• Tidak ada hasil yang ditemukan

Batasan Operasional

Dalam dokumen ARTANTI YULAIKA IRIANI A (Halaman 61-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.12 Batasan Operasional

1. Petani adalah penduduk yang mempunyai penguasaan dalam bentuk tertentu atas tanah pertanian, terlibat dalam hubungan penguasaan, pemilikan dan pemanfaatan.12

2. Struktur agraria adalah pola hubungan antar subjek agraria dengan objek agraria dan antara sesama subjek agraria dalam hal pemilikan dan penguasaan onjek agraria khususnya lahan sawah.

3. Hak Milik adalah hak seseorang atas lahan yang dapat diperoleh secara turun – temurun, terkuat dan terpenuh.

4. Distribusi kepemilikan lahan sawah adalah penyebaran strata luas pemilikan lahan sawah yang diukur melalui adanya golongan petani kaya (≥1 ha), petani menengah (0,500 – 0,999 ha), petani miskin ( 0,001 – 0,499) dan tunakisma (0 ha) di pedesaan13.

5. Sistem tenurial merupakan pemilikan tanah, penguasaan tanah yang didalamnya meliputi hubungan sewa, sakap dan gadai serta bentuk-bentuk pemilikan tanah secara komunal maupun perseorangan.

6. Pemilikan tanah adalah penguasaan formal yang dimiliki seseorang atas tanah, yakni hak yang sah untuk menggunakan, mengolah, menjual dan

12Diperoleh dari batasan operasional skripsi milik Andhini Fajryah Nuroni yang berjudul “Sistem Penguasaan Tanah dan Peran Tanah Bagi Petani Miskin”. 2006. IPB

13Diperoleh dari tesis milik Kliwon Hidayat yang berjudul “Struktur Penguasaan Tanah dan Hubungan Kerja Agraris Di Desa Jatisari, Lumajang, Jawa Timur.” 1985. Fakultas Pasca Sarjana.

Institut Pertanian Bogor.

memanfaatkannya yang dapat diperoleh dari warisan maupun transaksi jual beli.

7. Penguasaan tanah adalah suatu bentuk penguasaan tanah sementara, dalam bentuk memakai, memanfaatkan, mengelola tanah bukan miliknya yang didapatkan melalui gadai, sewa dan bagi hasil.

8. Sakap atau bagi hasil adalah suatu sistem untuk mengusahakan tanaman di atas tanah orang lain dengan perjanjian bahwa hasilnya dibagi antara kedua belah pihak berdasarkan persetujuan bersama, yang antara lain terdiri dari maro, mertelu, merapat, gotong royong, derep, nyeblok atau ngepak.

9. Maro adalah salah satu dari bentuk sistem sakap dimana antara pemilik dan penggarap mendapatkan hasil panen dengan perbandingan 1:1

10. Mertelu adalah salah satu dari bentuk sistem sakap dimana pemilik memungut 2/3 hasil panen, sisanya merupakan hak penyewa atau penyakap 11. Merapat, persyaratannya sama dengan diatas kecuali bahwa pemilik tanah

mendapat ¾ bagian hasil panen dan bagian untuk penyakap.

12. Nyeblok atau ngepak. Dalam hal ini penggarap melakukan semua pekerjaan dari mulai membajak, menyiang sampai menanam. Kemudian pemilik tanah mengambil alih pekerjaan. Penggarap menerima 1/5 hasil panen.

13. Derep, penggarap/buruh terutama menanam padi, tetapi dapat diminta membantu pekerjaan lain sampai panen tiba. Bagian buruh adalah 1/5 padi bulir, tetapi bilamana hasilnya jelek bagiannya dapat berkurang.

14. Gotong royong, suatu kegiatan yang biasanya mengikutsertakan anggota keluarga saja. Penggarap mendapat bagian yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan kebiasaan.

15. Sewa adalah penyerahan sementara hak penguasaan tanah kepada orang lain, sesuai dengan perjanjian, dibuat bersama oleh pemilik dan penyewa yang antara lain berbentuk motong, kontrak, setoran (dimana ketiga jenis sewa tersebut harga sewanya dibayar setelah panen). Sementara itu, jual oyodan atau jual potongan dan sewa tahunan harga sewa dibayar sebelum penyewa menggarap .

16. Gadai adalah penyerahan hak atas sebidang tanah kepada orang lain untuk menerima pembayaran sejumlah uang secara tunai, dengan ketentuan si penjual tetap berhak atas pengembalian tanahnya dengan jalan menebusnya kembali.

17. Pemilik penggarap murni adalah rumah tangga petani pemilik tanah yang menggarap sendiri tanahnya dan tidak menggarap lahan milik orang lain.

18. Pemilik penggarap penyewa adalah rumah tangga petani pemilik tanah yang menggarap sendiri tanahnya dan menggarap tanah yang disewa dari orang lain.

19. Pemilik penggarap penyakap adalah rumah tangga petani pemilik yang menggarap sendiri tanahnya dengan menggunakan tenaga kerja dalam rumah tangga dan atau tenaga kerja luar rumah tangga, menyewa dan menyakap tanah orang lain.

20. Penyewa murni adalah rumah tangga petani yang tidak memiliki tanah, yang menyewa tanah orang lain, menggarap sendiri dengan menggunakan tenaga kerja dalam rumah tangganya.

21. Penyakap murni adalah rumah tangga petani yang tidak memiliki tanah, yang menyakap tanah orang lain, menggarap sendiri dengan menggunakan tenaga kerja dalam rumah tangga.

22. Pemilik bukan penggarap adalah rumah tangga yang memiliki tanah tetapi tidak menggarap sendiri tanahnya secara langsung, karena tanahnya tersebut dikuasakan kepada orang lain melalui bagi hasil dan atau sewa.

23. Petani tunakisma adalah rumah tangga petani yang tidak memiliki tanah dan tidak memiliki tanah garapan, baik melalui mekanisme penyakapan maupun penyewaan.

24. Mata pencaharian adalah aktivitas atau kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan penghasilan.

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kualitatif yang digunakan bersifat naturalistik karena tidak memanipulasi “ajang” (Taylor dan Bogdan, 1984:5-8; Patton, 1990: 39-63;

Denzin dan Lincoln, 1994: 4-6; Guba dan Lincoln, 1994:105-7) dalam Sitorus, 1998. Penelitian ini bertujuan eksploratif karena untuk menjelaskan

“apa/bagaimana peristiwa atau gejala sosial yang terjadi” (Sitorus, 1998). Pada penelitian ini, pendekatan kualitatif dipilih karena dianggap sesuai untuk memberikan penjelasan mengenai penerapan sistem tenurial di pedesaan.

Strategi penelitian kualitatif yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kasus. Studi kasus adalah memilih satu kejadian atau gejala untuk diteliti dengan menerapkan berbagai metode (Stake, 1994:236 dalam Sitorus, 1998).

Pemilihan strategi tersebut karena terkait dengan tujuan penelitian ini yaitu eksplorasi. Ekplorasi dimaksudkan untuk meneliti gejala yang belum banyak dimengerti (Marshall dan Rossman 1989:78 dalam Sitorus 1998). Penelitian ini merupakan studi pada aras mikro yaitu menyoroti satu kasus mengenai sistem tenurial di pedesaan. Selain itu, dalam penelitian ini juga digunakan metode triangulasi. Metode triangulasi adalah penggunaan sejumlah metode dalam suatu penelitian (Denzin 1970: 301-10 dalam Sitorus 1998). Beberapa metode yang digunakan antara lain wawancara mendalam, observasi lapang, dan analisis dokumen.

Tipe studi kasus yang digunakan adalah tipe intrinsik. Studi kasus intrinsik adalah studi yang dilakukan karena peneliti ingin mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang suatu kasus (Stake, 1994: 237 dalam Sitorus 1998). Studi kasus tipe intrinsik dilakukan karena penelitian ini bertujuan untuk memahami satu kasus14. Selain itu, ingin mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang penerapan sistem tenurial di pedesaan.

Sementara itu, pendekatan kuantitatif digunakan untuk mencari informasi faktual secara mendetail yang sedang menggejala dan mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan dan kegiatan – kegiatan yang sedang berjalan (Wahyuni dan Mulyono, 2006). Pendekatan tersebut khusus diterapkan untuk memperoleh data distribusi kepemilikan lahan.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di daerah pedesaan, tepatnya di Desa Cibatok 1 , Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Satuan wilayah yang diteliti dalam penelitian adalah RW 5 dan RW 6 yang secara administratif masuk kedalam Dusun 3 (Lampiran 1 dan 2 ). Lokasi ini dipilih secara sengaja dengan pertimbangan sebagai berikut :

1. Lokasi penelitian merupakan wilayah dusun pedesaan yang mudah dijangkau 2. Komunitas Desa Cibatok 1 adalah komunitas desa agraris, karena luas tanah

pertanian yang diusahakan penduduk adalah 60 persen yaitu sekitar 100 ha.

14Diperoleh dari slide Mata Kuliah MPK oleh Ivanovich Agusta , Msi. Pada 30 Maret 2007.

3. Terdapat beberapa kategori petani (minimal pemilik tanah, penggarap dan buruh tani)

Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan, dimulai dari bulan April 2008 – Juni 2008. Rincian rencana kegiatan yang dilakukan antara lain proses penyusunan proposal dan kolokium dilaksanakan pada bulan April, studi lapang atau pengambilan data di lapangan dilaksanakan pada bulan April hingga Mei.

Kemudian, proses penulisan laporan hasil penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai bulan Juli. (Lampiran 3.)

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengambilan data primer dan sekunder, wawancara mendalam kepada responden dan informan, melakukan pengamatan berperanserta secara langsung di lapangan dan penyebaran kuesioner. Pengumpulan data yang dilakukan untuk setiap data yang diperoleh dari beberapa sumber data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian sebagai alat bantu pengumpulan data adalah peneliti itu sendiri yang mencatat semua uraian perkataan tineliti tentang identitas, hal-hal yang menyangkut pandangan, sikap, pendapat masyarakat yang berkaitan dengan sistem tenurial, pedoman wawancara dan kuesioner.

Wawancara mendalam dimaksudkan adalah “temu muka berulang antara peneliti dan tineliti dalam rangka memahami pandangan tineliti mengenai hidupnya, pengalamannya ataupun situasi sosial sebagaimana ia ungkapkan dalam bahasanya sendiri” (Taylor dan Bogdan, 1984:77 dalam Sitorus 1998).

Wawancara mendalam dilakukan dengan menggunakan panduan pertanyaan yang dilakukan kepada subyek penelitian serta informan. Panduan pertanyaan tersebut berkenaan dengan hal-hal yang ada kaitannya dengan topik penelitian yaitu Distribusi Kepemilikan Lahan dan Sistem Tenurial.

Pengamatan dilakukan agar peneliti dapat melihat, merasakan dan memaknai gejala sosial yang terjadi pada dunia tineliti sehingga dapat memungkinkan pembentukan pengetahuan secara bersama antara peneliti dan tineliti. Analisis data sekunder yang dilakukan adalah dengan mengambil data-data dari penelitian sebelumnya dan dari dokumen atau arsip desa. Penyebaran kuesioner merupakan teknik pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner kepada responden.

3.4. Teknik Penentuan Responden dan Informan Kunci

Populasi dari penelitian ini merupakan petani di wilayah Dusun 3, Desa Cibatok 1. Dusun 3 dipilih secara purposif atau sengaja sebagai tempat penentuan responden dan informan kunci karena di daerah Dusun 3 banyak penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani khususnya di wilayah RW 5 dan RW 6.

Teknik penentuan responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik random sampling. Teknik random sampling yaitu sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan atau peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel (Wahyuni dan Mulyono, 2006). Populasi yang dimaksudkan oleh peneliti adalah populasi sasaran yaitu suatu populasi yang sengaja dipilih untuk diteliti.

Populasi sasaran disini adalah petani. Metode pengambilan sampel dengan teknik random sampling ini ditempuh melalui cara undian.

Berdasarkan hasil studi penjajagan lapang diketahui terdapat 103 kepala rumah tangga yang bermata pencaharian sebagai petani di wilayah RW 5 dan RW 6. Jumlah responden yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 40 orang.

Jumlah responden tersebut diperoleh dari perhitungan 41 persen15 dari jumlah petani di RW 5 dan RW 6 Dusun 3, Desa Cibatok 1 yaitu 103 KK. Responden berjumlah 40 orang karena secara statistik lebih dari 30 orang responden maka data yang disebarkan akan lebih meyakinkan hasilnya.

Informan untuk penelitian ini adalah aparatur desa, tokoh masyarakat, ketua kelompok tani ditingkat dusun, dan ketua RW. Mereka dipilih karena dianggap memiliki pengetahuan mengenai kondisi umum berkaitan dengan kepemilikan dan penguasaan lahan serta permasalahan – permasalahan yang terkait dengan struktur agraria di wilayah mereka. Dipilihnya informan tersebut karena mereka memiliki banyak informasi mengenai pertanian atau mengenai kondisi keagrariaan di daerah penelitian meliputi kepemilikan dan penguasaan lahan pertanian.

15Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Modul Kuliah Metode Penelitian Sosial mengenai ukuran sampel (halaman 56) oleh Wahyuni dan Mulyono ( 2006), diketahui bahwa beberapa peneliti menyatakan bahwa besarnya sampel tidak boleh kurang dari 10 persen dan ada pula peneliti yang menyatakan bahwa besarnya sampel minimum 5 persen. Sehingga berdasarkan hal tersebut peneliti menentukan besarnya sampel sebanyak 41 persen dari populasi sasaran.

3.5. Teknik Analisis Data

Data-data hasil wawancara, hasil observasi maupun kutipan dan saduran dari berbagai dokumen disajikan dalam suatu catatan harian yang dianalisis sejak pertama kali datang ke lapangan dan berlangsung terus-menerus selama penelitian berjalan. Data kuantitatif diolah dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan analisa deskriptif dengan menggunakan software Microsof excel 2007.

Data-data tersebut kemudian direduksi yakni melalui proses pemilihan, pemusatan perhatian, serta penyederhanaan data-data kasar yang diperoleh dari catatan harian. Selain itu, peneliti juga mencocokan data yang didapat dengan data yang dimiliki desa dan menganalisisnya menjadi draf pertama yang terus diperbaiki dan disempurnakan sehingga menjadi laporan penelitian yang baik dan ilmiah. Data tersebut kemudian dipetakan atau ditipologikan berdasarkan golongan – golongan tertentu. Data tersebut kemudian disajikan dalam bab – bab yang dikembangkan dari hasil perolehan data di lapang.

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1. Letak Administratif

Secara administratif Desa Cibatok 1 terletak di wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Wilayah Desa Cibatok 1 dibatasi oleh Desa Cimanggu 2 di sebelah utara, Desa Cibatok 2 di sebelah selatan, Desa Cicadas di sebelah timur, dan Desa Cemplang di sebelah barat. Jarak dari Desa Cibatok 1 ke Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah 10 kilometer, yang dapat ditempuh dengan kendaran roda dua selama 10 – 15 menit dan dengan kendaraan roda empat selama 30 menit.

Jalan yang menghubungkan Desa Cibatok 1 dengan kota kecamatan, kabupaten dan provinsi relatif sudah baik. Demikian pula jalan – jalan yang menghubungkan Desa Cibatok 1 dengan desa – desa lainnya yang berada di wilayah Kecamatan Cibungbulang. Hal tersebut telah banyak membuka kesempatan masyarakat desa untuk mengembangkan usaha, baik itu usaha di bidang pertanian maupun di luar bidang pertanian. Desa Cibatok 1 memiliki tiga dusun yang dibagi lagi menjadi 9 RW dan 28 RT.

Pola pemukiman penduduk Desa Cibatok 1 pada umumnya berjajar mengikuti alur jalan yang ada. Rumah – rumah yang terletak di daerah jalan utama atau dekat dengan kantor desa umumnya adalah rumah – rumah permanen dengan bangunan tembok. Sementara rumah-rumah di wilayah pedusunan bangunannya cukup beragam, mulai bangunan tembok, semi permanen atau rumah kayu.

4.2. Kondisi Agronomi

Luas wilayah Desa Cibatok 1 adalah 174 hektar. Sekitar 100 hektar digunakan untuk pertanian dan sisanya untuk area pemukiman, kuburan, jalan, tempat peribadatan (masjid), kantor pemerintah desa, sekolah, puskesmas dan sarana prasarana umum masyarakat lainnya. Desa Cibatok 1 terletak pada ketinggian 250 m diatas permukaan laut dengan jumlah dan curah hujan 236 m3.

Kurang lebih 60 persen luas tanah di Desa Cibatok 1 digunakan untuk areal pertanian. Komoditas pertanian yang dihasilkannya antara lain padi, singkong, ubi jalar, jagung kacang panjang, terong, cabai, ketimun dan pepaya.

Meskipun sektor unggulan desa ini adalah pertanian tapi sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai pedagang. Hal ini dikarenakan petani di desa ini juga merangkap sebagai pedagang. Selain kedua sektor tersebut, sektor peternakan juga dapat ditemukan di desa ini.

Sumber daya alam yang dominan ditemukan di Desa Cibatok 1 adalah sungai dan sumber mata air. Sungai-sungai utama yang mengalir di desa ini yaitu Sungai Cibungbulang, Sungai Ciaruteun, dan Sungai Leuwi Jengkol. Sungai – sungai ini menjadi sumber irigasi pertanian di samping sumber mata air. Sumber daya alam yang lain misalnya batu, kerikil, dan pasir dari sungai, ikan, hasil-hasil alam lainnya.

4.3. Kependudukan

Desa Cibatok 1 pada tahun 2007 memiliki jumlah penduduk sebesar 8083 jiwa dengan jumlah keluarga 1825 Kepala Keluarga (KK). Penduduk sebagian besar bermata pencaharian rangkap yaitu sebagai petani dan sekaligus pedagang.

Desa ini memiliki tiga dusun, 9 RW, dan 28 RT.

Pada tahun 2008 Jumlah penduduk adalah 8136 jiwa dengan jumlah laki – laki 4123 jiwa dan perempuan sebanyak 4013 jiwa. Sedangkan jumlah keluarga adalah 1947 KK diantaranya; keluarga pra sejahtera sebanyak 746 KK, keluarga sejahtera satu sebanyak 337 KK, keluarga sejahtera dua sebanyak 44 KK, keluarga sejahtera tiga sebanyak 331 KK dan keluarga sejahtera tiga plus sebanyak 91 KK.

4.4. Pendidikan

Tingkat pendidikan penduduk Desa Cibatok 1 bervariasi, mulai dari tingkat pendidikan dasar, menengah, atas serta perguruan tinggi. Berdasarkan informasi dari aparat desa, untuk kondisi sekarang tingkat pendidikan masyarakat semakin baik. Sebagian besar generasi muda desa mampu menyelesaikan pendidikan hingga tingkat atas.

Selain sarana bagi pendidikan formal, Desa Cibatok 1 juga menyediakan fasilitas belajar bagi masyarakat yang masih buta huruf melalui program keaksaraan fungsional (KF). Hal tersebut juga menunjang peningkatan mutu sumberdaya manusia.

4.5. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang tersedia di desa ini dapat dibilang lengkap.

Prasarana jalan menuju Desa Cibatok 1 dan yang menghubungkan Desa Cibatok 1 dengan desa – desa tetangganya sudah menggunakan perkerasan aspal, sehingga memudahkan proses transportasi. Demikian pula halnya dengan prasarana jalan antar dusun, juga sudah diaspal. Di Desa Cibatok 1 sudah terdapat angkutan desa (angdes) yang beroprasi dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB, dan ojeg yang beroperasi lebih lama dari angdes.

Sarana umum masyarakat yang ada di Desa Cibatok 1 adalah masjid, kantor desa, sarana pendidikan (SD, SMP, SMA dan pesantren), puskesmas sebagai sarana kesehatan, kios-kios, koramil serta sarana prasarana umum lainnya mudah ditemukan dan dijangkau oleh masyarakat. (Lampiran 9)

Ketersediaan air bersih cukup memadai yang diperoleh dari sumur gali, mata air dan sumur pompa. Sarana pembuangan sampah masih belum baik sehingga sebagian besar penduduk setampat membuang sampah sembarangan.

Hal ini akan mengakibatkan tingginya potensi serangan berbagai macam penyakit yang tidak diinginkan.

4.6. Mata Pencaharian

Desa Cibatok 1 merupakan daerah yang dapat disebut dengan istilah desa – kota. Adapun ciri dari desa – kota antara lain, telah memiliki sarana komunikasi yang baik, transportasi yang lancar, pasar yang mudah dijangkau, sumber nafkah non-pertanian yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakatnya (walaupun, sebagian besar lahannya masih dimanfaatkan untuk pertanian) telah terjadi konversi lahan didalamnya, adanya keikutsertaan pihak luar dalam kepemilikan lahan.

Kondisi yang demikian memungkinkan keanekaragaman mata pencaharian dan diterapkannya pola nafkah ganda di Desa Cibatok 1. Sekitar 50 persen penduduk bermata pencaharian sebagai pedagang. Sementara itu, 50 persen lainnya bermata pencaharian sebagai petani, pegawai negeri, pegawai swasta, wiraswasta, pertukangan, buruh bangunan, tukang ojeg dan supir.

Lebih dari 60 persen petani memiliki pekerjaan sampingan seperti pedagang. Pola nafkah ganda misalnya bertani dan berdagang biasanya diterapkan oleh petani yang luas lahannya lebih besar atau sama dengan 1 ha serta buruh tani yang memiliki keluarga sebagai petani kaya. Petani tersebut seringkali menjual barang dagangannya yang berupa hasil panen ke kota yaitu pasar di Bogor dan di Jakarta.

Profesi sebagai petani banyak digeluti oleh para generasi tua. Sementara itu, para pemuda di Desa Cibatok 1 cenderung memiliki minat yang rendah terhadap pertanian. Para generasi muda di Desa Cibatok 1 memilih bekerja sebagai supir, tukang ojeg dan buruh bangunan.

V. DISTRIBUSI KEPEMILIKAN LAHAN DESA CIBATOK 1

5.1. Sejarah Penguasaan dan Kepemilikan Lahan Pertanian Di Desa Cibatok 1

Secara historis, Desa Cibatok 1 berdiri sejak sekitar 100 tahun lalu yaitu sekitar tahun 1908. Akan tetapi, tidak terdapat keterangan bagaimana awal mula desa tersebut didirikan. Sementara itu, pemilikan tanah di Desa Cibatok 1 secara garis besar diperoleh dengan cara membuka hutan, namun bukan hutan belantara hanya hutan – hutan kecil seperti hutan bambu. Hal tersebut dikarenakan sebelumya tidak terdapat hutan lebat atau belantara di daerah ini. Berikut hasil wawancara dengan salah seorang sesepuh di Desa Cibatok 1.

“Disini mah setahu saya, tidak ada hutan lebat yang pohonnya gede-gede gitu. Menurut dongeng-dongeng dari kakek buyut saya, disini dulu adanya hutan kecil, kayak hutan bambu, semak-semak gitu.”

Berdasarkan keterangan dari sekretaris desa, sebagai berikut.

“Gak ada hutan belantara dulunya, setahu saya emang udah ada rumah, tapi jaraknya jauh-jauh. Nah, adanya mah hutan-hutan kecil.”

Kepemilikan tanah yang diperoleh dengan cara membuka hutan tersebut dimiliki secara turun – temurun. Tanah yang dimiliki tersebut oleh warga sekitar dinamakan dengan tanah adat dengan bukti kepemilikan lahan yang disebut girik.

Tanah yang dimiliki dikelola secara perseorangan kemudian diwariskan secara turun – temurun kepada generasi berikutnya. Di Desa Cibatok 1, tidak terdapat tanah yang dikelola secara komunal. Selain dari proses warisan, kepemilikan lahan juga dapat melalui proses jual beli. Pada awal abad ke 20, sudah terdapat

proses jual beli namun masih terbatas. Sebagian besar proses kepemilikan lahan diperoleh melalui warisan.

Menurut keterangan responden pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1930 – an, tanah di Desa Cibatok dikuasai oleh tuan tanah. Jadi, walaupun penduduk setempat yang memiliki tanah, namun dari segi pengelolaan tanah dan tanaman yang ditanam ditentukan oleh tuan tanah. Selain dari segi pola tanam, tuan tanah juga menentukan besarnya pajak16 yang harus dibayar oleh masyarakat pada masa itu serta menentukan kepala desa yang berhak memimpin Desa Cibatok 1, kemudian bersama kepala desa yang telah terpilih menentukan orang-orang yang berhak menjadi aparat desa.

Kepala desa yang dipilih oleh tuan tanah adalah seseorang yang memiliki tanah yang luas, ternak yang banyak dan rumah yang besar. Sementara itu, aparat desa yang dipilih juga merupakan orang-orang yang dapat dikatakan mampu didesa. Ciri aparat desa yang demikian, menyebabkan tanah bengkok tidak terdapat di Desa Cibatok 1, karena dinilai tidak terlalu diperlukan oleh para pejabat desa. Tanah kas desa juga tidak pernah ada di Desa Cibatok 1. Selain itu, tuan tanah tidak mengizinkan adanya tanah kas desa.17 Alasannya karena masyarakat desa setempat hampir semuanya memiliki lahan pertanian.

Menurut keterangan nara sumber di Desa Cibatok 1, pertanian mulai berkembang pada kisaran tahun 1960 – 1970-an. Hal tersebut ditandai dengan adanya panca usaha tani dan penerapan revolusi hijau. Pada waktu itu, wilayah

16Tidak ada data maupun informasi yang menjelaskan mengenai berapa besarnya pajak.

17Diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan nara sumber yaitu Bapak Bahram yang merupakan sesepuh di Desa Cibatok 1

Dalam dokumen ARTANTI YULAIKA IRIANI A (Halaman 61-0)

Dokumen terkait