rahmatan lil „alamin sangat memperhatikan tentang pengelolaan dan pelestarian lingkungan. Berbagai ayat dalam al-Qur‟an menjelaskan bagaimana manusia mengelola dan memakmurkan alam. Hadits nabi yang merupakan sumber hukum kedua setelah

44 Mgs. Nazaruddin, Manajemen Pembelajaran: Implementasi Konsep, Karakteristik, dan

Metodologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum (Jogjakarta: Sukses, 2007), hlm. 19-20.

45 Jamal Ma‟ruf Asmuni, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta: Diva Press, 2012), hlm. 35.

al-Qur‟an juga banyak mengajarkan bagaimana etika hidup ramah lingkungan.46 Nilai-nilai dalam al-Qur‟an dan hadits ini dapat menjadi landasan berpikir dan bertindak dalam mengatasi berbagai krisis lingkungan dan juga menjadi pendorong manusia untuk berpartisipasi aktif dalam memelihara dan melestarikan lingkungan. Selain itu, materi Pendidikan Agama Islam untuk SMP kelas VII bab 3 memuat tema tentang Semua Bersih Hidup Jadi Nyaman.47 Dengan beberapa pertimbangan tersebut, Pendidikan Agama Islam di sekolah dapat menjadi pondasi bagi terbentuknya siswa yang berkarakter peduli lingkungan. Siswa yang berkarakter peduli lingkungan memiliki kesadaran bahwa dirinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan.

Pembentukan karakter peduli lingkungan dilakukan melalui pemuatan nilai-nilai peduli lingkungan ke dalam substansi ataupun melalui pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang menfasilitasi dipraktikkannya nilai-nilai karakter peduli lingkungan dalam setiap aktivitas pembelajaran di dalam maupun di luar kelas.48 Pembentukan karakter peduli lingkungan melalui Pendidikan Agama Islam dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:

1. Mengungkapkan nilai-nilai peduli lingkungan yang terkandung dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

2. Menggunakan perumpamaan dan membuat perbandingan yang terkait dengan karakter peduli lingkungan dengan kejadian-kejadian serupa dalam kehidupan siswa.

46 Shihab, Membumikan al-Qur‟an, hlm. 297-298.

47 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, hlm. 31.

48

3. Mengubah hal-hal negatif menjadi positif, seperti pengelolaan sampah. 4. Mengungkapkan nilai-nilai peduli lingkungan melalui diskusi dan

brainstroming.

5. Menggunakan cerita untuk memunculkan nilai-nilai peduli lingkungan. 6. Menceritakan kisah hidup orang-orang besar yang memiliki karakter peduli

lingkungan.

7. Menggunakan drama untuk melukiskan kejadian yang berisikan nilai-nilai peduli lingkungan.

8. Menggunakan berbagai kegiatan seperti pramuka, go green, dan kegiatan lainnya untuk menyokong terbentuknya nilai-nilai peduli lingkungan.49 Lebih lanjut, proses pembentukan karakter peduli lingkungan melalui Pendidikan Agama Islam harus dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut.

Pertama, tahap penanaman. Pada tahap ini dilakukan pengenalan nilai-nilai

peduli lingkungan dan konsekuensi positif dan negatif dari karakter peduli lingkungan. Kedua, tahap penumbuhan. Pada tahap ini diharapkan agar hasil penanaman karakter peduli lingkungan selalu diingatkan, dibimbing, serta dipantau, dan jangan sampai dihina agar dapat tumbuh dengan baik dalam hati sanubari. Ketiga, tahap pengembangan. Pada tahap ini siswa diajak untuk berdiskusi dan permainan peran yang bertalian dengan karakter peduli lingkungan. Keempat, tahap pemantapan. Pada tahap ini peserta didik diberi

49

kesempatan untuk mengaktualisasikan karakter peduli lingkungan dalam bentuk kegiatan nyata.

Menilik pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa proses pembentukan karakter peduli lingkungan melalui Pendidikan Agama Islam dilakukan dengan tahapan penanaman, penumbuhan, pengembangan, dan pemantapan yang dapat dilihat dari berbagai kegiatan pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas yang diarahkan untuk menunjang terbentuknya karakter peduli lingkungan siswa. Tahapan-tahapan tersebut membawa peserta didik ke pengenalan karakter peduli lingkungan secara kognitif, penghayatan karakter peduli lingkungan secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan karakter peduli lingkungan secara nyata.

E. Konsep Pembentukan Karakter Peduli Lingkungan dalam Perspektif Islam

Islam sebagai agama universal mengajarkan tata cara peribadatan dan interaksi tidak hanya dengan Allah SWT dan sesama manusia tetapi juga dengan lingkungan alam sekitarnya. Islam memiliki prinsip-prinsip perlindungan alam lingkungan. Dalam banyak ayat, alam semesta ini adalah bagian dari tanda-tanda atau ayat Tuhan. Firman Allah SWT dalam al-Qur‟an surat Ali Imran ayat 90-91:





































































Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.50

Ayat di atas mengurai penjelasan bahwa alam bukanlah sebuah ciptaan yang sia-sia, tetapi ciptaan dengan suatu tujuan dan untuk memberi tanda kekuasaan Allah. Implikasi positif dari pandangan ini adalah keharusan manusia untuk memanfaatkan alam dengan penuh tanggung jawab sebagai bentuk penghormatan kepada Allah atau disebut syukr. Implikasi positif lainnya dapat membentuk sikap devotional, yakni sikap memuji Allah SWT dan ciptaan-Nya karena kemurahan yang diberikan Allah SWT kepada manusia.51

Pada dasarnya, tanggung jawab manusia terhadap pemeliharaan alam dalam al-Qur‟an disebut sebagai khalifatullah fi al-ardh. Pemahaman yang salah terhadap alam dapat menyebabkan sikap apatis kepada alam sehingga menyebabkan timbulnya krisis lingkungan. Hofmann mengusulkan alternatif mengatasi krisis lingkungan dari perspektif Islam, yakni penegasan kembali

50 Kementerian Agama RI, Al-Qur‟an Terjemah, hlm. 75.

51

adanya Tuhan sebagai pencipta, tidak berlebihan dalam segala hal termasuk produksi dan konsumsi, menghormati ciptaan Allah sebagai rasa syukur, dan menghargai kebersihan.52Arti memanfaatkan bukan dalam arti menguasai, tetapi memakmurkannya. Bukan pula dalam arti eksploitasi, tetapi tanggung jawab.

Sesungguhnya, konsep pendidikan karakter telah ada sejak zaman Rasulullah saw. Hal ini terbukti dari perintah Allah SWT bahwa tugas pertama dan utama Rasulullah saw sebagai penyempurna akhlak bagi umatnya. Dalam Islam, media pembinaan akhlak dilakukan dengan cara khusyu‟ ketika sholat. Karena sholat dapat mencegah manusia dari perbuatan tercela. Hal ini berlandaskan al-Qur‟an surat al-Ankabut ayat 45 sebagai berikut:













































Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.53

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa ayat di atas mengandung makna sesungguhnya shalat itu mengandung dua hikmah, yaitu dapat menjadi pencegah diri dari perbuatan keji dan perbuatan munkar. Maksudnya dapat menjadi pengekang diri dari kebiasaan melakukan kedua perbuatan tersebut dan

52 Murad W. Hofmann, Islam: The Alternative (Maryland: Amana Publications, 1993), hlm. 94.

53

mendorong pelakunya dapat menghindarinya.54 Dengan demikian dapat diketahui bahwa sholat yang dikerjakan dengan khusyu‟ dapat menjadi media dalam pembentukan karakter termasuk karakter peduli lingkungan.

Pembahasan substansi makna dari karakter sama dengan konsep akhlak dalam Islam, keduanya membahas tentang perbuatan perilaku manusia. Al-Ghazali menjelaskan jika akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu adanya pemikiran dan pertimbangan.55 Sedangkan arti dari karakter adalah nilai-nilai yang khas-baik yang terpateri dalam diri dan terjawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang.56

Akhlak manusia dapat ditingkatkan dan dibina. Pembinaan atau pembentukan akhlak manusia dapat dilakukan dengan cara menyucikan diri atau sering disebut dengan tazkiyah al-nafs. Menurut Ziauddin Sardar sebagaimana dikutip oleh Heri Gunawan, mengartikan tazkiyah al-nafs sebagai pembangun karakter dan transformasi dari personalitas manusia yang didukung oleh peranan penting seluruh aspek kehidupan.57 Sedangkan Muhammad Rasyid Ridho dalam Tafsir al-Manar, mengartikan tazkiyah al-nafs dengan tarbiyah al-nafs, yang kesempurnaannya ditempuh dengan tauhid murni.58

54Rudi Abu Azka, “Tafsir Ibnu Katsir Surat al-Ankabut ayat 45”, http://www.ibnukatsironline.com/2015/09/tafsir-surat-al-ankabut-ayat-45.html, diakses tanggal 26 Desember 2016.

55 Abidin Ibn Rusn, Pemikiran al-Ghazali tentang Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 99.

56 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, hlm. 193.

57 Gunawan, Pendidikan Karakter, hlm. 82-83.

58 Muhammad Rasyid Ridho, Tafsir al-Manar, Juz I (Mesir: Dar al-Manar, 1373 H), hlm. 222-223.

Konsep tazkiyah al-nafs pada awalnya diungkapkan oleh al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulum al-Din”. Menurut al-Ghazali, terbentuknya akhlak yang baik merupakan implikasi dari tazkiyah al-nafs dengan cara riyadhah al-nafs dan

mujahadah. Kedua metode ini bila digandengkan mengandung arti menahan diri

dan melatih diri, yakni berupaya melatih diri untuk melakukan amal perbuatan yang memberikan akhlak yang baik sehingga menjadi kebiasaan, bahkan menjadi sesuatu yang menyenangkan.59 Uraian tersebut mencerminkan keterkaitan antara

tazkiyah al-nafs dengan kesempurnaan pribadi. Tazkiyah al-nafs merupakan

ikhtiar untuk membentuk pribadi yang sempurna yang terealisasi dalam ketaatan dan kegiatan beramal sholeh dalam kehidupannya.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat diketahui bahwa pembentukan karakter peduli lingkungan melalui Pendidikan Agama Islam dalam perspektif Islam melalui tazkiyah al-nafs dengan cara riyadhah al-nafs dan mujahadah yakni berupaya melatih diri untuk melakukan amal perbuatan yang memberikan akhlak yang baik terhadap alam sehingga menjadi kebiasaan yang dilandasi pola berpikir bahwa hubungan manusia dengan alam merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat Allah dengan cara memanfaatkan alam dengan tidak merusaknya.