• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP PENGEMBANGAN LANSKAP PERMUKIMAN PADJADJARAN REGENCY BOGOR RAYA

HASIL DAN PEMBAHASAN

KONSEP PENGEMBANGAN LANSKAP PERMUKIMAN PADJADJARAN REGENCY BOGOR RAYA

Konsep Umum

Perencanaan permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya ini pada dasarnya mempunyai konsep ”Rumah di Tengah Kota Bernuansa Taman Dengan Fasilitas Lengkap”, dimana kawasan permukiman memiliki panorama pegunungan dan persawahan dengan fasilitas yang lengkap. Konsep ini muncul karena terdapatnya keadaan alam sekitar lokasi permukiman yang memiliki keindahan alam serta udara yang menyejukan dengan suasana cukup tenang.

Dalam perencanaan permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya ini memiliki tujuan yaitu membangun suatu kawasan permukiman dengan lokasi strategi yaitu di pusat kota yang memanfaatkan keindahan panorama pegunungan serta fasilitas yang lengkap yang memenuhi kebutuhan penghuni. Fasilitas yang dihadirkan berupa fasilitas rekreasi seperti adanya Club House, fasilitas sosial seperti adanya taman lingkungan dan fasiltas komersil seperti adanya Ruko.

Produk arsitektur bangunan yang dimunculkan ini dikhususkan untuk memanjakan para penghuninya sesuai dengan trend saat ini yaitu gaya minimalis, dengan sentuhan unsur lengkung sebagai aksen serta desain bangunan yang dilengkapi pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik. Tipe rumah kecil memiliki bentuk yang sederhana dengan menonjolkan warna terang yang lebih dominan sehingga bangunan terlihat luas.

Rencana pembangunan permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya meliputi 3 tipe rumah dengan luasan tanah yang berbeda-beda adalah sebagai berikut:

1. Rumah tipe 22 yang berada di bagian Selatan tapak berbatasan dengan Desa Cikondang, dimana tipe ini terdiri dari luasan 60 m² dan 72 m².

2. Rumah tipe 30 yang berada di bagian bagian Timur berbatasan dengan Desa Cikeas, dimana tipe ini terdiri dari tiga luasan tanah yaitu 60 m², 72m² dan 90m².

3. Rumah tipe 46 yang berada di bagian Utara berbatasan dengan lahan pertanian yang nantinya akan menjadi pembangunan tahap II dari permukiman ini. Tipe 46 juga terdiri dari lima luasan tanah yaitu, 90m², 120m², 140m², 144m² dan 216m².

Fasilitas penunjang yang tersedia di permukiman terdiri dari:

1. Club House, meliputi Cafe, Kolam Renang, Fitness Center, Lapangan Basket, Lapangan Futsal, Taman bermain.

2. Masjid sebagai tempat beribadah bagi umat Islam 3. Ruko

4. Taman Lingkungan

Pada proses pembangunan, pihak pengelola menyediakan rumah jadi maupun kavling kosong. Untuk kavling kosong calon penghuni diberikan alternatif untuk mendesain rumah sendiri ataupun pengelola dapat mendesain rumah sesuai keinginan calon penghuni. Desain rumah tidak jauh dari konsep permukiman yaitu bangunan minimalis yang sesuai dengan trend saat ini. Ilustrasi desain rumah minimalis yang terdapat di permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya tipe 22, tipe 30 dan tipe 46 dapat dilihat pada (Gambar 9).

Gambar 9. Tipe Rumah Permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya.

Dalam pelaksanaan pembangunan rumah, terdapat beberapa peraturan teknis yang harus diikuti seperti garis sepadan bangunan, pemasangan pagar, luas, tinggi dan bentuk bangunan. Secara rinci peraturan tersebut dapat dilihat pada ketentuan lingkungan

kepenghunian dan pendirian bangunan “Perumahan Danau Bogor Raya” yang berlaku sama untuk perumahan Padjadjaran Regency Bogor Raya pada Lampiran 1.

Konsep Tata Hijau

Tata hijau yang berada di kawasan permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya ini memiliki fungsi sebagai tanaman peneduh, ornamental, pengarah dan penutup tanah yang terdiri dari pohon, perdu, semak sampai groundcover. Selain itu tata hijau yang direncanakan dapat berfungsi membentuk ruang, mengontrol kebisingan, habitat satwa, serta fungsi-fungsi lingkungan lainnya. Berdasarkan fungsi-fungsi tersebut, peletakan vegetasi disesuaikan dengan kebutuhan pada tiap-tiap lokasi.

Dari pengamatan langsung di lapang, ruang terbuka hijau di permukiman ini kurang dari 40 % dari luas total keseluruhan area. Kriteria standar nasional untuk ruang terbuka hijau permukiman di perkotaan sebesar 40-60 % dari total kawasan, sehingga dapat dikatakan kawasan ini belum memenuhi kriteria standar nasional.

Setiap lokasi mempunyai konsep yang berbeda. Secara rinci konsep perencanaan tata hijau yang dibuat oleh pengelola permukiman adalah sebagai berikut :

1. Jalur hijau di berm didasarkan pada konsep :

a. Memberikan arah (orientasi) pada pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor;

b. Memberikan perhatian kepada pengendara kendaraan bermotor dalam mengatur laju kecepatan kendaraannya dengan memberikan aksen pada setiap belokan dan putaran;

c. Menciptakan suasana lingkungan teduh dan nyaman;

d. Selain tanaman berfungsi sebagai peneduh dan pengarah, tanaman yang digunakan diharapkan menjadi pengendali pergerakan angin pereduksi bunyi serta polutan, dan pengikat antar daerah.

Kriteria tanaman yang digunakan adalah sebagai berikut :

− Jenis tanaman yang berbeda setiap lokasi dan berbeda jarak tanam serta teratur untuk memperjelas garis tepi jalan;

− Jenis pohon yang mempunyai tajuk yang lebar untuk menghasilkan suasana lingkungan yang teduh dan nyaman

− Jenis pohon yang daunnya tidak mudah rontok agar tidak mengotori jalan dan lingkungan permukiman dan yang perakarannya tidak merusak kabel listrik dan telepon yang tertanam di dalam tanah;

− Jenis pohon yang berbunga untuk menciptakan suasana yang hangat dan cerah; − Tanaman semak dan perdu berbunga sebagai variasi dari pohon yang besar dan

sebagai aksen untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. 2. Taman Lingkungan didasarkan pada konsep :

a. Menciptakan kesan terbuka, ramah dan hangat;

b. Memberikan rasa senang dan nyaman kepada penghuni rumah. Kriteria tanaman yang digunakan :

− Jenis pohon yang memiliki tajuk lebar dan berbunga cerah untuk memberikan kesenangan kepada pemakainya.

− Jenis semak atau perdu dan groundcover berdaun dan berbunga cerah untuk memberikan kesan kehangatan dan menimbulkan keakraban bagi pemakainya; − Jenis tanaman yang mudah dipelihara.

3. Kavling kosong yang belum terdapat bangunan didasarkan pada konsep : a. Menghadirkan suasana cerah, sejuk dan segar;

b. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman; c. Menciptakan kerapihan dan kebersihan kavling. Kriteria tanaman yang digunakan :

− Jenis pohon yang memiliki tajuk lebar yang bersifat sementara atau tidak permanen, berbunga cerah dan daun yang tidak mudah rontok untuk menciptakan keteduhan, kerapihan dan kebersihan;

− Jenis rumput yang mudah diperoleh serta mudah dalam penanaman dan pemeliharaan.

Konsep Tata Hijau yang telah dibuat pengelola permukiman merupakan konsep yang dibuat berdasarkan kesesuaian tanaman terhadap lingkungan dimana tanaman memiliki fungsi secara estetik maupun fungsional. Konsep tata hijau yang dibuat memiliki fungsi estetik yaitu menciptakan suasana yang diinginkan sesuai lokasi yang telah ditentukan. Pada taman lingkungan diciptakan suasana yang menarik yaitu menggunakan tanaman semak yang memiliki karakter daun dan bunga yang cerah. Dilihat

dari segi fungsional tanaman, dapat berfungsi sebagai tanaman peneduh, ornamental, maupun pengarah. Pada jalur hijau berm menggunakan tanaman yang memiliki fungsi sebagai pengarah yaitu pohon yang memiliki karakter tajuk yang khas.

Tanaman pengarah ditempatkan di median jalan utama dan area penerimaan sehingga memudahkan pengguna kendaraan bermotor untuk mengatur laju kendaraan (Gambar 10 a). Jalur hijau berupa berm yang terletak di depan bangunan rumah menggunakan jenis pohon peneduh (Gambar 10 b). Taman lingkungan menggunakan tanaman yang memiliki karakter serta fungsi sebagai peneduh sehingga tercipta keakraban bagi para penghuni permukiman ini. Untuk memperhalus kesan kaku dari pagar, maka di pinggir pagar ditanami Bambu jepang (Gambar 10 c). Pada dasarnya jenis tanaman yang digunakan merupakan tanaman yang mudah didapat, tidak mahal, dan mudah dalam pemeliharaannya.

(a). Kelapa Sawit di Area Penerimaan (b). Sempur ditanam di Berm

(c). Bambu Jepang Digunakan Sebagai Tanaman Penutup Dinding Pembatas Gambar 10. Penanaman Vegetasi Sesuai Fungsi dan Lokasi.

Konsep Utilitas

Proyek permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya dikatakan berhasil tidak hanya dari bangunannya saja tetapi dari unsur pendukungnya yaitu utilitas. Kawasan permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya memiliki utilitas terdiri dari jaringan listrik, telekomunikasi dan drainase.

Jaringan listrik dan telekomunikasi menggunakan sistem kabel udara dimana kabel listrik beserta tiang dipancangkan, sehingga jika terdapat kerusakan dapat segera dicari sumber kerusakan jika ada listrik yang tidak berfungsi. Pada permukiman ini terdapat dua Gardu dimana tiap gardu memiliki kekuatan 250 KVA sehingga total kekuatan listrik yang dimiliki permukiman ini adalah 500 KVA. Untuk kabel listrik terdapat dua jenis yaitu:

1. Kabel TR atau disebut juga kawat A3C kabel ini berasal dari gardu pusat yang terdiri dari Ø 300 daN dan Ø 250 daN. Dimana kabel TR Ø 300 daN dipasangkan dipaling ujung kiri-kanan tiang sedangkan untuk ditengah dipasangkan kabel TR Ø 250 daN. 2. Kabel SR yaitu kabel yang terbungkus (Twisted) yang memiliki ukuran 4 x 7 x N.

Jaringan drainase yang digunakan di permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya ini menggunakan sistem drainase terbuka yang terdapat di pinggir atau tepian jalan berupa cekungan yang terbuka. Adapun terdapat dua jenis saluran drainase yang terdapat di permukiman ini, yaitu :

1. Saluran drainase semi terbuka, yaitu Uditch/precast, yaitu saluran drainase yang berada di bawah jalan sehingga saluran semi terbuka. Udicth ini mempunyai ukuran 30 x 30 cm (Gambar 11 a).

2. Saluran drainase terbuka, yaitu terdiri dari saluran drainase yang dibuat di tempat yang memiliki ukuran 60 x 100 x 12 cm dan saluran drainase yang sudah jadi, yang memiliki ukuran 50 x 80 x 15 cm dan diterapkan kedalam lahan yang telah dilubangi terlebih dahulu (Gambar 11 b).

(a). Sistem Drainase Semi Terbuka

(b). Sistem Drainase Terbuka

Gambar 11. Macam Saluran Drainase di PRBR

Kekurangan menggunakan jaringan listrik dengan sistem kabel udara adalah dapat menutupi pemandangan yang baik ke arah pegunungan. Untuk saluran drainase dirancang sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan pengguna jalan, terlihat dari adanya saluran yang melintasi jalan dengan mengunakan penutup saluran.

Konsep Sirkulasi

Sarana sirkulasi berupa jalur untuk kendaraan bermotor, mempunyai tujuan untuk mempermudah aksesibilitas bagi para penghuni permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya. Jalur sirkulasi ini juga menghubungkan area satu ke area lainnya. Konsep sirkulasi jalan utama memiliki jalur dari Utara ke Selatan ataupun dari Selatan ke Utara, dikarenakan untuk menghindari silau yang ditimbulkan sinar matahari yang terbit dari Timur dan silau matahari yang mulai tenggelam ke Barat.

Terdapat beberapa konsep sirkulasi yang diterapkan di permukiman Padjadjaran Regency untuk memudahkan penghuni, yaitu sebagai berikut :

1. Membuat badan jalan yang lebih rendah dari level rumah dan mempunyai tujuan : a. Mengurangi kebisingan lalu lintas;

b. Memberikan pandangan yang lebih luas dari dalam rumah; c. Mempercepat drainase air hujan dan kavling;

d. Menciptakan sirkulasi udara yang lebih baik.

2. Perencanaan jalur sirkulasi semaksimal mungkin mengikuti elevasi tanah asli. Sehingga dapat memberikan bentukan yang menarik dan sedikit berbukit-bukit;

3. Terdapat perbedaan jalan yang dapat dibedakan atas beban jalan yang digunakan dikawasan PJBR. Jenis dan ukuran jalan dapat dilihat pada Tabel 4.

4. Jalur sirkulasi hanya diperuntukkan untuk kendaraan bermotor;

5. Struktur permukaan jalan yang digunakan adalah conblock yang dapat menahan berat beban sampai 25 ton.

Tabel 4. Jenis dan Ukuran Lebar Jalan

Jenis Jalan Ukuran Lebar Jalan Jalan utama Jalan masuk Boulevard Jalan Lingkungan/lokal Jalan besar Jalan sedang Jalan kecil ROW 12 m ROW 16.2 m ROW 9 m ROW 8.5 m ROW 8 m

Pemilihan bahan conblock dipilih yang memberikan kesan menarik sehingga

dapat menghilangkan rasa jenuh dan bosan bagi para pengguna kendaraan ketika melintasi jalan. Bahan conblock juga dapat mengurangi silau dan dapat menghindari adanya genangan air karena penyerapan air ke dalam tanah dapat diserap dengan baik.

Kemiringan jalan sebesar 2 %, sehingga air hujan tidak tergenang melainkan disalurkan ke saluran-saluran air yang berada di sisi-sisi jalan. Keseluruhan kondisi jalan di Padjadjaran Regency Bogor Raya ini dibuat sedemikian datar sehingga memudahkan para pengguna jalan ketika menggunakannya.

Perencanaan jalan tidak menggunakan jalur trotoar untuk pejalan kaki dikarenakan direncanakan sebagian besar penghuni penduduk di Padjadjaran Regency Bogor Raya merupakan pengguna kendaraan bermotor sehingga pihak developer mengganggap trotoar tidak terlalu dibutuhkan di permukiman ini. Untuk lebar jalan utama sebesar 5,5 m tidak mencukupi untuk fasilitas jalur trotoar. Sebaiknya pengelola merencanakan jalur pejalan kaki, walau bagaimanapun salah satu kenyamanan penghuni adalah kenyaman dalam berjalan kaki. Gambar Row jalan yang terdapat di permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya dapat dilihat pada Gambar 12.

PERANCANGAN LANSKAP PERMUKIMAN