• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengorganisasian (Organizing)

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3 Temuan Lapangan

4.3.2 Pengorganisasian (Organizing)

Menurut Siagian (2011:95), pengorganisasian adalah keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas, tanggungjawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan yang utuh dan bulat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Jika pembahasan di atas kita membicarakan mengenai Perencanaan maka pada pembahasan ini kita akan membicarakan bagaimana Pengorganisasian dalam manajemen retribusi parker di Kota Serang, dilihat dari alat-alat, tugas, orang-orang dan lain sebagainya untuk optimalisasi retribusi parkir di Kota Serang itu sendiri. Dalam pengorganisasian ada dua aspek yang akan dibahas yaitu tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Sistem Pemungutan.

a. Standar Operasional Prosedur

Standar Operasional Prosedur adalah sebuah aturan yang dirancang yang digunakan sebagai batasan-batasan dalam pelaksanaan atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa standar operasional prosedur adalah sebuah bentuk pengorganisasian yang dibuat berdasarkan perencanaan dan kesepakatan dari para pelaksana. Biasanya Standar operasional prosedur ada disetiap organisasi bahkan disetiap program hal ini juga disampaikan oleh Kepala Dishubkominfo Kota Serang sebagai berikut:

“Pengelolaan sudah ada didalam peraturan” (Wawancara dengan Kepala Dishubkominfo Kota Serang, H. Syafruddin, M.Si , Pada 28 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang)

Dirasa jawaban masih kurang cukup, dilakukan wawancara dengan Kepala UPT Dishubkominfo Kota Serang saat dikonfirmasi mengenai bagaimana pengelolaan retribusi parkir di Kota Serang sebagai berikut:

“Tertuang dalam SOP, mengenai penyebaran karcis kepada juru parkir, pungutan, penarikan, pencatatan di UPT, penyetoran kepada bendahara, dan pendapatan disetor kepada DPPKD melalui bank” (Wawancara dengan Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, Bapak Ahmad Yani, SE, Pada 5 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang ).

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa dalam manajemen retribusi parkir sudah terstruktur dengan baik. Adapun SOP dalam Retribusi parkir di Kota Serang terbagi menjadi dua yaitu SOP Pelayanan Retribusi Parkir dan SOP Pembuatan (Surat Perintah Tugas ) Koordinator Parkir. Dibawah ini akan di lampirkan bagan SOP Pelayanan Retribusi Parkir :

Gambar 4.2

SOP Pelayanan Retribusi Parkir

Sumber : Diolah oleh Peneliti dari Dishubkominfo Standar Operasional Prosedur (SOP) UPT Parkir, 2015

Berdasarkan bagan diatas, dapat disimpulkan bahwa pelayanan retribusi parkir telah terencana dengan rapi. Adapun dasar-dasar dari SOP tersebut mengacu kepada Undang-undang dan juga Perda adapun rincian dasar hukum sebagai berikut:

- Undang-undang No. 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan - Undang-undang No. 28 Tahun 2009, tentang Pajak dan Retribusi Daerah - Peraturan Daerah No. 07 Tahun 200, tentang Penyelenggaraan Bidang

Perhubungan, Pariwisata, Komunikasi, dan Informatika Kota Serang - Peraturan Daerah No. 13 Tahun 2011, tentang Retribusi Daerah

- Peraturan Daerah No. 05 Tahun 2014, tentang Pembentukan dan Susuan Organisasi Daerah Kota Serang (SOTK Perubahan Perda No. 07 Tahun 2008)

- Keputusan Wali Kota Serang No. 550/ kep. 108-Huk-Org/2008, tentang Pendelegasian Wewenang kepada Pejabat di Lingkungan Dihubkominfo Kota Serang

Adapun untuk memperdalam analisis digunakan perda yang dijelaskan secara global misalnya seperti dalam perda Kota Serang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Retribusi Daerah yang menjelaskan Konsep Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum dari segi objek, subjek, dan juga mengenai prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif yang tertuang dalam pasal 32. Pasal 32 tersebut menjelaskan secara jelas apa-apa saja yang harus dilakukan dalam meningkatkan retribusi parkir. Isi perda yang menyagkut mengenai retribusi parkir yaitu sebagai berikut:

1. Bagian Kelima (Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum Paragraf 1 Nama, Objek dan Subjek

- Pasal 28

Dengan nama retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum dipungut retribusi sebagai pembayaran atas setiap pelayanan parkir di tepi jalan umum yang diberikan oleh pemerintah daerah.

- Pasal 29

Obyek retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum merupakan penyediaan pelayanan parkir di tepi jalan umum yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah.

- Pasal 30

Subyek retribusi pelayanan parkir ditepi jalan umum adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh jasa pelayanan parkir di tepi jalan umum 2. Paragraf 2 (Cara mengukur tingkat penggunaan jasa retribusi pelayanan parkir di

tepi jalan umum) - Pasal 31

Tingkat penggunaan jasa pada Retribusi pelayanan parkir di tepi Jalan umum diukur berdasarkan jenis kendaraan dan jangka waktu.

3. Paragraf 3 (Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarya tarif retribusi pelayanan parkir di Tepi Jalan Umum)

- Pasal 32

Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum ditetapkan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan, dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut.

Adapun standar dalam retribusi parkir tertera dalam Perda Kota Serang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Retribusi Daerah Pada Bab IV dan Bab VII yang akan di uraikan lebih rinci di bawah ini:

1. Bab IV Tata Cara Penghitung Retribusi Pasal 142:

1) Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan perkalian antara tingkat penggunaan jasa dengan tarif retribusi.

2) Tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah jumlah penggunaan jasa yang dijadikan dasar alokasi beban biaya yang dipikul Pemerintah Daerah untuk penyelenggaraan jasa yang bersangkutan.

3) Apabila tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sulit diukur, maka tingkat penggunaan jasa dapat ditaksir berdasarkan rumus yang dibuat oleh Pemerintah Daerah.

4) Rumus sebagaimana dimaksud pada ayat (3), harus mecerminkan beban yang dipikul oleh Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan jasa tersebut.

5) Tarif retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah nilai rupiah atau persentase tertentu yang ditetapkan untuk menghitung besarnya retribusi yang terhutang.

6) Tarif retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat ditentukan seragam atau bervariasi menurut golongan sesuai dengan prinsip dan sasaran penetapan tarif retribusi.

2. Bab VII Tata Cara Pemungutan Retribusi Pasal 145

1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

2) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat berupa kupon, karcis dan kartu langganan.

3) Tata cara pelaksanaan pemungutan retribusi diatur dengan Peraturan Walikota.

Pada tata cara pemungutan retribusi dijelaskan di atas adalah dengan menggunakan karcis hal ini juga dilakukan oleh retribusi parkir. Dishub mengeluarkan karcis dengan mekanisme yang telah dijabarkan oleh narasumber yaitu sebagai berikut:

Pembuatan dilakukan oleh sekretariat dishub. Sudah dianggarkan karena ada untuk terminal dan parkir. Dalam 1 tahun kurang lebih 30 juta. Bagaimana bisa menghasilkan yang besar butuh anggaran yang lebih untuk mendapatkan hasil yang besar. Karcis yang asli ada tanda koorporasi lobang DPPKD baru bernialai uang. Prosesnya dari UPT, kepala dinas, baru di legislasi DPPKD, UPT lagi baru UPT distribusi melalui koordinator”

(Wawancara dengan Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, Bapak Ahmad Yani, SE, Pada 5 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang ).

Kepala Dishub juga menambahkan bahwa :

“Penentuan tarif ditentukan oleh dishub, DPPKD serta DPRD” (Wawancara dengan Kepala Dishubkominfo Kota Serang, H. Syafruddin, M.Si , Pada 28 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang)

Pernyataan dari narasumber lain mengenai karcis parkir disampaikan oleh Kepala Subag umum dan kepegawaian Dishubkominfo Kota Serang mengatakan sebagai berikut:

“Karcis parkir yang legal sudah dikeluarkan dan diketahui oleh DPPKD Kota Serang”(Wawancara dengan Ibu Hj. Eti Sukmawati, 18 Februari 2013 di Kantor Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi Kota Serang ).

Pernyataan di atas tidak sesuai dengan kondisi dilapangan. Kondisi dilapangan adalah karcis parkir yang masih berbeda-beda disetiap juru parkir. Masih terdapat juru parkir yang menggunakan karcis parkir hasil buatan sendiri, baik fotocopy, tulisan tangan bahkan didesain sesuai keinginan juru parkir. Ini ditunjukkan dari hasil wawancara dengan juru parkir I1.3.1sampai dengan I1.3.3yang sebagian besar tidak mengetahui bahwa Dishubkominfo mengeluarkan karcis resmi. Adapun narasumber yang mengatakan ada yaitu sebagai berikut:

“Ada, kalo karcis dari Dishub itu sebulan sekali dikasihnya, kalo belum sebulan udah abis, pakai kartu sendiri” (Wawancara dengan Juru Parkir, Tomi, Pada 10 September 2015, di Jl. Fatah Hasan).

Pernyataan lain terkait menggunakan karcis parkir buatan sendiri yaitu pernyataan dari I1.3.3 yang mengatakan sebagai berikut:

“Kalau karcis buatan Dishub sih saya tidak tahu, soalnya kalo di sini mah karcisnya buat sendiri” (Wawancara dengan Juru Parkir, Herman, Pada 10 September 2015 di Jl. Alun-alun ).

Berdasarkan dari pernyataan dan informasi di atas menunjukkan bahwa terdapat penyimpangan SOP melalui Karcis Parkir. Dalam hal ini pemerintah terkait atau Dishubkominfo harus segera mengambil tindakan untuk ketegasan terkait karcis parkir karena tidak adanya karcis parkir tentu menimbulkan penyimpangan lain yaitu tarif parkir yang tidak sesuai dengan aturan yang ada dan telah dijelaskan pada poin sebelumnya. Sehingga dari keseluruhan mengenai SOP dapat di simpulkan bahwa SOP perlu dipertegas dan di perjelas serta disesuaikan dengan pelaksanaannya. Selain Standar operasional prosedur yang harus diperhatikan dalam pengorganisasian adalah Sumber daya manusa (SDM).

b. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia atau orang-orang tentu diperlukan untuk pelaksanaan manajemen retribusi parkir di Kota Serang. Dalam sumber daya manusia mencakup kegiatan pengambilan pengupahan dan rekruitmen juru parkir. Ada beberapa SDM dengan tingkat kewenangan tertentu dari hirarki yang paling atas sampai yang paling bawah. Dalam hal ini adalah untuk hirarki atau orang dengan kewenangan dan tanggung jawab paling tinggi adalah Kepala Dishubkominfo sedangkan untuk dihirarki yang paling bawah adalah Juru Parkir. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 7 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Bidang Perhubungan, Pariwisata, Komunikasi dan Informatika di Kota Serang paragrap 2 tentang Juru

Parkir pada pasal 70 yang berbunyi pengaturan keluar dan masuk serta pemungutan biaya jasa parkir kendaraan ke tempat parkir dilaksanakan oleh Juru Parkir.

Terkait sumber daya manusia dalam manajemen retribusi parkir di Kota Serang. Adapun para penanggung jawab dan pelaksana retribusi parkir di Kota Serang yaitu, Kepala Dishubkominfo, Kasi Perparkiran dan Terminal, Kepala UPT Parkir, Kasubag TU UPT Parkir dan Juru Parkir. Tentunya juru parkir merupakan ujung tombak dari kegiatan retribusi parkir maka tentunya jumlahnyapun tidak sedikit yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.7 Jumlah Juru Parkir

No Nama Zona Jumlah

1 Zona I 110

2 Zona II 129

3 Zona III 89

4 Zona IV 60

Total 406

Sumber: Diolah peneliti dari Dishubkominfo Kota Serang, 2012

Tabel di atas menunjukkan jumlah juru parkir dari Zona I dan Zona IV yaitu secara total yaitu 406 orang. Adapun tabel ini masih menyajikan juru parkir yang terdri dari 4 zona, sedangkan saat ini sudah menjadi 9 zona. Namun total juru parkir belum didapat. Jika dilihat secara total membuktikan bahwa juru parkir sangat banyak

dan jika di bandingkan dengan Kepala UPT dan Kasubag TU UPT Parkir yang hanya berjumlah 2 orang tentunya terdapat masalah dan kendala dalam mengelola retribusi parkir dan berdasarkan observasi peneiti menemukan beberapa masalah yaitu:

1. Sistem pengupahan SDM atau Sumber daya manusia yang bertugas

Belum jelasnya sistem pengupahan hal ini dibuktikan berdasarkan wawancara dengan Bapak Ahmad Yani, SE selaku Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang yang menyatakan.

“Pengupahan itu tergantung dari kesepakatan Antara UPT parkir, dishubkominfo, serta juru parkir. Ketentuannya adalah 20% untuk PAD (Pendapatan Asli Daerah dan 80% untuk juru parkir termasuk uang makan, uang rokok dan penguasa setempat, namun belum di sahkan secara legal”( wawancara dengan Bapak Ahmad Yani, SE selaku Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, pada tanggal 12 Februari 2014 di Kantor UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang ).

Berdasarkan wawancara di atas menunjukkan bahwa sistem pengupahan belum tercantum di dalam peraturan atau prosedur yang ada, namun masih wacana tetapi sudah di terapkan. Bahkan dalam kesempatan yang lain peneliti mencoba melakukan tringulasi waktu dengan Bapak Ahmad Yani sebagai berikut:

“Tidak diatur atau belum diatur. Tidak diupah/ digaji (juruparkir). Ada penentuan target dari dishub jika lebih buat juru parkir, tapi itu semua aturan berubah setelah dilapangan”(Wawancara dengan Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, Bapak Ahmad Yani, SE, Pada 5 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang ).

Pernyataan yang hampir mirip tersebut sekilas membuat hati menjadi miris bahwa untuk juru parkir yang bertugas sementara penetapan target ada namun jasa untuk keringat dan sengatan matahari yang mereka terima belum dihargai

sepantasnya. Terkait hal ini peneliti melakukan konfirmasi kepada Juru Parkir terkait pengupahan, namun tidak mendapatkan perhitungan yang pasti karena Juru parkir hanya memberikan gambaran besaran dengan minimal pendapatan 50.000 sampai 100.000 ribu rupiah perhari. Sulitnya menghitung dikarenakan terdapat tiga shift yaitu pagi, siang dan malam dan ketiganya memiliki pendapatan yang berbeda. Adapun yang memberikan persentase yaitu narasumber I1.3.3 yang mengatakan sebagai berikut:

“50% dari pendapatan sisanya buat yang punya lahan”(Wawancara dengan Juru Parkir, Herman, Pada 5 Mei 2015 di Jl. Alun-alun ).

Pernyataan di atas semakin memperkuat kesimpulan peneliti mengenai sistem pengupahan yang belum terkoordinasi dengan baik.

2. Belum jelasnya sistem rekrutment juru parkir dilapangan.

Dalam menetapkan juru parkir tentunya dilakukan dengan sistem perekrutan, adapun sistem perekrutan juru parkir beum jelas secara rinci dan aturannya. Temuan lapangan terkait belum jelasnya rekrutmrnt juru parkir dilapangan disimpulkan berdasaran pernyataan beberapa narasumber yaitu sebagai berikut:

“Jadi pas daftar jadi tukang parkir itu ke RT, RW, koordinator, baru ke dishub”(Wawancara dengan Juru Parkir, Pamungkas, Pada 5 Septeember 2015 di Jl. Bhayangkara ).

Pernyataan lain disampaikan oleh juru parkir lain :

“Langsung ke koordinator”(Wawancara dengan Juru Parkir, Ilham, Pada 5 September 2015 di Jl. Lingkar Selatan Ciracas ).

Pernyataan berbeda juga disampaikan oleh Juru Parkir Herman :

“Langsung ke dishub”(Wawancara dengan Juru Parkir, Herman, Pada 10 September 2015 di Jl. Alun-alun ).

Pernyataan lain yang juga berbeda yaitu:

“Kalau mau jadi tukang parkir ga ada persyaratan hanya bantu aja sukarela” (Wawancara dengan Juru Parkir, Tomi, Pada 5 Mei 2015 di Jl. Fatah Hasan ).

Beberapa pernyataan di atas menunjukkan bahwa belum jelas bagaimana sebenarnya sistem perekrutan juru parkir, selain itu aturan. Adapun yang terdapat dalam aturan hanyalah pengeluaran Surat Perintah Tugas untuk Koordinator parkir bukan untuk juru parkir. Tidak jelasnya sistem rekrutment juru parkir namun sebagian besar juru parkir mendapatkan SK, hal ini berdasarkan pernyataan dari 5 juru parkir yang peneliti Tanya mengenai identitas resmi. Ini menunjukkan bahwa pemerintah perlu memperjelas dan mempublikasi sistem rekrutment juru parkir. Kedua masalah di atas dapat membuat kesimpulan bahwa penanganan Sumber Daya Manusia masih perlu pembenahan yang signifikan terutama terkait juru parkir yang merupakan ujung tombak.

c. Tupoksi

Dalam manajemen yang harus juga diperhatikan adalah tupoksi. Tupoksi yang jelas dan dipahami oleh para pelaksana sehingga tupoksi bukan hanya sekedar rincian tulisan tanggungjawab dan tugas apa yang harus dilakukan pelaksana sesuai bagiannya. Tupoksi yang tepat adalah di mana para pelaksana mudah dalam

memahaminya dan mudah untuk diaplikasikan selain itu tupoksi yang baik harus merinci sampai keposisi terbawah sehingga tidak terjadi tumpang tindih tugas yang harus dilaksanakan. Yang sering terjadi adalah tupoksi merupakan urutan tugas dan tanggungjawab yang bahkan pelaksananya tidak memahami atau bahkan hanya sekedar mengingatnya, sehingga Antara apa yang dikerjakan dengan apa yang tertulis di dalam tupoksi tidak terjadi kesesuaian.

Namun, hal ini tidak terjadi dalam manajemen retribusi parkir Kota Serang. Hal ini berdasarkan wawancara dengan I1.1 atau selaku Kepala Dishubkominfo Kota Serang yaitu sebagai berikut :

“Tupoksi jelas, sudah diatur dan dijelaskan kepada petugas pelaksana”

(Wawancara dengan Kepala Dishubkominfo Kota Serang, H. Syafruddin, M.Si , Pada 28 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang)

Selain itu, informan I1.2 atau selaku kepala UPT Dishubkominfo Kota Serang juga menjelaskan sebagai berikut:

“Tupoksinya jelas karena dalam pegawasan, ada pembinaan juru parkir, pembekalan teknis tentang aturan, ilmu dan sebagainya. Satu kali dalam 1 tahun karena ada keterbatasan anggaran dalam beberapa tahap. Hamper kurang lebih 600 juru parkir pertahun perzona perwakilannya selama satu hari penuh. Ada penggantian dana sesuai anggaran yang ada kurang lebih 60 ribu rupuah, 60 orang sekali pembinaan”(Wawancara dengan Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, Bapak Ahmad Yani, SE, Pada 5 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang ).

Pernyataan menyatakan bahwa tupoksi yang ada harus jelas karena dalam pengawasan. Adapun tupoksi yang ada hanya tupoksi seksi perparkiran dan terminal yaitu:

Seksi Perparkiran dan Terminal

1. Seksi Perparkiran dan Terminal dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Keselamatan, Teknik, Sarana dan Prasarana.

2. Seksi Perparkiran dan Terminal mempunyai tugsa pokok melaksanakan kebijakan teknis bidang perparkiran dan terminal.

3. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada nomor (2), Seksi Perparkiran dan Terminal menyelenggarakan fungsi :

a. Penyusunan rencana kegiatan bidang perparkiran dan terminal;

b. Penyusunan bahan perumusan kebijakan teknis bidang perparkiran dan terminal;

c. Penyelenggaraan kegiatan bidang perparkiran dan terminal; d. Penyusunan bahan pembinaan, koordinasi dan fasilitasi bidang

perparkiran dan terminal;

e. Evaluasi dan pelaporan bidang perparkiran dan terminal;

f. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Sedangkan untuk tupoksi UPT Parkir dan Juru Parkir tidak ada sehingga sangat diperlukan tupoksi agar dapat memberikan aturan, dan batasan dalam melakukan pengelolaan retribusi dari hal penyetoran sampai kepada penggunaan.

Maka dapat disimpulkan terkait Tupoksi, tupoksi sudah ada namun belum sampai kepada hirarki yang ada di bawahnya.

Berdasarkan penjabaran setiap aspek terkait dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian sudah cukup dilakukan dengan baik hanya saja masalah-masalah yang ada diselesaikan dengan improvisasi yang tidak menyelesaikannya. Hal ini dibuktikan dengan :

1. SOP perlu dipertegas dan di perjelas serta disesuaikan dengan pelaksanaannya

2. Sumber Daya Manusia masih perlu pembenahan yang signifikan

3. Tupoksi sudah ada namun belum sampai kepada hirarki yang ada di bawahnya

Dokumen terkait