• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Kerangka Teoretik

2. Pendekatan Penelitian

Dari hasil wawancara dengan beberapa informan anggota YLP maupun keluarganya, sampai sekarang sebagian besar anggota YLP masih berusaha untuk memenuhi kebutuhan fisiologis. Sebagian lain, telah sampai pada tahapan pemenuhan kebutuhan untuk aktualisasi diri, seperti Ali Fauzi. Lebih detil tentang wawancara para informan bisa dilihat pada bab IV.

Dari penjelasan tersebut di atas bisa disimpulkan bahwa penelitian ini menggunakan dua pisau analisa, yaitu ―alur proses perubahan sikap Kelman‖ dan ―hierarchy of need Abraham Maslow‖. Dari sisi faktor internal terjadinya

perubahan sikap, peneliti menggunakan pisau analisa ―alur proses perubahan sikap Kelman. Sedangkan dari sisi faktor eksternal perubahan sikap, peneliti menggunakan pisau analisa ―hierarchy of need Abraham Maslow‖. Dua pisau

analisa ini digunakan sekaligus oleh peneliti untuk melihat perubahan dari dua sudut, yaitu sudut dari faktor internal dan eksternal narapidana teroris yang tergabung menjadi aktivis YLP.

2. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif deskriptif (qualitative

descriptive design) dengan pendekatan fenomenologis. Fenomenologi memiliki

makna bahwa dalam memahami dunia berdasarkan pengalaman pribadinya. Maurice Merleau Ponty, pakar dalam tradisi Fenomenologi, mengatakan.

―Fenomenologi adalah upaya untuk menggambarkan struktur dasar pengalaman dan pemahaman manusia dari sudut pandang orang pertama, berbeda dengan perspektif orang ketiga yang cenderung reflektif...Semua pengetahuan akan dunia, bahkan pengetahuan ilmiah saya, diperoleh dari beberapa pengalaman terhadap dunia. Semua yang dapat anda ketahui adalah apa yang anda alami‖.60

27

Ada tiga prinsip fenomenologi menurut Stanly Deetz. Pertama, pengetahuan ditemukan secara langsung dalam pengalaman sadar—kita akan mengetahui dunia ketika kita berhubungan dengannya. Dalam konteks penelitian ini, peneliti banyak melakukan komunikasi (berhubungan) dan melihat langsung pada aktifitas oara aktivis YLP untuk mendengar dan bertanya sebagai kebutuhan untuk pengumpulan dan pengelolaan data. Kedua, makna benda terdiri atas kekuatan benda dalam kehidupan seseorang. Ketiga, pengalaman dunia melalui bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan dan mengekspresikan dunia itu.61 Dalam

konteks ini, peneliti akan menggunakannya untuk melihat simbol-simbol bahasa atau perilaku mantan narapidana teroris, misalnya mengungkap sikap di balik pernyataan para narapidana teroris menjadi bagian dari program deradikalisasi pemerintah Indonesia.62

Tradisi fenomenologi terbagi menjadi tiga, pertama, fenomenologi klasik (dihubungkan dengan Edmund Husserl), baginya kebenaran dapat diyakinkan melalui pengalaman langsung dengan catatan kita harus disiplin dalam mengalami segala sesuatu, hanya melalui perhatian sadarlah kebenaran dapat diketahui. Kedua, fenomonologi persepsi (tokohnya Maurice Merleau Ponty), baginya, manusia merupakan sosok gabungan antara fisik dan mental yang menciptakan makna di dunia (pengalaman itu subyektif). Kita mengetahui sesuatu hanya melalui hubungan pribadi kita dengan benda tersebut. Ketiga, fenomonologi hermeneutik (tokohnya Martin Heidegger), filosofinya dikenal ―Hermeneutic of

61 Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, Theories of Human Communication, terj, Mohammad Yusuf Hamdan (Jakarta: Salemba Humanika, 2009), 57.

62 John W, Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Method Approaches, terj, Ahmad Fawaid (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 58.

28

Dasein” (interpretasi keberadaan). Baginya, realitas sesuatu itu tidak diketahui

dengan analisis yang cermat atau pengurangan, melainkan oleh pengalaman alami yang diciptakan oleh penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang nyata adalah apa yang dialami melalui penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.63

Tradisi fenomenologi ini melahirkan ‗teori konstruksi sosial‘ sebagai teori

tandingan terhadap teori-teori yang berada dalam paradigma fakta sosial, terutama yang digagas oleh Emile Durkheim.64 Mula pertama dikembangkan oleh Max Weber—meskipun pada awalnya merupakan teori kefilsafatan--yang diungkapkan oleh Hegel, Husserl, dan kemudian oleh Schutz dan melalui sentuhan Weber,65 fenomenologi menjadi teori sosial yang digunakan sebagai analisis terhadap fenomena sosial. Fenomenologi adalah pengalaman individu yang direfleksikan dalam bentuk fenomena atau tindakan yang penuh dengan makna.66 Cara kerja fenomenologi dalam penelitian ini adalah mengungkap sesuatu dibalik fenomena yang terlihat kasat mata, diantaranya mencari tahu terhadap fenomena perubahan

63 Ibid, 58-59.

64 Emile Durkheim lahir tahun 1858 di Epinal, sebuah perkampungan kecil orang Yahudi di bagian Timur Prancis. Ayah dan kakek Durkheim seorang rabi. Tapi Durkheim tidak mengikuti jejak ayah dan kakeknya, Durkheim tidak mau menjadi Katolik, tetapi lebih fokus pada masalah moralitas dan sekaligus berusaha meningkatkan moralitas masyarakat –menjadi fokus perhatian selama hidupnya. Di usia 21 tahun, Durkheim diterima di Ecolo Normale Superieure. Dan pada usia 29 tahun, tulisan-tulisan artikelnya mengantarkannya menjadi seorang ahli ilmu sosial muda yang terpandang. Untuk itu, Durkheim mendapatkan penghargaan dengan diangkat sebagai dosen di fakultas pendidikan dan fakultas ilmu sosial di Universitas Bordeaux. Doyle Paul. Johnson,

Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspektives, terj, Robert M.Z.

Lawang (Jakarta: PT Gramedia, 1988), 167-169.

65

Weber, pemilik nama lengkap Max Weber lahir di Erfurt, Thuringia tahun 1864 dan dibesarkan di Berlin. Weber pindah bersama keluarganya ketika masih berusia lima tahun. Ayahnya seorang hakim di Erfurt dan ketika keluarganya pindah ke Berlin, Weber menjadi seorang penasihat di pemerintahan kota dan kemudian menjadi anggota Prussian House of Deputies dan German Reichstag. Weber juga terlibat dalam Partai Liberal Nasional. Weber mulai meluangkan semua waktunya untuk dunia akademik setelah menerima kedudukan sebagai profesor ekonomi di Universitas Freiburg tahun 1894. Doyle Paul Johnson, Sociological Theory... 209-210.

29

sikap anggota YLP dari radikal menjadi moderat, juga mencari tahu keseriusan perubahan sikap aktivis YLP.

Sedangkan pengertian kualitatif sebagaimana Dedy Mulyana dan Solatun jelaskan adalah penelitian yang bersifat interpretif (menggunakan penafsiran) dengan melibatkan banyak metode dalam menelaah masalah penelitiannya. Secara konvensional, metode kualitatif cenderung diasosiasikan dengan keinginan peneliti untuk menelaah makna, konteks, dan suatu pendekatan holistic terhadap fenomena.67 Taylor menjelaskan pengertian kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Dalam hal ini, penuturan lisan maupun berkas-berkas berupa tulisan para aktivis YLP menjadi bahan utama untuk mendeskripsikan dalam penelitian ini.

Paradigma kualitatatif dengan pendekatan fenomenologi ini diarahkan pada pencarian dan mendeskripsikan pengalaman individu aktivis YLP dari sebelum menjadi teroris, saat terlibat menjadi teroris, sampai menjadi moderat. Penelitian semacam ini mengandalkan pengamatan (observation) terhadap obyek penelitian dan wawancara mendalam (indepth interview) terhadap informan sebagai instrumen untuk menghasilkan data deskriptif yang lebih utuh.68