• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Retribusi Daerah

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.4 Konsep Retribusi Daerah

Dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdapat unsur pendapatan dari retribusi daerah. Retibusi daerah memiliki potensi yang cukup besar dalam menyumbang pendapatan pemerintah daerah. Menurut Suparmoko ( 2001: 85 ) Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan pribadi atau badan. Sedangkan, Nasrun ( Kaho, 2007: 171 ) mengatakan Retribusi Daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik daerah untuk kepentingan umum, atau karena jasa yang diberikan oleh daerah baik langsung maupun tidak langsung.

Dalam Pasal 37 UU Nomor 22 Tahun 1948 ditegaskan bahwa Retribusi Daerah adalah pungutan pendapatan oleh Pemerintah sebagai pengganti (kerugian) diensten yang diberikan oleh Daerah kepada siapa saja yang membutuhkan diensten itu.

Dari pendapat-pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Retribusi Daerah adalah pungutan Daerah sebagai bayaran atas pemakaian jasa atau karena mendapatkan jasa pekerjaan, usaha atau milik Daerah bagi yang berkepentingan atau karena jasa yang diberikan oleh Daerah.

Demikian pula, dari pendapat-pendapat diatas dapat diikhtisarkan ciri-ciri pokok Retribusi Daerah sebagai berikut :

1. Retribusi dipungut oleh daerah;

2. Dalam pungutan retribusi terdapat prestasi yang diberikan Daerah yang langsung dapat ditunjuk;

3. Retribusi dikenakan kepada siapa saja yang memanfaatkan, atau mengenyam jasa yang disediakan Daerah.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Retribusi daerah dikelompokkan menjadi tiga macam sesuai dengan objeknya. Objek retribusi adalah berbagai jenis pelayanan atau jasa tertentu yang disediakan oleh pemerintah daerah. Namun tidak semua jasa pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah dapat dipungut retribusinya. Jasa pelayanan yang dapat dipungut retribusinya hanyalah jenis-jenis jasa pelayanan yang menurut pertimbangan social ekonomi layak dijadikan objek retribusi.

Jasa-jasa pelayanan tersebut diantaranya dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Retribusi Jasa Umum

Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan pemerintah daerah untuk bertujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.

Jenis-jenis Retribusi Jasa Umum adalah: a) Retribusi Pelayanan Kesehatan;

b) Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;

c) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda penduduk dan Akte Catatan Sipil;

d) Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Penguburan Mayat; e) Retribusi Pelayanan Parkir Ditepi Jalan Umum;

f) Retribusi Pelayanan Pasar;

g) Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;

h) Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadaman Kebakaran; i) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta;

j) Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus; k) Retribusi Pengolahan Air Limbah;

l) Retribusi Pelayanan Tera/ Tera Ulang; m) Retribusi Pelayanan Pendidikan;

n) Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi. 2. Retribusi Jasa Usaha

Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial.

Jenis-jenis Retribusi Jasa Usaha adalah:

a) Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah; b) Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan; c) Retribusi Tempat Pelelangan;

d) Retribusi Terminal;

e) Retribusi Tempat Khusus Parkir;

f) Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa; g) Retribusi Rumah Potong Hewan;

h) Retribusi Pelayanan Kepelabuhan;

i) Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah Raga; j) Retribusi Penyeberangan di Atas Air;dan k) Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah. 3. Retribusi Perizinan tertentu

Retribusi Perizinan Tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.

Jenis-jenis Retribusi Perizinan Tertentu adalah: a) Retribusi Izin Mendirikan Bangunan;

b) Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol; c) Retribusi Izin Gangguan;

d) Retribusi Izin Trayek;dan e) Retribusi Izin Usaha Perikanan.

Sedangkan menurut Iksan dan Salomo ( 2002: 133-155 ) Retribusi atau charging merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang sangat penting di samping pajak daerah. Menurut Nota Keuangan dan RAPBN tahun 2001, komposisi pendapatan asli daerah Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia pada tiga tahun terakhir (1998/1999 hingga 2000) menunjukkan bahwa kontribusi penerimaan retribusi daerah terhadap PAD berfluktuasi antara 35% sampai 41%. Sedangkan kontribusi pajak daerah berfluktuasi antara 42% hingga 47%. Fluktuasi penerimaan retribusi daerah serta kontribusinya terhadap PAD memperlihatkan bahwa kontribusi masing-masing sumber PAD dipengaruhi oleh kondisi perekonomian makro. Pada saat kondisi perekonomian memburuk maka sumber-sumber PAD juga cenderung berkurang, sebaliknya pada saat kondisi perekonomian membaik maka sumber-sumber PAD juga cenderung meningkat.

Kondisi demikian disebabkan karena sumber-sumber PAD sebagian besar adalah penerimaan-penerimaan yang berasal dari aktivitas perekonomian yang dilakukan oleh masyarakat atau pelaku-pelaku usaha. Memburuknya kondisi perekonomian sebagai akibat terjadinya krisis ekonomi pada gilirannya membuat para pelaku usaha kurang bergairah dan kurang mampu mengembangkan usahanya, yang membuat aktivitasnya menurun dengan konsekuensi menurunnya transaksi maupun keuntungan yang diperoleh. Hal inilah yang kemudian menyebabkan sumber-sumber PAD juga berkurang sebagai akibat penurunan penerimaan pajak daerah, retribusi daerah dan sumber-sumber lainnya.

Tingginya penerimaan dari pajak daerah dibandingkan dengan penerimaan dari retribusi daerah memperlihatkan gejala bahwa PAD umumnya mengalami

ketergantungan yang sangat tinggi terhadap penerimaan dari pajak daerah. Pajak daerah dapat dikatakan menjadi satu-satunya sumber andalan bagi penerimaan daerah. Kontribusi pajak daerah terhadap PAD yang lebih besar dari retribusi daerah juga menunjukkan betapa dominannya kedudukan pajak daerah dalam sumber penerimaan daerah sehingga hamper dapat dikatakan bahwa sumber-sumber pendapatan lainnya hanya berperan sebagai pelengkap bagi penerimaan daerah. Tingginya penerimaan pajak daerah dibandingkan dengan penerimaan dari sektor-sektor PAD lainnya merupakan konsekuensi dari begitu dominannya sektor

sekunder dan tersier dalam perekonomian. Perekonomian daerah yang bersandarkan pada sektor sekunder dan tersier (industri, perdagangan dan jasa) mengandung banyak sekali aktivitas yagn dapat dijadikan sebagai tax base (basis pajak daerah)yang merupakan salah satu sumber PAD.

Namun demikian, tingginya penerimaan pajak daerah dibanding retribusi memperlihatkan dua gejala. Pertama, secara tidak langsung kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemda masih kurang mampu untuk menggali sumber-sumber penerimaan lain di luar pajak daerah, terutama dari retribusi daerah, BUMD maupun pengelolaan aset daerah dan kekayaan daerah lainnya. Upaya penggalian sumber pendapatan daerah dari retribusi daerah dan laba BUMD agar menjadi sumber penerimaan yang potensial memang mempersyaratkan pemberian layanan yang luas dan berutu tinggi pada masyarakat. Rendahnya kontribusi penerimaan dari retribusi daerah dan BUMD mengindikasikan bahwa pemda masih kurang mampu untuk mengidentifikasikan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan, menciptakan jenis-jenis pelayanan yang dibutuhkan tersebut serta

memberikan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan masyarakat tersebut dengan mutu yang tinggi untuk kemudian memungut penerimaan dari pelayanan yang telah diberikannya. Sebaliknya, tingginya penerimaan dari pajak daerah dibandingkan dengan penerimaan dari retribusi daerah memperlihatkan bahwa pemda lebih konsern dengan upaya penggalian sumber-sumber penerimaan secara optimal namun kurang konsern terhadap upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Hal ini karena berbeda dengan retribusi, pemungutan pajak daerah memang dapat dipaksakan dan tidak terkait secara langsung dengan pelayanan yang diberikan pemda kepada masyarakat.

Kedua, ketergantungan PAD yang sangat tinggi terhadap pendapatan yang berasal dari pajak daerah juga memperlihatkan sangat dominannya peran Dinas Pendapatan Daerah ( Dipenda ) dalam menggali sumber-sumber pendapatan daerah yang berasal dari pajak daerah. Hal ini karena umumnya Dipenda berkedudukan sebagai unsur pelaksana pemda di bidang pemungutan pendapatan daerah yang mempunyai tugas untuk melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah dalam bidang pemungutan pendapatan daerahdan mengadakan koordinasi dengan instansi lain dalam perencanaan, pelaksanaan serta pengendalian pemungutan pendapatan daerah. Oleh karena itu kemudian keuangan daerah menjadi sangat tergantung pada sejauh mana kemampuan Dipenda dalam mengidentifikasi dan menggali sumber-sumber pendapatan daerah, terutama dari pajak daerah. Sementara itu,keberadaan unit-unit atau instansi lain dalam lingkungan pemda menjadi kurang berarti dalam menciptakan pendapatan daerah, meskipun secara substansial unit-unit atau instansi tersebut memberikan

pelayanan langsung kepada masyarakat dan karena itu sebenarnya potensial bagi pemungutan retribusi atau penerimaan lainnya. Karena tugas pemungutan pendapatan daerah berada di pundak Dipenda maka keberadaan instansi lain menjadi lebih berperan sebagai instansi yang hanya cenderung menghabiskan dana (cost center) meskipun sebenarnya potensial untuk menjadi unit yang mampu menghasilkan pendapatan (revenue center). Hal ini dapat mengakibatkan hubungan yang kurang harmonis di dalam organisasi pemda sendiri, karena yang muncul kemudian adalah kurangnya kompetisi antar instansi, instansi kurang berorientasi pada pelayanan dan instansi yang lebih berperan sebagai cost centre

dibandingkan dengan revenue centre. Pada satu sisi terdapat dinas yang berupaya menggali sumber-sumber penerimaan daerah, namun di sisi lain terdapat dinas-dinas yang berupaya menggunakan dana tersebut secara kurang akuntabel dan transparan.

Karena itu pada masa yang akan datang diperlukan adanya keseimbangan peran diantara berbagai sumber penerimaan daerah dan peran masing-masing instansi pemda dalam menggali sumber-sumber pendapatan daerah melalui berbagai jenis pelayanan yang diberikannya kepada masyarakat. Retribusi daerah merupakan aspek penting untuk dibahas dalam membicarakan keuangan daerah secara keseluruhan. Pembahasan mengenai retribusi atau pungutan diperlukan dalam upaya mencari cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penerimaan retribusi daerah pada masa yang akan datang. Pembahasan mengenai retribusi pada bab ini akan mencakup berbagai aspek yang secara teoritis terkait di

dalamnya sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran dalam mengkaji apa yang ada di balik penetapan retribusi sebagai sumber pendapatan daerah.

Pemerintah daerah diantaranya melaksanakan tugas memberikan layanan kepada seluruh masyarakat. Pungutan retribusi oleh pemerintah daerah selalu dikaitkan dengan layanan yang diberikan oleh pemerintah daerah, karena retribusi merupakan pembayaran atas jasa yang telah diberikan oleh pemerintah daerah.

Secara umum dapat dikatakan bahwa retribusi merupakan pungutan yang dilakukan atas jasa-jasa atau layanan yang diberikan oleh pemerintah atau pihak lainnya kepada masyarakat. Karena itu pungutan retribusi daerah selalu dikaitkan dengan layanan yang diterima masyarakat dari pemerintah atau lembaga lain yang berada di lingkungan pemerintahan, seperti badan-badan usaha yang dimiliki oleh daerah. Demikian pula, layanan yang diterima tersebut lebih bersifat pribadi. Hal ini pula yang membedakan retribusi daerah dengan pajak daerah. Pajak daerah tidak secara langsung memberikan kontribusi kepada pembayarnya. Kontribusi yang diterima pembayar pajak juga tidak disediakan semata-mata untuk dirinya pribadi, melainkan untuk seluruh masyarakat secara bersamaan.

Di Indonesia, aturan mengenai retribusi daerah diantaranya adalah UU Darurat No. 12 tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah. Di samping itu, undang-undang lain yang terkait adalah UU No. 5 tahun 1974 mengenai Pokok-Pokok Pemerintah di Daerah. Sebagaimana dengan pajak daerah, dewasa ini retribusi daerah diatur dengan UU No. 18 tahun 1987 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan UU No. 34 tahun 2000 tentang Perubahan Atas UU No. 18 tahun 1987 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Menurut

undang-undang tersebut retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Jasa merupakan kegiatan pemerintah daerah berupa usaha dan pelayanan yang menyebabkan barang, fasilitas atau kemanfaatan lainnya yang dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Jasa-jasa yang dimaksudkan dapat berupa jasa pekerjaan, jasa atas usaha atau milik daerah dan jasa lainnya, termasuk jasa pemberian ijin untuk pengendalian yang secara langsung memberi manfaat bagi pemakainya. Dalam peraturan perundang-undangan jasa dibedakan menjadi jasa umum, jasa usaha dan perijinan tertentu.

Jasa umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Jasa usaha disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersil, karena jasa uasaha pada dasarnya juga dapat disediakan oleh sektor swasta. Sedangkan perijinan tertentu adalah kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian ijin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang prasarana sarana atau fasilitas guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Berdasarkan ketentuan undang-undang tersebut, selanjutnya pelaksanaan pungutan retribusi secara operasional pada msing-masing daerah dijabarkan dalam bentuk Peraturan Daerah.

Sebagaimana dikemukakan di depan, retribusi terkait dengan pemberian layanan oleh pemerintah daerah kepada masyarakat. Pelayanan pemda dapat diberikan oleh unit-unit yang langsung berada dalam struktur organisasi pemerintah daerah, seperti dinas-dinas daerah maupun unit pelayanan yang dikelola secara terpisah dari pemerintah daerah seperti BUMD. Demikian pula lingkup pelayanan yang diberikan dapat berbeda-beda di setiap unit pelayanan tersebut, dari layanan-layanan yang berkaitan dengan tugas-tugas umum pemerintahan sampai dengan layanan yang berupa penyediaan barang maupun jasa untuk memenuhi kebutuhan pribadi seseorang. Pengertian layanan yang tercakup dalam retribusi daerah memiliki lingkup pengertian yang luas. Karena itu pungutan retribusi daerah terkadang sulit dibedakan dengan bentuk pungutan lainnya seperti pajak daerah.

Kesulitan tersebut misalnya didapati pada pungutan terhadap ijin. Pungutan terhadap ijin sebenarnya lebih berfungsi sebagai alat regulasi daripada untuk menjadi sumber pendapatan daerah. Namun demikian dalam kenyataan pungutan terhadap ijin dewasa ini dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah dari retribusi. Kekhawatiran yang muncul adalah apabila pungutan terhadap perijinan dianggap sebagai pungutan retribusi daerah maka untuk pungutan perijinan juga dapat ditetapkan target tertentu yang harus dicapai. Hal yang semacam itu di samping tidak sejalan dengan prinsip pemungutan retribusi juga dapat menimbulkan akibat yang buruk ( eksternalitas negatif ) baik bagi pemerintah maupun masyarakat daerah secara keseluruhan. Misalnya, pungutan atas ijin pengambilan hasil hutan ikutan bisa menyebabkan terjadinya kerusakan hutan

yang tidak terkendali. Hal itu karena untuk mencapai target tertentu yang telah ditetapkan pemda maka Dinas Kehutanan kemudian mendorong masyarakat, setidaknya membiarkan, untuk melakukan usaha pengambilan hasil hutan ikutan yang kemudian dapat mempercepat terjadinya pengrusakan hutan. Bila hal ini terjadi maka pungutan retribusi perijinan dapat berakibat pada terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang untuk memperbaikinya tentu akan memakan biaya yang jauh lebih besar daripada hasil pungutan yang diperoleh.

Cara Penetapan Retribusi Daerah

Karena luasnya lingkup pengertian retribusi daerah, maka penetapan retribusi juga menimbulkan persoalan sendiri. Dalam hal penetapan retribusi, dikenal dua macam cara penetapan besarnya retribusi daerah. Yang pertama

adalah retribusi daerah yang ditetapkan atas dasar target pendapatan yang harus dicapai. Penetapan dengan cara seperti ini biasanya dilakukan terhadap layanan-layanan yang sangat sulit dihitung biayanya, karena adanya komponen-komponen tertentu dari layanan tersebut yang tidak dapat dihitung kecuali hanya sekedar biaya administrasi untuk melakukan pemungutannya saja. Pungutan semacam ini sering dinamakan dengan retribusi. Pendapatan retribusi dengan cara seperti ini misalnya diterapkan pada retribusi parkir di tepi jalan umum. Retribusi seperti ini biasanya dipungut oleh unit-unit yang secara langsung berada dalam struktur organisasi pemda, misalnya retribusi parkir dipungut atau dikelola oleh Badan Pengelola Perparkiran. Pada pungutan retribusi parkir, sulit sekali dijelaskan

mengapa atau atas dasar apa tarif parkir ditetapkan sebesar, misalnya Rp. 2000,- untuk jam pertama dan Rp. 1000,- untuk setiap jam berikutnya.

Cara penetapan retribusi yang kedua adalah dengan benar-benar menghitung seluruh pengeluaran yang dilakukan dalam mengelola suatu objek pendapatan, termasuk diantaranya pengeluaran untuk biaya operasi dan pemeliaharaan (operation and maintenance), pembayaran hutang dan cicilannya serta keuntungan yang hendak dicapai. Setelah semua biaya tersebut dihitung, barulah ditetapkan retribusi yang akan ditarik dari pemakai jasa. Jenias retribusi seperti ini dikenal dengan sebutan charging atau kadang-kadang dipakai pula kata iuran dan biasanya dikelola oleh badan-badan usaha milik daerah. Misalnya retribusi yang dipungut oleh PDAM sebagai pembayaran atas pelayanan air bersih. PDAM dapat secara rinci menghitung berapa besarnya cost untuk setiap meter kubik air yang diproduksi dan dengan demikian dapat secara rasional menjelaskan alasan penetapan tarif air bersih. Secara teoritis cara penetapan yang kedualah yang lebih tepat untuk disebut sebagai retribusi.

Dalam prakteknya di Indonesia, sesuai dengan pengertian retribusi daerah berdasarkan undang-undang, tampaknya cara penetapan retribusi yang pertama lebih popular atau banyak digunakan. Cara penetapan yang kedua justru tidak digolongkan termasuk dalam pengertian retribusi. Hal ini sesuai dengan ketentuan bahwa pembayaran yang dipungut oleh daerah sebagai penyelenggara perusahaan atau usaha yang dianggap sebagai perusahaan tidak dimasukkan dalam pengertian retribusi daerah. Pembahasan pada bab ini selanjutnya akan lebih difokuskan pada berbagai hal yang berkaitan dengan retribusi secara teoritis.

Alasan Penerapan Retribusi

Alasan penerapan retribusi sebagai sumber pendapatan daerah sangat berbeda dengan alasan yang diterapkan terhadap pajak daerah. Jika pengenaan terhadap pajak daerah bersifat memaksa maka retribusi daerah mempunyai pilihan-pilihan untuk tidak diterapkkan pada semua orang. Untuk itu ada beberapa alasan teoritis yang akan dibahas untuk membedakan retribusi dan pajak.

1. Adanya barang publik (public goods) dan barang privat (private goods) Salah satu alasan diterapkanya retribusi adalah karena adanya barang publik dan barang privat untuk memnuhi kebutuhan. Untuk lebih mempermudah pembahasan sebelumnya perlu dijelaskan ter;ebih dahulu secara singkat apa yang dimaksud dengan public goods atau barang publik dan private goods atau barang privat. Public goods atau barang publik adalah barang yang bila dikonsumsi oleh seseorang atau individu tidak akan mengurangi kesempatan bagi individu lainnya untuk mengonsumsinya. Barang publik memiliki dua sifat utama, yakni non excludable dan non rival. Sifat non excludable berarti bahwa penyediaan barang-barang tersebut tidak dapat dibatasi hanya kepada orang-orang tertentu yang bersedia membayar saja. Seseorang akan tetap dapat menikmati manfaat barang publik meskipun ia tidak bersedia membayar sama sekali, dengan kenikmatan yang sama dengan orang yang bersedia membayar. Selain itu barang publik juga bersifat

non rejectable artinya seseorang tidak dapat menolak kemanfaatan barang publik tersebut, suka atau tidak suka. Dengan demikian jelas bahwa barang publik adalah barang dan jasa yang dapat dikonsumsi oleh semua orang tanpa

diterapkannya azas excludable. Di samping memiliki sifat non excludable

barang publik juga memiliki sifat non rival, maksudnya adalah bahwa manfaat barang publik tersebut dapat dinikmati oleh satu orang atau lebih pada saat yang bersamaan. Konsumsi barang tersebut oleh satu orang tidak akan mengurangi ketersediaannya bagi orang lain. Hal ini juga berarti barang publik bersifat indivisible atau tidak dapat dibagi-bagi. Contoh dari public good adalah keamanan nasional, lampu penerangan jalan umum, taman-taman umum (public park) seperti Taman Monas Jakarta, dan sebagainya.

Sebaliknya, barang privat bersifat excludable dan rival. Barang privat hanya disediakan bagi orang-orang yang bersedia membayarnya. Pemilik barang privat dapat menikmati barang tersebut secara pribadi dengan menyingkirkan atau mengecualikan (meng-exclude) orang lain untuk turut menikmatinya. Demikian pula, apabila barang privat telah dinikmati oleh seseorang maka akan menghilangkan atau mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk mengonsumsi barang tersebut. Dengan kata lain, barang privat memiliki sifat rival. Contohnya adalah tidak semua orang dapat menjadi konsumen air bersih yang disediakan PAM. Hanya mereka yang memenuhi persyaratan tertentu saja, seperti membayar biaya pemasangan infrastruktur, membayar pemakaian air yang dikonsumsi, yang dapat menjadi konsumen air bersih di PDAM. Mereka yang tidak mau membayar dapat dikeluarkan dari himpunan konsumen air bersih PDAM.

Pada kenyataannya banyak barang dan jasa yang tidak dapat dikategorikan sebagai barang dan jasa yang murni public goods atau private goods. Barang dan jasa seperti ini disebut mixed goods atau barang campuran.

Mixed goods biasanya adalah private goods yang mempunyai dampak

eksternalitas terhadap lingkungannya. Eksternalitas adalah dampak yang dirasakan oleh masyarakat yang tidak secara langsung mengonsumsi barang tersebut. Eksternalitas ini dapat berupa external cost yang menimbulkan

social cost atau external benefit yang menimbulkan social benefit. Mixed goods ini ada yang bersifat non rival tetapi excludable (dalam hal ini barangnya dinamakan quasi privat) atau sebaliknya, rival tetapi non excludable (barangnya dinamakan quasi public). Yang termasuk dalam kategori mixed goods antara lain adalah pendidikan (menengah), dan komponen-komponen tertentu dari kesehatan, seperti imunisasi hepatitis B.

Tabel 2.2

Sifat Barang Publik, Barang Privat dan Barang Campuran Sifat Dapat dikecualikan Tidak dapat dikecualikan

Rival Barang Privat Murni (Public Goods)

 Biaya pengecualian rendah

 Diproduksi oleh

pasar/swasta

 Dijual melalui mekanisme pasar

 Dibiayai dari hasil penjualan

 Dihasilkan oleh pemerintah atau swasta

Barang Campuran (Quasi Public)

 Manfaatnya dirasakan bersama

 Dikonsumsi bersama

 Dapat terjadi kejenuhan atau

Dokumen terkait