• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTANTI YULAIKA IRIANI A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ARTANTI YULAIKA IRIANI A"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

DISTRIBUSI KEPEMILIKAN LAHAN PERTANIAN DAN SISTEM TENURIAL DI DESA-KOTA

(

Kasus Desa Cibatok 1, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat

)

ARTANTI YULAIKA IRIANI A14204004

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

RINGKASAN

ARTANTI YULAIKA IRIANI. Distribusi Kepemilikan Lahan dan Sistem Tenurial di Desa-Kota (Kasus Desa Cibatok 1, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor,

Propinsi Jawa Barat). Dibawah Bimbingan SATYAWAN SUNITO.

Masalah tenurial merupakan masalah mengenai pola penguasaan lahan.

Pemusatan penguasaan tanah pada sekelompok kecil anggota masyarakat merupakan pertanda adanya ketimpangan dalam penyebarannya. Ketimpangan dalam pemilikan lahan memungkinkan terjadi di beberapa desa pinggiran kota.

Adapun ciri-cirinya antara lain adanya sumber nafkah non-pertanian yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakatnya walaupun sebagian besar lahannya masih dimanfaatkan untuk pertanian serta dengan adanya keikutsertaan pihak luar dalam kepemilikan lahan. Kondisi yang demikian memungkinkan diterapkannya beberapa bentuk sistem tenurial di dalamnya.

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi kepemilikan lahan. Setelah peneliti mengetahui distribusi kepemilikan lahan, peneliti juga ingin mengetahui pola penguasaan lahan pertanian serta ingin mengetahui penerapan sistem sewa, gadai dan bagi hasil di wilayah desa penelitian, sehingga akan diketahui sistem tenurial yang dominan dilakukan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif (metode survei). Untuk metode survei dipilih secara random sampling 40 orang responden yang merupakan petani. Data primer juga dikumpulkan dari sejumlah informan. Lokasi penelitian adalah Desa Cibatok 1, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat.

(3)

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pemilikan tanah di Desa Cibatok 1 secara garis besar diperoleh dengan cara membuka hutan sekitar tahun 1908. Kepemilikan tanah yang diperoleh dengan cara membuka hutan tersebut dimiliki perseorangan secara turun-temurun. Pada saat sekarang ini, harga lahan sawah berkisar antara Rp. 50.000,00 sampai Rp. 15.000,00 permeter persegi. Jenis lahan pertanian yang dimiliki adalah sawah irigasi dengan tanaman yang diusahakan meliputi padi, singkong, ubi jalar, jagung kacang panjang, terong, cabai, ketimun, dan pepaya.

Kepemilikan lahan di Desa Cibatok 1 diperoleh melalui dua cara yaitu waris dan jual beli. Terdapat 39 persen, yang lahan pertaniannya dimiliki berasal dari warisan. Sementara itu, 61 persen lahan pertanian dari praktek jual beli dan warisan. Struktur distribusi pemilikan lahan sawah di Desa Cibatok 1 menunjukkan ketimpangan. Dari distribusi kepemilikan lahan pertanian diketahui beberapa golongan petani di Desa Cibatok 1 yaitu yaitu petani kaya (≥1 ha) sebanyak 5 orang, 3 orang petani menengah (0,500-0,999 ha), 10 orang petani miskin ( 0,001-0,499 ha) dan tunakisma (0 ha) sebanyak 22 orang. Ketimpangan kepemilikan lahan pertanian di Desa Cibatok 1 ditunjukkan oleh Indeks Gini pemilikan lahan sawah mencapai angka 0,348; Indeks Kuznet’s pemilikan lahan sawah mencapai angka 0,824; dan berdasarkan perhitungan Bank Dunia pemilikan lahan sawahnya berada dibawah 7 persen.

Bagi masyarakat yang tidak bekerja pada sektor non pertanian cenderung tidak merasa peduli pada ketimpangan yang terjadi. Hal tersebut disebabkan karena menurunnya minat masyarakat desa terhadap pertanian yang terjadi sekitar awal tahun 1990-an. Pada beberapa petani yang memiliki lahan sawah yang

(4)

luasnya ≥1 ha, 0,500-0,999 ha, 0,001-0,499 ha dan tunakisma, tanah memiliki arti penting pada segi ekonomi dan tidak begitu memiliki arti penting pada segi politik. Selain itu memiliki tingkat kepentingan yang berbeda-beda pada segi sosial.

Di Desa Cibatok 1, terdapat 3 jenis penguasaan lahan pertanian yaitu sewa yang sering disebut dengan istilah ngontrak., bagi hasil sering disebut dengan istilah paro dan gadai yang biasa disebut dengan istilah ngade’. Sistem tenurial yang dominan diterapkan di Desa Cibatok 1 adalah sistem sewa. Sementara itu.

Sistem bagi hasil dominan diterapkan pada lahan sawah yang khusus ditanami padi.

Berdasarkan akses petani terhadap lahan pertanian di Desa Cibatok 1, petani yang luas lahannya ≥1 ha, 0,500-0,999 ha, 0,001-0,499 ha dan petani tunakisma memiliki tingkatan akses yang berbeda-beda pada lahan sawah.

Perbedaan tersebut didasarkan pada usaha mereka untuk memiliki dan menguasai lahan. Kepemilikan lahan sawah dapat diperoleh dari proses jual beli dan warisan maupun keduanya. Sementara itu, untuk menguasai lahan sawah dapat diperoleh dari praktek sewa, bagi hasil dan gadai. Di Desa Cibatok 1, petani yang luas lahannya ≥2 ha memiliki akses yang lebih tinggi dari petani yang luas lahannya antara 1 - 2 ha. Petani yang luas lahannya antara 1 - 2 ha memiliki akses yang lebih tinggi dari pada petani yang luas lahannya < 1 ha. Petani tunakisma memiliki akses yang paling rendah terhadap lahan sawah dibandingkan ketiga golongan petani diatas.

(5)

DISTRIBUSI KEPEMILIKAN LAHAN PERTANIAN DAN SISTEM TENURIAL DI DESA-KOTA

(Kasus Desa Cibatok 1 Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat)

ARTANTI YULAIKA IRIANI A14204004

Skripsi

Sebagai Bagian Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

Pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

(6)

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi oleh:

Nama Mahasiswa : Artanti Yulaika Iriani Nomor Pokok : A14204004

Judul : Distribusi Kepemilikan Lahan Pertanian dan Sistem Tenurial Di Desa – Kota. Kasus Desa Cibatok 1 Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat.

Dapat diterima sebagai syarat gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Satyawan Sunito NIP. 131968005

Diketahui,

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP. 131 124 019

Tanggal Lulus Ujian :

(7)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI BERJUDUL DISTRIBUSI KEPEMILIKAN LAHAN PERTANIAN DAN SISTEM TENURIAL DI DESA-KOTA KASUS DESA CIBATOK 1, KECAMATAN CIBUNGBULANG, KABUPATEN BOGOR, PROPINSI JAWA BARAT.

ADALAH HASIL KARYA SAYA SENDIRI DENGAN ARAHAN DOSEN PEMBIMBING DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN

TINGGI MANAPUN ATAU LEMBAGA AKADEMIK LAIN UNTUK

TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. BAHAN

RUJUKAN BERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG

DITERBITKAN ATAUPUN YANG TIDAK DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN.

Bogor, Agustus 2008

Artanti Yulaika Iriani A14204004

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada tanggal 21 Juli 1985 sebagai putri pertama dari tiga bersaudara. Putri dari Bapak Budiyono dan Ibu Lisminah.

Penulis menempuh pendidikan TK Cempaka III Purworejo pada tahun 1992, Sekolah Dasar Negeri No. 24 Bengkulu tahun 1998, SMP Negeri 1 Bengkulu tahun 2001, dan SMU Negeri 5 Bengkulu tahun 2004, kemudian penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2004 melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB). Penulis memilih Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian.

Selama menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor, penulis pernah menjadi Asisten Praktikum mata kuliah Sosiologi Umum Tahun Ajaran 2006/2007 dan tahun ajaran 2007/2008 di semester ganjil. Penulis juga pernah menjadi Asisten Praktikum mata kuliah Sosiologi PedesaanTahun Ajaran 2006/2007 dan tahun ajaran 2007/2008. Selain itu, penulis pernah menjadi Asisten Praktikum mata kuliah Pengantar Ilmu Kependudukan Tahun Ajaran 2006/2007 dan tahun ajaran 2007/2008.

(9)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat, karunia-Nya dan terimakasih atas berjuta kesempatan untuk selalu mensyukuri nikmat dan cobaan yang penuh dengan pelajaran berharga, dengan rahmat dan kasih sayang-Nya penyusunan skripsi ini yang berjudul “Distribusi Kepemilikan Lahan Pertanian dan Sistem Tenurial di Desa – Kota (Kasus : Desa Cibatok 1 Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat)”

dapat diselesaikan. Salawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, dengan suri tauladan yang beliau contohkan sehingga manusia berusaha mengistiqomahkan diri pada tuntunan yang benar. Amin.

Penyusunan skripsi ini banyak dibantu oleh berbagai pihak yang telah memberikan saran, bimbingan, dan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada :

1. Allah SWT atas segala anugrah berupa rizki dan kekuatan yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Dr. Satyawan Sunito. Selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan mengenai pembuatan skripsi yang baik sesuai tema dan kaidah-kaidah penulisan.

3. Bapak Budiyono dan Ibu Lisminah yang sangat berarti dalam mendukung penulis untuk melakukan segala aktivitas pendidikan serta untuk segala perhatian dan kasih sayang yang diberikan kepada penulis. Tanpa bapak dan ibu, penulis tidak dapat menyelesaikan semua tugas.

4. Adik Beta Yuli Dameswari dan Muhammad Saung Penggalih atas segala perhatian, dukungan dan selalu menghibur penulis selama ini.

5. Ir. Said Rusli, MA atas kesediaannya untuk turut membimbing, memberi saran, meminjamkan pustaka dan memotivasi penulis.

6. Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, MSc. selaku dosen pembimbing akademik atas dukungan dan pertimbangannya terutama dalam bidang akademik.

7. Seluruh staf pengajar dan karyawan/wati di Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, IPB.

(10)

8. Leonard Dharmawan, terimakasih telah sangat membantu semua yang penulis perlukan selama ini. Terimakasih untuk segala dukungan, perhatian dan kasih sayang yang diberikan kepada penulis serta waktu yang diberikan untuk menemani penulis dalam menyelesaikan skripsi.

9. Nurina, Nani, Retno, Mbak Upi dan Tyas yang selalu mendukung, mengkritik, memberi masukan dan menemani penulis menyelesaikan skripsi.

10. Buat semua teman-teman KPM angkatan 41, semoga kebersamaan dan persahabatan kita tidak hanya pada masa kuliah saja.

11. Keluarga Cendana 53: Alin, Dian, Dea, Endang, Erna, Ita, Sinta, Ucie, Vina, Winda, dan mantan Cendana 53: ILis, Marlia, Nana. Terimakasih atas motivasi, saran, dukungan, bantuan moril, tumpangan kamar, masukan, kritikan dan perhatiannya kepada penulis.

12. Teman-teman OMDA Ikatan Mahasiswa Bumi Rafflesia Bengkulu: Rini, Alin, Alan, Danang, Gading, Yulian, Fanny, Juwi dan Anis. Terimakasih telah membuat masa kuliah terkadang serasa di Bengkulu.

13. Rike dan Liana, terimakasih atas do’a dan dukungannya kepada penulis.

14. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan pahala atas kebaikannya. Amin.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari skripsi ini. Oleh karena itu, penulis menerima segala kritik dan saran yang bersifat membangun.

Penulis berharap semoga apa yang telah penulis paparkan dalam skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan bernilai ibadah dalam pandangan Allah SWT.

Amin.

Bogor, Agustus 2008

Penulis

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian………. ... 4

1.4 Kegunaan Penelitian ……… 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Agraria ... 6

2.2 Subyek dan Obyek Agraria ... 7

2.3 Struktur Agraria ... 8

2.4 Konsep Sistem Tenurial ... 10

2.5 Hak Penguasaan Atas Tanah ... 25

2.6 Hak – Hak Atas Tanah ... 28

2.7 Distribusi Kepemilikan Lahan …… ... 32

2.8 Rumus – Rumus Ukuran Kemerataan... 33

2.9 Hasil – Hasil Penelitian Terdahulu ... 35

2.10 Kerangka Pemikiran... 41

2.11 Hipotesis pengarah ... 46

2.12 Batasan Operasional ... 47

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian... 51

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 52

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 53

3.4 Teknik Penentuan Responden dan Informan Kunci ... 54

3.5 Teknik Analisis Data ... 56

(12)

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Letak Administrasi ... 57

4.2 Kondisi Agronomi ... 58

4.3 Kependudukan... 59

4.4 Pendidikan ... 59

4.5 Sarana dan Prasarana ... 60

4.6 Mata Pencaharian ... 61

BAB V DISTRIBUSI KEPEMILIKAN LAHAN PERTANIAN DI DESA CIBATOK 1 5.1 Sejarah Penguasaan dan Kepemilikan Lahan di Desa Cibatok 1 ... 62

5.2 Sistem Transfer Kepemilikan Lahan Pertanian di Desa Cibatok 1 ... 66

5.2.1 Waris ... 67

5.2.2 Jual Beli ... 68

5.3 Distribusi Kepemilikan Lahan Pertanian di Desa Cibatok 1 ... 70

5.4 Makna Lahan Pertanian Khususnya Sawah Bagi Masyarakat Desa Cibatok 1 ... 73

BAB VI SISTEM TENURIAL DI DESA CIBATOK 1 6.1 Sistem Penguasaan Lahan Pertanian Di Desa Cibatok 1... 79

6.2 Sistem Sewa di Desa Cibatok 1 ... 80

6.3 Sistem Bagi Hasil di Desa Cibatok 1... 82

6.4 Sistem Gadai di Desa Cibatok 1 ... 85

6.5 Akses Petani terhadap Lahan Pertanian... 86

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan ... 91

8.2 Saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Struktur Pemilikan Tanah di Kalangan Rumah Tangga Petani

Menurut Sensus Pertanian Tahun 1993 ... 41

Tabel 2. Asal kepemilikan Lahan Pertanian di Desa Cibatok 1... 67

Tabel 3. Data Kepemilikan Lahan Pertanian di Desa Cibatok 1... 70

Tabel 4. Jenis Kepemilikan Lahan Pertanian di Desa Cibatok 1 ... 71

Tabel 5. Distribusi Kepemilikan Lahan Sawah di Desa Cibatok 1 ... 72

Tabel 6. Status Penguasaan Lahan Pertanian di Desa Cibatok 1 ... 80

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar. 1 Lingkup Hubungan – Hubungan Agraria ... 9 Gambar. 2 Kerangka Pemikiran ... 45

(15)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tanah merupakan salah satu sumber agraria yang merupakan objek agraria selain perairan, hutan, bahan tambang dan udara. Tjondronegoro (1998), menyatakan bahwa tanah yang menjadi aset utama bagi rakyat banyak adalah tanah untuk bercocok tanam yang merupakan sumber kehidupan utamanya.

Kepentingan terhadap tanah berimplikasi pada pemanfaatan sumber agraria.

Ketersediaan tanah merupakan faktor penentu keberhasilan pertanian. Tanah merupakan salah satu kebutuhan manusia yang vital dimana keberadaannya saat ini merupakan hal yang langka (Wiradi, 2000). Pernyataan tersebut konsisten dengan pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat sedangkan ketersediaan tanah sebagai kebutuhan hidup selalu tetap jumlahnya.

Menurut Sihaloho (2004), struktur agraria pada dasarnya menjelaskan bagaimana struktur akses pihak-pihak terkait dengan sumberdaya agraria.

Pemanfaatan sumber agraria yang ada difungsikan sesuai dengan kebutuhan hidup baik menyangkut kepentingan komunal maupun kepentingan individu. Struktur agraria berkaitan dengan land tenure dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Sitorus (2003) membagi proporsi dasar analisis agraria menjadi dua yakni;

pertama, ketiga subjek agraria (pemerintah, swasta dan komunitas) memiliki hubungan teknis dengan obyek agraria dalam bentuk kerja pemanfaatan berdasar hak penguasaan (Land Tenure) tertentu. Kedua, ketiga subyek agraria satu sama

(16)

lain berhubungan atau berinteraksi secara sosial dalam rangka penguasaan dan pemanfaatan obyek agraria tertentu.

Berdasarkan analisis agraria yang pertama dapat disimpulkan bahwa dalam pemanfaatan tanah terkait dengan diberlakukannya sistem tenurial yaitu mengenai pengaturan tentang penguasaan pemilikan tanah. Menurut Bruce (1998), sistem tenurial (land tenure system) merupakan keseluruhan bentuk tenurial (penguasaan) yang diakui dibawah perundangan negara atau peraturan adat setempat. Hukum adat yang dimaksudkan adalah hak ulayat masyarakat hukum adat yaitu serangkaian wewenang dan kewajiban suatu masyarakat hukum adat, yang berhubungan dengan tanah yang terletak dalam lingkungan wilayahnya. Sementara itu, hukum positif yang dimaksud dalam pengaturan sistem tenurial adalah UUPA 1960, yang mana didalamnya terdapat aturan-aturan yang mengatur mengenai ketetapan kepemilikan tanah dan penguasaan tanah (Santoso, 2005). Bentuk-bentuk tenurial antara lain meliputi private freehold, sewa dan gadai, common property serta pemilikan oleh negara.1

Masalah tenurial merupakan masalah mengenai pola penguasaan lahan.

Pemusatan penguasaan tanah pada sekelompok kecil anggota masyarakat merupakan pertanda adanya ketimpangan dalam penyebarannya. Pada saat sekarang ini, tingkat ketimpangan dalam hal kepemilikan dan penguasaan tanah semakin meningkat. Pada tahun 1995, jumlah petani tunakisma di Jawa sebanyak 48,6 persen, meningkat jadi 49,5 persen (1999). Meski tidak separah di Jawa, di luar Jawa cenderung sama. Pada 1995 jumlah petani tunalahan 12,7 persen,

1Disampaikan dalam slide ke-2 mata kuliah Sosiologi Agraria ; “Keragaman Sistim Adaptasi&Tata Kuasa Tanah dan Sumber Agraria” oleh Satyawan Sunito.

(17)

meningkat 18,7 persen (1999). Sebaliknya, 10 persen penduduk di Jawa memiliki 51,1 persen tanah (1995) dan jadi 55,3 persen (1999). Itu menunjukkan ketimpangan distribusi pemilikan tanah semakin parah. Selain itu, berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2003 dalam Khudori (2007), menyebutkan bahwa jumlah rumah tangga petani gurem dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektar milik sendiri maupun menyewa meningkat 2,6 persen per tahun dari 10,8 juta rumah tangga (1993) menjadi 13,7 juta rumah tangga (2003).

Di beberapa desa pinggiran kota dengan ciri, telah memiliki sarana komunikasi yang baik, transportasi yang lancar, pasar yang mudah dijangkau, sumber nafkah non-pertanian yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakatnya walaupun sebagian besar lahannya masih dimanfaatkan untuk pertanian, telah terjadi konversi lahan didalamnya, serta adanya keikutsertaan pihak luar dalam kepemilikan lahan. Berdasarkan ciri – ciri tersebut, memungkinkan diterapkannya beberapa bentuk sistem tenurial di daerah desa pinggiran kota. Wilayah desa penelitian dengan ciri seperti diatas, menarik minat peneliti untuk mengetahui bagaimanakah distribusi kepemilikan lahan dan sistem tenurial apa sajakah yang diterapkan? Hal tersebut menjadi pertanyaan pokok pada penelitian ini yang menarik untuk dikaji lebih dalam.

(18)

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah distribusi kepemilikan lahan di desa penelitian?

2. Bagaimanakah pola penguasaan lahan di desa penelitian dan sistem tenurial apakah yang paling dominan di desa penelitian tersebut?

1.3. Tujuan Penelitian

Pada penelitian ini dianalisis masalah distribusi kepemilikan lahan dan sistem tenurial yang diterapkan di desa penelitian. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi kepemilikan lahan pada wilayah desa penelitian. Secara rinci, peneliti ingin mengetahui luas kepemilikan lahan pada beberapa golongan petani di wilayah desa penelitian.

Setelah peneliti mengetahui distribusi kepemilikan lahan, peneliti juga ingin mengetahui pola penguasaan lahan pada golongan-golongan petani tertentu berdasarkan luas kepemilikan lahannya. Pada penelitian ini, penulis ingin mengetahui bagaimana sistem sewa, gadai dan bagi hasil diterapkan di wilayah desa penelitian. Berdasarkan hal tersebut, akan diketahui sistem tenurial yang dominan dilakukan.

(19)

1.4. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan berguna bagi berbagai kalangan, antara lain : 1. Akademisi, hasil penelitian ini diharapkan bisa dijadikan sumber data,

informasi serta literatur bagi kegiatan-kegiatan penelitian selanjutnya dan dapat menambah atau mengakumulasi pengetahuan tentang permasalahan distibusi kepemilikan lahan dan sistem tenurial yang diterapkan. Selain itu, diharapkan penelitian ini dapat memberi sumbangan terhadap program studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat atau sebagai sumber kepustakaan pada penelitian yang sama secara mendalam pada topik agraria.

2. Bagi Pemerintah, diharapkan dapat digunakan sebagai sarana evaluasi, informasi, dan data untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan agraria yang dikeluarkan baik secara substansial maupun pelaksanaan di lapangan. Serta masukan bagi upaya penerapan distribusi kepemilikan lahan yang adil.

3. Bagi masyarakat, diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan untuk lebih memperhatikan hubungan sosial mereka antar sesama anggota masyarakat dan antar sesama petani khususnya.

4. Bagi penulis penelitian ini berguna untuk mengaplikasikan ilmu yang dimiliki untuk dapat diterapkan di lapangan sekaligus untuk menggali masalah dibidang agraria.

(20)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Agraria

Agraria berdasarkan penelusuran entomologis Kamus Bahasa Latin- Indonesia dan World Book Dictionary dikutip Sitorus (2003) berasal dari kata ager dalam bahasa Latin. Arti kata ager adalah: (a) lapangan; (b) pedusunan (lawan dari perkotaan); (c) wilayah. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa konsep agraria lebih luas dari tanah pertanian atau pertanian saja namun, mencakup keseluruhan kekayaan alami (fisik dan hayati) dan kehidupan sosial di dalamnya.

Berbicara mengenai tanah berarti juga berbicara mengenai agraria, namun pengertian dari agraria sendiri tidaklah terbatas pada lahan pertanian atau sawah.

Pengertian agraria seperti yang tercantum dalam UUPA 1960 (UU no 5/1960) adalah :

“Seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dalam wilayah Republik Indonesia sebagai Karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah bumi, air dan ruang angkasa Bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional”.

Selanjutnya dari pengertian di atas Sitorus (2002) menyimpulkan bahwa jenis-jenis sumber agraria meliputi :

1. Tanah atau permukaan bumi, yang merupakan modal alami utama dari pertanian dan peternakan.

2. Perairan, yang merupakan modal alami dalam kegiatan perikanan.

3. Hutan, merupakan modal alami utama dalam kegiatan ekonomi komunitas perhutanan.

(21)

4. Bahan tambang, yang terkandung di “tubuh bumi”.

5. Udara, yang termasuk juga materi “udara” sendiri.

Dalam memanfaatkan sumber-sumber agraria tersebut antara pengguna atau subjek agraria yaitu komunitas, pemerintah dan swasta menimbulkan bentuk hubungan antara ketiganya melalui institusi penguasaan atau pemilikan. Dalam hubungan-hubungan itu akan menimbulkan kepentingan – kepentingan sosial ekonomi masing – masing subjek berkenaan dengan penguasaan atau pemilikan dan pemanfaatan sumber – sumber agraria tersebut. Bentuk dari hubungan ini adalah hubungan sosial atau hubungan sosial agraria yang berpangkal pada akses (penguasaan, pemilikan, penggunaan) terhadap sumber agraria (Sitorus 2002).

2.2. Subyek dan Obyek Agraria

Unsur pertama (kekayaan alami) dari konsep agraria, kemudian dikenal sebagai sumber agraria atau dapat disebut juga sebagai obyek agraria (Sitorus 2003). Unsur kedua (manusia sosial) dikenal sebagai subyek agraria. Secara garis besar, subyek agraria tersebut dapat dipilah ke dalam tiga kelompok sosial yaitu komunitas, pemerintah dan perusahaan swasta.

Masing-masing kelompok subyek tersebut dipilah lagi ke dalam tiga unsur yang saling terkait secara hirarkis (Sitorus 2003). Kelompok tersebut adalah:

komunitas mencakup unsur individu, keluarga dan kelompok; pemerintah mencakup unsur-unsur pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pemerintah desa;

perusahaan mencakup unsur-unsur perusahaan kecil, perusahaan sedang dan perusahaan besar.

(22)

2.3. Struktur Agraria

Struktur agraria yaitu adanya suatu penguasaan atau kepemilikan lahan yang dimiliki seseorang (petani) dimana disatu pihak terdapat sekelompok orang yang menguasai lahan yang luas dan dilain pihak terdapat orang-orang yang memiliki atau menguasai lahan yang sempit, sehingga terjadi stratifikasi atau hierarki dalam hal penguasaan atau kepemilikan lahan. Lebih jauh lagi yang dimaksud dengan struktur agraria yaitu2:

“Suatu fakta yang menunjuk kepada fakta kehadiran minoritas golongan atau lapisan sosial yang menguasai lahan yang luas di satu pihak dan mayoritas golongan yang menguasai hanya sedikit atau bahkan tanpa tanah sama sekali di lain pihak”.

Sementara itu, menurut Sihaloho (2004), struktur agraria pada dasarnya menjelaskan bagaimana struktur akses pihak-pihak terkait dengan sumberdaya agraria. Sitorus (2003) membagi proporsi dasar analisis agraria menjadi dua yakni:

1. Ketiga subjek agraria memiliki hubungan teknis dengan obyek agraria dalam bentuk kerja pemanfaatan berdasar hak penguasaan (land tenure) tertentu 2. Ketiga subyek agraria satu sama lain berhubungan atau berinteraksi secara

sosial dalam rangka penguasaan dan pemanfaatan obyek agraria tertentu.

Hubungan yang pertama disebut sebagai hubungan teknis agraria sedangkan hubungan yang kedua disebut sebagai hubungan sosial agraria.

Struktur Agraria yang ada di Indonesia digambarkan sebagai berikut ;

2Di kutip dari pengantar penerbit pada buku Sosiologi Agraria oleh Sediono M.P. Tjondronegoro, penyunting M.T. Felix Sitorus & Gunawan Wiradi, AKATIGA, Bandung 1999

(23)

Gambar.1 Lingkup Hubungan-Hubungan Agraria (Sumber : Sitorus 2002)

Struktur agraria dapat mempengaruhi munculnya hubungan sosial agraris yang berbeda antara satu tipe struktur agraria dengan tipe struktur agraria lain. Ada lima macam struktur agraria yaitu:

1. Tipe naturalisme: sumber agraria dikuasai oleh komunitas lokal, misalnya komunitas adat secara kolektif.

2. Tipe feodalisme: sumber agraria dikuasai oleh minoritas ”tuan tanah” yang biasanya juga merupakan ”patron politik”.

3. Tipe kapitalisme: sumber-sumber agraria dikuasai oleh non-penggarap (perusahaan kapitalis).

4. Tipe sosialisme: sumber-sumber agraria dikuasai oleh negara/kelompok pekerja.

5. Tipe Populisme/Neo-Populisme: sumber-sumber agraria dikuasai oleh keluarga/ rumah tangga penguna (Wiradi 1998, diacu dalam Sitorus 2003).

Masyarakat

Pemerintah

Swasta Sumber-sumber

Agraria

Hubungan Teknis Agraria Hubungan Sosial Agraria

(24)

2.4. Konsep Sistem Tenurial

Dorner (1972) dalam Hutagalung (1983) menyatakan bahwa ;

The land tenure system embodies those legal and contractual or customary arrangements where people in farming gain access to productive opportunities on the land. It constitutes the rules and procedures governing the rights, duties, liberaties and exposures of individual and group in the use and control over the basis resources of land and water.3

Jadi, sistem tenurial merupakan perwujudan dari perjanjian resmi mengenai penggunaan, pengaturan dimana petani memiliki akses terhadap manfaat produktif lahan pertanian. Sistem tenurial menyangkut peraturan dan prosedur yang mengatur tentang hak, kewajiban, keleluasaan dari perorangan atau kelompok dalam hal penggunaan dan penguasaan terhadap suberdaya lahan dan air.

Menurut Wiradi (1984), tenure berasal dari berbahasa Latin tenere yaitu memelihara, memegang, memiliki. Karena itu land tenure memperoleh arti hak atas tanah atau penguasaan tanah (menunjuk pada penguasaan efektif). Istilah land tenure biasanya dipakai dalam uraian-uraian yang membahas masalah yang pokok-pokok umumnya mengenai status hukum dari penguasaan tanah seperti hak milik, pacht, gadai, bagi hasil, sewa-menyewa dan juga kedudukan buruh tani.

Uraian itu menunjuk pada pendekatan yuridis. Artinya penelaahannya bertolak dari sistem yang berlaku yang mengatur kemungkinan penggunaan, mengatur syarat-syarat untuk dapat menggarap tanah bagi penggarapnya dan berapa lama penggarapan dapat berlangsung. Sedangkan tenant mempunyai arti orang yang memiliki, memegang, menempati, menduduki, menggunakan atau menyewa sebidang tanah tertentu (menunjuk pada penguasaan formal).

3Peter Dorner, Land Reform and Economic Development, Penguin Books, Australia Ltd., 1972, halaman 7.

(25)

Uraian tersebut menunjuk pada pendekatan ekonomis, yaitu penelaahannya meliputi hal-hal yang menyangkut hubungan penggarapan tanah.

Obyek penelaahan itu biasanya berkisar pada pembagian hasil antara pemilik dan penggarap tanah, faktor-faktor tenaga kerja, investasi-investasi dan besarnya nilai sewa. Sementara itu menurut Bruce (1998), sistem tenurial (Land Tenure System) merupakan keseluruhan bentuk tenurial (penguasaan) yang diakui dibawah perundangan negara atau peraturan adat setempat.4

Penguasaan lahan dan kepemilikan lahan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Menurut Wiradi (1984) bahwa konsep antara kepemilikan, penguasaan, dan pengusahaan tanah perlu dibedakan, kata ”pemilikan” menunjuk pada peguasaan formal. Berkaitan dengan hak milik atas tanah menurut Smith dan zopf (1970), diacu dalam Rahardjo (1999) mengatakan bahwa hak milik atas tanah berkaitan dengan hak-hak yang dimiliki seseorang atas tanah, yakni hak yang sah untuk mengunakannya, mengolahnya, menjualnya dan memanfaatkan bagian – bagian tertentu dari permukaan tanah. Hal tersebut menyebabkan pemilikan atas tanah tidak hanya mengenai hak milik saja melainkan juga termasuk hak guna atas tanah yaitu suatu hak untuk memperoleh hasil dari tanah bukan miliknya dengan cara menyewa, mengarap dan lain sebagainya. Menurut Kanto (1986), hak milik tanah merupakan hak penguasaan tanah yang paling kuat menurut hukum.

Sedangkan kata penguasaan menunjuk pada penguasaan efektif. Misalnya, jika sebidang tanah disewakan kepada orang lain maka orang lain itulah yang secara efektif menguasainya. Jika seseorang mengarap tanah miliknya sendiri,

4Disampaikan dalam slide ke-2 mata kuliah Sosiologi Agraria ; “Keragaman Sistim Adaptasi&Tata Kuasa Tanah dan Sumber Agraria” oleh Satyawan Sunito.

(26)

misalnya 2 ha, lalu mengarap juga 3 ha tanah yang disewa dari orang lain, maka ia menguasai 5 ha. Sedangkan kata ”pengusahaan” menunjuk pada bagaimana caranya sebidang tanah diusahakan secara produktif (Wiradi, 1984). Menurut Kanto (1986), hak sewa, hak sakap dan hak gadai merupakan hak penguasaan tanah yang bersifat sementara.

Menurut Elsworth (n.d.), A place in the world merupakan frasa yang pada zaman feodal Inggris diartikan sebagai sebuah hak yang melekat pada petani atas jaminan tuan tanah untuk bisa mengelola dan mendiami sebidang lahan, tanpa dapat diganggu – gugat keberadaannya. Dalam perkembangan masa, kemudian hak ini berkembang dengan artian yang lebih luas, ditambah dengan fungsi-fungsi yang melekat pada sebidang lahan, yang tidak dapat diperdagangkan. Hak ini disebut tenure.

Terdapat jaminan tenurial (Security of Tenure) dalam 4 aliran pemikiran besar di dunia akademis. Pada fokus bahasan aliran hak milik (Property Rights) menyebutkan bahwa berdasarkan pentingnya nilai ekonomi, dengan dimilikinya hak milik maka suatu properti dapat diperdagangkan. Pada aliran struktur agraria (Agrarian Structure) membahas tentang outcome yang adil pada perdagangan terbatas atas hak milik. Pada aliran kepemilikan bersama (common property) membahas mengenai dukungan atas sistem kepemilikan berbasis masyarakat tradisional masih berlaku di wilayah hutan alam. Sementara itu, aliran institutionalis menyebutkan bahwa ekonomi politik secara konstan menentukan untuk memberikan atau tidak memberikan jaminan tenurial kepada orang-orang yang menuntut hak milik.

(27)

Mengenai jaminan tenurial pada hal konsep dan argumen, aliran property rights menyebutkan bahwa hak milik dimaksudkan sebagai hak yang melekat pada seseorang atau institusi secara individu, privat dan bisa diperdagangkan, sehingga diyakini bahwa akan terjadi efisiensi produksi. Aliran struktur agraria ini mengacu pada distribusi lahan (termasuk hutan atau wilayah umum lainnya) di antara petani. Memandang security of tenure bukan hanya sebagai hak melekat tapi lebih kepada keinginan politik yang dapat menjamin komunitas dari kelas miskin dan menengah untuk mendapatkan perlindungan dari tekanan pasar.

Aliran Common Property memfokuskan pada pembahasan sumberdaya umum (common resources) non individual dan meyakini bahwa sistem ini dapat menjadi tumpuan bagi kaum miskin, dengan tidak memprivatisasi seluruh properti. Aliran ini juga menyebutkan bahwa anggota kelompok masyarakat dengan kepemilikan tenure memiliki kesetaraan dalam menuntut hak tenure security. Sementara itu, aliran institusionalis mengemukakan bahwa hak milik dilihat sebagai suatu relasi sosial di antara para pihak, sedangkan hak melekat yang dapat diperdagangkan adalah bagian dari tenure security.

Diketahui bahwa aliran property rights terbukti tidak dapat berlaku optimal. Di negara-negara Asia maupun Afrika, sistem ini tidak terbukti dapat diberlakukan secara positif. Aliran struktur agraria meyakini unggulnya kebijakan reformasi lahan (land reform). Aliran common property menyebutkan bahwa sistem yang diberlakukan pada aliran ini sesuai dibeberapa tempat, namun juga membutuhkan penyesuaian di tempat-tempat lainnya.

(28)

Jaminan sistem tenurial ditinjau dari segi kebijakan yang berlaku, menurut aliran property rights membatasi jaminan tenurialnya pada sebuah hak melekat yang dapat diperdagangkan pada pasar jual-beli lahan. Aliran struktur agraria menyebutkan bahwa pasar dapat memberikan nilai tambah terhadap sumberdaya sekaligus memberikan penilaian yang tidak adil, sehingga harus ada kontrol dan pengaturan terhadap pasar sehingga pemilik sumberdaya mendapatkan nilai maksimal dari sumberdaya yang dimilikinya. Aliran common property mengusulkan pemerintah untuk menemukan cara guna mendukung sistem kepemilikan dengan lebih mengakui hak komunitas ketimbang individu dalam kepemilikan hutan. Sementara itu, aliran institusionalis mengusulkan untuk melakukan pemikiran tentang distribusi aset dan pendapatan serta memikirkan masa depan dunia (Lampiran 7).

Menurut Poertjaja Gadroen dan Vink (1927) dalam Kroef (1984), di daerah Jawa Timur terdapat beberapa bentuk pemilikan tanah, antara lain sebagai berikut :

1. Pemilikan tanah komunal dengan penggarapan secara bergiliran dan luas tanah garapan berbeda ukuran. Dewan desa mempunyai wewenang untuk memperbanyak jumlah penggarap yang ikut serta.

2. Pemilikan tanah komunal dengan jumlah penggarap terbatas.

3. Pemilikan tanah komunal dengan penggarap bergiliran, tetapi dengan tanah garapan yang luasnya tetap.

4. Pemilikan tanah komunal dengan hak – hak perorangan tertentu. Hak – hak tersebut tidak pasti dapat diwariskan. Dewan desa harus menentukan siapa

(29)

yang akan mendapatkan tanah tersebut setelah penggarap sebelumnya meninggal.

5. Seperti pada no. 4 tetapi dengan kepastian hak waris.

6. Seperti pada no. 5 tetapi dengan hak menjual sebagian tanah bersangkutan kepada penduduk lain sedesa.

7. Seperti pada no. 5 tetapi dengan hak menula sebagian tanah kepada orang bukan penduduk sedesa, asalkan kewajiban kerja untuk desa dapat dipenuhi oleh pembeli bukan sedesa tersebut.

8. Pemilikan tanah pribadi yang dapat diwariskan, tetapi dibatasi oleh kewajiban partisipasi dalam pekerjaan komunal.

9. Pemilikan tanah pribadi yang dapat diwariskan, tanpa kewajiban kerja komunal selama sebagian tanah garapan lainnya tetap tunduk kepada aturan kewajiban kerja komunal.

10. Pemilikan tanah pribadi bercorak barat dan dapat digadaikan.

Menurut Wiradi (1984), terdapat beberapa bentuk atau status penguasaan tanah tradisional antara lain :

a. Tanah yasan, yasa atau yoso yaitu tanah dimana hak seseorang atas tanah itu berasal dari kenyataan bahwa dia atau leluhurnyalah yang pertama kali membuka atau mengerjakan tanah tersebut. Hak atas tanah ini memperoleh status legal dalam UUPA 1960 sebagai tanah milik.

b. Tanah norowito, gogolan, pekulen, playangan, kesikepan dan sejenisnya, adalah tanah pertanian milik bersama, dimana para warga desa dapat memperoleh bagian untuk digarap, baik secara bergilir maupun secara tetap

(30)

dengan syarat-syarat tertentu. Untuk memperoleh hak garap, umumnya diperlukan syarat bahwa si calon itu harus statusnya menjadi tanah milik bagi penggarapnya yang terakhir.

c. Tanah titisara, bondo deso, kas desa adalah tanah milik desa yang biasanya disewakan, disakapkan dengan cara dilelang kepada siapa yang mau menggarapnya. Hasilnya dipergunakan sebagai anggaran rutin ataupun pemeliharan desa.

d. Tanah bengkok, yaitu tanah milik desa yang diperuntukkan bagi pejabat desa terutama lurah, yang hasilnya dianggap sebagai gaji selama menduduki jabatan itu. Tanah bengkok dan tanah titisara ini dalam konsep Barat dapat digolongkan dalam kategori tanah yang tunduk pada pengawasan komunal.

Dalam UUPA keduanya tetap diakui.

Menurut Kano (1984), berikut ini merupakan bentuk-bentuk pemilikan yang ada hubungannya dengan sawah ;

1. Milik perorangan turun-temurun; merupakan suatu bentuk penguasaan tanah dimana seseorang menduduki sebidang tanah secara kekal, dapat menyerahkannya kepada ahli warisnya baik melalui pemindahtanganan hak penguasaan tersebut sebelum meninggal, atas kemauannya, atau pemindahtanganan hak tersebut pada saat meninggalnya dan yang paling khas, dapat mengatur secara bebas dengan misalnya menjual, menyewakan, atau menggadaikan. Bentuk pemilikan ini penyebarannya dinilai tidak merata.

Di Jawa Tengah dan bagian barat Jawa Timur, penguasaan komunal tampaknya lebih umum. Penguasaan tanah komunal merupakan ciri umum

(31)

pemilikan sawah di daerah Karsidenan Banten, Karawang, Kabupaten Indramayu, Banyuwangi bermacam-macam pembatasan dilakukan sehubungan dengan kerja paksa. Di Jawa Barat sangat berbeda, disini pemindahtanganan sawah secara bebas diperkenankan. Jadi, “hak milik perorangan turun-temurun” hanyalah “hak” si “empunya” atas tanah yang didasarkan atas penguasaan yang nyata, dan bila penguasaan tersebut tidak efektif lagi, tanah itu ditempatkan langsung dibawah pengawasan desa bersangkutan (kecuali disebagian Jawa Barat, dimana konsep ini telah mendekati pengertian pemilikan harta milik – mutlak).

2. Milik komunal; merupakan bentuk penguasaan, dimana seseorang atau keluarga memanfaatkan tanah tertentu hanya merupakan bagian dari tanah komunal desa yaitu bahwa orang tersebut tidak diberi hak untuk menjualnya atau memindahtangankan tanah tersebut dan pemanfaatannya biasanya digilir secara berkala. Salah satu ciri khusus sawah “milik komunal” di Jawa adalah sistem kesamarataan formal dalam membagi bagian garapan kepada petani – petani yang memberikan layanan kerja. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku secara umum. Misalnya, di beberapa desa di Semarang, Jepara, Madiun dan Kediri mereka yang memiliki ternak mendapat bagian garapan yang lebih luas dan mendapat prioritas dalam memilih letaknya. Bagian tanah garapan yang berupa sawah dan termasuk milik komunal tidak dapat diwariskan sebagai milik perorangan.

3. Tanah bengkok untuk pamong desa; diperuntukkan bagi pejabat untuk dimanfaatkan secara pribadi dibagi dalam dua golongan yaitu bagi para

(32)

penguasa pribumi yang berasal dari tanah apanage dan para lurah. Hak-hak atas tanah bengkok diperuntukkan sesuai dengan kedudukan-kedudukan resmi bagi keluarga tertentu dan telah diubah secara de facto menjadi milik perseorangan turun- temurun. Distribusi tanah bengkok itu hampir seluruhnya bertepatan dengan adanya kepemilikan komunal. Terdapat kecenderungan umum bahwa tanah garapan itu sempit di Jawa Barat (kecuali di Cirebon) dan juga di Jawa Timur sebelah timur Probolinggo, yaitu di desa-desa tempat tanah dengan hak milik perorangan turun – temurun itu dominan.

Sedangkan bentuk-bentuk pemilikan tegalan atau tanah kering pada dasarnya sesuai dengan sawah. Pertama, ada milik perorangan turun-temurun yang mana peraturan-peraturan yang terkandung didalamnya adalah sama dengan yang berlaku bagi sawah. Kedua, tanah kering yang dimiliki secara komunal dapat ditemukan di Cirebon, Jawa Barat, disemua Karesidenan Jawa Tengah kecuali Tegal dan semua Karesidenan Jawa Timur sebelah barat Probolinggo. Dapat disimpulkan bahwa bentuk pemilikan tanah kering sama dengan sawah, hanya saja dilaksanakan dengan peraturan-peraturan dan pengawasaan komunal yang lebih longgar.

Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa ”pemilikan” tanah tidak selalu mencerminkan ”penguasaan” tanah, karena memang ada berbagai jalan untuk

”menguasai” tanah, yaitu melalui sewa, gadai, sakap, dan lain sebagainya.

Berdasarkan hal ini maka Wiradi (1984) mengolongkan petani menjadi :

1. Pemilik – penggarap murni, yaitu petani yang hanya menggarap tanah miliknya sendiri.

(33)

2. Penyewa dan penggarap murni, yaitu petani yang tidak memiliki tanah tetapi menguasai lahan garapan melalui sewa atau bagi hasil.

3. Pemilik – penyewa dan atau pemilik – penyakap, yaitu petani yang disamping mengarap tanahnya sendiri juga menggarap tanah milik orang lain lewat persewaan atau bagi hasil.

4. Pemilik bukan penggarap, yakni petani yang tanah miliknya disewakan atau disakapkan kepada orang lain (penyakap, pengarap dan buruh tani).

5. Petani tunakisma dan buruh tani, yaitu petani yang benar-benar tidak memiliki lahan pertanian dan bukan penggarap.

Sementara itu, di Jawa Tengah pada tahun 1953 menunjukkan ada dua pemilikan tanah: (a) satu bentuk pemilikan tanah bebas perorangan dimana hak ulayat masyarakat desa tidak berlaku atasnya (yasan); (b) penggarapan tanah yang dikuasai secara komunal dengan hak ulayat masyarakat desa yang terbatas (kongsen); kedua bentuk tersebut dapat diwariskan. Sementara itu, diketahui pola penguasaan lahan yang terdapat di Jawa Barat menurut Svensson (1968), diacu dalam Suhendar (1995) terbagi menjadi tiga yaitu penguasaan dengan hak milik perorangan, penguasaan tanah komunal dan pola penguasaan tanah partikelir.

Waris

Pewarisan di Bali dilakukan setelah kedua orang tua meninggal. Selama orang tua masih ada, penguasaan seorang anak atas tanah milik orang tua masih bersifat penguasaan efektif. Kepemilikan formalnya masih berada ditangan orang tua. Anak yang berhak mendapatkan harta warisan hanya anak laki-laki. Anak

(34)

perempuan mendapatkan harta warisan apabila semua anak yang dimiliki adalah perempuan. Warisan akan diserahkan kepada anak perempuan yang menarik suaminya masuk ke dalam keluarga luas perempuan.

Bila satu keluarga tidak memiliki anak, maka harta warisan akan diberikan kepada anggota keluarga yang seketurunan setelah sebelumnya diadakan musyawarah dalam keluarga. Dalam pembagian waris tidak ada ketentuan tentang besar kecilnya setiap bagian harta yang harus dibagi, bergantung pada kesepakatan musyawarah di dalam keluarga (Sadikin, 2005). Di pedesaan Jawa, luas tanah yang diberikan kepada laki-laki maupun perempuan tidak dibedakan.

Ini artinya, yang menjadi landasan hukum dalam waris adalah hukum nasional, bukan hukum agama (Islam). Pewarisan tanah biasanya dilakukan oleh petani yang secara fisik sudah tidak mampu lagi mengelola lahan pertaniannya sendiri.

Tanah-tanah yang status kepemilikannya berasal dari warisan pada umumnya langsung diubah status kepemilikannya secara formal (Mahanani, 2005).

Jual Beli

Transaksi jual beli sering terjadi antara 2 belah pihak saja yaitu; pihak penjual dan pembeli. Tidak ada keterlibatan pihak desa atau instansi terkait (jual beli di bawah tangan). Kesepakatan untuk membeli dan menjual tanah didasarkan atas prinsip saling percaya. Bagi petani yang melakukan jual – beli, hal ini jelas memudahkan mereka.

Hal ini terjadi karena tanah di dusun dianggap masih mempunyai fungsi sosial yang sangat besar dan tidak terkait dengan kepentingan pasar. Petani masih

(35)

melihat tanah sebagaimana adanya; tanah sebagai aset yang harus diolah terlebih dahulu dan ditanami, tanah belum dilihat sebagai alat untuk memperoleh keuntungan memperjualbelikannya (Mahanani, 2005).

Sistem Gadai

Gadai menurut Imam Sudiyat (1978) dalam Wiradi dan Makali (1984) adalah menyerahkan tanah untuk menerima pembayaran sejumlah uang secara tunai, dengan ketentuan si penjual tetap berhak atas pengembalian tanahnya dengan jalan menebusnya kembali. Hak gadai adalah penyerahan hak atas sebidang tanah kepada orang lain dengan pembayaran berupa sekian kuintal gabah atau sekian gram emas perhiasan atau sekian ekor kerbau atau sapi, dengan ketentuan pemilik tanah yang telah menyerahkan hak atas tanahnya itu kepada orang lain dapat memperolehnya kembali dengan jalan menebusnya.

Sistem gadai dilakukan oleh petani berlahan luas untuk keperluan yang bersifat produktif seperti praktek gadai di Mariuk dan Jati dimana masyarakat petani bertanah luas menggadaikan tanahnya kepada petani bertanah luas atau orang kaya guna menutupi kekurangannya dalam membeli sawah. Akibat dari proses tersebut terjadi akumulasi tanah pada orang kaya atau petani bertanah luas.

Selain itu, sistem gadai juga dilakukan oleh petani bertanah sempit untuk kepentingan yang bersifat konsumtif, seperti praktek gadai di daerah Sentul dan Sukaambit, dimana petani bertanah sempit menggadaikan tanahnya karena terdesak oleh kebutuhan yang agak besar, misalnya untuk keperluan modal usaha, selamatan, biaya masuk sekolah bagi anaknya.

(36)

Menurut Manuwotto (1995), sistem gadai biasanya terjadi ada kaitannya dengan utang piutang yang diberi agunan (borg) tanah pertanian. Dalam peristiwa gadai, masyarakat biasanya memakai nilai tukar yang tidak mudah berubah, seperti di daerah Sulawesi Selatan dipakai ‘ringgit’ (uang emas yang mempunyai nilai tukar rupiah). Kemudian juga, guna menghindari pelepasan tanah ke pihak luar keluarga, maka biasanya yang pertama diberi peluang menerima gadai adalah keluarga dekatnya atau kerabat sendiri. Melalui cara ini jika penggadai itu belum mampu membayar utangnya, maka tanah yang bersangkutan tidak lepas keluar melainkan masih dimiliki keluarganya.

Sistem Sakap atau Bagi Hasil

Hak sakap adalah hak seseorang untuk mengusahakan tanaman di atas tanah orang lain dengan perjanjian bahwa hasilnya dibagi antara kedua belah pihak berdasarkan persetujuan bersama. Usahatani dengan sistem sakap atau bagi hasil merupakan bentuk pranata sosial dalam kegiatan produksi yang sudah dikenal masyarakat Jawa. Sistem sakap dimungkinkan apabila ada pemilikan tanah yang luas disatu pihak, sedangkan dipihak lain banyak penggarap yang tidak mempunyai tanah sendiri (Soentoro 1981 dalam Kanto, 1986). Meluasnya pemilik tanah pertanian oleh bukan petani dan oleh mereka yang tidak tinggal dengan lokasi tanah, mendukung dipraktekannya sistem sakap atau bagi hasil. (Kanto, 1986). Menurut Wiradi dan Makali (1984), bagi hasil adalah penyerahan sementara hak atas tanah kepada orang lain untuk diusahakan, dengan perjanjian

(37)

si penggarap akan menanggung beban tenaga kerja seluruhnya dan menerima sebagian dari hasil tanahnya.

Berikut ini merupakan sistem bagi hasil dan sewa – menyewa di pedesaan Jawa Barat (Kroef, 1984);

1. Mertelu, pemilik tanah menanggung biaya benih dan memungut 2/3 hasil panen, sisanya merupakan hak penyewa atau penyakap

2. Merapat, persyaratannya sama dengan diatas kecuali bahwa pemilik tanah mendapat ¾ bagian hasil panen dan bagian untuk penyakap.

3. Nyeblok atau ngepak, dalam hal ini penggarap melakukan semua pekerjaan dan membajak, menyiang sampai menanam. Kemudian pemilik tanah mengambil alih pekerjaan. Penggarap menerima 1/5 hasil panen.

4. Derep, penggarap atau buruh terutama menanam padi, tetapi dapat diminta membantu pekerjaan lain sampai panen tiba. Bagian buruh adalah 1/5 padi bulir, tetapi bilamana hasilnya jelek bagiannya dapat berkurang.

5. Gotong royong, suatu kegiatan yang biasanya mengikutsertakan anggota keluarga saja. Penggarap mendapat bagian yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan kebiasaan.

Dalam hal bagi hasil (sakap, maro5) terdapat dua kemungkinan arti “sistem hubungan kerja” antara pemilik dan penyakap. Pertama, arti yang membuat penyakap sebagai pengusaha tani yang cukup kuat bertanggung jawab dan mandiri atas kesatuan unsur – unsur usahatani. Kedua, arti yang lebih mirip status buruh borongan yang diberi upah hasil panen oleh pemilik dimana pemilik lebih

5Maro adalah salah satu bentuk dari penyakapan dengan sistem dimana 50 persen hasil untuk penggarap dan 50 persen untuk pemilik (Wiradi dan Makali, 1984 dalam Kasryno, 1984)

(38)

banyak bertanggung jawab dan berkorban input.6 Di Jawa pada umumnya hanya berlaku bagi sawah. Peraturan perjanjian bagi hasil bagi tanah sawah di Jawa antara pemilik dan penggarap masing-masing mendapat 50 persen dari hasil, setelah dikurangi biaya produksi (Manuwotto, 1995).

Terdapat dua bentuk hubungan penyakapan diantara petani biasa.

Pertama, suatu bentuk hubungan dimana sewa dibayar dalam jumlah tetap, dalam bentuk uang atau barang. Kedua, sebagian tertentu dari hasil panen dibayarkan sebagai sewa, yaitu dalam bentuk bagi hasil. Kenyataan bahwa pengelolaan tanah bengkok lebih jelas terlihat adanya hubungan kelas daripada hubungan sakap – menyakap dapat disimpulkan; pertama, tanah pertanian pada umumnya tidak dipandang sebagai suatu komoditi penuh; hal itu mencegah konsentrasi penguasaan tanah yang luas melalui penjualan, pembelian dan penggadaian.

Kedua, hubungan sakap – menyakap diantara petani telah dapat diamati secara luas, tetapi ditandai lebih kuat oleh hubungan gotong-royong antar petani daripadi hubungan kelas. Ketiga, suatu bentuk tertentu hubungan kelas telah banyak terjadi pada tanah bengkok resmi atas dasar hubungan komunal desa (Kano, 1984).

Sistem Sewa

Hak sebagai hasil sewa adalah hak seseorang untuk mengusahakan usahatani diatas tanah orang lain dengan memberi sejumlah imbalan uang atau barang sesuai dengan perjanjian antara kedua belah pihak setelah batas waktu sewa selesai, maka tanah dikembalikan pada pemiliknya. Menurut Wiradi dan

6Diperoleh dari Penelitian Sektoral Dalam Rangka Persiapan Repelita II. “Pola Penguasaan Tanah Pertanian Di Pedesaan Jawa” IPB. Mei 1973.

(39)

Makali (1984), sistem sewa adalah penyerahan sementara hak penguasaan tanah kepada orang lain, sesuai dengan perjanjian yang dibuat bersama oleh pemilik dan penyewa. Di desa – desa penelitian di Jawa ada enam macam istilah sewa yaitu motong, kontrak, sewa tahunan, setoran, jual oyodan dan jual potongan. Di dalam motong, kontrak dan setoran, harga sewa dibayar setelah panen dan di dalam sewa tahunan, jual oyodan atau jual potongan, harga sewa dibayar sebelum penyewa menggarap berbeda dengan harga sewa tanah bagi penyewa yang harus menunggu beberapa musim sebelum dapat menggarap tanah yang disewanya. Mereka yang harus menunggu beberapa musim kemudian baru menggarap memperoleh harga lebih murah daripada mereka yang langsung menggarap.

2.5. Hak Penguasaan Atas Tanah

Hak penguasaan atas tanah berisi serangkaian wewenang, kewajiban dan atau larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang dihaki. Pengaturan hak-hak penguasaan tanah dalam hukum tanah dibagi menjadi dua, yaitu;

1. Hak penguasaan atas tanah sebagai lembaga hukum; hak penguasaan atas tanah ini belum dihubungkan dengan tanah dan orang atau badan hukum tertentu sebagai pemegang haknya.

2. Hak penguasaan atas tanah sebagai hubungan hukum yang konkret; hak penguasaan atas tanah ini sudah dihubungkan dengan tanah tertentu sebagai obyeknya dan orang atau badan hukum tertentu sebagai subyek atau pemegang haknya.

(40)

Terdapat hierarkhi hak – hak penguasaan atas tanah dalam UUPA dan Hukum Tanah nasional, adalah;

1. Hak Bangsa Indonesia atas tanah; merupakan hak penguasaan atas tanah tertinggi dan meliputi semua tanah yang ada dalam wilayah negara, yang merupakan tanah bersama, bersifat abadi dan menjadi induk bagi hak – hak penguasaan lain atas tanah. Pengaturan hak penguasaan atas tanah ini dimuat dalam pasal 1 ayat (1) – ayat (3) UUPA. Hak bangsa Indonesia atas tanah mempunyai sifat komunalistik, artinya semua tanah yang ada dalam wilayah Negara Republik Indonesia merupakan tanah bersama rakyat Indonesia yang telah bersatu sebagai bangsa Indonesia. Hubungan antara bangsa Indonesia dengan tanah bersifat abadi, artinya hubungan antara Indonesia dengan tanah akan berlangsung tiada terputus – putus untuk selamanya. Sifat abadi artinya selama rakyat Indonesia masih bersatu sebagai bangsa Indonesia dan selama tanah bersama tersebut masih ada, dalam keadaan yang bagaimanapun tidak ada sesuatu kekuasaan yang akan dapat memutuskan atau meniadakan hubungan tersebut. Sementara itu, hak induk bagi hak – hak penguasaan yang lain atas tanah adalah semua hak penguasaan tanah yang lain bersumber pada Hak Bangsa Indonesia atas tanah dan bahwa keberadaan hak – hak penguasaan apa pun hak yang bersangkutan tidak meniadakan eksistensi hak bangsa Indonesia atas tanah.

2. Hak Menguasai dari Negara Atas Tanah; bersumber pada hak bangsa Indonesia atas tanah, yang hakikatnya merupakan penugasan pelaksanaan tugas kewenangan bangsa yang mengandung unsur hukum publik.

(41)

3. Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat; hak ulayat tersebut diatur dalam Pasal 3 UUPA yaitu “Dengan mengingat ketentuan – ketentuan dalam Pasal 1 dan Pasal 2 pelaksanaan hak ulayat dan pelaksanaan hak – hak serupa itu dari masyarakat – masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataan masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan undang – undang dan peraturan – peraturan lain yang lebih tinggi.” Hak ulayat masyarakat hukum adat adalah serangkaian wewenang dan kewajiban suatu masyarakat hukum adat, yang berhubungan dengan tanah yang terletak dalam lingkungan wilayahnya. Menurut Boedi Harsono, hak ulayat masyarakat hukum adat dinyatakan masih apabila memenuhi 3 unsur, yaitu; (a). masih adanya suatu kelompok orang sebagai warga persekutuan hukum adat tertentu, yang merupakan masyarakat hukum adat. (b). masih ada wilayah yang merupakan ulayat masyarakat hukum adat tersebut, yang disadari sebagai tanah kepunyaan bersama para warganya sebagai “ labensraum”nya dan (c). masih adanya penguasa adat yang pada kenyataannya diakui oleh para warga masyaratkat hukum adat bersangkutan, melakukan kegiatan sehari – hari sebagai pelaksana hak ulayat.

4. Hak-Hak Perseorangan Atas Tanah; merupakan hak yang memberi wewenang kepada pemegang haknya untuk memakai, dalam arti menguasai, menggunakan dan atau mengambil manfaat dari bidang tanah tertentu. Hak – hak perseorangan atas tanah berupa hak atas tanah, wakaf tanah, hak milik, hak tanggungan dan hak milik atas satuan rumah susun.

(42)

2.6. Hak-Hak Atas Tanah : Hak Milik7 Ketentuan Umum

Ketentuan mengenai Hak Milik disebutkan dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a UUPA yaitu hak milik. Secara khusus diatur dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 27 UUPA (Lampiran 8). Menurut Pasal 50 ayat (1) UUPA, ketentuan lebih lanjut mengenai Hak Milik diatur dengan undang-undang, namun belum terbentuk sampai sekarang. Untuk itu, diberlakukanlah Pasal 56 UUPA, yaitu selama undang – undang tentang Hak Milik belum terbentuk, maka yang berlaku adalah ketentuan – ketentuan hukum adat setempat dan peraturan – peraturan lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan UUPA.

Pengertian Hak Milik

Hak milik menurut Pasal 20 ayat (1) UUPA adalah hak turun – temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6 8. Turun – temurun artinya hak milik atas tanah dapat berlangsung terus selama pemiliknya masih hidup dan bila pemiliknya meninggal dunia, maka hak miliknya dapat dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya sepanjang memenuhi syarat sebagai subjek hak milik. Terkuat artinya Hak Milik atas tanah lebih kuat bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain, tidak mempunyai batas waktu tertentu, mudah dipertahankan dari gangguan pihak lain dan tidak mudah dihapus. Terpenuh artinya Hak Milik atas tanah memberi wewenang

7Santoso, Urip. 2005. “Hukum Agraria dan Hak-Hak Atas Tanah”. Hal. 90-98. Jakarta: Kencana

8Pasal 6 UUPA 1960 adalah semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial.

(43)

kepada pemiliknya paling luas bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain, dapat menjadi induk bagi hak atas tanah yang lain, tidak berinduk pada hak atas tanah yang lain.

Peralihan Hak Milik

Peralihan hak milik atas tanah diatur dalam Pasal 20 ayat (2) UUPA, yaitu Hak Milik dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain. Dua bentuk peralihan Hak Milik atas tanah dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Beralih

Artinya berpindahnya hak milik atas tanah dari pemiliknya kepada pihak lain dikarenakan suatu peristiwa hukum

2. Dialihkan/pemindahan hak

Artinya berpindahnya hak milik atas tanah dari pemiliknya kepada pihak lain dikarenakan adanya suatu perbuatan hukum.

Peralihan Hak Milik atas tanah secara langsung maupun tidak langsung kepada orang asing, kepada seseorang yang mempunyai dua kewarganegaraan atau kepada badan hukum yang tidak ditunjuk oleh pemerintah adalah batal karena hukum dan tanahnya jatuh kepada negara, artinya tanahnya kembali menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara.

(44)

Subjek Hak Milik

Menurut UUPA yang dapat mempunyai (subjek hak) tanah Hak Milik menurut UUPA dan peraturan pelaksanaannya, adalah :

1. Perseorangan

Hanya warga negara Indonesia yang dapat mempunyai Hak Milik (Pasal 21 ayat (1) UUPA).

2. Badan – badan hukum

Pemerintah menetapkan badan – badan hukum yang dapat mempunyai Hak Milik dan syarat – syaratnya (Pasal 21 ayat (2) UUPA).

Bagi pemilik tanah yang tidak memenuhi syarat sebagai subjek hak milik atas tanah, maka dalam waktu 1 tahun harus melepaskan atau mengalihkan hak milik atas tanahnya kepada pihak lain yang memenuhi syarat. Apabila hal ini tidak dilakukan, maka tanahnya hapus karena hukum dan tanahnya kembali menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara (Pasal 21 ayat (3) dan ayat (4) UUPA).

Terjadinya Hak Milik

Hak Milik atas tanah dapat terjadi melalui 3 cara sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 22 UUPA, yaitu :

1. Hak Milik atas tanah yang terjadi menurut hukum adat

Hak Milik atas tanah terjadi dengan jalan pembukaan tanah (pembukaan hutan) atau terjadi karena timbulnya lidah tanah (Aanslibbing)9

9Lidah tanah (Aanslibbing ) adalah tanah yang timbul atau muncul karena berbeloknya arus sungai atau tanah di pinggir pantai dan terjadi dari lumpur, lumpur tersebut makin lama makin tinggi dan mengeras sehingga akhirnya menjadi tanah.

(45)

2. Hak Milik atas tanah terjadi karena penetapan pemerintah

Hak Milik atas tanah yang terjadi disini semula berasal dari tanah negara.

3. Hak Milik atas tanah terjadi karena ketentuan undang – undang

Hak Milik atas tanah ini terjadi karena undang-undanglah yang menciptakannya, sebagaimana yang diatur dalam Pasal I, Pasal II dan Pasal VII ayat (1) Ketentuan – ketentuan Konversi UUPA.

Hak Milik atas tanah juga dapat terjadi melalui 2 cara, yaitu : 1. Secara Originir

Terjadinya hak milik atas tanah untuk pertama kalinya menurut hukum adat, penetapan pemerintah dan karena undang – undang.

2. Secara Derivatif

Suatu subjek hukum memperoleh tanah dari subjek hukum lain yang semula sudah berstatus tanah Hak Milik, misalnya jual beli, tukar-menukar, hibah dan pewarisan.

Hapusnya Hak Milik

Pasal 27 UUPA menetapkan faktor – faktor penyebab hapusnya hak milik atas tanah Hak Milik atas tanah dan tanahnya jatuh kepada Negara, yaitu :

1. Karena pencabutan hak berdasarkan Pasal 1810 2. Karena penyerahan dengan sukarela oleh pemiliknya 3. Karena ditelantarkan

10Pasal 18 UUPA 1960 menyebutkan bahwa untuk kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa dan negara serta kepentingan bersama dari rakyat, hak-hak atas tanah dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dengan undang-undang.

(46)

4. Karena subjek haknya tidak memenuhi syarat sebagai subjek Hak Milik atas tanah

5. Karena peralihan hak yang mengakibatkan tanahnya berpindah kepada pihak lain tidak memenuhi syarat sebagai subjek Hak Milik atas tanah.

2.7. Distribusi Kepemilikan Lahan

Menurut Warsito (1982), distribusi dapat diartikan sebagai penyebaran baik pemilikan maupun penguasaan pada berbagai golongan pemilikan dan penguasaan. Variabel ini dipergunakan untuk melihat sejauh mana pemilikan tanah menyebar diantara pemilik tanah. Pemilikan dalam hal ini diartikan sebagai pemilik tanah secara de jure, termasuk di dalamnya tanah milik yang sedang disewakan dan disakapkan. Berdasarkan pada data penelitian oleh SAE dalam penelitian Intensifikasi Padi Sawah (IPS) menunjukkan bahwa distribusi pemilikan sawah di desa – desa penelitian sangat timpang. Hampir semua desa itu indeks gini11menunjukkan angka di atas 0,60 (Wiradi dan Makali, 1984).

11Indeks gini adalah salah satu alat ukur distribusi, yaitu angka yang menunjukkan rasio antar luas busur dan luas segitiga dalam kurva Lorenz. Angka itu berkisar antara 0 sampai 1 . Angka 0 = rata sempurna, artinya seluruh luas tanah terbagi rata diantara rumah tangga di desa dengan masing- masing mempunyai luas yang sama. Angka = 1 timpang mutlak, artinya satu orang memiliki seluruh tanah di desa.

(47)

2.8. Rumus-Rumus Ukuran Kemerataan

Menurut Sigit (1980), pengukuran tingkat ketidakmerataan dapat dilihat dengan berbagai cara. Cara statistik yang dikembangkan untuk mengukur dispersi pada prinsipnya untuk hal – hal tertentu dapat digunakan untuk pengukuran penyebaran atau kemerataan seperti pendapatan dan pemilikan lahan. Terdapat beberapa rumus yang dapat digunakan untuk mengetahui ukuran pemerataan.

Beberapa cara yang lazim dipakai antara lain Gini Ratio, Kuznet’s Index dan perhitungan Bank Dunia. Untuk mengetahui keadaan distribusi kepemilikan lahan, disini harus dipergunakan beberapa nilai, walaupun demikian dengan sedikit penyesuaian cara ini dapat dipakai untuk mengetahui keadaan kepemilikan suatu kelompok tertentu, yang menjadi perhatian biasanya adalah kelompok kelas atas atau juga kelompok kelas bawah.

Perhitungan Bank Dunia

Bank Dunia beranggapan bahwa penyebab ketidakmerataan adalah karena penduduk kelompok bawah menerima pendapatan sangat rendah. Perhitungan Bank dunia ini juga dapat digunakan untuk menghitung distribusi pemilikan lahan. Bank Dunia mengambil kriteria sebagai berikut :

Tingkat ketidakmerataan tinggi bila 40 persen penduduk terbawah menerima jumlah pendapatan lebih kecil dari 12 persen dari seluruh jumlah pendapatan, sedang jika share pendapatan antara 12-17 persen dinamakan Tingkat Ketidakmerataan Sedang, dan jika lebih dari 17 persen Tingkat Ketidakmerataan Rendah.

(48)

Kuznet’s Index (KI)

Kuznet’s lebih melihat pada kelompok atas sebagai penyebab ketidakmerataan. Karena itu persentase jumlah pendapatan kelompok 10 persen teratas dipakai sebagai kriterium ketidakmerataan. Kuznet’s Indeks juga dapat digunakan untuk mengukur distribusi pemilikan lahan. Kuznet’s Index dihitung dengan rumus :

Dimana fi = proporsi jumlah rumah tangga/penduduk dalam kelas pendapatan i yi = proporsi jumlah pendapatan dari rumahtangga/penduduk dalam kelas

pendapatan i k = jumlah kelas

Jika distribusi merata sekali, maka fi = yi untuk semua kelas pendapatan, sehingga KI = 0 dan keadaan ekstrim yaitu jika seluruh pendapatan hanya diterima oleh satu orang atau satu kelompok. Nilai KI mendekati 2.

Gini Coefficient (GC)

Gini Coefficient (GC) digunakan untuk menunjukkan suatu distribusi secara menyeluruh yang dapat dihitung dengan rumus :

Dimana : yi*

= proporsi secara kumulatif dari jumlah pendapatan rumah tangga sampai kelas ke i

fi= proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas ke i k = jumlah kelas

KI = k fi– yi

I=1

Σ

GC = 1 –k fi( yi*

+ yi*

-1) I =1

Σ

(49)

2.9. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu

Beberapa peneliti telah melakukan penelitian masalah agraria antara lain : Mohammad Tauchid, (1952), Tashadi (1985), Sanggar Kanto (1986), Frans Husken (1998), serta Benjamin White dan Gunawan Wiradi (1979). Tauchid (1952), membahas mengenai sistem tenurial pada masa pemerintahan Inggris.

Pada masa itu, konsep feodal mengatur masalah pertanahan dan sistem tenurial di Indonesia. Menurut konsep feodal, yang berkuasa atas tanah adalah kaum bangsawan di Inggris dan orang biasa hanya dapat menjadi penyewa. Pada masa pemerintahan Rafless, sistem penarikan pajak bumi adalah 2/5 dari hasil dengan dasar semua tanah adalah milik raja atau pemerintah. Rafles menarik sewa tanah atas dasar tanah yang ditangan rakyat semuanya adalah milik raja. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tanah di Jawa adalah milik raja, maka karena kekuasaan raja pindah ke tangan kekuasaan yang baru (Inggris), maka kekuasaan yang tidak terbatas itu pindah tangan. Pada masa itu, pemilikan dan penguasaan tanah sebagian besar cenderung komunal, walaupun juga terdapat sistem perseorangan.

Tashadi (1985) yang meneliti pola penguasaan, pemilikan dan penggunaan tanah secara tradisional di daerah Yogyakarta berpendapat bahwa sistem tenurial di Daerah Istimewa Yogyakarta dikaji melalui pranata-pranata pemilikan, religi, ekonomi, maupun hukum adat adalah berbentuk feodal pada mulanya dan kemudian berbentuk sebagai tanah komunal dan hak milik perseorangan. Sistem tenurial di Yogyakarta segalanya berorientasi kepada raja. Sebelum tahun 1918, menunjukkan sistem tenurial di Yogyakarta adalah bersifat feodal. Semua tanah

(50)

yang ada adalah milik raja atau sultan. Hal tersebut ditandai dengan berkuasanya para patuh dan bekel atas tanah-tanah raja dan rakyat sebagai penggarapnya yang tidak mempunyai hak apa – apa atas tanah yang digarapnya. Adapun pembagian tanah di Yogyakarta adalah sebagai berikut; 1/5 untuk bekel, 2/5 untuk patuh dan 2/5 untuk rakyat.

Akan tetapi sejak tahun 1918, dengan diberlakukannya Rijksblad Kasultanan No. 16 tahun 1918 maka terhapuslah kekuasaan para patuh dan bekel atas tanah milik raja. Berdasarkan pada pasal 4 Rijksblad Kasultanan No. 16 tahun 1918, para pemakai tanah diberi kesempatan sebagai pemakai tanah dengan hak anganggo turun – temurun. Sejak tahun 1926 berdasarkan peraturan yang berlaku saat itu (UU. No. 23 dan UU. No. 25 tahun 1926), tanah yang menjadi milik dan kuasa pemerintah kalurahan dijadikan tanah desa untuk kepentingan bersama.

Demikianlah, sejak tahun 1926 maka sistem tenurial di Yogyakarta adalah bersifat komunal untuk kepentingan bersama.

Dalam perkembangannya, diberlakukan Perda No. 5 tahun 1954 tentang hak atas tanah di Yogyakarta. Di dalam pasal – pasal Perda tersebut menyatakan bahwa DIY memberi hak – hak milik perorangan turun – temurun atas sebidang tanah kepada WNI, selanjutnya disebut hak milik. Berdasarkan Perda tersebut sistem tenurial di Yogyakarta setelah terbentuknya Daerah Istimewa Yogyakarta dengan UU. No. 3 tahun 1950 adalah bersifat kepentingan bersama (tanah komunal) dan juga bersifat untuk kepentingan perseorangan.

Kanto (1986) membahas mengenai struktur penguasaan tanah dan hubungan kerja agraris di daerah pedesaan Jawa Timur, kasus di Desa Janti,

(51)

Kabupaten Sidoarjo. Di Desa Janti, terdapat dua bentuk sistem tenurial (penguasaan tanah) yang berlaku yaitu sistem sewa dan sistem sakap. Penyewaan tanah sawah dapat terjadi antara petani dengan petani dan antara petani dengan pabrik gula. Penyewaan tanah banyak dilakukan oleh golongan petani luas dan petani sedang yakni masing – masing sebesar 37,5 persen dan golongan petani sempit sebesar 25 persen, sedangkan petani yang menyewakan tanahnya adalah petani sempit. Arus tanah garapan dengan sistem sewa antar petani mengalir dari banyak petani sempit kepada sedikit petani luas, artinya sistem sewa menunjukkan gejala pengumpulan tanah garapan. Penyewa tanah adalah golongan yang mampu, sedangkan yang menyewakan tanah adalah golongan rumah tangga miskin yang menyewakan tanahnya karena terdesak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari – hari. Sedangkan arus tanah garapan dengan sistem sakap terjadi antara petani luas dengan petani sedang dengan sistem maro.

Sementara itu Husken (1998) membahas akses ke lahan dan tenaga kerja : dasar – dasar diferensiasi sosial. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa menurut Husken 1988, di Desa Gondosari sistem tenurialnya dikuasai oleh tuan – tuan tanah yang memiliki lahan – lahan luas. Akan tetapi, sejak adanya peraturan mengenai pemilikan tanah setiap orang tidak boleh lebih dari 5 ha. Oleh karena itu, para tuan tanah tersebut mendaftarkan tanah – tanah mereka atas nama anggota – anggota keluarganya sendiri untuk menghindari ketentuan Undang- Undang Landreform yang menetapkan batas maksimum 5 hektar tanah yang boleh dimiliki seorang penduduk.

Gambar

Tabel 1. Struktur Pemilikan Tanah di Kalangan Rumah Tangga Petani Menurut Sensus Pertanian Tahun 1993.
Gambar 2. Kerangka Pemikiran
Tabel 3. Data Kepemilikan Lahan Pertanian di Desa Cibatok 1 Data Kepemilikan Lahan Pertanian
Tabel 4. Jenis Kepemilikan Lahan Pertanian di Desa Cibatok 1 Jenis Kepemilikan Lahan Pertanian
+4

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, baik analisis kuantitatif maupun kualitatif maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran ETH pada materi ikatan

Berdasarkan hasil penelitian, lebih dari 50% institusi Diknakes di pulau Jawa yang telah diakreditasi dengan Borang Akreditasi 2000 mempunyai nilai akreditasi cukup untuk sub

tingkat depresi dengan risiko jatuh pada orang lanjut usia di Griya.. Lanjut Usia

Lingkup penelitian terbatas pada efisiensi biaya yang dirasakan oleh peserta tes dan keyakinan mereka terhadap akuntabilitas publikasian hasil tes CPNS di

Melihat pada website membuat penulis merancang sebuah desain CD Interaktif yang offline seperti tamplate yang ada pada website yang online sehingga bentuk CD Interaktif tersebut

Dalam Islam, pendidikan humanistik dimaksudkan sebagai proses pendidikan yang menekankan pengembangan potensi peserta didik supaya terktualisasi secara optimal sehingga

Casting juga merupakan suatu teknik yang sering dilakukan di kedokteran gigi dalam pembuatan tempatan gigi, mahkota gigi tiruan, jembatan rangka gigi tiruan dan lain-lain dengan

Lektin UEA bereaksi negatif pada sel Sertoli, sel spermatogonium dan sel spermatid pada bulan Januari dan Juni sedangkan bereaksi positif sedang sampai kuat pada