BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Teknik Analisis Data
Data-data hasil wawancara, hasil observasi maupun kutipan dan saduran dari berbagai dokumen disajikan dalam suatu catatan harian yang dianalisis sejak pertama kali datang ke lapangan dan berlangsung terus-menerus selama penelitian berjalan. Data kuantitatif diolah dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan analisa deskriptif dengan menggunakan software Microsof excel 2007.
Data-data tersebut kemudian direduksi yakni melalui proses pemilihan, pemusatan perhatian, serta penyederhanaan data-data kasar yang diperoleh dari catatan harian. Selain itu, peneliti juga mencocokan data yang didapat dengan data yang dimiliki desa dan menganalisisnya menjadi draf pertama yang terus diperbaiki dan disempurnakan sehingga menjadi laporan penelitian yang baik dan ilmiah. Data tersebut kemudian dipetakan atau ditipologikan berdasarkan golongan – golongan tertentu. Data tersebut kemudian disajikan dalam bab – bab yang dikembangkan dari hasil perolehan data di lapang.
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1. Letak Administratif
Secara administratif Desa Cibatok 1 terletak di wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Wilayah Desa Cibatok 1 dibatasi oleh Desa Cimanggu 2 di sebelah utara, Desa Cibatok 2 di sebelah selatan, Desa Cicadas di sebelah timur, dan Desa Cemplang di sebelah barat. Jarak dari Desa Cibatok 1 ke Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah 10 kilometer, yang dapat ditempuh dengan kendaran roda dua selama 10 – 15 menit dan dengan kendaraan roda empat selama 30 menit.
Jalan yang menghubungkan Desa Cibatok 1 dengan kota kecamatan, kabupaten dan provinsi relatif sudah baik. Demikian pula jalan – jalan yang menghubungkan Desa Cibatok 1 dengan desa – desa lainnya yang berada di wilayah Kecamatan Cibungbulang. Hal tersebut telah banyak membuka kesempatan masyarakat desa untuk mengembangkan usaha, baik itu usaha di bidang pertanian maupun di luar bidang pertanian. Desa Cibatok 1 memiliki tiga dusun yang dibagi lagi menjadi 9 RW dan 28 RT.
Pola pemukiman penduduk Desa Cibatok 1 pada umumnya berjajar mengikuti alur jalan yang ada. Rumah – rumah yang terletak di daerah jalan utama atau dekat dengan kantor desa umumnya adalah rumah – rumah permanen dengan bangunan tembok. Sementara rumah-rumah di wilayah pedusunan bangunannya cukup beragam, mulai bangunan tembok, semi permanen atau rumah kayu.
4.2. Kondisi Agronomi
Luas wilayah Desa Cibatok 1 adalah 174 hektar. Sekitar 100 hektar digunakan untuk pertanian dan sisanya untuk area pemukiman, kuburan, jalan, tempat peribadatan (masjid), kantor pemerintah desa, sekolah, puskesmas dan sarana prasarana umum masyarakat lainnya. Desa Cibatok 1 terletak pada ketinggian 250 m diatas permukaan laut dengan jumlah dan curah hujan 236 m3.
Kurang lebih 60 persen luas tanah di Desa Cibatok 1 digunakan untuk areal pertanian. Komoditas pertanian yang dihasilkannya antara lain padi, singkong, ubi jalar, jagung kacang panjang, terong, cabai, ketimun dan pepaya.
Meskipun sektor unggulan desa ini adalah pertanian tapi sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai pedagang. Hal ini dikarenakan petani di desa ini juga merangkap sebagai pedagang. Selain kedua sektor tersebut, sektor peternakan juga dapat ditemukan di desa ini.
Sumber daya alam yang dominan ditemukan di Desa Cibatok 1 adalah sungai dan sumber mata air. Sungai-sungai utama yang mengalir di desa ini yaitu Sungai Cibungbulang, Sungai Ciaruteun, dan Sungai Leuwi Jengkol. Sungai – sungai ini menjadi sumber irigasi pertanian di samping sumber mata air. Sumber daya alam yang lain misalnya batu, kerikil, dan pasir dari sungai, ikan, hasil-hasil alam lainnya.
4.3. Kependudukan
Desa Cibatok 1 pada tahun 2007 memiliki jumlah penduduk sebesar 8083 jiwa dengan jumlah keluarga 1825 Kepala Keluarga (KK). Penduduk sebagian besar bermata pencaharian rangkap yaitu sebagai petani dan sekaligus pedagang.
Desa ini memiliki tiga dusun, 9 RW, dan 28 RT.
Pada tahun 2008 Jumlah penduduk adalah 8136 jiwa dengan jumlah laki – laki 4123 jiwa dan perempuan sebanyak 4013 jiwa. Sedangkan jumlah keluarga adalah 1947 KK diantaranya; keluarga pra sejahtera sebanyak 746 KK, keluarga sejahtera satu sebanyak 337 KK, keluarga sejahtera dua sebanyak 44 KK, keluarga sejahtera tiga sebanyak 331 KK dan keluarga sejahtera tiga plus sebanyak 91 KK.
4.4. Pendidikan
Tingkat pendidikan penduduk Desa Cibatok 1 bervariasi, mulai dari tingkat pendidikan dasar, menengah, atas serta perguruan tinggi. Berdasarkan informasi dari aparat desa, untuk kondisi sekarang tingkat pendidikan masyarakat semakin baik. Sebagian besar generasi muda desa mampu menyelesaikan pendidikan hingga tingkat atas.
Selain sarana bagi pendidikan formal, Desa Cibatok 1 juga menyediakan fasilitas belajar bagi masyarakat yang masih buta huruf melalui program keaksaraan fungsional (KF). Hal tersebut juga menunjang peningkatan mutu sumberdaya manusia.
4.5. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang tersedia di desa ini dapat dibilang lengkap.
Prasarana jalan menuju Desa Cibatok 1 dan yang menghubungkan Desa Cibatok 1 dengan desa – desa tetangganya sudah menggunakan perkerasan aspal, sehingga memudahkan proses transportasi. Demikian pula halnya dengan prasarana jalan antar dusun, juga sudah diaspal. Di Desa Cibatok 1 sudah terdapat angkutan desa (angdes) yang beroprasi dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB, dan ojeg yang beroperasi lebih lama dari angdes.
Sarana umum masyarakat yang ada di Desa Cibatok 1 adalah masjid, kantor desa, sarana pendidikan (SD, SMP, SMA dan pesantren), puskesmas sebagai sarana kesehatan, kios-kios, koramil serta sarana prasarana umum lainnya mudah ditemukan dan dijangkau oleh masyarakat. (Lampiran 9)
Ketersediaan air bersih cukup memadai yang diperoleh dari sumur gali, mata air dan sumur pompa. Sarana pembuangan sampah masih belum baik sehingga sebagian besar penduduk setampat membuang sampah sembarangan.
Hal ini akan mengakibatkan tingginya potensi serangan berbagai macam penyakit yang tidak diinginkan.
4.6. Mata Pencaharian
Desa Cibatok 1 merupakan daerah yang dapat disebut dengan istilah desa – kota. Adapun ciri dari desa – kota antara lain, telah memiliki sarana komunikasi yang baik, transportasi yang lancar, pasar yang mudah dijangkau, sumber nafkah non-pertanian yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakatnya (walaupun, sebagian besar lahannya masih dimanfaatkan untuk pertanian) telah terjadi konversi lahan didalamnya, adanya keikutsertaan pihak luar dalam kepemilikan lahan.
Kondisi yang demikian memungkinkan keanekaragaman mata pencaharian dan diterapkannya pola nafkah ganda di Desa Cibatok 1. Sekitar 50 persen penduduk bermata pencaharian sebagai pedagang. Sementara itu, 50 persen lainnya bermata pencaharian sebagai petani, pegawai negeri, pegawai swasta, wiraswasta, pertukangan, buruh bangunan, tukang ojeg dan supir.
Lebih dari 60 persen petani memiliki pekerjaan sampingan seperti pedagang. Pola nafkah ganda misalnya bertani dan berdagang biasanya diterapkan oleh petani yang luas lahannya lebih besar atau sama dengan 1 ha serta buruh tani yang memiliki keluarga sebagai petani kaya. Petani tersebut seringkali menjual barang dagangannya yang berupa hasil panen ke kota yaitu pasar di Bogor dan di Jakarta.
Profesi sebagai petani banyak digeluti oleh para generasi tua. Sementara itu, para pemuda di Desa Cibatok 1 cenderung memiliki minat yang rendah terhadap pertanian. Para generasi muda di Desa Cibatok 1 memilih bekerja sebagai supir, tukang ojeg dan buruh bangunan.
V. DISTRIBUSI KEPEMILIKAN LAHAN DESA CIBATOK 1
5.1. Sejarah Penguasaan dan Kepemilikan Lahan Pertanian Di Desa Cibatok 1
Secara historis, Desa Cibatok 1 berdiri sejak sekitar 100 tahun lalu yaitu sekitar tahun 1908. Akan tetapi, tidak terdapat keterangan bagaimana awal mula desa tersebut didirikan. Sementara itu, pemilikan tanah di Desa Cibatok 1 secara garis besar diperoleh dengan cara membuka hutan, namun bukan hutan belantara hanya hutan – hutan kecil seperti hutan bambu. Hal tersebut dikarenakan sebelumya tidak terdapat hutan lebat atau belantara di daerah ini. Berikut hasil wawancara dengan salah seorang sesepuh di Desa Cibatok 1.
“Disini mah setahu saya, tidak ada hutan lebat yang pohonnya gede-gede gitu. Menurut dongeng-dongeng dari kakek buyut saya, disini dulu adanya hutan kecil, kayak hutan bambu, semak-semak gitu.”
Berdasarkan keterangan dari sekretaris desa, sebagai berikut.
“Gak ada hutan belantara dulunya, setahu saya emang udah ada rumah, tapi jaraknya jauh-jauh. Nah, adanya mah hutan-hutan kecil.”
Kepemilikan tanah yang diperoleh dengan cara membuka hutan tersebut dimiliki secara turun – temurun. Tanah yang dimiliki tersebut oleh warga sekitar dinamakan dengan tanah adat dengan bukti kepemilikan lahan yang disebut girik.
Tanah yang dimiliki dikelola secara perseorangan kemudian diwariskan secara turun – temurun kepada generasi berikutnya. Di Desa Cibatok 1, tidak terdapat tanah yang dikelola secara komunal. Selain dari proses warisan, kepemilikan lahan juga dapat melalui proses jual beli. Pada awal abad ke 20, sudah terdapat
proses jual beli namun masih terbatas. Sebagian besar proses kepemilikan lahan diperoleh melalui warisan.
Menurut keterangan responden pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1930 – an, tanah di Desa Cibatok dikuasai oleh tuan tanah. Jadi, walaupun penduduk setempat yang memiliki tanah, namun dari segi pengelolaan tanah dan tanaman yang ditanam ditentukan oleh tuan tanah. Selain dari segi pola tanam, tuan tanah juga menentukan besarnya pajak16 yang harus dibayar oleh masyarakat pada masa itu serta menentukan kepala desa yang berhak memimpin Desa Cibatok 1, kemudian bersama kepala desa yang telah terpilih menentukan orang-orang yang berhak menjadi aparat desa.
Kepala desa yang dipilih oleh tuan tanah adalah seseorang yang memiliki tanah yang luas, ternak yang banyak dan rumah yang besar. Sementara itu, aparat desa yang dipilih juga merupakan orang-orang yang dapat dikatakan mampu didesa. Ciri aparat desa yang demikian, menyebabkan tanah bengkok tidak terdapat di Desa Cibatok 1, karena dinilai tidak terlalu diperlukan oleh para pejabat desa. Tanah kas desa juga tidak pernah ada di Desa Cibatok 1. Selain itu, tuan tanah tidak mengizinkan adanya tanah kas desa.17 Alasannya karena masyarakat desa setempat hampir semuanya memiliki lahan pertanian.
Menurut keterangan nara sumber di Desa Cibatok 1, pertanian mulai berkembang pada kisaran tahun 1960 – 1970-an. Hal tersebut ditandai dengan adanya panca usaha tani dan penerapan revolusi hijau. Pada waktu itu, wilayah
16Tidak ada data maupun informasi yang menjelaskan mengenai berapa besarnya pajak.
17Diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan nara sumber yaitu Bapak Bahram yang merupakan sesepuh di Desa Cibatok 1
desa didominasi oleh area persawahan yaitu sekitar 70 persen sawah. Disamping itu, perkebunan pisang juga banyak terdapat di wilayah Desa Cibatok 1. Luasnya area persawahan juga didukung oleh sumberdaya air yang melimpah, sehingga hasil panen yang mayoritas berupa tanaman padi dan palawija sangat banyak.
Dalam perkembangannya sawah yang ditanami padi jumlahnya semakin menurun.
Petani yang dulunya menanam padi, banyak yang beralih ke tanaman palawija.
Hal tersebut dikarenakan, banyaknya hama yang menyerang tanaman padi, serta air untuk mengairi sawah mulai susah didapat.
Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan informan kunci, segi penguasaan lahan pada tahun 1930 – an sistem yang paling banyak digunakan adalah sistem bagi hasil khususnya maro. Selain maro, praktek sistem gadai juga sering dilakukan. Sementara itu, sistem sewa mulai banyak diterapkan pada saat tanaman palawija semakin banyak ditanam di daerah Desa Cibatok 1, hal tersebut terjadi sekitar tahun 1960 – an. Pada saat itu, banyak petani yang membutuhkan lahan pertanian untuk ditanami palawija, sehingga harga sewa lahan pada saat itu cukup tinggi.18 Praktek sistem sewa semakin banyak terjadi pada tahun 1990 – an.
Berkembangnya komersialisasi pertanian19 di Desa Cibatok 1 meningkatkan dilaksanakannya praktek sewa dan jual beli lahan pertanian. Selain praktek sewa
18Tidak ada informasi yang menjelaskan mengenai berapa besarnya harga sewa
19 Komersialisasi merupakan proses transformasi dari sesuatu yang tidak atau kurang memiliki nilai ekonomi-langsung, menjadi suatu produk atau komoditi bernilai pasar yang kompetitif. Agar transformasi tersebut bermakna, maka tidak bisa tidak hal tersebut harus dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip kapitalisme (Besari, 2003). Suatu komersialisasi akan diukur berdasarkan beberapa indikator yaitu peralihan dari ekonomi produk ke ekonomi uang antara lain ialah perkembangan pasar pertanahan, besarnya jumlah pembayaran dalam bentuk uang, suatu daerah dimana sistem bagi hasil, sewa, serta upah kerja di pertanian rakyat (Husken, 1998).
yang semakin meningkat, praktek jual beli lahan pun juga mengalami peningkatan pada tahun 1998. Hal tersebut terjadi karena sekitar tahun 1998 di daerah Sentul dan Jakarta banyak mengalami penggusuran, sehingga banyak warga yang membeli tanah dari penduduk desa untuk tempat pemukiman dan lahan pertanian.
Akibat jual beli lahan antar penduduk luar dengan penduduk asli desa, luas lahan yang dimiliki penduduk asli menjadi lebih sedikit daripada tahun – tahun sebelumnya. Sekitar tahun 1960 – an, lahan terluas yang dimilik petani adalah seluas 5 ha dan penyebarannya cukup merata, banyak petani yang memiliki lahan luas. Akan tetapi, dalam perkembangannya luas lahan yang dimiliki petani menjadi semakin sempit, khususnya petani yang merupakan penduduk asli desa.
Hal itu dikarenakan sistem waris yang selama ini diterapkan menyebabkan lahan yang dimiliki petani menjadi terbagi – bagi atau terfragmentasi. Selain itu, praktek jual beli lahan juga menjadi salah satu faktor penyebab semakin menyempitnya lahan yang dimiliki petani. Sekarang ini, lahan terluas yang dimiliki petani di Desa Cibatok 1 adalah 3,2 ha dan pemiliknya tersebut bukan penduduk asli Desa Cibatok 1, walaupun sekarang berdomisili di Desa Cibatok 1. Berikut ini merupakan kutipan hasil wawancara dengan sesepuh desa.
“Sekarang mah Neng, petani gak ada yang punya lahan seluas dulu. Kalo dulu mah, yang punya lahan 4-5 hektaran banyak. Tapi sejak banyak penggusuran di Sentul dan Jakarta, banyak yang datang kemari untuk beli tanah. Jadi lahan yang petani punya, pada berkurang. Belum lagi, kalo udah ada yang diwarisin, jadi tambah sempit-sempit aja lahan yang petani punya. Sekarang aja lahan yang paling luas dimiliki cuma 3,2 ha, itu juga yang punya bukan penduduk asli desa. Di sini banyak lahan pertanian yang bukan punya warga asli desa, walopun banyak juga sih yang punya warga asli, tapi yah gak luas-luas amat.”
5.2. Sistem Transfer Kepemilikan Lahan Pertanian
Penerapan sistem transfer lahan pertanian melalui jual beli dan waris yang diserta dengan bukti kepemilikan lahan pertanian berupa surat bukti kepemilikan lahan pertanian. Berikut ini merupakan paragraf-paragraf yang menjelaskan hal di atas secara detail.
Kepemilikan lahan di Desa Cibatok 1 disini dimaksudkan sebagai suatu bentuk penguasaan formal yang diperoleh melalui dua cara yaitu waris dan jual beli. Sistem waris sudah sejak lama diterapkan di Desa Cibatok 1. Sementara itu, sistem jual beli juga sudah ada sejak dahulu, namun menjadi lebih sering dilakukan sejak tahun 1990-an.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap 40 orang responden yang bermata pencaharian sebagai petani, diketahui bahwa tidak ada lahan pertanian di Desa Cibatok 1 yang murni hanya berasal dari proses jual beli, karena pada awalnya sistem pewarisan secara turun-temurun sudah diterapkan sejak lama. Jadi, tidak ada petani dari 40 responden yang memiliki lahan pertanian hanya dari hasil jual beli. Akan tetapi, terdapat kemungkinan mengenai dimilikinya lahan pertanian yang murni hanya dari proses jual beli pada petani-petani lainnya di Desa Cibatok 1. Terdapat 39 persen dari keseluruhan responden menyatakan bahwa lahan pertanian yang mereka miliki berasal dari warisan. Sementara itu, 61 persen dari keseluruhan responden menyatakan bahwa lahan pertanian yang mereka miliki berasal dari praktek jual beli dan warisan. Berikut ini penjelasan mengenai penerapan praktek waris dan jual beli, yang disajikan dalam Tabel 2.
Tabel. 2. Asal Kepemilikan Lahan Pertanian di Desa Cibatok 1 Data Asal Kepemilikan Lahan Pertanian
di Desa Cibatok 1
Persentase
Jual beli 0 %
Warisan 39 %
Jual beli dan Warisan 61 %
Sumber : Data Primer 2008 Desa Cibatok 1
5.2.1. Waris
Sistem waris biasanya dilakukan sebelum pemberi waris meninggal dunia, namun apabila pemberi waris meninggal secara mendadak, maka pewarisan dilakukan setelah pemberi waris meninggal dunia. Sistem waris di Desa Cibatok 1, dilakukan dengan pemberian tanah kepada pihak keluarga, luas tanah yang diberikan kepada anak laki – laki maupun perempuan tidak dibedakan. Di Desa Cibatok 1 juga diterapkan sistem waris berpedoman pada hukum Islam, yaitu ada pembedaan antara luas tanah yang diberikan kepada laki – laki dan perempuan.
Laki-laki diberi tanah yang lebih luas daripada perempuan, hal tersebut disebabkan laki-laki dianggap lebih membutuhkan karena bertanggung jawab terhadap rumah tangganya.
Berdasarkan hasil wawancara mendalam, pewarisan dilakukan oleh petani yang merasa dirinya sudah tidak mampu lagi mengelola lahan pertanian yang dimilikinya. Alasan yang mendasari pewarisan dilakukan sebelum orang tua meninggal adalah agar tidak terjadi pertikaian antar anggota keluarga yang saling merebutkan warisan serta supaya setiap anggota keluarga khususnya keluarga inti mendapatkan warisan secara adil.
Tanah-tanah yang diperoleh melalui proses warisan, pada umumnya status kepemilikannya hanya berupa bukti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Status
kepemilikan lahan dengan balik nama jarang dilakukan karena faktor biaya yang cukup mahal. Akan tetapi, dalam jangka waktu tertentu yaitu sekitar 10 tahun proses balik nama dilakukan. Hal tersebut dikarenakan agar mengantisipasi terjadinya konflik dalam keluarga dan atas himbauan dari pihak aparat desa mengenai pentingnya balik nama atas tanah yang dimiliki.
5.2.2. Jual Beli
Di Desa Cibatok 1 ini, tidak terdapat data angka yang dapat menunjukkan secara pasti banyaknya transaksi jual beli lahan pertanian setiap tahunnya, namun transaksi jual beli lahan pertanian pada saat sekarang ini sering terjadi.
Transaksi jual beli yang terjadi banyak yang tidak diketahui aparat desa.
Penyebabnya adalah para pemilik yang menjual lahannya seringkali tidak melibatkan pemerintah desa, karena menurut mereka jika melibatkan pemerintah desa akan mengeluarkan biaya tambahan yang jumlahnya cukup besar.
Di Desa Cibatok 1, transaksi jual beli terjadi antara pihak penjual dan pembeli serta melibatkan satu orang saksi. Saksi dalam transaksi jual beli tersebut biasanya dari kalangan keluarga. Kesepakatan transaksi jual beli tanah, dilandasi atas dasar saling percaya. Biasanya transaksi jual beli terjadi diantara keluarga, hal ini dimaksudkan agar tanah yang terjual tidak jatuh ke pihak luar keluarga. Akan tetapi, terkadang 2 belah pihak yaitu penjual dan pembeli melibatkan saksi yang berasal dari pemerintah desa.
Oleh karena transaksi jual beli sebagian besar terjadi dikalangan keluarga besar, status kepemilikan lahan yang sudah berganti pemilik hanya berdasarkan
pada Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan tidak terjadi balik nama. Bukti kepemilikan yang hanya berupa PBB tersebut, dikhawatirkan akan dapat menimbulkan konflik. Para pembeli tanah di Desa Cibatok 1 ada yang berasal dari dalam maupun luar desa, seperti dari Kota Bogor, Desa Cicadas, Desa Cibatok 2, Desa Cimanggu 2, dan Desa Cemplang.
Harga tanah sawah di Desa Cibatok satu bervariasi, yaitu berkisar antara Rp. 15.000,00 sampai Rp. 50.000,00 permeter persegi. Tanah yang lokasinya dipinggir jalan raya berharga lebih mahal, yaitu sekitar Rp. 50.000,00 permeter persegi. Tanah yang terletak tidak terlalu jauh dari jalan raya berharga sekitar Rp.
30.000,00 permeter persegi sedangkan tanah yang berada jauh dari jalan raya dan sulit dijangkau harganya berkisar Rp. 15.000,00 permeter persegi. Daya beli akan lahan pertanian penduduk luar Desa Cibatok 1 (bukan penduduk asli) lebih tinggi daripada penduduk asli Desa Cibatok 1 itu sendiri. Hal tersebut ditunjukkan salah satunya oleh pemilik lahan pertanian di Desa Cibatok 1 bukan penduduk asli desa.
Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan ketua kelompok tani Di Desa Cibatok 1 menyebutkan bahwa
“Disini teh, yang suka beli-beli tanah malah bukan orang asli desa, tapi orang yang bukan penduduk asli desa. Di desa ini yang sawahnya paling luas aja bukan orang asli sini Neng.”
Alasan penduduk yang menjual tanah umumnya dikarenakan oleh kebutuhan hidup yang mendesak seperti biaya berobat dan menyekolahkan anak.
Akan tetapi, ada juga yang menjual tanahnya karena alasan ekonomis yaitu untuk mendapatkan keuntungan serta karena ingin pindah ke tempat lain. Sementara itu, alasan membeli tanah adalah untuk menyelamatkan tanah milik keluarga (jika
transaksi jual beli antar anggota keluarga) serta untuk memperluas lahan pertanian.
5.3. Distribusi Kepemilikan Lahan Pertanian Di Desa Cibatok 1
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 40 orang responden yang bermata pencaharian sebagai petani, diketahui bahwa sebanyak 45 persen petani memiliki lahan pertanian dan 55 persen petani lainnya tidak memiliki lahan pertanian. Berikut ini Tabel 3 menjelaskan hal di atas.
Tabel 3. Data Kepemilikan Lahan Pertanian di Desa Cibatok 1 Data Kepemilikan Lahan Pertanian
di Desa Cibatok 1
Persentase
Memiliki lahan pertanian 45 %
Tidak memiliki lahan pertanian 55 %
Sumber : Data Primer 2008 Desa Cibatok 1
Jenis lahan pertanian yang dimiliki adalah sawah irigasi dengan tanaman yang diusahakan meliputi padi, singkong, ubi jalar, jagung kacang panjang, terong, cabai, ketimun, dan pepaya. Tanaman padi jumlahnya semakin menurun pada saat sekarang ini, sedangkan tanaman palawija semakin meningkat.
Penurunan jumlah tanaman padi ini dikarenakan air sulit didapat, menanam padi risikonya lebih tinggi daripada menanam palawija karena menurut keterangan
Penurunan jumlah tanaman padi ini dikarenakan air sulit didapat, menanam padi risikonya lebih tinggi daripada menanam palawija karena menurut keterangan