BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG DIPLOMASI KEMANUSIAAN
A. Diplomasi Kemanusiaan Indonesia
2. Resolusi Konflik (Krisis Kemanusiaan Rohingya)
Proposal usulan penyelesaian krisis kemanusiaan yang digencarkan oleh Indonesia kepada pemerintah Myanmar, dilakukan menlu di ibu kota Myanmar Naypidaw ketika bertemu dengan aktor-aktor kunci dan berpengaruh di Myanmar.
Indonesia betemu dengan Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar Jenderal Senior Tathmadaw U Aung Ming Hlaing, dan membahas mengenai isu keamanan dan stabilitas yang ada di Rakhine State. Setelah itu, Menteri luar negeri Retno Marsudi bertemu dengan State Counsellor Daw Aung San Suu Kyi, dimana dalam pertemuan ini, Indonesia hanya menyampaikan beberapa proposal dan seruan, setelah itu pertemuan dilanjutkan di National Security Advisor, Menteri Luar negeri dan juga menteri-menteri pada kantor Presiden Myanmar, disinilah, Indonesia akan membahas secara detail mengenai proposal atau usulan untuk menyelesaikan krisis yang ada di Rakhine State (4+1) Ibid., ―Delegasi Indonesia tiba di Myanmar‖ pada menit ke 00:26 - 02:25 . Sebagai wujud penjabaran proposal formula 4+1 Indonesia untuk menyelesaikan krisis rohingya di rakhine state, berikut ulasannya:
a) Mengembalikan Stabilitas dan Keamanan
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa, Indonesia melalui Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, pada Senin tanggal 4 September 2017 menggelar pertemuan dengan Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal Senior U Ming Aung Hlaing, dan Menlu Myanmar/State Counsellor, Daw Aung San Suu Kyi, di Naypyidaw, Myanmar. Indonesia mengharapkan penurunan ketegangan di Rakhine State harus menjadi prioritas pemerintah Myanmar. Lebih lanjut, Pertemuan Menlu Retno dengan Jenderal Hlaing itu berlangsung lebih dari satu jam.
Pertemuan tersebut merupakan agenda pertama dari rangkaian pertemuan Menlu RI dengan otoritas Myanmar guna membahas krisis keamanan dan kemanusiaan yang kembali melanda Rakhine State. Indonesia melalui Menlu RI menekankan bahwa Indonesia dan dunia internasional sangat mengkhawatirkan perkembangan situasi di Rakhine State. Kekerasan yang terjadi di Rakhine telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang memakan banyak korban meninggal, luka-luka, dan kehilangan tempat tinggal. Menlu retno mengatakan:
Otoritas keamanan Myanmar perlu segera menghentikan segala bentuk kekerasan yang terjadi di Rakhine State dan memberi perlindungan kepada seluruh masyarakat, termasuk masyarakat muslim(Jakarta, n.d.).
Dalam pertemuan itu, Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, U Min Aung Hlaing, menyampaikan bahwa perkembangan situasi keamanan di bagian utara Rakhine State itu. Dia menyampaikan bahwa otoritas keamanan Myanmar terus berupaya untuk memulihkan keamanan dan
43
stabilitas di Rakhine State. Menlu Retno menekankan bahwa keamanan dan stabilitas di Rakhine state sangat diperlukan agar bantuan kemanusiaan dan proses rehabilitasi serta pembangunan inklusif yang selama ini berlangsung dapat kembali dilanjutkan, termasuk upaya pembangunan yang sedang dilakukan oleh pemerintah Indonesia (Jakarta, n.d.).
b) Menahan diri secara Maksimal dan tidak menggunakan Kekerasan Proposal selanjutya, Indonesia mendesak pemerintahan Myanmar untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan krisis kemanusiaan di negara bagian Rakhine. Dimana, pusat bentrokan antara aparat keamanan dan etnis minoritas Rohingya. Menlu retno mengatakan ―Kami meminta seluruh pihak di Myanmar menahan diri dan menghindari penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan situasi di Rakhine‖ (Suastha, n.d.-a).
Sebagai bentuk kontribusi Indonesia / preventif steps terhadap kondisi yang memprihatinkan di Rakhine state, Lebih lanjut, Menlu Retno Marsudi menekankan bahwa:
Indonesia mendorong pemerintah Myanmar, agar dapat segera memulihkan stabilitas keamanan di Rakhine State dan Indonesia juga meminta kepada semua pihak untuk melakukan maksimum self restraint dan tidak untuk menggunakan kekerasan (‗Indonesia desak Myanmar segera pulihkan stabilitas di Rakhine‘, 2017).
Dua poin proposal formula Indonesia ini, sebelumnya telah disampaikan kepada Senior Jenderal Angkatan Bersenjata U Ming Aung Hlaing, sebagai kunci meredam tindakan membabi buta oleh pihak keamanan militer, dan polisi Myanmar terhadap warga sipil di Rakhine State.
c) Memberikan Perlindungan kepada semua orang di Rakhine tanpa memandang Suku dan Agama
Sebagaimana yang telah dipaparkan pada penggalang beberapa paragraf sebelumnya bahwa, Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada senin, tanggal 4 September telah menemui pemimpin nasional Myanmar Aung San Suu Kyi untuk mendesak dihentikannya persekusi atas etnis minoritas Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Salah satu tuntutan Indonesia ialah perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama (‗Pesan Retno pada Suu Kyi: Jangan Pandang Agama dan Suku - BeritaSatu.com‘, n.d.). Prinsp Inklusifitas yang digalakkan Indonesia melalui pendekatan konstruktifis, Menlu retno mengungkapkan bahwa:
Indonesia juga mendorong semua pihak segera menghentikan aksi kekerasan, berkontribusi terhadap pemulihan keamanan, serta menghormati hak asasi manusia masyarakat di Rakhine State, termasuk masyarakat Muslim (‗Indonesia Desak Myanmar Beri Perlindungan pada Warga Rohingya‘, n.d.).
Indonesia mengecam serangan kelompok bersenjata pada pos polisi dan fasilitas penampungan pengungsi di Maungdhaw Rakhine State pada 25 Agustus 2017, sehingga membikin ratusan orang mengungsi dan menyebabkan putaran kekerasan baru. Indonesia meminta kepada pemerintah Myanmar dan otoritas keamanan Myanmar untuk membuka akses untuk bantuan kemanusiaan agar krisis kemanusiaan di rakhine state dapat teratasi (antaranews.com, n.d.-c). Selain itu, Indonesia mengharapkan Pemerintah Myanmar segera mengambil langkah-langkah
45
untuk memulihkan keamanan dan memberikan perlindungan kemanusiaan secara inklusif.
Misi Indonesia di Myanmar paling tidak telah mencapai dua hal pokok, pertama menyampaikan perhatian besar masyarakat Indonesia kepada situasi kemanusiaan di Rakhine State, kedua adanya komitmen dari pemerintah Myanmar dan otoritas untuk segera mengatasi krisis kemanusiaan tersebut (antaranews.com, n.d.-b).
d) Pentingya dibuka Akses untuk Bantuan Kemanusiaan
Setelah sukses, diterima oleh pemerintah Myanmar, Upaya Indonesia agar pihak Myanmar membuka akses, kini makin banyak bantuan kemanusiaan internasional tiba untuk warga Rakhine di Myanmar. Tuntutan Indonesia selanjutnya, meminta pemerintah Myanmar untuk membuka akses kemanusiaan seluas-luasnya bagi negara anggota ASEAN dan Internasonal untuk membantu pemulihan stabilitas di negara bagian Rakhine (Suastha, n.d.-b).
Wujud tuntutan Indonesia ini, dimana pemerintah Myanmar melalui satuan tugas, melibatkan ICRC (International Committee of the Red Cross) dan beberapa negara lain termasuk ASEAN, dalam penyaluran bantuan kemanusiaan ini. Indonesia mendorong semua anggota ASEAN untuk terus secara konstruktif mendukung dan membantu Myanmar dalam mengatasi situasi di Rakhine yang sangat kompleks, terlepas sebagai satu keluarga ASEAN sudah sepantasnya untuk saling membantu (‗Myanmar Bentuk Satgas Bantuan Kemanusiaan Ke Rakhine State - Tribunnews.com‘, n.d.).
e) Implementasi Laporan Koffi Annan
Kofi Annan merupakan penasehat yang ditunjuk oleh pemimpin de facto Myanmar State Counsellor Daw Aung Saan Suu Kyi pada september 2016 atas kerjasama pemerintah Myanmar dan Koffi Annan Foundation Tujuannya untuk merumuskan dan memberikan rekomendasi guna memperbaiki kesejahteraan warga di Rakhine State khususnya Rohingya.
Lebih lanjut, komisi ini bekerja secara netral dan imparsial (Prinsip Kemanusiaan) yang beranggotakan enam tokoh myanmar dan tiga ahli Internasional, satu diantaranya koffi annan (Hartono, 2017).
Kofi Annan sebagai komisi nasional telah melakukan serangkain pengkajian terhadap kondisi yang terjadi untuk Rakhine State, Laporannya akan di sampaikan kepada pemerintah pada akhir agustus 2017 (Hartono, 2017), namun karena didahulu kekerasan bersenjata militer Myanmar tanggal 25 Agustus, yang menewaskan warga sipil rohingya dan puluhan ribu mengungsi serta rumah porak poranda. Daw Aung San Suu Kyi yang menjabat sebagai State Counsellor meminta Koffi Annan Foundation dan Office of the State Counsellor untuk mendirikan sebuah Advisory Commission on Rakhine State atau komisi penasehat negara bagian Rakhine (Wisnu, 2017), yang akan bekerja selama 12 bulan dan melakukan wawancara kepada sejumlah pejabat tinggi yang terkait, dari pusat hingga daerah serta seluruh anggota parlemen, organisasi sipil para pemimpin agama dan individu penting lainnya.
47
Advisory Commission on Rakhine State menghasilkan rekomendasi yang terbagi kedalam 17 tema dimana masing-masing tema terdapat secara khusus hal-hal yang harus dilakukan pemerintah Myanmar, jumlah keseluruhannya ada 88 langkah dengan tajuk Towards a Peaceful fairs and prosperious future for the people of Rakhine, menyimpulkan tiga krisi utama: Pertama, Rakhine mencerminkan Krisis Pembangunan, ini ditandai dengan kemiskinan yang kronis. Penduduk ketinggalan di semua lini dibandingkan dengan penduduk lainnya. Konflik yang berlarut-larut, kepemilikan lahan yang tidak jelas dan kurangnya peluang mengakses kebutuhan hidup, menyebabkan migrasi keluar daerah, mengurangi jumlah tenaga kerja dan menjadi kendala prospek pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Walaupun, Rakhine kaya akan sumberdaya alam, namun belum memberikan manfaat bagi penduduk lokal. Kedua, Rakhine krisis Kemanusiaan Hak Asasi Manusia, Di mana semua kelompok masyarakat sengsara dari kekerasan dan pelanggaran HAM, status tanpa kewarganegaraan yang berlarut-larut dan diskriminasi yang luar biasa, telah membuat masyarakat Muslim terutama, rentan terhadap pelanggaran HAM.
Ketiga, Rakhine Krisis Kemananan, Sebagaimana disaksikan oleh komisi ini dalam sejumlah pertemuan konsultasi di Rakhine State, semua komunitas memiliki rasa ketakutan yang mendalam, akibat trauma kekerasan yang terjadi pada tahun 2012. Trauma itu membekas dalam benak semua orang (U. Lubis, n.d.).