• Tidak ada hasil yang ditemukan

2) Charles H. Cooley

2.3 Konsep Pemilihan Kepala Daerah(Pilkada)

Idedasardaripemberianotonomikepadadaerah sejatinyaadalahuntuk pertama,meningkatkanpelayanandankesejahteraan

masyarakatyangsemakinbaik;kedua,memeliharahubunganyangserasiantara pusatdandaerahsertaantardaerahdalamrangkamenjagakeutuhanNegara

KesatuanRepublikIndonesia(NKRI);ketiga,mengembangkankehidupan demokrasi, keadilan danpemerataan.37 Dalamrangkamenjalankantugasdankewajibantersebut,esensimendasar dalamkebijakanpelaksanaanotonomidaerahadalahpemberiankewenanganyang ditetapkanbatasankewenanganyangdimilikidaerahuntukmengaturdan mengurusrumahtangganyasendiri.Adanyapemberiankewenanganinitentu merupakanesensidasardalampelaksanaanotonomidaerahdimanadaerah mempunyaicukupkeleluasaangerakdalammenggunakanpotensinya,baikyang berasaldaridaerahnyasendirimaupundaripemberianpemerintahpusatsesuai dengankebutuhandaerahdankesejahteraanmasyarakatnya.38

36http://www.bukupr.com/2013/04/sosialisasi.htmldiakses pada Kamis 22 Oktober 2015 pukul 19.30 WIB

37 Leo Agustino,Op Cit hal 26

38

Hari sabarno. 2007. Untaian Pemikiran Otonomi Daerah ; memandu Otonomi Daerah Menjadi Kesatuan Bangsa. Jakarta : Sinar Grafika, hal. 7-8

Dalam peraturan perundang-undangan, pemilihan gubernur di atur dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU No. 32 tahun 2004) merupakan Undang-Undang (UU) yang mengatur secara gamblang tentang Pemerintahan Daerah (Perda). Pasal 56 (1) undang-undang No.32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah menyatakan bahwa Gubernur Provinsi dan wakil Gubernur Provinsi dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, dan rahasia jujur dan adil (2) pasangan calon sebagai mana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik.39Sedangkan didalam perubahan UU No.32 Tahun 2004, yakni UU No.12 Tahun 2008, Pasal 59 ayat 1b, calon Gubernur Provinsi dapat juga diajukan dari calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang.

Pilkada merupakan tonggak sejarah penting bagi pengembangan demokrasi di tingkat lokal. Di mana pada masa sebelumnya pilkada dilakukan secara perwakilan oleh DPRD yang dalam praktiknya diwarnai manipulasi oleh antar elit. Mereka yang mengklaim mewakili rakyat telah melakukan berbagai bentuk penyimpangan dan distorsi dalam melaksanakan pemilihan kepala daerah.

Menurut Abdul Asri Harahap bahwa pilkada bukan hanya memilih penguasa daerah tetapi lebih merupakan mencari pemimpin yang mampu melayani dan mengabdi untuk kepentingan sebuah rakyatnya.40 Pola pikir lama yang lebih menempatkan Gubernur Provinsi sebagai penguasa yang harus diubah

39UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

40Abd. Asri Harahap. 2005. Manajemen dan Resolusi Konflik Pilkada. Jakarta :PT.Pustaka Cidesindo,hal. 115

secara radikal menjadi pemimpin yang sesungguhnya bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pemerintahan daerah adalah pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan daerah yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan daerah yaitu Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Derah (DPRD). Secara umum Gubernur Provinsi adalah kepala pemerintah daerah yang dipilih secara demokratis. Gubernur Provinsi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh seorang wakil Kepala Daerah, dan perangkat daerah (UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah). Semua tingkatan daerah di Indonesia diberikan hak untuk menyelenggarakan pemilihan Gubernur Provinsi secara langsung, dengan tujuan agar rakyat di daerah yang bersangkutan dapat secara bebas dan bertanggung jawab memilih kepala daerahnya yang berkualitas.

Penguatan demokrasi lokal melalui pemilihan ini adalah bagian dari pemberian otonomi luas, nyata, dan bertanggung jawab. Upaya penguatan demokrasi lokal melalui pemilukada langsung ini adalah mekanisme yang tepat sebagai bentuk terobosan atas mandegnya pembangunan demokrasi di tingkat lokal.41Pemilihan Gubernur Provinsi secara lansung dimulai pada tahun 2005, yang diseleggarakan di 226 daerah, yang meliputi 11 Propinsi, 180 kabupaten dan 35 kota.42

Dalam kaitannya dengan fungsi dasar pemilihan umum tersebut, akan ada beberapa fungsi dari pemilukada yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu:

41

H.Rudini. 1994. Atas Nama Demokrasi Indonesia. Hal 139.

a) Sebagai Sarana Legitimasi Politik. b) Fungsi Perwakilan Politik

c) Sebagai Sarana Pendidikan Politik Masyarakat

Proses pemilihan Gubernur Provinsi secara langsung senantiasa diharapkan dapat membawa perubahan berdemokrasi kearah yang lebih baik, serta dapat pula memperkokoh semangat demokrasi di daerah khususnya. Dalam proses penyelenggaraannya pemilihan Gubernur Provinsi berlangsung secara bertahap. Tahapan dalam pelaksanaannya dapat dilihat sebagai berikut :

1. Pendaftaran pemilih calon bupati dan wakil bupati 2. Penentuan calon bupati dan wakil bupati

3. Proses administrasi pengadaan dan pendistribusian logistik 4. Pengadaan kampanye

5. Pemungutan dan penghitungan suara

6. Tahap penyelesaian (tahap evaluasi hasil pelaksanaan pemilihan kepala daerah).43

Pilkada secara langsung diselenggarakan dengan sistem dua putaran. Artinya, kalau pada putaran pertama tidak ada calon yang memperoleh suara minimal yang ditentukan, akan diadakan putaran kedua dengan peserta dua pasang calon yang memperoleh suara terbanyak. Yang menjadi tujuan pokok adalah adanya pasangan calon yang terpilih mempunyai legitimasi kuat dengan perolehan suara 50% plus satu (mayoritas mutlak). Seandainya pada putaran kedua tidak ada yang memperoleh suara 50% plus satu, yang akan dijadikan pertimbangan untuk

menentukan pemenang adalah kemerataan dukungan suara di tingkat kabupaten/kota. Dalam suatu masyarakat demokratis, rakyat berperan tidak untuk memerintah atau menjalankan keputusan–keputusan politik. Namun terdapat pemilihan umum yang berperan untuk menghasilkan suatu pemerintah atau suatubadan penengah lainnya yang pada gilirannya menghasilkan suatu eksekutif nasional dan pemerintah.44

Terkait dengan UU ini saat ini sedang hangat diperbincangkan tentang

“Pemilihan Kepada Daerah oleh DPRD”. Jika dikaitkan dengan demokrasi yang merupakan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Pemahaman sederhana yang dapat digambarkan atas sebuah demokrasi. Demokrasi ini dituangkan dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 (UUD NRI 1945), yaitu “kedaulatan berada di tangan rakyat

dan dilaksanakan menurut Undang-Undang”.

Pemilihan Gubernur Provinsi merupakan rekruitmen politik yaitu penyeleksian rakyat terhadap tokoh-tokoh yang mencalonkan diri sebagai Gubernur Provinsi seperti pemilihan gubernur, dan wakil gubernur.45Pilkada merupakan salah satu kegiatan yang nilainya equivalen dengan pemilihan anggota DPRD.Terjadi perubahan terkait perubahan dari Pilgub menjadi Pikada dikarenakan konsep otonomi daerah yang dijelaskan pada semangat desentralisasi, sejak tahun 2005 Pemilu Gubernur Provinsi dilaksanakan secara langsung (Pemilukada/Pilkada). Semangat dilaksanakannya Pilkada adalah koreksi terhadap

44Tesis Sugiprawaty, Etnisitas, Primordialisme, Dan Jejaring Politik Di Sulawesi Selatan (Studi Pilkada Di Sulawesi Selatan Th 2007-2008), Hal. 10

45

Joko J. Prihatmoko.2005.Pemilihan Gubernur Provinsi Langsung: filosofi,sistem,dan problema penerapan di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 203

sistem demokrasi tidak langsung (perwakilan) di era sebelumnya, di manaGubernur Provinsi dan Wakil Gubernur Provinsi dipilih oleh DPRD, menjadi demokrasi yang berakar langsung pada pilihan rakyat (pemilih). Melalui Pilkada, masyarakat sebagai pemilih berhak untuk memberikan suaranya secara langsung sesuai dengan kehendak hati nuraninya, tanpa perantara, dalam memilih Kepala Daerah.

Secara ideal tujuan dari dilakukannya Pilkada adalah untuk mempercepat konsolidasi demokrasi di Republik ini. Selain itu juga untuk mempercepat terciptanya good governance karena rakyat bisa terlibat langsung dalam proses pembuatan kebijakan. Hal ini merupakan salah satu bukti dari telah berjalannya program desentralisasi. Daerah telah memiliki otonomi untuk mengatur dirinya sendiri , bahkan otonomi ini telah sampai pada taraf otonomi individu.

Selain semangat tersebut, sejumlah argumentasi dan asumsi yang memperkuat pentingnya Pilkada adalah: Pertama, dengan Pilkada dimungkinkan untuk mendapatkan Gubernur Provinsi yang memiliki kualitas dan akuntabilitas. Kedua, Pilkada perlu dilakukan untuk menciptakan stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan di tingkat lokal. Ketiga, dengan Pilkada terbuka kemungkinan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan nasional karena makin terbuka peluang bagi munculnya pemimpin-pemimpin nasional yang berasal dari bawah dan/atau daerah.