• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep tentang Humanitarian Diplomacy

Untuk menjamin hubungan kerjasama yang baik antar negara, maka diperlukan sebuah cara atau mekanisme sebagai sebuah proses dalam memperjuangkan kepentingan masing-masing. Komunikasi yang efektif merupakan salah satu faktor penting yang dapat mendukung hubungan kerjasama, dalam disiplin Ilmu Hubungan Internasional sering disebut dengan diplomasi (Fathun, 2014, p. 75). Lebih lanjut, Lakhdar Brahimi mengemukakan;

Diplomacy has been practised differently in different places and at different times in history. It generally involves the ability to define one‟s own objectives and at the same time to be fully aware of the views, interests, circumstances and objectives of the other side. The negotiations which the diplomat engages will have a better chance of success of his or her approach is informed by at least a degree of empathy, understanding and significantly, knowledge of the overall situation (Minear & Smith, 2007, p. xiv).

Secara substansial, Ambassador Lakhdar Brahimi dalam buku tentang Humanitarian diplomacy; practisioner and their craft edited by Larry Minear and Hazel Smith beropini bahwa diplomasi dalam sejarahnya, telah mengalami perbedaan dalam praktek, baik tempat maupun waktunya, yang secara umum diketahui sebagai keterlibatan dari seorang yang memiliki kemampuan dalam hal cara pandang, kepentingan, keadaan dan sikap objektif. Namun, negosiasai yang dilakukan oleh para diplomat dengan melihat sisi pendekatan yang mengutamakan sikap empati, rasa saling pengertian dengan dilandasi oleh pengetahuan dalam membaca keadaan, dipandang dapat menjanjikan sebuah kesempatan yang lebih baik dalam kesuksesan negosiasinya.

Konsep tentang diplomasi kemanusiaan atau Humanitarian Diplomacy dalam ranah akademik studi Ilmu Hubungan Internasional, memang acap kali dipandang skeptis. Pasalnya, kemunculan konsep yang diiringi skeptisisme ini didasari oleh dua terma atau konsep yang saling berbeda atau Contradictio in Terminis (Sugiono & Rosyidin, n.d.). Namun, melalui karya tulis ini, penulis mencoba untuk mencari dan mengumpulkan beberapa sumber dan pendapat serta kajian para akademisi yang menggeluti diplomasi kemanusiaan menjadi sebuah kerangka berfikir belakangan ini dalam studi HI. Lebih lanjut, konsep ini kian mencuat diiringi oleh isu-isu dan fenomena dibidang krisis dan tragedi kemanusiaan di panggung intenasional.

Secara substansial, terma diplomasi dan kemanusiaan hakekatnya dalam hubungan internasional merupakan dua konsep yang terpisah, namun dari berbagai literatur dan kajian dari akademis dan praktisi yang menggeluti diplomasi kemanusiaan ini, khususnya dalam disiplin ilmu Hubungan Internasional, mencoba untuk menawarkan solusi bahwa diplomasi kemanusiaan bisa saling menjembatani antara kepentingan nasional dan kepentingan Global / internasional.

Diplomasi memang seyogyanya dipahami secara konvensional sebagai sebuah upaya yang dilakukan untuk memperjuangkan kepentingan nasional.

Melalui utusan para diplomat sebagai representasi dari negara yang memiliki tugas penting untuk melakukan dialog dengan perwakilan negara lain, dimana masing-masing perwakilan tersebut membawa misi untuk mengedepankan kepentingan negara mereka, melalui berbagai cara-cara dan upaya apapun. Disisi

17

lain, konsep kemanusiaan sendiri mengacu kepada kepatuhan terhadap prinsip-prinsip, nilai dan norma internasional yang diakui secara universal. Artinya bahwa konsep kemanusiaan tidak tersekat oleh batas-batas tradisional suatu kekuasaan negara (Sugiono & Rosyidin, n.d., p. 15).

Hal inilah yang menyebabkan kemudian banyak anggapan bahwa hakekat diplomasi dan kemanusiaan tidak dapat dipadupadankan, atau belum memiliki leader formal untuk dijadikan sebagai landasan berfikir dalam menganalisis suatu isu atau fenomena tertentu dalam lingkup hubungan internasional. Sehingga para akademisi dalam hubungan Internasional mencoba mencari dan mengemukakan pendapat mereka, agar diplomasi kemanusiaan bisa menjadi sebuah kerangka berfikir agar doktrinisasi konvensional bisa dipatahakan dan bahwa kepentingan nasional dan kepentingan global atau internasional bisa saling menjembatani atau interconnected atau saling terhubung. Dengan syarat bahwa kepentingan nasional dijadikan alat untuk mencapai kepentingan Global atau Internasional. Lebih lanjut, Pendekatan atau konsep Humanitarian Diplomacy sangat tepat untuk menganalisis krisis kemanusiaan yang diakibatkan oleh konflik, tindak kekerasan serta berbagai tindakan dikriminatif lainnya, yang kemudian mempengaruhi bagaimana suatu negara berperilaku dan merefleksikan hubungannya dengan negara lain demi untuk ambisi, tujuan dan cita-cita dari kepentingan nasionalnya.

Dalam beberapa literatur menyebutkan bahwa, diplomasi kemanusiaan dipahami sebagai sebuah upaya damai yang dilakukan untuk mencapai kesepakatan utamanya terhadap komitmen yang didasarkan kepada prinsip – prinsip, nilai dan norma kemanusiaan yang universal (Sugiono & Rosyidin, n.d.,

pp. 13–14). Sedangkan dalam pandangan dan perspektif lain yang menyatakan mengenai diplomasi kemanusiaan, diantaranya “Humanitarian diplomacy is persuading decision-makers and opinion leaders to act, at all times, in the interests of vulnerable people, and with full respect for fundamental humanitarian principles”(‗Humanitarian Diplomacy | The Foreign Service Journal - April 2016‘, n.d.).

Pendapat ini mengatakan bahwa diplomasi kemanusiaan sebagai sebuah upaya untuk mengajak para pemegang kekuasan yang memiliki otoritas dan kewenangan untuk bagaimana kemudian memberikan perhatian kepada kepentingan-kepentingan dari mereka yang lemah. Sedangkan, dalam pendapat lain mengatakan bahwa;

Human rights and humanitarian diplomacy is defined as the negotiating, bargaining, and advocating process associated with the promotion and protection of international human rights and humanitarian principles (Kate Pease, n.d.).

Sedangkan persepsi ini, dipomasi kemanusiaan dipandang sebagai suatu proses negosiasi, proses tawar-menawar, dan proses advokasi (anjuran) melalui promosi dan perlindungan akan hak-hak kemanusiaan.

Lebih lanjut, diplomasi kemanusiaan memiliki tujuan, diantaranya:

Humanitarian diplomacy aims to mobilise public and governmental support and resources for humanitarian operations and programmes, and to facilitate effective partnerships for responding to the needs of vulnerable people. Humanitarian diplomacy includes advocacy, negotiation, communication, formal agreements, and other measures.

It is a field with many players, including governments, international organisations, NGOs, the private sector, and individuals (Kate Pease, n.d.)

Berdasarkan uraian diatas, tujuan dari diplomasi kemanusiaan adalah bagaimana kemudian bisa menjangkau publik secara luas dalam artian bagaimana

19

memobilisasi publik serta mendapat dukungan dan sokongan dari pemerintah, serta sumber daya lainnya demi menjalankan operasi dan program kemanusiaan.

Konkretnya, diplomasi kemanusiaan termasuk didalamnya proses advokasi, negosiasi, komunikasi, persetujuan formal serta berbagai bentuk ukuran lainnya, yang dimainkan oleh banyak pemain termasuk didalamnya aktor pemerintah-negara, organisasi internasional, pihak swasta, individu, dan lain-lainnya.

Oleh karena itu, diplomasi kemanusiaan sangat kaya dalam hal pemaknaan yang pada konkretnya, merujuk kepada satu hal yakni suatu upaya damai yang dilakukan karena didasari oleh nilai-nilai, prinsip-prinsip kemanusiaan karena diri kita manusia, disamping untuk mendapatkan akses dalam memberikan bantuan kepada mereka yang lemah yang menjadi korban dari konflik, kekerasan, dan perang sehingga berakhir pada sebuah titik yang disebut sebagai krisis kemanusiaan.

Penulis berpedoman kepada buku yang diedit oleh Larry Minnear dan Hazel Smith yang berjudul Humanitarian Diplomacy: Practitioners and Their Craft sebagai acuan dalam menganalisis aktivias Indonesia dalam diplomasi kemanusiaan. Alhasil, Diplomasi kemanusiaan dalam buku yang diedit oleh Larry Minear dan Hazel Smith, mengutarakan bahwa diplomasi kemanusiaan merupakan bagian dari upaya untuk melakukan negosiasi demi mendapatkan akses terhadap masyarakat yang mengalami dampak dari krisis.

Sedangakan definisi yang lebih mendetail tentang diplomasi kemanusiaan terdapat dalam publikasi organisasi kemanusiaan Internasional yang dipandang sebagai sebuah ‗aktivitas‘ dalam hal upaya yang dilakukan untuk mengajak para

pembuat kebijakan yang memiliki otoritas dan kewenangan untuk kemudian bagaimana memperhatikan kepentingan golongan atau orang – orang yang lemah baik konflik dan perang serta bencana alam secara maksimal dan menghormati yang didasarkan pada prinsip kemanusiaan yang mendasar (‗Humanitarian Diplomacy policy‘, n.d.).

Seperti yang diungkapkan pada paragraf sebelumnya, bahwa diplomasi mengacu kepada upaya untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Dimana, para diplomat sebagai representasi negara memiliki tugas utama untuk melakukan dialog dengan perwakilan negara lain dimana masing-masing perwakilan membawa misi untuk mengedepankan kepentingan negara mereka melalui cara dan upaya apapun. Sedangkan konsep kemanusiaan mengacu pada kepatuhan terhadap prinsip-prinsip, nilai-nilai, dan norma-norma internasional yang diakui secara universal. Artinya bahwa konsep kemanusiaan tidak tersekat oleh batas-batas tradisional kekuasaan negara. sehingga kedua pemahaman inilah yang mengakibatkan munculnya skeptisisme bahwa hakekat diplomasi dan kemanusiaan tak dapat dipertemukan.

Secara umum, dalam diplomasi kemanusiaan mencoba untuk menjembatani antara kepentingan nasional dan kepentingan internasional, artinya bahwa diplomasi kemanusiaan tidak serta merta hanya berada pada ranah aktivitas pelayanan kepada negara, tetapi juga kepada kepentingan-kepentingan pihak yang lemah, dengan begitu, diplomasi kemanusiaan bukan dalam artian akan mengesampingkan kepentingan nasionalnya. Lebih lanjut, misi penting dari diplomasi kemanusiaan adalah bagaimana kepentingan nasional itu dapat

21

berkontribusi pada prinsip-prinsip moralitas universal, artinya bahwa kepentingan nasional dan kepentingan internasional bukan dua hal yang terpisah yang tak dapat di damaikan.

Dalam krisis Kemanusiaan Rohingya ini, dipandang sebagai sebuah Complex Emergencies dalam tataran International Society. Disebut sebagai keadaan darurat yang cukup kompleks (Complex Emergencies) karena Krisis Kemanusiaan etnis Rohingya di Myanmar merupakan akibat dari konflik yang menahun yang disokong dengan sikap represif dari kebijakan Pemerintah Myanmar terhadap Etnis Rohingya. Lebih lanjut, Indonesia memiliki tujuan untuk meningkatkan prestise sebagai negara yang mampu menyelesaikan, mendamaikan dan melakukan mediasi atau menjadi negara fasilitator dalam konteksnya konflik domestik negara lain. Indonesia, acap kali mengidentifikasi dirinya sebagai pemimpin di ASEAN, terlepas status keanggotaannya dari sebuah komunitas Internasional terbesar yaitu dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, merasa memiliki sebuah tanggung jawab untuk memberikan perlindungan atau Responsibility to Protect (R2P), kepada warga etnis Rohingya ini, disebabkan karena pemerintah Myanmar telah lalai dan gagal dari tanggung jawabnya, sehingga seolah terlihat melimpahkan masalah ini kepada negara-negara se kawasan dan dunia internasional.

Secara sederhana, Responsibility to Protect merupakan adanya tanggungung jawab untuk kemudian melindungi hak asasi manusia tanpa mengganggu atau menentang kedaulatan atau sovereignty suatu negara yang bersangkutan (Marelda, 2011, pp. 35–45). Penulis melihat, hal ini tercermin dari

respon Sikap pemerintah Indonesia terhadap negara Myanmar. Dewan Keamanan PBB / United Nations Security Council merumuskan tiga prinsip mengenai Responsibility to Protect, bagi negara-negara anggotanya, Pertama, prinsip negara bahwa memiliki tanggung jawab untuk kemudian melindungi warga negaranya dari genosida dan kejahatan perang, penghapusan etnis, dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kedua, prinsip menyatakan bahwa komitmen komunitas internasional atau dalam hal ini anggota PBB untuk kemudian membantu negara-negara dalam melindungi warga negara-negaranya dari kejahatan kemanusiaan. Ketiga, prinsip atas tanggung jawab setiap warga negara dalam anggota PBB untuk merespon atau mengambil tindakan yang tepat untuk mencegah dan menghentikan kejahatan kemanusiaan ketika suatu negara gagal memberikan perlindungan kemanusiaan yang dimaksud (Marelda, 2011).

Dari uraian ini dapatlah kita lihat dengan sangat jelas, Posisi Indonesia berada pada poin ketiga, memainkan peran yang begitu elok dalam mengintervensi krisis kemanusiaan yang ada di Rakhine state, dengan pendekatan konstruktif melalui pesan dan cara-cara damai disamping menegosiasikan dengan para pemangku kebijakan, duduk berdiskusi dan membicarakan cara-cara dan upaya untuk menyelesaikan krisis kemanusiaan di rakhine state, tanpa menganggu kedaulatan negara yang bersangkutan. Alhasil, otoritas pemerintah Myanmar sendirilah yang kemudian membukakan dan memberikan akses kepada Indonesia.

Sekali lagi, Indonesia memainkan peran serta pengaruhnya di ASEAN, sebagai sebuah negara yang dipandang besar oleh negara-negara se kawasan lainnya, Indonesia memiliki citra positif dalam memberikan jurus jitu dalam

23

mengatasi persoalan-persoalan yang terjadi di kawasan dan dunia internasioanl.

Power yang dimiliki Indonesia tidak hanya sebagai sebuah negara besar di Kawasan, negara besar dengan penduduk muslim moderat, negara demokrasi serta disokong melalui values atau nilai-nilai toleransi yang begitu tinggi.

Sehingga, Indonesia sebagai negara majemuk, namun mampu bersatu dalam satu payung hukum negara kesatuan republik Indonesia dengan semboyan negara yang semakin mempererat, berbeda agama, ras, etnik, golongan dan lainnya tapi dapat satu padu. Sebagaimana yang diketahui bahwa, prinsip non intervensi berlaku dalam regional kawasan ASEAN, tapi Indonesia dapat mengambil peran untuk kemudian melakukan sedikit pressure atau tekanan terhadap negara yang bersangkutan melalui tuntutan serta resolusinya. Lebih lanjut, Diplomasi yang dijalankan dan diterapkan Indonesia merupakan diplomasi politik dalam bingkai nilai-nilai kemanusian, atau dalam artian bahwa, etnis Rohingya butuh diperlakukan sebagai manusia seperti halnya masyarakat Myanmar lainnya.

Lebih lanjut, Indonesia akan terus meningkatkan peran aktifnya baik dikawasan maupun didunia internasional. Dalam konteks kawasan, Indonesia akan terus memprioritaskan setiap kebijakannya, terlepas dari kedudukannya sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki kewajiban untuk kemudian menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan asia tenggara, sehingga pertumbuhan dan pembangunan akan berimbas di bidang ekonomi yang akan terus simultan berjalan dengan baik, sehingga keberdaan ASEAN dirasakan manfaatnya bagi ASEAN for the people. Sedangkan dalam konteks dunia

internasional, Indonesia akan terus aktif berkontribusi dalam kegiatan pemeliharaan perdamaian dunia.

Dokumen terkait