• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan (Planning)

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3 Temuan Lapangan

4.3.1 Perencanaan (Planning)

Perencanaan atau Planning menurut Siagian (2011:88) perencanaan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan dimasa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Dan menurut George R Terry (2009:17)

planning mencakup kegiatan pengambilan keputusan, pelaksanaan perencanaan dan evaluasi perencanaan. Selanjutnya akan dijelaskan pada setiap aspek dalam perencanaan (planning).

a. Pengambilan Keputusan

Perencanaan atau rencana merupakan sebuah hasil dari pengambilan keputusan yang diambil dari alternatif-alternatif dengan memperhatikan aspek-aspek yang ada. Pengambilan keputusan terkait dasar peraturan, penetapan zona parkir, dan tarif parkir. Dalam hal ini retribusi parkir tentu didasarkan atas peraturan yang berlaku

hal ini sesuai yang dikatakan oleh Kepala Dishubkominfo Kota Serang yang bernama Bapak Drs. Syafruddin, M.Si atau I1.1 sebagai berikut :

“Ada Peraturan Daerah dan ada juga Undang-undang” (Wawancara dengan Kepala Dishubkominfo Kota Serang, H. Syafruddin, M.Si , Pada 28 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang).

Selain itu, Kepala UPT Dishubkominfo Kota Serang yang bernama Bapak Ahmad Yani, SE atau I1.2 menambahkan sebagai berikut :

“UUD Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah, Peraturan daerah No. 13 Tahun 2011 Tentang Retribusi Daerah. Jadi, sekarang kita sudah punya perda yang mengatur tentang retribusi daerah, namun pada pelaksanaan nya masih banyak yang harus dibenahi, akibat masih umumnya perda yang ada”(Wawancara dengan Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, Bapak Ahmad Yani, SE, Pada 5 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang ).

Dari pernyataan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan mengenai perencanaan mengenai manajemen retribusi parkir di Kota Serang mengacu kepada peraturan atau undang-undang diatasnya dan diatur kembali dengan perda.

Adapun perda terkait pengmabilan keputusan adalah sebagai berikut:

1. Undang-undang No. 28 Tahun 2009, tentang Pajak dan Retribusi Daerah. 2. Peraturan Daerah No. 13 Tahun 2011, tentang Retribusi Daerah.

3. Keputusan Wali Kota Serang No. 550/ kep. 108-Huk-Org/2008, tentang Pendelegasian Wewenang kepada Pejabat di Lingkungan Dihubkominfo Kota Serang.

Dalam hal retribusi di Kota Serang yang lebih mengacu kepada Peraturan Daerah No. 13 Tahun 2011 yang dibuat dengan persetujuan bersama DPRD Kota Serang dan Walikota Serang (tercantum dalam Perda halaman 5) . Dari Peraturan daerah yang kemudian dibuat Keputusan Walikota Serang terkait pendelegasian wewenang kepada pejabat di lingkungan Dishubkominfo Kota Serang yaitu Keputusan Wali Kota Serang No. 550/ kep. 108-Huk-Org/2008, merupakan rujukan terkait aturan retribusi parkir di Kota Serang.

Namun seperti yang kita ketahui kekurangan dari peraturan perundang-undangan adalah kurang fleksibel atau kurang mengikuti perkembangan masa kini atau bersifat kaku sehingga sedikit banyak masih terdapat kekurangan dan perlu perbaikan, hal ini seperti yang diungkapkan dalam pertanyaan Adakah beberapa aspek peraturan atau keputusan yang perlu dibenahi? Yang diajukan kepada Kepala Dishubkominfo dan Kepala UPT Dishubkominfo. Adapun yang disampaikan oleh Kepala Dishubkominfo Kota Serang I1.1 mengatakan sebagai berikut:

“Zona-zona parkir masih banyak yang belum terjamaah koordinator. Itu salah satu yang harus dibenahi. Jadi, masih banyak hal yang harus dibenahi dalam perparkiran di Kota Serang”(Wawancara dengan Kepala Dishubkominfo Kota Serang, H. Syafruddin, M.Si , Pada 28 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang).

Pernyataan di atas membuka pertanyaan baru mengenai pengambilan keputusan yaitu tentang pengambilan keputusan mengenai penetapan Zona Parkir. Zona parkir yang diatur dalam retribusi parkir tepi jalan umum di Kota Serang dibagi menjadi sebagai berikut:

Tabel 4.4

Zona Parkir sebelum perombakan

NO ZONA WILAYAH 1 ZONA I Jl. Ahmad Yani 2 Jl. Maulana Yusuf 3 Jl. Tirtayasa 4 Jl. Juhdi 5 Jl. Veteran

6 Jl. Alun-alun Timur (Sop Ikan) 7 Jl. KH. Sochari

NO ZONA WILAYAH

1

ZONA II

Jl. Sam'un Bakri

2 Pangkalan Truk Taman Sari 3 Pasar Karangantu

4 Jl. Raya Banten (Lopang) 5 Pasar Lama

6 Seputar Pasar Lama (BCA) 7 Jl. Hasanudin 8 Jl. Purbaya 9 Jl. Ponogoro 10 Jl. Kali Gandu NO ZONA WILAYAH 1 ZONA III Jl. Raya Ciwaru 2 Jl. KH.Fatah Hasan 3 Jl. KH.Abdul Latief

4 Blok M.Pasar Rau + Terminal Cangkring 5 Jl. Ayip Usman

6 Jl. Tb.Sueb 7 Jl. Sudirman 8 Jl. Trip Jamaksari

9 Jl. Raya Jakarta (Kemang)

10 Pasar Kalodran s/d Pakupatan + Jl. Syeh Nawawi 11 Jl. Bayangkara

12 Alun-alun 13 Pasar Taman Sari 14 Jl. Raya Cilame

15 Jl. Raya Ciomas (Palima)

1 ZONA IV Jl. Brigjen Sam'un 2 Jl. Mayor Syafei 3 Jl. Raya Cilegon 4 Jl. Kagungan Lontar 5 Jl. Kaloran Brimob 6 Jl. Raya Taktakan 7 Jl. Letnan Jidun

8 Depan Taman Kopassus 9 Jl. Amin Jasuta 10 Prapatan Kaujon 11 Jl. Yumaga 12 Jl. Ki Mas Jong 13 Jl. Kebon Jahe 14 Jl. KH.Khotib

15 Jl. Lingkar Selatan (Ciracas) 16 Jl. Raya Cipocok Jaya 17 Jl. RS.DKT

18 Sop Ikan (Taman Kopassus) Sumber: Diolah peneliti dari UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, 2012

Dapat dilihat tabel di atas bahwa dalam manajemen parkir di Kota Serang atau zona parkir di tepi jalan umum di Kota Serang dibagi menjadi 4 Zona masing-masing zona terdapat jalan yang ramai dan jalan yang sepi, namun setelah beberapa waktu terdapat perubahan zona parkir, jika sebelumnya terdapat 4 zona kemudian terjadi perubahan menjadi 9 Zona yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.5

Zona Parkir setelah perombakan

NO ZONA WILAYAH

1

ZONA I

Jl. Tirtayasa 2 Jl. Juhdi

3 Jl. Veteran (bjb s/d Sp4 Pisang Mas) 4 Jl. Maulana Yusuf

5 Seputaran Taman Sari 1

ZONA II

Jl. Hasanudin

2 Seputaran Pasar aLama (BCA) 3 Jl. Raya Banten (Prapatan Lopang) 4 Jl. Diponegoro

5 Simpang Tiga On on s/d Blok M 1

ZONA III

Seeputaran Alun-alun 2 Jl. Ki Mas Jong

3 Jl. Veteran (Ramayana s/d Alun-alun Barat) 4 Jl. Brigjen Sam’un 5 Jl. Ki Uju Kaujon 1 ZONA IV Mayor Syafei 2 Jl. Raya Cilegon 3 Jl. Purbaya

4 Jl. Kagungan Lontar s/d Prapatan Brimob 1 ZONA V Jl. KH. Abd. Latief 2 Jl. Sam’un Bakri 3 Jl. Tb. Sueb 4 Jl. Ayip Usman 5 Jl. Raya Kaligandu 1 ZONA VI Jl. Ahmad Yani 2 Jl. Sudirman 3 Jl. Raya Jakarta 4 Pasar Kalodran

1 ZONA VII Jl. Yumaga 2 Jl. KH. Fatah Hasan 3 Jl. KH. Abdul Hadi 4 Jl. Raya Ciwaru 5 Jl. KH. Khotib (Kedalingan) 1 ZONA VIII Jl. KH. Sochari 2 Jl. Ki Ajurum Cipocok 3 Jl. Bhayangkara

4 Jl. Raya Pandeglang +Tengkele 1

ZONA IX

Jl. Raya Letnan Jidun 2 Jl. Tb. Ma’mun s/d Cikulur 3 Jl. Raya Taktakan

4 Jl. Lingkar Selatan Ciracas Sumber: Diolah peneliti dari UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, 2015

Tabel di atas menunjukkan perubahan yang signifikan. Jika pada tabel sebelumnya menunjukkan 4 Zona dengan pembagian zona yang tidak tetap, maka perubahan zona ini lebih terlihat rapi walau zona yang terbagi menjadi lebih banyak. Pembagian zona setelah perubahan menjadi teratur masing-masing zona terdiri dari 4-5 jalan. Pengambilan keputusan ini tentunya nantinya akan menjadi kemudahan dalam pengawasan. Seperti yang disampaikan oleh I1.2 sebagaiberikut:

“UPT membentuk zona, intinya dapat membantu dalam memantau atau mempermudah pengawasan, membedakan potensi besar dan kecil dari bentangan wilayah yang luas, untuk mempermudah menyelesaikan / pengawasan dan pengendalian tidak melebar ke zona lain serta memudahkan dalam hal pemberian pengarahan kepada juru parkir terkait perparkiran di Kota Serang”(Wawancara dengan Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, Bapak Ahmad Yani, SE, Pada 5 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang ).

Zona parkir dibuat oleh UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang yang diketahui dan disetujui oleh Kepala Dishubkominfo Kota Serang. Seperti hasil wawancara diatas dengan Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang pembagian zona masih memiliki kelemahan dalam pengambilan keputusan zona ini adalah tidak jelasnya pembagian zona berdasarkan pada apa, dan tidak jelasnya penetapan zona ramai dan zona sepi, belum ada tolak ukur yang jelas untuk penetapan Zona Parkir.

Selain belum jelasnya alasan penetapan zona parkir dalam pengambilan keputusan adalah penetapan tarif parkir. Adapun tarif parkir atau penetapan retribusi parkir menurut Iksan dan Salomo ( 2002: 153-155 ) harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Efesiensi alokasi sumber daya (allocative efficiency).

2. Keadilan (equity).

3. Perhitungan yang jelas (financial requirements).

4. Memperhitungkan kelestarian lingkungan. 5. Aspek lainnya.

Adapun dalam Kota Serang Nomor 13 tahun 2011 tentang Retribusi Daerah pada paragrap 4 mengenai struktur dan besarnya tarif retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum pada pasal 33 adalah sebagai berikut:

(1) Struktur dan besarnya tarif retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum digolongkan berdasarkan jenis pelayanan parkir yang diberikan;

(2) Tarif retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran V dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.

Penentuan tarif mengacu kepada Perda Kota Serang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Retribusi Daerah, pada lampiran V Perda Kota Serang Nomor 13 tahun 2011 tentang retribusi daerah, disebutkan bahwa tarif kendaraan bermotor roda dua yaitu Rp. 1.000/ kendaraan, namun yang terjadi adalah pengguna jasa dikenakan tarif sebesar Rp. 2.000/ kendaraan. Hal ini peneliti alami sendiri dan juga dialami oleh I3.2

selaku pengguna jasa yang mengatakan sebagai berikut:

“Bayar parkir motor Rp. 2.000, mau lama mau sebentar, kalau dikasih Rp. 1.000 seringnya sih ditolak” (Wawacara dengan Saudara Iyan, 21 Agustus 2015, Pukul 16.45 WIB,di Jl. Alun-alun )

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh I3.3 sebagai berikut:

“Biasanya sih 2.000 kadang juga 1.000 engga apa apa, tapi ada juga yang dikasih 1.000 masih gamau tetep aja minta 2.000, tapi saya sendiri gatau sebenernya berapa ketetapan untuk bayar parkir roda dua”(Wawacara dengan Saudara Aryan, 21 Agustus 2015, Pukul 19.15 WIB,di Jl. Veteran ) Hasil wawancara demikian juga disampaikan oleh beberapa narasumber juga merasakan ketidakadilan dalam penggenaan tarif parkir. Adapun alasan mendasar dari penetapan tarif sebesar Rp. 1.000,- untuk kendaraan roda dua dan Rp. 2.000,- untuk kendaraan roda empat ditetapkan berdasarkan target pendapatan yang harus dicapai. Menurut sumber lain penetapan dengan cara seperti ini biasanya dilakukan terhadap layanan-layanan yang sangat sulit dihitung biayanya, karena adanya

komponen-komponen tertentu dari layanan tersebut yang tidak dapat dihitung kecuali hanya sekedar biaya administrasi untuk melakukan pemungutannya saja. Retribusi seperti ini biasanya dipungut oleh unit-unit yang secara langsung berada dalam struktur organisasi pemda, misalnya retribusi parkir dipungut atau dikelola oleh Badan Pengelola Perparkiran. Pada pungutan retribusi parkir, sulit sekali dijelaskan mengapa atau atas dasar apa tarif parkir ditetapkan besarnya, misalnya Rp. 2000,- untuk jam pertama dan Rp. 1000,- untuk setiap jam berikutnya.

Berdasarkan beberapa pengambilan keputusan terkait dasar peraturan, penetapan zona parkir, dan tarif parkir, maka dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan belum dilakukan dengan maksimal dengan memperhatikan aspek-aspek dan alasan yang jelas dan belum menjawab dari kendala-kendala yang akan dihadapi dalam pelaksanaan.

b. Pelaksanaan Perencanaan

Dalam pelaksanaan perencanaan didasarkan pada beberapa aspek. Aspek-aspek yang terkait dalam pelaksanaan perencaanaan yaitu masterplan, pengelolaan hasil, target dan realisasi serta sistem penyetoran retribusi parkir di tepi jalan umum.

Sebagian besar pelaksanaan mengacu pada masterplan. Masterplan

sekumpulan perencanaan yag berisi tujuan dari perencanaan, bagaimana perencanaan dilaksanakan, siapa yang menjalankan pelaksanaan dan bagaimana atau evaluasi dari pelaksanaan. Masterplan dibuat oleh Dishubkominfo Kota Serang. Adapun terkait

manajemen retribusi parkir di Kota Serang terdapat masterplan adapun pendapat I1-2

mengenai masterplan adalah sebagai berikut:

“Ada masterplan karena potensi besar harus melihat kondisi lapangan yang masuk hanya 20-30%” (Wawancara dengan Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, Bapak Ahmad Yani, SE, Pada 16 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang ).

Kepala Dishubkominfo Kota Serang juga mengiyakan bahwa sudah ada

masterplan seperti dalam wawancara:

“Ada masterplan” (Wawancara dengan Kepala Dishubkominfo Kota Serang, H. Syafruddin, M.Si , Pada 28 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang).

Berdasarkan beberapa pernyataan diatas, menunjukkan bahwa terdapat masterplan dalam manjemen retribusi parkir di Kota Serang, namun dalam penelusuran dokumen yang dilakukan peneliti tidak mendapatkan adanya masterplan. Namun, pada kenyataannya banyak sekali perencanaan yang dibuat oleh pemerintah, tetapi belum sampai menjadi masterplan. Perencanaan yang ada masih belum sesuai dengan pelaksanaannya, terkadang dalam pelaksanaan perencanaan pelaku atau pelaksana menemui kendala yang cara mengatasinya belum disiapkan dalam perencanaan sehingga perlu mengambil langkah improvisasi yang terkadang tidak sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Dalam hal ini peneliti mencoba menggali informasi mengenai apakah pelaksanaan sudah sesuai dengan perencanaan yang dibuat, dibawah ini adalah jawaban yang disampaikan oleh Kepala Dishubkominfo I1.1sebagai berikut:

“Masih Jauh. Perencanaan sudah sesuai, tapi ada kekurangan yang harus dibenahi seperti masih belum maksimalnya pemasukan daeri parkir”(Wawancara dengan Kepala Dishubkominfo Kota Serang, H. Syafruddin, M.Si , Pada 28 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang) Pernyataan yang hampir serupa juga disampaikan oleh Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang I1.2 yang mengatakan sebagai berikut:

“Kalau untuk perencanaan sudah sesuai hanya saja untuk mekanisme antara perencanaan ada perubahan dengan pelaksanaan , semuanya tergantung dengan kondisi dilapangan, karena kondisi dilapangan tidak selalu mulus”.

(Wawancara dengan Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, Bapak Ahmad Yani, SE, Pada 5 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang ). Untuk mengetahui bagaimana perencanaan penyeleggaraan parkir di Kota Serang di bawah ini merupakan penjabaran mengenai parkir umum berdasarkan Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 7 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Bidang Perhubungan, Pariwisata, Komunikasi dan Informatika di Kota Serang pada bagian ke enam mengenai parkir umum sebagai berikut:

1. Paragraf I (Fasilitas parkir umum dan penyelenggaran perpakiran) - Pasal 65

(1) Parkir untuk umum diselenggarakan di tepi jalan umum dan atau dengan fasilitas khusus berupa pedagang atau taman parkir.

(2) Parkir untuk umum di tepi jalan umum dilaksanakan pada badan jalan dan atau pada daerah milik jalan, daerah pengawasan jalan yang merupakan satu kesatuan wilayah lalu lintas dan angkutan jalan.

(3) Penyelenggaraan parkir untuk umum dengan fasilitas khusus berupa gedung parkir dan atau taman parkir dilaksanakan di pusat-pusat kegiatan baik di dalam kota, kawasan wisata, kawasan penidikan atau tempat-tempat lain yang ditetapkan peruntukannya sebagai lahan parkir khusus

- Pasal 66

(1) Penyelenggaraan parkir untuk umum di badan jalan sebagaimana dimaksud dalam pasal 65 ayat (2) dilaksanakan dengan memperhatikan:

a. Satuan Ruang Parkir (SRP) ditetapkan berdasarkan perbandingan volume kendaraan dengan kapasitas jalan (V/C Ratio), jenis kendaraan, dengan konfigurasi arah parkir sejajar atau sudut.

b. Dinyatakan oleh rambu-rambu peruntukan parkir dan marka jalan (2) Penyelenggaraan parkir untuk umum di daerah milik jalan atau daerah

pengawasan jalan sebagaimana dimaksud dalam pasal 65 ayat (2) dilaksanakan dengan memperhatikan:

a. Keluar masuk kendaraan tempat dan atau keluar dari tempat parkir diatur sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan hambatan, gangguan, kemacetan dan kecelakaan lalu lintas pada jaringan jalan yang secara langsung dipengaruhi

- Pasal 67

Fasilitas parkir untuk umum yang diselenggarakan di gedung parkir dan atau di taman parkir, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Tempat parkir harus merupakan bagian atau didukung dengan manajemen lalu lintas pada jaringan jalan sekitarnya;

b. Lokasi parkir harus memiliki akses yang mudah ke pusat kegiatan c. Satuan Ruang Parkir (SRP) diberi tanda-tanda yang jelas berupa kode

atau nomor lantai, nomor lajur dan marka jalan.

- Pasal 68

(1) Parkir untuk umum ditepi jalan umum diselenggarakan oleh pemerintah daerah, dengan cara:

a. Parkir yang dilaksanakan pada badan jalan hanya diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga; b. Parkir yang dilaksanakan di daerah milik jalan atau daerah

pengawasan jalan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari pemilik lahan yang berada disekitar fasilitas parkir

(2) Penyelenggaraan parkir untuk umum yang dilaksanakan di gedung parkir atau taman parkir, dapat berupa usaha parkir umum secara

penuh atau usaha tambahan yang memanfaatkan fasilitas pendukung dari suatu sistem kegiatan;

(3) Usaha parkir umum sebagaimana di maksud pada ayat (2), dapat diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah, Badan Hukum atau Perorangan;

(4) Parkir umum yang merupakan usaha tambaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diselenggarakan dengan cara kerja sama teknis Antara Pemerintah Daerah dengan pemilik fasilitas parkir.

- Pasal 69

(1) Usaha parkir umum sebagaimana dimaksud dalam pasal 68 ayat (2) yang diselenggarakan oleh Badan Hukum atau Perseorangan dilaksanakan setelah mendapat izin dari kepala dinas;

(2) Pemilik izin untuk usaha parkir umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib melaksanakan kerja sama teknis dengan pemerintah daerah dan dikenakan pajak parkir

Penjabaran di atas mengenai perencanaan retribusi dan penyelenggaraan parkir telah jelas dijabarkan adapun yang harus diperhatikan adalah perencanaan mengenai sistem pengelolaan hasil dari Retribusi Parkir. Karena pada prinsipnya retribusi digunakan untuk penunjang pendapatan daerah sehingga retribusi harus ditingkatkan sebagai bentuk kreatifitas atau tindakan

dalam kemandirian daerah terhadap anggarannya. Adapun terkait retribusi parkir di kota Serang pengelolaan hasil retribusi parkir menurut Kepala Dishubkominfo Kota Serang sebagai berikut :

“Digunakan untuk menambah pendapatan daerah.” (Wawancara dengan Kepala Dishubkominfo Kota Serang, H. Syafruddin, M.Si , Pada 28 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang).

Hal serupa juga diungkapkan oleh Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang adalah sebagai berikut:

Hasil retribusi parkir yang diterima dishub dari juru parkir itu kemudian direkap dan disetorkan kepada DPPKD. Uang dari hasil setoran tidak boleh mengendap di kantor dishub”(Wawancara dengan Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, Bapak Ahmad Yani, SE, Pada 5 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang ).

Berdasarkan wawancara di atas peneliti menarik kesimpulan bahwa pengelolaan hasil retribusi digunakan untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD) guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan daerah. Adapun berdasarkan informasi yang telah didapat, pengelolaan hasil retribusi sepenuhnya diserahkan kepada dinas yang berwenang yaitu DPPKD Kota Serang. Adapun bagaimana pengelolaan hasil retribusi belum dijelaskan lebih detail oleh DPPKD Kota Serang. Berdasarkan studi dokumentasi menemukan bahwa realisasi retribusi parkir di tepi jalan umum pada tahun 2014 ditargetkan mencapai Rp 700.000.000 namun dalam realisasinya belum mencapai target sehingga jika dikatakan menyumbang pendapatan daerah

maka persentase nya sangat kecil sehingga bila dijabarkan bagaimana pengelolaan hasil retribusi parkir tidak terlihat jelas partisipasinya. Terkait target yang tidak mencapai realisasi akan dibahas lebih dalam pada paragraph selanjutnya.

Pencapaian target yang ditetapkan oleh setiap dinas menunjukan optimalisasi kinerja dinas tersebut. Realisasi 100% menunjukan kinerja yang baik, sedangkan realisasi yang kurang dari target menunjukan kurang optimalnya kinerja suatu dinas. Hal ini tergambar di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Serang, khususnya UPT Parkir. Menggali lebih dalam bagaimana pengelolaan retribusi parkir dilihat dari target dan realisasinya yang sudah berjalan selama ini:

Tabel 4.6 Target dan Realisasi

Tahun Target Realisasi

2014 700.000.000 283.233.000

Sumber: Diolah peneliti dari DPPKD Kota Serang, 2014

Tabel di atas menunjukkan bahwa antara target dan realisasi begitu terjadi ketimpangan di mana realisasi bahkan jauh dari target sehingga setiap tahunnya Kota Serang menurunkan targetnya namun turun juga terhadap realisasinya. Adapun bagaimana target ditetapkan berdasarkan hasil observasi

dan beberapa sumber terkait bahwa penetapan target dilakukan pada awal tahun dengan mengadakan rapat internal Dishubkominfo dengan agenda pengajuan target untuk diajukan dan disetujui oleh DPRD, namun pada kenyataannya DPRD memiliki perhitungan tersendiri dalam penentuan target, sementara DPRD tidak melihat kemampuan Dishubkominfo dalam realisasi target. Sementara masih banyak kendala dilapangan yang dihadapi oleh Dishubkominfo dalam merealisasikan target yang telah ditetapkan. Salah satunya adalah sistem penyetoran yang belum jelas.

Adapun berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan narasumber peneliti belum Jelasnya sistem penyetoran yang harus dilakukan Menurut Bapak Ahmad Yani selaku kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang mengatakan sebagai berikut:

Sistem penyetoran dari juru parkir kepada UPT Parkir telah diatur UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, namun pada kenyataanya disesuaikan dengan kondisi di lapangan”(Wawancara dengan Kepala UPT Parkir Dishubkominfo Kota Serang, Bapak Ahmad Yani, SE, Pada 5 Mei 2015 di Kantor Dishubkominfo Kota Serang ).

Adapun pernyataan ini semakin di perkuat berdasarkan penyataan beberapa Juru Parkir sebagai berikut:

“Setoran disini sehari 25.000 buat 2 orang, yang jaga pagi sampe siang sama siang sampe malem. Sisanya buat kita orang setoran dikasih ke koordinator, baru koordinator ngasih ke dishub” (Wawancara dengan Juru Parkir, Pamungkas, Pada 5 September 2015 di Jl. Bhayangkara ).

Pernyataan lain mengenai sistem penyetoran parkir juga didapatkan pernyataan dari I1.3.2 sebagai berikut:

“Setoran sehari 100.000, buat yang punya lahan 50.000 buat ke dishub 50.000” (Wawancara dengan Juru Parkir, Ilham, Pada 5 September 2015 di Jl. Lingkar Selatan Ciracas ).

Pernyataan ketiga masih belum memberikan titik terang bahwa ada sistem yang jelas untuk penyetoran. Adapun pernyataan ini disampaikan oleh I1.3.4yaitu:

“Setoran disini 5.000 perhari, kalo saya bulanan, sebulan 200.000 langsung ke dishub sisanya buat saya”(Wawancara dengan Juru Parkir, Tomi, Pada 10 September 2015 di Jl. Fatah Hasan ).

Pernyataan-pernyataan di atas menunjukkan bahwa belum ada sistem yang jelas dalam penyetoran hal inilah yang menyebabkan antara target dan realisasi tidak ada ketercapaian sehingga perlu dilakukan pembenahan terhadap sistem penyetoran retribusi parkir. Berdasrkan hasil analisis peneliti sistem penyetoran parkir yang tidak jelas ini dikarenakan melihat kondisi lapangan yang tidak selalu menguntungkan. Misalnya dengan adanya pengguna yang tidak membayar parkir sehingga tentunya

Dokumen terkait