• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

5. Program Pembentukan Karakter di Sekolah

Pembentukan karakter bukan hanya slogan tapi misi yang tertanam di kehidupan sekolah sehari-hari. Sekolah berfungsi sebagai arena di mana siswa bisa berlatih kebaikan untuk diterapkan dalam kehidupan luar sekolah. Pembentukan karakter harus memiliki sebuah rencana aksi atau strategi untuk implementasinya.20

Strategi pembentukan karakter dapat dilakukan melalui empat pendekatan, yaitu:21

a. Pendekatan instruktif-struktural, yaitu strategi pembentukan karakter di sekolah sudah menjadi komitmen dan kebijakan pemimpin sekolah sehingga lahir berbagai peraturan atau kebijakan yang mendukung terhadap berbagai

19

Masnur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hlm. 87.

20 Alex Agboola dan Kaun Chen Tsai, “Bring Character Education into Classroom”, European Journal of Eduation Research, Vol. 1, 2, hlm. 168.

21

kegiatan berkarakter di sekolah beserta berbagai sarana dan prasarana pendukungnya termasuk dari sisi pembiayaan. Dengan demikian, pendekatan ini lebih bersifat top-down.

b. Pendekatan formal-kurikuler, yaitu strategi pembentukan karakter di sekolah dilakukan melalui pengintegrasian dan pengoptimalan kegiatan belajar mengajar di semua mata pelajaran dan karakter yang dikembangkan.

c. Pendekatan mekanik-fragmented, yaitu strategi pembentukan karakter di sekolah dapat diwujudkan dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan ekstrakurikuler yang berwawasan nilai dan etika. Artinya, dengan semakin menyemarakkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, para siswa tidak hanya memahami materi pelajaran secara kurikuler di kelas saja, tetapi juga diwujudkan dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang sarat nilai dan saling terintegrasi dengan kegiatan sekolah lainnya.

d. Pendekatan organik-sistematis, yaitu pendidikan karakter merupakan kesatuan atau sebagai sistem sekolah yang berusaha mengembangkan pandangan atau semangat hidup berbasis nilai dan etika yang dimanifestasikan dalam sikap hidup, perilaku, dan keterampilan hidup yang berkarakter dari seluruh warga sekolah.

Dalam literatur lain disebutkan bahwa strategi pembentukan karakter perlu diwujudkan dalam setiap aktivitas pendidikan di sekolah dengan langkah-langkah pengembangan sebagai berikut.

Pertama, memasukkan nilai-nilai karakter dalam mata pelajaran.

proses penyusunan silabus, penyusunan RPP, penyiapan bahan ajar dan media, implementasi di kelas, dan penilaian.22

Kedua, integrasi pendidikan karakter ke dalam kegiatan pembinaan

kesiswaan yang dilaksanakan di dalam atau di luar lingkungan sekolah dalam rangka memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menginternalisasikan nilai-nilai. Kegiatan pembinaan kesiswaan meliputi MOS, pramuka, OSIS, PMR, UKS, dan lain-lain.

Ketiga, pendidikan karakter melalui pengelolaan sekolah, yakni pengenalan

nilai-nilai, menfasilitasi dan membangun kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, serta internalisasi nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui pelaksanaan manajemen sekolah yang berkarakter baik.23

Keempat, pendidikan karakter melalui pengembangan budaya sekolah yang

diwujudkan dalam bentuk kegiatan rutin, kegiatan spontan, dan keteladanan. a. Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus

menerus dan konsisten setiap saat. Berikut contoh kegiatan rutin dalam penanaman karakter peduli lingkungan.

1) Lingkungan sekolah

a) Membiasakan anak membuang sampah pada tempatnya.

b) Setiap jam terakhir siswa melakukan kebersihan memungut sampah di sekitar kelasnya didampingi guru yang mengajar jam terakhir. Siswa membuang sampah ke TPS.

22 Muhaimin, Model Pengembangan Kurikulum, hlm. 68-70.

23

c) Setiap hari Jum‟at minggu kedua dan keempat pukul 07.00-07.30 seluruh warga sekolah melakukan Jum‟at Bersih.

d) Petugas kebersihan sekolah memungut sampah yang ada di tempat sampah, di kantor dan di luar jangkauan siswa setelah istirahat kedua dan langsung dibuang ke TPS.

e) Guru melaksanakan piket secara berkelompok untuk melihat kebersihan lingkungan.

f) Mengambil sampah yang berserakan. 2) Lingkungan kelas

a) Piket kelas secara kelompok.

b) Siswa secara individu menata bangku dan kursi setiap hari supaya terlihat rapih.

c) Melakukan pengamatan kebersihan lingkungan kelas oleh penanggung jawab lingkungan. Kelas bersih diberikan penghargaan dan kelas kotor diberikan sanksi.

d) Tidak mencoret tembok atau bangku/kursi/fasilitas sekolah. Bagi yang mencoret diberi sanksi membersihkan.

b. Kegiatan spontan yakni kegiatan insidental yang dilakukan pada saat itu juga. Berikut contoh kegiatan spontan dalam penanaman karakter peduli lingkungan.

1) Menyuruh siswa memungut sampah yang dibuang sembarangan.

2) Memberikan sanksi pada siswa yang punya kebiasaan membuang sampah sembarangan.

c. Keteladanan merupakan perilaku dan sikap guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik dalam memberikan contoh tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain. Berikut contoh keteladanan dalam penanaman karakter peduli lingkungan.

1) Pendidik dan tenaga kependidikan membuang sampah pada tempatnya. 2) Pendidik dan tenaga kependidikan kerja bakti membersihkan sekolah

bersama peserta didik.

3) Pendidik dan tenaga kependidikan mengambil sampah yang berserakan.24

d. Pengkondisian dilakukan dengan mengkondisikan sekolah sebagai pendukung pelaksanaan pendidikan karakter, misalnya toilet yang bersih, bak sampah ada di berbagai tempat, sekolah terlihat rapih dan alat belajar ditempatkan teratur.25

Kelima, pengembangan karakter melalui pembuatan slogan atau yang

mampu menumbuhkan kebiasaan baik, seperti Kebersihan Pangkal Kesehatan, Ayo Tanam Pohon Mulai Dari Sekarang, Budaya Bersih Cermin Hidup Sehat, dan lain-lain.

Keenam, memantau secara kontinu sebagai wujud dari kesungguhan dalam

membangun karakter peserta didik.

Ketujuh, meminta penilaian orang tua tentang perkembangan karakter

anaknya.26

24

Kemendiknas, Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2011), hlm. 43-44.

25 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, hlm. 273.

26

Di sisi lain, dalam ranah mikro sekolah sebagai leading sector berupaya memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk inisiasi, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus menerus proses pendidikan karakter di sekolah. Untuk gambaran lebih detail dapat dilihat pada bagan di bawah ini.27

Gambar 2.2 Konteks Mikro Pendidikan Karakter

Bagan di atas memvisualkan strategi mikro pendidikan karakter yang dibagi menjadi empat pilar, yaitu kegiatan pembelajaran di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk budaya sekolah (school culture), kegiatan kokurikuler dan atau ekstrakurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah, dan di masyarakat. Empat pilat tersebut harus berjalan secara berkesinambungan agar karakter dapat tertanam dengan baik dalam diri siswa.

Hal senada disampaikan oleh Amirul Mukminin dalam penelitiannya tentang Strategi Pembentukan Karakter Peduli Lingkungan di Sekolah Adiwiyata Mandiri. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa strategi pembentukan karakter peduli lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi empat pilar

27 Muchlas Samani dan Hariyanto, Pendidikan Karakter (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 112-113.

pembentukan, yakni melalui kegiatan belajar mengajar, budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan penguatan dari orang tua.28

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa pembentukan karakter peserta didik memerlukan komitmen dan kerjasama dari semua warga sekolah sehingga karakter yang dikembangkan dapat tertanan dalam diri peserta didik.

B. Tinjauan Teoritis Karakter Peduli Lingkungan