G. Penelitian Terdahulu
2. Sumber Data dan Instrumen Penelitian
Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi keterangan dari aktivis YLP, anggota keluarga dari aktivis YLP, masyarakat, polisi, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Keterangan dari aktivis YLP meliputi latar belakang berdirinya YLP dan terjadinya perubahan sikap dari radikal menjadi moderat. Sedangkan informasi dari keluarganya diperlukan untuk menjelaskan kondisi keluarga ketika aktivis YLP itu masih radikal dan setelah berumah menjadi moderat.
Keterangan dari masyarakat dibutuhkan untuk menjadi penyeimbang pengakuan beberapa aktivis YLP yang mengatakan bahwa di awal berdirinya YLP, anggota YLP masih mengalami kesulitan asimilasi dengan masyarakat
42
sekitar. Sedangkan keterangan dari polisi dan BNPT diperlukan, karena YLP mengakui bahwa selama ini kegiatannya banyak dibantu polisi dan BNPT, termasuk proses pertaubatan anggotanya.
Data yang digunakan untuk merampungkan studi ini, pertama, data literer, yang digunakan untuk mendukung penjelasan sejarah radikalisme dan deradikalisasi di Indonesia, juga digunakan menguatkan teori terjadinya proses perubahan perilaku manusia. Kedua, data tentang kehidupan masyarakat Tenggulun, terutama bagi mereka yang tergabung menjadi aktivis YLP. Data ini digunakan untuk melihat latar belakang lingkungan sekitar Ali Fauzi dibesarkan, termasuk beberapa orang yang terlibat dalam YLP yang dilahirkan dari desa Tenggulun.
Sedangkan untuk mendapatkan data dalam penelitian ini, peneliti melakukan beberapa kegiatan, diantaranya:
Pertama, pengamatan atau observasi adalah teknik atau cara mengumpulkan data dengan cara jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.87 Pengamatan ditujukan terhadap kegiatan YLP kegiatan-kegiatan yang menunjang kajian penelitian ini, seperti sosialisasi tentang deradikalisasi kepada para mantan narapidana teroris.
Kedua, melakukan catatan lapangan yang merupakan hasil dari penelitian di lapangan, terutama catatan hasil wawancara dan observasi. Dalam mengumpulkan informasi, peneliti selain wawancara dengan cara bertatap muka, juga dilakukan dengan kontak via telepon sebagaimana John W. Cresweel
87 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), 220.
43
sebutkan bahwa wawancara kepada informan/partisipan selain bisa dilakukan dengan cara face-to-face interview (wawancara bertatap muka) juga bisa dilaksanakan dengan menggunakan alat telepon dan bisa terlibat dalam focus
group interview (interview dalam kelompok tertentu).88
Ketiga, pedoman wawancara adalah serangkaian pertanyaan yang akan diajukan kepada informan. Pedoman wawancara oleh peneliti diambil garis besarnya untuk daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada informan.
Garis besar pertanyaan yang diajukan kepada informan, diantaranya:
1) Bagaimana proses perubahan sikap dari radikal menjadi moderat oleh anggota YLP.?
2) Bagaimaa latar belakang perubahan sikap dari radikal menjadi moderat.? 3) Bagaimana dinamika gerakan deradikalisasi oleh YLP.?
4) Bagaimana kontribusi gerakan YLP terhadap deradikalisasi di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanyalah merupakan garis besar pertanyaan wawancara, tetapi sangat terbuka kemungkinan muncul pertanyaan baru di tengah-tengah proses penggalian data menemukan hal baru yang masih terkait dengan judul tulisan ini, ―Gerakan Deradikalisasi di Indonesia (Studi
Fenomenologis Terhadap Aktivis Yayasan Lingkar Perdamaian)‖. Kemungkinan pertanyaan tambahan itu akan dikembangkan sesuai kebutuhan peneliti untuk melengkapi hasil penelitian. Jika informasi dianggap kurang, maka peneliti yang sedang berada di depan komputer untuk menyelesaikan hasil penelitian atau
88 John W. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches.
44
sedang tidak berada di obyek penelitian, maka yang dilakukan adalah melakukan kontak via telepon kepada informan.
Untuk mengumpulkan data, peneliti menetapkan 11 informan, terdiri dari Ali Fauzi (Ketua YLP), Iswanto dan Sumarno (pengurus harian YLP), Arif, Mas‘ulah (Ibu Arif) dan Mahendra (anggota YLP), Fatimah dan Khusnul
Khotimah (istri dari mantan narapidana teroris), AMO dan AJS (masyarakat Tenggulun yang namanya disamarkan, Polisi, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). Berikut lebih lengkap tentang data Informan: 1) Ali Fauzi (ketua YLP)
Ali Fauzi adalah pendiri dan sekaligus Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian. Ali pernah dipenjara karena membantu merangkai bom pada peristiwa Bom Bali I dan pernah tercatat sebagai anggota organisasi Islam di Malaysia serta menjadi anggota Jamaah Islamiyah (JI). Lebih lengkap tentang biografi Ali Fauzi dijelaskan pada bab III.
2) Iswanto dan Sumarno
Iswanto menjabat sebagai wakil Ketua YLP, pernah membantu mengirimkan bahan untuk pembuatan bom saat peristiwa Bom Bali I. Sekarang ia menjadi guru bersertifikasi di Desa Kentong, Kecamatan Kalimalang, Kabupaten Lamongan. Sedangkan Sumarno yang masih keponakan Ali Fauzi pernah dipenjara karena divonis membawa dan menyimpan ribuan pucuk senjata di tengah hutan Dadapan, Solokuro, Lamongan sesaat setelah peristiwa bom Bali I.
45
Sumarno sekarang melakukan usaha yang mengambil tempat di rumah tinggalnya di Desa Tenggulun.89
3) Arif dan Mehendra (anggota YLP)
Arif adalah satu-satunya anggota ISIS di Indonesia yang berhasil direkrut oleh YLP untuk tidak lagi bertindak radikal. Warga Jatirogo, Tuban ini pernah mendekam di penjara karena divonis mengirim dua orang anggota ISIS ke Suria dan membawa satu pucuk senjata. Setelah bebas dari penjara, Arif bergabung dengan YLP dan tinggal bersama seorang istri dan dua anaknya di Desa Jatiklabang, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban.
Sedangkan Mahendra adalah putra sulung dari Amrozi, yang juga berhasil direkrut oleh YLP untuk tidak mengikuti jejak ayahnya, karena pasca-penembakan mati ayahnya, Mahendra telah memiliki embrio radikal yang beberapa kali mencoba meneror polisi yang sedang bertugas di wilayah Kecamatan Tenggulun.
4) Keluarga dari aktivis YLP
Informan dari anggota keluarga aktivis YLP, diantaranya Khusnul Khotimah (istri Arif), Mas‘ulah (ibu Arif) dan Fatimah (istri Sumarno).
5) Orang-orang terdampak (masyarakat sekitar) dari gerakan yang dilakukan YLP, untuk mengetahui dampak pasca perubahan sikap dari radikal menjadi moderat.
6) Kepolisian, untuk mengetahui sejauh mana dampak deradikalisasi yang telah dilakukan oleh YLP terhadap upaya deradikalisasi.
46
7) Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). 3. Teknik Pengumpulan Data
Alat bantu peneliti untuk mengumpulkan data, diantaranya: a. Wawancara:
Sejak memasuki studi pendahuluan hingga proses mengahiri penelitian, wawancara paling sering digunakan peneliti untuk mengungkap data dari YLP, termasuk mengetahui persoalan-persoalan pada aktivis YLP dan kegiatannya pasca berdirinya YLP. Nana Syaodih Sukmadinata, menyebutnya, wawancara merupakan teknik pengumpulan data utama dalam penelitian kualitatif.90 Wawancara dilaksanakan dengan cara tatap muka, baik secara individu dan sekali waktu sekelompok aktivis dengan pertanyaan yang lebih umum, misalnya pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakang berdirinya YLP.
b. Observasi
Observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Hal ini sebagaimana disampaikan Sugiono bahwa observasi menempati posisi yang penting bagi kerja peneliti.91 Dalam penelitian ini, untuk mengumpulkan data, peneliti bukan sekedar melakukan wawancara, tetapi juga pembacaan terhadap apa yang dilihatnya secara langsung di lapangan, misalnya menjelaskan tentang kondisi lingkungan masyarakat desa Tenggulun. Dari penelitian ini, peneliti telah mengobservasi beberapa bagian yang menjadi kegiatan aktivis YLP di Tenggulun, mulai dari kegiatan usaha wiraswasta pengurus YLP, pendidikan al-Qur‘an anak-anak
90 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, Cetakan Keempat (Bandung: PT Remaja Rosdakarya kerjasama Program Pacasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, 2010), 217.
47
mantan teroris, dan beberapa kegiatan lain yang dilakukan YLP terkait dengan deradikalisasi, termasuk pengamatan terhadap prilaku dan cara bicara serta cara berpakaian para aktivis YLP.
c. Dokumentasi
Untuk mendukung kelangkapan data, maka peneliti juga melakukan pengumpulan data dengan mengambil data-data dari dokumentasi yang sudah tersedia. Misalnya, dokumentasi tentang kependudukan masyarakat desa Tenggulun, dokumentasi tentang sejarah berdirinya YLP, dokumentasi tentang sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh YLP untuk program deradikalisasi (seminar atau upacara bendera yang dilakukan oleh aktivis YLP) dan beberapa dokumen pendukung lain. Kegiatan pengumpulan dokumen ini terus dilakukan peneliti sampai pengumpulan data dianggap cukup dan sudah bisa diakhiri. d. Teknik analisa data
Analisis data penelitian dilakukan dengan model alir yang diadaptasi dari model alir analisis data kualitatif. Alir analisis terdiri tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, verifikasi dan penarikan simpulan akhir.92 Kegiatan reduksi data meliputi identifikasi data, klasifikasi data, dan kodifikasi data. Identifikasi data dilakukan dengan cara mengecek dan menyeleksi data-data yang dibutuhkan. Klasifikasi data dilakukan dengan cara mengelompokkan data ke dalam jenis masing-masing data, sesuai dengan kebutuhan penelitian. Agar hasilnya lebih akurat, maka pada analisa data peneliti melakukan tahapan verifikasi sebelum membuat kesimpulan. Verifikasi
92 Metthew B. Milles dan A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif (Jakarta: UI Pres, 2009), 12.
48
data dilakukan untuk mencari peluang kesalahan-kesalahan data yang sudah terkumpul.