• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Transfer Kepemilikan Lahan Pertanian

Dalam dokumen ARTANTI YULAIKA IRIANI A (Halaman 80-84)

BAB V DISTRIBUSI KEPEMILIKAN LAHAN PERTANIAN DI DESA

5.2 Sistem Transfer Kepemilikan Lahan Pertanian

Penerapan sistem transfer lahan pertanian melalui jual beli dan waris yang diserta dengan bukti kepemilikan lahan pertanian berupa surat bukti kepemilikan lahan pertanian. Berikut ini merupakan paragraf-paragraf yang menjelaskan hal di atas secara detail.

Kepemilikan lahan di Desa Cibatok 1 disini dimaksudkan sebagai suatu bentuk penguasaan formal yang diperoleh melalui dua cara yaitu waris dan jual beli. Sistem waris sudah sejak lama diterapkan di Desa Cibatok 1. Sementara itu, sistem jual beli juga sudah ada sejak dahulu, namun menjadi lebih sering dilakukan sejak tahun 1990-an.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 40 orang responden yang bermata pencaharian sebagai petani, diketahui bahwa tidak ada lahan pertanian di Desa Cibatok 1 yang murni hanya berasal dari proses jual beli, karena pada awalnya sistem pewarisan secara turun-temurun sudah diterapkan sejak lama. Jadi, tidak ada petani dari 40 responden yang memiliki lahan pertanian hanya dari hasil jual beli. Akan tetapi, terdapat kemungkinan mengenai dimilikinya lahan pertanian yang murni hanya dari proses jual beli pada petani-petani lainnya di Desa Cibatok 1. Terdapat 39 persen dari keseluruhan responden menyatakan bahwa lahan pertanian yang mereka miliki berasal dari warisan. Sementara itu, 61 persen dari keseluruhan responden menyatakan bahwa lahan pertanian yang mereka miliki berasal dari praktek jual beli dan warisan. Berikut ini penjelasan mengenai penerapan praktek waris dan jual beli, yang disajikan dalam Tabel 2.

Tabel. 2. Asal Kepemilikan Lahan Pertanian di Desa Cibatok 1 Data Asal Kepemilikan Lahan Pertanian

di Desa Cibatok 1

Persentase

Jual beli 0 %

Warisan 39 %

Jual beli dan Warisan 61 %

Sumber : Data Primer 2008 Desa Cibatok 1

5.2.1. Waris

Sistem waris biasanya dilakukan sebelum pemberi waris meninggal dunia, namun apabila pemberi waris meninggal secara mendadak, maka pewarisan dilakukan setelah pemberi waris meninggal dunia. Sistem waris di Desa Cibatok 1, dilakukan dengan pemberian tanah kepada pihak keluarga, luas tanah yang diberikan kepada anak laki – laki maupun perempuan tidak dibedakan. Di Desa Cibatok 1 juga diterapkan sistem waris berpedoman pada hukum Islam, yaitu ada pembedaan antara luas tanah yang diberikan kepada laki – laki dan perempuan.

Laki-laki diberi tanah yang lebih luas daripada perempuan, hal tersebut disebabkan laki-laki dianggap lebih membutuhkan karena bertanggung jawab terhadap rumah tangganya.

Berdasarkan hasil wawancara mendalam, pewarisan dilakukan oleh petani yang merasa dirinya sudah tidak mampu lagi mengelola lahan pertanian yang dimilikinya. Alasan yang mendasari pewarisan dilakukan sebelum orang tua meninggal adalah agar tidak terjadi pertikaian antar anggota keluarga yang saling merebutkan warisan serta supaya setiap anggota keluarga khususnya keluarga inti mendapatkan warisan secara adil.

Tanah-tanah yang diperoleh melalui proses warisan, pada umumnya status kepemilikannya hanya berupa bukti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Status

kepemilikan lahan dengan balik nama jarang dilakukan karena faktor biaya yang cukup mahal. Akan tetapi, dalam jangka waktu tertentu yaitu sekitar 10 tahun proses balik nama dilakukan. Hal tersebut dikarenakan agar mengantisipasi terjadinya konflik dalam keluarga dan atas himbauan dari pihak aparat desa mengenai pentingnya balik nama atas tanah yang dimiliki.

5.2.2. Jual Beli

Di Desa Cibatok 1 ini, tidak terdapat data angka yang dapat menunjukkan secara pasti banyaknya transaksi jual beli lahan pertanian setiap tahunnya, namun transaksi jual beli lahan pertanian pada saat sekarang ini sering terjadi.

Transaksi jual beli yang terjadi banyak yang tidak diketahui aparat desa.

Penyebabnya adalah para pemilik yang menjual lahannya seringkali tidak melibatkan pemerintah desa, karena menurut mereka jika melibatkan pemerintah desa akan mengeluarkan biaya tambahan yang jumlahnya cukup besar.

Di Desa Cibatok 1, transaksi jual beli terjadi antara pihak penjual dan pembeli serta melibatkan satu orang saksi. Saksi dalam transaksi jual beli tersebut biasanya dari kalangan keluarga. Kesepakatan transaksi jual beli tanah, dilandasi atas dasar saling percaya. Biasanya transaksi jual beli terjadi diantara keluarga, hal ini dimaksudkan agar tanah yang terjual tidak jatuh ke pihak luar keluarga. Akan tetapi, terkadang 2 belah pihak yaitu penjual dan pembeli melibatkan saksi yang berasal dari pemerintah desa.

Oleh karena transaksi jual beli sebagian besar terjadi dikalangan keluarga besar, status kepemilikan lahan yang sudah berganti pemilik hanya berdasarkan

pada Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan tidak terjadi balik nama. Bukti kepemilikan yang hanya berupa PBB tersebut, dikhawatirkan akan dapat menimbulkan konflik. Para pembeli tanah di Desa Cibatok 1 ada yang berasal dari dalam maupun luar desa, seperti dari Kota Bogor, Desa Cicadas, Desa Cibatok 2, Desa Cimanggu 2, dan Desa Cemplang.

Harga tanah sawah di Desa Cibatok satu bervariasi, yaitu berkisar antara Rp. 15.000,00 sampai Rp. 50.000,00 permeter persegi. Tanah yang lokasinya dipinggir jalan raya berharga lebih mahal, yaitu sekitar Rp. 50.000,00 permeter persegi. Tanah yang terletak tidak terlalu jauh dari jalan raya berharga sekitar Rp.

30.000,00 permeter persegi sedangkan tanah yang berada jauh dari jalan raya dan sulit dijangkau harganya berkisar Rp. 15.000,00 permeter persegi. Daya beli akan lahan pertanian penduduk luar Desa Cibatok 1 (bukan penduduk asli) lebih tinggi daripada penduduk asli Desa Cibatok 1 itu sendiri. Hal tersebut ditunjukkan salah satunya oleh pemilik lahan pertanian di Desa Cibatok 1 bukan penduduk asli desa.

Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan ketua kelompok tani Di Desa Cibatok 1 menyebutkan bahwa

Disini teh, yang suka beli-beli tanah malah bukan orang asli desa, tapi orang yang bukan penduduk asli desa. Di desa ini yang sawahnya paling luas aja bukan orang asli sini Neng.”

Alasan penduduk yang menjual tanah umumnya dikarenakan oleh kebutuhan hidup yang mendesak seperti biaya berobat dan menyekolahkan anak.

Akan tetapi, ada juga yang menjual tanahnya karena alasan ekonomis yaitu untuk mendapatkan keuntungan serta karena ingin pindah ke tempat lain. Sementara itu, alasan membeli tanah adalah untuk menyelamatkan tanah milik keluarga (jika

transaksi jual beli antar anggota keluarga) serta untuk memperluas lahan pertanian.

Dalam dokumen ARTANTI YULAIKA IRIANI A (Halaman 80-84)

Dokumen terkait