• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Penguasaan Negara Atas Sumber Daya Alam

Dalam dokumen LIES SETYAWATI S311010104 (Halaman 57-62)

BAB II KAJIAN TEOR

D. Konsep Penguasaan Negara Atas Sumber Daya Alam

Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 adalah sumber hukum tertinggi dalam melakukan pengelolaan dan pengusahaan terhadap sumber daya alam di Indonesia. Di dalam Pasal tersebut dirumuskan bahwa “Bumi dan air dan

77Zainudin Ali, Metode Penelitian Hukum (Jakarta: Sinar Grafika, 2009): hal. 28 78Ibid

kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Ketentuan Pasal 33 ayat (3) tersebut, mengandung roh yang menegaskan, bahwa kekayaan alam yang terdapat di wilayah hukum Indonesia harus dipergunakan “hanya dan hanya” untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.80

Terhadap rumusan Pasal 33 ayat (3) tersebut di atas tidak pernah ada penjelasan atau kejelasan resmi tentang makna “dikuasai oleh Negara”. Namun satu hal yang telah disepakati bahwa dikuasai oleh Negara tidak sama dengan dimiliki oleh Negara. Kesepakatan ini bertalian dengan dan atau suatu bentuk reaksi dari sistem atau konsep

domein yang dipergunakan pada masa kolonial Hindia Belanda.81

Konsep atau lebih dikenal asas domein, mengandung pengertian kepemilikan (ownership). Negara adalah pemilik atas tanah, karena itu memiliki segala wewenang melakukan tindakan yang bersifat kepemilikan (eigensdaad).82Pengertian hak menguasai Negara ditemukan dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), memberikan makan “hak menguasai negara”, yaitu wewenang untuk:83

a. Mengatur dan menyelenggarakan perubahan, penggunaan, persediaan, dan pemeliharaan bumi, air, dan ruang angkasa tersebut;

b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang- orang dengan bumi, air, dan ruang angkasa;

c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum mengenai bumi, air dan ruang angkasa.

Selanjutnya, Pasal 2 ayat (1) UUPA menyatakan:

“Atas dasar ketentuan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan hal-hal

80 Nandang Sudrajat, Teori dan Praktik Pertambangan Indonesia Menurut Hukum (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, Cet.1, 2010): hal.15

81 Adrian Sutedi, Hukum Pertambangan(Jakarta: Sinar Grafika, Cet. 1, 2011): hal.123 82 Bagir Manan, Menyongsong Fajar Otonomi Daerah (Yogyakarta: Pusat Studi Hukum UII, 2004): hal. 230

sebagai yang dimaksud dalam pasal 1, bumi, air, dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat”.84

Berkaitan dengan itu, AP Parlindungan lebih lanjut menegaskan bahwa: “Kesimpulan Pasal 1, 2, 3, 4, dan 9 UUPA, kesemuanya dalam konteks dengan ketahanan nasional sebagaimana disebutkan oleh Pasal 2 ayat 4 UUPA: “Wewenang yang bersumber pada Hak Menguasai Negara tersebut pada ayat 2 pasal ini digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dalam arti kebahagiaan, kesejateraan, dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.”85

Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tujuan dari dikuasai Negara baik menurut UUD 1945 maupun UUPA adalah untuk sebesar- besar kemakmuran rakyat. Keterkaitan hak penguasaan Negara dengan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat akan mewujudkan kewajiban Negara sebagai berikut:86

- Segala bentuk pemanfaatan (bumi dan air) serta hasil yang di dapat (kekayaan alam), harus secara nyata meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

- Melindungi dan menjamin segala segala hak-hak rakyat yang terdapat di dalam atau di atas bumi, air dan berbagai kekayaan alam tertentu yang dapat dihasilkan secara langsung atau dinikmati langsung oleh rakyat.

- Mencegah segala tindakan dari pihak manapun yang akan

84 AP Parlindungan, Hak Pengelolaan Menurut Sistem UUPA (Mandar Maju: Bandung, 1989): hal. 3

85Ibid

86Pan Mohamad Faiz, Penafsiran Konsep Penguasaan Negara Berdasarkan Pasal 33 UUD

1945 dan Putusan Mahkamah Konstitusi, http://panmohamadfaiz.com/2006/10/08/penafsiran-konsep- penguasaan-negara/, diakses tanggal 25 Februari 2012

menyebabkan rakyat tidak mempunyai kesempatan atau akan kehilangan hak nya dalam menikmati kekayaan alam.

Ketiga kewajiban di atas menjelaskan segala jaminan bagi tujuan hak penguasaan Negara atas sumber daya alam yang sekaligus memberikan pemahaman bahwa dalam hak penguasaan itu, Negara hanya melakukan pengurusan (bestuurdaad) dan pengolahan (beheersdaad), tidak untuk melakukan eigensdaad.

Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 001-021- 022/PUUI/2003 penguasaan Negara berarti bahwa Negara berwenang untuk mengurus, mengatur, mengelola serta mengawasi pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan alam bagi kemakmuran rakyat. Pengurusan, pengaturan serta pengelolaan kekayaan alam tersebut harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam konstitusi, yaitu: 1. Prinsip untuk sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat;

2. Dasar demokrasi dengan ekonomi dengan prinsip: a. Kebersamaan;

b. Efisiensi berkeadilan; c. Berkelanjutan;

d. Berwawasan lingkungan; e. Kemandirian;

f. Keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

Hutan merupakan sumber daya alam yang penguasaannya dilakukan oleh Negara. Dalam Pasal 4 UU Kehutanan disebutkan tentang hak Negara atas hutan. Di dalam Pasal itu ditentukan semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Maksud penguasaan hutan oleh Negara adalah

memberi wewenang kepada pemerintah untuk:87

1. Mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan;

2. Menetapkan status wilayah tertentu sebagai kawasan hutan atau bukan kawasan hutan;

3. Mengatur dan menetapkan hubungan-hubungan hukum antara orang dengan hutan, serta mengatur perbuatan-perbuatan hukum mengenai kehutanan.

Penguasaan itu tetap memperhatikan hak masyarakat Hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui kebenarannya, serta tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. Selain itu, Pemerintah juga mempunyai wewenang untuk memberikan izin dan hak kepada pihak lain untuk melakukan kegiatan di sektor kehutanan ataupun di luar sektor kehutanan di dalam kawasan hutan.

Sama halnya dengan hutan, bahan galian tambang juga dikuasai oleh Negara untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Penguasaan Negara atas bahan galian tambang merupakan kewenangan yang diberikan oleh hukum kepada Negara untuk mengurus, mengatur dan mengawasi pengelolaan bahan galian sehingga di dalam pengusahaan dan pemanfaatannya dapat meningkatkan kesejateraan masyarakat.

Kedudukan Negara adalah sebagai pemilik bahan galian mengatur peruntukan dan penggunaan bahan galian untuk kemakmuran masyarakat sehingga Negara menguasai bahan galian. Tujuan penguasaan oleh Negara (pemerintah) adalah agar kekayaan nasional tersebut dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, baik perseorangan, masyarakat maupun pelaku usaha, sekalipun memiliki hak atas sesektor tanah di permukaan, tidak

mempunyai hak menguasai ataupun memiliki bahan galian yang terkandung di dalamnya.88

Penguasaan oleh Negara diselenggarakan oleh pemerintah sebagai pemegang kuasa pertambangan. Kuasa pertambangan adalah wewenang yang diberikan Negara kepada pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi, baik terhadap bahan galian strategis, vital maupun golongan C.89

E. Desentralisasi Dalam Kerangka Otonomi Daerah

Dalam dokumen LIES SETYAWATI S311010104 (Halaman 57-62)