F. Kerangka Teoretik
1. Konsep Perubahan Sikap dari Radikal menjadi Moderat
Kesadaran adalah bentuk dari sebuah perubahan sikap manusia yang dipengaruhi oleh banyak hal. Tindakan dan pemikiran radikal tidak hadir begitu saja, tetapi melalui sejumlah respons terhadap apa yang dilihatnya dan membentuk serta berujung pada sikap (kesadaran). Begitu juga sikap deradikal tidak mengalami perubahan secara alamiah, tetapi dipengaruhi oleh sejumlah pemantik yang membuat seseorang bisa sampai pada tahap untuk berubah sikap dari radikal menjadi menjadi deradikal. Saifuddin Azwar menyebutkan bahwa sikap sosial merupakan hasil bentukan dari interaksi sosial oleh individu manusia.50
Individu tidak secara spontan bersikap radikal maupun moderat, melainkan melalui proses interaksi sosial yang menjadi faktor pendorong perubahan sikap. Saifuddin Azwar menyebutkan beberapa hal yang mempengaruhi pembentukan sikap,51 diantaranya, pertama, pengalaman pribadi; sikap atau tanggapan seseorang dipengaruhi oleh pengalaman pribadi. Pengalaman yang telah dan sedang dialami oleh individu, akan ikut membentuk dan memberikan pengaruhnya kepada sikap individu.
―Dalam suatu situasi emosional yang menekan, misalkan sewaktu sedang sangat lapar atau badan sedang sangat lelah pada suatu hari yang panas, kalau kita masuk ke sebuah restoran Cina dan ternyata terdapat pelayanan yang tidak memuaskan, misalkan sewaktu membayar ke kasir disambut dengan pandangan dingin dan tidak ramah, maka akan sangat mudah
50 Saifuddin Azwar, Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya, edisi 2 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 30-36.
22
terbentuk kesan negatif terhadap orang Cina yang dapat menjadi dasar pembentukan sikap negatif pula terhadap orang Cina. Sebaliknya, dalam situasi emosional yang lain, misalkan sedang tertimpa musibah, tiba-tiba tanpa diduga kita mendapat kunjungan dari tetangga orang Cina di sebelah rumah yang memberikan sumbangan yang sangat kita butuhkan maka akan terbentuk kesan positif terhadapnya yang selanjutnya dapat menjadi dasar pembentukan sikap positif terhadap orang Cina‖.52
Kedua, orang lain yang dianggap penting; faktor ini merupakan faktor kepercayaan seseorang kepada sosok yang dianggap bersih, suci dan pada akhirnya setiap perilaku (dalam bahasa pendidikan disebut hidden curriculum) sosok tersebut membentuk sikap seseorang—bahkan menjadi perilaku bagi orang tersebut.
Ketiga, kebudayaan; kebudayaan yang melingkupi kehidupan seseorang akan memberikan pengaruh terhadap sikap seseorang, dicontohkan apabila seseorang hidup dalam kehidupan heteroseksual yang longgar, sangat terbuka seseorang itu akan bersikap sangta mendukung kebebasan pergaulan heteroseksual. Keempat, media massa;53 seseorang yang membaca atau melihat sesuatu yang berulang ulang akan membentuk opini dan sikap pada seseorang. Media massa membawa pesan untuk mendorong sikap sebagaimana pesan yang diinginkan oleh media massa;54
52 Ibid., 32.
53
Bicara tentang peran media tidak bisa lepas dari Marshall McLuhan. Pada tahun 1960, Marshall menghasilkan tesis bagi pentingnya media massa. Dalam tesisnya, McLuhan mengatakan, ―televisi mempengaruhi Anda terlepas dari apapun yang Anda tonton. Dunia maya mempengaruhi masyarakat, terlepas dari pilihan lagu yang dibuat oleh penggunanya. Gagasan McLuhan tentang media sebenarnya banyaknya dipengaruhi oleh pengajarnya, Harold Adams Innis yang mengajarkan bahwa media komunikasi adalah intisari peredaban dan bahwa sejarah diarahkan oleh media yang menonjol pada masanya. Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, Theories of
Human Communication, terj, Mohammad Yusuf Hamdan (Jakarta: Penerbit Salemba Humanika,
2009), 410.
54 Media massa memproduksi dari respons terhadap setiap perkembangan sosial dan budaya. Media tertentu seperti televisi mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir tentang dan merespons pada dunia. Sementara media melakukan pekerjaannya dalam berbagai cara untuk
23
Kelima, lembaga-lembaga pendidikan; sekolah dan lembaga pendidikan lainnya juga memiliki pengaruh terhadap seseorang, misalnya bagaimana sikap santri (yang dididik di tengah-tengah spiritualitas kuat) dalam menyikapi penggunaan jilbab, dan bagaimana sikap seseorang yang sehari-hari dibesarkan di dunia pendidikan yang tidak kuat spiritualitasnya, bisa dipastikan akan berbeda dalam mengambil sikap (mengambil sikap hukum);
Keenam, lembaga agama; lembaga agama juga mempengaruhi terhadap sikap seseorang, misalnya mereka yang berada di lembaga agama Kristen, pasti berbeda pendapatnya dengan mereka-mereka yang berada dalam lembaga-lembaga agama Islam dalam menyikapi hijab.
Ketujuh, faktor emosi pada diri individu, faktor ini memberikan pengaruhnya seseorang dalam mengambil sikap. Ketika dalam kondisi marah dan dalam kondisi tenang, sikap yang diambil diyakini mengalami perbedaan.
a. Alur proses perubahan sikap versi Kelman
Teori tiga proses perubahan sikap yang dikenalkan Kelman merupakan teori yang menjelaskan tentang adanya tiga proses sosial yang berperan dalam proses perubahan sikap, yaitu:
1) Kesediaan, ketika individu bersedia menerima pengaruh dari orang lain atau dari kelompok lain dikarenakan individu berharap mendapatkan reaksi atau tanggapan positif dari pihak lain. Kelman menyebutnya, kesediaan menerima pengaruh dari pihak lain, biasanya tidak berasal dari hati kecil seseorang, melainkan merupakan cara untuk memperoleh reaksi positif dari orang lain,
segmen-segmen masyarakat yang berbeda, audiens tidak semua terpengaruh—tetapi berinteraksi dalam cara khusus dengan media. Ibid., 411.
24
seperti pujian, dukungan, dan simpati dari orang lain. Tentu perubahan perilaku dengan motivasi itu tidak akan bertahan lama dan biasanya akan tampak selama pihak lain diperkirakan masih menyadari akan perubahan sikap yang ditunjukkan.55
2) Identifikasi, proses identifikasi terjadi apabila individu meniru perilaku atau sikap seseorang atau kelompok lain dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan apa yang dianggapnya sebagai bentuk hubungan yang menyenangkan antara individu dengan pihak lain. Kelman memberikan penjelasan, bahwa pada usia anak-anak perubahan sikap karena faktor ―proses identifikasi‖ tampak lebih jelas. Anak-anak
akan dengan sangat mudah menirukan setiap orang yang diidolakan. Bentuk identifikasi lain adalah identifikasi dalam usaha memelihara hubungan individu dengan kelompok yang mengharapkannya agar bersikap sama—individu bersikap sesuai harapan kelompok dan sesuai dengan peranannya dalam hubungan sosial dengan kelompok tersebut. Kelman menunjuk satu contoh seorang dosen akan bersikap sebagaimana layaknya sikap dosen lain di kampus. Bisa disimpulkan bahwa identifikasi dapat terjadi sekalipun sikap yang ditiru itu belum tentu sesuai dan memuaskan bagi individu yang bersangkutan, akan tetapi dikarenakan sikap itu membawa kepada kepuasan hubungan dengan orang lain. Dicontohkan, seorang dosen akan bersikap sebagaimana dosen lain ketika di kampus, tapi dosen akan bersikap sebagaimana ayah ketika di rumah.56
3) Internalisasi, terjadi apabila individu menerima pengaruh dan bersedia bersikap menuruti pengaruh itu dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan apa yang
55 Saifuddin Azwar, Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 55..
25
dipercayainya dan sesuai dengan sistem nilai yang dianutnya. Dalam hal ini, maka isi dan hakikat sikap yang diterima itu sendiri dianggap oleh individu sebagai sesuatu yang memuaskan. Sikap demikian biasanya bertahan lama dan tidak mudah berubah.57
Jika dikaitkan dengan hasil empiris, maka pendapat Kelman bisa dibenarkan. Informan Arif, salah satu anggota YLP yang sebelumnya tergabung ISIS, mengakui bahwa dirinya taubat selain dipengaruhi oleh korban teror juga dipengaruhi oleh internalisasi yang diperolehnya dari hasil Arif melihat perilaku para teroris saat masih bersama-sama dalam penjara yang tidak sesuai ajaran-ajaran Islam yang selama ini diyakini kebenarannya. Lebih lengkap tentang penuturan Arif bisa dilihat pada Bab IV.58
b. Hierarchy of Need Abraham Maslow
Perubahan sikap seseorang bisa berubah karena dipicu oleh beberapa faktor sebagaimana Abraham Maslow dalam teorinya, Hiererchy of Need (hirarki kebutuhan), menyebutkan; individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terdapat tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).
Adapun hirarki kebutuhan tersebut, (1) kebutuhan fisiologis (dasar), (2) kebutuhan akan rasa aman dan tenteram, (3) kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, (4) kebutuhan untuk dihargai, dan (5) kebutuhan untuk aktualisasi diri.59
57 Ibid., 57.
58 Arif Budi Setyawan, Wawancara, di sekretariat YLP, pada 25 Juli 2018.
59 Iskandar, Psikologi Pendidikan Sebuah Orientasi Baru (Jakarta: Gaung Persada Pers, 2009), 115.